4. menjadi tukang tenung
Sekarang Saidi sudah mahir menjadi tukang tenung, khusus melayani para pejabat-pejabat yang mudah menggelontorkan dana-dana buat kebutuhan realisasi proposal yang dia ajukan.
Hasilnya dibagi tiga.
Kenapa harus tiga? Barangkali hanya dia yang tahu. Kalau kita tanya akan dijawab dengan pertanyaan yang sama lalu terbahak-bahak dan ouuupssss..!!, ketawanya adalah kelicikan mata musang. Diam-diam lewat suara bathinnya dia akan berterus terang:
Pertama : kebutuhan pejabat dipentingkan. Tentu yang dipilih-pilih. Itu yang utama. Pilihan yang mendatangkan keuntungan buatnya.
Jelas! Pejabat mana yang memudahkan turunnya dana-dana proyek yang diajukan. Dan dengan patuh dia mengatakan bahwa pejabat tersebut sebagai orang besar. Sangat pantas untuk sebutan bos. Sang penjaja nasib yang merubah nasib hidupnya jadi warga berkelas. Dari kelas teri merangkak menjadi kelas kakap. Mangsanya nelangsa mematahkan nasib para teri-teri muda berikutnya. Orang penting. Orang-orang itu akhirnya mulai menyebutnya.
Orang mulai meliriknya sebagai sebuah kebutuhan. Kebutuhan akan melancarkan segala proyek untuk di prospek. Secara bergiliran orang-orang yang memiliki minat, satu demi satu mengapeli rumahnya.
Selain harus memiliki rekening pribadi, rekening lembaga yang dia kelola, yang terpenting adalah mesti hafal rekening sang pejabat divisi penggelontor. Karena terlalu banyak bergaul dengan orang penting, maka setiap orang-orang yang mengatakan betapa sulitnya menemui Saidi-pun turut serta mengatakan : Oh, ternyata Saidi orang penting juga. Sudah pandai bergaul dengan orang penting di kota.
Menjadi orang penting menyenangkan juga. Artinya segala sesuatu kebutuhan akan dipentingkan dulu, walau tidak terlalu penting buat dirinya. Karena ia orang penting, yang tidak pentingPUN akan menjadi penting. Apalagi setelah memiliki lembaga yang semula kecil hingga menjadi tenar. Tenar akibat gemulainya negosiasi yang berhasil. Lembaga yang bergerak di bidang pengentasan buta aksara.
Mencari anak-anak yang mau belajar sampai ke pelosok-pelosok kampung. Susahnya minta ampun. Ketika ditanya, mereka semua ngaku lancar baca tulis. Namun manakala mengetahui dana proyek sudah turun, mendadak semua catatan dicentang mengatakan tak mampu membaca dan menulis. Apa iya?
Kemudian yang kedua, buat kebutuhan membeli spare-part di dukun untuk meremas-remas kemauan pikiran setiap pejabat, setengahnya lagi untuk menyihir setiap wanita yang diinginkan hingga……..terkulai akal sehat. Apapun yang akan dikatakannya akan segera dijawab dengan “ya”, tanpa memikirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari jawabannya itu.
Ketiga, tentunya untuk berkolaborasi dengan zat-zat yang mendampingi kenikmatan hidupnya. Tentunya setiap kemayu kenikmatan, akan dihisap sepuas-puasnya tanpa ada sisa. Tanpa ada tersisa. Saidi tidak mau meninggalkan sisa. Sepercik sekalipun.
Air liurnyapun tak akan mau dia buang disembarang tempat, kendati lupa kalau dia sembarang membuang air benih, vitalnya yang terahasia congkak, bengkak dan dapat merekah. Namun, justru semakin dikenal di rahim setiap perempuan. Dan Saidi sering lupa meluapkan kegembiraan, manakala membuang air benihnya, sembarang waktu, dengan memilih tempat yang tidak sembarangan. Yang diajakpun suka. Bahkan sering meminta mendahului ajakannya. Wah, jadi jungkir balik. Sang perempuan mengejar pria. Sang perempuan menyodorkan kemauannya.
Karena ketika ia menyadari, zat-zat hidupnya yang bertebaran, orang akan menghitung, berapa zat yang telah sia-sia untuk menjadi jiwa manusia.
Entahlah!
Siapa yang mepedulikan zat hidupnya yang mengalir dalam benih kesia-siaan. Karena ia menganggap itu bukan limbah benih tersia-sia. Benih ia anggap mampu dijadikan kompos selanjutnya ditata kembali sebagai bukan benih yang sia-sia. Karena merangkai masa depan betapa mampunya ia mengembangkan generasi. Itupun kalau sang waktu tidak berjalan mandul.
Siapakah gerangan dia - yang terlampau intim untuk mengenal setiap lekuk tubuhmu, sang Saidi yang mengubah sukma bak Arjuna? Setiap perempuan pasti akan merahasiakan lekuk-lekuk itu pada setiap lelaki yang tidak dia inginkan, namun tidak buat Saidi ketika mengatakan dalam bahasa merdu:
“Engkau harus mau……engkau harus mengikuti perkataanku!”
Dan perempuan rengkuhannya akan mengangguk, menatap sang Arjuna yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Serta meremang bayang-bayang lahirnya anak-anak matahari. Dalam ruang dan waktu. Meruang dalam percumbuan hasrat. Panas bergelut emosi. Menggelora..Dan lelaki di hadapannya adalah sosok lelaki bertubuh kekar dan dinamis mengutarakan keinginan.
“Engkau harus tunduk di hadapanku……..Engkau harus bercumbu denganku………”
Dan segala sesuatunya berlanjut di luar kehendak. Selanjutnya wahai, wanita: engkau yang datang merayu-rayu. Menagih-nagih keinginan. Akan menjadi gila karenanya, manakala Saidi sedemikian rupa bergelut dalam kesibukannya yang khas : menyapa setiap pejabat yang sarapan di warungnya yang menurutnya cukup elite, berlokasi dekat pelabuhan. Warung yang mampu menyulap pendatang menjadi ketagihan untuk datang menyantap berkali-kali segala keramahan yang ditawarkannya.
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Oktober 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
ROMANSA SAIDI kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang) titian kembir
3. pelana sang petualang
Sebagai seorang Saidi muda, teduhnya lautan hati bergemuruh di kedalaman sunyi. Karena hatinya sepi dalam lautan kemelaratan jiwa. Iya. Hati yang melarat dan terlunta-lunta menuju hasrat yang belum sampai. Sebagai seorang Saidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya.
Eiiit, jangan kaget. Begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai, bahkan mungkin tak pernah singgah lewat dermaga pengharapan.
Namun penampilanmu. Hai, Saidi. Bak pelana sang petualang yang belum sampai ke tujuan. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Berpenampilan, berangan bak Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, lahiriahmu sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Oh, seandainya itu memang benar dalam melakoni ketakberdayaan, apa kata generasi yang dia inginkan. Menunda kehadirannya ataukah meminjam sembarang rahim bak modernisasi janin tabung. ? Ataukah hanya generasi setengah-setengah ? Sebab kehadirannya tak mau sembarang menghadirkan lakon dirinya sendiri. Dia tidak ingin ada yang tertular.
“ Jangan tiru saya” begitulah kira-kira untuk menutupi boroknya yang akan menjadi bencana. Apabila orang-orang sekitar mengikuti tingkah lakunya.
Mengikuti? Bagaimana mungkin seorang guru akan memberi contoh buruk terhadap anak didiknya? Itulah bukti kehebatan sang kecial. Karena mantra-mantra yang mampu menutupi borok sendiri. Tidak ada yang akan tahu, kalaupun ada yang tahu nantinya, cukup diberi hadiah persenan sebagai wahana tutup mulut. Dasar niat busuk.
Dan ketika kesabarannya hampir habis, Saidi berupaya membeli berbagai bentuk pesona dengan menyihir setiap kemauannya menjadi sang Arjuna. Jadilah ia Arjuna. Namun sayangnya tergerai oleh sang waktu lemah syahwat. Tertutupi guna-guna. Selaput pelet resem.
Guna menghilangkan kekurangannya itu, Saidi akhirnya membeli pil kuat tanpa penakar. Jadilah Saidi pemuda perkasa yang menawarkan asmara pada setiap wanita. Bermain kuda-kudaan. Menjadikan betina meringkih geli gelisah basah dalam aroma birahi. Dahsyat kuda betina binal. Kuda jantan penunggang betina. Ditunggangi tenaga sakti Bima.
Oh, kuatnya pil pejantan penakar dosis tinggi. Tidak ada yang mau kalah. Meringkih keras membelah dusun. Dan begitu perempuan takluk dalam genggamannya, serta merta tak mampu berkutik untuk mengatakan tidak.
