Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================
Tampilkan postingan dengan label catatan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Oktober 2011

ZIARAH

Betapa kecil sebuah makna mengungkap, disaat bibir kata yang mulai terucap batas perjumpaan akhir dari relung hati terdalam dan memang sangat dalam untuk menggugat takdir. Dan ketika kita diharuskan mengungkapkan perpisahan dalam standard waktu yang tak jelas. Mungkin kekasih yang lari dari dekapan membawa suatu goresan duka yang dalam yang sangat begitu mengecewakan hati dan meraung-raung di hati. Betapa tidak untuk sebuah perpisahan yang dalam, yang mengharapkan kita untuk mengenang dan dikenang. Manusia memang dalam konteks itu pada kenyataannya tidak bisa lepas dari takdir, bahwa kenyataan hidup yang dihadapi sebenarnya tak lepas dari unsur cinta kasih, kebencian, dendam, perpisahan oleh sebuah kematian yang panjang.. Kehidupan yang tidak terpisahkah oleh kematian.. Sebuah cerita kecil dari kematian itu, yang sebelumnya mengungkit-ungkit masa lalu, sebuah kenangan sebagai perjalanan sangat panjang yang sebelumnya oleh kesedihan terlalu dibesar-besarkan atau akan lari dari kekosongan itu dengan berbuat seolah-olah tidak mengenal bayangan masa lalu lewat kebodohan diri. Bertopeng dalam duka barangkali atau bisa jadi mengadakan kontak dengan kerawanan dalam kekacauan jiwa. Berlari di alam yang bertumpang tindih dari segala-galanya untuk menutup arahnya, perputaran waktu. Merelakan waktu pergi dan bersikap mati apatis dari kematian kekasih yang yang selama ini memberi gairah kehidupan.
Demikianlah adanya sebuah pratanda buruk dari manusia yang bernaung di bawah bayang-bayang ketakutan akan sebuah perjalanan misteri.
Terlepas dari itu semua, dari sang kekasih sendiri, adalah sepasang insan yang pernah dilanda asmara dalam suatu ikatan perkawinan telah melampaui target dari keseharian dalam pergulatan panjang yang tak dikenalkan keadaan-keadaan, tidak bersentuhan dengan segala macam bentuk moralitas, suatu dogma agama yang terkadang terkesan mengikat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengendapan senggama sarat sebagai sebuah proses melahirkan segala bentuk keangkuhan-keangkuhan diri yang memasung-masung untuk dapat disebut sebagai sebuah kenikmatan. Katakanlah suatu pergumulan bathin polos, apa adanya namun tidak dikacaukan unsur apapun juga. Buah dari kenyataan manis, manisnya rasa yang mengantarkan pada pemakaman terakhir. Peristirahatan total yang tak akan mengenal kehidupan lagi sebagai orang yang benar-benar mati. Mati dalam arti yang sebenarnya. Akankah insan takdir mati meraung dikutuk tradisinya? Ziarah, demikianlah terlepas dari kehidupan sang tokoh menjalani kodrat sebagai keadaan yang sebelumnya tidak tahu, berangkat dari tanda tanya yang bergolak dalam segala penyesalan lewat kewajaran kisah hidup di medan realita, dengan terpaksa akhirnya dihadirkan suatu bentuk manis titik temu sebuah yang namanya kecintaan. Tidak sebatas waktu dia menziarahi sang istri yang telah membawa bayang-bayang samar yang tidak tahu kapan sebuah peristiwa terjadi. Kapan kematian datang menjemput.
