Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Selasa, 04 Oktober 2011

BAGAIMANA KALAU SEORANG GURU KEDAPATAN MENYIMPAN VIDEO PORNO DI PONSELNYA??????

Pernyataan tegas dilontarkan ketua komisi II DPRD kota Mataram H Wildan, SH. Ia menyarankan kpd siswi yg dipecat dari sekolahnya utk melaporkan kepsek MAN I Mataram ke polisi jika tidak diterima kembali bersekolah disana sampai tibanya waktu semesteran.

Hal ini diungkapkan waktu menjawab suara NTB di ruang kerjanya, kamis (19/11) kemarin. Hal tsb diungkapkan lantaran siswi tersebut tak kunjung bersekolah lagi di MAN I sesuai kesepakatan antara komisi II DPRD kota Mataram, Depag kota Matatram dan Kepsek MAN I Mataram bbrp wkt lalu
Depag dan kepsek mengingkari kesepakatan itu.

Kesepakatan waktu itu kalaupun terjadi resiko terburuk: siswi ybs harus diterima kembali di MAN I Mataram

Ada upaya menghalang-halangi siswi ybs untuk mengeyam pendidikan. Ini namanya pelanggaran hak anak yang dapat dijerat pasal dalam undang-undang perlindungan anak.

Komisi II DPRD boleh geram, kepsek boleh marah dan bahkan depag boleh berupaya melakukan tindakan prosedural, namun undang-undang perlindungan anak masih dianggap berlakukah?

Bagaimana kalau seandainya kedapatan sang pendidik sendiri menyimpan video porno apakah akan diekspose atau hanya didiamkan saja?

3 orang siswi yang lagi naas kedapatan menyimpan video porno pada ponselnya solusinya: satu siswi terpaksa dinikahkan pada usia belia yang belum waktunya berumah tangga, satu siswi pindah sekolah dan satunya lagi bertahan unutk tetap dapat mengenyam pendidikan di MAN I yang hingga kini belum diterima.

Kita kembalikan fungsi sekolah yang bukan sebagai mediator untuk menghukum anak didik, tapi untuk membina generasi muda tunas bangsa. Sungguh ironis untuk sebuah kesalahan tanpa melakukan upaya reprimand yang bersifat internal. Apa solusi bagi generasi kita ini? Apakah sebuah kegagalan sekolah ataukah kegagalan tenaga pendidik dalam membina anak-anak didiknya? Ataukah memang dasarnya siswi itu sendiri memiliki naluri ingin tahu yang besar untuk sesuatu yang bertentangan dengan moral, yang pada dasarnya belum waktunya harus mengetahui hal-hal di luar batas norma..


Catatan:
Cuplikan berita suara ntb jumat 20 nopember 09

Prosa liris: ROMANSA SAIDI kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang) titian kembir

Romansa Saidi
Prosa liris
DG KUMARSANA





PENERBIT
PUSTAKA EKSPRESI
Jl. Diwang Dangin No. 54
Br. Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan
Bali. Telp. (0361) 7849103
E-mail : Pustaka_ekspresi@yahoo.com

Editor : Mohammad Ismail
sampul
Lukisan : Mohammad Ismail
Tata letak : I Made Sugianto
cetakan Pertama : nopember 2011
Percetakan : Ekspresi Printing
ISBN : 000-000-00000-0-0
2. keajaiban asmara