Sebagai seorang Saidi muda, teduhnya lautan hati bergemuruh di kedalaman sunyi. Karena hatinya sepi dalam lautan kemelaratan jiwa. Iya. Hati yang melarat dan terlunta-lunta menuju hasrat yang belum sampai. Sebagai seorang Saidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya.
Eiiit, jangan kaget. Begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai, bahkan mungkin tak pernah singgah lewat dermaga pengharapan.
Namun penampilanmu. Hai, Saidi. Bak pelana sang petualang yang belum sampai ke tujuan. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Berpenampilan, berangan bak Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, lahiriahmu sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Oh, seandainya itu memang benar dalam melakoni ketakberdayaan, apa kata generasi yang dia inginkan. Menunda kehadirannya ataukah meminjam sembarang rahim bak modernisasi janin tabung. ? Ataukah hanya generasi setengah-setengah ? Sebab kehadirannya tak mau sembarang menghadirkan lakon dirinya sendiri. Dia tidak ingin ada yang tertular.
“ Jangan tiru saya” begitulah kira-kira untuk menutupi boroknya yang akan menjadi bencana. Apabila orang-orang sekitar mengikuti tingkah lakunya.
Mengikuti? Bagaimana mungkin seorang guru akan memberi contoh buruk terhadap anak didiknya? Itulah bukti kehebatan sang kecial. Karena mantra-mantra yang mampu menutupi borok sendiri. Tidak ada yang akan tahu, kalaupun ada yang tahu nantinya, cukup diberi hadiah persenan sebagai wahana tutup mulut. Dasar niat busuk.
Dan ketika kesabarannya hampir habis, Saidi berupaya membeli berbagai bentuk pesona dengan menyihir setiap kemauannya menjadi sang Arjuna. Jadilah ia Arjuna. Namun sayangnya tergerai oleh sang waktu lemah syahwat. Tertutupi guna-guna. Selaput pelet resem.
Guna menghilangkan kekurangannya itu, Saidi akhirnya membeli pil kuat tanpa penakar. Jadilah Saidi pemuda perkasa yang menawarkan asmara pada setiap wanita. Bermain kuda-kudaan. Menjadikan betina meringkih geli gelisah basah dalam aroma birahi. Dahsyat kuda betina binal. Kuda jantan penunggang betina. Ditunggangi tenaga sakti Bima.
Oh, kuatnya pil pejantan penakar dosis tinggi. Tidak ada yang mau kalah. Meringkih keras membelah dusun. Dan begitu perempuan takluk dalam genggamannya, serta merta tak mampu berkutik untuk mengatakan tidak.
Selasa, 04 Oktober 2011
Prosa liris: ROMANSA SAIDI kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang) titian kembir
Romansa Saidi
Prosa liris
DG KUMARSANA
PENERBIT
PUSTAKA EKSPRESI
Jl. Diwang Dangin No. 54
Br. Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan
Bali. Telp. (0361) 7849103
E-mail : Pustaka_ekspresi@yahoo.com
Editor : Mohammad Ismail
sampul
Lukisan : Mohammad Ismail
Tata letak : I Made Sugianto
cetakan Pertama : nopember 2011
Percetakan : Ekspresi Printing
ISBN : 000-000-00000-0-0
2. keajaiban asmara
Sahatun muda adalah hingar kecipak asmara embun pagi, yang senantiasa direnungkan setiap lelaki. Kemudaan seorang dara jelita, putri remaja yang ranum mempesona. Karena kejelitaan itu, adalah putik yang oleh setiap pejantan ingin memetik harumnya. Harum kembang desa yang tidak sembarang orang dapat memetiknya begitu saja, karena setiap yang mampu dipetik adalah kupu-kupu terbenam dalam sayap-sayap basah. Membenamkan jiwa- jiwa hangat, melantunkan asmara membahana, mengalir melahirkan cinta.
Karena setiap pejantan senantiasa memimpikan keinginannya. Keinginan sang dara jelita yang senantiasa bungkam seribu bahasa memaparkan ungkapan yang diberikan pada para pengagumnya.
Dari sekian banyak pemuda yang menginginkan, hanya Saidi yang mampu menguasai pikirannya. Seolah persis dan sangat memahami setiap kegemarannya yang sengaja tak mau diungkap. Dan sang dukun menggambarkannya dalam bentuk kupu-kupu. Salah satu keajaiban asmara yang singgah di hatinya.
terbang
terbanglah dia
dan Saidi menjadi sarangnya.
melemak dalam kepompong,
yang mampu menguasai jiwanya, hanyalah sarangnya.
awal mula ia belajar mengepakkan sayapnya,
untuk terbang selanjutnya
Sesungguhnya yang terjadi pada diri Sahatun jauh bertolak belakang dari keinginan-keinginannya. Hanya saja dia tidak mengetahui, entah apa penyebabnya dia menjadi bergitu tertarik. Menarik pada kedalaman rasa yang luar biasa untuk tertarik. Dia menjadi begitu tergila-gila dengan lelaki yang dianggapnya tak memiliki postur yang ideal, pendek dan gagap mengemukakan angan dan keinginan. Itu yang terlintas dalam pikirannya pada waktu itu.
Masa-masa pada saat dia belum mengerti secara dalam memahami hati laki-laki yang sebenarnya. Sorot mata menyimpan diam. Tidak berkelana dalam setiap lirikan, Namun melengos dalam menerima tatapan. Hanya sayang seribu kali sayang, telah ada yang mengemas hatinya. Tanpa dia minta.
Sahatun muda sempat kemayu dalam setiap kerlingan mata jejaka. Adalah untaian rasa mengelopak menanamkan berbagai rasa bagi pemuda-pemuda desa yang turut andil membagi-bagikan perhatian buatnya.
Adalah Saidi, lelaki kecil berkemauan besar. Suka gonta -ganti pasangan dan matanya tak bisa lepas menatap setiap wanita. Sering berkhayal telanjang dengan pikiran-pikirannya yang telanjang pula. Menatap lewat mata telanjang dengan dunianya yang telanjang bulat. Bulat dunia yang bugil. Khayalan yang terwujud dalam kenyataan. Bukan hasrat terpendam.
Adalah Saidi seorang guru yang keras, sekali waktu berubah menjadi tanah lempung di hadapan wanita. Matanya melukiskan wanita-wanita penari telanjang yang suka menelanjangi hasratnya. Matanya memancar lenguh kecial menakar napsu. Baginya wanita telanjang adalah kodrat; maka setiap wanita yang dia bidik adalah kodratnya untuk menelanjangi hasrat. Dan pergumulan asmaranya adalah aksara yang dibaca dalam mantra nan kental.
Matanya adalah mata berkencan dalam aroma asmara paska akil baliq. Terlalu serakah menikahi pancaroba. Dan akil baliq adalah bagian dari musim yang membuatnya jadi ranum dalam usia.
Matanya adalah keredupan nyala ambisi dalam mengarungi gurisan masa depan, sebagaimana masa depan yang seharusnya dimiliki orang-orang kebanyakan. Hanya sepintas memandang, matanya ibarat bara dalam sekam yang ditutup-tutupi dalam kepiawaian berdialog. Maka berdialoglah dia, penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan tanda tanya dibuat-buat. Banyak bohongnya. Kalau kita tahu. Karena memang benar-benar bohong. Seolah segala sesuatu adalah hal-hal yang sangat serius untuk dihadapi.
Dia merasa masa depannya adalah sama milik setiap orang. Dia merupakan sebagian kecil dari sebagian besar masa depan orang-orang. Dan sorot matanya bernyawa dalam keinginan diam-diam. Sorot mata yang suatu saat akan belajar menenung. Segala sesuatu yang mewujudkan renungan. Ambisi yang diam-diam. Keinginan pelan-pelan yang selalu datang menggoda. Ambisi dalam menakar kesukaran hidup yang dihadapi saat itu.
Prosa liris
DG KUMARSANA
PENERBIT
PUSTAKA EKSPRESI
Jl. Diwang Dangin No. 54
Br. Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan
Bali. Telp. (0361) 7849103
E-mail : Pustaka_ekspresi@yahoo.com
Editor : Mohammad Ismail
sampul
Lukisan : Mohammad Ismail
Tata letak : I Made Sugianto
cetakan Pertama : nopember 2011
Percetakan : Ekspresi Printing
ISBN : 000-000-00000-0-0
2. keajaiban asmara
Sahatun muda adalah hingar kecipak asmara embun pagi, yang senantiasa direnungkan setiap lelaki. Kemudaan seorang dara jelita, putri remaja yang ranum mempesona. Karena kejelitaan itu, adalah putik yang oleh setiap pejantan ingin memetik harumnya. Harum kembang desa yang tidak sembarang orang dapat memetiknya begitu saja, karena setiap yang mampu dipetik adalah kupu-kupu terbenam dalam sayap-sayap basah. Membenamkan jiwa- jiwa hangat, melantunkan asmara membahana, mengalir melahirkan cinta.
