Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Minggu, 07 Maret 2010

MALAM SUCI



Pernahkah kau dengar suara bisiknya ketika membayang roh ini sampai di akhirat
pada arah mana jalan yang kau tuju dalam kebenaran
dalam pelayaran ketika kita masih hidup dalam gelombangnya
memasuki pintu pertama, roh siapa yang menunggu paling depan
ataukah kita masih memiliki sebuah nama akan karma yang terbawa sebelumnya
sesungguhnya pelayaran ini semakin jauh meninggalkan tujuan
pernahkah kau dengar apa pintanya?
pernahkah mendengar jawabnya

Sekalipun telah terucap dalam berbagai kitab agama
negeri yang terpilah dalam kitab suci
banyak puisi lahir disini menanam kata demi kata bak jamur kehujanan
saling silang kata terucap di bibir yang sama
mendatangkan cemburu kian lama kian salah terucap
dan tiba tiba kau pancangkan arah kota dengan keris yang bersepuh emas
dengan berkuda sembrani mengalungkan irama perang, prajurit: negeri mana yang kau pertahankan?

Disinilah masih bertahan dengan kata-kata
puisi tak terucap dalam negeri damai yang selalu membacakan kitab arah datangnya Tuhan
memberi kedamaian jalannya cahayaMu
tak’kan melawan keris yang terhunus dalam keheningan kata-katamu
yang terucap dalam kitab agama
malam yang membisikkan setiap wahyu wahyu turun temurun
disucikan generasiMu

MIMPIMU,KASIH


Belum bisa tidur
belum ngantuk
tolong bangunkan aku dalam mimpimu
agar aku bisa merasakan napasmu
dalam diam
tanpa obat tidur

Kalaupun belum bisa tidur
tidak perlu gelisah, kasih
karena aku bukan pecandu malam
yang menjauhkan mimpi lewat pil penenang
justru malam inilah yang tidak adil
sangat tidak adil !!!
dalam membagi bagi mimpi yang sama

Kasih, pernahkah kita satu mimpi
-dalam kegelisahan berbagi?

