yang sebelumnya sangat tidak dia percayai. Salah satu upaya melalui tutuh untuk membangkitkan bio-energi inilah yang membuat kesadarannya perlahan-lahan pulih.
”Tuhan maha bijak. Tuhan maha pengasih. Tuhan adalah dokter jiwa yang membedah pikiranku dari segala pengaruh setan berupa senggeger yang selama ini mendekam dalam otak dan menjalar pada setiap sel demi sel tubuhku. Terimakasih Tuhan. Engkau telah kembalikan hidupku yang pernah hilang, dari segala doa-doa yang seharusnya kupanjatkan buatMu, ya Tuhan. Terimakasih atas berkah ini. Pengaruh senggeger ini sempat membuat aku lupa akan doa yang pernah engkau ajarkan. Jangan beri maaf manusia pecundang yang laknat itu, yang telah membuat hidupku hancur. Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
Kamis, 12 Agustus 2010
NEGERI SENGGEGER (1)
Di negeri ini orang orang berkumpul merapal angin
daun daun tak bergerak oleh derai sepoi gadis lugu
orang-orang memahami dosa bahwa kerling godaan sesaat mampu membunuh sepi
membunuh angan-angan yang dijanjikan gemerlap cahaya kota yang konon terlihat benderang dari sudut desa yang pengap dalam tanda tanda
disini aku akan berjalan tanpa kenangan, mampir kemana maunya siapa tahu jumpa hati yang tertinggal sekadar untuk mampir di salah satu bilik hatiku yang masih melompong
tak kubuat kau dengan kata-kata yang selalu dapat menanggalkan mimpimu hingga lupa waktu sampai setiap saat terlena untuk menyebut perjumpaan kita
karena ketika hatimu telah penuh terungkap masih kau sisakan buatku
selama engkau masih menginginkan
di negeri ini senantiasa aku belajar menyihir hati setiap wanita yang melintas
dalam dosa yang lain
hingga daun menghentikan geraknya pada arah angin yang berbeda
daun daun tak bergerak oleh derai sepoi gadis lugu
orang-orang memahami dosa bahwa kerling godaan sesaat mampu membunuh sepi
membunuh angan-angan yang dijanjikan gemerlap cahaya kota yang konon terlihat benderang dari sudut desa yang pengap dalam tanda tanda
disini aku akan berjalan tanpa kenangan, mampir kemana maunya siapa tahu jumpa hati yang tertinggal sekadar untuk mampir di salah satu bilik hatiku yang masih melompong
tak kubuat kau dengan kata-kata yang selalu dapat menanggalkan mimpimu hingga lupa waktu sampai setiap saat terlena untuk menyebut perjumpaan kita
karena ketika hatimu telah penuh terungkap masih kau sisakan buatku
selama engkau masih menginginkan
di negeri ini senantiasa aku belajar menyihir hati setiap wanita yang melintas
dalam dosa yang lain
hingga daun menghentikan geraknya pada arah angin yang berbeda
Jumat, 23 Juli 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (5)
Maka berdialoglah dia, penuh dengan kepura-puraan. Banyak bohongnya kalau kita tahu. Karena memang benar-benar bohong. Seolah segala sesuatu adalah hal-hal yang sangat serius untuk dihadapi. Dia merasa masa depannya adalah sama milik setiap orang. Dia merupakan sebagian kecil dari sebagian besar masa depan orang-orang. Dan sorot matanya bernyawa dalam keinginan diam-diam. Sorot mata yang suatu saat akan belajar menenung. Segala sesuatu yang mewujudkan renungan. Ambisi yang diam-diam. Keinginan pelan-pelan yang selalu datang menggoda. Ambisi dalam menakar kesukaran hidup yang dihadapi saat itu. Sebagai seorang Sahidi muda adalah teduhnya laut hati bergemuruh di kedalaman sunyi. Karena hatinya sepi dalam lautan kemelaratan jiwa. Iya, hati yang melarat dan terlunta-lunta dalam hasrat belum sampai.
Sebagai seorang Sahidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya. Eiiit, jangan kaget begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai bahkan mungkin tak pernah singgah dalam dermaga pengharapan. Namun penampilanmu, hai, Sahidi bak berpelana sang petualang belum sampai. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Penampilan, ya berangan Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, kelahiran tak sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Sebagai seorang Sahidi muda, adalah guru muda yang kenes merapal ilmu-ilmu buat siswanya. Eiiit, jangan kaget begitu melihat para siswi-siswi yang mendadak begitu pintar bergincu di hadapannya. Hasrat yang hampir sampai bahkan mungkin tak pernah singgah dalam dermaga pengharapan. Namun penampilanmu, hai, Sahidi bak berpelana sang petualang belum sampai. Seolah merasa berdiri di altar megah dalam singgasana bersepuh emas. Berbaju sutera dengan menggamit segala keinginan dalam berbagai rencana. Penampilan, ya berangan Arjuna memancar pesona. Namun apa daya, kelahiran tak sebatas kemampuan rahim bunda yang mengisyaratkan keterbatasan. Belenggu ketakberdayaan. Bahkan mungkin mengeram mental tak jelas.
