dari pemikiran-pemikiran aneh penuh tanda-tanya tak terjawab. Karena memang tidak membutuhkan suatu jawaban yang pasti. Karena senyumnya tidak memberikan jawaban.
”Kita sudah sepakat dengan kakakmu itu untuk bikin gek senang,” hanya itu kata-kata yang pernah keluar dari mbok. Ucapan penuh skenario terencana. Ada suatu rahasia yang disembunyikan dalam kehidupan mereka. Rina lama-lama menjadi heran dengan kata-kata yang dikeluarkan istri kakaknya.
”Tapi bagaimana perasaan mbok yang sesungguhnya? Coba katakan yang jujur” Rina mengejar.
Mbok hanya senyum-senyum penuh misteri.
”Rasa senang yang bagaimana, mbok?” Rina bertanya lagi penuh kepolosan seorang anak-anak.
”Nanti juga gek akan mengerti,” akhirnya lelaki itu menjawab ringan. Mencairkan kekakuan yang tengah terjadi untuk menghindari debat panjang antara sesama wanita.
”Gek sendiri senang ’kan datang kemari?” istri kakaknya menimpali dengan pertanyaan.
”Iya jelas dong. Ini juga ’kan rumah kakak sebagai saudara kita.” Rina menjawab sangat lugu. Jawaban yang apa adanya itu kontan membuat Badra dan istrinya tertawa terpingkal-pingkal. Eh, Rina terbengong-bengong, kenapa mereka tertawa? Apa yang mereka tertawakan dengan jawabnnya? Apa ada yang lucu?
Rina garuk-garuk kepala. Terlihat lucu di mata lelaki itu. Terkesan kekanak-kanakan.
”Kakakmu ini senang melihat gek mau main-main ke rumah,” Badra menjelaskan sembari mencuwil pipinya gemas. Rina membiarkan tangan nakal itu walau ada rasa risih yang tidak mampu ditutupi di hadapan istri kakaknya. Mbok seperti biasa melihat kejadian itu tanpa ekspresi. Seperti itu hal yang biasa terjadi. Rina jadi jengah karenanya. Seperti terkesan lelaki ini tidak menghargai istrinya dengan keisengan tangannya yang tidak mengenal sopan santun sama sekali.
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Mei 2011
Sabtu, 30 April 2011
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 39 )
Rina kaget dan berteriak sambil menoleh ke samping. Tapi dilihat wajah mbok datar-datar saja sambil pura-pura membuang muka, seolah-olah merelakan kejadian itu tetangkap matanya. Atau memang pura-pura tidak tahu? Tidak mau tahu? Atau tidak ingin sampai menangkap basah kejadian itu? Atau barangkali ada yang disembunyikan dari sikapnya mbok?
Ada rasa janggal dalam peristiwa ini. Rina tidak tahu kenapa semua ini terjadi begitu saja. Dipaksa untuk membayangkan wajah bli Nyoman, malah bayangan itu kian jauh berlari. Dalam bayangannya, bli Nyoman seperti jual mahal dan berlari menjauhinya. Bli nyoman...bli Nyoman, kenapa bayanganmu kini hilang perlahan dalam hidupku? Kenapa?
Setiap membayangkan wajah suaminya selalu saja wajah Badra bermain-main di pelupuk mata hingga memenuhi rongga hati paling dalam. Ada apa ini? Apa yang tengah terjadi? Dia tidak tahu. Berulang kali akan dikatakan, bahwa ini tidak boleh terjadi, namun ada kekuatan lain yang menarik tubuh ini untuk tetap bertahan dengan kekuatan-kekuatannya yang aneh. Rina berusaha untuk mengatakan ini tidak boleh terjadi. Rina sudah memiliki seorang suami, namun berkali-kali bayangan suaminya selalu ada dalam pancaran rasa bersalah, tersudutkan dan penuh dengan bentuk kekurangan-kekurangan yang sangat mengecewakan hatinya.
Dan selalu saja wajah lelaki itu yang lebih kuat menarik dan membetot perhatiannya. Rina merasa tidak kuat dalam perlawanan bathin, seperti melawan ribuan kekuatan tak nampak. Namun apa daya, dia tetaplah seorang wanita. Tidak ada kekuatan yang mampu untuk membentur-benturkan ketakberdayaan ini. Tidak ada kekuatan lain untuk dapat melawan. Karena dia hanyalah seorang wanita biasa.
