Pak Wijaya mengangguk. Ada bening bola mata Wina yang semula polos kini telah bersimbah dengan bulir bulir kedewasaan yang seketika meloncat dari korneanya. Kedewasaan yang spontan di luar dugaan. Dipaksa untuk menjadi dewasa dalam sehari. Kedewasaan yang ditandai dengan runtuhnya airmata duka. Airmata bencana seorang gadis yang telah kehilangan kegadisannya.
“Beruntung, hmm iya beruntung, karena apa yang menjadi keinginan-keinginanmu segalanya dapat dengan mudah terpenuhi. Semau kamu menginginkannya. Tidak seperti kawan-kawan gadis lain di FKPPI. Kamulah kembangnya organisasi ini. Maka dukunganmu sangat bapak harapkan.”
“Termasuk dengan kejadian yang telah bapak lakukan pada saya? Itukah dukungan yang bapak maksud?” Wina bertanya, tatapan polos penuh tanda tanya yang benar-benar di luar dugaan semula. Sebuah peristiwa yang sangat memalukan. Wina tak pernah menduga akan terjadi suatu peristiwa yang sangat memalukan menimpa dirinya. Peristiwa yang sangat merendahkan martabatnya.
“Kamu menyesal?”
Menyesal? Setelah semuanya terjadi. Menyesalkah dia? Namun apa yang telah diberikan bapak ini, apakah sepadan dengan permintaannya. Toh segalanya telah terjadi. Apa yang harus disesalkan lagi.
Wina diam.
“Iya, kalau kejadian tadi memang bapak benar-benar menginginkan kamu. Bapak menikmati itu semua dan berterimakasih atas apa yang telah kamu berikan pada bapak. Bapak mengerti apa keinginanmu sebagai seorang gadis, semuanya itu akan bapak penuhi. Percayalah, Wina. Sekalipun nanti kamu berada di suatu tempat yang sangat jauh, bapak tetap akan mencarimu. Percayalah Win.”(nyambung)
Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Oktober 2011
Kamis, 06 Oktober 2011
Novelet : AKU BUKAN PELACUR (8)
Dan pada rangkaian acara safari, dihadapan para pendukung partai : Wina turut ambil bagian dengan meliuk-liukan badan di panggung ikut berjoged berbaur diantara para artis ibukota lainnya. Ya, mirip artis-lah untuk ikut nebeng numpang beken. Namun diantara mereka semua ternyata Wina yang terlihat paling menonjol. Wina memang memiliki tubuh yang sangat bagus. Indah dipandang. Siapapun akan suka melihat senyumnya. Tanpa dia sadari pak Wijaya-pun diam-diam memperhatikan dia secara terus menerus. Sungguh suatu pemandangan yang menyegarkan. Wina tahu kalau dirinya menjadi pusat perhatian lelaki itu. Apalagi tubuhnya memang mampu menyulap laki-laki jadi linglung.
Pada sesi acara lain dia dan beberapa teman-teman sesama wanita di organisasi harus berdandan yang rapi, memperkenalkan gaun khas daerah hanya untuk berdiri berjejer di depan pintu sebagai penerima tamu undangan. Itu sudah bagian dari kegiatan. Dalam bersijajar diantara teman-teman gadis lainnya, tetap dia yang paling menonjol. Mudah dikenal dari gerak-geriknya yang santun. Beberapa pejabat terkadang mencuri-curi pandang. Temannya yang jahil malah diam-diam ambil close-up wajahnya. Ada beberapa pejabat yang iseng nanya. Beberapa yang diam-diam mengetahui sesuatu membisikan. Lalu memandang pak Wijaya yang berdiri di kejauhan. Dan mereka berhenti menggoda Wina sambil menjaga sikap. Segan mengambil kesimpulan. Ketakutan dalam ketahuan. Ketahuan kalau ternyata diam diam ada yang memiliki.
