Dengan sebutir padibu aku buat keyakinan akan sebuah semangat hidup. Kutelan lalu kuberjalan. Rasanya aku merasa benar-benar mampu untuk berpikir kembali. Aku merasa hidup lagi.
Selanjutnya seorang pengunjung datang pada sebuah outlet Kimia Farma, sembari disambut ramah sang petugas dengan basa-basi bahasa nan akrab menanyakan soal kabar serta ada sedikit keperluan yang bisa dibantu dijawab dengan pertanyaan ringkas sang pengunjung:
”Ada Padibu? Persediaan saya hampir habis. Saya mau melakukan perjalanan jauh”
Sang petugas apotek mengangguk dan mengisyaratkan untuk menunggu, mungkin juga berusaha ramah dengan bahasa: ”Silahkan duduk sebentar, dalam dua menit kurang yang anda butuhkan sudah di tangan”
Dan selanjutnya semenit berlalu dua menit berlalu hanya mendapat sebuah jawaban yang sangat mengecewakan. Lima menit bahkan sepuluh menit barangkali tidak mampu untuk mengobati kekecewaan sang pelanggan yang fanatik ketika harus dijanjikan beberapa hari bahkan mungkin sampai seminggu lebih.
”Maaf, persediaan kami lagi kosong”
”Dimana bisa saya dapatkan? Apotek sebesar ini kok tidak menyediakan?”
Bangga juga kalau dikatakan outlet kita besar. Akan lebih bangga memperlihatkan stand kita Kimia Farma dengan pantulan cahaya billboard terang benderang menyala di malam hari dikatakan sebagai sebuah barometer terlengkap dan sungguh! Sangat megah terlihat dari jalanan saat menyusuri kota. Tentu kita akan menjawab, bahwa apa yang tidak diperoleh sang pelanggan akan kita usahakan dan tentu saja diperoleh disini. Bila perlu dengan menanyakan alamatnya akan kita antar sampai di tempat tujuan, tanpa harus repot-repot dan jenuh mengantri, tanpa harus kesal menunggu lama sambil membaca koran atau menunggu kabar tak pasti menunggu giliran dipanggil di ruang tunggu sembari melewatkan kebosanan dengan menonton TV yang terletak di ujung sudut pandang ruangan apotek.
Petugas sigap menanyakan ke sub gudang hingga central pengadaan sampai menembus jalur distribusi untuk mendapat kepastian. Yang tidak sigap mungkin bisa cuek-cuek bebek saja.
Jawabannya ringan. Lagi kosong distributor. Namun kita tidak bisa ringan memberikan jawaban kepada sang pelanggan fanatik yang sudah terobsesi mendarah daging mengkonsumsi vitamin penambah daya stamina yang mampu meluruhkan segala penyakit yang disebut menurunnya aktifitas. Yang jelas iklannya membangkitkan gairah yang sangat menyala-nyala.
Susahnya manakala memberikan alternatif pilihan sejenis kurang lebih sama atau lebih ampuh seandainya sang pelanggan mengatakan dirinya telah cocok dan sungguh dia katakan sejujurnya: “ Padibu is my life” Nah. Apakah sebuah sugesti yang parah disaat barang dibutuhkan lagi kosong tanpa mampu kita kompensasikan dengan saran lain yang mengubah keadaannya untuk produk yang sama misalnya mengubah pandangannya itu tentang Padibu. Dan selanjutnya dia acungkan jempol” “padibu is the best”
Seminggu, dua minggu bahkan sebulan mungkin kita sudah lupa dengan pelanggan tersebut. Entah juga sudah pernah mendapatkan padibu yang dimaksud di outlet lain bahkan di apotek lain selain Kimia Farma yang pernah dijelaskan sang petugas bahwa: produk Kimia Farma juga beredar di pasaran apotek lain di luar jaringan Kimia Farma itu sendiri. Yang pasti tiba-tiba saja pelanggan yang sama datang kembali menanyakan obat yang diinginkan seperti terkesan sambil lalu atau hanya sekadar bertanya meyakinkan apakah tersedia ataukah masih kosong:
”Ada padibu??”
”Semoga ada pak!” jawab petugas dengan nada sangat ramah sebagai salinan bahasa yang baru menggantikan bahasa yang tersedia sang petugas dengan kata-kata”terimakasih, semoga lekas sembuh.”