Seringkali tanpa ditemani suaminya yang selalu sibuk, Rina menyempatkan diri datang ke rumah kakaknya. Selalu disuguhkan segelas teh yang khusus dibuatkan oleh Badra. Karena haus, Rina langsung main srudut saja sepuas-puasnya. Hmm..,enak juga
Ada rasa janggal dalam peristiwa ini. Rina tidak tahu kenapa semua ini terjadi begitu saja. Dipaksa untuk membayangkan wajah bli Nyoman, malah bayangan itu kian jauh berlari. Dalam bayangannya, bli Nyoman seperti jual mahal dan berlari menjauhinya. Bli nyoman...bli Nyoman, kenapa bayanganmu kini hilang perlahan dalam hidupku? Kenapa?
Setiap membayangkan wajah suaminya selalu saja wajah Badra bermain-main di pelupuk mata hingga memenuhi rongga hati paling dalam. Ada apa ini? Apa yang tengah terjadi? Dia tidak tahu. Berulang kali akan dikatakan, bahwa ini tidak boleh terjadi, namun ada kekuatan lain yang menarik tubuh ini untuk tetap bertahan dengan kekuatan-kekuatannya yang aneh. Rina berusaha untuk mengatakan ini tidak boleh terjadi. Rina sudah memiliki seorang suami, namun berkali-kali bayangan suaminya selalu ada dalam pancaran rasa bersalah, tersudutkan dan penuh dengan bentuk kekurangan-kekurangan yang sangat mengecewakan hatinya.
Dan selalu saja wajah lelaki itu yang lebih kuat menarik dan membetot perhatiannya. Rina merasa tidak kuat dalam perlawanan bathin, seperti melawan ribuan kekuatan tak nampak. Namun apa daya, dia tetaplah seorang wanita. Tidak ada kekuatan yang mampu untuk membentur-benturkan ketakberdayaan ini. Tidak ada kekuatan lain untuk dapat melawan. Karena dia hanyalah seorang wanita biasa.
Seringkali tanpa ditemani suaminya yang selalu sibuk, Rina menyempatkan diri datang ke rumah kakaknya. Selalu disuguhkan segelas teh yang khusus dibuatkan oleh Badra. Karena haus, Rina langsung main srudut saja sepuas-puasnya. Hmm..,enak juga
Selasa, 01 Februari 2011
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 38 )
”Aneh juga! Aku kan sudah punya suami dan sudah mempunyai anak-anak dan Badra juga sudah memiliki istri dan anak-anak yang sedang tumbuh remaja. Aku tidak mau kejadian seperti yang pernah kualami bersama Edo harus terulang lagi. Aku tidak mau!” berulangkali muncul sebuah penolakan halus dalam dirinya. Namun sebaliknya kalau mau jujur Rina sesungguhnya tersanjung dengan pujian dan rayuannya, itu memang tidak bisa dipungkiri. Seharusnya suaminya yang mengeluarkan pujian buatnya. Kenapa sih bli nyoman pelit untuk hal-hal itu.
” Bli nyoman.... kenapa bukan dikau yang memujiku? Katakanlah aku cantik, tubuhku sexy atau katakan apa saja yang menyenangkan hati, aku pasti akan memujamu. Ya, paling tidak dalam seminggu berikan aku kemesraan. Bukan hanya dberikan oleh-oleh kesibukan yang demikian sarat dari kantor. Ah..bli nyoman..!” Rina terkadang mengeluh dengan pikiran-pikiran menelangsakan kekecewaan hati seorang istri. Kenapa mesti segala pujian ini datangnya dari kakaknya sendiri. Kakaknya yang baru dijumpai dalam hidupnya? Dan kenapa lelaki itu seringkali menelpon berjam-jam mengajak bicara. Rina merasa ada sesuatu yang menyenangkan dalam percakapan itu. Ada kemesraan bermain-main dalam kata-katanya.
Rina kembali merasakan bagaimana saat-saat remaja dulu sewaktu indahnya masa-masa pacaran? Apakah gairah pubernya yang kedua muncul kembali? Ah, benarkah itu? Apakah tidak salah hatinya mengatakan demikian? Dan entah kenapa ada perasaan kuat yang menarik dirinya untuk sering dan ada keinginan untuk selalu datang menemui lelaki itu. Seperti ada sebuah kekuatan aneh yang mengharuskan untuk tetap menghubunginya, mendatangi rumahnya ataupun keinginan-keinginan untuk menelpon. Wajahnya terlihat bercahaya dan sangat tampan. Ataukah hanya tertumpu pada angka 3 juta yang tidak jelas juntrungnya? Meminta atau meminjam tanpa bunga atau kompensasi? Pernah dia dirangkul dan dicium secara tiba-tiba saat ada mbok di rumah.