Sahatun muda adalah hingar kecipak asmara embun pagi, yang senantiasa direnungkan setiap lelaki. Kemudaan seorang dara jelita, putri remaja yang ranum mempesona. Karena kejelitaan itu, adalah putik yang oleh setiap pejantan ingin memetik harumnya. Harum kembang desa yang tidak sembarang orang dapat memetiknya begitu saja, karena setiap yang mampu dipetik adalah kupu-kupu terbenam dalam sayap-sayap basah. Membenamkan jiwa- jiwa hangat, melantunkan asmara membahana, mengalir melahirkan cinta.
Karena setiap pejantan senantiasa memimpikan keinginannya. Keinginan sang dara jelita yang senantiasa bungkam seribu bahasa memaparkan ungkapan yang diberikan pada para pengagumnya.
Dari sekian banyak pemuda yang menginginkan, hanya Saidi yang mampu menguasai pikirannya. Seolah persis dan sangat memahami setiap kegemarannya yang sengaja tak mau diungkap. Dan sang dukun menggambarkannya dalam bentuk kupu-kupu. Salah satu keajaiban asmara yang singgah di hatinya.
terbang
terbanglah dia
dan Saidi menjadi sarangnya.
melemak dalam kepompong,
yang mampu menguasai jiwanya, hanyalah sarangnya.
awal mula ia belajar mengepakkan sayapnya,
untuk terbang selanjutnya
Sesungguhnya yang terjadi pada diri Sahatun jauh bertolak belakang dari keinginan-keinginannya. Hanya saja dia tidak mengetahui, entah apa penyebabnya dia menjadi bergitu tertarik. Menarik pada kedalaman rasa yang luar biasa untuk tertarik. Dia menjadi begitu tergila-gila dengan lelaki yang dianggapnya tak memiliki postur yang ideal, pendek dan gagap mengemukakan angan dan keinginan. Itu yang terlintas dalam pikirannya pada waktu itu.
Masa-masa pada saat dia belum mengerti secara dalam memahami hati laki-laki yang sebenarnya. Sorot mata menyimpan diam. Tidak berkelana dalam setiap lirikan, Namun melengos dalam menerima tatapan. Hanya sayang seribu kali sayang, telah ada yang mengemas hatinya. Tanpa dia minta.
Sahatun muda sempat kemayu dalam setiap kerlingan mata jejaka. Adalah untaian rasa mengelopak menanamkan berbagai rasa bagi pemuda-pemuda desa yang turut andil membagi-bagikan perhatian buatnya.
Adalah Saidi, lelaki kecil berkemauan besar. Suka gonta -ganti pasangan dan matanya tak bisa lepas menatap setiap wanita. Sering berkhayal telanjang dengan pikiran-pikirannya yang telanjang pula. Menatap lewat mata telanjang dengan dunianya yang telanjang bulat. Bulat dunia yang bugil. Khayalan yang terwujud dalam kenyataan. Bukan hasrat terpendam.
Adalah Saidi seorang guru yang keras, sekali waktu berubah menjadi tanah lempung di hadapan wanita. Matanya melukiskan wanita-wanita penari telanjang yang suka menelanjangi hasratnya. Matanya memancar lenguh kecial menakar napsu. Baginya wanita telanjang adalah kodrat; maka setiap wanita yang dia bidik adalah kodratnya untuk menelanjangi hasrat. Dan pergumulan asmaranya adalah aksara yang dibaca dalam mantra nan kental.
Matanya adalah mata berkencan dalam aroma asmara paska akil baliq. Terlalu serakah menikahi pancaroba. Dan akil baliq adalah bagian dari musim yang membuatnya jadi ranum dalam usia.
Matanya adalah keredupan nyala ambisi dalam mengarungi gurisan masa depan, sebagaimana masa depan yang seharusnya dimiliki orang-orang kebanyakan. Hanya sepintas memandang, matanya ibarat bara dalam sekam yang ditutup-tutupi dalam kepiawaian berdialog. Maka berdialoglah dia, penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan tanda tanya dibuat-buat. Banyak bohongnya. Kalau kita tahu. Karena memang benar-benar bohong. Seolah segala sesuatu adalah hal-hal yang sangat serius untuk dihadapi.
Dia merasa masa depannya adalah sama milik setiap orang. Dia merupakan sebagian kecil dari sebagian besar masa depan orang-orang. Dan sorot matanya bernyawa dalam keinginan diam-diam. Sorot mata yang suatu saat akan belajar menenung. Segala sesuatu yang mewujudkan renungan. Ambisi yang diam-diam. Keinginan pelan-pelan yang selalu datang menggoda. Ambisi dalam menakar kesukaran hidup yang dihadapi saat itu.

Senin, 03 Oktober 2011

AKU BUKAN PELACUR (6)

“Pernah melakukan ini sebelumnya?” lelaki itu menatap.
Wina seperti merasa bego, teringat kejadian yang menimpa dirinya sewaktu menjalankan tugas sebagai tourlady.
“Wina…” lagi-lagi terdengar suara laki-laki itu.
“Hmmmm iya pak! Pernah dipaksa, tapi nggak usah ingetin itu lagi ah! Wina benci. Wina muak dengan kejadian itu. Kejadian yang benar-benar tidak Wina inginkan seperti sekarang ini juga, tapi kenapa ya harus begini jalan hidup Wina” Wina mendesah pelan menjatuhkan segala duka lewat airmatanya.
“Hmm..ya..ya…”
“Wina benci kejadian itu.”
Hening sesaat.
“Wina”
“Iya pak?”
“Kamu…..kamu, aduuuhhhh, Wina kamu gadis baik-baik Win. Ternyata kamu gadis baik-baik. Menyesal bapak melakukan ini. Bapak pikir kamu perempuan yang sudah biasa dibawa” pak Wijaya berkata kaget melihat kenyataan ini. Mata gadis itu dilihatnya polos menatap. Tidak menyembunyikan kebohongan.
“Oh, Tuhan, bodohnya diriku,” Wina mengumpat habis dirinya. Tapi semuanya sudah terjadi, mau bilang apa? Lingkaran tangan lelaki itu kian membuat tubuhnya terguncang, tak mampu menyudahi isaknya.