Karena setiap pejantan senantiasa memimpikan keinginannya. Keinginan sang dara jelita yang senantiasa bungkam seribu bahasa memaparkan ungkapan yang diberikan pada para pengagumnya.
Dari sekian banyak pemuda yang menginginkan, hanya Saidi yang mampu menguasai pikirannya. Seolah persis dan sangat memahami setiap kegemarannya yang sengaja tak mau diungkap. Dan sang dukun menggambarkannya dalam bentuk kupu-kupu. Salah satu keajaiban asmara yang singgah di hatinya.
terbang
terbanglah dia
dan Saidi menjadi sarangnya.
melemak dalam kepompong,
yang mampu menguasai jiwanya, hanyalah sarangnya.
awal mula ia belajar mengepakkan sayapnya,
untuk terbang selanjutnya
Sesungguhnya yang terjadi pada diri Sahatun jauh bertolak belakang dari keinginan-keinginannya. Hanya saja dia tidak mengetahui, entah apa penyebabnya dia menjadi bergitu tertarik. Menarik pada kedalaman rasa yang luar biasa untuk tertarik. Dia menjadi begitu tergila-gila dengan lelaki yang dianggapnya tak memiliki postur yang ideal, pendek dan gagap mengemukakan angan dan keinginan. Itu yang terlintas dalam pikirannya pada waktu itu.
Masa-masa pada saat dia belum mengerti secara dalam memahami hati laki-laki yang sebenarnya. Sorot mata menyimpan diam. Tidak berkelana dalam setiap lirikan, Namun melengos dalam menerima tatapan. Hanya sayang seribu kali sayang, telah ada yang mengemas hatinya. Tanpa dia minta.
Sahatun muda sempat kemayu dalam setiap kerlingan mata jejaka. Adalah untaian rasa mengelopak menanamkan berbagai rasa bagi pemuda-pemuda desa yang turut andil membagi-bagikan perhatian buatnya.
Adalah Saidi, lelaki kecil berkemauan besar. Suka gonta -ganti pasangan dan matanya tak bisa lepas menatap setiap wanita. Sering berkhayal telanjang dengan pikiran-pikirannya yang telanjang pula. Menatap lewat mata telanjang dengan dunianya yang telanjang bulat. Bulat dunia yang bugil. Khayalan yang terwujud dalam kenyataan. Bukan hasrat terpendam.
Adalah Saidi seorang guru yang keras, sekali waktu berubah menjadi tanah lempung di hadapan wanita. Matanya melukiskan wanita-wanita penari telanjang yang suka menelanjangi hasratnya. Matanya memancar lenguh kecial menakar napsu. Baginya wanita telanjang adalah kodrat; maka setiap wanita yang dia bidik adalah kodratnya untuk menelanjangi hasrat. Dan pergumulan asmaranya adalah aksara yang dibaca dalam mantra nan kental.
Matanya adalah mata berkencan dalam aroma asmara paska akil baliq. Terlalu serakah menikahi pancaroba. Dan akil baliq adalah bagian dari musim yang membuatnya jadi ranum dalam usia.
Matanya adalah keredupan nyala ambisi dalam mengarungi gurisan masa depan, sebagaimana masa depan yang seharusnya dimiliki orang-orang kebanyakan. Hanya sepintas memandang, matanya ibarat bara dalam sekam yang ditutup-tutupi dalam kepiawaian berdialog. Maka berdialoglah dia, penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan tanda tanya dibuat-buat. Banyak bohongnya. Kalau kita tahu. Karena memang benar-benar bohong. Seolah segala sesuatu adalah hal-hal yang sangat serius untuk dihadapi.
Dia merasa masa depannya adalah sama milik setiap orang. Dia merupakan sebagian kecil dari sebagian besar masa depan orang-orang. Dan sorot matanya bernyawa dalam keinginan diam-diam. Sorot mata yang suatu saat akan belajar menenung. Segala sesuatu yang mewujudkan renungan. Ambisi yang diam-diam. Keinginan pelan-pelan yang selalu datang menggoda. Ambisi dalam menakar kesukaran hidup yang dihadapi saat itu.
Senin, 03 Oktober 2011
Prosa liris: ROMANSA SAIDI kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang) titian kembir
Kenikmatan siapakah yang engkau bagi-bagikan
kepada setiap wanita kau katakan menjajakan asmara
mahkota siapakah engkau sibak dengan paksa
sehingga wanita hilang rasa
kepekaanmu itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat dunia ini
menangis
gadis-gadis perawan terpaksa lepas mahkotanya
dan secara diam-diam engkau curi
lewat bayangan bulan separuh negeri senggeger yang kau tikam dalam tanah
kepekaan itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat gadis gadis merintih
sebelum waktunya
dan kau tertawa
lewat malam yang laknat
(dari sajak negeri senggeger 4)
1. Titian Kembir
Titian Kembir, sebuah desa yang masih perawan dalam nuansa pedesaan yang alami. Aksen khas alami pedesaan, ketika melihat anak-anak yang asyik bertelanjang dada berlarian di pinggir jalan tak beraspal. Kadang aksi mereka di tengah jalan seolah ingin menguasai ruas jalan daerahnya, kendati masih mempedulikan suara klakson truk pengangkut pasir yang melintas. Kadangkala pura-pura tak mendengar. Dan kalau terpaksa berbenturan, maka terbaliklah bak pengangkut pasir itu, seketika asap hitam akan membubung tinggi. Yang mengaku pemilik desa atau sebagian besar yang ikut-ikutan, lebih memperparah dalam percikan api, membakar suasana. Desa yang sewaktu-waktu menunjukkan kesombongannya. Anak-anak muda yang mendadak beringas. Truk yang tiba tiba bisa nahas, maka tahu dirilah sang sopir untuk menghindar jauh-jauh. Bila perlu untuk tidak berbenturan.
Adalah Sahatun, salah seorang warga Titian Kembir yang demikian memikat. Wanita yang tercerai berai dalam angan tak sampai, bersuamikan Saidi, lelaki yang tiba-tiba terbuka melampaui angan. Sama-sama terhempas dalam badai. Sama-sama berkarier. Sama-sama punya harga diri. Dan sama-sama ingin punya masa depan yang indah. Punya rasa yang berbeda.
Pernah saling mencintai, bahkan mungkin diam-diam masih ada rasa cinta dan kasih sayang, Ketika masalah memisahkan mereka. Ketika pertengkaran melibas mereka. Ketika badai rumah tangga mulai menghantam. Ketika berbagai sangkaan praduga menguliti masing-masing pikiran. Ketika rasa curiga membuahkan tudingan-tudingan tak mampu membendung berbagai tuduhan-tuduhan. Ketika sama-sama saling mulai melecehkan cinta kasih yang semula dibangun dari serat-serat burung kecial ?
Entah! Itu kata mereka, manakala terbakar emosi. Kenapa bisa terbakar emosi? Akankah serat-serat kecial telah menuai jadi minyak-minyak yang ditorehkan dalam beberapa kalimat sakti? Minyaknya dioleskan di jidat, dioleskan di sepasang alis mata, kemudian diucapkanlah beberapa patah kata, maka emosi jadi redam. Kemarahan dan segala bentuk kedongkolan akan menguap begitu saja, lepas terbawa angin. Itu kata-kata yang dilontarkan konon “orang pintar”. Orang pintar yang khusyuk bertapa di lereng-lereng gunung yang angker. Konon yang menjadi kenyataan, begitu bisa membuktikan keampuhan minyak yang diambil dari burung kecial yang terjaring di sudut pohon.
Namanya kecial kuning jaring sutera. Jalan untuk menuju ke arah lereng pegunungan itupun luar biasa susahnya untuk dicapai. Begitulah minyak kecial dicari. Saidi berubah jadi kecial dan terbang di pelupuk matanya yang mempesona. Minyaknya menyengat setiap hati perempuan. Jadilah keinginan yang mudah disampaikan. Serta merta kecial itu berubah wujud menjelma jadi Saidi, membentangkan asmara denyarnya, menghujam melalui busur-busur telak menikam urat nadi.
Hujan-hujan air birahi membasahi kelopaknya. Bumi jadi bergetar dalam sentuhan maksiat. Desir angin bersuara bak rintihan melupakan suara sesungguhnya sebagai angin pada getar daun pepohonan. Setan-setan yang bersetubuh dengan manusia. Menjadi tumbal. Mencari mangsa. Memupuk korban. Lindap pada dada bergetar, manakala salah sasaran: maka menjadi mengong-lah dia, gila-lah dia, sinting-lah dia, histeris-lah dia.