Di dalam batas lingkup kewajaran yang sebenarnya sedang terjadi, justru sebaliknya dia adalah kelahiran dari ketidakwajaran itu sendiri. Dan disaat ia bersikap wajar, bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kehidupan dalam masyarakat, terjadilah suatu perselisihan diantara anggota-anggota itu sendiri yang memberikan sebuah penilaian terhadap dirinya. Jadilah kontradiksi, betapa tokoh yang berprilaku dan berjalan sesuai atas tuntutan jamannya diartikan terbalik. Itulah yang telah dilukiskan sebagai seorang yang telah lupa akan tanah kelahiran yang rindu kampung halaman, sang pejalan yang berduka yang berziarah di atas tanah pekuburan. Iwan Simatupang sang novelis telah melukiskan ziarah sebagai kesan kehadiran kembali akan kecintaan orang tercinta yang terlupakan oleh sang waktu.
Hanya waktu, sebuah perjalanan waktu yang membawa kembali ke arah perjalanan akhir., dalam jasad utuh tanpa apa-apa. Mayat yang menjadi usungan di peristirahatan total, terlepas dari roh itu sendiri dalam wujud mencari sebuah pengembaraan baru. Sebagaimana tulisan Iwan Simatupang yang melukiskan akan sebuah kepercayaan akan adanya lembaga sorga dan neraka dalam geografisnya bumi dimana manusia berada dalam perziarahan yang ikatan antara manusia hidup dan yang telah mati masih ada. Menjadi seonggok lembaga yang berupa tanah-tanah kuburan. Perziarahan yang pernah terjalin sebelumnya. Itulah adanya kuburan; mayat-mayat baru dikubur disitu. Centimeter demi centimeter dari permukaan bumi kita ini adalah bekas kuburan tua yang setiap waktu dapat dijadikan tumpukan kuburan baru. Kita adalah bakal mayat yang berpijak di atas mayat tua. Bumi ini adalah seluruhnya bumi kepunyaan mayat-mayat. Bumi kerajaan maut.
Iwan Simatupang menuliskan dalam arti terdalam, dengan kegamblangan unsur psikologis tapi butuh sedikit pengulangan arti akan maksud pengarang.(dgk)

EKSISTENSI KARNA

Sebuah cerita barangkali akan bisa menjadi berbeda kalau Karna ternyata bukan dari golongan yang berkasta, golongan ningrat, priyayi atau golongan ksatria. Dan untuk dapat memperoleh ilmu yang diturunkan sang mahaguru Drona, suhu dari para pandawa lima itu dengan cara tak wajar dia akan mengaku-ngaku sebagai seorang anak dari golongan brahmana. Memang setelah menguasai ilmu, perbedaan itu akan menjadi sirna dengan sendirinya. Siapakah yang menciptakan perbedaan ini? Apakah perbedaan ini terjadi dengan bergantinya kekuasaan, silih berganti perputaran waktu antara siang dan malam ataukah ada aturan-aturan tertentu dalam negara yang memang harus memilah-milah mana yang berhak untuk belajar mana yang tidak berhak. Adakah sebuah perbedaan datangnya dari langit? Tidak! Sekarang ini yang membedakan proses belajar dan sang pengajar adalah status sosial. Perbedaan pelajar antara si miskin dan si kaya yang mencolok jauh. Sebuah ilmu yang dicapai memang tidak mengenal kaya dan miskin, namun setelah proses belajar usai ilmu akan menjadi sebuah gelar sang penyandang sebagai perlambang pengukuhan eksistensinya di masyarakat.
