Peparikan : DG. Kumarsana
KASMARANING PAKSI
Paksi punyah puun uluh sunia
buka nyaksiang taru majejer di bucun telagane
langite engketan belus
ulian ambune kabebelan sunaran masunar galang
ane sinah makeber nekepin surya
ulap lan saru
ngilang gremeng
Angin ngisis
nakep keneh rikala ia dengeh nyengenget gelayah-gelayah
nekepin kendel, ngengkebang kenjel
di pangapiane
nganti keles
kampidne buka katih nigtig keneh
pasarean anyar, dadi ulian
newek mangipi
dadi-ke?
Kaborbor kasmaraning, njadsad
galang ulian pangipian tuh maboya-boya
kanistayang
paksi ne kone ala ayu pajalan paksi.......!?
ilang puun kasmaraning
abu sang paksi angen gelu gelu
sadina-dina
Minggu, 26 September 2010
NEGERI SENGGEGER (2)
Di negeri ini pula orang orang belajar memahami suara angin yang keluar dari bulir-bulir mantra dedaunan serta suara-suara kecipak sayap kecial penggoda
tanah sudah menjadi pelepah asing dari sisa-sisa masa lalu di atas kuburan demi kuburan yang dibangkitkan para ruh
setiap ruh yang linglung mencari tubuhnya ketika hidup pernah merapal naskah bejat untuk membuat dara limbung tujuh keliling lupa mahkotanya yang dipetik sembarang pejantan sesuka hati melambai-lambai tanpa menawarkan cinta
(cinta tak selalu menjajakan kebahagiaan)
kita belum bisa memutuskan arah mana langkah yang sesungguhnya
negeri ini negeri ringkih kuda bertahta birahi
tanah berwarna legam
hitam berdarah
berbaur dalam berbagai keinginan iseng untuk menaklukan kesunyian sebagai sebuah persinggahan menghibur kenikmatan sesaat, mengubur segala kelu
tanah sudah menjadi pelepah asing dari sisa-sisa masa lalu di atas kuburan demi kuburan yang dibangkitkan para ruh
setiap ruh yang linglung mencari tubuhnya ketika hidup pernah merapal naskah bejat untuk membuat dara limbung tujuh keliling lupa mahkotanya yang dipetik sembarang pejantan sesuka hati melambai-lambai tanpa menawarkan cinta
(cinta tak selalu menjajakan kebahagiaan)
kita belum bisa memutuskan arah mana langkah yang sesungguhnya
negeri ini negeri ringkih kuda bertahta birahi
tanah berwarna legam
hitam berdarah
berbaur dalam berbagai keinginan iseng untuk menaklukan kesunyian sebagai sebuah persinggahan menghibur kenikmatan sesaat, mengubur segala kelu
Sabtu, 25 September 2010
SEKUNI KETAR KETIR MERABA SENTIR (2)
Sekarang Sekuni sibuk membangun kabinet baru
dari rasa resah ditinggal mahaprabu Duryudana
bernama kabinet jitu memainkan rekening dalam lidah
kendati ditinggal penguasa kesayangannya tetap menjaga kondisi tubuh
tidak ramping karena kemiskinan mengatur celah baru
atau kegemukan ketahuan menipu serta merugikan orang lain
Kabinet Sekuni sibuk mencari cara menyelamatkan diri
bermuka-muka dalam berbagai profesi
tapi dari dulu hingga kini Sekuni tetap kurus, bahkan
bathinnya gemuk oleh kepuasan merajah bathin orang
dan lidahnya bercabang tiga
dari rasa resah ditinggal mahaprabu Duryudana
bernama kabinet jitu memainkan rekening dalam lidah
kendati ditinggal penguasa kesayangannya tetap menjaga kondisi tubuh
tidak ramping karena kemiskinan mengatur celah baru
atau kegemukan ketahuan menipu serta merugikan orang lain
Kabinet Sekuni sibuk mencari cara menyelamatkan diri
bermuka-muka dalam berbagai profesi
tapi dari dulu hingga kini Sekuni tetap kurus, bahkan
bathinnya gemuk oleh kepuasan merajah bathin orang
dan lidahnya bercabang tiga
Paparikan : DG Kumarsana BUKA YEHMATAN I MEME
Salianan ujan apa ane madan yeh?
tresna palekadan yehmata : karasa uyah
lebar puun klebutan
kasutresnan kisut lan lawas
kejokan tuuh bawak, ane sanglir sayan grindem
“duh, meme to ngudiang keten-keten natakin bulan!”
dini buka pianak mapineh nampi tresnan I meme
lianan sakadi yehmata nadi baan klebutan
mamung ring manah
me, lianan kaping ujan apa kone ane madan yeh?
meme tuah anggut-anggut: Embud ulian tresna pasranting
nista kalara-lara
mapiarsa suara-suara ning ring jagat
meme kadirasa ngetisin manah
tresna mentik ulian gedeg
rikala I meme ilang
rikala yeh mata I meme ngetelang rah
sane maang rasa tan pauyah
kasutresnan
tresna palekadan yehmata : karasa uyah
lebar puun klebutan
kasutresnan kisut lan lawas
kejokan tuuh bawak, ane sanglir sayan grindem
“duh, meme to ngudiang keten-keten natakin bulan!”
dini buka pianak mapineh nampi tresnan I meme
lianan sakadi yehmata nadi baan klebutan
mamung ring manah
me, lianan kaping ujan apa kone ane madan yeh?