PENYAIR, SYSIPHUS DAN ARJUNA

Ketika puisi tidak sampai pada pembacanya dalam suatu kalimat yang sangat sulit untuk dicerna kita akan mengatakan itu sebuah puisi yang aneh, puisi yang absurd; kata pembacanya. Maka arah pikiran kita akan berkembang pada makna kata yang kosong dalam pemikiran muluk yang terkadang tidak memberikan daya tarik atau penciptaan absurditas terhadap sesuatu yang membawa makna tak jelas dan kurang berguna untuk dibaca. Baik terhadap dirinya sendiri yang menimbulkan instink sebagai insan yang memiliki rasa seni yang terbawa sikap berkemauan keras untuk dapat mengembalikan tingkah lakunya sebagai manusia yang memiliki tingkah kreatifitas tingkat tinggi yang tidak mandul. Bagaimana kalau kita membaca rangkaian kalimat penuh nuansa keindahan yang sangat menarik bahkan penuh makna yang dalam? Kita melihat makna kata yang dikandung sang pencipta barangkali sangat mudah untuk di mengerti kalangan umum, maka itu menjadi sebuah karya yang sangat menarik dan digemari. Kawan saya pernah menyandang gelar seorang penyair (meski kini tidak dianggap pensiun oleh sementara waktu jeda karena kurang mulai greget) yang pernah menjadi robot dalam kehidupan kepenyairannya. Kemudian dia bersama sama dengan Sysiphus memahami sebuah pendakian terus menerus menggulirkan kebiadaban sebuah batu yang selalu menggelinding tiada henti memberi kesempatan pada kematangan berpikir bahwa segala sesuatu yang senantiasa dia kerjakan hanya sebuah lakon. Obrolan ringan menempuh perjalanan panjang tak bertepi. Teman saya berubah menjadi sysiphus manusia mesin terus menerus menerobos dunia robot yang berkompetensi dengan tehnologi. Betapa menyedihkan. Drastis sekali perkembangan sajak-sajaknya. Akhirnya dia berkata, saya berupaya menjadi batu dalam gelindingan sysiphus. Sehingga lahirlah sebuah obsesi yang sangat ambisius
Pada akhirnya ia melanjutkan dunia kepenyairan dalam hunian sebuah institusi perkantoran yang memporak-porandakan kepeduliannya akan waktu, hakekat dari kata-kata bagi dunia penyair yang tidak tembus ruang dan waktu. Dia terprogram dalam laju gerak tuntutan ekonomi yang selalu mematuhi waktu-waktu yang terjadwal ketat dan akhirnya tidak berkutik. Kita semua tahu ruang gerak seorang penyair kian dipersempit bukan hanya oleh mesin-mesin kantor atau sebuah berita BBM yang terus mengungkit sumber kehidupan yang selalu membendung dari arah mana datangnya sebuah ide. Mungkin lahir sebuah sajak mesin dari kehidupan yang menumpangkan berbagai permasalahan pelik yang muncul sebagai pijakan awal dari kehidupan rumah tangganya. Ada beberapa pemikiran Locke dan Smith telah dia terapkan dalam bahasanya sehari-hari. Senantiasa pada saat kebingungan menghadapi mood yang tak kunjung datang dia akan beralih rupa menjadi sesuatu bentuk robot yang beradaptasi (baca:mengabdikan diri) pada kepentingan keluarga walau suara hati nuraninya selaku pelaku seni (seniman) berkata lain. Selalu bersilang pendapat dengan bathinnya. Bersikaplah dari hati nurani yang dalam untuk menemukan makna dialog yang benar dalam menapsir hasil sebuah karya seni. Itu yang dikatakan Sysiphus muda melawan ikatan kuat melepas bathinnya dari guliran rutinitas. Memang pekerjaan itu menempati urutan yang sangat universal. Sebuah pekerjaan yang mengharuskan terjadwal dengan rutinitas mengikuti prosedur yang diterapkan institusi tempatnya mengais ladang buat kehidupan. Apa yang mendasari seluruh kebudayaan manusia adalah dirinya yang merintis suatu upaya hidup yang realistis. Benar apa yang menjadi ide Locke dan Smith. Dan mari menjadi Sysiphus yang tiada henti mendorong batu itu ke atas bukit, ke atas menara rutinitas dan menunggu bukit itu runtuh dengan sendirinya.
Namun apakah sosok Sysiphus yang abadi pada abad modern pernah menjadi seorang penyair selain mengisahkan pergulatan bathinya sendiri? Atau dalam sosok dunia pewayangan, pernahkah sosok arjuna dalam pergulatan ilmunya berpikir nikmatnya sebuah sarapan bersama keluarga dan kerabat handai-taulan? Dr Franz Von Magnis pernah mengupas hal ini dengan lugas dan sedikit gamblang diterka. Dikisahkan bagaimana sosok Arjuna dalam kisah pewayangan yang sibuk bertapa, berperang, omong-omong, main-main dengan tidak pernah bertanya darimana Arjuna mendapat nasinya setiap hari, siapa yang memasakkan nasi, siapa yang memanen padi di negerinya yang penuh ladang luas dan seandainya kesibukannya dalam dunia pertapaan dan perang bharata yudha tokoh kita tidak sempat memasak atau sarapan, apakah ada kedai yang menyiapkan sarapan khusus? Serta menu apa yang cocok buatnya. Ini bukan kesalahan sutradara dalam mensiasati naskah. Bukan keharusan seorang dalang dalam merombak sebuah cerita. Pun bukan kealpaan sang pengarang sendiri dalam memaparkan ide-ide.
Pada akhirnya dunia seni selaku pelaku seni akan selalu melupakan sarapan entah karena berkhayal tentang dunia kata-kata atau sedang bertapa menuai inspirasi buat berkarya hingga lupa untuk makan atau memang tidak ada yang akan dimakan sebelum hasil karya seni ini lahir, akan rela mengorbankan perutnya demi sebuah idealisme seni. Memang kelahiran sang idealisme yang menamakan diri atau mengatas-namakan seniman tulen perlu memancing seorang tokoh yang mengingatkan jadwal kapan kita sebagai manusia yang merasakan arti panas dingin, sehat dan sakit tanpa melepaskan baju kita selaku pegiat seni. Kitapun tidak akan menjadi ekstrim karenanya. Kitapun bukan manusia ajaib setengah dewa ketika masih merasakan keajaiban peristaltik dalam lambung digugat-gugat asam cuka berlebih oleh rasa lapar dahaga bertubi-tubi datangnya dalam berkesenian. Manakala terlempar pada dunia entah berantah, kitapun bukan Sysiphus muda yang senantiasa menggurat takdir, berani dalam kemandirian meninggalkan segala eksistensi intuisi yang semakin liar melorotkan baju yang disebut robot monoton memalia serta sebagai hewan benalu yang bersifat siluman,untuk berani menghadapi resiko kehidupan lebih frontal. Bahwa dunia seni bak pewayangan bagi sang imajiner macam Arjuna selain berani menanggalkan kebesaran busana pun bisa lebih pekat menghasilkan karya-karya seni dibarengi dengan kualitas seni yang agung Lebih diimbangi intensitas karya sebagai pelaku seni pula. Maka ia akan memberanikan diri selaku penggugat takdir yang senantiasa menanamkan kegelisahan sepanjang tahun dari waktu ke waktu secara terus menerus.(dgk)