Kitab suci seolah menyembunyikan mantra yang sebenarnya, tak memberikan jawaban pada jiwa yang pangling. Semakin salah sasaran, maka menarilah dia dalam tarian bugil, di bawah purnama yang rakus memamah tubuhnya lepas. Bumi kian bergetar dalam sentuhan birahi dahsyat. Sedahsyat sekujur tubuhnya meronta-ronta menagih pelampiasan. Dan menjerit-jerit minta kawin.
Dengan berbekal airmata maka dinikahkan mereka. Namun manakala pengaruhnya mulai berkurang, akan tumbuh lagi emosi. Emosi-emosi dalam bentuk lain. Dan minyak itu sendiri harus dimantrai dalam berbagai keinginan. Kemana ia suka.
Jika pertengkaran adalah dendang musik rock menyenangkan. Maka para setan yang diungkap dalam minyak-minyak kecial mulai menari-nari. Mulai mencari korban. Irama-irama mulai berdendang antara bleganjur berbaur kecimol plus. Dalam warna langit nan kelam. Berubah mendung berkepanjangan. Wajah dengan sorot mata berapi-api perlahan tapi pasti mulai menghancurkan logika.
kepada setiap wanita kau katakan menjajakan asmara
mahkota siapakah engkau sibak dengan paksa
sehingga wanita hilang rasa
kepekaanmu itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat dunia ini
menangis
gadis-gadis perawan terpaksa lepas mahkotanya
dan secara diam-diam engkau curi
lewat bayangan bulan separuh negeri senggeger yang kau tikam dalam tanah
kepekaan itulah yang telah engkau paksakan untuk membuat gadis gadis merintih
sebelum waktunya
dan kau tertawa
lewat malam yang laknat
(dari sajak negeri senggeger 4)
1. Titian Kembir
Titian Kembir, sebuah desa yang masih perawan dalam nuansa pedesaan yang alami. Aksen khas alami pedesaan, ketika melihat anak-anak yang asyik bertelanjang dada berlarian di pinggir jalan tak beraspal. Kadang aksi mereka di tengah jalan seolah ingin menguasai ruas jalan daerahnya, kendati masih mempedulikan suara klakson truk pengangkut pasir yang melintas. Kadangkala pura-pura tak mendengar. Dan kalau terpaksa berbenturan, maka terbaliklah bak pengangkut pasir itu, seketika asap hitam akan membubung tinggi. Yang mengaku pemilik desa atau sebagian besar yang ikut-ikutan, lebih memperparah dalam percikan api, membakar suasana. Desa yang sewaktu-waktu menunjukkan kesombongannya. Anak-anak muda yang mendadak beringas. Truk yang tiba tiba bisa nahas, maka tahu dirilah sang sopir untuk menghindar jauh-jauh. Bila perlu untuk tidak berbenturan.
Adalah Sahatun, salah seorang warga Titian Kembir yang demikian memikat. Wanita yang tercerai berai dalam angan tak sampai, bersuamikan Saidi, lelaki yang tiba-tiba terbuka melampaui angan. Sama-sama terhempas dalam badai. Sama-sama berkarier. Sama-sama punya harga diri. Dan sama-sama ingin punya masa depan yang indah. Punya rasa yang berbeda.
Pernah saling mencintai, bahkan mungkin diam-diam masih ada rasa cinta dan kasih sayang, Ketika masalah memisahkan mereka. Ketika pertengkaran melibas mereka. Ketika badai rumah tangga mulai menghantam. Ketika berbagai sangkaan praduga menguliti masing-masing pikiran. Ketika rasa curiga membuahkan tudingan-tudingan tak mampu membendung berbagai tuduhan-tuduhan. Ketika sama-sama saling mulai melecehkan cinta kasih yang semula dibangun dari serat-serat burung kecial ?
Entah! Itu kata mereka, manakala terbakar emosi. Kenapa bisa terbakar emosi? Akankah serat-serat kecial telah menuai jadi minyak-minyak yang ditorehkan dalam beberapa kalimat sakti? Minyaknya dioleskan di jidat, dioleskan di sepasang alis mata, kemudian diucapkanlah beberapa patah kata, maka emosi jadi redam. Kemarahan dan segala bentuk kedongkolan akan menguap begitu saja, lepas terbawa angin. Itu kata-kata yang dilontarkan konon “orang pintar”. Orang pintar yang khusyuk bertapa di lereng-lereng gunung yang angker. Konon yang menjadi kenyataan, begitu bisa membuktikan keampuhan minyak yang diambil dari burung kecial yang terjaring di sudut pohon.
Namanya kecial kuning jaring sutera. Jalan untuk menuju ke arah lereng pegunungan itupun luar biasa susahnya untuk dicapai. Begitulah minyak kecial dicari. Saidi berubah jadi kecial dan terbang di pelupuk matanya yang mempesona. Minyaknya menyengat setiap hati perempuan. Jadilah keinginan yang mudah disampaikan. Serta merta kecial itu berubah wujud menjelma jadi Saidi, membentangkan asmara denyarnya, menghujam melalui busur-busur telak menikam urat nadi.
Hujan-hujan air birahi membasahi kelopaknya. Bumi jadi bergetar dalam sentuhan maksiat. Desir angin bersuara bak rintihan melupakan suara sesungguhnya sebagai angin pada getar daun pepohonan. Setan-setan yang bersetubuh dengan manusia. Menjadi tumbal. Mencari mangsa. Memupuk korban. Lindap pada dada bergetar, manakala salah sasaran: maka menjadi mengong-lah dia, gila-lah dia, sinting-lah dia, histeris-lah dia.
Kitab suci seolah menyembunyikan mantra yang sebenarnya, tak memberikan jawaban pada jiwa yang pangling. Semakin salah sasaran, maka menarilah dia dalam tarian bugil, di bawah purnama yang rakus memamah tubuhnya lepas. Bumi kian bergetar dalam sentuhan birahi dahsyat. Sedahsyat sekujur tubuhnya meronta-ronta menagih pelampiasan. Dan menjerit-jerit minta kawin.
Dengan berbekal airmata maka dinikahkan mereka. Namun manakala pengaruhnya mulai berkurang, akan tumbuh lagi emosi. Emosi-emosi dalam bentuk lain. Dan minyak itu sendiri harus dimantrai dalam berbagai keinginan. Kemana ia suka.
Jika pertengkaran adalah dendang musik rock menyenangkan. Maka para setan yang diungkap dalam minyak-minyak kecial mulai menari-nari. Mulai mencari korban. Irama-irama mulai berdendang antara bleganjur berbaur kecimol plus. Dalam warna langit nan kelam. Berubah mendung berkepanjangan. Wajah dengan sorot mata berapi-api perlahan tapi pasti mulai menghancurkan logika.
Rabu, 27 Oktober 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (18)
Belajar mengendalikan muka dengan cara bermuka-muka.
Belajar memahami topeng dalam menyembunyi preingai nan busuk.
Belajar mengendalikan kemarahan orang lain dengan membeli keahlian sang dukun.
Belajar memainkan angka-angka yang menggelontor di depan mata untuk memainkan aplikasi. Belajar mengeja kata-kata yang tepat buat penyusunan proposal serta merta belajar membangkitkan kepercayaan orang-orang agar mereka tidak mengetahui wajah sesungguhnya di balik topeng yang dia kenakan.
Seandainya dia ketemu maka matilah terbantai kemarahan keluarga sang dara muda yang hilang masa depannya oleh ulah bejat Sahidi.
Ketika berjumpa dalam pertemuan yang telak. Sahidi tidak mampu menolak.
Dipinang siri untuk menjaga prebawa kehormatan keluarga besar.
Senang, tentu senang Sahidi mengeram janin tak terkontrol. Geram tentu geram Sahatun yang pernah berupaya menjalin masa depan.
Semua menjadi sia-sia……..
Nasi telah membubur sehangat cinta tahi ayam.
Hanya hangat di luarnya saja.
Sahidi yang ibarat Wisrawa yang gagal mumpuni para siswa-siswi anak didik nusa dan bangsa.
Namun dia bukan Begawan
Lebih tepat disebut Don Juan yang mencoba perkakas segala bentuk pernik-pernik senggeger.
Senggeger yang mampu membuat wanita terkulai lemah.
Senggeger yang mampu membuat wanita ketagihan.
Senggeger yang mampu membuat wanita termudahkan
Senggeger yang mampu menampik moralitas sebagai ranjang kebebasan
Dalam merebut birahi cinta siluman
Sekali lagi, namanya cinta tahi ayam
Yang hangat sesaat
Belajar memahami topeng dalam menyembunyi preingai nan busuk.
Belajar mengendalikan kemarahan orang lain dengan membeli keahlian sang dukun.
Belajar memainkan angka-angka yang menggelontor di depan mata untuk memainkan aplikasi. Belajar mengeja kata-kata yang tepat buat penyusunan proposal serta merta belajar membangkitkan kepercayaan orang-orang agar mereka tidak mengetahui wajah sesungguhnya di balik topeng yang dia kenakan.