”Saya mendapat iklan sehat padibu ini dari seorang teman. Katanya bagus tapi susah memperolehnya. Bahkan di beranda facebook seorang teman selalu dia awali dengan tulisan berapi-api penuh semangat mengenai Padibu. Itu membuat saya jadi tertarik, seampuh apa sih sebenarnya obat jenis ini? Apa benar sangat ampuh sebagaimana kata teman saya lewat bahasanya di facebook? Mudahan tidak kosong ya?”
”Pasti pak. Itu vitamin yang sangat manjur, bagus dan memberikan dampak semangat, terlebih melakukan perjalanan jauh seperti bapak.”
Sang pelanggan manggut-manggut, sedikit menyeka keringat di dahi yang basah. Seperti tengah melakukan perjalanan jauh. (dgk)
Tampilkan postingan dengan label dari jendela peracikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari jendela peracikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Januari 2012
Jumat, 26 Maret 2010
Dari jendela Peracikan MR. SUBSTITUSI
Saking getolnya mengganti obat di apotek maka tahun ini dia sukses menyandang gelar Mr. Substitusi. Saking paham betul soal komposisi , indikasi,reaksi akhirnya semua obat yang diresepkan dia ganti sesuka hatinya dengan produk KF. Ketika ada keluhan dari keluarga pasien dengan ketenangan penuh tanggung jawab serta rasa percaya diri yang besar dia jelaskan dengan sangat terperinci, hingga sang pasien manggut-manggut tidak jadi marah.
“Ya, trims pak dokter,” kata pelanggan tersebut.
Mr Substitusi manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala. Aneh sejak kapan aku alih profesi jadi dokter, begitu barangkali yang ada dalam pikirannya. berkala” untuk menyegarkan dan meningkatkan product knowledge apoteker dan asisten apoteker, yang ketiga: memperbaiki system perencanaan pengadaan barang, sehingga pesanan ke KFTD menjadi lebih baik, setiap pesanan wajib dibuatkan SP dan yang ke empat : setiap pengobatan pegawai dan keluarganya wajib mengutamakan produk Kimia Farma dan dalam hal ini di apotek dialah yang diberi wewenang penuh untuk mengganti produk tersebut. Hebat! Maka tidak heran setiap hari kerjaan mr substitusi ngintil semua outlet untuk mengechek kebenaran empat hal tersebut di atas. Apa sudah diterapkan dengan sungguh-sungguh atau belum sama sekali. Kalau belum dilaksanakan apalagi agak malas dan pura-pura lupa maka akan dapat hukuman.
Jangan sampai ada istilah, lho, saya ‘kan ndak tahu bos kalau harus diganti dengan produk KF. Lho lagi. Lho lagi. Setiap ditanya jawabnya Lho. Teorinya dari atas harus nyambung sampai tingkat paling bawah. Bila perlu pembantu AA-pun dituntut harus tahu. Ntar kalau tercapai, bonusnya bisa dinikmati beramai-ramai.
“Hei, kenapa tak kau ganti produk KF? Naaaaa, ketahuan……”
Sang tertangkap basah hanya melongo lupa mingkem sambil bersikap salah tingkah. Gimana ya, kalau yang ini lha, TST-lah.
“TST? Apaan?”
“Tau sama tau bos hehe… Tahulah bos kalau tiap malam sang empunya produk rajin nyamperin kita dengan sebungkus martabak. Laper bos kalau sampai kelewat shift pada belum makan.”
Wuaduh, gawat! Kayaknya kalau begini bagian promosi juga sepertinya tidak diberikan untuk lengah sedetik saja. Masak gara-gara ‘martabak’ kita rela jadi pengkhianat dengan mengganti produk pihak ke-III? Wah..wah…. gawat juga. Ada ndak yang punya saran untuk hal begini?