Kamis, 22 Juli 2010
KECIAL KUNING (9) (malam yang hilang)
Kau menangis dalam tawa yang kosong
mendapatkan malam bergincu
tanpa tembang bulan menghias langit malam
meruntuhkan bunga-bunga di atas tanah meninggalkan bercak aroma buatan
harumnya sesaat menakar janji tak pasti
malam tak berwarna
bulan hitam
membentur bayang bayang gelap
Kau masih tetap menangis
tanpa airmata
mendapatkan malam bergincu
tanpa tembang bulan menghias langit malam
meruntuhkan bunga-bunga di atas tanah meninggalkan bercak aroma buatan
harumnya sesaat menakar janji tak pasti
malam tak berwarna
bulan hitam
membentur bayang bayang gelap
Kau masih tetap menangis
tanpa airmata
Selasa, 20 Juli 2010
NASIHAT KATA
Ibu itu menasihati anaknya:
“Nak, kalau tahun ini penghargaan pengabdiamu dari perusahaan tempatmu bekerja tidak keluar, ikhlaskanlah. Karena sekian banyak pekerja lebih banyak mengabdi kata-kata dengan lidahnya. Nak, kalau kamu ingin mengabdi dengan kata-kata pula sebagaimana kebanyakan orang-orang, ingatlah dan camkan pesan ibumu ini : mengabdilah dengan benar lewat kata-kata dalam nurani yang jelas. Karena engkau kulahirkan ke dunia ini bukan untuk menghitung peluh yang tidak sia-sia telah kau keluarkan buat anak-anakmu!”
Anak itu mengingatkan ibunya:
“Bunda, tahun ajaran baru ingat belikan aku sepatu baru, baju baru, celana baru, ikat pinggang baru dan buku baru. Jangan lupa bayarkan uang komite, uang asuransi sekolah yang tak jelas dan uang pembangunan. Bunda, kalau tidak punya uang, pinjam dulu. Karena aku malu tidak sekolah gara-gara tidak ada uang kendati aku sadar datang ke sekolah seperti mendatangi butik di awal PSB”
Ibunya membujuk suaminya:
“pakne, kalau tidak ada jalan lain cari uang buat sekolah anak, kasbon dululah di perusahaanmu dan banyak-banyak berdoa agar rejeki secara berlipat-lipta segera jatuh dari langit. Karena berdoa jauh lebih baik ketimbang korupsi!”
Dan suaminya mengangguk serta memperbaiki lidahnya agar tidak salah omong, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati atasan, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati ibunya, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati para leluhurnya, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati Tuhannya : berharap keberuntungan lebih bersahabat lagi dengannya.
Istrinya senang melihat suaminya sudah mulai pintar memperbaiki lidah berujar yang benar bahwa untuk memperbaiki nasib pendidikan anaknya tergantung pada cara kerja yang benar di setiap gerakan lidah suaminya yang memuntahkan kata-kata manis. Hanya tinggal mengajarkan suaminya bagaimana cara bermuka-muka yang benar dan santun manakala berhadapan dengan atasan. Menekankan suaminya untuk lebih sering bersilaturahmi pada atasan agar bisa mengeruk keuntungan pribadi.
“Nak, kalau tahun ini penghargaan pengabdiamu dari perusahaan tempatmu bekerja tidak keluar, ikhlaskanlah. Karena sekian banyak pekerja lebih banyak mengabdi kata-kata dengan lidahnya. Nak, kalau kamu ingin mengabdi dengan kata-kata pula sebagaimana kebanyakan orang-orang, ingatlah dan camkan pesan ibumu ini : mengabdilah dengan benar lewat kata-kata dalam nurani yang jelas. Karena engkau kulahirkan ke dunia ini bukan untuk menghitung peluh yang tidak sia-sia telah kau keluarkan buat anak-anakmu!”
Anak itu mengingatkan ibunya:
“Bunda, tahun ajaran baru ingat belikan aku sepatu baru, baju baru, celana baru, ikat pinggang baru dan buku baru. Jangan lupa bayarkan uang komite, uang asuransi sekolah yang tak jelas dan uang pembangunan. Bunda, kalau tidak punya uang, pinjam dulu. Karena aku malu tidak sekolah gara-gara tidak ada uang kendati aku sadar datang ke sekolah seperti mendatangi butik di awal PSB”
Ibunya membujuk suaminya:
“pakne, kalau tidak ada jalan lain cari uang buat sekolah anak, kasbon dululah di perusahaanmu dan banyak-banyak berdoa agar rejeki secara berlipat-lipta segera jatuh dari langit. Karena berdoa jauh lebih baik ketimbang korupsi!”
