Setelah tanah yang kau tatah
kepulkan bunga dan api
aku ke tepi
berbaring dalam sepimu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
dari tanah kau tatah
ke tanah aku pasrah
kuteduhkan bumimu
yang melengking
dengan tangis,
atau jerit tertahan
setelah tanah yang kau tatah
kepulkan bunga dan api
kutumpahkan rasa sepiku padamu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
kepadamu aku kembali
-----januari 1985-----bpm
Tampilkan postingan dengan label parade karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parade karya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Januari 2012
Parade karya sajak sajak dari bandung KURNIA EFFENDI SITU PATENGGANG
Pada hari-hari mendung Tuhan rajin
menulis surat untuk kekasih-Nya di bumi
orang-orang sabar
dicelupkan-Nya pena bianglala yang
bercahaya ke dalam tinta hijau
berkali-kali. Geletarnya menyelesaikan udara
rapi mengarsir air Situ Patenggang
Ketika matahari lepas dari tangkainya
Tuhan membiarkan seluruh isi langit
juga bukit-bukit
juga batuan dan kembang rumput
mengaca di atas kemilau Situ Patenggang
mangkuk tinta-Nya
131085 – 09.42
(dari parade karya majalah Hai no.16x edisi 22-28 april 1986)
menulis surat untuk kekasih-Nya di bumi
orang-orang sabar
dicelupkan-Nya pena bianglala yang
bercahaya ke dalam tinta hijau
berkali-kali. Geletarnya menyelesaikan udara
rapi mengarsir air Situ Patenggang
Ketika matahari lepas dari tangkainya
Tuhan membiarkan seluruh isi langit
juga bukit-bukit
juga batuan dan kembang rumput
mengaca di atas kemilau Situ Patenggang
mangkuk tinta-Nya
131085 – 09.42
(dari parade karya majalah Hai no.16x edisi 22-28 april 1986)
Rabu, 05 Oktober 2011
Sajak WAHYU PRASETYA : PADA SEBUAH CERMIN
Pada sebuah cermin. wajah dan ratap terbagi
Mungkin kejengkelan itu merebutmu dari cemas
Hingga bayang yang terbit hanya arang
Silam ke pelupuk mata yang tak lagi tegak
Menidurkan pandan dari kasihmu
Memimpikan pasang surut cintamu
Pada sebuah cermin. Wajah dan ratap terbagi
Selalu kuberikan pada kehitaman dan cahaya
Tuhan, ingin sekali kusapa mulut dengan pedihnya
1985
(dari majalah Hai no.44/X 3-9 november 1987)
Mungkin kejengkelan itu merebutmu dari cemas
Hingga bayang yang terbit hanya arang
Silam ke pelupuk mata yang tak lagi tegak
Menidurkan pandan dari kasihmu
Memimpikan pasang surut cintamu
Pada sebuah cermin. Wajah dan ratap terbagi
Selalu kuberikan pada kehitaman dan cahaya
Tuhan, ingin sekali kusapa mulut dengan pedihnya
1985
(dari majalah Hai no.44/X 3-9 november 1987)
Senin, 03 Oktober 2011
Parade karya sajak sajak dari bandung KURNIA EFFENDI : SITU PATENGGANG
Pada hari-hari mendung Tuhan rajin
menulis surat untuk kekasih-Nya di bumi
orang-orang sabar
dicelupkan-Nya pena bianglala yang
bercahaya ke dalam tinta hijau
berkali-kali. Geletarnya menyelesaikan udara
rapi mengarsir air Situ Patenggang
Ketika matahari lepas dari tangkainya
Tuhan membiarkan seluruh isi langit
juga bukit-bukit
juga batuan dan kembang rumput
mengaca di atas kemilau Situ Patenggang
mangkuk tinta-Nya
131085 – 09.42
(dari parade karya majalah Hai no.16x edisi 22-28 april 1986)
menulis surat untuk kekasih-Nya di bumi
orang-orang sabar
dicelupkan-Nya pena bianglala yang
bercahaya ke dalam tinta hijau
berkali-kali. Geletarnya menyelesaikan udara
rapi mengarsir air Situ Patenggang
Ketika matahari lepas dari tangkainya
Tuhan membiarkan seluruh isi langit
juga bukit-bukit
juga batuan dan kembang rumput
mengaca di atas kemilau Situ Patenggang
mangkuk tinta-Nya
131085 – 09.42
(dari parade karya majalah Hai no.16x edisi 22-28 april 1986)
Langganan:
Postingan (Atom)