Mr. Substitusi dibuat jadi berpikir keras. Jadi tidak hanya sekadar menghafal empat hal pokok di atas. Teori dan praktek terkadang bisa berubah pikiran disaat martabak merambah perut yang lapar. Teorinya, harus menjalankan produk KF, tapi prakteknya : makan martabak. Apa iya statement dan konsistensi bisa kita pertahankan pada jenjang atas nama perut lapar? Ah, jangan-jangan hanya ulah sang perut aja yang begini, perut yang terlalu manja, atau jangan-jangan juga ketika tim promosi KF datang kita juga acung jempol tinggi-tinggi sambil berkata keras-keras:
“Hai teman, wah produk KF udah aku jalanin tuh liat obat di kotaknya ampe habis ludes, besok tinggal buatkan surat pesanan lagi dan ane lakuin kenceng-kenceng sangat kenceng hehehe hebat ‘kan? Ya, produk KF memang hebat dan mantap. Coba aja yang hanya mau beli minyak telon untuk anaknya yang susah kentut, ibunya juga ane tawarin dasabion. Hehehe kok malah ‘ngena’ and mau dibeli juga ya? “
“Wah, anda ternyata memang bener ndak omong kosong kalau dijulukin “sang Substitusi”alias mr. substitusi. Kasi tahu temen-temen yang lain di apotek untuk tetep konsisten menjalankan produk KF ya?” rekan tim pemasaran dari KFTD memuji. Yang dipuji nyengir senang sambil membayangkan martabak.
“Aku yang semangat berapi-api jalanin produk KF, dia malah yang dapet nama. Harusnya aku dong yang dipuji-puji,” gerutu temennya di belakang. Takut bersuara keras-keras, ntar kalau kedengaran malah bisa kena skorsing, tambah runyam!
Tapi akhirnya haha-hehe berakhir dengan salam-salaman sebagai wujud persaudaraan dan sama-sama berjuang untuk mencapai target yang maksimal. Tenang saja kawan, bonusnya yakin akan dibagikan. Semuanya sudah diperhitungkan kok.
“Ya, trims pak dokter,” kata pelanggan tersebut.
Mr Substitusi manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala. Aneh sejak kapan aku alih profesi jadi dokter, begitu barangkali yang ada dalam pikirannya. berkala” untuk menyegarkan dan meningkatkan product knowledge apoteker dan asisten apoteker, yang ketiga: memperbaiki system perencanaan pengadaan barang, sehingga pesanan ke KFTD menjadi lebih baik, setiap pesanan wajib dibuatkan SP dan yang ke empat : setiap pengobatan pegawai dan keluarganya wajib mengutamakan produk Kimia Farma dan dalam hal ini di apotek dialah yang diberi wewenang penuh untuk mengganti produk tersebut. Hebat! Maka tidak heran setiap hari kerjaan mr substitusi ngintil semua outlet untuk mengechek kebenaran empat hal tersebut di atas. Apa sudah diterapkan dengan sungguh-sungguh atau belum sama sekali. Kalau belum dilaksanakan apalagi agak malas dan pura-pura lupa maka akan dapat hukuman.
Jangan sampai ada istilah, lho, saya ‘kan ndak tahu bos kalau harus diganti dengan produk KF. Lho lagi. Lho lagi. Setiap ditanya jawabnya Lho. Teorinya dari atas harus nyambung sampai tingkat paling bawah. Bila perlu pembantu AA-pun dituntut harus tahu. Ntar kalau tercapai, bonusnya bisa dinikmati beramai-ramai.
“Hei, kenapa tak kau ganti produk KF? Naaaaa, ketahuan……”
Sang tertangkap basah hanya melongo lupa mingkem sambil bersikap salah tingkah. Gimana ya, kalau yang ini lha, TST-lah.
“TST? Apaan?”
“Tau sama tau bos hehe… Tahulah bos kalau tiap malam sang empunya produk rajin nyamperin kita dengan sebungkus martabak. Laper bos kalau sampai kelewat shift pada belum makan.”
Wuaduh, gawat! Kayaknya kalau begini bagian promosi juga sepertinya tidak diberikan untuk lengah sedetik saja. Masak gara-gara ‘martabak’ kita rela jadi pengkhianat dengan mengganti produk pihak ke-III? Wah..wah…. gawat juga. Ada ndak yang punya saran untuk hal begini?
