Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

HAHAHEHE…HAHAHEHE…

Setahun lalu kembali menjadi sebuah cerita hari ini. Sepertinya baru hari-hari kemarin saja. Itu menunjukkan betapa cepatnya waktu berlalu. Berdesing bagai peluru. Demikian sigap memutar angka dan tahunpun berganti tanpa mampu dicegah sama sekali. Tidak ada alasan untuk mencegah. Kalaupun dicegah, siapa yang mampu mencegah. Jangan-jangan malah kita mati duluan. Ya, kalau sudah mati tidak ada cerita dan tulisan inipun tidak akan terselesaikan sama sekali. Setahun lalu teringat aku bagaimana sampai mata terkantuk-kantuk menunggu tamu yang datang ke rumah secara bergantian. Semuanya datang ke rumah menyalami bapak dan ibu. Kemudian duduk bercakap-cakap. Bermanis-manis. Lalu hahahehe seperlunya. Aku keluar sesuai petunjuk ibu membawa nampan berisi minuman. Beberapa makanan kecil telah tersedia di atas meja tamu. Ada kacang kapri,kacang asin,kacang kedelai. Ada berbagai permen dari yang asin sampai yang manis. Ada berbagai kerupuk udang, meninjo, kerupuk singkong hingga kerupuk daun bayam. Semua lengkap tersedia. Kulihat para tamu pada duduk berjejer empat ah bukan empat tapi enam orang. Dua anak-anak. Dan aku kembali berinjit ke belakang mengantarkan dua gelas lagi. “Ini anaknya?” salah seorang bertanya, sepertinya aku baru mengenal pula entah ibu yang tinggal di rumah sebelah mana. Sulit terhitung saking banyaknya warga baru berdatangan. “hehe…iya tante,” aku menjawab sekenanya sambil menerima uluran tangannya. Hmmm, halus benar tangan ibu ini. Wajahnya putih cantik. Anak-anaknya cantik-cantik. “Ini tante Isya nak. Baru pindah dari Kupang ikut suami bertugas disini,” tanpa diminta ibuku menjelaskan dan memperkenalkan padaku. Terjadi basa-basi sedikit. Lalu aku ke belakang dan terantuk antuk kembali menahan kantuk. Dari tadi entah terhitung berapa banyak tamu yang datang dan pergi dari rumah. Entah berapa gelas yang telah aku cuci. Barangkali kalau aku hitung langkah dari ruang dapur menuju ruang makan melewati kamar keluarga hingga sampai di ruang tamu, bolak balik sudah puluhan kilometer melangkah. Silaturahmi yang benar-benar menekan dan menjengkelkan. Mestinya open-house itu dilakukan bagi mereka-mereka yang punya sepuluh babu. Beberapa lembar halaman koran tokoh sudah habis kubaca menunggu tamu berakhir. Aku sengaja tidak mau membaca buku pelajaran, karena pasti ngantuk. Karena kalau buku pelajaran lebih suka aku baca di WC. Baca buku pelajaran sambil jongkok di kakus tidak membuat ngantuk dan memiliki keasyikan sendiri. Iya, hampir dua jam telah berlalu. Suara di depan masih terdengar percakapan dengan selingan hahahehe…….. Dan aku mengembalikan letak pipi pada posisi semula. Senyum terlalu banyak pada setiap tamu yang datang terkadang membuat geraham pun ikut bergeser. Kalau tidak tersenyum nanti malah dikatakan tidak sopan. Kurang ramah. Sombong. Angkuh. Terkadang senyum penghabisan saking dipaksa keluar dari tuasnya malah berubah jadi berengut. Nah, mumpung di belakang selagi rest sesaat, kembalikan dulu semua fungsi organ tubuh. Terutama bagian wajah. “Sssttt…. Lagi 3 gelas,” Ibu ke belakang memberi isyarat. “Ada yang datang lagi,bu?” aku bertanya sambil mengambil nampan. Seperti sigap dibuat untuk berbuat. Pake es batu. Tambah syrup. Tambah air dingin “Iya, keluarga pak Osy” “Oooo…” Kemudian ibu ke depan lagi. Kemudian terdengar suara hahahehe “Ini anaknya pak?” tanya pak Osy sembari menatap padaku. Pandangannya genit. Meski ada istrinya. “Iya hehehe….” “Sudah remaja ya?” “Iya hahaha….” “Gadis yang cantik,” Bu Osy ikut menimpali “Iya hehehe….” “Sudah kelas berapa?” “ Tiga, hahaha….” “SMA?” “Iya hehehe….” “Sudah punya pacar?” “Iya hahaha…” “Sudah?” “Iya hehehe…” “Sudah apa belum?” “iya belum hahaha…” “Hehehe…” “Hahaha…” Aku jadi geleng geleng melihat tingkah bapak di hadapan para tamu-tamunya. Mestinya acara silaturahmi saling maaf memaafkan jangan sampai larut malam. Karena aku khawatir terlalu lama meladeni tamu akan bisa membuat bapak semakin gila. Ah, dampak hari raya, aku ngedumel sembari beranjak kembali ke belakang menunggu intruksi lebih lanjut. Angka jarum jam pendek di dinding sudah tegak lurus ke atas. Apakah tamu-tamu bapak akan sampai pagi berdatangan? Berapa banyak yang belum termaafkan selepas hari raya tahun baru Caka ini. Seberapa banyak tangan yang belum sempat saling berjabat di rumah ini. Namun masih aku dengar suara-suara hahahehe yang kian menggelikan. Semakin membuat geli. Semakin terasa keki. Lama-lama membikin aku ngantuk dan pasrah terbawa mimpi. Tapi belum sempat mimpi. Ibu dengan tergopoh-gopoh ke belakang sembari menatap serius. “Masak nasi, nduk” perintah ibu. “Lho, malam-malam masak?” “Iya, semakin malam tamu yang datang pada kelaparan. Jadi masaknya agak banyak ya.” “Lho? Khan mereka bisa beli di rumah makan….” “Hush, kali ini yang datang atasan bapakmu. Kamu beli lauk matang aja dulu di warung sebelah. Utang dulu….utang dulu…” “Yang kemarin aja belum dibayar bu?” “Alaaaahhh, gampang itu. Besok aja sekalian. Ini yang datang atasan bapakmu, nduk. Pak direksi di tempat perusahaan bapakmu bekerja. Kita layani dengan baik. Jangan bikin kecewa, nduk. Ntar bapakmu sulit naik pangkat. Eh, kalau beliau puas nanti bapakmu bisa pegang jabatan, nduk. Ayoooooo…….cepaaaaaatttttttt eh pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!” suara ibuku setengah menjerit tertahan tapi pasti. Aku manggut-manggut. Iya benar juga. Atasan bapakku harus bikin kenyang di rumah ini. Harus bikin puas. Harus bikin senang dan tidak mengecewakan. Apalagi malam-malam mau menyempatkan diri datang ke rumah Masih ku dengar suara hahahehe di ruang depan. Aku bergegas cari utangan lauk matang. Demi jabatan bapakku. Demi nama baik bapakku. Demi kehormatan ibuku. Demi rasa gengsi keluargaku. Dengan harapan bapak naik pangkat. Iya, mudah-mudahan seusai saling maaf-memaafkan hahahehe malam ini, bapak lekas naik pangkat dan memegang jabatan penting. Dan mudah-mudahan pula sepulang dari acara hahahehe ini bapak direksi menjatuhkan bintang di atap rumahku. Bintang keberuntungan. Dan kalau itu benar-benar terjadi, maka aku tidak sia-sia semalam suntuk mendengar suara-suara hahahehe di ruang tamu. Namun ketika akan beranjak membuka jeding tempat menyimpan beras…astaga!!?? “Berasnya habiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiss!” tanpa sadar aku teriak memecah malam.

Senin, 26 Desember 2011

IBU GURU GINANTI

Siapapun melihat wajah bu guru Ginanti pasti akan senang, karena wajahnya cantik dan senyumnya penuh simpati. Sepertinya kalau melihat wajahnya dan sorot matanya yang demikian teduh, bu guru Ginanti tidak suka marah. Gilang paling suka melihat wajahnya yang cantik. Berbahagialah orang yang menjadi suami bu Guru Ginanti. Lelaki itu pastilah sangat beruntung dalam hidupnya dari sekian banyak laki-laki yang mendambakan untuk dapat memiliki wajah ayu dan secantik bu guru Ginanti. Pastilah banyak laki-laki yang menginginkan bu guru Ginanti. Dewi Sinta Prabawati, pacarnya Gilang sebagai seorang gadis juga sangat senang dan tertarik melihat, apa lagi laki-laki. Sesama perempuan saja mereka demikian kagum. Dan itu bukan cerita kosong. Lihat saja Anik, Reni, Ayu bahkan Ningsih dan entah teman teman yang lainpun tidak menyembunyikan kekaguman. Rasa kagum yang tidak dibuat-buat bahkan terlontar pujian dari bibir mereka. Atau di sela jam kosong selalu ngerumpi tentang Ibu guru Ginanti. Seolah dengan mengagumi bu Ginanti, aura kecantikan ingin juga disebar pada mereka semua. Dan pada akhirnya selain mereka semua meniru gerak-gerik bu guru yang satu ini, merekapun berlomba-lomba untuk tampil cantik.
“Awas kalau tertarik padanya, Dewi nggak mau lagi temenan ama kamu,” Dewi Sinta Prabawati mengingatkan pacarnya yang diam-diam selalu melirik bu guru Ginanti.
Gilang senyum senyum saja di hadapan pacarnya. Nggak mungkinlah Gilang pacaran ama gurunya. Masak murid mau macarin bu guru? Kalau pak guru macarin muridnya yang perempuan sih ada.
“Itu sih karena muridnya yang nakal,” Dewi jadi memperdebatkan masalah pacaran guru dan murid.
“Iya, tapi pak gurunya nakal juga khan? ” Gilang tak mau kalah.
“Muridnya juga kok”
“Gurunya!!!”
“Muridnya!”
“Gurunya! “
“Muridnyaaaaaaaaa…!!!” Dewi berteriak keras.
“Eh, sudah! Sudah! Kok kita jadi bertengkar sih?” Gilang akhirnya senyum senyum mengalah sambil memeluk Dewi. “ Iya muridnya dah!”
“Jelek, pringas-pringis gitu. Jelek! Aku ndak suka laki-laki prangas-pringis. Jelek, tauu!!?? jelek! Jelek!!” Kontan Dewi mencubit pacarnya.
Gilang meringis.
Kalau Bu guru Ginanti sudah berdiri di depan kelas, semua teman-teman pasti terbengong-bengong bagai disihir hingga terkadang sampai lupa kalau pelajarannya sudah selesai.
“Lho, sudah selesai bu?” Anton berkomentar dengan nada kecewa. Yang lain pada mengeluarkan suara-suara tak jelas. Ketika ditanya bu Ginanti, mereka bengong tak bisa menjawab. Tangan bu Ginanti menunjuk ke arah Agus
“Khan udah ibu terangkan tadi,” Bu Ginanti menegaskan lagi sambil mendekati Agus yang duduk di bangku belakang paling pojok. Agus berkeringat. Hanya mengeluarkan suara ah-oh-ah-oh
“Hush, bu Gin nanya tuh,” Reni yang duduk di samping mencuwil lengan Agus. Masih saja Agus seolah terjebak dalam sihir tak mampu menjawab. Matanya hanya menatap bu guru yang cantik itu dengan mulut menganga. Bau wangian parfum yang keluar dari tubuh bu Ginanti semakin membuat Agus kian gelagapan.
“Hei, Gus, mulutmu jangan nganga gitu, dong!” Herman menendang kakinya di bawah meja.
Agus meringis. Seolah baru tersadar dari mimpi, menatap Herman dan teman-temannya yang lain secara bergantian. Seperti orang bego ia tengadah menatap Bu Ginanti dengan suara ah-eh-oh.
“Maaf ibu tanya apa tadi nggg….”
Teman-temannya yang lain spontan ketawa ngakak. Bu Ginanti melengos berusaha menyembunyikan senyum manisnya dan melangkah ke depan kelas sambil geleng-geleng kepala. Ruangan riuh sesaat dengan tawa anak-anak.
“Bu, kenapa nggak tanya aku aja?” seketika Gilang berteriak mengacungkan tangan, namun yiaaouuwww, matanya mengernyit berusaha tidak mengaduh. Dewi di bangku sebelah mendelik lagi-lagi menancapkan kuku di paha Gilang.
Bu Ginanti menoleh, mengarahkan pandangan. Mata beradu mata, hati belum sampai menyentuh. Gilang klemes-klemes seperti bayi kurang gizi. Kalau Dewi melihat persis: bayi yang telat diteteki ibunya.
“He.. he.. he.. nggak bu. Nggak jadi!” Gilang mendadal gagap. Linglung yang tidak dibuat-buat.
“Lho…??”
Lagi-lagi semua ketawa, bukan ngetawain bu guru Ginanti, tapi tertawa melihat ulah Gilang. Semakin membuatnya pringas-pringis kecut melirik Dewi di samping. Yang dilirik tambah melotot, ih!
Ibu guru Ginanti memang selalu penuh dengan kejutan. Seminggu tidak bertemu, anak-anak sudah pada kangen. Bukan kangen dengan pelajarannya, tapi wajah bu Ginanti itu lho! Semua di kelas seperti merasa cepat bosan tanpa kehadiran bu Ginanti. Waktu terasa begitu lamban berjalan. Jarum jam demikian perlahan detaknya. Seolah tidak bergerak sama sekali. Beberapa anak-anak lebih suka duduk-duduk di luar daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas. Ada yang membolos nangkring di parkiran motor. Ada malah nongkrong di kantin sekolah. Sedemikian hebat pengaruh guru cantik itu.
“Hei..hei, bu Ginanti datang ….bu Ginanti datang….hari ini udah mulai ngajar,” salah seorang anak berteriak memberi kabar.
Dengan lenggak lenggok bu Ginanti terlihat memasuki ruangan kelas Gilang.
Dan apa yang terjadi? Gilang mau ketawa saja melihat kehadiran bu Ginanti kali ini. Penampilannya sangat berbeda. Ada yang berubah. Ya, ada yang lain pada diri bu Ginanti. Rambutnya itu lho. Rambutnya telah berubah jadi kriting. Wow, kian menambah cantik wajahnya. Kian menawan saja penampilannya. Membuat terkagum-kagum. Bu Ginanti memang cantik. Ck..ck..ck….Gilang-lah yang paling semangat mengikuti pelajaran bu Ginanti. Tanpa sadar tangannya mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Lalu tertawa sendiri melihat hasil goresannya sendiri.
“Buat apa itu?” Dewi menoleh curiga. Berusaha ingin merebut kertas yang ada di tangan Gilang. Gilang mengelak dengan cara mengibas tangan pacarnya dan berusaha melipat kertas itu, meremas-remas dan memasukkan di bawah kolong meja.
Memang besar pengaruh bu Ginanti. Ruangan kelas yang semula beberapa bangku terlihat kosong, kini malah penuh, sebagian ada yang duduk bertiga dalam satu bangku. Bahkan dari kelas lainpun ikut-ikutan mengikuti pelajaran bu Ginanti. Mereka rela duduk berhimpitan dalam waktu 2 jam hanya untuk dapat memandang wajah guru cantik itu. Kalau bisa mereka ingin tidak hanya 2 jam pelajaran, bila perlu pelajaran guru lain ganti aja dengan bu Ginanti.
“Iya ganti aja,” Gilang berseloroh. Terbawa khayalannya sendiri.
“Hush, diam! Ngomong apa sih kamu? Tuh dengar bu guru,” Dewi mengingatkan.
“Ada yang bertanya?” Bu Ginanti memandang seisi ruangan. Bu Ginanti rupanya tidak begitu perhatian kalau bangku semua terisi. Nyaris tidak tahu kalau ada siswa kelas lain ikut bergabung di ruangan ini.
“Bu, kalo bisa pelajaran lain ibu aja yang ngisi, gimana?” Gilang acungkan tangan tinggi-tinggi.
“Iya bu, bener bu, ibu saja yang ngajar,” yang lain nyeletuk.
“Iya bu, kalau bisa ibu saja,” terdengar suara anak-anak.
“Iya,..iya….” yang lain ikut-ikutan bersuara, Dan ruangan kembali riuh oleh suara-suara. Bu Ginanti keplok-keplok tangan. Mirip ngajar anak-anak TK. Berarti kalau di ruang sidang senayan para wakil rakyat rapat paripurna dengan acara ngotot-ngototan bahkan sampai adu jotos segala di tonton jutaan rakyatnya, ya bermula seperti ini. Semua bermula dari sekolah, bagaimana cara bu Ginanti mengajar mereka untuk bisa santun ketika mereka nanti sudah duduk jadi anggota dewan wakil rakyat yang terhormat. Keplok-keplok tangan bu Ginanti mampu mendinginkan suasana. Semua bengong kembali seperti sediakala. Semua kena sirep. Dan melongo-longo tersihir, lalu mengangguk-ngangguk, dan segalanya bisa di atur. Demikian sempurna tanpa kurang suatu apapun. Segalanya pasti beres di tangan bu Ginanti.
Hebat!
Memang segalanya bisa beres di tangannya. Tapi untuk yang satu ini ternyata tidak. Kali ini di ruangan kepala sekolah nampak bu Ginanti nangis meraung-raung. Kecantikannya lenyap oleh isak tangis jeleknya. Guru-guru lainnya saling pandang satu sama lain. Sesekali menatap Gilang bak pesakitan duduk tertunduk lesu di ruangan guru. Kepala sekolah nampak memegang kertas bekas remasan tangan yang sedikit kucek seperti ingin menahan senyum.
“Kenapa kamu lakukan ini Lang?” pak Sahid kepala sekolah itu memandang Gilang. Gilang tertunduk lesu. Takut beradu tatap dengan bu Ginanti yang masih terdengar isaknya.
“Saya tidak bermaksud apa-apa, pak Guru. Apalagi mau bikin bu Ginanti sampai menangis.,” Gilang bersuara pelan membela diri. Tatapannya polos. Sepolos tatapan bayi tanpa mengenal dosa. Bagaimana bayi polos, ya seperti itulah tampang Gilang saat ini. Sedikitpun ia tidak merasa bersalah. Hanya saja Gilang merasa aneh. Kenapa kertas yang sudah ia remas-remas dan di buang di tong sampah bisa berada di tangan kepala sekolah. Itu saja keheranan Gilang. Siapa memberikan kertas isengnya itu? Reni, Wawan ataukah Anton sendiri? Ah, Dia jadi bingung. Atau jangan jangan? Ya, jangan jangan pacarnya sendiri yang memberikan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan kepadanya. Iya, jangan jangan………
“Iya, tapi kenapa bu guru Ginanti kamu gambar seperti ini. Coba lihat, aduhhh, kau ini!”
Pak Sahid memperlihatkan kertas yang di gambar oleh Gilang.. Nampak gambar wajah seorang wanita berambut kriting yang di atas bibir wanita itu dibuat goresan menyerupai kumis. Melihat gambar dirinya lagi dipertontonkan di hadapan guru-guru lain, bu Ginanti kembali terisak bahkan semakin keras menangis. Saking tak tahan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya bu Ginanti tidak terlihat lagi di sekolah itu.