Ah, Wina termangu-mangu tak berdaya. Ketakberdayaan seorang wanita yang tidak memiliki hak untuk memilih. Tidak menentukan hak hidupnya. Kalaupun lebih dihadapkan pada persoalan emosional dan ketegangan bathin, maka juga makin bermuatan persoalan-persoalan KDRT nantinya yang jelas-jelas menjerumuskan kaumnya sendiri. Ah..!! Keberuntungan apa lagi selanjutnya yang menghadang di depan mata? Wina menatap mata lelaki itu. Matanya berusaha mencari. Kalau hanya berduaan dengan lelaki di sebuah kamar hotel dan berakhir di atas tempat tidur, bukan keberuntungan namanya. Bukan! Ini namanya bencana. Ya, lebih tepat kalau Wina berkata: Peristiwa apa lagi yang selanjutnya bakal menghadang di depan mata? Sekali lagi di tatapnya mata lelaki itu.
(nyambung)
Pada sesi acara lain dia dan beberapa teman-teman sesama wanita di organisasi harus berdandan yang rapi, memperkenalkan gaun khas daerah hanya untuk berdiri berjejer di depan pintu sebagai penerima tamu undangan. Itu sudah bagian dari kegiatan. Dalam bersijajar diantara teman-teman gadis lainnya, tetap dia yang paling menonjol. Mudah dikenal dari gerak-geriknya yang santun. Beberapa pejabat terkadang mencuri-curi pandang. Temannya yang jahil malah diam-diam ambil close-up wajahnya. Ada beberapa pejabat yang iseng nanya. Beberapa yang diam-diam mengetahui sesuatu membisikan. Lalu memandang pak Wijaya yang berdiri di kejauhan. Dan mereka berhenti menggoda Wina sambil menjaga sikap. Segan mengambil kesimpulan. Ketakutan dalam ketahuan. Ketahuan kalau ternyata diam diam ada yang memiliki.
Ah, Wina termangu-mangu tak berdaya. Ketakberdayaan seorang wanita yang tidak memiliki hak untuk memilih. Tidak menentukan hak hidupnya. Kalaupun lebih dihadapkan pada persoalan emosional dan ketegangan bathin, maka juga makin bermuatan persoalan-persoalan KDRT nantinya yang jelas-jelas menjerumuskan kaumnya sendiri. Ah..!! Keberuntungan apa lagi selanjutnya yang menghadang di depan mata? Wina menatap mata lelaki itu. Matanya berusaha mencari. Kalau hanya berduaan dengan lelaki di sebuah kamar hotel dan berakhir di atas tempat tidur, bukan keberuntungan namanya. Bukan! Ini namanya bencana. Ya, lebih tepat kalau Wina berkata: Peristiwa apa lagi yang selanjutnya bakal menghadang di depan mata? Sekali lagi di tatapnya mata lelaki itu.
(nyambung)
Selasa, 04 Oktober 2011
Novelet : AKU BUKAN PELACUR (7)
“Tidak, Wina. Ini bukan suatu kebodohan. Justru kamu adalah orang yang sangat beruntung bisa dekat dengan saya,” lelaki itu menghibur.