Prosa liris: ROMANSA SAIDI kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang) titian kembir

Kenikmatan siapakah yang engkau bagi-bagikan
kepada setiap wanita kau katakan menjajakan asmara
mahkota siapakah engkau sibak dengan paksa
sehingga wanita hilang rasa
kepekaanmu itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat dunia ini
menangis
gadis-gadis perawan terpaksa lepas mahkotanya
dan secara diam-diam engkau curi
lewat bayangan bulan separuh negeri senggeger yang kau tikam dalam tanah
kepekaan itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat gadis gadis merintih
sebelum waktunya
dan kau tertawa
lewat malam yang laknat
(dari sajak negeri senggeger 4)














1. Titian Kembir

Titian Kembir, sebuah desa yang masih perawan dalam nuansa pedesaan yang alami. Aksen khas alami pedesaan, ketika melihat anak-anak yang asyik bertelanjang dada berlarian di pinggir jalan tak beraspal. Kadang aksi mereka di tengah jalan seolah ingin menguasai ruas jalan daerahnya, kendati masih mempedulikan suara klakson truk pengangkut pasir yang melintas. Kadangkala pura-pura tak mendengar. Dan kalau terpaksa berbenturan, maka terbaliklah bak pengangkut pasir itu, seketika asap hitam akan membubung tinggi. Yang mengaku pemilik desa atau sebagian besar yang ikut-ikutan, lebih memperparah dalam percikan api, membakar suasana. Desa yang sewaktu-waktu menunjukkan kesombongannya. Anak-anak muda yang mendadak beringas. Truk yang tiba tiba bisa nahas, maka tahu dirilah sang sopir untuk menghindar jauh-jauh. Bila perlu untuk tidak berbenturan.
Adalah Sahatun, salah seorang warga Titian Kembir yang demikian memikat. Wanita yang tercerai berai dalam angan tak sampai, bersuamikan Saidi, lelaki yang tiba-tiba terbuka melampaui angan. Sama-sama terhempas dalam badai. Sama-sama berkarier. Sama-sama punya harga diri. Dan sama-sama ingin punya masa depan yang indah. Punya rasa yang berbeda.
Pernah saling mencintai, bahkan mungkin diam-diam masih ada rasa cinta dan kasih sayang, Ketika masalah memisahkan mereka. Ketika pertengkaran melibas mereka. Ketika badai rumah tangga mulai menghantam. Ketika berbagai sangkaan praduga menguliti masing-masing pikiran. Ketika rasa curiga membuahkan tudingan-tudingan tak mampu membendung berbagai tuduhan-tuduhan. Ketika sama-sama saling mulai melecehkan cinta kasih yang semula dibangun dari serat-serat burung kecial ?
Entah! Itu kata mereka, manakala terbakar emosi. Kenapa bisa terbakar emosi? Akankah serat-serat kecial telah menuai jadi minyak-minyak yang ditorehkan dalam beberapa kalimat sakti? Minyaknya dioleskan di jidat, dioleskan di sepasang alis mata, kemudian diucapkanlah beberapa patah kata, maka emosi jadi redam. Kemarahan dan segala bentuk kedongkolan akan menguap begitu saja, lepas terbawa angin. Itu kata-kata yang dilontarkan konon “orang pintar”. Orang pintar yang khusyuk bertapa di lereng-lereng gunung yang angker. Konon yang menjadi kenyataan, begitu bisa membuktikan keampuhan minyak yang diambil dari burung kecial yang terjaring di sudut pohon.
Namanya kecial kuning jaring sutera. Jalan untuk menuju ke arah lereng pegunungan itupun luar biasa susahnya untuk dicapai. Begitulah minyak kecial dicari. Saidi berubah jadi kecial dan terbang di pelupuk matanya yang mempesona. Minyaknya menyengat setiap hati perempuan. Jadilah keinginan yang mudah disampaikan. Serta merta kecial itu berubah wujud menjelma jadi Saidi, membentangkan asmara denyarnya, menghujam melalui busur-busur telak menikam urat nadi.
Hujan-hujan air birahi membasahi kelopaknya. Bumi jadi bergetar dalam sentuhan maksiat. Desir angin bersuara bak rintihan melupakan suara sesungguhnya sebagai angin pada getar daun pepohonan. Setan-setan yang bersetubuh dengan manusia. Menjadi tumbal. Mencari mangsa. Memupuk korban. Lindap pada dada bergetar, manakala salah sasaran: maka menjadi mengong-lah dia, gila-lah dia, sinting-lah dia, histeris-lah dia.
Kitab suci seolah menyembunyikan mantra yang sebenarnya, tak memberikan jawaban pada jiwa yang pangling. Semakin salah sasaran, maka menarilah dia dalam tarian bugil, di bawah purnama yang rakus memamah tubuhnya lepas. Bumi kian bergetar dalam sentuhan birahi dahsyat. Sedahsyat sekujur tubuhnya meronta-ronta menagih pelampiasan. Dan menjerit-jerit minta kawin.
Dengan berbekal airmata maka dinikahkan mereka. Namun manakala pengaruhnya mulai berkurang, akan tumbuh lagi emosi. Emosi-emosi dalam bentuk lain. Dan minyak itu sendiri harus dimantrai dalam berbagai keinginan. Kemana ia suka.
Jika pertengkaran adalah dendang musik rock menyenangkan. Maka para setan yang diungkap dalam minyak-minyak kecial mulai menari-nari. Mulai mencari korban. Irama-irama mulai berdendang antara bleganjur berbaur kecimol plus. Dalam warna langit nan kelam. Berubah mendung berkepanjangan. Wajah dengan sorot mata berapi-api perlahan tapi pasti mulai menghancurkan logika.