Labuapi, September 2011

Selasa, 01 November 2011

CUKUP SATU BUTIR, MAKA TERURAI ISI OTAKNYA

Wage menatap wajah dukun itu dengan sorot matanya yang menyimpan sejuta misteri. Ada suatu dorongan kuat yang mengharuskan dia berada di tempat ini. Sungguh dalam rutinitas hari-hari yang benar-benar tergilas dalam roda kesibukan yang sarat, tidak akan pernah terbayang untuk duduk dan berada di tempat ini, berhadap-hadapan langsung dengan orang yang berwajah aneh. Sebuah bayang-bayang keangkeran yang pernah dia dengar ceritanya dari seorang teman, barangkali akan dibuktikan saat ini. Entah dari sudut mana dia harus mempercayai semua cerita yang dianggap kosong melompong ini. Sangat tidak masuk akal dan diluar pikiran sehat. Seandainya bukan karena saran seorang teman, Wage tidak akan pernah mendatangi tempat ini, pun seandainya tidak ada suatu malapetaka yang menimpa hidupnya dengan kejadian-kejadiannya yang sangat aneh mengenai prilaku istrinya belakangan ini.
Mimik mukanya gelap dengan sorot mata yang sangat tajam menikam. Wage berharap segalanya akan menjadi lebih baik dan berubah sebagaimana dulu. Seperti saat awal mula istrinya pertama kali dia kenal. Bukan seperti sekarang penuh dengan kejanggalan-kejanggalan sikap yang sangat tidak masuk akal.
”Dia kena pelet.” katanya tandas. ”Ilmu ini sudah sangat parah memasuki badannya, hanya saja pikiran ibu ini masih kuat, kadang-kadang lupa terhadap keluarga, lupa terhadap suami, lupa terhadap anak-anak”
Bah, busyet, cerita apa lagi ini.
“Ah? Yang benar saja? Kenapa bisa begitu puq?” Wage terperangah kaget setengah percaya. Papuq panggilan untuk seorang kakek. Jujur saja dia kurang begitu percaya dengan namanya ilmu seorang dukun, Wage kurang percaya di alam modern yang sudah penuh dengan muatan tehnologi canggih masih ada yang namanya black magick. Masih saja ada yang suka bermain-main dengan ilmu hitam, ilmu untuk memelet seorang wanita Dan itu justru tengah menghantam rumah tangganya.
“Istri bapak kena pelet yang menyebabkan dia menjadi sangat begitu tertariknya dengan laki-laki itu. Dan bisa lupa sama sekali dengan keluarga, lupa suami bahkan kemungkinan besar tidak ingat pulang saking kuat rasa sukanya yang muncul dengan laki-laki itu.”
Wage tercenung. Wage merasakan perubahan yang terjadi pada sikap istrinya belakangan ini. Masak sampai separah itu? Dewi memang cantik. Wajahnya mirip penyanyi rock Agnes Monica kalau lagi manggung. Bentuk tubuhnya mirip Sophia Latjuba. Wajar saja kalau tersenyum pasti mengundang decak kagum setiap orang yang melihat.Teman-teman bergaulnya sangat banyak.
”Maksud papuq gimana? Tidak pulang-pulang? Tidak ada keinginan untuk ke rumah? Terus gimana dengan aku, puq? Gimana dengan anak-anak yang ditinggal? Apa dilupakan begitu saja? Wah kalau sampai benar-benar terjadi demikian bakalan gawat kehidupan rumah tanggaku. Dan anak-anak jelas akan mendapat pukulan bathin yang maha berat kalau mengetahui sesuatu yang menimpa ibunya. Puq, yang benar saja! Apa tidak ada jalan keluar sama sekali?” Bertubi-tubi pertanyaan lepas begitu saja dari mulutnya. Seakan-akan seperti beberapa anak panah yang lepas dari busurnya. Bahkan mungkin kalau bisa ada tambahan busur lagi untuk melengkapi pertanyaan itu. Karena dia tahu, jawaban yang diberikan kurang memuaskan. Mungkin lebih tepat kalau dikatakan, Wage tidak mempercayai semua jawaban-jawaban yang diberikan itu. Atau baginya baru pertama kali ini dia mendengar ada namanya ilmu pelet.
”Sepertinya bapak ini tidak mempercayai kejadian ini ya? Istri bapak lagi kena ilmu pelet, sejenis ilmu pemikat untuk membuat lawan jenisnya jatuh hati kepada siapa saja ilmu itu dituju.”
Wage manggut-manggut. Benar-benar sebuah keanehan dan apa kata kakek dukun ini memang harus dibenarkan ucapannya. Kakek dukun yang biasa dipanggil dengan sebutan papuq.
”Terus terang puk, saya tidak percaya namanya ilmu pelet. Itu diluar logika saya puq.”
Papuq Belo tidak menanggapi komentar Wage. Balik bertanya dengan nada penuh selidik.
”Siapa nama istri bapak?”
”Dewi, puq..”
”Lengkapnya? Nama panjangnya siapa?”
”Dewi Sinta, puk. Bapaknya memberi nama demikian karena bapak mertua saya suka nonton wayang dan paling fanatik dengan kisah pewayangan Ramayana.” Wage menjelaskan dengan sangat lengkap.
”Kalau saya sih tidak terlalu menyukai cerita pewayangan, dari masa muda dulu puq. Hanya saja karena ada keinginan yang sangat kuat untuk mendapatkan anak gadisnya, terpaksa sekali saya mendekati dan belajar untuk tahu apa yang menjadi kesukaan bapaknya. Dan ternyata saya harus sering-sering menemani bapaknya nonton wayang di alun-alun desa untuk menarik simpati bisa mendekati anaknya yang manis sebagai kembangnya desa pada waktu itu. Dan ternyata sayalah pemenangnya hingga dapat mempersunting sang Dewi Sinta dalam pelukan saya,” Wage menambahkan dengan penjelasan sedikit panjang tanpa diminta. Sekadar ingin menunjukan kekaguman bahwa dialah sang prabu Watugunung yang ada dalam kisah-kisah pewayangan itu. Namun betapapun sesungguhnya dia tidak mau menjadi watugunung yang sebenarnya, sebuah kualat dan dosa maha besar dengan mengawini ibunya sendiri.
Sumpah. Demi Tuhan dan semua saksi-saksi para leluhur yang ada di atas jagat raya sana, Wage sangat tidak mempercayai adanya ilmu pelet. Kalau benar ilmu itu memang benar-benar ada sangat disayangkan sekali kalau digunakan untuk cara-cara yang salah dan tidak terpuji. Itu hanya dimanfaatkan buat orang-orang yang tidak punya kepercayaan diri, orang yang keberadaan dirinya punah agar dapat pengakuan di mata teman-teman, para relasi bisnis bahkan mungkin juga kalangan elite politik. Orang yang eksistensinya telah hilang di mata penggemarnya. Wage bukan orang seperti itu. Ternyata lalai juga dia, dalam kesibukan di dunia kerja dia telah alpa kalau sesungguhnya ilmu itu ternyata ada. Lupa dia pelajari ilmu yang satu ini padahal sebenarnya Wage sangat gemar memburu ilmu sejak dari usia muda dulu dan ketika dukun di hadapannya memberi penjelasan, dia hanya melongo dengan wajah heran setengah tidak percaya dan penuh tanda tanya besar. Kenapa masih ada ilmu begini di dunia, kenapa ada sebuah pemaksaan hak milik orang lain tak ubahnya seperti jaman pemaksaan kisah Mahabharata saja. Ya, inilah korawa yang berusaha mau memperkosa hak Pandawa. Dikeluarkan sebatang rokok. Bukan untuk para korawa, tapi buat sang dukun. Dinyalakan korek api dan asap rokok bertebaran melingkar-lingkar di udara. Di atas balai tempat mereka bercakap-cakap. Wage sengaja mengambil sebatang buat pengusir gundah. Dihisap pelan-pelan. Udara penuh asap nikotin berpolusi seakan bertebaran di udara membangkang oleh larangan-larangan: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.
Di rumah papuq Belo, dikatakan demikian karena sebagaimana kata temannya yang mengantar kesana serta cerita dari teman-temannya yang juga bermukim di kampung itu, identitasnya menunjukkan bagaimana postur tubuh papuq yang sebenarnya. Balai-balai yang ditempati sebenarnya bukan merupakan ukuran standard hidup keluarga sehat sejahtera kalau boleh dikatakan sebagai sebuah perumahan. Balai yang dikelilingi gedek dengan atap ilalang campur baur jadi satu antara ruang makan, dipan tempat tidur tanpa kasur hanya beralaskan tikar sebagai ruang tidur yang tidak tersekat dengan ruang terima tamu. Beginilah keadaan yang sebenarnya. Hidup di bawah bentangan garis kemiskinan. Suami istri yang menempati balai sangat mungil ini ternyata pandai dalam memanggil jin-jin walau tidak memelihara. Namun jangan kaget kalau mendadak terdengar suara keras; ”gedubrak!!” menyerupai daun pintu dibanting keras, itu menandakan jin dari gunung Rinjani yang menjadi sahabatnya lagi datang berkunjung. Konon yang sering datang adalah Dewi Anjani, putri dari dewi gunung Rinjani.
Bungkus rokok terakhir yang lupa diangkat dari atas tikar itu ada jenis dji sam soe, bukan menandakan tata cara kehidupan papuk yang modern oleh peradaban-peradaban. Itu sebenarnya merupakan rokok yang dihisap dengan jenis merk yang berbeda-beda. Dapat pula menandakan tamu yang datang bukan hanya Wage dan temannya saja. Walau tidak terpampang papan pengunjung sebagaimana layaknya seperti seorang mantri suntik di kampung-kampung kebanyakan ataupun seperti ruang tunggu praktek dokter seperti di kota-kota besar. Hanya dengan melihat ada beberapa bungkusan dalam tas plastik yang masih terkesan baru diletakan secara berjejer terhitung sekitar lima hingga enam bungkus menandakan jumlah clientnya yang datang. Artinya kalau Wage menyertakan bungkusan berisi setengah kilogram gula, setengah kilogram kopi dan sebungkus rokok sampoerna akan menunjukan deretan ke tujuh sebagai pengunjung. Tidak tertutup kemungkinan sampai puluhan orang yang akan datang lagi menyusul. Ini dikatakan istrinya papuq. Wage mulai sedikit percaya, sebuah takhyul yang membeberkan kenyataan-kenyataan yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya sehingga dia menanamkan kepercayaan itu manakala papuk mengambil gelas berisi air putih dengan mulut komat kamit membaca mantra-mantra yang tidak dia ketahui dan sangat asing di pendengaran sekilas menyebut nama Dewi istrinya di atas gelas tersebut. Dan astaga! Wajah istrinya muncul di atas air gelas. Mengambang.
”Dia sedang makan,” katanya serius dengan titik mata menyudut setengah dipicingkan. Seperti sudah menjawab apa yang akan dia tanyakan berikutnya. Bola matanya bersinar dalam kepekatan magis yang tidak dibuat-buat. Sebuah kepekatan yang aneh. Wage tidak tahu jelas, dimana letak keanehannya. Hanya seperti ada satu kekuatan yang tersembunyi pada kedua bola matanya.
“Siapa?” Wage mengejar dengan pertanyaan.
”Istri bapak!” dia menandaskan tegas.
”Istri saya? Lagi makan? Dimana? Lagi makan dimana?”
Papuq Belo menggeleng, menatap sebentar.
“Dimana puq? Dengan siapa?”