Mr. Substitusi dibuat jadi berpikir keras. Jadi tidak hanya sekadar menghafal empat hal pokok di atas. Teori dan praktek terkadang bisa berubah pikiran disaat martabak merambah perut yang lapar. Teorinya, harus menjalankan produk KF, tapi prakteknya : makan martabak. Apa iya statement dan konsistensi bisa kita pertahankan pada jenjang atas nama perut lapar? Ah, jangan-jangan hanya ulah sang perut aja yang begini, perut yang terlalu manja, atau jangan-jangan juga ketika tim promosi KF datang kita juga acung jempol tinggi-tinggi sambil berkata keras-keras:
“Hai teman, wah produk KF udah aku jalanin tuh liat obat di kotaknya ampe habis ludes, besok tinggal buatkan surat pesanan lagi dan ane lakuin kenceng-kenceng sangat kenceng hehehe hebat ‘kan? Ya, produk KF memang hebat dan mantap. Coba aja yang hanya mau beli minyak telon untuk anaknya yang susah kentut, ibunya juga ane tawarin dasabion. Hehehe kok malah ‘ngena’ and mau dibeli juga ya? “
“Wah, anda ternyata memang bener ndak omong kosong kalau dijulukin “sang Substitusi”alias mr. substitusi. Kasi tahu temen-temen yang lain di apotek untuk tetep konsisten menjalankan produk KF ya?” rekan tim pemasaran dari KFTD memuji. Yang dipuji nyengir senang sambil membayangkan martabak.
“Aku yang semangat berapi-api jalanin produk KF, dia malah yang dapet nama. Harusnya aku dong yang dipuji-puji,” gerutu temennya di belakang. Takut bersuara keras-keras, ntar kalau kedengaran malah bisa kena skorsing, tambah runyam!
Tapi akhirnya haha-hehe berakhir dengan salam-salaman sebagai wujud persaudaraan dan sama-sama berjuang untuk mencapai target yang maksimal. Tenang saja kawan, bonusnya yakin akan dibagikan. Semuanya sudah diperhitungkan kok.
Kamis, 18 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan : APOTEK GENERIK
Di jaman krisis moneter ini semuanya serba mahal pak!” Seorang petugas apotek memberi penjelasan kepada keluarga pasien.
“Ya, tapi obat jangan ikut-ikutan naik dong!”
“Maaf, pak ini juga daftar harga kami terima dari pemasok, dari distributor obat. Terkadang bisa dalam waktu sebulan kita malah terima dua kali price list.”
“Ya, barang stok yang lama semestinya jangan dinaikan dulu harganya. Ini apotek latah ikut-ikutan naikkan harga. Kayak harga sembako saja. Semuanya naik melipat. Kita rakyat yang susah,” kata konsumen tersebut sambil ngeloyor pergi, tidak jadi beli obat..
Dan ucapan-ucapan yang sama sering terlontar dari para keluarga ataupun penunggu pasien yang lain. Ketika penulis sempat mewawancarai beberapa pelanggan serta dokter-dokter terdekat, jawabnya ringan-ringan saja, bahkan ada yang sewot dan ngotot menyalahkan apotek yang seenaknya naikan harga obat.
“Ah, itu’kan keuntungan pihak apotek. Dari distributor sampai ke tangan pasien entah sudah berapa kali lipat naik harganya. Kalau itu dikatakan hampir semua bahan baku import, ya habiskan dulu dong stok yang lama, baru diikuti dengan harga baru,” kata salah seorang pelanggan rutin yang complaint dengan perubahan dari harga obat yang juga rutin dibeli setiap bulan dalam jumlah cukup besar. Saking rutinnya datang ke apotek, pelanggan tersebut jadi hafal dengan jalur distribusi obat.
Namun pada kebanyakan pasien dari resep yang dibawa ke apotek, sudah langsung minta jenis obat generik.
“Tolong berikan yang generik ya? Kan enggak makan mereknya….” Ujarnya sembari meniru iklan TV swasta, sambil menyodorkan selembar resep pada sebuah apotek yang bertempelkan stiker pada dinding kaca etalase. Tertulis besar-besar : “Harga obat generik turun 50%”
Kendati dinilai masih agak mahal, toh obat tersebut dibeli juga dibandingkan dengan harga obat paten yang hampir 10X lipat harganya. Namun kalau keuangan sudah tidak memungkinkan lagi pasien dengan agak terpaksa menebus dengan setengah resep, bahkan tidak jarang malah mengurungkan niatnya untuk membeli obat. Itu berarti tidak ada obat yang diminum saat dia sakit.
Masih untung dapat obat. Di saat harga-harga sedang melambung tinggi jauh di angkasa raya, ada beberapa obat yang hilang dari pasaran sedangkan obat-obat tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien.