Karna dalam kekinian adalah sosok yang miskin namun tinggi idealisme. Bukan kesalahan sebuah kelahiran dari anak seorang sais, karena bagaimanapun anak seorang mahaguru sekalipun belum tentu bisa berkompromi dengan idealisme yang setinggi langit, karena pada kenyataannya anak seorang sopir angkot, anak seorang sais cidomo dan anak seorang tukang ojek yang jauh lebih rendah status sosialnya ketimbang anak seorang dokter, anak seorang dosen ataupun anak pejabat sekalipun masih bisa tampil dalam pentas bisnis sebuah usaha (istilahnya rekanan bisnis dan modal usaha lebih dipermudah) ataupun pada sebuah pentas drama politik. Namun tidak tertutup sebuah pameo yang beredar di masyarakat dengan kata-kata yang menyesakan dada si miskin bahwa: jadilah anak pejabat, karena berburu ilmu tidak sepenting memburu kepemilikan saham perusahaan. Ada yang diuntungkan, soal nasib tangan dan hukum karma sebuah bisnis. Bisnis yang dibangun dari ketenaran jabatan sebagai sebuah keturunan anak seorang pejabat negara yang memanipulasi data membangun sebuah kerajaan bisnis. Lambat laun memang itu yang terjadi dan pada kenyataan itulah sebuah aji mumpung. Mumpung berkuasa. Dan Karna kekinian pada akhirnya bukan berakhir di medan kurusetra, namun sebuah keberuntungan garis tangan yang mengantarkan perang pada medan bursa pasar saham, sebagai pemilik modal, market leader sebuah perusahaan besar, dengan kekuasaan mengatur orang-orang dan menjadwal kapan mesti PHK dan kapan harga-harga barang dinaikkan. Serta merta yang membuat mahaguru Drona tersungut-sungut bahwa ilmu bukan hanya buat orang-orang tertentu yang lebih mengasihi keberadaan ksatria pandawa lima. Bahwa ilmu bagi si kaya dan si miskin memiliki perlakuan yang sama. Bagi si kaya tinggal melanjutkan jenjang ketenaran, bagi si miskin untuk memanfaatkan fasilitas program negara, pemanfaatan beasiswa dana pendidikan, selebihnya dibutuhkan kreatifitas dalam bentuk personal approach kepada sang penguasa atau yang lebih paham soal guliran-guliran yang menyangkut anggaran pendidikan yang kadangkala bisa menjadi siluman.
Dan begitu beruntungnya Karna yang oleh Duryudana telah memberikan pilahan dunia kebesaran dalam tampuk kekuasaan, sebuah petak negeri Angga yang oleh kelihaian Duryudana dalam memilih orang tanpa harus berhadapan dengan Arjuna, walau Drona telah mengikis habis angan-angannya akan sebuah keberhasilan. Bhargawa yang nelangsa. Pada kelahiran berikutnya nanti Karna akan memandang tanah kurusetra sebagai sebuah monumen bersejarah, ketahanan dan ketabahan pergulatan sebuah keberanian. Keberanian mengungkap sejarah yang sesungguhnya kalau kelahiran sang Karna sesungguhnya adalah sebuah penganiayaan moral dari seorang putri berdarah bangsawan tinggi. (DG.Kumarsana)

Minggu, 07 Maret 2010

PENYAIR, SYSIPHUS DAN ARJUNA

Ketika puisi tidak sampai pada pembacanya dalam suatu kalimat yang sangat sulit untuk dicerna kita akan mengatakan itu sebuah puisi yang aneh, puisi yang absurd; kata pembacanya. Maka arah pikiran kita akan berkembang pada makna kata yang kosong dalam pemikiran muluk yang terkadang tidak memberikan daya tarik atau penciptaan absurditas terhadap sesuatu yang membawa makna tak jelas dan kurang berguna untuk dibaca. Baik terhadap dirinya sendiri yang menimbulkan instink sebagai insan yang memiliki rasa seni yang terbawa sikap berkemauan keras untuk dapat mengembalikan tingkah lakunya sebagai manusia yang memiliki tingkah kreatifitas tingkat tinggi yang tidak mandul. Bagaimana kalau kita membaca rangkaian kalimat penuh nuansa keindahan yang sangat menarik bahkan penuh makna yang dalam? Kita melihat makna kata yang dikandung sang pencipta barangkali sangat mudah untuk di mengerti kalangan umum, maka itu menjadi sebuah karya yang sangat menarik