Dilihat wajah papuq setengah mengeras lalu mendehem sejenak dan menatap Wage dengan tajam. Sangat tajam. Setajam belati. Wage balas menatap. Ada cahaya api muntah dari mata itu. Bola mata yang terlihat sangat bercahaya dikelilingi keriput di sekujur wajahnya yang tua. Terkadang bergidik ngeri kalau terlalu lama menatap matanya. Membayangkan menatap sepasang mata di kegelapan malam dalam kilatan petir. Mengerikan!
“Papuq hanya melihat meja makan, seorang wanita cantik sepertinya istri bapak dan ada seorang laki-laki lagi sedang mengunyah makanan sambil bicara. Bicaranya banyak. Entah apa. Papuq tidak bisa memastikan.”
”Papuq yakin yang papuq lihat itu istri saya? Apa tidak salah lihat puq? Hmm, maksudknya papuq tidak keliru baca mantra?” Wage menyangsikan.
Papuq Belo melotot. Wage mengkeret melihat tatapannya. Terkesan bengis. Jangan-jangan kalau dari melihat caranya menatap, papuq ini seorang dukun pembunuh berdarah dingin.
”Saya sudah bertahun-tahun melakukan pekerjaan ini. Saya hanya membantu saja. Kalau bapak tidak percaya silahkan pergi.” suaranya terdengar marah, setengah dongkol.
Tangan Wage ada yang menyenggol. Dia menoleh menatap wajah temannya penuh dengan pandangan geram. Barangkali kalau tidak berada di rumah dukun ini dia akan mengumpat habis-habisan.Bahkan bisa menggampar.
Wage manggut-manggut. Tidak menanggapi sebuah kemarahan yang dipendam. Namun Wage pikir-pikir sang dukun ini cepat dan mudah juga dipancing emosinya, yah, dukun juga manusia biasa yang dalam hal-hal tertentu memang memiliki kelebihan, dia pikir wajar saja beliau ini marah. Jengkel karena merasa kepiawaiannya disangsikan atau dilecehkan. Dipandangnya kegeraman yang diam-diam pula muncul dari wajah temannya dengan meringis. Kembali manggut-manggut dan ambil sikap.
”Bukan begitu maksud saya puq. Saya percaya apa yang papuk katakan cuman belum begitu percaya eh, maksud saya hampir mempercayai walau ragu-ragu. Tapi ya saya memang datang kesini untuk minta bantuan papuq, ya jadinya saya sekarang percaya puq. Lha terus di daerah mana dia saat ini makan puq?” Wage sedikit menggeser cara duduknya dan memegang tangan keriput itu dengan sentuhan lembut untuk menunjukkan kalau aku sangat percaya dan melimpahkan semua permasalahan ini untuk dicarikan jalan keluarnya.
Laki-laki tua yang disebut papuq itu mengerutkan dahi sejenak, lalu menatap Wage kemudian mengalihkan pandangan seolah tidak peduli. Dilihat temannya yang mengajak ke rumah papuq ini mengernyitkan dahi dengan tatapan mata melotot tajam ke arah Wage.
Wage meringis garuk-garuk kepala. Konyol memang.
“Puq, tolong bantu teman saya ini. Dia benar-benar lagi kesulitan,” akhirnya temannya merendahkan diri untuk dapat mengesampingkan rasa tersinggung papuq Belo. Wage tahu, dia telah membuat satu kesalahan dengan kata-kata yang menyinggung perasaannya sehingga terkesan seperti sangat meremehkan kemampuannya tersebut.
“Iya, puq. Bantulah saya,” Wage mencoba memohon sambil memegang tangannya yang keriput. Karena permohonan temannya dan mungkin juga Wage berjodoh dengannya, ada sedikit harapan manakala ia memberikan beberapa butir ramu-ramuan terdiri dari pil tiga warna dan Wage dijelaskan cara pemakaiannya dari masing-masing. Tuhan memang selalu memberi jalan untuk sebuah kebenaran, apalagi yang dilakukan ini memang benar-benar demi suatu perbuatan atas nama kebenaran. Wage kan mencarikan obat buat istri, demi kedamaian keluarga terutama anak-anaknya sebagai generasi penerus. Wage tidak mau gara-gara kejadian ini, anak-anak sampai depresi dan berprilaku yang aneh-aneh. Dia hindarkan mereka dari semua keburukan yang tidak semestinya menimpa mereka. Kasihan anak-anaknya.
“Ingat yang warna kuning untuk diminumkan buat istrimu. Tapi diam-diam caranya memberikan jangan sampai ketahuan,” temannya mengingatkan saat perjalanan pulang. Jarak rumah dengan kampung papuq Belo menempuh waktu 2 jam perjalanan.
”Gimana ya caranya?” selama dalam perjalanan Wage berpikir keras mencari akal, bagaimana caranya memberikan ”obat” ini pada istrinya, sebab dia tahu Dewi itu orangnya sangat hati-hati dan terlalu peka. Kalau dia berikan secara langsung jelas akan menarik perhatiannya dan muncul rasa curiga. Dia paham betul akan kecurigaan seorang istri. Istrinya memang memiliki instink yang cukup tajam dalam hal begini. Kok tumben suamiku baik sampai menyiapkan air segala atau kok tumben suamiku menyarankan aku minum teh buatannya sendiri, ada apa gerangan? ” wah sepertinya sulit juga, pasti dia tidak akan mau meminumnya,” Wage mengerutkan kening. Dia sudah mulai merasa buntu. Tidak ingin terjadi sesuatu yang diluar perkiraan. Diluar rencana yang semula yang sudah disiapkan kakek dukun yang masih memiliki rasa humor diselingi emosi meledak-ledak itu.
”Ah, begitu saja kok susah. Taruhkan saja butir-butir itu di dalam teko minuman yang biasa diminum,” temannya memberi saran.
”Wah, kelihatannya sulit, ntar kalau ketahuan gimana dong? Lagipula jarang aku tahu kapan saat-saatnya dia mau minum. Terkadang bisa seharian tidak minum-minum di rumah, makan saja seringkali di luar rumah dengan teman-temannya.”
”Yaaaa...... suami apa sih kamu ini Ge? Ya kalau tidak di teko taruh dimana kek cari akal gitu! ” Teman Wage mengumpat kebodohannya. Memang Wage akui dirinya merasa sangat bodoh akhir-akhir ini. Wage seperti orang pilon. Apa yang dilakukan istrinya seperti Wage dibuat diam dan tidak pernah bisa marah, justru sangat bertentangan dengan sifatnya yang dikenal kawan-kawan di kantor memiliki temperamen tinggi yang sewaktu-waktu penuh dengan emosi meledak-ledak. Uff...! Wage tak habis pikir karenanya.
Wage pikir cara yang tidak terlalu menjolok adalah dengan menumpahkan butiran yang dicampur air itu ke dalam galon minum di rumah. Untuk selanjutnya tinggal mengamati perkembangan, apa akan terjadi perubahan atau tidak.
Setelah diam-diam menumpahkan butiran itu ke dalam galon minuman, Wage sedikit bernapas lega. Setiap sore pulang kantor dia diam-diam sambil lalu menatap batas air galon. Hmm, ada berkurang. Berarti sebagian sudah ada terminum, pikirnya senang. Dilihat belakangan ini Dewi sesekali waktu memegang dan memijit-mijit kepalanya sambil mengeluhkan pening. Wage menganggap butir penolak pelet itu sudah mulai bekerja. Hari demi hari selalu dia mengawasi dengan diam-diam. Seminggu dua minggu dia sudah berharap istrinya akan sembuh total seperti sediakala. Pada minggu ke tiga dia melihat batas air galon minuman tersebut tersisa seperempat. Wage berusaha mencari tahu keadaan dan keberadaan istrinya, karena dilihatnyanya kamar tidur demikian rapi seperti tidak terjamah sama sekali. Hingga sore itu bayangan istrinya tidak terlihat sama sekali. Wage berpikir mungkin lagi sibuk dengan kegiatan bersama teman-teman organisasinya, demikian ia berpikir.
Wage berusaha menghubungi ponselnya. Tidak ada jawaban. Ponselnya aktif namun tidak diangkat. Seperti biasa. Seperti sebuah kecurigaan sudah menghalangi kecemburuannya akan sesuatu. Curiga dan cemburu selalu saja bersamaan datangnya. Wage selalu mengalami hal-hal seperti itu belakangan ini. Namun hari hampir mendekat malam istrinya belum juga pulang. Ada sedikit rasa was-was menghantui perasaannya. Dilihat dua orang anaknya di ruang belakang demikian suntuk memperhatikan layar TV. Tidak terusik oleh ketidakhadiran seorang ibu, atau itu sudah menjadi hal yang biasa bahwa, kesibukan orangtuanya adalah mutlak dan bukan merupakan suatu kebutuhan lagi untuk berbaur dalam ruangan itu.
”Ibumu kemana?” Wage akhirnya memecah kesuntukan mereka. Kedua anak-anaknya hanya menoleh sekilas lalu menggeleng. Seperti tidak ada yang merasa hilang dalam kesuntukan mereka.
”Ibumu kemana Anggi?” Wage sedikit tandas sambil memegang bahu si bungsu. Mengharapkan ada ungkapan keluar dari bibir kecil itu.
”Ndak tahu!”
Dengan penasaran Wage memasuki kamar tidur. Matanya tertuju ke arah almari pakaian. Almari yang sedari pulang kantor belum tersentuh. Pintu almari pakaian terkuak tangannya yang gemetar. Matanya terbelalak. Semua pakaian dan perhiasan yang tersimpan di dalamnya tidak ada tersisa. Wage menelan ludah. Dilihat ada sepucuk surat tergeletak di atasnya. Wage tak mampu menjamah. Tidak berniat membuka. Enggan untuk membaca. Badannya lunglai. Wage menjadi ingat akan kata-kata istrinya beberapa bulan sebelum ia pergi ke rumah papuq Belo. Istrinya pernah mengatakan ingin memulai hidup baru dengan seseorang yang belakangan ini sering menghubunginya. Istrinya pernah mengatakan akan diajak pergi umroh ke tanah suci. Belakangan baru tahu kalau lelaki itu adalah seorang guru di wilayah jembatan kembar. Kurang lebih 20 km jaraknya dari rumahnya. Belakangan baru tahu kalau lelaki itu sering mengencani istrinya dan selalu mengajak makan siang sama-sama hingga melupakan dirinya. Belakangan baru dia tahu kalau lelaki itu sudah beristri dan istrinya yang bernama Atun itu sering mendatanginya, menceritakan tabiat jelek suaminya. Dan Atun mengatakan suaminya telah menceraikan dirinya. Wage tidak mampu berkata-kata. Tatapannya bengong tertuju ke arah sudut kamar.
Dan malam itu juga, sebuah senapan api sudah berada dalam genggaman tangannya yang kaku dan kasar. Rahangnya mengeras. Matanya mulai menyala. Jidatnya mengkilat tersapu cahaya neon yang menerpa kegairahan mudanya yang mulai bangkit menyala-nyala. Keningnya tidak lagi mengeluarkan kerut yang dalam, sebagaimana kerut merut kulit yang menapak usia matang puluhan tahun, ya puluhan tahun saat usianya yang belia penuh kegatalan jiwa yang selalu kasar dalam memutuskan sesuatu.
”Cukup sebutir peluru panas ini akan mencairkan masalah. Tidak ada Tuhan yang perlu diperhitungkan. Tidak perlu ada logika. Cukup satu butir, maka terurai isi otaknya yang sudah tidak bisa diajak untuk berdamai selama ini..................”