“Saya sudah keliling apotek mencari voltadex tablet untuk orang tua yang lagi rheumatik. Rutin kok saya membeli obat itu. Tapi jawabnya kosong. Gimana ini?,” kata seorang bapak-bapak di depan apotek yang buka 24 jam.
Nah, kalau sudah begini harus bagaimana lagi? Tapi itu lain lagi kalau jenis-jenis obat dispensing yang memang langsung diberikan oleh dokternya. Terkadang apotek kesulitan untuk memasok kalau tidak dalam jumlah yang besar. Lagipula kabar terakhir sepertinya obat tersebut sudah tidak beredar di pasaran.
Apakah benar harga obat generik turun 50%? Ini yang mesti hati-hati diinformasikan kepada masyarakat pemakai obat.
Pada tahun 1998 pernah memang dirjen POM (pengawasan Obat dan makanan) dalam sk-nya per 18 Pebruari, bahwa harga obat generik turun menjadi normal kembali sesuai dengan adanya subsidi pemerintah sebesar Rp. 700 milyar untuk menunjang bahan baku import. Tepatnya harga obat generik tersebut tarifnya masih antara 6 s/d 66% lebih tinggi dari harga rata-rata sebelum terjadi kenaikan. Kita lihat pada bulan januari sebelumnya sudah dinaikan antara 40 s/d 100%, dengan adanya penurunan harga sebesar 34%, maka masih terjadi selisih harga di atas harga sebelum kenaikan itu diputuskan.
Untuk pasien kronis dengan jenis resep-resep langganan, terutama untuk obat-obatan yang rutin dipakai, sebaiknya memang dicantumkan hal-hal yang sebenarnya untuk menghilangkan kesan ketidak percayaan terhadap pihak apotek. Jadi dengan demikian tidak perlu menyebutkan global angka secara detail satu per satu atas penurunan harga tersebut. Cukup ditulis : “ Harga Obar generik turun”
“Berapa prosen, pak?”
“Ya, adalah sedikit keringanan dengan subsidi pemerintah dan yang pasti obat tersebut masih bisa dijangkau masyarakat,” jawab kita-kita selaku petugas apotek sembari menghibur perasaan gundah pasien.
Ya, memang kita tidak perlu sakit hati dengan keadaan begini. Karena ini terjadi bukan di satu daerah saja, bahkan hampir di semua daerah. Sudah merupakan masalah nasional bangsa kita. Kalau terjadi penciutan biaya-biaya operasional, itu hal yang wajar. Di jaman gelegar harga-harga yang kian melonjak, segala jenis discount-pun mulai ditinggalkan. Tidak ada penjualan dengan discount, yang penting pengadaan obat-obatan harus cukup lancar pemenuhannya dan berada pada stok level yang aman, mahal sekalipun.
Tahun 1998 dalam krisis ekonomi dan moneter yang pernah melanda negeri kita yang berdampak pada harga-harga sembako, melibas juga di dunia farmasi. Kita memang dituntut untuk tetap mengencangkan ikat pinggang dan prihatin dengan keadaan ini. Untuk di unit perapotekan kita masih tidak bosan-bosan untuk menawarkan jenis obat termurah, obat generik yang tidak kalah khasiatnya dengan obat paten. Inilah apotek generik, silahkan beli disini saja pak! (dgk)
Senin, 15 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan : APOTEK BAROMETER
Suatu ketika menjelang dinas malam di apotek dalam jadwal yang bersamaan, seorang dokter menyapa di depan counter sambil basa-basi bertanya.
“Stok obat apa saja yang cukup banyak di apotek?”
“Cukup banyak? Agak banyak? Atau kebanyakan?” jawab petugas apotek guyonan, karena tahu dan hapal betul dokter yang satu ini memang suka bercanda.
“Iya..”
“O….semua ada, hampir tidak ada yang kosong. Tenang aja dok. Apa yang tertulis pasti kami sediakan”
Maksudnya jelas, keadaan stok obat merata ada. Lalu apa yang akan diresepkan?