Jumat, 05 Maret 2010

Dari Jendela Peracikan : KREATIFITAS MENULIS DI BAWAH BAYANG BAYANG JAKARTA


“Aku tidak akan pernah berada di kota ini ketika segala pikiran kubuka pada sebuah kalimat, manakala aku telah membuka halaman demi halaman buah pikiranku. Dan tuntas kutuliskan pikiran pada sebuah rangkaian kalimat yang panjang dari waktu ke waktu selama kreatifitas itu masih mengaliri urat nadiku”
Ketika sebuah tulisan telah muncul pada halaman sebuah media massa tidak pernah kita membayangkan bagaimana ekspresi penulis saat merampungkan aktifitasnya di balik layer. Yang hadir di tengah-tengah sidang pembaca hanya hasil sebuah proses, sementara penulis itu sendiri kembali bergelut dalam proses demi proses kepenulisan pada tahap berikutnya. Proses menulispun sebagaimana yang sudah dikemas sebagai sebuah bacaan yang (entah) enak untuk dibaca yang pasti pembacanya sendiri tidak begitu memahami sejauh mana kreatifitas penulisnya di belakang layar. Bergulir dengan kalimat, mengoreksi sendiri sebelum sampai di meja redaksi, memberikan gaya bahasa yang enak dibaca. Memberikan informasi yang benar-benar harus aktual. Tentu saja, kita-kita ini selaku reporter Gema Kaef telah turut andil memberikan nuansa buat perkembangan isi halaman demi halaman majalah Gema Kaef. Dengan demikian seorang penulis tidak pernah atau jarang menjadi halaman sebuah biografi ringkas dari karya tulisnya sendiri atau bahkan turut menjadi bagian dari pemberitaan tersebut. Sangat jarang terjadi. Misalnya seorang penulis memotret karyanya sendiri sebagai sebuah suguhan mata berita untuk diketahui sang pembaca. Sang reporter menjadi nara sumber itu sendiri, jelas akan menjadi berita yang sangat menggelikan dan mengundang gelak tawa pembaca. Demikian halnya seorang fotografer, tidak mungkin kesana-kemari menjadikan dirinya obyek untuk pemuatan sebuah pemberitaan. (baca: motret diri sendiri untuk ditampilkan). Reporter maupun fotografer mencari obyek sebagai narasumber di luar dirinya sendiri dan bukan memperlakukan dirinya sebagai obyek pemberitaan. ( ini hanya sebuah intermezzo)
Sebagai seorang reporter dan juga dapat dikatakan kontributor daerah majalah Gema Kaef, saya akhirnya bisa terbang juga ke Jakarta melongok dapur redaksi. Karena sebuah kalimat yang dihasilkan sebagai sebuah peliputan, atau mengolah bahasa untuk saya tulis dengan tidak mengenal bosan sampai dengan diterbitkan tulisan tersebut di majalah Gema Kaef, saya akhirnya bisa sampai di Jakarta. Kejutan? Pasti. Sebut saja angka honor yang diterima dari hasil tulisan, tidak mungkin sanggup membiayai perjalanan Mataram-Jakarta PP. Karena honor yang biasanya saya terima akan habis dengan mentraktir teman-teman sejawat di kantor untuk sama-sama makan nasi goreng di warung. Lantas? Nah, itu dia jawabnya ada pada Corporate Secretary ticketnya memuluskan rencana untuk memberangkatkan saya dalam rangka bersilaturahmi dalam ajang menambah wawasan dan juga ada satu rewards menarik.
Temu karya Reporter Gema Kaef, demikian dibuat mata acara dengan mengundang beberapa rekan-rekan reporter aktif penulis gema kaef selama empat hari untuk menambah pengetahuan jusnalistik mulai dari konsep sebuah media, perencanaan media sampai fotografi jurnalistik. Yang sangat menarik ada kesempatan langsung mengadakan peliputan jalannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Kimia Farma. Tbk. Menjenguk dapur media Indonesia dan Redaksi Metro TV. Pembelajaran dalam bentuk sharing yang sangat menyenangkan.
Saya jadi teringat perjalanan seorang teman seprofesi ketika pernah berkutat dengan masa lalu pada sebuah media Bali Post dan sempat sama-sama berkiprah dalam satu sanggar sastra; sanggar Minum Kopi. Namanya Warih Wisatsana yang dikenal sebagai seniman, budayawan dan pernah juga sebagai wartawan. Sebagai sastrawan ia pernah mengunjungi Prancis. Buah pikirannya banyak dipengaruhi oleh tokoh seperti Ramdhan KH, Jean Couteau dan Henri Chambert-Loir. Dalam menulis teman saya yang satu ini karyanya juga sering diilhami oleh Yoseph Brodsky, pemenang nobel 1987, termuda setelah Albert Camus. Teman saya ini sering berkhayal jalan-jalan ke Eropa. Negeri yang sering datang dalam mimpinya.
Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan ketika ia terpilih untuk mengikuti Festival Winternach di Den Haag Belanda. Tentu saja tanpa berbekal uang saku dari honor tulisannya selama ini.Karena akomodasi ditanggung oleh panitya. Dalam kadar tertentu pengalaman teman saya sepertinya ditularkan pada saya. Karena dengan ilmu menulis kita bisa sampai disana. Dengan tulisan inilah kita bisa terbang ke suatu tempat. Warih, dengan sajak engkau terbang sampai ke daratan Eropa. Dan DG.Kum dengan tulisan kau cukup hanya sampai Jakarta. Itu pun patut dihargai, tanpa berbekal untuk ticket serta dengan sedikit perbekalan untuk berjaga-jaga jangan sampai kelaparan sampailah aku di kota tujuan. Dan terimakasih tak terkira buat rekan2 corporate mengurus semuanya hingga semuanya berjalan lancar. Dan sebagaimana komentar pemred Ibu Ami pada waktu itu sebelum digantikan pak Joko, Ruangan awal perencanaan jadwal pertemuan kami penuhi di tempat yang biasanya dilakukan rapat-rapat oleh para komisaris dan para direksi. Sangat mengesankan. Terimakasih tak terhingga buat mas Budi dan mas Bathin yang selama berlangsungnya acara hingga berakhir sangat membantu kami mengurus penjemputan, penginapan dan sampai mengantar kami jalan-jalan ke Bogor. Terimakasih yang tak terhingga pada Direksi yang memberikan kesempatan pada kami untuk lebih memperdalam dan meningkatkan mutu kami di bidang jurnalistik. Juga kami tak berharap lebih kalau sekiranya untuk kelanjutan masih tetap menunggu undangan berikutnya. Corporate Secretary jangan segan-segan untuk mengundang kita kembali selaku reporter daerah yang aktif.
Sempat juga bertemu dan foto bareng ama big bos komisaris KFA bp. Zurbandi dan komisaris KFTD bp. Handy Rusman.