Jakem, oktober 2011

Minggu, 09 Oktober 2011

BLACKBERRY

Pingin rasanya punya HP bagus kayak teman-temannya. Di sekolah tempat wayan belajar hampir semua teman-temanya kebanyakan membawa HP bagus-bagus. Sedangkan dia sendiri jangankan untuk beli HP yang bagus, untuk jajan saja kadang-kadang masih kurang. Belum kalau lagi ada pelajaran tambahan di sekolah, Wayan hanya cukup melirik kantin sekolah dari jauh saja sambil menelan ludah kehausan. Baru-baru ini mang Nonik teman sebangkunya memperlihatkan blackberry keluaran terakhir. Wah, mutakhir sekali.
“Ini bisa untuk chatting. Ada fasilitas facebooknya. Wuih pokoknya seru,” mang Nonik berceloteh bangga di hadapan teman-temannya ketika lagi jam pelajaran kosong. Semua pada menoleh. Semua mengerubungi gadis cantik walau agak sedikit kurus itu. Ada yang mendekat. Ada yang jahil berusaha meraih. Eiiit! Lebih gesit tangannya Ayu. Teman sebangkunya sudah lebih dahulu mengambil.
“Wah, bagus mang. Dimana beli?”
“Kiriman paman saya dari Jepang.”
“Wah, pasti asli ya?”
“Ya, disini belum ada yang jual.”
“Ah, masak?”
“kalau yang bekas ada ndak?”
Dan mereka semua sibuk membicarakan HP baru kepunyaan mang Nonik. Maklum dia keturunan keluarga kaya. Bapaknya peternak babi yang sukses. Walau babi mengandung banyak lemak agak janggal kalau melihat mang Nonik tubuhnya kurus seperti kekurangan makan. Tak heran kalau teman-temannya sering mengoloknya dengan kata-kata:” Eh, mang, sekali-sekali makan daging babi, jangan hanya dijual aja.” Atau dengan kata-kata pedas: “ Sayang ya! Bapaknya sukses dengan muluk babi tapi anaknya melarat kekurangan lemak.”
“Jangan-jangan malah dia yang menyusui babi-babinya, hingga kehabisan stok lemak di tubuhnya,” sambung yang lain sembari ngakak keras. Namun bagaimanapun pedas ejekan temannya, mang Nonik tetap saja cuek-cuek bebek. Sekalipun di balas olokan temannya ndak bakalan membuat dirinya gemuk. Ya terima saja apa adanya.
Sejak punya HP blackberry baru sekarang teman-temannya sudah mulai jarang mengolok. Sepertinya Benda itu memiliki kekuatan ampuh yang mampu mengangkat ketenaran ,harga diri dan pada akhirnya hal itu membuat teman-temannya enggan untuk menilai kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri mang Nonik. Jelas itu telah mengangkat martabatnya. Kabar tentang HP mang Nonikpun mulai menyebar dari kelas ke kelas. Semua sibuk membicarakan. Lebih senang membicarakan HP barunya mang Nonik ketimbang membahas mata pelajaran. Sepertinya HP milik mang Nonik disejajarkan dengan mata pelajaran sekolah. Sehingga selepas jam pelajaran pastilah diselingi dengan adu pendapat soal blackberry. Dan mereka semua kelihatan pada berlomba-lomba mengganti HP. Tidak mau kalah dengan kepunyaan mang Nonik.
“Yan, kamu kenapa diam saja dari tadi? Ndak ganti HP kayak teman-teman yang lain? Jangan mau ketinggalan Yan!” Teman sekelasnya memanas-manasi Wayan yang sedari tadi tidak antusias membahas soal HP.
“Ah, cerita biasa. Itu sih sepele!” Wayan komentar acuh tak acuh.
“Maksudmu?”
“Ya, semua juga tahu itu barang mahal. Kenapa harus ikut-ikutan ramai. Nonik itu kan anak saudagar babi, apa saja bisa dibelikan orang tuanya.”
“Jangan rendah hati begitu. Harus bangga dong dengan kepemilikan kawan.”
“bangga? Ya jelas ikut bangga tapi tidak harus kesetanan kayak gitu kan?”
“Ah, kamu ngiri ya?”
“Kalau aku yang punya gituan teman-teman baru pantas ngiri.”
“Kenapa?”
Wayan tidak menjawab. Hanya tertawa kecil disambung dengan kata-katanya yang khas. : ”Mana mungkin orangtuaku sanggup membelikan.”
Bagi Wayan komentar yang berlebihan tentang HP milik mang Nonik merupakan ejekan bagi dirinya yang miskin. Dia merasa seolah-olah terdesak oleh sesak ocehan teman-temannya. Sepertinya sebuah keharusan memiliki walau sesungguhnya belum dianggap untuk melengkapi statusnya sebagai seorang pelajar. Itu yang ada dalam pikiran Wayan dalam keinginannya yang tidak tiba-tiba dan sudah sedari dulu dia angankan. Dia juga seperti teman-temannya yang lain: Ingin memiliki HP yang bagus.
“Tidak mungkin memek belikan kamu begitu Yan? Apa untungnya? Tanpa HP-pun kamu bisa sekolah. Jangan sok-sok an kayak temanmu yang kaya itu. Memek ndak punya uang,” itu kata ibunya ketika pernah Wayan mengungkapkan keinginannya. Jauh-jauh hari sebelum kabar blackberry itu beredar di sekolah. Keinginan hanya tinggal keinginan. Angan-angan hanya hembusan angin sepoi-poi yang merona di wajah wayan. Hembusan yang membuatnya terdampar di alam mimpi saking kuatnya angan-angan memiliki sebuah HP. Dalam mimpi wayan merasa memiliki keluarga yang kaya raya. Tangannya menggenggam sebuah blackberry yang bagus. Wayan tertawa-tawa senang. Ke sekolah ia membawa HP dan kelihatan sibuk nelpon kesana-kemari. Bagai orang gila wayan naik tembok sekolah, sekali-kali berada di lantai 2 sekolah. Terkadang terlihat di atas dahan pohon halaman sekolah sambil tertawa-tawa menjawab sesuatu.
“Nih, lihat! Hanya untuk memiliki sebuah blackberry tidak perlu mesti terlahir dari sebuah keluarga yang kaya raya, memiliki showroom mobil ataupun saudagar babi,” suara seberang melecehkan. Seperti menyindir mang Nonik.
“Ah, kamu ngomong apa kentut?”
“lha, buktinya aku terlahir dari kehidupan di tengah pasar. Memekku hanya cukup jualan janur dan sedikit bahan ceraki masih bisa menyisihkan buat blackberry.”
“Dan sedikit sembako?”
“Hm….ya”
“Ya sama saja kamu keluaran sebagai seorang saudagar yang sukses.”
“tapi eh, ini yang bertanya siapa?”
“Aku?”
“Ya…. Siapa lagi?”
“Wayan!” Suara di seberang menegaskan.
“Lho!?”
“Kenapa?”
“Aku juga Wayan…”
“Wayan siapa?”
“Lodra!”
“Lho kok….?”
“Lho lagi?”
“Iya…..ya…..Sama!”
“Sama apa?”
“Lodra juga…..”
“Ah…!?”
Lalu mereka sama-sama tertawa. Jangkrik! Ternyata ndak enak memiliki blackberry. Itu memang membuat bukan hanya komunikasi semakin dekat, informasi semakin nyambung bahkan nama juga semakin dekat. Dan bisa sama. Wayan geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dibuatnya. “Apakah aku sudah gila?” Ah, jangan-jangan komunikasi ini sesungguhnya yang gila serta ndak pernah nyambung.
“Kenapa nelpon mesti pake acara manjat-manjat segala, Yan?” gurunya menegur melihat kelakuan Wayan.
“Ndak ada signal pak!”
Wah sekarang sejak punya blackberry tingkah laku Wayan semakin aneh-aneh saja. Blackberry itu selalu membuat Wayan manjat tembok sekolah, atau manjat pohon halaman sekolah bahkan bila perlu manjat gedung sekolah.
“Nelpon siapa Yan?” mangde, nyeletuk.
“Dadong di kampung.” Sahutnya.
Memang blackberry ini membuatnya gila dan sering lupa. Lupa kalau dadongnya sudah lama mati. Tapi apa salahnya, siapa tahu nyambung. Namanya juga berusaha. Dan ketika ada sahutan Wayan ngakak keras-keras. Ingat Dadongnya pada acara pengrupukan menjelang Nyepi, habis-habisan memarahinya memainkan letupan bom bambu yang sengaja ditambahkan karbit. Suaranya keras memekakkan telinga. Atau ketika ketahuan mencuri beberapa biji buah bengkuang di ladang. Dadong yang nanam, dia yang memanen.
“Ingat dong? Ingat ‘kan? Ingat ya? Pasti ingat! Wayan sekarang sudah punya blackberry lho, dong” suara Wayan disambung tawanya yang renyah. Dan saking asyiknya tertawa, Wayan lupa kalau tengah berada di tingkat gedung paling tinggi di sekolahnya. Dan..Gedubraaak…..!!! Segalanya menjadi gelap. Penglihatan Wayan tiba-tiba menjadi gelap. Suara hiruk pikuk teman-temannya di kelas tidak dia dengar lagi. Ya, segalanyanya bagi penglihatan Wayan menjadi gelap. Tiba-tiba tubuhnya terguncang-guncang, seperti ada yang menarik. Wah, jangan-jangan sekarang dia lagi dalam perjalanan ke akherat. “Wow, matikah aku? Apakah aku sudah mati?” Tapi Wayan masih sempat terkekeh-kekeh geli, ingatannya akan blackberry paling tidak kalau sudah sampai di titi ugal-agil nanti dia tak akan dibenturkan dengan persoalan-persoalan baru. Dia hanya tinggal menjawab pernah! Pernah!! Dan Punya! Punya!! Kalau ditanya pernah sekolah dulu, maka jawabnya pernah. Kalau ditanya punya HP? Akan dia jawab Punya. Ini dia blackberry keluaran baru. Wayan kian terguncang. Tubuhnya semakin keras memberikan perlawanan. Lapat-lapat didengar ada teriakan yang memanggil-manggil namanya. Di kejauhan yang penuh dengan kegelapan. Memang segalanya menjadi gulita. Siapa? Siapa yang memanggil namanya? Mang Nonik, memek, mangde ataukah dadongnya yang tengah marah-marah mengetahui dia mencuri bengkoang? Bukan! Suara itu suara kanak-kanak menginjak remaja. Suara remaja yang setengah mengganjal tenggorokan. Remaja-remaja yang telah menunjukkan tembolok kedewasaan. Ah…ya… itu suara mangde, suara Agus dan suara-suara yang dia kenal di kelas. Wayan menggeliat. Ya itu suara teman-temannya di kelas. Berarti dia tidak mati. Ya Wayan belum mati karena blackberry. Terus kenapa semuanya dia rasakan sangat gelap gulita? Kenapa dia bisa terhubung lewat blackberry ini dengan dadongnya? Padahal dadongnya ‘kan sudah mati. Ah, jangan-jangan dia dan semua teman-temannya pada mati. Ya mati beramai-ramai dalam sebuah kecelakaan massal.
“Yaaaaaan……Wayaaaaaaan…!!”
Wayan kaget setengah mati. Lagi-lagi dia jatuh untuk yang kedua kalinya, Bukan dari ketinggian gedung sekolah. Tidak juga dari titi ugal-agil.
Perlahan matanya membuka. Satu persatu sosok wajah muncul di hadapannya. Samar-samar terlihat mangde. Wayan mengucek-ucek matanya yang merah. Semakin jelas teman-temannya berebutan muncul lewat kornea matanya. Memantul jelas. Semua pada menertawakan dirinya.
“Mimpi apa Yan?”
Wayan Lodra tidak menjawab. Perlahan bangkit dari lantai kelas dan ngeloyor pergi.

Rabu, 05 Oktober 2011

Bagaimana kalai seorang guru kedapatan menyimpan video porno di laptopnya?????

Cerpen : DG Kumarsana

GURUNYA JUGA PORNO

Suasana di halaman sekolah SMK 5 Mentaram yang dianggap favorit itu kini Nampak lenggang. Murid-murid sejak tadi sudah memasuki ruangan kelas, sibuk dengan pelajarannya masing-masing. Sesekali nampak satu atau dua orang guru keluar ruangan kelas. Kemudian tak berapa lama masuk kembali melanjutkan mengajar.
Di sudut ruangan BP3 nampak 3 orang siswa lagi duduk-duduk tidak seperti biasanya, tidak tengah mengikuti pelajaran. Wajahnya sedikit murung. Salah seorang malah Nampak bengong menatap hamparan rumput yang bertebaran di halaman.
“Kalau tidak karena film porno sialan itu tidak mungkin aku akan wajib lapor terus plangak-plongokan wajah di hadapan pak Puji,” gerutu Rahgung kesal. Ruang BP yang menyebalkan. Dan lebih sebal lagi melhat wajah temannya Angga sebagai penyebar virus download negatif mengakibatkan Rahgung mendadak jadi ikut-ikutan kena getahnya. Getahnya ya ini, terpaksa akhirnya harus 3 hari berturut-turut tongkrongin ruang BPnya pak Puji. Mau bilang apa lagi?
Sebelumnya di rumah Rahgung sudah sempat takut-takut menyampaikan kejadian yang menimpa dirinya. Takut menghadapi emosi ayahnya nanti seandainya membaca surat panggilan dengan kasus yang sangat memalukan ini. Di hadapan ibunya, Rahgung sudah berpikir dengan perasaan takut-takut ketika menyodorkan surat panggilan dari sekolahnya itu. Dia bisa membayangkan bagaimana ibunya akan memarahi dirinya dengan tak habis-habis. Dan tak henti-hentinya akan menerima berbagai kata-kata ibunya yang tajam. Setajam pisau belati Oh, Belum lagi membayangkan kemarahan ayahnya yang memiliki temperamen tingkat tinggi. Semua ancaman-ancaman yang menakutkan akan keluar dari mulut ayahnya dengan disertai pukulan demi pukulan. Dia harus siap-siap menghadapi ini. Biasanya yang akan menjadi sasaran pukulan adalah dari bagian kepala, kemudian pipi akan digampar dengan keras. Bahkan kalau sudah kalimat demi kalimat kasarnya kian memuncak biasanya disertai tendangan. Rahgung ngeri menghadapi itu.
“Coba lihat HPnya?” Ayahnya menatap tajam. Rahgung menyerahkan HP blackberry kesayangannya. Perasaan cemas mulai melanda. Rasa takut kalau tiba-tiba HP kesayangannya itu akan di banting ke lantai.
Ternyata tidak. Tidak seperti apa yang menjadi dugaannya semula.
HP itu ternyata tidak dibanting. Wajah Rahgung yang semula tegang jadi agak sedikit tenang begitu mendengar kata-kata ayahnya yang lembut. Dan apalagi ketika ibunya yang secara pelan bertanya padanya meminta penjelasan kronologis kejadiannya. Ayahnya sibuk membuka-buka isi video dalam HPnya. Hanya film rekaman sewaktu terjadi angin puting beliung yang melanda di kawasan tempat tinggalnya beberapa waktu lalu. Film lucu tentang anak-anak dan sedikit rekaman balap-balapan sepeda motor, sebagaimana apa yang menjadi hobby Rahgung selama ini. Sebagaimana jurusan yang dia geluti di sekolah.
“Sebenarnya rahgung hanya duduk-duduk saja di belakang Jefry yang sedari pelajaran berlangsung menunduk aja terus memandangi HPnya. Terus Oki dan nanang yang bangkunya bersebelahan menggeser tempat duduk,” dengan terbata-bata saking takutnya dimarah, Rahgung menceritakan di hadapan orang tuanya.
“Kamu ikutan nonton ndak?”
“Ndak sebetulnya. Hanya terlihat ama Rahgung karena duduknya Jefry persis berada di depan saya. Jadi terlihat apa yang sedang di tonton secara sepintas.” Rahgung menjelaskan.
“Artinya kamu melihat apa yang kamu tonton?”
Rahgung mengangguk.
“Kamu benar-benar melihat?”
“Iya, abis gimana pak. Saya khan duduk di belakang bangku mereka, iya segala gerak-geriknya terlihat. Sebetulnya sih tidak ingin melihat, apalagi guru di depan kelas lagi serius menerangkan mata pelajaran,” Rahgung menjelaskan apa adanya.
Ayah dan ibunya manggut-manggut.
Rahgung sendiri heran atas sikap ayahnya. Tumben! Biasanya ayahnya yang punya temperamen keras dan suka main pukul tanpa ba-bi-bu. Urusan belakang. Pernah ketika Rahgung main ke tetangga belakang, karena telat menjawab sms ayahnya, tanpa banyak cincong mencarinya ke belakang dan tanpa banyak bicara mukanya di gampar dengan keras. Bayangkan di hadapan teman-temanya lagi. Rahgung tak habis pikir sekarang dengan sikap ayahnya yang sudah berubah 180 derajat. Dari temperamental ke arah yang cukup slowdown. Sungguh mengherankan sekaligus membuatnya senang. Terlebih lagi rasa senangnya tidak terlalu berlebihan dia perlihatkan di hadapan teman-temannya di kelas, manakala dia melihat ayahnya sendiri di hadapan matanya secara langsung ngotot membela dirinya habis-habisan di depan guru BP3 mengenai persoalan yang menimpa dirinya tentang film porno. Yang nyata-nyata juga sesungguhnya dia tidak terlibat secara langsung. Lumayan juga perdebatan ayahnya dengan pak Puji, guru BP3 itu.
“Rahgung anak yang baik. Sikapnya polos. Kepolosan sikapnya ini yang kadang-kadang dimanfaatkan teman-temannya. Saya tahu persis gimana anak saya itu,” demikian ayahnya berkata dengan menggebu-gebu. Dan ketika menandatangani surat pernyataan itupun Rahgung lihat sikap ayahnya yang memberi penolakan penuh. Argumen ayahnya memang masuk akal. Penjelasannya sangat logis. Hampir menitik air mata Rahgung melihat cara ayahnya membela dirinya. Terlihat betapa pedulinya dia terhadap kelakukan anaknya. Namun apa mau dikata. Dia berada di tengah tengah pusaran dari kenakalan teman-temannya yang berada pada posisi yang tidak dibenarkan. Apapun alasannya, walau hanya sekadar melihat, secara tidak sengaja sekalipun, itu tetap merupakan sebuah kesalahan. Kendati bisa ditolerir. Rahgung tidak salah namun berada di tempat yang salah dengan posisi yang agak tersudutkan : menonton film porno di kelas. Nah!
Dan wajib lapor itu dengan sangat terpaksa di tandatangani ayahnya. Wajib lapor yang mengharuskan Rahgung selama 3 hari berturut-turut keluar masuk ruangan BP3. Sementara dua orang temannya yang lain kena wajib lapor sebulan, lebih berat hukumannya karena dianggap menyimpan serta mempertontonkan di hadapan teman-teman saat pelajaran tengah berlangsung di kelas.
Diam diam Rahgung bangga pada ayahnya.
Disaat-saat bengong mereka di depan ruang BP, Arjuna mendengar langkah kaki mendekat. Mereka menoleh sekilas. Nampak Pak Ngabdul guru bagian kesiswaan dan Pak Rai guru jurusan seni ukir sambil lalu Rahgung melihat. Fuii, Ngapain lagi guru yang menyebalkan ini mendatanginya.
“Masalah apa dipanggil?” Pak Rai bertanya,matanya menatap Rahgung.
“Ndak ada pak,” Rahgung berusaha menutup-nutupi. Ia paling kesal melihat guru yang satu ini.
“Ah, mana mungkin kalau ndak ada masalah apa-apa harus menghadap ke BP”
“Soal film Porno itu ya? Pasti itu, tak ada lain” Pak Ngabdul seolah tahu kejadian yang sebenarnya
“Mau lihat film porno? Tuh lihat di laptop saya,” Pak Rai seolah berkata sinis pada Rahgung. Teman-temannya pada melongo.
Aneh! Guru yang satu ini malah menyarankan nonton film itu di laptopnya.
“Gila!” desisnya pelan.