MELINTAS SANUR I

Sepanjang jalan jalan berbenah
kesepianku selalu menggigil tanpa gagasan
dua ayam baku hantam mengepak senja
di hamburan pasir menasik tulang nelayan
ringkih
sosok wajah seberang gelombang
masih mengartikan matahari untuk tumbal
timbal balik cuaca yang hilang pergi di negeri
tersepuh kapital
lugas ia, betapa lugasnya menghitung hitung
napas bau alkohol menjampi matanya dalam
hitungan dolar

Dalam tarian laut, ujung kotaku
mulai disimpan nyanyian asing
dance dan kecak salingsilang
malam bergeming purnama
langit berselimut bintang
tercecer memanah lautan mengail bayangnya
keemasan
: tiba tiba lupa tempatku berpijak

denpasar, mei 1986

Parade karya sajak sajak dari bandung KURNIA EFFENDI : SITU PATENGGANG

Pada hari-hari mendung Tuhan rajin
menulis surat untuk kekasih-Nya di bumi
orang-orang sabar
dicelupkan-Nya pena bianglala yang
bercahaya ke dalam tinta hijau
berkali-kali. Geletarnya menyelesaikan udara
rapi mengarsir air Situ Patenggang

Ketika matahari lepas dari tangkainya
Tuhan membiarkan seluruh isi langit
juga bukit-bukit
juga batuan dan kembang rumput
mengaca di atas kemilau Situ Patenggang
mangkuk tinta-Nya
131085 – 09.42

(dari parade karya majalah Hai no.16x edisi 22-28 april 1986)

Kamis, 29 September 2011

NEGERI SENGGEGER (1)

Di negeri ini orang orang berkumpul merapal angin
daun daun tak bergerak oleh derai sepoi gadis lugu
orang-orang memahami dosa bahwa kerling godaan sesaat mampu membunuh sepi
membunuh angan-angan yang dijanjikan gemerlap cahaya kota yang konon terlihat benderang dari sudut desa yang pengap dalam tanda tanda
disini aku akan berjalan tanpa kenangan, mampir kemana maunya siapa tahu jumpa hati yang tertinggal sekadar untuk mampir di salah satu bilik hatiku yang masih melompong
tak kubuat kau dengan kata-kata yang selalu dapat menanggalkan mimpimu hingga lupa waktu sampai setiap saat terlena untuk menyebut perjumpaan kita
karena ketika hatimu telah penuh terungkap masih kau sisakan buatku
selama engkau masih menginginkan

di negeri ini senantiasa aku belajar menyihir hati setiap wanita yang melintas
dalam dosa yang lain, dalam tubuh yang berbeda, dengan napsu yang sama
hingga daun menghentikan geraknya pada arah angin yang berbeda pula