” Bli nyoman.... kenapa bukan dikau yang memujiku? Katakanlah aku cantik, tubuhku sexy atau katakan apa saja yang menyenangkan hati, aku pasti akan memujamu. Ya, paling tidak dalam seminggu berikan aku kemesraan. Bukan hanya dberikan oleh-oleh kesibukan yang demikian sarat dari kantor. Ah..bli nyoman..!” Rina terkadang mengeluh dengan pikiran-pikiran menelangsakan kekecewaan hati seorang istri. Kenapa mesti segala pujian ini datangnya dari kakaknya sendiri. Kakaknya yang baru dijumpai dalam hidupnya? Dan kenapa lelaki itu seringkali menelpon berjam-jam mengajak bicara. Rina merasa ada sesuatu yang menyenangkan dalam percakapan itu. Ada kemesraan bermain-main dalam kata-katanya.
Rina kembali merasakan bagaimana saat-saat remaja dulu sewaktu indahnya masa-masa pacaran? Apakah gairah pubernya yang kedua muncul kembali? Ah, benarkah itu? Apakah tidak salah hatinya mengatakan demikian? Dan entah kenapa ada perasaan kuat yang menarik dirinya untuk sering dan ada keinginan untuk selalu datang menemui lelaki itu. Seperti ada sebuah kekuatan aneh yang mengharuskan untuk tetap menghubunginya, mendatangi rumahnya ataupun keinginan-keinginan untuk menelpon. Wajahnya terlihat bercahaya dan sangat tampan. Ataukah hanya tertumpu pada angka 3 juta yang tidak jelas juntrungnya? Meminta atau meminjam tanpa bunga atau kompensasi? Pernah dia dirangkul dan dicium secara tiba-tiba saat ada mbok di rumah.
Kamis, 18 November 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 11 )
Mbak Widia memiliki pehatian yang sangat besar menyangkut hidupnya yang dilanda kemelut. Ia begitu kasihan melihat apa yang tengah menimpa dirinya. Indranya yang ke enam memang agak tajam mengamati apa yang sedang dialaminya. Mbak Widia masih berdarah bangsawan keturunan brahmana. Orang pertama yang mengatakan dirinya kena pelet, tidak dia percayai sama sekali. Rina sudah tidak mempercayai kata-kata suaminya sendiri. Entah kenapa bisa begitu. Begitu hebatnya pengaruh haji Saidi dalam senggegernya hingga sangat kuat mempengaruhi hidupnya untuk melupakan suaminya sendiri.
Ketika mbak Widia mengatakan hal yang sama persis seperti apa yang pernah dikatakan suaminya tentang senggeger, ada sedikit dorongan yang muncul dari dalam dirinya sendiri untuk mencari penyembuhan. Rina ingat satu tempat yang pernah ditunjukkan seseorang tentang sebuah ashram di daerah Karangasem, Bali. Rina mengemukakan itu kepada temannya. Ada niat untuk mengunjungi tempat itu. Namun rencana itu dia undurkan berhubung masih menunggu persalinan adik iparnya yang menjadi tanggung jawabnya mengenai pembiayaan. Setelah itu mungkin rencananya akan merayakan hari ulang tahunnya haji Saidi, karena Rina diharapkan untuk hadir menemani harinya yang sangat spesial. Namun dorongan mbak Widia lebih kuat memaksakan dirinya untuk bergegas melakukan pengobatan.
”Jangan menunda waktu lagi, mbak Rin” itu kata-katanya mbak Widia yang tidak mau dibantah.
Rina akhirnya mengikuti saran temannya setelah beberapa hari kemudian keponakannya lahir. Lepas sudah satu beban tanggung jawab dalam hidupnya. Pertama-tama ia disarankan untuk membersihkan diri ke pantai sebelum melakukan perjalanan ke ashram yang dimaksud. Tidak ingat betul apakah ini saran mbak Widia ataukah dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan pembersihan diri ke pantai.
Ketika mbak Widia mengatakan hal yang sama persis seperti apa yang pernah dikatakan suaminya tentang senggeger, ada sedikit dorongan yang muncul dari dalam dirinya sendiri untuk mencari penyembuhan. Rina ingat satu tempat yang pernah ditunjukkan seseorang tentang sebuah ashram di daerah Karangasem, Bali. Rina mengemukakan itu kepada temannya. Ada niat untuk mengunjungi tempat itu. Namun rencana itu dia undurkan berhubung masih menunggu persalinan adik iparnya yang menjadi tanggung jawabnya mengenai pembiayaan. Setelah itu mungkin rencananya akan merayakan hari ulang tahunnya haji Saidi, karena Rina diharapkan untuk hadir menemani harinya yang sangat spesial. Namun dorongan mbak Widia lebih kuat memaksakan dirinya untuk bergegas melakukan pengobatan.