MENYANGSI HARI


Pernah kau pelajari arah jalan matahari
diam diam melebarkan dongeng purba
bahwa rohku-rohmu selalu satu
berangan terbang bertanya-tanya tentang hari
atau menjaga perubahan yang muncul lenyap
sehabis bumi menggelinding mencari ujung hari
batas batas arah kita menyangsikan jalan bumi
atau aku sangsi kita satu merengut hari
lupa kapan siangmalam tanpa pernah menegur
peradaban yang dimunculkan nenek moyang
sesepuh yang mendahului
kenakalan ini terjadi

Pernah aku bercerita padamu
perjalanan menuju ujung malam
mengajari untuk membuka tabir
membentuk pulau-pulau kecil
di batas raya
tempat aku melabuhkan kepenatan

Pernah kita, bahkan membuka malam
dari kekenyalan moral lapuk
oleh kedunguan
sampai lelapmelayat sebatas ujung keinginan
mengaburkan angan: mengajari roh kita menyatu

CeRpeN : SANG PENGARANG

Anak-anak jurusan hukum Unram sedang ramai bercanda. Disana ada Novi, Tina, Niken dan Andani sebagai promotor sekaligus penggerak dari ajang santai. Biasanya kalau dosen belum muncul di kampus, acara rutin diisi dengan kekompakan : ngerumpi.
“Tin, workshop tahun ini dipusatkan di kampus kita, lho!” Novi menyela diantara gelak candanya. Mereka semua pada menatap. Biasa, pembawaan Novi yang paling serius diantara mereka itu.
”Ah, itu kan anak-anak jurusan sastra yang punya kerja. Kita hanya membantu dan mendukung saja,” Niken menjawab. Mulai terbawa arus. ”cukup sebagai pengamat saja.”
”Ah, jangan berlagak intelek. Katakan saja penonton, gitu!! Kita ini hanya hadir untuk menyaksikan pertunjukan” Andani menyela sambil senyum-senyum nakal, ada nada menggigit dalam ungkapannya yang terkesan saklek.
”Kita itu sebenarnya memiliki kancah sendiri. Kita berpotensi dalam memainkan peranan itu sendiri. Jangan asal berkolaborasi saja !?” Niken seperti protes, merasa namanya dimasukan dalam susunan kepanitiaan.
”Sebenarnya segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Memang kalau ada kerja ilmiah, kita juga yang sibuk. Namun kita tidak menampik kalau sesungguhnya selama kerja berlangsung lebih banyak dibantu anak-anak jurusan sastra. Ingat kan?” Novi mulai berkata panjang. ”Sekarang ini karena menyangkut nama baik sekolah, kita mesti tunjukkan kekompakan. organisasi kemarin sudah menunjuk anak-anak jurusan sastra yang punya gawe dan duduk sebagai panitia plus Tina, cerpenis kita ini.”
”Nggak jamin deh. Waktu workshop tahun lalu tuh banyak peserta yang protes,” Andani seperti tidak terima. “Padahal kita punya tokoh sastra sendiri,” Andani menatap Tina.
“Belum tentu!”
“Apanya?”
“Itu kan ketua panitianya beda. Sekarang ini diambil alih Rudy. Mungkin berjalan lain. Saya percaya betul kemampuan Rudy memimpin kawan-kawan. Kamu jangan terlalu apreori dulu, An!” Novi menyela.
”Rudy?” Tina terkejut mendengar nama Rudy disebut-sebut. Ada kesan tidak percaya sama sekali. Ada kesan meremehkan sekaligus jengkel bercampur gemas. Nama itu tidak termasuk dalam catatan dirinya. Ah, itu terlampau berlebihan. Ini sudah keterlaluan. Apa sih hebatnya anak jurusan sastra yang satu ini? Mendengar nama Rudy terlalu disanjung teman-temannya saja ia sudah jengkel setengah mati. Ia muak. Mau muntah saja. Puih! Dulu ketika di gelanggang remaja menghadapi pertandingan antar mahasiswa, Rudy sempat menjadi bintang lapangan dan betapa kagum Tina pada penampilan cowok itu. Tangannya seolah-olah bermata. Kemana arah bola selalu berada dalam tangannya. Begitulah, ketika gengnya Rudy mampu menaklukan lawannya, sang musuh bebuyutan., gegap gempita di kubu anak-anak jurusan sastra. Bagaimanapun sebagian besar para pemain termasuk pasukan jurusan sastra. Mahasiswa dari jurusan hukum hanya mesem-mesem saja. Maklum tidak memiliki pemain andalan, tidak ada yang sehandal Rudy. Diam-diam Tina merasa kagum, karena dia merupakan satu kesatuan di kampus itu.
Tapi yang sangat menjengkelkan hati Tina, setiap mereka berpapasan di jalan atau bertemu di kampus, Rudy jarang mau menyapa. Menoleh saja tidak. Akh, sombong sekali! Tina kesal merasa kehadirannya seperti diremehkan sekali. Sekarang, lagi-lagi nama itu yang disebut-sebut. Kali ini benar-benar merasa sangat muak.
”Kenapa Tina? Kok diam?” Niken menyodok tangannya.
Tina cemberut.