dan digemari. Kawan saya pernah menyandang gelar seorang penyair (meski kini tidak dianggap pensiun oleh sementara waktu jeda karena kurang mulai greget) yang pernah menjadi robot dalam kehidupan kepenyairannya. Kemudian dia bersama sama dengan Sysiphus memahami sebuah pendakian terus menerus menggulirkan kebiadaban sebuah batu yang selalu menggelinding tiada henti memberi kesempatan pada kematangan berpikir bahwa segala sesuatu yang senantiasa dia kerjakan hanya sebuah lakon. Obrolan ringan menempuh perjalanan panjang tak bertepi. Teman saya berubah menjadi sysiphus manusia mesin terus menerus menerobos dunia robot yang berkompetensi dengan tehnologi. Betapa menyedihkan. Drastis sekali perkembangan sajak-sajaknya. Akhirnya dia berkata, saya berupaya menjadi batu dalam gelindingan sysiphus. Sehingga lahirlah sebuah obsesi yang sangat ambisius
Pada akhirnya ia melanjutkan dunia kepenyairan dalam hunian sebuah institusi perkantoran yang memporak-porandakan kepeduliannya akan waktu, hakekat dari kata-kata bagi dunia penyair yang tidak tembus ruang dan waktu. Dia terprogram dalam laju gerak tuntutan ekonomi yang selalu mematuhi waktu-waktu yang terjadwal ketat dan akhirnya tidak berkutik. Kita semua tahu ruang gerak seorang penyair kian dipersempit bukan hanya oleh mesin-mesin kantor atau sebuah berita BBM yang terus mengungkit sumber kehidupan yang selalu membendung dari arah mana datangnya sebuah ide. Mungkin lahir sebuah sajak mesin dari kehidupan yang menumpangkan berbagai permasalahan pelik yang muncul sebagai pijakan awal dari kehidupan rumah tangganya. Ada beberapa pemikiran Locke dan Smith telah dia terapkan dalam bahasanya sehari-hari. Senantiasa pada saat kebingungan menghadapi mood yang tak kunjung datang dia akan beralih rupa menjadi sesuatu bentuk robot yang beradaptasi (baca:mengabdikan diri) pada kepentingan keluarga walau suara hati nuraninya selaku pelaku seni (seniman) berkata lain. Selalu bersilang pendapat dengan bathinnya. Bersikaplah dari hati nurani yang dalam untuk menemukan makna dialog yang benar dalam menapsir hasil sebuah karya seni. Itu yang dikatakan Sysiphus muda melawan ikatan kuat melepas bathinnya dari guliran rutinitas. Memang pekerjaan itu menempati urutan yang sangat universal. Sebuah pekerjaan yang mengharuskan terjadwal dengan rutinitas mengikuti prosedur yang diterapkan institusi tempatnya mengais ladang buat kehidupan. Apa yang mendasari seluruh kebudayaan manusia adalah dirinya yang merintis suatu upaya hidup yang realistis. Benar apa yang menjadi ide Locke dan Smith. Dan mari menjadi Sysiphus yang tiada henti mendorong batu itu ke atas bukit, ke atas menara rutinitas dan menunggu bukit itu runtuh dengan sendirinya.
Namun apakah sosok Sysiphus yang abadi pada abad modern pernah menjadi seorang penyair selain mengisahkan pergulatan bathinya sendiri? Atau dalam sosok dunia pewayangan, pernahkah sosok arjuna dalam pergulatan ilmunya berpikir nikmatnya sebuah sarapan bersama keluarga dan kerabat handai-taulan? Dr Franz Von Magnis pernah mengupas hal ini dengan lugas dan sedikit gamblang diterka. Dikisahkan bagaimana sosok Arjuna dalam kisah pewayangan yang sibuk bertapa, berperang, omong-omong, main-main dengan tidak pernah bertanya darimana Arjuna mendapat nasinya setiap hari, siapa yang memasakkan nasi, siapa yang memanen padi di negerinya yang penuh ladang luas dan seandainya kesibukannya dalam dunia pertapaan dan perang bharata yudha tokoh kita tidak sempat memasak atau sarapan, apakah ada kedai yang menyiapkan sarapan khusus? Serta menu apa yang cocok buatnya. Ini bukan kesalahan sutradara dalam mensiasati naskah. Bukan keharusan seorang dalang dalam merombak sebuah cerita. Pun bukan kealpaan sang pengarang sendiri dalam memaparkan ide-ide.