Tergantung kunjungan dan jadwal kontak med-repnya. Tidak ada yang rahasia dalam penulisan produk dalam suatu resep. Kewibawaan resep adalah setara dengan kontrak kerja dengan produsen obat yang tertera pada kata-kata “ Obat tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan dokter penulis” : Ini mengandung banyak arti bagi si pembaca resep, namun maksudnya jelas. Kalau tertulis amoxicillin jangan dibaca ampicilin. Kalau tertulis Amoxsan jangan dibaca kimoxil. Secara umum yang disebut sebuah apotek barometer adalah me-meratakan stok setiap produk yang dimaksud jalurnya resep dokter tersebut tanpa pernah mengalami kekosongan. Karena Pada dasarnya, inti dari pertanyaan tersebut di atas adalah: jangan sampai targetnya lepas sementara dia sudah menunjuk salah satu apotek kepercayaan.
Tak tertutup kemungkinan walaupun ia praktek in-house dalam lingkungan apotek tersebut namun seandainya stok yang seharusnya tersedia dengan ks-jv salah satu atau beberapa produsen yang membuatkan ‘perjanjian khusus’ yang oleh apotek ternyata kebablasan kosong atau kebablasan diganti produk lain, maka akan sering resep dokter tersebut berlabuh di “apotek tetangga”. Rugi juga akhirnya bukan?
Karenanya, pintar-pintarlah mengambil hati dokter. Dan yang paling mengesankan lagi, kita pintar menjaga dokter ‘in-house’ kita. Karena kalau hubungan baik ini bisa terjaga, maka tidak ada istilah stok barang tidak laku, kurang laku, macet atau bahkan kadaluwarsa.di sebuah apotek. Kalau hubungan baik dengan dokter yang selalu mengarahkan resep-resepnya ke apotek kita mampu kita jaga dan pemenuhan obatnya sesuai dengan perjanjiannya dengan sang produsen, maka urat nadi kehidupan terhadap stok barang-barang dagangan di apotek senantiasa selalu berdenyut dengan teratur.
Menjaga hubungan baik dengan para dokter yang praktek di lingkungan apotek kita ataupun di sekitar radius apotek kita ibaratnya sama dengan memelihara sebuah tanaman. Menjaga tanaman itu agar tidak mudah layu, selalu menyiramkan air dan juga berkewajiban membersihkan kotoran2 yang merusak tanaman tersebut.
Itu teorinya. Pada kenyataan banyak juga dokter in house yang sering beralih ke lain hati salah satu penyebab faktor tidak puas adalah kurangnya waktu kita ber”say hello” dengan dokter in-house kita disaat-saat senggang pengunjung pasien. Bahkan pernah seorang dokter yang praktek di apotek kita berkata begini:
“Mana bossmu? Tengoklah sekali-sekali kita, ngobrol-ngobrol santai mumpung pasien sepi.”
Nah, itu dia.
Atau faktor kekecewaan yang lain seperti seringnya terjadi kekosongan obat sesuai dengan yang diresepkan ataupun terkadang obatnyanya diganti tanpa pemberitahuan sebelumnya. Itu diketahui setelah pasien langganan tetap sang dokter tersebut datang kembali saat control ulang. Ini yang lebih celaka lagi, akhirnya yang terjadi adalah: dokternya memakai sarana kita untuk praktek, tapi resepnya nyelonong ke apotek tetangga. Kalau sudah terjadi demikian, siapakah yang harus tanggap? Ya, semuanya dari kita-kita-lah yang harus tanggap. Tidak saling mencari-cari kesalahan yang bermuara pada lingkaran setan.
“Dok, resepnya kenapa kebanyakan keluar? Malahan apotek sebelah kelihatan melayani resep anda?” petugas apotek kita bertanya.
“Tahu darimana? Emang stok kamu di apotek lengkap ndak sesuai yang saya resepkan?”
“Tuh, lihat! Iya’kan? Masalah stok sebetulnya: yaaaaa…. iyalah…bisa’kan kita bicarakan?”
“Lha, iyo diomongke, tapi mosok diganti diem-diem. Kesel aku!”
“Lho kata siapa, dok?” petugas apotek bicara sambil haha-hehe
“Tuh, lihat, pasien yang nebus ke sebelah itu nunjukin obat seminggu yang lalu,”
“hehe maaf dok kalau kejadian yang satu ini”
“Iya nggak apa-apa, tapi sebetulnya apa sih susahnya hubungi saya?”
Nah, itu dia! Kalau sang dokter penulis resep sudah bicara begitu. Kalau dokter yang satu ini memang karakternya tidak bisa guyon. Jangan coba-coba memancing kelakar. Karena kesehariannya serius banget.