“Beruntung?” Wina menatap dengan pandangan tidak mengerti. Apakah ucapannya ini merupakan sebuah hiburan? Hiburan yang diharapkan dapat mengubur kekecewaan sebagai sebuah harapan demi harapan tak kesampaian. Bentuk harapan kandas, tak tercapai yang bermuara pada kekecewaan. Bagaimana harus mengubur kekecewaan? Apakah dengan adanya suatu hubungan kedekatan dengan orang-orang berpengaruh macam pak Wijaya ini setara harganya dengan kehormatannya yang kini telah ternodai? Dalam dunia politik apakah wanita macam Wina ini dapat dianggap sebagai sebuah komoditi yang dikemas dalam pamflet-pamflet sebuah kampanye politik? Dia selama ini hanya dianggap sebagai gula-gulanya partai. Untuk memberi pemandangan sekaligus pandangan yang menarik pada setiap mata acara. Itu dia rasakan betul. Ibaratnya bagi para pentolan-pentolan partai buat cuci mata untuk dapat melihatnya. Bahkan bilaperlu menghiburnya hingga mendalam dalam kedalaman hatinya yang sesungguhnya kering dan letih. Kering karena diwarnai kesibukan mengurus perjalanan ke luar daerah. Studi banding untuk di bawa pulang guna memajukan daerah. Dan juga tentunya jalan-jalan yang merupakan lahan mengasyikan, sembari menghibur diri di klab-klab malam, berkeraoke sambil menari-nari dalam tarian perut dengan beberapa wanita penghibur. Letih? Iya letih yang terlalu lama memanjakan diri dalam hiburan-hiburan. Mengail proyek-proyek beramplop dan bermain-main ‘move’ dengan beberapa pengusaha secara diam-diam.
Pada acara kampanye Golkar kemarin Wina dan kawan-kawan dengan bangganya hadir sebagai penggembira diantara para penggembira partai lainnya. Acara safari politik ke beberapa kabupaten selalu menyertakan dirinya. Seolah tanpa kehadirannya suasana terasa sepi. Ada yang kurang tanpa kehadirannya. Kadang pagi-pagi subuh dia sudah didatangi ke rumah dengan mendadak. Ibunya sendiri memang mengijinkan, selama masih memang benar-benar untuk kegiatan organisasi. Bukan hanya wayan Suambara ataupun mas Yudi temannya datang menjemput, bahkan pernah pak Wijaya sendiri pagi-pagi datang ke rumahnya. Sebetulnya Wina malas pergi saat enak-enaknya tidur karena habis begadang, tapi karena yang mendatanginya ke rumah pentolan FKPPI, Wina terpaksa harus mandi dan segera berangkat. Berdandan seadanya. Kecantikan dan wajahnya yang manis terpantul, kendati berhias diri seadanya dengan buru-buru. (nyambung)
“Beruntung?” Wina menatap dengan pandangan tidak mengerti. Apakah ucapannya ini merupakan sebuah hiburan? Hiburan yang diharapkan dapat mengubur kekecewaan sebagai sebuah harapan demi harapan tak kesampaian. Bentuk harapan kandas, tak tercapai yang bermuara pada kekecewaan. Bagaimana harus mengubur kekecewaan? Apakah dengan adanya suatu hubungan kedekatan dengan orang-orang berpengaruh macam pak Wijaya ini setara harganya dengan kehormatannya yang kini telah ternodai? Dalam dunia politik apakah wanita macam Wina ini dapat dianggap sebagai sebuah komoditi yang dikemas dalam pamflet-pamflet sebuah kampanye politik? Dia selama ini hanya dianggap sebagai gula-gulanya partai. Untuk memberi pemandangan sekaligus pandangan yang menarik pada setiap mata acara. Itu dia rasakan betul. Ibaratnya bagi para pentolan-pentolan partai buat cuci mata untuk dapat melihatnya. Bahkan bilaperlu menghiburnya hingga mendalam dalam kedalaman hatinya yang sesungguhnya kering dan letih. Kering karena diwarnai kesibukan mengurus perjalanan ke luar daerah. Studi banding untuk di bawa pulang guna memajukan daerah. Dan juga tentunya jalan-jalan yang merupakan lahan mengasyikan, sembari menghibur diri di klab-klab malam, berkeraoke sambil menari-nari dalam tarian perut dengan beberapa wanita penghibur. Letih? Iya letih yang terlalu lama memanjakan diri dalam hiburan-hiburan. Mengail proyek-proyek beramplop dan bermain-main ‘move’ dengan beberapa pengusaha secara diam-diam.