”Jangan menunda waktu lagi, mbak Rin” itu kata-katanya mbak Widia yang tidak mau dibantah.
Rina akhirnya mengikuti saran temannya setelah beberapa hari kemudian keponakannya lahir. Lepas sudah satu beban tanggung jawab dalam hidupnya. Pertama-tama ia disarankan untuk membersihkan diri ke pantai sebelum melakukan perjalanan ke ashram yang dimaksud. Tidak ingat betul apakah ini saran mbak Widia ataukah dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan pembersihan diri ke pantai.
Jumat, 12 November 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 10 )
”Pulanglah dik, nanti aku jemput. Ayu sedang sakit, sekarang sedang opname di rumah sakit. Tengoklah dia. Dia mengiggau dan sangat merindukan kehadiranmu,” sekali lagi laki-laki itu memohon dengan memperalat pikiran Rina melalui anaknya Ayu yang diketahui hubungannya sangat dekat dengannya. Selalu saja Ayu dimanfaatkan sebagai senjata untuk melemahkan pertahanan Rina yang rapuh. Karena gadis kecil itu demikian akrab dengannya sewaktu dia masih dalam pengaruh senggeger. Dan berulang kali lelaki itu selalu menyebut-nyebut nama anaknya yang ke dua.
Rina mengernyitkan alisnya yang berbentuk indah. Bak burung camar melintas. Lama-lama kesal dengan kecengengan ini. Telinganya jadi gatal oleh celoteh haji Saidi yang memuakkan.
”Ayu? Hmmm... apa hubungannya denganku. Mamanya ’kan masih ada? Ada yang lebih berhak mengurus hidupnya. Bukan aku?! Aku juga punya anak yang selama ini telah kutelantarkan kebahagiaannya. Aku lebih berhak buat anak-anakku. Urus sendiri anakmu pak haji!” desis Rina tajam memberi jarak.
Ketika sudah mulai suntuk dalam aktifitas ashram, pernah nama anak itu disebut-sebut. Dalam masa transisi proses pengobatan sedang berlangsung, terlebih di tempat yang terisolir ini sempat Rina terpengaruh dan menghubungi mbak Widia, menyarankan temannya untuk mewakili menengok anak itu. Kata haji Saidi anaknya lagi opname di rumah sakit. Entah ini cerita sungguhan atau hanya rekayasanya orang itu.
” Hati-hati gek. Biasanya orang yang berperawakan pendek itu banyak akalnya. Bli perhatikan sekilas matanya seperti menyembunyikan kelicikan.” Pernah Rina diingatkan dengan kata-kata demikian oleh suaminya.
Mbak Widia ini adalah tetangga dekatnya yang sama-sama satu profesi sebagai pengusaha salon dan juga bergerak dalam kegiatan lembaga pelatihan kursus kecantikan, seperti yang dia kerjakan. Mbak Widia inilah orang ke dua setelah suaminya mengatakan hal yang sama mengenai kejadian yang menimpa dirinya.
Rina mengernyitkan alisnya yang berbentuk indah. Bak burung camar melintas. Lama-lama kesal dengan kecengengan ini. Telinganya jadi gatal oleh celoteh haji Saidi yang memuakkan.
”Ayu? Hmmm... apa hubungannya denganku. Mamanya ’kan masih ada? Ada yang lebih berhak mengurus hidupnya. Bukan aku?! Aku juga punya anak yang selama ini telah kutelantarkan kebahagiaannya. Aku lebih berhak buat anak-anakku. Urus sendiri anakmu pak haji!” desis Rina tajam memberi jarak.
Ketika sudah mulai suntuk dalam aktifitas ashram, pernah nama anak itu disebut-sebut. Dalam masa transisi proses pengobatan sedang berlangsung, terlebih di tempat yang terisolir ini sempat Rina terpengaruh dan menghubungi mbak Widia, menyarankan temannya untuk mewakili menengok anak itu. Kata haji Saidi anaknya lagi opname di rumah sakit. Entah ini cerita sungguhan atau hanya rekayasanya orang itu.
” Hati-hati gek. Biasanya orang yang berperawakan pendek itu banyak akalnya. Bli perhatikan sekilas matanya seperti menyembunyikan kelicikan.” Pernah Rina diingatkan dengan kata-kata demikian oleh suaminya.