Pada akhirnya dunia seni selaku pelaku seni akan selalu melupakan sarapan entah karena berkhayal tentang dunia kata-kata atau sedang bertapa menuai inspirasi buat berkarya hingga lupa untuk makan atau memang tidak ada yang akan dimakan sebelum hasil karya seni ini lahir, akan rela mengorbankan perutnya demi sebuah idealisme seni. Memang kelahiran sang idealisme yang menamakan diri atau mengatas-namakan seniman tulen perlu memancing seorang tokoh yang mengingatkan jadwal kapan kita sebagai manusia yang merasakan arti panas dingin, sehat dan sakit tanpa melepaskan baju kita selaku pegiat seni. Kitapun tidak akan menjadi ekstrim karenanya. Kitapun bukan manusia ajaib setengah dewa ketika masih merasakan keajaiban peristaltik dalam lambung digugat-gugat asam cuka berlebih oleh rasa lapar dahaga bertubi-tubi datangnya dalam berkesenian. Manakala terlempar pada dunia entah berantah, kitapun bukan Sysiphus muda yang senantiasa menggurat takdir, berani dalam kemandirian meninggalkan segala eksistensi intuisi yang semakin liar melorotkan baju yang disebut robot monoton memalia serta sebagai hewan benalu yang bersifat siluman,untuk berani menghadapi resiko kehidupan lebih frontal. Bahwa dunia seni bak pewayangan bagi sang imajiner macam Arjuna selain berani menanggalkan kebesaran busana pun bisa lebih pekat menghasilkan karya-karya seni dibarengi dengan kualitas seni yang agung Lebih diimbangi intensitas karya sebagai pelaku seni pula. Maka ia akan memberanikan diri selaku penggugat takdir yang senantiasa menanamkan kegelisahan sepanjang tahun dari waktu ke waktu secara terus menerus.(dgk)

Rabu, 17 Februari 2010

WAYANG DALAM BENANG MERAH KONTEMPORER

Menyaksikan pertunjukan wayang memang sangat menyenangkan. Terutama sekali bagi mereka yang mempunyai kecenderungan terhadap salah satu tokoh favoritnya. Seorang anak tanggung yang diajak menonton wayang oleh kakeknya suatu ketika di malam tilem pada saat bulan mati , bersorak gembira ketika menyaksikan tokoh kebanggaannya . Bima menang tanding melawan raksasa musuhnya. Kadangkala menggejala ikut larut memerankan tokoh pujaannya. Di kehidupan realita dan di luar teks naskah yang dimainkan, jadilah ia si anak kecil dari image sang dalang dalam wujud rupa Bima yang selalu bermain seru dengan kawan-kawan sebayanya. ”Bima itu kuat, ia tak terkalahkan. Akulah Bima,” ia akan menjadi Bima diantara kawan-kawannya. Dan ia tak mau terkalahkan dari pikiran yang membelenggu diri si anak dan ia harus mengalahkan kawan-kawan sepermainan dalam adu jotos. ”Aku harus menang karena aku Bima,” pikirnya. Pada akhirnya lahir Bima si-anak tanggung dari imajinasi (fantasi dari yang ditonton) yang terbawa secara tidak sadar ke alam nyata, dalam ruang lingkup sehari-hari.