Pada acara kampanye Golkar kemarin Wina dan kawan-kawan dengan bangganya hadir sebagai penggembira diantara para penggembira partai lainnya. Acara safari politik ke beberapa kabupaten selalu menyertakan dirinya. Seolah tanpa kehadirannya suasana terasa sepi. Ada yang kurang tanpa kehadirannya. Kadang pagi-pagi subuh dia sudah didatangi ke rumah dengan mendadak. Ibunya sendiri memang mengijinkan, selama masih memang benar-benar untuk kegiatan organisasi. Bukan hanya wayan Suambara ataupun mas Yudi temannya datang menjemput, bahkan pernah pak Wijaya sendiri pagi-pagi datang ke rumahnya. Sebetulnya Wina malas pergi saat enak-enaknya tidur karena habis begadang, tapi karena yang mendatanginya ke rumah pentolan FKPPI, Wina terpaksa harus mandi dan segera berangkat. Berdandan seadanya. Kecantikan dan wajahnya yang manis terpantul, kendati berhias diri seadanya dengan buru-buru. (nyambung)
Senin, 03 Oktober 2011
AKU BUKAN PELACUR (6)
“Pernah melakukan ini sebelumnya?” lelaki itu menatap.
Wina seperti merasa bego, teringat kejadian yang menimpa dirinya sewaktu menjalankan tugas sebagai tourlady.
“Wina…” lagi-lagi terdengar suara laki-laki itu.
“Hmmmm iya pak! Pernah dipaksa, tapi nggak usah ingetin itu lagi ah! Wina benci. Wina muak dengan kejadian itu. Kejadian yang benar-benar tidak Wina inginkan seperti sekarang ini juga, tapi kenapa ya harus begini jalan hidup Wina” Wina mendesah pelan menjatuhkan segala duka lewat airmatanya.
“Hmm..ya..ya…”
“Wina benci kejadian itu.”
Hening sesaat.
“Wina”
“Iya pak?”
“Kamu…..kamu, aduuuhhhh, Wina kamu gadis baik-baik Win. Ternyata kamu gadis baik-baik. Menyesal bapak melakukan ini. Bapak pikir kamu perempuan yang sudah biasa dibawa” pak Wijaya berkata kaget melihat kenyataan ini. Mata gadis itu dilihatnya polos menatap. Tidak menyembunyikan kebohongan.
“Oh, Tuhan, bodohnya diriku,” Wina mengumpat habis dirinya. Tapi semuanya sudah terjadi, mau bilang apa? Lingkaran tangan lelaki itu kian membuat tubuhnya terguncang, tak mampu menyudahi isaknya.
Wina seperti merasa bego, teringat kejadian yang menimpa dirinya sewaktu menjalankan tugas sebagai tourlady.
“Wina…” lagi-lagi terdengar suara laki-laki itu.
“Hmmmm iya pak! Pernah dipaksa, tapi nggak usah ingetin itu lagi ah! Wina benci. Wina muak dengan kejadian itu. Kejadian yang benar-benar tidak Wina inginkan seperti sekarang ini juga, tapi kenapa ya harus begini jalan hidup Wina” Wina mendesah pelan menjatuhkan segala duka lewat airmatanya.
“Hmm..ya..ya…”
“Wina benci kejadian itu.”
Hening sesaat.
“Wina”
“Iya pak?”
“Kamu…..kamu, aduuuhhhh, Wina kamu gadis baik-baik Win. Ternyata kamu gadis baik-baik. Menyesal bapak melakukan ini. Bapak pikir kamu perempuan yang sudah biasa dibawa” pak Wijaya berkata kaget melihat kenyataan ini. Mata gadis itu dilihatnya polos menatap. Tidak menyembunyikan kebohongan.
“Oh, Tuhan, bodohnya diriku,” Wina mengumpat habis dirinya. Tapi semuanya sudah terjadi, mau bilang apa? Lingkaran tangan lelaki itu kian membuat tubuhnya terguncang, tak mampu menyudahi isaknya.