Seandainya dia ketemu maka matilah terbantai kemarahan keluarga sang dara muda yang hilang masa depannya oleh ulah bejat Sahidi.
Ketika berjumpa dalam pertemuan yang telak. Sahidi tidak mampu menolak.
Dipinang siri untuk menjaga prebawa kehormatan keluarga besar.
Senang, tentu senang Sahidi mengeram janin tak terkontrol. Geram tentu geram Sahatun yang pernah berupaya menjalin masa depan.
Semua menjadi sia-sia……..
Nasi telah membubur sehangat cinta tahi ayam.
Hanya hangat di luarnya saja.
Sahidi yang ibarat Wisrawa yang gagal mumpuni para siswa-siswi anak didik nusa dan bangsa.
Namun dia bukan Begawan
Lebih tepat disebut Don Juan yang mencoba perkakas segala bentuk pernik-pernik senggeger.
Senggeger yang mampu membuat wanita terkulai lemah.
Senggeger yang mampu membuat wanita ketagihan.
Senggeger yang mampu membuat wanita termudahkan
Senggeger yang mampu menampik moralitas sebagai ranjang kebebasan
Dalam merebut birahi cinta siluman
Sekali lagi, namanya cinta tahi ayam
Yang hangat sesaat
Selasa, 26 Oktober 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (17)
Kembali pada Ukang, ceritanya begini, hmmm menurut cerita seorang teman, manakala Ukangnya remaja punya masa-masa tersendiri yang entah tabiat apa membuahkan rasa pada sang guru yang telah beristri.
Karena lamunannya pergi kelain hati, tentu pula menjadi keheranan segenap keluarga manakala mengetahui betapa tergila-gila pada bapak guru Sahidi.
Tidak mampu ditawar-tawar, maka berkecamuk keluarga besarnya memburu dan bukan saja berkeinginan untuk membunuh, bahkan pula kalau sekiranya bisa mencincang habis tubuhnya yang kecil kurus.
Dapat dibayangkan kalau seorang manusia mencincang manusia, bahkan mungkin pada jaman itu sudah hadir istilah mutilasi. Dapat dibayangkan kalau semua peristiwa itu terjadi, maka Sahidilah korban pertama yang mengecam homo homini lupus itu berlangsung.
Tapi memang demikianlah adanya kalau hidup ini dipenuhi segala sifat serigala, karena sesungguhnya serigala itu sendiri adalah Sahidi yang punya andil memulai hidupnya serigala-serigala lainnya yang dipaksa untuk ikut beringas.
Dan bahkan mungkin Sahidi-lah yang akan memulai sorotan itu seandainya bukan karena senggeger menyelamatkan hidupnya.
Sang pemburu memburu ular hijau. Sahidi licin bagai belut. Sembarang lobang dia masuki sebagai tempat persembunyian.
Sebagaimana kelihaiannya memburu lobang-lobang kegelapan setiap betina yang menjadi gelegak irama senggamanya nan tak lepas-lepas.
Tidak ada yang sisa. Semua lobang menjadi pelarian.
Para Keluarga yang siap menghakimi melepas geram.
Sahidi oh Sahidi
Sang guru dari jembatan kembar
Dari desa yang dulunya terpencil dari dunia pendidikan
Sang guru ketakutan terkencing-kencing.
Karena lamunannya pergi kelain hati, tentu pula menjadi keheranan segenap keluarga manakala mengetahui betapa tergila-gila pada bapak guru Sahidi.
Tidak mampu ditawar-tawar, maka berkecamuk keluarga besarnya memburu dan bukan saja berkeinginan untuk membunuh, bahkan pula kalau sekiranya bisa mencincang habis tubuhnya yang kecil kurus.
Dapat dibayangkan kalau seorang manusia mencincang manusia, bahkan mungkin pada jaman itu sudah hadir istilah mutilasi. Dapat dibayangkan kalau semua peristiwa itu terjadi, maka Sahidilah korban pertama yang mengecam homo homini lupus itu berlangsung.
Tapi memang demikianlah adanya kalau hidup ini dipenuhi segala sifat serigala, karena sesungguhnya serigala itu sendiri adalah Sahidi yang punya andil memulai hidupnya serigala-serigala lainnya yang dipaksa untuk ikut beringas.
Dan bahkan mungkin Sahidi-lah yang akan memulai sorotan itu seandainya bukan karena senggeger menyelamatkan hidupnya.
Sang pemburu memburu ular hijau. Sahidi licin bagai belut. Sembarang lobang dia masuki sebagai tempat persembunyian.
Sebagaimana kelihaiannya memburu lobang-lobang kegelapan setiap betina yang menjadi gelegak irama senggamanya nan tak lepas-lepas.
Tidak ada yang sisa. Semua lobang menjadi pelarian.
Para Keluarga yang siap menghakimi melepas geram.
Sahidi oh Sahidi
Sang guru dari jembatan kembar
Dari desa yang dulunya terpencil dari dunia pendidikan
Sang guru ketakutan terkencing-kencing.
Senin, 25 Oktober 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (16)
Tanpa perlu menjelaskan omzet hasil usaha dalam angka-angka manajemen yang memusingkan kepala. Manakala kebuntuan jadi penyumbat dalam dialogpun segala kemunikasinya tetap mendatangkan harmoni, karena perbedaan akan memberi warna pada setiap perjalanan rumah tangga. Sekali lagi, perbedaan selain memberi keindahan tetap merupakan aroma yang manis untuk dikecap kenikmatannya.
Dan kenikmatan itu sendiri malah disalah-artikan ketika mulai mengencani sang belia dari cinta yang bermula di sudut sebuah tata usaha sekolah.
Terkatung-katung dalam ketakberdayaan.
Cinta yang seterusnya berlanjut di luar dugaan, dari satu gadis, menuju dua wanita.
Entah cinta lepasan ataukah cinta sisa-sisa remahan.
Janda ataukah gadis sama saja dalam mengecap dahaga sesaat.
Dan inilah komunikasi tersumbat.
Belajar memahami seorang Ukang, menghampiri Heni, hingga melahirkan benih angan dalam percintaan sewot oleh di luar kehendak.
Seandainya Sahidi bak titah air soma para dewa yang dititahkan sang raja Saryati, begitulah Sahidi memulas warna mukanya seolah elok sang maha rsi Chyawana.
Merasa jadi muda kembali disaat-saat tiba masa tuanya. Serta merta merasa tua bercinta dalam asmaranya yang kelam.
Namun selalu menginginkan keabadaian Chyawana mengeram air soma. Menginginkan hari nan elok rupawan.
Berpikir demikian karena Sahidi bak raja Saryati yang mampu membelai ke empat ribu orang istri-istrinya.
Dan kenikmatan itu sendiri malah disalah-artikan ketika mulai mengencani sang belia dari cinta yang bermula di sudut sebuah tata usaha sekolah.
Terkatung-katung dalam ketakberdayaan.
Cinta yang seterusnya berlanjut di luar dugaan, dari satu gadis, menuju dua wanita.
Entah cinta lepasan ataukah cinta sisa-sisa remahan.
Janda ataukah gadis sama saja dalam mengecap dahaga sesaat.
Dan inilah komunikasi tersumbat.
Belajar memahami seorang Ukang, menghampiri Heni, hingga melahirkan benih angan dalam percintaan sewot oleh di luar kehendak.
Seandainya Sahidi bak titah air soma para dewa yang dititahkan sang raja Saryati, begitulah Sahidi memulas warna mukanya seolah elok sang maha rsi Chyawana.
Merasa jadi muda kembali disaat-saat tiba masa tuanya. Serta merta merasa tua bercinta dalam asmaranya yang kelam.
Namun selalu menginginkan keabadaian Chyawana mengeram air soma. Menginginkan hari nan elok rupawan.
Berpikir demikian karena Sahidi bak raja Saryati yang mampu membelai ke empat ribu orang istri-istrinya.
Jumat, 01 Oktober 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (11)
Dan seperti biasa di warung remaja ia berlaku. Warung lahan yang mudah buat merencakan niat busuknya. Dan rencana Sahidi mengalir lancer dalam kebusukan-kebusukan bak makanan yang masuk dalam liang lambungnya yang tak menyembunyikan kebusukan, namun mampu membius orang sekitarnya untuk lupa sesaat.