meme tuah anggut-anggut: Embud ulian tresna pasranting
nista kalara-lara
mapiarsa suara-suara ning ring jagat
meme kadirasa ngetisin manah
tresna mentik ulian gedeg
rikala I meme ilang
rikala yeh mata I meme ngetelang rah
sane maang rasa tan pauyah
kasutresnan
Jumat, 24 September 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (9)
Air liurnyapun tak akan mau dia buang sembarang tempat, kendati lupa kalau sembarang membuang air benih, vitalnya yang terahasia congkak, bengkak dan dapat merekah namun, justru semakin dikenal rahim setiap wanita. Dan Sahidi sering lupa meluapkan kegembiraan manakala membuang air benihnya, sembarang waktu, dengan memilih tempat yang tidak sembarangan. Yang diajakpun suka. Bahkan sering meminta mendahului ajakannya. Wah, jadi jungkir balik. Sang wanita mengejar pria. Sang wanita menyodorkan kemauannya. Karena ketika ia menyadari zat-zat hidupnya yang bertebaran, orang akan menghitung, berapa zat yang telah sia-sia untuk menjadi jiwa manusia. Entahlah! Siapa yang mepedulikan zat hidupnya yang mengalir dalam benih kesia-siaan. Karena ia menganggap itu bukan limbah benih tersia-sia. Benih ia anggap mampu jadikan kompos selanjutnya ditata kembali sebagai bukan benih yang sia-sia. Karena merangkai masa depan betapa mampunya ia mengembangkan generasi. Itupun kalau sang waktu tidak berjalan mandul. Siapakah gerangan dia yang terlampau intim untuk mengenal setiap lekuk tubuhmu sang Sahidi yang merubah sukma bak Arjuna? Setiap wanita pasti akan merahasiakan lekuk-lekuk itu pada setiap lelaki yang tidak dia inginkan, namun tidak buat Sahidi ketika mengatakan dalam bahasa merdu: “Engkau harus mau……engkau harus mengikuti perkataanku!” Dan wanita rengkuhan akan mengangguk menatap Arjuna yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Serta meremang bayang-bayang lahirnya anak-anak matahari. Dalam ruang dan waktu. Meruang dalam percumbuan hasrat. Panas bergelut emosi.
Menggelora………
Menggelora………
Kamis, 12 Agustus 2010
SENGGEGER KECIAL KUNING JARAN GUYANG ( 3 )
yang sebelumnya sangat tidak dia percayai. Salah satu upaya melalui tutuh untuk membangkitkan bio-energi inilah yang membuat kesadarannya perlahan-lahan pulih.
”Tuhan maha bijak. Tuhan maha pengasih. Tuhan adalah dokter jiwa yang membedah pikiranku dari segala pengaruh setan berupa senggeger yang selama ini mendekam dalam otak dan menjalar pada setiap sel demi sel tubuhku. Terimakasih Tuhan. Engkau telah kembalikan hidupku yang pernah hilang, dari segala doa-doa yang seharusnya kupanjatkan buatMu, ya Tuhan. Terimakasih atas berkah ini. Pengaruh senggeger ini sempat membuat aku lupa akan doa yang pernah engkau ajarkan. Jangan beri maaf manusia pecundang yang laknat itu, yang telah membuat hidupku hancur. Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
”Tuhan maha bijak. Tuhan maha pengasih. Tuhan adalah dokter jiwa yang membedah pikiranku dari segala pengaruh setan berupa senggeger yang selama ini mendekam dalam otak dan menjalar pada setiap sel demi sel tubuhku. Terimakasih Tuhan. Engkau telah kembalikan hidupku yang pernah hilang, dari segala doa-doa yang seharusnya kupanjatkan buatMu, ya Tuhan. Terimakasih atas berkah ini. Pengaruh senggeger ini sempat membuat aku lupa akan doa yang pernah engkau ajarkan. Jangan beri maaf manusia pecundang yang laknat itu, yang telah membuat hidupku hancur. Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
NEGERI SENGGEGER (1)
Di negeri ini orang orang berkumpul merapal angin
daun daun tak bergerak oleh derai sepoi gadis lugu
orang-orang memahami dosa bahwa kerling godaan sesaat mampu membunuh sepi
membunuh angan-angan yang dijanjikan gemerlap cahaya kota yang konon terlihat benderang dari sudut desa yang pengap dalam tanda tanda
disini aku akan berjalan tanpa kenangan, mampir kemana maunya siapa tahu jumpa hati yang tertinggal sekadar untuk mampir di salah satu bilik hatiku yang masih melompong
tak kubuat kau dengan kata-kata yang selalu dapat menanggalkan mimpimu hingga lupa waktu sampai setiap saat terlena untuk menyebut perjumpaan kita
karena ketika hatimu telah penuh terungkap masih kau sisakan buatku
selama engkau masih menginginkan
di negeri ini senantiasa aku belajar menyihir hati setiap wanita yang melintas
dalam dosa yang lain
hingga daun menghentikan geraknya pada arah angin yang berbeda
daun daun tak bergerak oleh derai sepoi gadis lugu
orang-orang memahami dosa bahwa kerling godaan sesaat mampu membunuh sepi
membunuh angan-angan yang dijanjikan gemerlap cahaya kota yang konon terlihat benderang dari sudut desa yang pengap dalam tanda tanda
disini aku akan berjalan tanpa kenangan, mampir kemana maunya siapa tahu jumpa hati yang tertinggal sekadar untuk mampir di salah satu bilik hatiku yang masih melompong
tak kubuat kau dengan kata-kata yang selalu dapat menanggalkan mimpimu hingga lupa waktu sampai setiap saat terlena untuk menyebut perjumpaan kita
karena ketika hatimu telah penuh terungkap masih kau sisakan buatku
selama engkau masih menginginkan
di negeri ini senantiasa aku belajar menyihir hati setiap wanita yang melintas
dalam dosa yang lain
hingga daun menghentikan geraknya pada arah angin yang berbeda
Langganan:
Postingan (Atom)