Dan suaminya mengangguk serta memperbaiki lidahnya agar tidak salah omong, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati atasan, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati ibunya, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati para leluhurnya, agar lebih hormat dan pintar mengambil hati Tuhannya : berharap keberuntungan lebih bersahabat lagi dengannya.
Istrinya senang melihat suaminya sudah mulai pintar memperbaiki lidah berujar yang benar bahwa untuk memperbaiki nasib pendidikan anaknya tergantung pada cara kerja yang benar di setiap gerakan lidah suaminya yang memuntahkan kata-kata manis. Hanya tinggal mengajarkan suaminya bagaimana cara bermuka-muka yang benar dan santun manakala berhadapan dengan atasan. Menekankan suaminya untuk lebih sering bersilaturahmi pada atasan agar bisa mengeruk keuntungan pribadi.
Jumat, 16 Juli 2010
HARI MENJELANG ULANG TAHUN (I)
Wajahmu pasti mengembang membayangkan hari bercahaya
terpendar kegembiraan dalam dahaga bertahun-tahun
akan datangnya sebuah harapan, dalam penantian panjang
entah siapa yang mampu mengubah
segalanya dapat saja berubah, karena itu mauku
akan datangnya sebuah harapan, wajahmu pasti terang
membayangkan hadiah yang bakal kau terima
wajahmu pasti terang pula
bak terang bulan malam hari di kaki lima sepanjang trotoar
membayangkan wajahmu ceria menggenggam sebuah piagam
engkau bermimpi menggenggam lembaran kertas purna bakti
yang seandainya engkau terima persis di hari jadinya
yang semestinya akan engkau laminating di sebuah warung foto copy
dan kau pacakan di tembok dengan kata-kata angker:
“inilah bukti pengabdianku yang telah sekian lama, wahai ruang kantorku!”
sekian lama 25 tahun silam
sekian lama hampir berjalan tahun tahun ke duapuluh-enam
ketika anak-anakmu belum lahir hingga sekolah, hingga belajar mencakar cakar rejeki
di atas tanah
atau mungkin, harapan tinggal harapan
yang dikubur di dalam tanah kesia-sia : pahatan batu nisan
terpendar kegembiraan dalam dahaga bertahun-tahun
akan datangnya sebuah harapan, dalam penantian panjang
entah siapa yang mampu mengubah
segalanya dapat saja berubah, karena itu mauku
akan datangnya sebuah harapan, wajahmu pasti terang
membayangkan hadiah yang bakal kau terima
wajahmu pasti terang pula
bak terang bulan malam hari di kaki lima sepanjang trotoar
membayangkan wajahmu ceria menggenggam sebuah piagam
engkau bermimpi menggenggam lembaran kertas purna bakti
yang seandainya engkau terima persis di hari jadinya
yang semestinya akan engkau laminating di sebuah warung foto copy
dan kau pacakan di tembok dengan kata-kata angker:
“inilah bukti pengabdianku yang telah sekian lama, wahai ruang kantorku!”
sekian lama 25 tahun silam
sekian lama hampir berjalan tahun tahun ke duapuluh-enam
ketika anak-anakmu belum lahir hingga sekolah, hingga belajar mencakar cakar rejeki
di atas tanah
atau mungkin, harapan tinggal harapan
yang dikubur di dalam tanah kesia-sia : pahatan batu nisan
SEKOLAH MENJADI PASAR KAIN
Di awal PSB sekolah sekolah telah berubah menjadi pasar
Menjual kain, baju, celana, topi dan segala jenis asesoris
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi juga bercoleteh tentang mutu kain yang berkualitas
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi sudah berkalkulasi dagang dalam proteksi jiwa
Pintar menganalisa angka-angka dalam prosentase pembelian dalam melipatkan keuntungan
Dan mahir menulis kuitansi asuransi jiwa anak anak
Dan orang tua siswapun berebutan merogoh dompet.
Segala jenis kocek atasnama pendidikan adalah mutu
Berapapun biayanya yang penting anak-anak pintar
Kalau tidak punya uang jangan sekolah
Kendati berutang jangan malu jadi pintar
Sekolah telah menjadi distributor kain yang lengkap.
Untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Menjual kain, baju, celana, topi dan segala jenis asesoris
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi juga bercoleteh tentang mutu kain yang berkualitas
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi sudah berkalkulasi dagang dalam proteksi jiwa
Pintar menganalisa angka-angka dalam prosentase pembelian dalam melipatkan keuntungan
Dan mahir menulis kuitansi asuransi jiwa anak anak
Dan orang tua siswapun berebutan merogoh dompet.
Segala jenis kocek atasnama pendidikan adalah mutu
Berapapun biayanya yang penting anak-anak pintar
Kalau tidak punya uang jangan sekolah
Kendati berutang jangan malu jadi pintar
Sekolah telah menjadi distributor kain yang lengkap.
Untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Langganan:
Postingan (Atom)