Mbak Widia ini adalah tetangga dekatnya yang sama-sama satu profesi sebagai pengusaha salon dan juga bergerak dalam kegiatan lembaga pelatihan kursus kecantikan, seperti yang dia kerjakan. Mbak Widia inilah orang ke dua setelah suaminya mengatakan hal yang sama mengenai kejadian yang menimpa dirinya.
Rabu, 10 November 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 9 )
Rina yakin lelaki itu tidak mampu mencerna tiga keinginan yang dia ungkapkan. Semudah itukah haji Saidi membalikkan kata-katanya sendiri? Padahal barusan lelaki itu menceritakan tentang kejelekan istrinya sendiri. Barusan dia meminta saran padanya bagaimana caranya untuk mengenyahkan istrinya yang dianggap selalu menjengkelkan. Lelaki itu menanyakan, entah merupakan pertanyaan pancingan dengan mengatakan dimana bisa di tunjukkan orang pintar. Haji Saidi ingin membunuh istrinya sendiri.
”Kalau bisa saya ingin memberikan racun dalam makanannya, dik. Biar langsung meninggal.” Itu kata-kata yang dia keluarkan barusan. Oh, sadis sekali! Dan sekarang semudah itu dia mengatakan untuk menyanggupi tiga hal yang Rina inginkan. Akankah seseorang yang punya rencana jahat ingin membunuh istrinya sendiri secara tiba-tiba pada wanita lain berkata berbeda untuk menyanggupi menyayangi, menghargai apalagi akan melindungi?
”Itu sih sangat mudah sekali, dik” lagi dia dengar suara lelaki itu.
”Mudah? Bukankah barusan pak haji mengatakan padaku merencanakan akan membunuh istri pak haji sendiri?” Rina membalikkan ucapan laki-laki itu.
Tak terdengar suara di seberang. Barangkali kaget mendengar ucapan Rina yang tiba-tiba datangnya. Menghujam bagaikan belati.
”Seandainya nanti aku harus memilih pak haji sebagai suami, terus kalau pak haji sudah bosan, aku yakin pak haji akan memperlakukan hal yang sama seperti istri-istri pak haji sebelumnya. Kamu pasti akan membunuhku juga ’kan? ”
”Ah, tidak mungkin itu dik” Suara lelaki itu terdengar kacau.
”Aku berada di sini atas kehendakku. Biarkan aku menemukan jati diriku di sini sebelum menentukan pilihan, mana orang-orang yang bisa dipercaya. Untuk saat ini aku tidak bisa mempercayai siapa-siapa. Suami sendiripun belum bisa aku percaya. Entah siapa yang benar dalam hal ini, aku belum tahu. Aku belum siap untuk kembali sebelum mengetahui siapa sesungguhnya yang bisa aku percaya!”
”Kalau bisa saya ingin memberikan racun dalam makanannya, dik. Biar langsung meninggal.” Itu kata-kata yang dia keluarkan barusan. Oh, sadis sekali! Dan sekarang semudah itu dia mengatakan untuk menyanggupi tiga hal yang Rina inginkan. Akankah seseorang yang punya rencana jahat ingin membunuh istrinya sendiri secara tiba-tiba pada wanita lain berkata berbeda untuk menyanggupi menyayangi, menghargai apalagi akan melindungi?
”Itu sih sangat mudah sekali, dik” lagi dia dengar suara lelaki itu.
”Mudah? Bukankah barusan pak haji mengatakan padaku merencanakan akan membunuh istri pak haji sendiri?” Rina membalikkan ucapan laki-laki itu.
Tak terdengar suara di seberang. Barangkali kaget mendengar ucapan Rina yang tiba-tiba datangnya. Menghujam bagaikan belati.
”Seandainya nanti aku harus memilih pak haji sebagai suami, terus kalau pak haji sudah bosan, aku yakin pak haji akan memperlakukan hal yang sama seperti istri-istri pak haji sebelumnya. Kamu pasti akan membunuhku juga ’kan? ”
”Ah, tidak mungkin itu dik” Suara lelaki itu terdengar kacau.
”Aku berada di sini atas kehendakku. Biarkan aku menemukan jati diriku di sini sebelum menentukan pilihan, mana orang-orang yang bisa dipercaya. Untuk saat ini aku tidak bisa mempercayai siapa-siapa. Suami sendiripun belum bisa aku percaya. Entah siapa yang benar dalam hal ini, aku belum tahu. Aku belum siap untuk kembali sebelum mengetahui siapa sesungguhnya yang bisa aku percaya!”