Tentu dia akan berlama-lama ke belakang sebelum menemani teman kencannya. Entah apa yang dilakukan di belakang. Sesaat lama keluar dengan binar yang tanpa sadar setelah sang wanita mencicipi hidangan itupun menjadi turut berbinar-binar melupakan latar belakang. Lalu tertawa bersama dan bersenda gurau dengan bahasa vokal mendekati vulgar. Lalu bercengkrama. Lalu saling cengkeram. Dan pada akhirnya sama-sama tidak menyandang status. Dan pada akhirnya membentuk garis lurus. Tidak membentuk norma lagi. Pada akhirnya sama-sama belajar mengigau. Tapi kalau seandainya dia tidak tunduk maka Sahidi menambah kegaiban spare-part lebih spesifik lagi, bila perlu dibuat hingga terlena lupa untuk membedakan mana daratan dan mana lautan. Mana hunian rumah serta lupa jalannya pulang. Inilah jurus kedua yang diterapkan pada setiap wanita yang tak mampu menolak asmara yang ditawarkan. Tak mampu ditawar tawar Tak mampu!!! Kembali pada masa-masa sebelum keemasan yang cerah.
Tentu dia akan berlama-lama ke belakang sebelum menemani teman kencannya. Entah apa yang dilakukan di belakang. Sesaat lama keluar dengan binar yang tanpa sadar setelah sang wanita mencicipi hidangan itupun menjadi turut berbinar-binar melupakan latar belakang. Lalu tertawa bersama dan bersenda gurau dengan bahasa vokal mendekati vulgar. Lalu bercengkrama. Lalu saling cengkeram. Dan pada akhirnya sama-sama tidak menyandang status. Dan pada akhirnya membentuk garis lurus. Tidak membentuk norma lagi. Pada akhirnya sama-sama belajar mengigau. Tapi kalau seandainya dia tidak tunduk maka Sahidi menambah kegaiban spare-part lebih spesifik lagi, bila perlu dibuat hingga terlena lupa untuk membedakan mana daratan dan mana lautan. Mana hunian rumah serta lupa jalannya pulang. Inilah jurus kedua yang diterapkan pada setiap wanita yang tak mampu menolak asmara yang ditawarkan. Tak mampu ditawar tawar Tak mampu!!! Kembali pada masa-masa sebelum keemasan yang cerah.
Senin, 27 September 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (10)
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI
(10)
Dan lelaki di hadapannya adalah sosok lelaki bertubuh kekar dan dinamis mengutarakan keinginan. “Engkau harus tunduk di hadapanku……..Engkau harus bercumbu denganku………” Dan segala sesuatunya berlanjut di luar kehendak. Selanjutnya wahai, wanita: engkau yang datang merayu-rayu. Menagih-nagih keinginan. Akan menjadi gila karenanya, manakala Sahidi sedemikian rupa bergelut dalam kesibukannya yang khas : menyapa setiap penjabat yang sarapan di warungnya yang elite dekat pelabuhan. Warung yang mampu menyulap pendatang menjadi ketagihan untuk datang menyantap berkali-kali segala keramahan yang ditawarkannya. Warungnyapun cukup khas dikenal dan hampir semua pejabat yang dibawanya berkenan mampir mencicipi negosiasinya.
Semuanya jadi relasi. Nama warung itu ‘Gadis Remaja’ yang semula remaja berhubung gaya penampilan Sahidi mirip don juan penakluk dara menjadi ada tambahan sinonim yang tidak terlalu menjolok namun ideal. Warung yang sangat sederhana buat lidah yang mewah. Selanjutnya datang kembali bersama wanita mengenalkan warungnya. Dan warung yang sesungguhnya pengelolaannya adalah masih menjadi milik keluarganya bagi lidah yang dating justru sangat mengesankan. Kalau di warung keluarga satunya dia datangi bersama teman kencannya yang bukan istrinya maka mereka pada berkilah : Eh, perek mana lagi yang kau bawa. Oh, kalimat sengak yang memang sudah menjadi tabiat Sahidi untuk dikomentari saudaranya.
Itu menandakan Sahidi dianggap suka membawa perek untuk dibawa mampir ke warungnya, selanjutnya disuguhkan pelet dalam campuran makanan secara diam-diam. Itu yang terjadi setelah dipikirkan berlama-lama meninggalkan tamunya ke ruang belakang.
(10)
Dan lelaki di hadapannya adalah sosok lelaki bertubuh kekar dan dinamis mengutarakan keinginan. “Engkau harus tunduk di hadapanku……..Engkau harus bercumbu denganku………” Dan segala sesuatunya berlanjut di luar kehendak. Selanjutnya wahai, wanita: engkau yang datang merayu-rayu. Menagih-nagih keinginan. Akan menjadi gila karenanya, manakala Sahidi sedemikian rupa bergelut dalam kesibukannya yang khas : menyapa setiap penjabat yang sarapan di warungnya yang elite dekat pelabuhan. Warung yang mampu menyulap pendatang menjadi ketagihan untuk datang menyantap berkali-kali segala keramahan yang ditawarkannya. Warungnyapun cukup khas dikenal dan hampir semua pejabat yang dibawanya berkenan mampir mencicipi negosiasinya.
Semuanya jadi relasi. Nama warung itu ‘Gadis Remaja’ yang semula remaja berhubung gaya penampilan Sahidi mirip don juan penakluk dara menjadi ada tambahan sinonim yang tidak terlalu menjolok namun ideal. Warung yang sangat sederhana buat lidah yang mewah. Selanjutnya datang kembali bersama wanita mengenalkan warungnya. Dan warung yang sesungguhnya pengelolaannya adalah masih menjadi milik keluarganya bagi lidah yang dating justru sangat mengesankan. Kalau di warung keluarga satunya dia datangi bersama teman kencannya yang bukan istrinya maka mereka pada berkilah : Eh, perek mana lagi yang kau bawa. Oh, kalimat sengak yang memang sudah menjadi tabiat Sahidi untuk dikomentari saudaranya.
Itu menandakan Sahidi dianggap suka membawa perek untuk dibawa mampir ke warungnya, selanjutnya disuguhkan pelet dalam campuran makanan secara diam-diam. Itu yang terjadi setelah dipikirkan berlama-lama meninggalkan tamunya ke ruang belakang.
Jumat, 24 September 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (9)
Air liurnyapun tak akan mau dia buang sembarang tempat, kendati lupa kalau sembarang membuang air benih, vitalnya yang terahasia congkak, bengkak dan dapat merekah namun, justru semakin dikenal rahim setiap wanita. Dan Sahidi sering lupa meluapkan kegembiraan manakala membuang air benihnya, sembarang waktu, dengan memilih tempat yang tidak sembarangan. Yang diajakpun suka. Bahkan sering meminta mendahului ajakannya. Wah, jadi jungkir balik. Sang wanita mengejar pria. Sang wanita menyodorkan kemauannya. Karena ketika ia menyadari zat-zat hidupnya yang bertebaran, orang akan menghitung, berapa zat yang telah sia-sia untuk menjadi jiwa manusia. Entahlah! Siapa yang mepedulikan zat hidupnya yang mengalir dalam benih kesia-siaan. Karena ia menganggap itu bukan limbah benih tersia-sia. Benih ia anggap mampu jadikan kompos selanjutnya ditata kembali sebagai bukan benih yang sia-sia. Karena merangkai masa depan betapa mampunya ia mengembangkan generasi. Itupun kalau sang waktu tidak berjalan mandul. Siapakah gerangan dia yang terlampau intim untuk mengenal setiap lekuk tubuhmu sang Sahidi yang merubah sukma bak Arjuna? Setiap wanita pasti akan merahasiakan lekuk-lekuk itu pada setiap lelaki yang tidak dia inginkan, namun tidak buat Sahidi ketika mengatakan dalam bahasa merdu: “Engkau harus mau……engkau harus mengikuti perkataanku!” Dan wanita rengkuhan akan mengangguk menatap Arjuna yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Serta meremang bayang-bayang lahirnya anak-anak matahari. Dalam ruang dan waktu. Meruang dalam percumbuan hasrat. Panas bergelut emosi.
Menggelora………
Menggelora………
Jumat, 23 Juli 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (5)
Maka berdialoglah dia, penuh dengan kepura-puraan. Banyak bohongnya kalau kita tahu. Karena memang benar-benar bohong. Seolah segala sesuatu adalah hal-hal yang sangat serius untuk dihadapi. Dia merasa masa depannya adalah sama milik setiap orang. Dia merupakan sebagian kecil dari sebagian besar masa depan orang-orang. Dan sorot matanya bernyawa dalam keinginan diam-diam. Sorot mata yang suatu saat akan belajar menenung. Segala sesuatu yang mewujudkan renungan. Ambisi yang diam-diam. Keinginan pelan-pelan yang selalu datang menggoda. Ambisi dalam menakar kesukaran hidup yang dihadapi saat itu. Sebagai seorang Sahidi muda adalah teduhnya laut hati bergemuruh di kedalaman sunyi. Karena hatinya sepi dalam lautan kemelaratan jiwa. Iya, hati yang melarat dan terlunta-lunta dalam hasrat belum sampai.