Namun terkadang komunikasi yang kurang nyambung antara med-rep dan apotek yang bersangkutan, sering terjadi kasus serupa, dan ini bukan hal yang rahasia lagi. Melebihi batas penulisan maksimal, terlebih dokter yang memiliki pasien cukup melebihi jumlah stok obat yang ada di apotek sehingga saking seringnya obat tersebut ditulis, apotek sering kewalahan juga. Ujung-ujungnya terjadi pergantian obat atau terkadang kita membeli ke apotek sebelah. Prosentase laba jadi bergeser ke tetangga. Belum lagi med-repnya datang-datang dan complaint:
“Mbak, kok produk saya sering diganti? Stok yang lebih banyak dong!”
Lalu apa jawab petugas apotek?
“ Obatnya jarang ditulis mas!”
Wah ini dia, jadi lupa hubungan mana costumer extern kita. Namun kalau bicara soal rumah tangga peracikan plus BPBA-nya, kita juga bisa baca dari system yang kita punya berupa level dari barang laku, tidak laku, jarang laku atau di lakukan dalam kubus pareto A ke B ke C dst. Dulu sekitar tahun 90-an kita sebut TQC, istilah lain untuk sebutan Total Quality Control, kendati dalam praktek kerja agak terlewatkan. Akhirnya sering kita angkat telpon : “Apa yang bisa kami ganti,dok?”
“Loco saja!” jawab sang dokter enak terdengar di gendang telinga atau juga barangkali di-enak-enakkan saking baiknya hubungan kita dengan dokter tersebut.
Lebih ekstrim lagi muncul dengan nada bercanda agak digalak-galakkan suaranya: “ Tutup saja apoteknya!” Atau : “ buatkan copy resep dan please, cari di apotek lain. Kasihan bang Jupri, atau mbak Ayu (maksudnya rep dari obat yang ditulis) nggak ada bonus kerjanya…..”
Nah!
Memang kalau kita agak kurang akrab dengan beberapa dokter akan terjadi demikian, suara yang serba ekstrim kita dengar di gendang telinga.
Barangkali saja dokter yang baik atau dokter yang bisa diajak berdamai dengan apotek suaranya akan terdengar merdu di telinga.
“Kalau perlu, silahkan apotek. Ganti saja!” Terkadang memang kita sering bingung dibebankan untuk mengganti. Itu sudah kepercayaan dokter penulis resep buat kita. Karenanya kita sering perlu mempelajari karakter masing-masing dokter, karakter penulisannya serta hari-hari tertentu, dalam artian kapan musimnya produk Sanbe, kapan musim interbat, kapan musim Lapi ataupun Kalbe dst. Lalu kita tinggal diberi pilihan untuk menentukan mana sekiranya yang tersedia di apotek saat ditulis.
Apotek anda sedia yang mana? Lha terus untuk produk Kimia Farmanya yang mana dokter?
“Atur Saja!”
Enak sekali bukan? Memang cara hubungan yang enak itu begitu, sekadar menghindari kesan seenaknya main ganti, beberapa hari kemudian, manakala ketemu sang dokter pujaan hati kita akan ungkapkan perasaan sejujurnya.
“Maaf, dok, kemarin dulu tuh, obatnya terpaksa kami ganti,” dan sang pujaan hati sambil menaggut-manggut akan berkata,”nggak apa-apa. Lain kali lu mesti sediakan yang gue tulis.”
Tentu saja.
Yang enak itu begini, dokter rata-rata dan hampir semua baik terhadap outlet kita. Saking sudah bosan nulis resep dan saking baiknya berlipat-lipat, ia bertanya pada pihak apotek: “ Stok obat kamu yang banyak nongkrong apa aja?”
Nah, inilah yang disebut dengan pencairan barang, daripada stok menumpuk di gudang, lalu dengan seenaknya kita informasikan apa yang harus dokter tulis. Memang terkesan agak mendikte. Namun jangan diartikan demikian demi hubungan kerjasama kita yang sudah terjalin baik. Ya, barang yang tidak laku sama sekali akhirnya terjamah. Pemenuhan obat dari resep ke tangan pasien/pelanggan akan terpenuhi semua. Artinya resep masuk-keluar obat, apapun loconya. Yang penting masuk resep bukan salinan/copy resep yang keluar. Bagaimana?