Lumrah kiranya menyaksikan pertunjukan wayang di negeri sendiri sebagai ibarat kesenangan yang telah menjamur di hati setiap penggemar wayang. Katakanlah suatu upaya pendekatan terhadap alam budaya sendiri. Semuanya itu dapat diterima sebagai rasa penyampaian kebudayaan abstrak di mata penonton sebagai bentuk komunikasi yang mudah dicerna, terutama sekali pada unsur-unsur tertentu. Karena banyak kita lihat pesan-pesan penting yang sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari. Yang dimaksud tentunya sebagai bahasa penerjemah (sanskerta) yang dibahasakan dalam bentuk keseharian yang mudah dimengerti. Selebihnya merupakan bahasa kawi sebagai bahasa yang dimiliki oleh sang pengarang/dalang itu sendiri dalam ungkapan yang diterjemahkan sebagai penyambung rasa buat penonton. Yang memegang peranan penting disini adalah seniman itu sendiri, seniman yang membawa misi, memberikan muatan/pesan-pesan penting yang menggugah, membentuk lakon-lakon yang konyol, ungkapan pesan mengandung unsur filsafat, kesusastraan yang diselingi humor-humor jenaka. Disebutkan sebuah seni dengan pertunjukan bersifat sosio-kultural yang begitu mudah tergambar dalam kehidupan masyarakat banyak
Barangkali nanti akan muncul pertanyaan, bagaimanakah sebuah pertunjukan wayang kita di mata dunia, dan bagaimana pula kalau sebuah pertunjukan wayang dimainkan oleh orang seberang? Sekiranya kalau dapat dikomentari, patutlah buat berbangga hati dan sedikit tepuk dada.
Mark Hoffman punya potensi tersendiri dalam bidang seni satu ini. Ia seolah-olah dalang itu yang bermain-main di atas grafik kesadaran, berkesenian atas adaptasinya dari kalimat-kalimat dalam bharatayuda maupun Pandawa papa terkadang bermain dalam lidah mahabharata, sebuah legenda besar tanah India. Mark Hoffman punya lidah dan cara sendiri untuk memadukan istilah yang ada dalam tokoh-tokoh itu sendiri. Arjuna baginya tak ubahnya sebagai bhagawan Ciptoning dalam proporsi kekayon gandanya. Permainan ini pernah ia tunjukan pada media elektronik nasional sekitar tahun 1986 yang pada waktu itu masih sedikit televisi swasta merambah Indonesia. Yang hidup dalam diri Mark Hoffman adalah kemampuannya mengambil peranan dan demikian fasih seperti dalang-dalang kita sendiri. Kita juga dapat melihat bagaimana Rendra dan Putu Wijaya ditinjau dari sudut dunia kita sendiri dan selanjutnya berusaha untuk melihat Dunia teatral Rendra atau Putu Wijaya dari sisi lain dari pengamatan panggung luar.
Bagaimana kalau di negeri Yunani sendiri misalnya menyaksikan seninya Oidipus Sang Raja atau Antigone karya Sophokles dimainkan orang seberang, dan itu ternyata muncul di negeri kita sendiri sebagai sebuah pertukaran budaya. Rendra telah bermain untuk Indonesia dengan meminjam Shophokles. Begitulah missi Mark Hoffman bermain sendiri dengan meminjam Mahabharata, Baharatayudha dan Pandawa papa. Ia semampunya berusaha melidahkan seninya dengan pertunjukkan wayang. Unsur tokoh-tokoh telah jauh lari dari ide pewayangan. Dapat saja diterima dan kita sebut sebagai suatu bentuk pengukuhan sebuah wayang yang bersifat kontemporer.
Diingatkan kita akan sebuah kisah Arjuna Mencari Cinta berseri yang ditulis pengarang kita, Yudhistira ANM Massardi. Kontemporer yang khas terlihat pada tokoh-tokoh yang berlawanan dihidupkan dalam suatu kesamaan yang tepat. Pengarang menyuguhkan suatu kehidupan yang dibuai jaringan teknologi dan jaringan magis dari suatu kawasan daerah yang berbeda. Misalnya diambil sebuah negeri Jepang dengan menambal sebuah ortodok nilai-nilai yang dianut sistim pewayangan dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Dalam kenyataan zaman modern, wujud Arjuna itu tidak ada. Yang hidup adalah buah pikiran yang terbawa dari wahyu pertama yang mengalir kepada para pengawi. Dengan isi-isi yang telah diterjemahkan oleh pengawi wayang itu sendiri menjadi hidup dalam pertunjukkan dengan menekankan segi moral, petuah-petuah tentang hidup.