Sebagai seorang Sahidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya. Eiiit, jangan kaget begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai bahkan mungkin tak pernah singgah dalam dermaga pengharapan. Namun penampilanmu, hai, Sahidi bak berpelana sang petualang belum sampai. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Penampilan, ya berangan Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, kelahiran tak sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Sebagai seorang Sahidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya. Eiiit, jangan kaget begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai bahkan mungkin tak pernah singgah dalam dermaga pengharapan. Namun penampilanmu, hai, Sahidi bak berpelana sang petualang belum sampai. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Penampilan, ya berangan Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, kelahiran tak sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Selasa, 09 Maret 2010
PROSA BULAN
Malam pekat. Bayangan bulan tidak hadir di tanah, baru saja menghilang. Barangkali kalau bulan bisa bermimpi, tentu dia akan bermimpi, seperti kita. Barangkali dia akan tersenyum sehingga sinarnya yang cerah akan menghampiri dan kalau bisa tertawa, pasti dia akan terbahak-bahak menertawakan segala kekonyolan ini. Namun sejak tadi bulan bermimpi, dalam dekapan kalarahu. Kalarahu itu memang jahat. Dan bulan masih perawan. Ia tidak tahu, darimana harus memulai. Keletihan telah memberi buah kenyataan yang pahit bagi kehidupannya yang tak pernah memberikan alternatip lain, hanya sebuah kecemasan kecil dari kekalutan-kekalutannya yang kian besar, kian terombang-ambing waktu.
Ia rasakan itu.
“Aku telah menjadi kalut dari buah pikiranku sendiri. Terlalu takut untuk berhati-hati. Mengapa? Terpeleset sedikit ternyata akan dapat menjadikan aku manusia tidak utuh, manusia bentuk lain. Terpeleset sedikit, maka terjerumuslah aku dalam lembah gelap yang tak berbingkai, tidak berlensa. Terlalu takut aku untuk mati. Mungkin kematian yang akan membawa kedamaian selanjutnya dalam menyeberangi perjalanan malam-malamku, “ penatnya merintih, lebih dari segala kegalauan hatinya. Lebih dari semua kegamangan yang ada.
Ia mendesah perlahan dan secara perlahan-lahan pula dimasuki kamarnya yang serupa. Dinding-dinding, lantai dan langit-langit kamar bagi bayangan dari segala bentuk cermin kusam dan lembab. Diambilnya diam-diam buku kusam. Satu-persatu dibolak-balikkan, termakan matanya yang jalang, tak ubah membuka lembar demi lembar benang-benang yang pernah lekat di badan kekasihnya. Jalang ia mengubah bentuk buku lusuh yang merekam segala segala peristiwa perjalanan hidupnya sehari-hari dalam wujud cermin. Bah! Mungkin dia terlalu menganggap bahwa dirinya bercermin kembali dalam catatan-catatan harian masa lalunya.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” desisnya tajam, namun barangkali ia lebih menjatuhkan sasaran lain terhadap desis jeleknya. Ia bergerak.
Setiap pagi berjalan menyusuri lorong, menyusuri gang, menyusuri jalan-jalan setapak, entah kemana kaki membawa, barangkali dalam kemungkinan besar bertemu akherat di cermin. Bertemu sorga di cermin. Bertemu neraka di cermin bahkan mungkin kekasihnya ada di cermin. Entah cermin yang mana, dia bingung untuk mulai menata ulang hidupnya yang porak poranda oleh nasibnya yang selalu jahil menghakimi dirinya. Ia membantah pantulan wajah cermin itu telah merubah keberadaan kekasihnya yang telah hilang. Ternyata masih jauh juga. Teramat jauh. Sungguh benar-benar jauh! Begitu jauhnya kesempatan untuk dapat memperoleh perubahan terhadap kehidupannya yang sekarang, yang terlalu monoton dengan gerak langkah kehidupan baru yang lebih dinamis, penuh rangsangan bagi bathinya yang kehausan akan cinta yang sesungguhnya.
“kamu telah berubah kini,” komentar temannya suatu ketika.
“Rupakukah?”
“kau telah menjadi lain, kawan! Menjadi bentuk lain, menjadi manusia baru bagi segala perubahan-perubahan oleh keadaanmu.”
“O, tentu sebuah usia dan perjalanan. Mungkin kamu melihat jenjangnya saat ini, pada saat aku berdiri dalam posisi begini di hadapanmu. Memang kamu lihat kerut merut di wajahku. Ini sebuah proses. Rambutku, juga bagian dari proses. Tapi juga jangan lupa dengan langkahku yang kian pelan. Mungkin tanpa proses kalau langkah ini sudah terhenti sama sekali. Aku dalam kecemasan tak mampu untuk melangkah lagi. Kecemasan kecemasan untuk membuat sebuah dilema baru. Semuanya itu tak akan pernah menyembunyikan sebuah usia yang pernah muda memudar pada hari yang semakin senja. Lihat bulan! Tatap yang tajam. Bulan telah mati karena langkahku yang semakin surut. Coba lihat!”
“Bukan! Bukan itu maksudku,” ia membantah.
“Bulan itu demikian indahnya menawarkan cahayanya, hingga tubuhnya tak terbagi cahaya sama sekali. Tapi itu sungguh sulit untuk diterima, bahwa bulan itu telah mati, sudah tidak mampu bercerita lagi. Bulan sudah tak pernah bermimpi lagi.”
“Bukan kawan! Bukan itu……”
“Lalu?”
“Yah, seperti yang kulihat. Kamu yang biasanya hanya hadir sekadar jadi penonton dari sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung, kini malah terjadi yang sebaliknya. Kamu lebih banyak terjun langsung dan ikut meramaikan, memerankan salah satu tokoh dalam kehidupan ini.”
Ia tertawa, lalu mengutuk keadaan dirinya.
Peran? Peran dari sebagian manusia? Ha….Ha….ha….ha…., lucu sekali kedengarannya kalimat itu. Berarti dia telah menjadi manusia ke dua setelah puas melakoni segala perjalanan kehidupan sebelumnya, sebelum memasuki dunia kehidupan yang sesungguhnya? Terasa kian menggelitik kecemasan dan tiba-tiba ia lebih cemas, sangat cemas bahkan perasaan cemasnya terlampau berlebihan. Ini panggung sebuah lakon yang disinari cahaya bulan berwarna perak? Ini sebuah panggung lakon yang disinari cahaya bulan berwarna hijau? Ini sebuah panggung lakon yang disinari cahaya bulan berwarna merah yang dibakar darah? Ouw! Ini benar-benar sebuah lakon bulan yang tengah bersinarkan cahaya perak-hijau-merah yang berubah menjadi darah……..
Ia mencoba melihat bayangan dirinya di cermin buram dan berdebu.
Tidak pernah bersih dari lingkupnya waktu. Buram dan kusam. Gamang nan lembab. Gagal! Gagal barangkali memantulkan wajahnya. Buramnya memantulkan cahaya yang gagal akan wajah kekasihnya. Bulan dimanakah engkau kini? Kekusaman yang menggagalkan sebuah bentuk wajah. Kegamangan yang nyata. Tidak ada yang ajaib. Ini bukan dongeng tentang sebuah cermin yang mampu mengembalikan wajah kekasihnya, lalu bergerak-gerak, menari dan hoplaaaa…. Keluar dari cermin itu yang mula-mula bisa saja membentuk cahaya, membentuk guratan mata, membentuk alis yang tebal bak camar kecil, membentuk hidung yang indah, membentuk bibir yang kecil mungil. Ini bukan dongeng! Dan seperti bayi yang bari lahir, tidak dapat menemukan sesuatu yang mampu untuk dipakai sebagai pegangan kuat, barangkali hanya mampu menetek dan menetek secara berulang-ulang. Lalu seperti bayi meram-melek dalam dekapan yang pernah menjadi rumah rahim yang merahimi berjanin-janin cahaya cairan kenikmatan yang mengalir deras dalam tenggorokannya, lalu bermula seperti bayi, pulas dalam kepuasan jamannya dan kosong! Besok menetek lagi demikian seterusnya secara berulang-ulang, bersinambungan. Rahim sang pemilik yang pernah manjadi persinggahan suaranya yang kehausan, dengan tanpa tanggung jawab yang sesungguhnya, memberikan susu di luar susu dirinya. Ia menolak tanpa sadar, untuk pertama kalinya mengeluarkan suara membangkang penuh, untuk selanjutnya menggigit keras-keras putting susu rumah rahimnya yang pernah menjadi anak dari rahim sebenarnya. Akh! Lalu mati.
Menjadi rahim berikutnya, mencari berbagai bentuk yang cocok sebagai persinggahan dari awal dia memulai lahir bermula sebagai janin pewaris berikutnya, demikian seterusnya.