Selasa, 27 September 2011
AKU BUKAN PELACUR (3)
dengannya, sekalipun ketemu rekan-rekan sesama organisasi jarang sekali bisa sempat untuk ngobrol dengannya. Harap maklum namanya orang penting. Kawan-kawan se-organisasi di tempat Wina saja tidak ada yang seberuntung dirinya, sempat-sempatnya ditemui langsung bahkan beberapa kali pernah diajak bicara panjang lebar. Sampai-sampai masalah yang pribadi menyangkut pekerjaan sebagai masa depannya. Wina lebih beruntung dari teman-temannya yang lain. Teman-teman se-organisasi sering iri padanya. Semua menganggap Wina sebagai seorang gadis yang sangat beruntung diantara teman-teman gadis yang lain di samping wajahnya yang cantik dengan tubuhnya yang sangat indah.
“Nanti kamu yang mengurus hotel bapak di sana ya. Bapak berikan jabatan sebagai seorang menejer hotel.” Itu kata-kata yang masih terus terngiang di telinga Wina.
“Menejer hotel pak?” Wina bertanya seperti tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya! Sebagai orang kepercayaan saya.”
“Wow??” Mata Wina terbelalak senang.
“Seringkali bapak perhatikan kamu secara diam-diam. Suambara banyak cerita tentang kamu Win, kamu butuh pekerjaan ya?.”
Wina mengangguk. Kalau wayan Suambara sendiri malah lain ceritanya. Tidak mungkin ada sebuah cerita kalau tidak ada pengumpan sebelumnya. Jadi yang terbalik akhirnya menurut laki-laki ini, Wayan Suambara yang banyak cerita tentang dirinya. Ah, laki-laki. Tua muda sama saja. Namun sebuah perhatian dari seorang pejabat memang lain artinya, terkadang terlampau berlebihan. Itu dia bisa berkesimpulan setelah mengetahui siapa sesungguhnya pak Wijaya ini. Tentang perbedaan laki-laki baik tua maupun muda, baginya akan menjadi lebih paham lagi setelah mengetahui kejadian-kejadian berikutnya.
“Hmm ya pak, makasih sebelumnya pak. Di hotel mana pak? Boleh Win tahu kan nama hotelnya?” (bersambung)
“Nanti kamu yang mengurus hotel bapak di sana ya. Bapak berikan jabatan sebagai seorang menejer hotel.” Itu kata-kata yang masih terus terngiang di telinga Wina.
“Menejer hotel pak?” Wina bertanya seperti tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya! Sebagai orang kepercayaan saya.”
“Wow??” Mata Wina terbelalak senang.
“Seringkali bapak perhatikan kamu secara diam-diam. Suambara banyak cerita tentang kamu Win, kamu butuh pekerjaan ya?.”
Wina mengangguk. Kalau wayan Suambara sendiri malah lain ceritanya. Tidak mungkin ada sebuah cerita kalau tidak ada pengumpan sebelumnya. Jadi yang terbalik akhirnya menurut laki-laki ini, Wayan Suambara yang banyak cerita tentang dirinya. Ah, laki-laki. Tua muda sama saja. Namun sebuah perhatian dari seorang pejabat memang lain artinya, terkadang terlampau berlebihan. Itu dia bisa berkesimpulan setelah mengetahui siapa sesungguhnya pak Wijaya ini. Tentang perbedaan laki-laki baik tua maupun muda, baginya akan menjadi lebih paham lagi setelah mengetahui kejadian-kejadian berikutnya.
“Hmm ya pak, makasih sebelumnya pak. Di hotel mana pak? Boleh Win tahu kan nama hotelnya?” (bersambung)
Sabtu, 24 September 2011
AKU BUKAN PELACUR (2)
Perlahan bapak itu mendekat dan kembali memeluknya. Tidak ada alasan untuk menolak. Tidak ada alasan untuk mengelak. Janji lelaki itu tentang sebuah pekerjaan membuat hatinya luruh. Semudah meluruhkan keyakinan akan sosok wanita mandiri. Karena pak Wijaya menjanjikan sebuah pekerjaan di hotelnya. Tidak tanggung-tanggung, langsung menjabat sebagai seorang menejer. Wina percaya, karena ia mengetahui betul sosok lelaki itu merupakan salah seorang yang sangat berpengaruh di daerah ini.