Yudhistira ANM Massardi telah mengambil suatu model khas yang tidak tiba-tiba kita lihat. Arjuna dihidupkan dalam segi budaya yang hidup di negeri Jepang (dalam: Arjuna Wiwahaha). Melihat tokoh-tokoh seperti; jenderal Tojo Heideki dengan menjalin pada sebuah kepercayaan tentang Dewi Matahari: amaterasu-Omikami, Ratu Kobe, Musashi dan sedikit kehidupan media seperti koran Yumiuri Shimbun yang sangat terkenal itu.
Sebagaimana yang ditulis Massardi atau kisah yang ditayangkan Mark Hoffman itu sendiri, semuanya menjadi serba sama. Atau seperti kita melihat jalinan dalam satu cerita Anak Bajang Menggiring Angin atau kisah Semar dalam novel yang ditulis Putu Wijaya, merupakan pesan-pesan berarti yang tersembunyi di balik semua itu dengan sedikit kejelian mata melihat.
Pengarang atau pelaku dalang yang berangkat dari intelektual yang sama dengan pemahaman bhagawadgita mengintepretasikan (pada sisi untuk memudahkan pembaca / penonton menyerap dalam mencari waktu yang senggang menikmati moodnya) akan lebih melangkah pada sebuah wujud pemahaman seni kontemporer. Dalam dua budaya yang mengandung nilai seni yang berbeda akan dibuatkan sebuah wujud penciptaan kata sepadan dengan style pengembangan problemasi yang intens dalam keseharian. Eksistensi budaya itu pada akhirnya mencari nalar sendiri terhadap berbagai ragam yang bermuara pada budaya mutualistik dengan narasi kontemporer sebuah seni. Dapat dikatakan satu penggalian budaya kontemporer neoklasis untuk menghadirkan eksistensi sang tokoh. Dengan demikian narasi yang dibangun dalam kekuatan naskah tanpa perlu pengembangan tokoh baru lagi.
Benarlah pewayangan menjadi sesuatu yang kuat dengan meminjam salah satu atau beberapa tokoh yang berkaitan dalam sebuah cerita yang akan dibangun dalam wadah seni kontemporer. Dengan meminjam tokoh seperti Bima, Arjuna, Srikandi ataupun Sekuni, sebuah cerita akan menjadi jelas bertutur dan bertegur sapa dengan pembaca. Pengarang tinggal mengembangkan mood dan perjalanan pesan yang ingin disampaikan, tanpa perlu harus menjelaskan karakter dan bahasa jasmani sang tokoh.. Dengan demikian kalau dikatakan tokoh dalam cerita pewayangan yang dibangun dalam bentuk seni kontemporer lebih tepat kalau dikatakan sebagai sebuah pengakraban pragmatis sebagai sebuah hidangan tanpa cacat cela yang gampang dicerna dalam pemikiran pembaca/penonton sekarang. (DG.Kumarsana)

Senin, 01 Februari 2010

EKSISTENSI KARNA

Sebuah cerita barangkali akan bisa menjadi berbeda kalau Karna ternyata bukan dari golongan yang berkasta, golongan ningrat, priyayi atau golongan ksatria. Dan untuk dapat memperoleh ilmu yang diturunkan sang mahaguru Drona, suhu dari para pandawa lima itu dengan cara tak wajar dia akan mengaku-ngaku sebagai seorang anak dari golongan brahmana. Memang setelah menguasai ilmu, perbedaan itu akan menjadi sirna dengan sendirinya. Siapakah yang menciptakan perbedaan ini? Apakah perbedaan ini terjadi dengan bergantinya kekuasaan, silih berganti perputaran waktu antara siang dan malam ataukah ada aturan-aturan tertentu dalam negara yang memang harus memilah-milah mana yang berhak untuk belajar mana yang tidak berhak. Adakah sebuah perbedaan datangnya dari langit? Tidak! Sekarang ini yang membedakan proses belajar dan sang pengajar adalah status sosial. Perbedaan pelajar antara si miskin dan si kaya yang mencolok jauh. Sebuah ilmu yang dicapai memang tidak mengenal kaya dan miskin, namun setelah proses belajar usai ilmu akan menjadi sebuah gelar sang penyandang sebagai perlambang pengukuhan eksistensinya di masyarakat.