Pagesangan, Juni 2011

Jumat, 23 September 2011

BONEKA BERDARAH

Kampung itu tiba-tiba berubah menjadi riuh. Jalan-jalan mulai diblokir. Setiap wajah asing yang memasuki kawasan itu wajib ditanya. Interogasi dengan cara pemeriksaan KTP. Beberapa pendatang yang tak dikenal berlaku sebagai makelar sudah tidak terlihat batang hidungnya. Entah kabur kemana setelah kebingungan mendengar kabar adanya sweeping dari aparat keamanan.
Rani tidak peduli melihat amaqnya yang sedari tadi sibuk kesana-kemari memegang linggis. Dia melihat teman-teman bapaknya, saudara-saudara bapaknya di kampung, nampak hilir mudik dengan wajah memendam kemarahan. Ada yang membawa parang, pisau, keris, celurit dan macam-macam senjata tajam. Keris papuq Nirwan yang baru kali ini keluar dari sarangnya nampak menghunus. Konon keris pusaka peninggalan leluhurnya itu memberi pratanda akan terjadi sesuatu ketika terhunus keluar dari kamarnya yang pengap. Luk tubuh keris itu berkilau terpantul cahaya matahari yang sengat menerpa suasana kampung yang berubah jadi ramai..
Rani dasar namanya anak kecil tidak mempedulikan apa yang akan dilakukan amaqnya. Dia demikian asyik dengan boneka mainannya sambil mendendangkan lagu yang baru ini diajarkan kakaknya Intan. ” hatiku gembira riang tak terkira mendengar berita kabar yang bahagia....... ayahku kan tiba....datang dari India....membawa boneka...yang cantik jelita...oh...sayang...” demikian berulang-ulang Rani senandungkan dengan lafal ”R” yang tak jelas. Hanya lagu itu saja dia ketahui.
”Hush, anak kecil masuk rumah sana..!!”
“Ada apa amaq.....ada apa? Apa yang terjadi? Ada apa inaq?” Intan pada seseorang yang dilihat tengah memegang sesuatu benda tajam mencoba bertanya. Di kampung ini siapapun memanggil amaq untuk sebutan seorang ayah. Dan sebutan inaq untuk para ibu-ibunya, itu sudah merupakan bahasa panggilan sehari-hari di kampung. Intan beserta anak-anak yang lain berlari-lari kecil memasuki halaman rumah belakang. Di beranda depan dilihat adiknya Rani masih dengan keasyikannya menggendong boneka sambil mengayunkan tangan ke arah kanan dan kiri secara beraturan. Ditarik tangan adiknya dengan setengah memaksa.
Boneka itu dia peroleh secara diam-diam ketika mengantarkan inaqnya rebonding pada sebuah salon kecantikan di kota. Sejak suaminya berhasil memburu emas sebagai seorang penambang di sebuah bukit, inaq Nirwan mulai berubah gaya hidupnya. Sekarang sudah berhenti jualan sayur di pasar. Rumahnya perlahan mulai berubah. Perabotan yang mahal-mahal mulai menghiasi rumahnya. Setiap 2 minggu sekali bersama teman-teman sekampung ramai-ramai pergi ke kota. Jarak tempuh dua setengah jam dari desa benar-benar mereka manfaatkan. Mereka mengunjungi supermarket, membeli apa yang menjadi keinginannya, datang ke mall jalan-jalan melihat keramaian sambil membawa pulang kulkas, TV baru dan perlatan memasak yang semuanya berbau elektronik. Membeli HP baru, mereka mendatangi showroom mobil dan menawar kendaraan terbaru yang ada disana. Inaq Nirwan mulai berubah wajahnya setelah melihat teman-teman sekampung sempat turun gunung. Inaq Nirwan tidak mau ketinggalan. Dia ingin seperti teman-temannya yang lain.
”Berapa?”
”tujuh ratus ribu rupiah. Rambut mbaknya panjang dan tebal, pemakaian bahannya cukup banyak.” kata petugas salon kecantikan.
Inaq Nirwan mengeluarkan tujuh lembar uang ratusan ribu dari lipatan kerengnya yang dikenakan. Lalu dengan sangat santainya menyerahkan uang itu. Ada senyum menghias wajahnya. Rambutnya hitam lurus. Persis seperti seorang artis sinetron, demkian teman-temannya mengomentari penampilannya. Ucapan dengan kata-kata ”mbak” dari petugas itu lebih-lebih menyungging senyumnya lagi. Dia merasa 10 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Tumben ada yang memanggil demikian. Di kampungnya kata-kata itu terlalu janggal didengar. Bahkan tak ada yang tahu artinya. Selentingan memang pernah didengar kata-kata itu dari beberapa pendatang dari luar kampung yang turut menambang disana. Dan sekarang kata-kata itu dia dengar langsung di kota. Ditujukan untuk dirinya. Betapa menyenangkan. Sungguh merasa tersanjung karenanya.
Anaknya Rani bersama anak-anak lain dan teman-temannya duduk di ruang tunggu salon menunggu giliran. Ada yang minta creambath, ada yang menunggu giliran di masker yang sebelumnya sudah sempat datang rebonding. Rani tengah asyik memainkan boneka yang ada di sofa. Tangan mungilnya sesekali memain-mainkan mata boneka itu, menarik-narik telinganya, terkadang mengelus-elus kepalanya. Lucu sekali. Sangat menggemaskan!
”Boneka panda ini pemberian salah seorang pelanggan, karena anak satu-atunya telah meninggal maka dia titipkan disini. Entah sengaja dibiarkan atau ketinggalan. Boneka ini mengingatkan pada mendiang anaknya. Mungkin lebih baik ditaruh disini daripada dibuang,” kata pemilik salon kecantikan itu dengan ramah. Keramahan yang sesuai dengan penampilan wajahnya yang cantik.
”Ih, bagusnya,” Rani cekikikan geli sambil mengibas-ngibaskan mulut boneka itu di perutnya.
”Boneka ini memang sesuai di tempatkan di ujung meja dekat sofa ruang tunggu. Perpaduan yang pas dengan suasana ruangan. Sejak ada boneka itu usaha kami semakin meningkat. Entah, kadang kami tidak percaya itu. Pengunjung disamping puas dengan layanan kami, sepertinya pada rela antre menunggu. Ini benar-benar sebuah mukjizat. Boneka ini seperti memiliki kekuatan gaib.” bagaikan air yang mengalir begitu saja pemilik salon itu nyeroscos bicara. Inaq Nirwan hanya manggut-manggut saja sambil memperhatikan beberapa temannya yang lagi dipermak rambutnya oleh karyawan disana.
“Hanya saja ada ketakutan sering datang menghantui. Setiap malam kecemasan itu selalu menghantui hidup saya tentang boneka ini....” suaranya hampir tak terdengar, sepertinya ditujukan pada dirinya sendiri.
”Apa itu?” Inaq Nirwan seolah mendengar ucapan wanita itu. Rasa ingin tahu yang besar sengaja disembunyikan di balik matanya..
Wanita ramah itu terdiam. Inaq Nirwan menatap seperti tidak ingin mengetahui. Seolah tidak menginginkan wanita itu melanjutkan ceritanya.
“Entah apa hubungan kematian anak itu dengan boneka ini.....” seraya mendesah wanita itu penuh dengan tanda tanya seperti tidak ingin didengar suaranya. Inaq Nirwan hanya menatap bengong, kebengongan orang desa yang lugu. Antara mengerti atau tidak.
Sepulang dari kota, masing-masing dengan wajah riang gembira para inaq-inaq membeberkan barang-barang belanjaan dari supermarket serta menunjukkan rambutnya yang bagus pada suami mereka. Menanti hujan pujian. Memamerkan rambutnya pada para tetangga, inaq-inaq bahkan gadis-gadis di kampung yang belum sempat turun ke kota. Mereka pada teriak histeris saking gembira dengan suara-suara yang sangat memekakkan telinga. Luapan kegembiraan khas wajah desa.
”Eh, dimana dapat boneka itu? ” amaq Nirwan tiba-tiba mengalihkan pandangan menatap Rani yang tengah menggendong boneka dengan wajah suka-ria. Istrinya menoleh dan terperanjat.
”Kenapa kamu bawa boneka itu?” Inaq Nirwan berteriak kaget baru menyadari apa yang ada dalam genggaman Rani. Suaranya keras memenuhi ruangan. Terdengar bagai petir di telinga suaminya. Rani menggeleng-geleng dan mendekap erat-erat boneka itu. Seperti tidak menginginkan boneka itu lepas dari pelukannya. Amaq Nirwan menatap anaknya dengan tatapan bingung. Kemudian beralih menatap istrinya dengan tatapan aneh. Penuh tanda tanya.
Inaq Nirwan akhirnya menceritakan semua yang didengar mengenai boneka itu dari pemilik salon kecantikan yang ramai-ramai barusan mereka datangi. Menceritakan tentang kematian anak itu. Menceritakan kegaiban boneka itu.
”Ah, aku tidak percaya cerita itu,” suaminya tertawa sambil menekuk dahinya dengan gerakan mengejek dan melanjutkan dengan kata-kata: ” Nanti bayar saja boneka itu. Aku kan banyak uang”
” Ini bukan soal uang. Tapi bagaimana dengan cerita itu?” Inaq Nirwan mulai cemas.
“Itu takhyul!” suaminya menandaskan dengan suara keras. Tidak mampu dibengkokkan lagi kemauannya. Sama seperti kemauan anaknya.
Malam itu inaq Nirwan bermimpi tentang boneka gaib. Boneka yang digenggam Rani. Di halaman belakang dilihat anaknya dengan wajah gembira menyanyikan sebuah lagu sambil menggendong boneka. Inaq Nirwan begitu bahagia menularkan luapan kegembiraan anaknya Sampai ikut serta mendendang mengikuti nyanyian anaknya.:”....hatiku gembira....riang tak terkira....”. Nampak Rani berloncat-loncatan mengelilingi halaman rumput. Inaq Nirwan menatap boneka itu. Terus menatap dan astaga! Dia menjadi kaget. Ada warna merah darah mengalir dari lipatan wajah boneka itu. Sepasang mata itu mengeluarkan darah. Boneka itu menangis. Dia berusaha mendekat, makin mendekat. Inaq Nirwan berteriak keras. Boneka itu benar-benar menangis. Darah mengalir keluar dari kelopak mata itu, meleleh dari pipi turun menetes jatuh ke tanah. Dia tidak percaya dengan penglihatannya. Dia gosok-gosok matanya untuk meyakinkan. Tetap seperti semula, tidak ada yang berubah. Darah tetap mengalir dari kelopak mata boneka itu. Tanah itu berubah jadi merah warna darah Inaq Nirwan berteriak berusaha merebut boneka itu dari tangan anaknya. Namun tangannya terasa sakit seperti ada yang memukul. Dia kaget dan terbangun.
”Kamu mimpi apa?” Suaminya menegur. Inaq Nirwan mengusap-usap mata. Tubuhnya berkeringat. Teringat mimpi itu bergegas dia berlari menuju kamar anaknya. Kosong. Matanya mencari-cari dengan perasaan was-was. Sayup-sayup terdengar senandung anak kecil di beranda depan. Inaq Nirwan merasa lega. Dilihat Rani tengah bercengkrama dengan teman sebayanya sambil tetap menggendong boneka kesayangannya. Inaq Nirwan mengurut dada lega. Tidak terjadi apa-apa dengan anaknya. Sekali lagi diamati anaknya. Masih seperti semula, Rani sibuk dengan boneka kesayangannya. Seolah-olah menjadi seorang ibu dari benda mainannya itu.
-------------------
“Arak musibah....arak musibah.....!!!” Di kejauhan terdengar suara-suara para penambang.
”Sai.......? Sai.......?”
”Amaq pangus, lik Ampah, kance papuq Bengul........” suara-suara warga kian santer terdengar. Satu nama lagi disebut namun tak jelas terdengar. Entah siapa dimaksud. Tergopoh-gopoh warga kampung pada berhamburan keluar.
“Sai malik?”
“Seorang meninggal, tiga lainnya luka parah.”
”Ditembak petugas!” sahut seseorang.
”Bukan....!!” yang lain menjawab.
” Iya, tadi para petugas datang ke tempat penambangan dan terdengar suara tembakan...”
“Bukan! Tertimbun longsoran di lubang tambang.” Yang lain menyela merasa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Beberapa warga kampung yang hanya mendengar kata-kata ”tembakan” dan ”petugas” spontan menyerbu para aparat. Mobil dalmas pol PP yang sedang parkir mereka hancurkan. Beberapa petugas yang lagi berada di kantor camat kaget dan terjebak lautan massa yang mengamuk. Jalanan diblokir semua. Tidak setuju tempat penambangan emas sebagai mata pencaharian mereka di tutup pemerintah. Terdengar berkali-kali suara tembakan peringatan dari aparat kepolisian. Beberapa warga kabur. Menjelang maghrib suasana sudah mulai dapat ditenangkan.
Sementara inaq Nirwan dari tadi celingukan kesana-kemari. Sampai sore ini suaminya tidak ada di rumah. Sejak dari keributan itu berlangsung. Hanya papuqnya anak-anak saja dengan bau badannya yang khas nampak memasuki halaman rumah sambil menyelipkan keris pusaka di pinggang yang sejak tadi terhunus.
”Bapaknya Rani dimana, puq?” Inaq Nirwan bertanya pada mertuanya.
Papuqnya hanya menggeleng.
Inaq Nirwan lari keluar menuju lokasi bukit. Beberapa orang berlarian berlawanan arah dengannya menunjuk jari tangan ke arah bukit tanpa bicara apa-apa. Napasnya tersengal-sengal.
”Nirwan?” dia menegaskan sambil bergegas mendaki bukit. Di deretan tenda-tenda yang sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan para penambang terlihat kerumunan orang-orang. Inaq Nirwan terbelalak kaget. Matanya seolah tidak percaya melihat tubuh di depannya. Pandangannya mulai kabur. Matanya berkaca-kaca, serta merta menangis sejadi-jadinya. Kakinya dihentak-hentakan. Sepasang tangannya mengacak-acak rambutnya. Rambut yang baru seumur jagung di rebonding nampak patah-patah. Satu persatu berjatuhan. Tubuh suaminya terbujur kaku dengan kepala pecah mengeluarkan darah. Darah segar masih mengalir di beberapa tangan rekan-rekannya yang menggotong jenazahnya menuruni bukit. Darah segar menetes satu satu membasahi tanah bebukitan.
”Amaaaaaaaaaaaq....!!!!” Intan berteriak histeris begitu melihat tubuh bapaknya sudah kaku berlumuran darah..
Di beranda depan Rani kecil masih asyik mendendang dengan lafal ”R” tak jelas sambil menggendong boneka kesayangannya. Tidak mengetahui apa sesungguhnya yang sedang terjadi.