“Jangan percaya iming-iming tentang sesuatu yang menjanjikan dari laki-laki yang belum jelas kamu ketahui karakternya. Itu pasti ada maunya”
Wina tidak menyahut, karena kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut orang tuanya. Kata-kata berupa nasihat seperti itu tak akan pernah ia dengar dari kakak-kakaknya. Karena dia tidak memiliki kakak. Kakak dalam artian yang sebenarnya. Kendati ia memiliki seorang atau dua orang kakak, maka mereka semua lebih memikirkan dirinya sendiri. Mereka lebih memikirkan kehidupannnya sendiri. Mereka menganggap bahwa kehidupannya tidak sama dengan kehidupan Wina, sebaliknya Wina jadi terbentuk pola berpikir bahwa kehidupannya juga tidak merupakan bagian dari kehidupan kakak-kakaknya. Kehidupan Wina adalah sepenuhnya tanggung jawab Wina sendiri. Karena itu yang dibentuk dari ayahnya yang membuat dia jadi pribadi yang mandiri. Dan kalaupun Wina rindu seorang kakak laki-laki, pastilah hanya kerinduan semata-mata. Karena kalau dia memiliki kakak laki-laki, maka ada sandaran hatinya yang akan menjaga hidupnya sampai kelak Wina bisa menemukan sandaran hati sendiri untuk kehidupannya. Namun kehidupan apakah yang sedang Wina lalui?
Tidak tahu!
Sampai ia dipertemukan seseorang seusia ayahnya dalam sebuah organisasi.
Pak Wijaya ini orangnya sangat sibuk, namun dialah satu-satunya pejabat yang menyempatkan diri membina organisasi FKPPI. Seorang pejabat dengan pribadi menyenangkan namun beliau orangnya sulit ditemui dan termasuk orang penting di kota ini. Jarang bisa bicara..............(bersambung)
“Jangan percaya iming-iming tentang sesuatu yang menjanjikan dari laki-laki yang belum jelas kamu ketahui karakternya. Itu pasti ada maunya”
Wina tidak menyahut, karena kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut orang tuanya. Kata-kata berupa nasihat seperti itu tak akan pernah ia dengar dari kakak-kakaknya. Karena dia tidak memiliki kakak. Kakak dalam artian yang sebenarnya. Kendati ia memiliki seorang atau dua orang kakak, maka mereka semua lebih memikirkan dirinya sendiri. Mereka lebih memikirkan kehidupannnya sendiri. Mereka menganggap bahwa kehidupannya tidak sama dengan kehidupan Wina, sebaliknya Wina jadi terbentuk pola berpikir bahwa kehidupannya juga tidak merupakan bagian dari kehidupan kakak-kakaknya. Kehidupan Wina adalah sepenuhnya tanggung jawab Wina sendiri. Karena itu yang dibentuk dari ayahnya yang membuat dia jadi pribadi yang mandiri. Dan kalaupun Wina rindu seorang kakak laki-laki, pastilah hanya kerinduan semata-mata. Karena kalau dia memiliki kakak laki-laki, maka ada sandaran hatinya yang akan menjaga hidupnya sampai kelak Wina bisa menemukan sandaran hati sendiri untuk kehidupannya. Namun kehidupan apakah yang sedang Wina lalui?
Tidak tahu!
Sampai ia dipertemukan seseorang seusia ayahnya dalam sebuah organisasi.