Karna dalam kekinian adalah sosok yang miskin namun tinggi idealisme. Bukan kesalahan sebuah kelahiran dari anak seorang sais, karena bagaimanapun anak seorang mahaguru sekalipun belum tentu bisa berkompromi dengan idealisme yang setinggi langit, karena pada kenyataannya anak seorang sopir angkot, anak seorang sais cidomo dan anak seorang tukang ojek yang jauh lebih rendah status sosialnya ketimbang anak seorang dokter, anak seorang dosen ataupun anak pejabat sekalipun masih bisa tampil dalam pentas bisnis sebuah usaha (istilahnya rekanan bisnis dan modal usaha lebih dipermudah) ataupun pada sebuah pentas drama politik. Namun tidak tertutup sebuah pameo yang beredar di masyarakat dengan kata-kata yang menyesakan dada si miskin bahwa: jadilah anak pejabat, karena berburu ilmu tidak sepenting memburu kepemilikan saham perusahaan. Ada yang diuntungkan, soal nasib tangan dan hukum karma sebuah bisnis. Bisnis yang dibangun dari ketenaran jabatan sebagai sebuah keturunan anak seorang pejabat negara yang memanipulasi data membangun sebuah kerajaan bisnis. Lambat laun memang itu yang terjadi dan pada kenyataan itulah sebuah aji mumpung. Mumpung berkuasa. Dan Karna kekinian pada akhirnya bukan berakhir di medan kurusetra, namun sebuah keberuntungan garis tangan yang mengantarkan perang pada medan bursa pasar saham, sebagai pemilik modal, market leader sebuah perusahaan besar, dengan kekuasaan mengatur orang-orang dan menjadwal kapan mesti PHK dan kapan harga-harga barang dinaikkan. Serta merta yang membuat mahaguru Drona tersungut-sungut bahwa ilmu bukan hanya buat orang-orang tertentu yang lebih mengasihi keberadaan ksatria pandawa lima. Bahwa ilmu bagi si kaya dan si miskin memiliki perlakuan yang sama. Bagi si kaya tinggal melanjutkan jenjang ketenaran, bagi si miskin untuk memanfaatkan fasilitas program negara, pemanfaatan beasiswa dana pendidikan, selebihnya dibutuhkan kreatifitas dalam bentuk personal approach kepada sang penguasa atau yang lebih paham soal guliran-guliran yang menyangkut anggaran pendidikan yang kadangkala bisa menjadi siluman.
Dan begitu beruntungnya Karna yang oleh Duryudana telah memberikan pilahan dunia kebesaran dalam tampuk kekuasaan, sebuah petak negeri Angga yang oleh kelihaian Duryudana dalam memilih orang tanpa harus berhadapan dengan Arjuna, walau Drona telah mengikis habis angan-angannya akan sebuah keberhasilan. Bhargawa yang nelangsa. Pada kelahiran berikutnya nanti Karna akan memandang tanah kurusetra sebagai sebuah monumen bersejarah, ketahanan dan ketabahan pergulatan sebuah keberanian. Keberanian mengungkap sejarah yang sesungguhnya kalau kelahiran sang Karna sesungguhnya adalah sebuah penganiayaan moral dari seorang putri berdarah bangsawan tinggi. (DG.Kumarsana)