Catatan:
Amaq = bapak
Inaq = Ibu
Papuq = kakek
Kereng= kain,kamben
Kance= dengan
Arak = ada
Sai = siapa
Sai malek= siapa lagi

AYAH

Nyoman memandang es kelapa muda di hadapannya dengan mulut membisu. Minuman itu tidak lagi menawarkan kesejukan di kerongkongan, seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, hambar! Pikirannya kacau. Ada perasaan gelisah dalam benaknya, Lagi kangen? Kangen dengan siapa, Neni? Busyet, sudah terlalu sering bertemu, bahkan saking seringnya sampai membosankan, pikirnya.
Mimpi tadi malam membuatnya trenyuh. Konon kalau lagi bermimpi naik sepeda, naik bis beramai-ramai atau mengendarai kendaraan atau mimpi bertarung, apa lagi bermimpi naik pesawat terbang. Itu artinya sudah memulai babak baru dalam hidup dengan tantangan ilmu halus. Atau sebuah pertarungan yang tidak kelihatan, istilahnya orang ”nyabuk”, sejenis ikat pinggang berisi ilmu kekebalan tubuh, sehingga pada saat pertarungan berlangsung dengan musuh hanya sabuknya saja yang terbang, begitu kata orang pintar. Tapi itu dalam mimpi yang menurut pendapat orang tua Nyoman, terutama ayahnya pernah mengatakan kita akan siap menjadi ayam aduan.
”Ayam aduan?” tanya Nyoman tidak mengerti. Bagaimana kita yang sudah terlahir lebih sempurna dari hewan kok justru harus menjadi ayam kembali. Dan ayam aduan lagi. Nyoman semakin tidak mengerti dibuatnya.
Nyoman kemudian ingat akan cerita ayahnya dalam pengalaman bertarung seperti apa yang menjadi tradisi dalam keluarga leluhurnya yang telah digariskan secara turun temurun. Lalu ia diberikan ”gegemet”, semacam kesaktian oleh kakeknya menjelang usianya yang menginjak dewasa.
”Bawalah ini cucuku,” ujar kakek itu dengan suara parau berat.
”Buat apa kek, sekarang ’kan bukan jaman perang lagi?” Nyoman mengelak walau tidak berusaha untuk menolak. Jaman sekarang justru yang gentayangan adalah demontrasi,dimana-mana, di jalanan, di depan gedung DPR.Denyut nadi jalanan dipenuhi teriakan ketidak adilan yang berujung pada demontrasi, perang ekonomi sesama negara bahkan di dalam negara itu sendiri, perang ekonomi dalam bathin sesama tetangga, itu yang lebih hebat. Lha buat apa benda yang disebut ”gegemet” ? Nyoman melongo. Tidak mengerti.
“Sekarang ini jaman memerangi diri dari kebodohan dan sasarannya adalah generasi muda dalam wujud pendidikan, memerangi narkoba, racun dunia para generasi muda, sekarang ini jaman memerangi korupsi, kek,” Nyoman menjelaskan.
“Anak bodoh! Sok pintar kamu!” kakeknya mendamprat, suaranya terdengar keras. Matanya mendelik seperti mata barong, jidatnya mengkerut seperti buntelan kain kusut. Ditarik jenggotnya dengan tangannya yang kisut masih menyisakan otot-otot kekar, kejantanan yang membayang jelas ketika muda dulu.
Nyoman terkejut, baru kali ini merasakan hawa panas kemarahan orang tua yang disebutnya kakek.
Kakek memang keras, ia pernah dengar cerita ayahnya. Kalau kakek bisa terbang, menjadi api di ketinggian pohon kelapa, mampu menghentikan hujan yang demikian lebat disertai gemuruh sangat hebat, bahkan mampu mendatangkan hujan. Bisa berubah-ubah jadi apa saja bahkan bisa menghilang. Karenanya orang-orang kampung mengetahui kalau kakeknya sakti mandraguna.
Nyoman mempunyai empat orang nenek yang di usia tuanya masih mengguratkan kecantikan masa remaja dulu, itu berarti kakeknya sewaktu muda memang ganteng. Saking gantengnya empat wanita bertekuk lutut di hadapannya. Barangkali ada hubungannya dengan ilmu yang dimiliki kakek. Yang jelas Nyoman pun merasakan kalau dirinya mirip kakek, sekalipun ibunya Nyoman hanya satu sepertinya ayah tidak mengikuti jejak kakek. Tapi ntar dulu, wah, jangan-jangan nanti malah dirinya yang akan beristri banyak setelah mewarisi ilmu itu. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Nyoman tidak suka itu, lihat saja nenek-neneknya. Semua rada-rada: cerewet minta ampun!! hampir sekampung gempita oleh suara nenek-nenek bawel. Bagaimana nanti kalau Nyoman menambah isi rumahnya dengan banyak Neni-Neni lain? Ah, akan bisa seperti pasar kampung ini dibuatnya. Nyoman galau dan hanya geleng-geleng kepala.
”Justru karena tidak ada perang kamu harus lebih siaga!!
Nyoman tersentak kaku, kakeknya masih marah.
”Lho?!” celetuknya kaget.
”Hei, Nyoman goblok! Di jaman perang dulu yang kita hadapi adalah musuh-musuh, yang kita pertahankan adalah negara dan harga diri sebagai seorang manusia. Musuh itu jelas terlihat dan kita hadang dengan gagah berani. Sekarang ini justru perang dalam bentuk lain. Semuanya menjadi musuh dalam wajah yang terlihat berperingai penuh dengan persahabatan. Ini justru lebih parah daripada perang yang sesungguhnya. Karena senjatanya bersentuhan lewat angin.Tanpa kita rasakan apa-apa besok muntah darah, lalu matanya mendelik dan perutnya kejang, kemudian menjerit dan mati!”
Nyoman menjadi tidak mengerti dengan ucapan kakeknya, tapi bergidik juga dibuat.
”Terimalah dan bawa amanat keluarga ini,” suara kakek serius.
Nyoman menerima bungkusan kain putih kekuning-kuningan agak kusam dan sangat kumal saking lamanya tidak tercuci. Barangkali memang tidak boleh kena air dan sabun. Ketika bungkusan itu dibuka dadanya berdebar-debar, isinya macam-macam. Ada kepingan uang logam dirajah.
Tiba-tiba Nyoman ingat ketika dulu pernah mengantar temannya ke dukun untuk mencari “pelet”, karena temannya Ketut Lungsur tertarik pada bidadari teman sekelasnya .Lalu si dukun pelet itu memberikan kepingan uang logam persis seperti yang diberikan kakeknya ini. Alhasih, Ketut Lungsur ibarat pangeran bertemu permaisuri dalam pelukan asmara sampai melahirkan beberapa orang anak Jelas kepingan uang logam itu mampu menunjukkan khasiatnya.
Nyoman senyum-senyum ingat kisah temannya. Ia jadi geli sendiri. Dilihat sekali lagi isi bungkusan itu,ada sebilah keris kecil, ada batu-batu dan entah apa lagi isinya. Barangkali ini yang mampu membuat kakeknya terbang.
”Apakah keris ini mampu membikin saya menjadi seorang sarjana yang mampu merakit pesawat terbang,” pikir Nyoman sambil menimang-nimang benda langka itu.
”Kenapa tidak?” suara kakeknya terdengar menggelegar di telinga Nyoman, seperti tahu jalan pikiran Nyoman.
Tiba-tiba keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Jiwanya bergetar dan perasaan takut menghantui bathinnya. Apa benar yang didengar dari cerita-cerita orang kampung, bahkan cerita ayahnya, kalau kakek benar-benar sakti. Rasanya teknologi canggih jaman sekarang ini pun belum mampu mendeteksi apa yang ada dalam pikiran seseorang.
Akhirnya Nyoman bermuara pada satu kesimpulan utuh, bulat serta tidak bisa di tawar-tawar lagi, bahwa kakeknya memang ”sakti” dan itu telah ia buktikan sendiri kebenarannya.
”Justru di saat kamu telah menjadi sarjana dan lebih-lebih lagi telah memperoleh kedudukan yang bagus, nantinya kamu akan bertemu dengan sebuah peperangan yang menarik. Pertempuran yang tidak adil bahkan sering tidak seimbang. Senjata-senjata aneh merasuk ke badan, berseliweran bagai pecahan-pecahan meteor. Mau jadi sasaran senjata? Atau badanmu kena peluru nyasar tanpa kamu ketahui sumbernya dari mana?” tanya kakek sambil melirik Nyoman.
Nyoman meringis setengah bergidik.
”Itu berarti kalau saya membawa alat ini, akan menjadi sakti ya,kek?”
Kakek manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya.
Nyoman sekali lagi memandang es kelapa muda di hadapannya. Sekali lagi kegelisahannya yang timbul bukan karena Neni. Yang pasti Neni ada dalam keadaan baik-baik. Mimpinya telah menjadi kenyataan, ia ibarat ayam aduan yang tengah mengincar leher musuhnya hingga kepala musuhnya terengah-engah kesulitan napas. Hanya dengan satu tusukan ”taji” yang ia gambarkan dalam wujud sebilah keris, musuhnya mengerang kesakitan dan darah mengucur deras membasahi tanah kampung. Nyoman beringas dan seperti ayam ia berkokok lantang, ”musuhku mati!” teriaknya penuh semangat kemenangan.
Menjelang matahari terbit di ufuk timur kampung, dilihatnya seisi keluarga pada menangis histeris. Tubuh ayahnya terbujur kaku di bale gede ditangisi ibunya, adik-adiknya, kakaknya, saudara-saudara yang lain, saudara-saudara ayahnya dan entah siapa lagi. Nyoman merasa menyesal dan sangat terpukul! Apakah taji yang tergambar dalam wujud keris yang ia lepas bertubi-tubi telah menghantam tubuh ayahnya? Apakah ia salah sasaran sebagaimana yang digambarkan kakeknya seperti sebuah peluru nyasar yang menyisir setiap lawan? Malam terlalu gelap. Tidak menyembunyikan kepekatan. Kegelapan yang tak mampu membedakan mana kawan. Mana lawan.
”Ayahmu telah menjadi pecundang, bahkan berkali-kali. Tapi yang kali ini telah merengut nyawanya,” lagi-lagi suara kakeknya.
”Seharusnya kakek menurunkan ilmu dan pusaka-pusaka ini kepada ayah,” Nyoman melemparkan penyesalan kepada kakeknya.
”Ayahmu menolak menjadi ”tameng” bagi kejayaan leluhur kita, ia lebih menyukai segala bentuk pekakas berupa obeng, engkol, kunci tang, palu, pacul dan lain-lain bagi kelengkapan kerjanya,” ujar kakek.
Nyoman tercenung antara percaya dan tidak. Sulit diakui.Logika yang tidak jelas antara leluhur yang memperlakukan manusia keturunannya sebagai rangkaian tradisi bersusun simetris dalam diagram yang menyatu menjadi kebiasaan-kebiasaan dengan letupan-letupan dahsyat, maha dahsyat di alam modern yang merambah pada asas kenyataan berdasarkan observasi-observasi yang selama ini ia lakukan demi melawan arus yang terkesan sangat ortodoks. Ini sangat bertentangan dengan jiwa Nyoman. Namun mau bilang apa? Yang pasti nasib manusia sudah ditentukan jalanNya. Hanya Tuhan yang mengetahui kapan kita harus mati tanpa bisa ditawar-tawar, tanpa bisa ditangguhkan oleh sejenis “gegemet” berupa uang logam, ilmu kesaktian, sebilas keris dan lain-lain.Tuhan tidak memberikan jalan negosiasi bagi kematian kita. Dan yang Nyoman tahu, data-data pada medical record rumah sakit diagnosanya sudah jelas. Terlampau sangat jelas. Ayah menderita leukemia yang sangat ganas.
Nyoman jengkel. Malam itu juga dia buang jauh-jauh ke tengah laut bungkusan putih agak kekuning-kuningan sedikit kumal dan kusam karena jarang di cuci. Biar air laut sekalian yang mencuci, gerutunya geram. Kalaupun besok seperti kata kakek seandainya dia hidup sukses dan memperoleh kedudukan yang bagus, segalanya akan dia serahkan pada Tuhan. Serahkan saja semuanya pada beliau Itu kata-kata yang ada dalam mimpi Nyoman berikutnya untuk dijadikan wangsit leluhur.Ah, sudahlah........Nyoman tidak mau mimpi tentang pertarungan yang dahsyat ataupun bertarung dalam kegelapan