”Tuh, coba lihat! Idolamu datang,” Niken menunjuk ke halaman kampus. Nampak di kejauhan satu sosok berjalan dengan tenang setengah gontai. Sikapnya acuh tak acuh, seperti tak menghiraukan sama sekali kehadiran teman-teman di sekolah. Seperti tubuhnya adalah miliknya sendiri dalam keramaian rekan-rekan yang berseliweran di sampingnya. Itu yang dapat ditangkap sekilas pada sudut mata Tina mengenai gerak gerik sosok yang bernama Rudy. Penampilannya terkesan menganggap remeh orang sekitarnya. Sangat tidak peduli, atau lebih tepatnya dapat dikatakan tidak ambil pusing dengan suasana sekelilingnya. Merasa paling hebat sendiri. Uhh! Barangkali ini yang dikatakan dalam istilah bahasa kaum seniman sebagai orang yang top.
”hei.....Rudy, sini dong,” Niken memanggil sembari tangannya nakal menyenggol lengan Tina. Spontan Tina mendelik kesal. Merasa olokan temannya itu ditujukan buatnya, merasa di permainkan.
Di kejauhan Rudy hanya tersenyum pada mereka berempat, terus berlalu, seolah tidak terjadi apa-apa. Niken saja yang terus melambai. Sikapnya menggoda.
”Fuiiii.....! Sombong banget!” umpat Tina bersungut-sungut.
”Yeee....., nanti juga pasti kangen,” Niken lagi-lagi menggoda sembari ngikik menghindar cubitan gemas tangan Tina.
”Cakep lagi....”
Bah! Cakep katanya. Tapi, ya Tina harus mengakui itu. Perlahan tapi pasti pandangannya mulai berubah. Kadang ia heran. Tina merasa sudah betul-betul berpengalaman dalam dunia tulis menulis, entah sudah berapa media yang memuat tulisannya itu. Pernah ketika salah satu cerpennya mendapat sambutan hangat dari kawan-kawan bahkan dosen jurusan sastra Indonesia acung jempol padanya. Eh, ternyata Rudy hanya menganggap itu hanya tulisan kanak-kanak remaja. Masih mentah. Apa sih maunya,dia?
”Cerita pendek berjudul ’di balik kantin sekolah’ hasil karya Tina menurut saya masih menyimpang jauh dari tema yang dimaksud penulisnya. Idenya berputar-putar tak tentu arah. Dialognya yang dibentuk sang tokoh terlalu berbelit-belit. Ending tak jelas. Kurang pengendapan bahkan ada kesan terburu-buru dalam penyelesaian,” Rudy mengomentari tulisannya di depan teman-teman, pada saat apresiasi sekolah berlangsung. Kegiatan rutin yang diadakan setiap minggu sore di halaman depan kampus. Mereka duduk melingkar dan membahas segala hal yang berhubungan dengan seni. Dari tulisan, drama, sampai seni tari dan gamelan.
Uh, Tina bersungut-sungut Kenapa tidak mas Putu atau mas Herry Wijaya yang bicara tentang tulisannya. Kenapa cowok yang menurutnya hanya tahu soal basket saja. Memang dimana-mana Rudy selalu muncul. Itu yang mengherankan Tina. Tidak saja di bidang olahraga, kegiatan organisasi kampus bahkan dalam dunia sastra iapun sering hadir. Seolah-olah ia sedang memata-matai dirinya.
”Eh, cowok! Maumu apaan sih? Ngomong macam-macam, ngalor-ngidul, tak tentu arah soal tulis menulis. Coba dong tunjukin kamu punya karya? Mana? Manaaaa......?? Nulis aja nggak!” Tina saking sudah kelewat jengkelnya, minggu sore itu usai acara apresiasi seni di halaman kampus, mengejar dan menghujamkan dengan berbagai omongan yang lumayan pedas. ” Kamu tuh jurusannya ilmu seni termasuk menulis, tapi satupun tidak ada nongol tulisanmu di majalah. Tahunya hanya main kritik aja, uh! Hei, gini-gini walau aku jurusan hukum tapi aku bisa juga menulis karya sastra. Aku ini berbakat, tahu!? Nggak kayak kamu. Dasar!”
Rudy hanya menatap saja lalu melengos pergi tanpa menjawab dengan langkah seperti biasa.
Tina kian jengkel dibuatnya. Ingin agar Rudy mau meladeni omongannya dan bahkan dia ingin menampar muka pemuda itu. Eh, malah Tina sendiri yang jadi keki dibuatnya. Sikapnya yang cuek bebek dan suka mengalah membuat Tina menjadi semakin uring-uringan.
”Eh, Tin! Jam kuliah mau mulai, yok masuk ruangan. Kok bengong aja sih? Ingat Rudy ya?”
Tina gelagapan. Mukanya merah dadu seketika. Langkahnya setengah dipaksakan mengikuti temannya menuju ruangan.
”Ntar deh kita salamin buat Rudy,” Niken berbisik. Masih dengan godaannya yang menyebalkan Tina. Dia hanya melirik temannya dan melotot.
”Marah? Hehe nggak usah marah. Cinta memang muncul dari rasa marah, awal mulanya ketidak mengertian yang menumbuhkan kasih sayang. Rudy memang menjengkelkan namun sikapnya itu yang membuat kita semakin ingin mengingatnya. Ehmm, aneh kan? Cinta memang demikian,” Lagi-lagi Niken mengutip bahasa dalam cerpen Tina yang diterbitkan majalah kampus bulan kemarin.
”Ah, dasar kamu!” Tina kian mendelik. ” Pintarnya kamu mengutip bahasaku, ya?” Tina mencubit lengan temannya.
”Aku kan pengagum beratmu, Tin.”
* * *