Selasa, 09 November 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 8 )
”Ayolah! Ikut aku dik. Segalanya akan kuberikan padamu” Haji Saidi memelas melepas janji setengah menangis penuh harap. Lelaki yang miskin kasih sayang. Lelaki yang kekurangan cinta. Lelaki yang sempurna dengan kerapuhannya.
”Terus kalau seandainya Aku harus memilih pak haji, apa yang akan kamu berikan padaku?” Rina memancing.
”Apa yang adik mau? Harta berupa rumah? tanah? Uang? Semuanya akan aku berikan.” Suara itu menjawab cepat.
Rina tersenyum sinis.
”Aku tidak minta itu!”
”Terus apa yang adik mau?”
”Aku hanya minta tiga hal. Apakah pak haji sanggup menyayangi, melindungi dan menghargaiku?”
”Oooo, kalau hanya itu yang adik minta mudah. Gampang itu. Sangat mudah ” suara yang terdengar di seberang demikian ringannya. Semakin membuat Rina tersenyum sinis. Lebih sinis dari biasanya kalau terlihat di hadapan lelaki itu. Tiga permintaannya itu dianggap mudah? Semudah apa? Inilah laki-laki yang terlalu gampang mengumbar janji. Rina tidak percaya kata-kata lelaki itu.
”Tidak mudah lho pak haji. Ini lebih berat dari harta berupa rumah, tanah ataupun uang yang kamu janjikan. Rina tidak yakin itu.”
”Kenapa?”
”Karena tiga permintaan yang aku ajukan itu sesungguhnya sangat susah untuk dilakukan. Tidak semudah menggeluarkan kata-kata.”
Terdengar suara mendehem. Suara yang biasa dia kenal. Tanpa makna sama sekali. Entah lagi berusaha menjampi-jampi. Seperti yang biasa dilakukan padanya sewaktu masih di bawah pengaruh ilmu itu.
Novel :
”Terus kalau seandainya Aku harus memilih pak haji, apa yang akan kamu berikan padaku?” Rina memancing.
”Apa yang adik mau? Harta berupa rumah? tanah? Uang? Semuanya akan aku berikan.” Suara itu menjawab cepat.
Rina tersenyum sinis.
”Aku tidak minta itu!”
”Terus apa yang adik mau?”
”Aku hanya minta tiga hal. Apakah pak haji sanggup menyayangi, melindungi dan menghargaiku?”
”Oooo, kalau hanya itu yang adik minta mudah. Gampang itu. Sangat mudah ” suara yang terdengar di seberang demikian ringannya. Semakin membuat Rina tersenyum sinis. Lebih sinis dari biasanya kalau terlihat di hadapan lelaki itu. Tiga permintaannya itu dianggap mudah? Semudah apa? Inilah laki-laki yang terlalu gampang mengumbar janji. Rina tidak percaya kata-kata lelaki itu.
”Tidak mudah lho pak haji. Ini lebih berat dari harta berupa rumah, tanah ataupun uang yang kamu janjikan. Rina tidak yakin itu.”
”Kenapa?”
”Karena tiga permintaan yang aku ajukan itu sesungguhnya sangat susah untuk dilakukan. Tidak semudah menggeluarkan kata-kata.”
Terdengar suara mendehem. Suara yang biasa dia kenal. Tanpa makna sama sekali. Entah lagi berusaha menjampi-jampi. Seperti yang biasa dilakukan padanya sewaktu masih di bawah pengaruh ilmu itu.
Novel :
Sabtu, 06 November 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 7 )
Dan Rina mengikuti prosesi agni hotra hingga larut malam berlanjut di dalam kamar ashram hingga tersungkur tidur bersama mimpi-mimpi dan harapan-harapannya yang pernah hilang.
Pagi membuka kembali.
Suasana yang diawali oleh dinginnya hawa embun pagi Ashram Ratu Bagus.
Sesungguhnya Rina bukan tidak sengaja terdampar di tempat ini. Tindakannya tidak seenaknya seorang diri pergi begitu saja meninggalkan suami. Meninggalkan anak-anaknya yang masih butuh teman bercanda di kala penat usai melepas segala rutinitas. Meninggalkan rumah selama berhari-hari.
”Aku harus mencari jawaban dari semua kejadian-kejadian yang menimpa hidupku. Disini!” desisnya berulang-ulang, di kala rasa percaya dirinya yang hilang.