Senin, 10 Januari 2011

Cerpen : DG Kumarsana KEMATIAN ANAK ITU

Barangkali kalau tidak ingat suara anak itu aku tidak akan terlalu mempersoalkan kematiannya ini. Kematian anak ini aku anggap sebagai sebuah takdir yang memang sudah harus dihadapi. Karena kematian hanyalah peristiwa biasa seperti halnya sebuah kelahiran awal mulanya hadir di dunia serta fase pada saat menjalankan kehidupan. Jadi fase lahir-hidup-mati sudah diatur sedemikian adanya. Nggak perlu terlalu dipersoalkan.
”Ya, memang menurutmu nggak perlu terlalu dipersoalkan, hanya cara matinya itu yang perlu kita pertanyakan,” Temanku Anwar membantah caraku berpikir dan memandang persoalan lahir hidup dan mati terkadang terlampau berlebihan.
”Ya, itupun sudah diatur. Sudah ada dalam catatan. Ada manusia matinya di laut, matinya saat gempa, matinya dibunuh. Ada pula yang mati diam-diam, tidur bermimpi, esoknya sudah tak bernyawa lagi,” aku berkata bukan seadanya. Karena saat-saat menjelang ajal anak itu ketika peristiwa kecelakaan itu terjadi, aku sudah dan bukan hanya mengira-ngira tentunya. Sekali lagi aku bukan sembarangan mengira. Karena saat-saat dia sekarat itu, rohnya sudah jalan-jalan datang mengunjungi satu persatu teman-teman bermainnya. Bahkan rohnya sempat berbicara denganku. Jadi tidak ada alasan untuk membahas bagaimana cara anak itu mati. Atau sebagaimana orang-orang mati menurut cara-cara yang telah di atur olehNya. Semua kematian manusia sudah diatur, dari caranya lahir, bagaimana sewaktu hidup dan sampai proses menemui ajal.
”Ada yang mati bunuh diri!”
”Iya, dengan gantung diri, minum baygon, minum racun tikus......”
”Ada yang mati perlahan-lahan!”
”Iya, kena serangan stroke, makan hati...”
”Ada yang mati pura-pura!”
”Mati suri.............”
”Hidup lagi!”
”Iya......iya.....”
Biasanya kalau sore begini ia sering duduk-duduk di teras depan rumah sambil makan mie. Lalu berteriak pada seisi rumah minta diambilkan air minum. Terkadang kelihatan bersenda gurau dengan kawan-kawan sebayanya. Ada saja celotehnya yang kerap mengundang tawa. Anak itu memang sangat lucu. Terkadang aku ikut ngikik dari balik kaca jendela rumah mencuri dengar pembicaraan mereka.
Itu kebiasaannya ketika masih hidup.
Aku menyukai cara anak itu duduk duduk di teras depan rumah sambil teriak-teriak. Tubuh gemuknya masih terbayang jelas.
Melihat anak itu ketika sudah ajal, seperti teringat lagi apa yang dilakukan teman bermainnya saat semua suntuk mengikuti permainan apa yang tengah mereka lakukan. Aku teringat bagaimana darah yang keluar dari rongga hidungnya saat berada di rumah sakit dikerubungi oleh banyak teman-teman yang ikut mengantar ke rumah sakit.
”Saat itu dia mendahului kita di depan. Dia menyalip kita semua,” demikian Anto menceritakan kronologis kejadian sebenarnya sampai ia disrempet sepeda motor yang menurut saksi mata warga di kampung itu, bahwa pengendara dalam keadaan tidak konsen mengendarai sepeda motor sambil berbicara lewat Hpnya.
”Katanya dia standing, dia khan suka mengangkat roda depannya sering akrobat di lapangan saat bermain main dengan teman-teman yang lain.,” Ridwan berkata seolah tahu betul gimana tingkah laku almarhum bersepeda semasa hidupnya.
”Ndak tahu, soalnya dia ngebut diluar dari kebiasaannya sehari-hari, katanya mau ngaji dan dia cepet cepet pulang mendahului kita semua,” dan di tikungan itu Deni sudah tak terlihat lagi bayangannya. Hanya sepedanya saja terlihat sudah tergeletak di pinggir jalan. Ridwan lari ketakutan dengan suara tangis memberi tahu ayahnya yang lagi duduk-duduk di rumah.
”Seandainya cepat ditangani saat itu. Seandainya tidak keliling kebingungan cari rumah sakit. Tapi sudah nasib, mau bilang apa lagi.
”Tapi kalau seandainya cepat diantar ke rumah sakit terdekat, mungkin dapat tertolong. Mungkin tidak kehabisan darah.” yang lain menyambunng
” Tapi bagaimana bisa menolong. Kepalanya pecah lho!”
”Masak?”
”Iya, saat di IGD kulihat ada darah mengalir di sela-sela telinganya. Kupikir, wah, sepertinya anak ini tidak mungkin tertolong lagi,” aku berkata pelan. Teringat anak itu saat hidungnya dimasukkan slang zonde di kedua lobang hidungnya. Tangannya tak mampu bergerak. Diikat kain verban di slempangkan pada bed tempat tidur. Karena bergerak-gerak seperti menahan beban rasa sakit yang luar biasa.
Saat penguburan berlangsung, semua teman-teman bermainnya saling bertangis-tangisan. Terlihat saling sambung menyambung bertangis-tangisan. Guru-gurunya semua datang. Wajah duka menyelimuti areal pemakaman itu. Teman teman bermainnya semua tertunduk lesu. Ibunya sempat pingsan di tanah kuburan itu dan beberapa warga akhirnya menggotong ke tempat yang teduh. Menjauhkan dari jasad anaknya.
Malam itu usai tutup toko, aku pulang. Agak maghrib, jalanan sepi. Tumben tidak ada kendaraan yang melintas. Entah dalam jalur searah maupun berlawanan arah. Melewati kuburan tua di perkampungan, suasana kurasakan demikian senyap. Orang-orang kampung mempercayai kalau kuburan yang satu ini memang sangat angker. Dari tiga buah kuburan yang aku lewati menuju rumah, hanya kuburan yang satu ini membikin bulu kudukku sering merinding. Sering kalau melewati kuburan ini aku keras-keras nyalakan klakson mobil sambil memain-mainkan lampu. Itu pesan dari orangtuaku dulu. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak sama sekali. Inderaku yang satunya seolah-olah mengatakan dari arah belakang seperti ada sosok wajah terus mengikuti. Sesosok wajah ke kanak-kanakan nempel di kaca mobil belakang. Ketika aku mencoba melihat melalui kaca spion, kosong. Melompong. Tidak ada apa-apa. Entah darimana perasaan takut itu tiba-tiba datang. Tubuhku menjadi merinding. Sekuat kakiku menekan pedal gas, kendaraan seolah lari dalam kecepatan yang sama. Persis di pinggir jalan, dimana saat kejadian almarhum di tabrak, kulihat seperti masih ada bekas bercak-bercak darah segar menempel di aspal. Persis di pinggir kiri jalan aspal.
Pernah aku mengingatkan Ibunya almarhum Deni kalau dibuatkan sedikit acara selametan. Karena sebagaimana dalam hukum agamaku sendiri, tidak saja kecelakaan yang menimpa hingga menghilangkan nyawa, hingga menyebabkan meninggal dunia, kecelakaan yang hanya sampai mengakibatkan luka-luka saja di jalanan, sekalipun lukanya ringan, biasanya kita mintakan pada rohnya yang masih ketinggalan di jalan untuk kita bawa pulang kembali menyatu dengan badan kasarnya. Kendati yang tertimpa kecelakaan itu masih hidup. Apalagi sampai meninggal dunia seperti yang menimpa almarhum Deni. Rohnya pasti masih ada di tempat kecelakaan itu terjadi. Aku yakin rohnya masih ada disana.
Aku yakin roh anak itu tadi sedang mengikutiku. Wajahnya terbayang jelas. Seperti ingin mengatakan sesuatu, entah apa. Mulutnya terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu yang tidak jelas aku dengar. Seperti ingin meminta pertolongan. Namun pertolongan dalam bentuk apa, itu belum jelas. Karenanya aku mendatangi rumah ibunya untuk mengajak bicara dan mengingatkan ucapan-ucapan apa yang pernah dikeluarkan ibunya semasa almarhum hidup, sehingga setelah meninggal itu masih diingat dan dikejar terus sebagai sebuah janji.
”Cobalah buatkan sedikit acara selametan, bu,” aku mengingatkan. ”Bagaimana menurut agamanya ibu. Sebab Deni datang tadi dan seperti berdiri di depan rumah, ingin mengatakan sesuatu.” Aku terus mengingatkan ibunya. Apalagi ketika Deni meninggal, ibunya tidak berada di tempat. Saat terjadi kecelakaan yang menimpa anaknya itu, ibunya sedang ngantar keluarganya berobat di Jakarta yang membutuhkan waktu beberapa hari. Aku ingat cerita ibunya bahwa Deni sempat telpon ibunya di jakarta sehari sebelum meninggal, dan minta dibelikan tas sekolah. Dan suaranya di telpon sungguh aneh dia dengar. Seolah-olah seperti bukan suara anaknya.
”Barangkali tas yang ibu janjikan itu masih diingat anak itu, sehingga saat maghrib-maghrib dia sering mendatangi dan duduk-duduk di depan pintu rumah saya.” Aku menambahkan. Memang sering aku lihat dia duduk-duduk dan menampakkan diri saat aku menyisir rambut sehabis mandi atau saat duduk-duduk sore hari sehabis memberi makan si Coki, pudel kesayanganku di halaman rumah. Dan ketika aku menunduk, dari arah belakang seperti ada sepasang mata kanak-kanak tengah memperhatikan gerak-gerikku. Sepasang mata yang nakal. Aku hafal betul siapa pemilik mata kanak-kanak itu. Ya, aku sangat hafal. Mata yang dulu sering datang ke rumah bercanda mesra bermain-main dengan anak-anakku. Dan dia sangat begitu akrab dengan anakku yang paling kecil. Usia mereka sama. Sama-sama satu kelas dan juga sama-sama bersaing dalam soal nilai pelajaran. Mata itu seperti masih bermain-main di belakangku.
”Ibu melihat jelas ?” ibunya bertanya.
Aku mengangguk. Aku tahu persis anak itu seperti ingin meminta sesuatu. Biasanya kalau seseorang yang sudah meninggal sering datang mencari kita apalagi sering mendatangi rumah kita, pasti ada sesuatu yang ingin dia katakan atau menagih apa yang pernah kita janjikan semasa hidupnya.
Ibunya tercenung. Seperti berusaha mengerti apa yang aku katakan. Entah dia mempercayai ucapanku atau tidak.
”Iya, tas itu......!!! tas itu...!! Deni pernah minta itu,” Ibunya seperti teringat sesuatu setengah kaget berteriak-teriak.
Aku terkejut.
Lagi-lagi bagai orang histeris ibunya berteriak-teriak, Seperti baru diingatkan akan sesuatu. Padahal aku sudah mengatakan perihal mengenai tas itu barusan.
Nampaknya ibu itu seperti orang bingung. Terlihat dari pancaran matanya, trus sikapnya sedikit aneh, sebentar-sebentar duduk. Tak berapa lama lagi berdiri.
Pagi-pagi sekali ibu itu sudah berdiri di depan pintu rumahku. Menenteng tas besar seperti akan melakukan perjalanan jauh.
”Mau kemana?”
”Saya pamitan bu. Mau belikan tas almarhum di Jakarta.” kata-katanya terdengar seperti orang yang kebingungan. Tatapannya kosong. Sekilas kulihat tatapannya seperti mata kanak-kanak itu.
”Lho?” Aku bergetar. Aku kaget, namun tak kuasa melawan kodrat. Aku tidak boleh memberi tahu sesuatu yang sebenarnya manusia belum mengetahui. Inderaku yang satu ini seperti telah memberikan sesuatu bentuk isyarat. Warisan indera leluhur yang selalu menunjukkan keajaiban yang tepat. Apa yang kurasa, itulah yang sering terjadi. Oh, Tuhan....untuk yang kali ini saja jangan sampai terjadi. Jangan! Karena ibu almarhum demikian akrab dalam persahabatan denganku. Jangan, Tuhan. Jangan terjadi itu lagi.
Aku merasa gemetar dan tak kuasa untuk menahan kepergiaannya.
Seminggu kemudian...dua minggu...tiga minggu..sebulan...dua bulan bahkan hingga berbulan-bulan jalannya waktu aku tak pernah bertanya tentang ibunya almarhum. Karena sejak bepergiannya, sepasang mata kanak-kanak yang sering mengawasiku sambil duduk-duduk di beranda rumah juga sudah tak pernah terlihat lagi.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Cerpen : DG. Kumarsana PING

”Ping, aku semakin sangsi padamu. Beribu hari lalu telah dimakan waktu. Gema suci kidung sinden terperangkap sepi..........,” demikian kali ini dia baca keras-keras memasuki kamarku. Aku terusik juga. Sudah kukatakan berulang-ulang, aku tidak mengerti sajak. Jangan bacakan itu lagi, tapi laki-laki itu tetap saja dengan tingkahnya.
”siapa kali ini Gus?” Sengaja aku memberikan perhatian, walau sesungguhnya aku tidak tertarik. Karena pernah apa yang dia bacakan sebagaimana kebiasaan-kebiasaan yang lalu dan aku tidak terlalu memberikan reaksi apa-apa terhadap tingkahnya itu, lama dia merajuk. Apa yang terjadi? Segala permintaanku selalu ditolak. Aku kali ini tidak mau ambil resiko. Aku harus memberikan perhatian, antusias, memuji bahkan kalau bisa langsung tepuk tangan di hadapannya.
Dan itu memang aku lakukan. Selain memberi perhatian yang dalam aku juga tepuk tangan sekalian menepuk punggungnya penuh rasa sayang. Ping? Entah siapa Ping kali ini yang dia maksud. Apakah Ping yang selama ini dia sebut-sebut saat sama-sama melakukan aktifitas ke gunung atau Ping saat work shop sewaktu kampusnya mengadakan ajang lomba memasak untuk persiapan masa depan sebelum akhirnya barangkali kita semua disarankan untuk membuka warung makan lesehan kalau-kalau putus kuliah karena kiriman uang dari kampung tidak datang sama sekali?
”Itu kalimat siapa, Gus, ” aku mengulang pertanyaan ketika dari tadi tidak ada jawaban sama sekali. Kulihat matanya bersinar nanar, sepertinya sangat senang ketemu aku, atau mungkin saja aku yang ge-er. Tapi anggap saja demikian karena aku terlampau merindukan kehadirannya.
”Itu sajak milik temanku, cukup lama ditulis. Sekitar tahun tujuh puluhan, tapi entah dimana sekarang apa masih hidup atau sudah mati. Dulu aku sering sama-sama dengannya, makan bersama, menemani jalan-jalan. Dia itu paling takut tidur sendiri, makanya aku diminta menemani dengan segelas bir, aku mau aja di suap hehehe..” Gustaman berceloteh panjang lebar, suaranya sama dengan sajak yang ia bacakan: memenuhi ruangan ini. Ruangan yang penuh sesak dengan diktat jadi semakin penuh sesak.
”Namun Rein, aku tidak tahu apa profesinya sekarang, apakah ia jadi dokter ataukah kuliah di kedokteran malah keluar jadi insinyur atau barangkali jadi kondektur...... aku tidak tahu” ia terlihat tercenung dengan ucapan sendiri
”Wah aku belum lahir, Gus tahun itu barangkali ayah dan ibuku lagi berpacaran.”
Memang begini barangkali kalau bersentuhan dengan seniman. Pacarku seorang seniman, waduh, tidak pernah aku bayangkan. Apa kata orangtuaku nanti di kampung? Jauh-jauh merantau menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi, dengan biaya kuliah yang mahal eh pulang-pulang malah mengajak seorang penyair. Entah kalau apa yang menjadi angan orangtuaku: Rein, kamu selesaikan studimu dengan baik, rintis masa depan dengan baik dan kalau ketemu jodoh ,dari keluarga yang baik-baik yang nanti akan mampu menghidupi keluarga, rumahtangga yang harmonis dengan cucuku yang manis-manis, pastilah demikian nasehat yang keluar. Tapi apa yang salah? Kupikir tidak ada keliru, pacarku seorang penyair atau insinyur atau dokter atau dosen, apa pentingnya status? Toh terkadang orang punya status sarjana banyak yang miskin, jadi pengemis birokrat bahkan jadi penipu ulung di pemerintahan dengan berlagak pilon memainkan angka-angka fiktif, berbakat jadi aktor yang pintar memainkan proyek-proyek masyarakat miskin dengan kantong-kantong ajaibnya.
Ah, terlalu jauh aku berpikir. Itu nanti saja. Ini juga belum pasti apakah aku benar-benar menyukai Gustaman atau hanya sekadar cinta monyet setelah lepas dari pertemuan lalu bubar atau hanya hubungan teman biasa. Atau apa sudah pasti ia menyukai aku? Aku juga tidak tahu pasti. Kutatap matanya yang bergerak-gerak jenaka. Ia memang humoris, banyak bahan bicara, banyak canda dan selalu menghibur di saat-saat aku kesepian di tanah rantau,saat-saat aku terbawa hanyut kerinduanku akan kampung halaman, kerinduanku akan orang tua dan orang-orang yang kucintai di rumah.
”Ping, dimana kamu Ping. Masih hidupkah kamu?” terpecah lamunanku. Lagi lagi Gus mendeklamasikan kenangannya akan Ping.
”Hush! Jangan keras-keras Gus” Aku menasihati pelan.
Suara music di ruangan yang semula keras memekakkan telinga aku buat sedikit rendah. Volume tape aku kecilkan. Pada lagu tikus-tikus kantor suara emas Iwan fals, Gustaman sengaja malah lebih membesarkan volumenya. Dia memang menyukai lagu-lagu ini. Sebuah lagu pemberontakan terhadap keadaan pemerintahan saat ini. Aku meringis. Seandainya dia jadi legislatif entah demokrasi mirip apa yang akan terjadi.Atau jangan-jangan malah dia biang tikusnya, ah ndak tahulah.
Di pojok kamar kulihat guntingan koran lapuk. Gustaman memang sering aneh. Suka memberikan spesialisasi terhadap suatu peristiwa politik. Contohnya berita yang sengaja dia simpan menyangkut di daerah dimana dia tinggal saat ini. Tertulis besar-besar : ”DUGAAN KORUPSI BANSOS, SEKDA LOBAR JADI TERSANGKA”. Masih saja Gustaman suka berlaku yang aneh-aneh. Entah apa yang dia nikmati dari guntingan koran daerah yang rencananya akan dia kliping. Entah kapan dikerjakan. Buktinya guntingan koran tentang seorang bupati di daerahnya yang korupsi milyaran saat menganggap ruang sidang sebagai sebuah WC dengan berprilaku lupa sempat membuang air kencing di ruangan tersebut. Terkadang sering dibuat bingung manakala pejabat tertangkap basah dan tak pernah melepas kesan arogansinya dalam sebuah pengadilan. Memang pejabat di daerahnya terbilang lihai memainkan angka milaran rupiah buat mengelabui rakyatnya yang dianggap bodoh. Saking juga tidak mau dianggap bodoh, Gustaman sampai saat ini masih juga menyimpan guntingan berita di koran usang yang termakan oleh waktu.
Namun kalaulah Gustaman cerita tentang Ping sobatnya yang lebih ekstrem, malah aku lebih terpana lagi. Gustaman saja kayak begini, bagaimana kalau berjumpa Ping. Dan aku berpikir perpaduan diantara mereka berdua saat berhalusinasi dengan sebuah peristiwa. DAN PING SEKARANG DUDUK DI KURSI PESAKITAN SEBUAH BANGUNAN KEJAKSAAN TINGGI NEGERI YANG SURAM : sambil mengipas-ngipas lehernya berkeringat dengan lembaran uang, setebal nuraninya yang sakti.