Sibuk juga teman-teman para mahasiswa di Unram. Ruangan auditorium ditata demikian marak. Memang kalau anak-anak jurusan sastra kalau sudah nyeni memang benar-benar hidup dibuat suasana ruangan itu.. Tina tidak punya pilihan lain. Ia maniak sastra, seni yang satu ini mengusiknya untuk kerja bareng dalam kepanitiaan bersama Rudy. Walau sesungguh dalam hatinya ia merasa sangat jengkel. Menjengkelkan memang! Tapi apa boleh buat. Bagaimanapun juga ia sangat menyukai dunia tulis-menulis, dunia yang selalu membuatnya nyaman. Di saat-saat mood itu menghampirinya, ia merasakan suatu penyatuan diri yang total. Seolah dia merasa sudah menjadi dirinya sendiri, dunia yang tidak mampu digugat terlebih diganggu dunia lain selain pilihan menulis. Baginya menulis merupakan sebuah pelampiasan dan bathinya akan merana kalau sampai tidak kesampaian dengan hobbynya ini terlebih lagi dalam membuat cerita pendek. Kalau tidak sampai tuntas dia akan belum mau makan. Itulah memang hebatnya seni. Bila perlu Tina akan menulis semalam suntuk untuk menyelesaikan naskahnya. Walau pada kenyataannya ia sering dikritik oleh pemuda yang satu ini. Uh, sebel! Apa sih kemampuan anak jurusan sastra ini? Tapi tunggu dulu. Lihat gaya Rudy di depan. Tangannya menunjuk sana menunjuk sini. Sekali waktu mendekati pak Harjo, dosen yang penyair yang baru-baru ini menerbitkan buku berjudul: ”Kata yang bermula dari airkata.”
Tina hanya membuang muka sebal ketika selintas mata Rudy menoleh ke arahnya. Tina dan Niken kembali ke ruangan mempersiapkan undangan. Cukup banyak juga. Belum habis waktu untuk menyebarkan. Dalam hal ini lagi-lagi Niken mengakui kelincahan Tina dalam menyebarkan undangan tersebut.. Semuanya ada dalam agenda Tina. Jadi tidak terlalu sulit. Cukup makan waktu sehari. Setelah semua beres, Tina ingin secepatnya berada di rumah. Santai-santai sambil membaca majalah favoritnya ditemani jeruk dingin. Ah, betapa menyegarkan.
”Ufff.......! Capek juga,” Tina bersungut-sungut sambil tidur-tiduran. Tangannya membuka halaman demi halaman cerita pendek. Sekali dua kali memang karyanya muncul menghiasi halaman majalah tersebut. Ada satu karya yang sering membuatnya kagum Ia seperti membaca sebuah cerita penuh dengan ide segar. Setiap ia membaca karya tersebut selalu membuatnya senang dan ingin membaca sekali lagi, entah bagaimana cara pengarangnya menulis. Dialognya pun cukup segar. Nama penulisnya juga tak kalah menarik. “Putra Merana”. Putra Merana? Tina tertawa geli. Tina sering terhanyut oleh gaya berceritanya yang segar dengan ide-ide yang kadang-kadang melonjak penuh dengan kejutan-kejutan. Pernah pengarangnya menceritakan tentang kampusnya, seolah-olah dia sangat akrab dengan kampus tempatnya kuliah. Apakah tidak mungkin pengarangnya mahasiswa di kampus ini? Ya, jangan-jangan dia anak kampus Unram juga, pikir Tina penuh rasa ingin tahu. Terus terang Tina merasa jatuh cinta pada pengarangnya. Tapi siapa ya pengarangnya? Alamat dan foto pengarangnya tidak tercantum..
Sedang asyik-asyiknya ia membaca tulisan tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan oleh ketukan halus di ruangan depan.
”Siapa sih?” Tina bersungut-sungut santai melangkah ke ruang depan membuka pintu. Begitu pintu terbuka alangkah terkejutnya Tina melihat siapa yang berdiri di depannya. Lebih-lebih pemuda di depannya itu juga tak kalah terkejutnya begitu melihat siapa yang membukakan pintu.
”Ngg......, maaf Tina, orangtuamu bernama Ir. Gunawan?”
”Ya, ngapain!?” Tina ketus begitu bisa menguasai diri. Hampir saja menutup pintu kembali kalau tidak ia melihat ada dua orang laki-laki menggotong almari pakaian pesanan ibunya. Oh, rupanya di tempat Rudy ini ibu memesan almari? Ternyata dia hanya seorang tukang kayu, pikir Tina setengah sinis tanpa mau mempersilahkan masuk apalagi duduk.
”Taruh di dalam saja. Sana lewat samping,” Tina memerintah lalu menatap Rudy dengan pandangan merendahkan.
”Ayahmu kebetulan memesannya di tempat saya,” Rudy menyodorkan faktur tanda terima. Tina membubuhkan tandatangan di atasnya.
”O, kamu ternyata hanya seorang tukang kayu. Di kampus sok ngerti soal tulisan ya?” Tina memancing emosi cowok itu. Dan lagi-lagi dia kecele, seperti biasa bagaimana gayanya di kampus, pemuda yang bernama Rudy itu hanya melengos serta berlalu seperti tak pernah terjadi apa-apa. Wah, nonchalance!
”Uh, tak menyangka si sombong itu ternyata hanya seorang tukang kayu,” ejek Tina. ” Bisa juga dia bersikap sok dan tidak memandang sebelah mata padaku.”