Rina merasakan kenyataan hidup masa remaja sebelumnya dan setelah beberapa tahun berumah tangga sangat jauh berbeda. Entah apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Rina hanya tersenyum kecut tidak percaya ketika suaminya mengatakan dirinya telah dipelet seseorang. Ah, cerita dari mana itu? Benarkah sampai separah itu? Masak sih Rina kena pelet? Apa benar masih ada yang suka bermain pelet dalam kehidupan yang sudah sangat modern ini?
”Ayolah dik, pulang! Ngapain lama-lama disana? Buang-buang waktu saja. Aku sangat merindukanmu,” berkali-kali lelaki itu menghubunginya lewat ponsel. Lagi-lagi haji Saidi. Suara cengeng laki-laki yang tak tahu malu. Edan! Suka-sukanya dan sangat kurang ajar punya niat tidak baik ingin merebut istri orang. Huh!
”Tidak bisa! Aku disini tidak ada yang memaksa. Siapapun tidak ada yang boleh mengatur hidupku dan mempertanyakan aku harus berada dimana. Semua yang aku lakukan atas kehendakku sendiri. Bukan kehendak siapa-siapa. Pak hajipun tidak berhak lagi mengatur hidupku” Rina menolak dengan kata-kata yang cukup tegas.
Pagi membuka kembali.
Suasana yang diawali oleh dinginnya hawa embun pagi Ashram Ratu Bagus.
Sesungguhnya Rina bukan tidak sengaja terdampar di tempat ini. Tindakannya tidak seenaknya seorang diri pergi begitu saja meninggalkan suami. Meninggalkan anak-anaknya yang masih butuh teman bercanda di kala penat usai melepas segala rutinitas. Meninggalkan rumah selama berhari-hari.
”Aku harus mencari jawaban dari semua kejadian-kejadian yang menimpa hidupku. Disini!” desisnya berulang-ulang, di kala rasa percaya dirinya yang hilang.
Rina merasakan kenyataan hidup masa remaja sebelumnya dan setelah beberapa tahun berumah tangga sangat jauh berbeda. Entah apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Rina hanya tersenyum kecut tidak percaya ketika suaminya mengatakan dirinya telah dipelet seseorang. Ah, cerita dari mana itu? Benarkah sampai separah itu? Masak sih Rina kena pelet? Apa benar masih ada yang suka bermain pelet dalam kehidupan yang sudah sangat modern ini?
”Ayolah dik, pulang! Ngapain lama-lama disana? Buang-buang waktu saja. Aku sangat merindukanmu,” berkali-kali lelaki itu menghubunginya lewat ponsel. Lagi-lagi haji Saidi. Suara cengeng laki-laki yang tak tahu malu. Edan! Suka-sukanya dan sangat kurang ajar punya niat tidak baik ingin merebut istri orang. Huh!
”Tidak bisa! Aku disini tidak ada yang memaksa. Siapapun tidak ada yang boleh mengatur hidupku dan mempertanyakan aku harus berada dimana. Semua yang aku lakukan atas kehendakku sendiri. Bukan kehendak siapa-siapa. Pak hajipun tidak berhak lagi mengatur hidupku” Rina menolak dengan kata-kata yang cukup tegas.
Rabu, 27 Oktober 2010
Novel : SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 6 )
Tubuhnya kemarin sempat terguling-guling, terpental beberapa meter dengan kepala membentur kursi. Hingga siang ini rasa pusing di kepala belum hilang akibat benturan itu.
Acara yang kedua ini berakhir hingga jam empat sore hari dilanjutkan dengan mandi sore. Rina punya alasan tersendiri juga di samping sering kelolosan tidur pada jam ke dua. Proses tutuh yang dilakukan di ashram dalam sehari saja bisa dilakukan dua sampai tiga kali. Itu semuanya tergantung dari ketahanan tubuh masing-masing. Rina nggak usah ditanya, kalau soal tutuh bisa saja dia lari menghindar. Sehingga memilih jadwal ketiga setelah makan malam yang dimulai jam tujuh sampai dengan jam sepuluh malam. Dia hanya akan mengalami sekali tutuh untuk selanjutnya kembali melakukan meditasi sampai jam sepuluh malam.
Satu jam setelahnya dilanjutkan dengan melakukan kegiatan agni hotra mengelilingi api suci di antara kayu bakar dengan ritual membentuk lingkaran secara bergantian mengelilingi disertai nyanyian puja-puji untuk Dewi Agni. Agni hotra dilakukan di halaman luar ashram.
Agni hotra dilakukan setiap malam tujuannya untuk memuliakan Dewa Ciwa, memohon keselamatan, kekuatan beliau dengan meminta apa yang menjadi harapan-harapan ataupun keinginan-keinginan kita agar terkabul.