Ia mengacak-acak rambutnya di depan cermin. Selalu gagal menjadi menusia kembali. Manusia seutuhnya yang benar-benar utuh untuk sebutan seorang manusia. Ini Cermin batu, bukan kaca dari sebuah pantulan cahaya wajahnya yang hilang tak berbekas. Mana wajahku yang dungu? Mana kedunguan yang membentuk wajahku? Luluh hatinya melilit lender demi lender jatuh dari lengketan cermin yang menjadi kekasihnya, bekas pantulan sosok wajah seorang gadis sewaktu sama-sama bersekolah dulu.
Hari itu ketika ia memiliki sebuah kesempatan untuk mengatur kata-demi kata untuk memiliki keberanian mendatangi bulan.
“Bulan, aku datang!” dengan hentak kaki keras, ia tinggalkan kamar menganga dalam ribuan cahaya yang gelap memasuki relung hatinya yang telah padam. Kamar itu terbuka lebar-lebar dengan daun pintu tak jelas. Kamar tak berbingkai. Ia tinggalkan cermin buram penuh debu. Penuh bayangan mati tentang kematian. Penuh bayangan bulan tentang padamnya cahaya. Lagi-lagi darah dan kematian. Rumah itu masih seperti dulu, tidak ada perubahan sedikit-pun. Dan memang tidak ada yang perlu untuk di ubah. Masuk perlahan dengan pasti akan kebengongan masa lalu. Terbanglah bersama masa lalu. Bersama sang burung camar. Bersama suaranya nan memukau.
Bulan duduk merenda sutera dari ulat. Sepasang tangan yang halus. Jari nan lentik gemulai bergerak lincah. Memang lincah ia. Penuh cahaya kecintaan. Bulan merawat kembang-kembang yang tumbuh tanpa disiangi rembulan. Embunnya menguncup bunga memancarkan keharuman berlebih. Hingga merawat segala daki-dakinya, berikut kuman yang telah mengakar di tubuhnya. Bulan mengerucut. Gemersik asmara yang memandikan segala rupa keindahan taman sebuah rumah. Bulan merawat rumput-rumput yang basah yang barusan sempat diinjaknya. Penuh kasih sayang. Bulan menyediakan teh jahe hangat.
“Jangan kopi, katanya coffein kronis terhadap denyut jantung. Ha? Denyut sebelah mana? Coba tebak, bilik yang mana menyorotkan cahaya cinta kasih? Bilik mana yang menyembunyikan kebohongan? Atau dua-duanya adalah kebohongan yang senantiasa berdenyut pada setiap nadi tak jelas?
Bulan diam. Tanpa suara. Tiga jam berlalu, tanpa cerita. Bulan punya jantung kronis yang perlahan merambat waktu. Bulan tak pernah bercerita kematian. Lebih suka bermain usungan jenazah yang berakhir di sebuah kamar mayat. Atau lebih suka bermain sebagai tanah yang menimbun sosok yang bernama kematian. Terus siapa yang dia perankan sebagai sosok mayat itu? Bulan-kah? Waktu merambat pelan, merambat waktu-waktu yang tak bergeming lintasan cahaya selanjutnya pura-pura diam. Waktu yang menghentikan bulan untuk menyelesaikan candanya. Lalu jantung itu kering. Jantung itu layu. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada asmara. Tidak ada kebohongan. Segala bilik yang berdenyut dalam kediaman yang abadi untuk diam-diam pergi mencari musimnya. Hujan turun deras, sangat deras. Begitu lebatnya. Petir menyambar-nyambar, begitu dahsyatnya. Menyambar seakan sinar itu bukan sesuatu yang perlu untuk dicahayakan dalam pantulan air. Sekalipun memantul bukan sosok wajah yang jelas merubah Bulan. Langit yang hitam menutup matahari, begitu kelamnya. Akan yang jelaga, embun bening serupa air hujan menyerpih mencurahkan tanahnya dari atas langit, jasadnya bersembunyi di bumi. Baju dan seluruh badan bulan basah.
Jantungnya tetap kering. Kering, tak menyembunyikan kematian. Jantung yang menjasad gundukan tanah merah di makam. Ia acak-acak gundugan tanah kekasihnyabatu nisan yang tak bicara. Ia acak-acak berualng-ulang. Tidak menemukan secuil berita kematiannya., hanya gundukan tanah kering tanpa suara, tanpa cerita tanpa dongeng tentang perannya sebagai jasad yang menghuni sebuah kamar mayat di sudut rumah sakit. Sebagaimana yang pernah menjadi mainannya dalam setiap perannya, setiap lakon yang paling digandrungi. Semuanya tidak menjanjikan apa-apa. Ia beranjak pergi. Di simpang jalan, lagi-lagi ia bertemu temannya.
“kamu telah berubah kini.” Komentar ulang yang selalu berulang-ulang terdengar di telinganya yang sama.
“Tidak!”
“Ada sesuatu yang kamu cari, sedangkan dirimu tengah dicari-cari sesuatu. Ada yang diam-diam mengintip keberadaanmu. Kamu toh malah berbalik lari. Kamu melupakan sebuah peranan penting. Peranan yang sangat berarti dalam hidupmu kelak dikemudian hari.”
Peran? Lagi-lagi peran. Apa artinya itu? Ia menggeleng sendiri, sebab terasa sulit untuk menemukan dirinya kembali, lebih-lebih peranan yang dirasakan begitu samara. Begitu gamang. Dengan berkacamata, peranan itu sesungguhnya kebisuan yang memperalat dirinya di lembah lenggang, tanpa penghuni. Berarti ia tidak punya peranan sama sekali dalam segala hal, dalam semua kehidupannya. Karenanya ia demikian pasif, mandeg, dan semuanya mencari kemana-mana.
“Ya, justru karena itu aku mengembara kemana-mana, ke semua tempat yang aku suka. Semua itu aku lakukan untuk mengenal siapa sesungguhnya diriku ini. Apakah aku sudah menemukan diriku? Entah aku tengah berada dimana? Siapakah aku itu? Dan sang maut itu kini jadi milik siapa? Aku jelajahi hutan dan gunung, tetap sama saja. Setiap rumah aku datangi, tidak peduli rumah rakyat jelata ataupun rumah pembesar negeri, semuanya memiliki cerita masing-masing. Cerita yang sangat khas kentara dari penghuninya masing-masing. Tidak ada peranan yang sangat istimewa. Rasanya tetap seperti yang dulu, seperti pada masa-masa aku masih bergelut dalam kesibukan hingga bermuara pada keletihan yang mengakhiri dalam kekosongan. Kehampaan tak jelas!”
Ia marah, kentara marahnya. Dalam kemarahan itu melampiaskan arti kekecewaan akan keadaan. Keadaan yang tak jelas. Ia kecewa, kentara kecewanya. Marah-kecewa-marah-kecewa demikian seterusnya secara berulang-ulang, silih berganti, patah tumbuh hilang bergayut!
Malam pekat. Hujan reda. Timbul bayangan dalam air, jatuh di aspal jalanan, memantulkan sinar, memantul-mantul dirinya. Nah, ini dia ketemu! Wujudnya menjadi gembira. Ia kembali berubah, kembali jadi hamba baying, jadi cermin, berbalik jadi cahaya. Bayangan dirinya selalu berubah dalam pantulan cahaya, air yang selalu bermain-main dalam kemarahannya. Tak ubahnya seorang anak kecil yang bermain-main dalam sisa-sisa genangan air, begitulah dia. Setiap lekuknya ia injak sesukanya. Mengumpat sesukanya. Memaki semaunya! Sepanjang jalan ia berteriak-teriak, ia injak kembali, menciptakan cipratan cahaya memantul di toko-toko pinggir jalanan, jadi cermin memantul. Itu cerminnya, ia injak kembali sesukanya berteriak dalam setiap umpatan yang membelah malam, kecahayaannya berkeping-keping jatuh menimpa warung, ia injak kembali. Ia gusar. Sangat gusar. Halaman warung ia injak. Semampu nasib menginjak dirinya. Ah, nasib tak jelas, sesekali ia memaki dirinya. Orang-orang yang mendengar hanya melongo. Orang-orang yang melihat hanya geleng-geleng. Orang-orang mulai menyingkir, menjauh, takut kena injakan kakinya yang keras. Diinjaknya berulangkali, jatuh di gedung megah ciniplek kota. Diinjaknya, jatuh di pasar yang kian gelap. Diinjaknya, jatuh di baju pengemis yang robek-robek. Ah, bualan kosong! Diinjaknya jatuh di pelataran pura. Ah, sandi-sandi Tuhan! Aku yang murtad, yang dihakimi dalam doa bisu tak sampai-sampai.
Bulaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnn,!!!!!!!!!!!!! bisakah engkau bermimpi?
Langganan:
Postingan (Atom)