* * *
”Hei, kamu tahu An?” Tina berbisik saat workshop berlangsung. Andani tidak menoleh. Pandangannya tetap terpaku pada anak-anak yang sedang berlomba.
“Rudy yang sok itu ternyata hanya seorang tukang kayu.”
“Tahu dari mana?” Niken bertanya.
”Kemarin ia datang ke rumah mengantarkan almari pesanan ibuku.”
”Wah, hebat dong. Itu menandakan orangnya mandiri. Di kampus berprestasi malah,” Andani akhirnya berkomentar dan memuji.
Tina hanya melengos. Prestasi? Boleh juga, tapi sikapnya itu terlalu sombong buat Tina. Dari segi apa Tina harus menyukai tipe pemuda seperti itu? Jangankan bicara, menatap mukanya saja enggan. Itu terpaksa kemarin terjadi komunikasi mendadak karena almari pesanan ibunya. Sebetulnya Tina saat ini tidak mau berada di auditorium melihat lagak dan gerak-gerik Rudy yang membosankan. Bisa saja Tina pulang dengan suatu alasan tertentu. Tapi pada susunan acara ada selipan diskusi. Yang menarik hati Tina adalah salah satu pembicaranya pengarang yang selama ini Tina kagumi. Tina ingin tahu siapa sebenarnya dan bagaimana sosok yang bernama Putra Merana secara jelas dan ingin mengetahui rahasia menulisnya. Karenanya ia cukup sabar untuk menunggu.
”Kurasa kali ini semuanya berjalan sukses,” Novi memuji acaranya yang sedari tadi berlangsung hangat.
”Sukses apanya?”
”Lihat saja, mana ada peserta yang protes seperti tahun kemarin?”
Tina masih bersungut-sungut. Acara lomba baca puisi dan cerpen berlangsung tidak lebih dari dua jam, namun cukup membuat Tina dan teman-temannya kecapaian duduk di auditorium. MC melalui pengeras suara menyatakan acara berakhir yang dilanjutkan dengan diskusi seputar dunia sastra. Ada tiga tokoh sastrawan yang bicara. Seperti biasa para mahasiswa-mahasiswi yang demam sastra mulai ikut berkiprah.
Tina tidak usah ditanya. Dua pembicara sudah tidak masuk perhitungan. Dia kurang greget, disamping makalahnya sudah terlalu umum dibicarakan dalam setiap apresiasi sastra budaya. Begitu giliran Putra Merana membawakan makalahnya, hati Tina kebat-kebit. Berpuluh-puluh pertanyaan memenuhi benaknya siap dia muntahkan dalam forum diskusi ini nanti.
”Busyet! Ngapain orang itu yang naik ke atas? Mengganggu acara saja. Uh, sok penting ketumbenan berada di mimbar. Apa sih yang mau diomongin lagi?” Tina sengit menatap Rudy di kejauhan mengambil mike. Terdengar Rudy berdehem sebentar sembari membacakan beberapa kalimat penutup sebuah cerpen dan meneriakan beberapa baris sajak-sajak willy Rendra.....
“Ia yang bawain makalahnya,” Novi menyela sambil tersenyum menatap Tina.
Tina menatap Novi penuh tanya.
”Bukankah kamu ingin tahu tokoh idolamu, wahai cerpenis muda?”
”Ah, jangan bercanda, Nov,” Tina masih memandang penuh tanda tanya sambil menatap ke depan. Dilihatnya Rudy telah duduk menatap semua peserta.
“Namanya Putra Merana. Mungkin nama tambahan Putra Merana sekadar ingin mengejek dirinya sendiri yang hidupnya serba susah. Bayangkan, pulang kuliah ia harus menghadapi pekerjaan buat biaya kuliah. Tidak seperti teman-teman yang lain. Ia hidup dari hasil kayu-kayunya itu.”
“Jadi....jadi ia yang nulis di majalah itu? Yang.....” Tina tak mampu meneruskan kata-katanya. Ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Rudy di depan. Semua pertanyaan yang sudah ia siapkan menjadi lenyap begitu saja.
Tiba-tiba Tina ingat salah satu judul cerpen pemuda itu. ”Carpenter” Ouww...., pantas, pikirnya. Carpenter mengisahkan tentang kehidupan seorang tukang kayu yang ingin menyatakan cintanya pada teman sekampusnya bernama Tina. Tina? Eh, nanti dulu. Bukankah hanya dia sendiri bernama Tina di jurusan hukum semester 4? Dan pengarangnya begitu saja memakai namanya. Bahkan ia sempat terharu dan hanyut oleh gaya bercerita pemuda itu. Oh, tukang kayu yang malang. Tukang kayu yang rendah diri, bisik hati Tina dengan muka merah dadu saking malunya. Sekarang ia baru mengetahui kenapa sikap Rudy begitu aneh padanya. Bahkan menatap aja tidak mau. Sekarang dia baru tahu, cinta ternyata tidak hanya diungkapkan langsung lewat perjumpaan.
”Kenapa tidak pernah kamu ungkapkan hal itu padaku, Rud?” Tina berbisik lirih. Entah darimana datang rasa simpati yang begitu tiba-tiba terhadap pemuda itu, secepat berlalunya rasa kesal yang pernah dipendam.