Rabu, 06 Oktober 2010

C E R M I N

Kalau bukan karena wajah jelek ini, Warni tak mau lama-lama menatap cermin yang tergantung di kamar. Sangat jelek. Coba bayangkan, mukanya lobang-lobang bekas jerawat. Bahkan ada yang membekas hingga membisul saking tangannya tidak bisa diam memencet-mencet. Hidungnya pesek, belum lagi mata yang tidak mau searah lirikannya. Pokoknya mata ini tidak pernah mau sinkron untuk dipakai melirik. Apalagi ketika mama pernah menyarankannya untuk ikut serta kursus menari bersama kakak-kakaknya yang perempuan, apakah tidak nanti orang akan menertawakannya? Belum lagi kesepuluh jari tangan Warni pendek-pendek dan bengkok jelek. Pokoknya jelek. Tidak panjang lentik seperti kebanyakan penari. Ah, tidak mungkin semua itu dilakukan. Dan coba lihat dengan postur tubuh yang pendek mana gemuk lagi. Bah! Bagaimana mungkin jadi seorang penari sementara melirik saja membutuhkan konsentrasi untuk dapat sinkron antara bola mata kanan dan kiri. ”jadi pemain sinetron aja War, lagi dibutuhkan pemeran dengan wajah kayak kamu,” temannya pernah mengolok. Warni hanya tersenyum pedih. Ingin dicolok mata temannya yang mengolok. Memangnya mau apa punya wajah jelek. Kalau di kamar akan dia tumpahkan semuanya lewat tangisan. Coba lihat kalau Warni tengah tersenyum, ih, sangat jelek sekali. Apa lagi sampai harus menangis dengan wajah sedih. Warni jadi risi dengan gerak-geriknya sendiri. Dia tercenung dan mulai mengumpat-umpat, jengkel dengan keadaan yang sebenarnya. Benar-benar memuakkan. Sangat menjengkelkan. Dan sebaiknya memang dia harus mengurangi tangisannya yang tidak perlu itu. Akan semakin jelek kelihatan.
Dia pikir dengan memiliki wajah yang sangat jelek ini, sekalipun berhias dengan bedak yang harganya sangat mahal dengan mempergunakan produk luar negeri sekalipun tidak akan membantu dan belum tentu dapat merubah dirinya seanggun dan secantik putri Cinderella. Itu hanya ada dalam komik. Ataupun dengan mandi air susu dan luluran dengan harum kembang cempaka tidak akan membuat dirinya secantik dewi Subadra dalam cerita pewayangan. Sesuatu hal yang sangat mustahil. Subadra terlalu sempurna digambarkan pengarangnya. Itu membuatnya jadi sangat membenci hasil karya-karyanya tersebut. Kenapa sih tidak diceritakan tentang gadis yang jelek rupa untuk dijadikan tokoh dalam cerita? Terkesan terlalu membeda-bedakan rupa obyek penciptaannya. Pasti kalau yang rupanya jelek akan digambarkan sebagai orang yang memiliki jiwa dan pikiran jelek. Sifatnyapun biasanya buruk. Jiwa yang timpang. Labil. Warni tidak setuju dengan cerita-cerita demikian. Ia jadi benci tentang kisah Subadra. Ingin hatinya mengorek habis wajahnya yang digambarkan pengarang sebagai seorang wanita yang memiliki kecantikan yang maha sempurna. Warni benci! Kalau bisa ia ingin membunuh Subadra. Akan dipotong-potong lehernya dan akan dicungkil matanya yang dikatakan sangat indah. Mata Subadra akan ditaruh di matanya biar indah. Tubuhnya yang sintal akan ditaruh di tubuhnya. Rambutnya yang hitam terurai akan ditaruh di kepalanya. Warni pasti cantik. Pasti akan berubah jadi bidadari. Warni pasti mirip dewi Subadra. Biar tidak hanya Subadra saja yang sendirian cantik di dunia ini. Warnipun ingin cantik. Dan dialah tokoh cantik dalam dunia pewayangan itu. Dan kalau sudah demikian Warni tak membutuhkan cermin lagi untuk mematut-matutkan wajahnya yang sudah memang benar-benar cantik. Karena pemuda-pemuda yang naksir padanya akan menjadi sebuah cermin dalam bentuk pujian-pujian yang melambungkan. Dan mereka akan terpikat padanya. Mereka akan terpukau dan akan terkena panah asmara.
”Di dunia ini tidak ada yang abadi, anakku. Ada baik ada buruk. Ada cantik rupa ada buruk rupa. Kamu tidak usah menyesali apa yang sudah kamu miliki. Itu hanya akan memperburuk keadaan,” ayahnya menasihati dengan memberikan dorongan. Kerongkongannya terasa tercekat dan manakala dia bertemu dengan Rani, teman sekelasnya yang cantik atau dengan Yuni yang manis, tiba-tiba dia menjadi merasa sangat rendah diri. Begitu saja air mata ini jatuh bercucuran. Ah, kecengengan orang bodoh! Kenapa sih dilahirkan dengan memiliki wajah yang sangat jelek? Dan kalaupun dia mengenakan gaun apapun akan selalu tidak pantas terlihat. Sekalipun gaun yang dikenakan itu terbuat dari bahan yang mahal.
Coba lihat mbak Yanti kalau mengenakan pakaian. Apapun yang dikenakan akan selalu sesuai dengan badannya. Dan itu akan lebih memperlihatkan penampilannya yang cantik. Apalagi mbak Yanti memang benar-benar cantik dan anggun.
”Apapun pakaian yang dikenakan Yanti selalu saja cocok dengan penampilannya dan malah terlihat semakin cantik,” pernah suatu ketika mama mengomentari pakaian yang dikenakan kakaknya.
Warni ngiris mendengar pernyataan ibunya itu. Pujian itu bukan untuk dirinya. Bukan ukuran baginya untuk berpenampilan sepadan dengan Yanti. Tak terasa perkataan yang keluar itu membuat perbandingan pada anak-anaknya. Warni sadar dirinya memang benar-benar jelek. Tapi ibu, tidak seharusnya mengeluarkan perkataan seperti itu. Ia jadi curiga, jangan-jangan Warni bukan anak kandungnya. Coba lihat mas maman wajahnya cakep. Hidungnya mancung. Tubuhnya tinggi tegap. Mirip ayah. Mbak neni memiliki hidung yang bangir dengan mata yang indah, walau tubuhnya tidak setinggi mas Maman. Sementara mbak Yanti sudah cantik bentuk badannya juga bagus. Kenapa diantara saudara-saudaranya hanya dia yang dilahirkan memiliki tubuh paling jelek? Mana tubuhnya pendek dan gemuk. Uh, muak dia di depan cermin kalau melihat wajah dan badannya sendiri yang maha jelek.
Praaaaaang.......!!!?
Seisi rumah kaget. Warni membanting cermin di kamar tersinggung ketika mama mengatakan : ” kamu itu sebenarnya cantik tapi...........”
Warni tahu mama hanya basa-basi dengan mengatakan dirinya cantik. Dia tahu mama sesungguhnya hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya hidungnya pesek, wajahnya bolong-bolong penuh jerawat yang sangat menjijikan. Warni jengkel sekali mendengar perkataan mama seperti itu.
”Ada apa?”
Seperti biasa semua saudara-saudaranya melongok ke kamar kemudian berlalu seakan-akan sudah mendapat jawab dari semua peristiwa itu. Sudah terlalu sering terjadi. Ayah hanya batuk-batuk kecil, mungkin sekadar menghilangkan sesak di dada. Dan Warni tahu, esok mama pasti akan membelikan cermin yang sama. Dan cermin itu diterimanya dengan setengah hati, sedikit dongkol walau sesungguhnya sangat berharap. Berharap untuk kembali melihat wajahnya yang jelek. Mematut-matut serta untuk menilai pribadinya lewat bayangan cermin. Dan setelahnya dia tahu dengan perasaan jengkel cermin itu akan kembali mengalami nasib yang sama sebagaimana cermin-cermin sebelumnya. Pecah berantakan. Tidak! Kali ini tidak terjadi demikian. Ia melihat bayangan aneh menyelimuti wajahnya lewat pantulan cermin itu. Ia merasa dirinya bukan Warni yang ia kenal. Bukan Yanti kakaknya yang cantik atau Neni. Bukan mas Maman yang gagah. Ia adalah dirinya. Warni bingung. Ditatapnya cermin itu lekat-lekat. Kemudian ditatap satu demi satu fotonya yang jelek di atas meja belajar. Ditatapnya foto-foto dirinya yang tergantung di dinding kamar. Pandangannya seperti menerawang jauh. Bimbang. Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Warni tak percaya. Dipandang lekat-lekat wajahnya lewat pantulan cermin. Tidak! Ini benar-benar aneh. Ini sebuah kenyataan. Sebagaimana kenyataan-kenyataan lain melihat wajah kakaknya Yanti atau mbak Neni. Sebagaimana melihat mas Maman yang gagah dalam pesona pantulan wajah ayahnya. Warni kian terlelap dalam ketakpercayaan penuh. Dalam lelapnya ketakpercayaan itu Warni kian bersemangat kembali untuk meyakinkan bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan keluarga itu. Bahwa ia benar-benar anak kandung dari ibunya yang melahirkan. Anak kandung dari ayahnya. Saudara kandung dari Yanti, mbak Neni maupun mas Maman.
”Eh, War, kemana aja, kok ngilang?” Rani mencuwil pundaknya.
”Memangnya aku Putri Nirmala apa bisa menghilang?” Warni menyambut. Tumben temannya ramah tidak biasanya.
”Wah, bisa bercanda sekarang.” yang lain menimpali.
”Memang selama ini aku putri malu?” Warni kian membuat temannya pada cekikikan.
”Wah...wah... kian kenes aja.” Wiwin ikut-ikutan komentar.
”Memang ada apa nanya-nanya?” Sahut Warni dengan gerakan bibir terkesan ketus.
”Itu lho mas Pram nanya kamu terus. Memangnya ada janji apa?”
Bagai tersengat lebah Warni spontan diam seribu bahasa. Mulanya lincah akhirnya memang benar-benar jadi putri malu yang sebenarnya. Pram? Ada apa? Kenapa? Bukankah kehadirannya sering menjadi bahan olok-olok temannya? Tapi apakah secara diam-diam dia ada hasrat terhadap dirinya? Ah, Warni tidak percaya. Jangan-jangan ini hanya olok-olokannya Rani karena tidak ada sasaran lain untuk dijadikan bulan-bulannya selama ini. Dasar memang kalau masuk dalam kelompoknya Rani selalu sehati dengan kelompok mas Pram dalam menggoda orang.
”He...he, dikasi tahu malah ngelamun.?” Warni terkejut. Buyar lamunannya tentang pemuda itu. Warni hanya melengos lalu pergi menuju ruang kelas. Kelas di samping bersebelahan dengan Pram, kakak kelasnya. Di pojokan parkir kendaraan anak-anak nampak gulungan asap rokok mengepul. Beginilah kalau guru belum menentukan jadwal pelajaran. Barangkali juga gurunya lagi sibuk cari obyekan buat tambah-tambahan. Anak-anak lebih menentukan sikap dengan gaya dewasanya. Warni menyapu pandang diantaranya sambil berharap-harap cemas. ”Mudahan kamu tidak ikut-ikutan latah,” bisik hatinya. Dan ada rasa senang ketika seseorang yang dia bayangkan tidak ada diantara kepulan asap rokok itu. Itu memang tidak dia harapkan. Kalau dia akan menjadi kekasihku pasti aku tidak menyukai kebiasaannya yang buruk itu. Kebiasaan yang akan terbawa nanti ke anak-anak. Ih, kok sudah jauh sekali lamunannya tentang seorang anak? Warni jadi malu dan senyum-senyum sendiri.
”Nah....tuh udah mulai senyum-senyum sendiri. Pasti lagi jatuh cinta ya?” temannya menggoda.
Warni jadi tersipu-sipu. Lagi-lagi ketangkap basah kalau sedang melamun.
Sekarang sejak tahu ada sejumput harapan dalam hidupnya, Warni jadi suka tersenyum. Warni jadi suka melamun sendirian di kamar. Dan sejak itu pula hampir tak terdengar lagi suara barang yang di banting di rumah. Keluarganyalah sekarang yang jadi merasa aneh dengan keadaan itu. Diam-diam mereka semua mulai menyelidiki perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Warni. Ada apakah gerangan? Apa yang terjadi pada Warni sehingga dia sering melamun sendirian di kamar. Senyum-senyum sendirian. Apakah Warni telah gila sehingga seisi keluarga dibuat was-was. Apakah yang menimpa salah satu keluarga mereka. Apakah Warni sedang jatuh hati? Jatuh hati pada siapa? Pangeran manakah yang mau menentukan pilihan dan jatuh hati pada Warni. Siapakah sang pangeran itu? Mereka bertanya-tanya.
Diliputi tanda tanya besar