Pak Wijaya ini orangnya sangat sibuk, namun dialah satu-satunya pejabat yang menyempatkan diri membina organisasi FKPPI. Seorang pejabat dengan pribadi menyenangkan namun beliau orangnya sulit ditemui dan termasuk orang penting di kota ini. Jarang bisa bicara..............(bersambung)
Jumat, 23 September 2011
NOVELET AKU BUKAN PELACUR (1)
Satu
Wina tertegun menatap pak Wijaya. Lelaki klimis, demikian rapi penampilannya. Usia lelaki itu hampir sebaya ayahnya. Usia yang seharusnya dipanggil ayah. Walaupun pak Wijaya bukan ayahnya, jarak usia dengannya terpaut jauh untuk sebuah asmara. Wina bukan anaknya, namun lelaki itu akan menganggapnya anak. Dan lelaki itu berulang kali memberikan kesan hormat yang berlebihan. Kesan hormat yang bermuara pada cinta. Kesan hormat yang selalu membuat dirinya menjadi sosok wanita yang sangat berarti di matanya. Sosok wanita yang menganggap Wina benar-benar sebagai seorang gadis dewasa. Bukan gadis remaja yang kekanak-kanakan, kendati Wina tidak merasa dewasa karena kesan yang diberikan. Barangkali juga karena postur tubuh Wina lebih menyerupai penampilan seorang wanita dewasa dibandingkan usia dan tingkah lakunya yang tidak menyembunyikan kekanak-kanakan. Ataupun penampilannya menutupi usia sebenarnya. Penampilan memang mampu merubah segalanya. Mampu menyulap usia yang sesungguhnya. Berapa usia Wina?
“20 tahun pak”
“kamu pantas jadi anakku, Win”
“Iya, pak” Wina mengangguk.
Di usianya yang 20 tahun dia mulai mengenal laki-laki dewasa, laki-laki matang dalam arti yang sesungguhnya. Lelaki yang pada akhirnya membuat matang belum waktunya, walau di usia sebaya teman-temannya yang sudah rata-rata matang semua. Itu sih dari cerita dan pengalaman mereka. Dari pengakuan-pengakuan mereka setiap pulang dari menikmati dunia malam, diskotik. Tapi Wina tidak seperti mereka. Sebab Wina bukan mereka.
Wina tertegun menatap pak Wijaya. Lelaki klimis, demikian rapi penampilannya. Usia lelaki itu hampir sebaya ayahnya. Usia yang seharusnya dipanggil ayah. Walaupun pak Wijaya bukan ayahnya, jarak usia dengannya terpaut jauh untuk sebuah asmara. Wina bukan anaknya, namun lelaki itu akan menganggapnya anak. Dan lelaki itu berulang kali memberikan kesan hormat yang berlebihan. Kesan hormat yang bermuara pada cinta. Kesan hormat yang selalu membuat dirinya menjadi sosok wanita yang sangat berarti di matanya. Sosok wanita yang menganggap Wina benar-benar sebagai seorang gadis dewasa. Bukan gadis remaja yang kekanak-kanakan, kendati Wina tidak merasa dewasa karena kesan yang diberikan. Barangkali juga karena postur tubuh Wina lebih menyerupai penampilan seorang wanita dewasa dibandingkan usia dan tingkah lakunya yang tidak menyembunyikan kekanak-kanakan. Ataupun penampilannya menutupi usia sebenarnya. Penampilan memang mampu merubah segalanya. Mampu menyulap usia yang sesungguhnya. Berapa usia Wina?
“20 tahun pak”
“kamu pantas jadi anakku, Win”
“Iya, pak” Wina mengangguk.
Di usianya yang 20 tahun dia mulai mengenal laki-laki dewasa, laki-laki matang dalam arti yang sesungguhnya. Lelaki yang pada akhirnya membuat matang belum waktunya, walau di usia sebaya teman-temannya yang sudah rata-rata matang semua. Itu sih dari cerita dan pengalaman mereka. Dari pengakuan-pengakuan mereka setiap pulang dari menikmati dunia malam, diskotik. Tapi Wina tidak seperti mereka. Sebab Wina bukan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)