catatan:
pernah dimuat di majalah ekspresi

Rabu, 03 Maret 2010

ZIARAH

Betapa kecil sebuah makna mengungkap, disaat bibir kata yang mulai terucap batas perjumpaan akhir dari relung hati terdalam dan memang sangat dalam untuk menggugat takdir. Betapa tidak ketika kita diharuskan mengungkapkan perpisahan dalam standard waktu yang tak jelas. Mungkin kekasih yang lari dari dekapan membawa suatu goresan duka yang dalam yang sangat begitu mengecewakan hati dan meraung-raung di hati. Betapa tidak untuk sebuah perpisahan yang dalam, yang mengharapkan kita untuk mengenang dan dikenang. Manusia memang dalam konteks itu pada kenyataannya tidak bisa lepas dari takdir, bahwa kenyataan hidup yang dihadapi sebenarnya tak lepas dari unsur cinta kasih, kebencian, dendam, perpisahan oleh sebuah kematian yang panjang.. Kehidupan yang tidak terpisahkah oleh kematian.. Sebuah cerita kecil dari kematian itu, yang sebelumnya mengungkit-ungkit masa lalu, sebuah kenangan sebagai perjalanan sangat panjang yang sebelumnya oleh kesedihan terlalu dibesar-besarkan atau akan lari dari kekosongan itu dengan berbuat seolah-olah tidak mengenal bayangan masa lalu lewat kebodohan diri. Bertopeng dalam duka barangkali atau bisa jadi mengadakan kontak dengan kerawanan dalam kekacauan jiwa. Berlari di alam yang bertumpang tindih dari segala-galanya untuk menutup arahnya, perputaran waktu. Merelakan waktu pergi dan bersikap mati apatis dari kematian kekasih yang yang selama ini memberi gairah kehidupan.
Demikianlah adanya sebuah pratanda buruk dari manusia yang bernaung di bawah bayang-bayang ketakutan akan sebuah perjalanan misteri.
Terlepas dari itu semua, dari sang kekasih sendiri, adalah sepasang insan yang pernah dilanda asmara dalam suatu ikatan perkawinan telah melampaui target dari keseharian dalam pergulatan panjang yang tak dikenalkan keadaan-keadaan, tidak bersentuhan dengan segala macam bentuk moralitas, suatu dogma agama yang terkadang terkesan mengikat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengendapan senggama sarat sebagai sebuah proses melahirkan segala bentuk keangkuhan-keangkuhan diri yang memasung-masung untuk dapat disebut sebagai sebuah kenikmatan. Katakanlah suatu pergumulan bathin polos, apa adanya namun tidak dikacaukan unsur apapun juga. Buah dari kenyataan manis, manisnya rasa yang mengantarkan pada pemakaman terakhir. Peristirahatan total yang tak akan mengenal kehidupan lagi sebagai orang yang benar-benar mati. Mati dalam arti yang sebenarnya. Akankah insan takdir mati meraung dikutuk tradisinya? Ziarah, demikianlah terlepas dari kehidupan sang tokoh menjalani kodrat sebagai keadaan yang sebelumnya tidak tahu, berangkat dari tanda tanya yang bergolak dalam segala penyesalan lewat kewajaran kisah hidup di medan realita, dengan terpaksa akhirnya dihadirkan suatu bentuk manis titik temu sebuah yang namanya kecintaan. Tidak sebatas waktu dia menziarahi sang istri yang telah membawa bayang-bayang samar yang tidak tahu kapan sebuah peristiwa terjadi. Kapan kematian datang menjemput.
Di dalam batas lingkup kewajaran yang sebenarnya sedang terjadi, justru sebaliknya dia adalah kelahiran dari ketidakwajaran itu sendiri. Dan disaat ia bersikap wajar, bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kehidupan dalam masyarakat, terjadilah suatu perselisihan diantara anggota-anggota itu sendiri yang memberika sebuah penilaian terhadap dirinya. Jadilah kontradiksi, betapa tokoh yang berprilaku dan berjalan sesuai atas tuntutan jamannya diartikan terbalik. Itulah yang telah dilukiskan sebagai seorang yang telah lupa akan tanah kelahiran yang rindu kampung halaman, sang pejalan yang berduka yang berziarah di atas tanah pekuburan. Iwan Simatupang sang novelis telah melukiskan ziarah sebagai kesan kehadiran kembali akan kecintaan orang tercinta yang terlupakan oleh sang waktu.
Hanya waktu, sebuah perjalanan waktu yang membawa kembali ke arah perjalanan akhir., dalam jasad utuh tanpa apa-apa. Mayat yang menjadi usungan di peristirahatan total, terlepas dari roh itu sendiri dalam wujud mencari sebuah pengembaraan baru. Sebagaimana tulisan Iwan Simatupang yang melukiskan akan sebuah kepercayaan akan adanya lembaga sorga dan neraka dalam geografisnya bumi dimana manusia berada dalam perziarahan yang ikatan antara manusia hidup dan yang telah mati masih ada. Menjadi seonggok lembaga yang berupa tanah-tanah kuburan. Perziarahan yang pernah terjalin sebelumnya. Itulah adanya kuburan; mayat-mayat baru dikubur disitu. Centimeter demi centimeter dari permukaan bumi kita ini adalah bekas kuburan tua yang setiap waktu dapat dijadikan tumpukan kuburan baru. Kita adalah bakal mayat yang berpijak di atas mayat tua. Bumi ini adalah seluruhnya bumi kepunyaan mayat-mayat. Bumi kerajaan maut.
Iwan Simatupang menuliskan dalam arti terdalam, dengan kegamblangan unsur psikologis tapi butuh sedikit pengulangan arti akan maksud pengarang.(dgk)