Malam hari, setiap agni hotra berlangsung hingga jam sebelas malam, Rina senantiasa memohon terkabulkan harapannya untuk dapat lepas dari pengaruh ilmu pelet yang telah memporak-porandakan dan menghilangkan rasa percaya pada siapapun. Rasa percaya pada suamipun telah hilang dibuatnya. Rina mohon atas kemuliaan Dewa Ciwa untuk dapat dikembalikan lagi hari-harinya dalam kebahagiaan hidup bersama keluarga.
”Ya, Dewa Ciwa, atas kemuliaanmu hamba memohon, kembalikanlah hidup hamba ke jalan yang benar dan jauhkan hamba dari segala perbuatan kotor. Kembalikan diri hamba pada keluarga hamba yang demikian mengasihi dan menyayangi hamba.....”
Acara yang kedua ini berakhir hingga jam empat sore hari dilanjutkan dengan mandi sore. Rina punya alasan tersendiri juga di samping sering kelolosan tidur pada jam ke dua. Proses tutuh yang dilakukan di ashram dalam sehari saja bisa dilakukan dua sampai tiga kali. Itu semuanya tergantung dari ketahanan tubuh masing-masing. Rina nggak usah ditanya, kalau soal tutuh bisa saja dia lari menghindar. Sehingga memilih jadwal ketiga setelah makan malam yang dimulai jam tujuh sampai dengan jam sepuluh malam. Dia hanya akan mengalami sekali tutuh untuk selanjutnya kembali melakukan meditasi sampai jam sepuluh malam.
Satu jam setelahnya dilanjutkan dengan melakukan kegiatan agni hotra mengelilingi api suci di antara kayu bakar dengan ritual membentuk lingkaran secara bergantian mengelilingi disertai nyanyian puja-puji untuk Dewi Agni. Agni hotra dilakukan di halaman luar ashram.
Agni hotra dilakukan setiap malam tujuannya untuk memuliakan Dewa Ciwa, memohon keselamatan, kekuatan beliau dengan meminta apa yang menjadi harapan-harapan ataupun keinginan-keinginan kita agar terkabul.
Malam hari, setiap agni hotra berlangsung hingga jam sebelas malam, Rina senantiasa memohon terkabulkan harapannya untuk dapat lepas dari pengaruh ilmu pelet yang telah memporak-porandakan dan menghilangkan rasa percaya pada siapapun. Rasa percaya pada suamipun telah hilang dibuatnya. Rina mohon atas kemuliaan Dewa Ciwa untuk dapat dikembalikan lagi hari-harinya dalam kebahagiaan hidup bersama keluarga.
”Ya, Dewa Ciwa, atas kemuliaanmu hamba memohon, kembalikanlah hidup hamba ke jalan yang benar dan jauhkan hamba dari segala perbuatan kotor. Kembalikan diri hamba pada keluarga hamba yang demikian mengasihi dan menyayangi hamba.....”
Kamis, 12 Agustus 2010
SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 3 )
yang sebelumnya sangat tidak dia percayai. Salah satu upaya melalui tutuh untuk membangkitkan bio-energi inilah yang membuat kesadarannya perlahan-lahan pulih.
”Tuhan maha bijak. Tuhan maha pengasih. Tuhan adalah dokter jiwa yang membedah pikiranku dari segala pengaruh setan berupa senggeger yang selama ini mendekam dalam otak dan menjalar pada setiap sel demi sel tubuhku. Terimakasih Tuhan. Engkau telah kembalikan hidupku yang pernah hilang, dari segala doa-doa yang seharusnya kupanjatkan buatMu, ya Tuhan. Terimakasih atas berkah ini. Pengaruh senggeger ini sempat membuat aku lupa akan doa yang pernah engkau ajarkan. Jangan beri maaf manusia pecundang yang laknat itu, yang telah membuat hidupku hancur. Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
”Tuhan maha bijak. Tuhan maha pengasih. Tuhan adalah dokter jiwa yang membedah pikiranku dari segala pengaruh setan berupa senggeger yang selama ini mendekam dalam otak dan menjalar pada setiap sel demi sel tubuhku. Terimakasih Tuhan. Engkau telah kembalikan hidupku yang pernah hilang, dari segala doa-doa yang seharusnya kupanjatkan buatMu, ya Tuhan. Terimakasih atas berkah ini. Pengaruh senggeger ini sempat membuat aku lupa akan doa yang pernah engkau ajarkan. Jangan beri maaf manusia pecundang yang laknat itu, yang telah membuat hidupku hancur. Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