Aptek jelas mencari laba, terkadang barometer begini yang mengena di tangan dokter. Approach sedikit sambil basa-basi alakadarnya. Karena sebuah basa-basi yang sehat, dokter manapun sepertinya akan berkurang rasa tersinggungnya mengetahui ada beberapa resepnya yang diganti dan etika kita, dokter jelas mengetahui sebelumnya apa yang akan keluar dari apotek. Rasanya kita senang menjadi apotek yang ditunjuk :
“Cari saja di apotek Kimia Farma. Lengkap kok!”
Bangga’kan?
Jumat, 12 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan: APOTEKNYA BUKA SAMPAI KIAMAT
Seorang anak usia belasan tahun nampak berdiri di depan outlet 24 jam. Matanya tanpa bekerdip menatap plang yang tertempel pada dinding luar. Bibirnya komat-kamit membaca kalimat pada papan yang bertuliskan: APOTEK KIMIA FARMA, BUKA 24 JAM. HARI MINGGU DAN HARI LIBUR TETAP BUKA
Petugas apotek bertanya, “ Ada yang mau dibeli dik?”
Sebuah pertanyaan yang sederhana buat ukuran anak usia belasan tahun, ketimbang dengan ucapan, “ maaf, ada yang bisa saya Bantu?”
Anak kecil itu balik bertanya, nadanya menggurui,
“Kenapa tidak ditambah aja kalimatnya pak?!!”
Petugas apotek mengernyitkan alis.
“Harusnya; Buka 24 jam, hari minggu, hari libur tetap buka……sampai kiamat,” usulnya dengan nada sungguh-sungguh.
Tentu saja ucapan itu memancing gelak tawa petugas apotek dan pasien lainnya yang lagi menunggu obat dan tentu saja itu merupakan sebuah ungkapan anak kecil yang lagi iseng dan tidak membutuhkan jawaban serius. Pemikiran seorang anak yang terlampau kreatif sehingga terkesan aneh di pendengaran orang-orang dewasa yang kerap juga keanehan-keanehan lain pasti akan mengundang gelak tawa. Sebab 24 jam pelayanan sudah memberikan ukuran yang namanya sebuah service pelayanan lebih, dari ukuran waktu jam kerja standard aturan ketenaga-kerjaan. Itupun juga merupakan upaya pemenuhan serta mempermudah para konsumen manakala mengalami suatu insiden segala kebutuhan yang menyangkut hal-hal yang sangat emergency bisa segera teratasi, tanpa harus menunggu hari esok.
Bisa saja kita melihat pelanggan yang marah-marah bahkan sampai harus menggedor-gedor etalase apotek, manakala datang jam 2 dini hari untuk keperluan yang sangat emergency sekali akan obat, ketika menyaksikan petugas apotek tidak berada di tempat atau kedapatan tengah ngorok. Ironisnya terpampang apotek 24 jam. Itu harus bisa diterima dengan jiwa besar dan merendah kalau sedikit sentuhan yang meronai temperamental sang konsumen membuat mereka untuk complaint. Bahkan terkadang sang pelanggan sampai harus menghardik petugas kalau mengetahui apa yang mereka butuhkan ternyata tidak ada. Bahasa rendah hati ‘ready low stock’ akan dapat kita bahasakan lebih indah lagi lewat kemampuan sang petugas apotek untuk berinisiatip memberikan pilihan terhadap pelanggan akan produk sejenis dengan image yang enak diterima. Minimal produk pilihan yang setara serta kurang lebih memiliki komposisi serta indikasi yang sama.
“Ini sama lho, pak. Bagus juga ehm…maksudnya sejenis dengan apa yang tertulis di resep. O,ya bapak nggak usah khawatirlah, sebab saya juga pernah merasakan keampuhan obat ini…….”
Atau dengan cara lain untuk lebih meyakinkan sang pelanggan yang fanatik berat terhadap apa yang tertera dalam penulisan resep dengan menghubungi dokternya daripada ketus memberikan alternative jelek dan menjengkelkan pelanggan seperti : “Cari saja di apotek lain?”
“Bah! Dimana apotek malam-malam begini ada yang buka?”
Tentu saja tidak semua apotek buka sampai larut malam atau yang buka 24 jam pun kadang bisa dihitung dengan jari. Di saat-saat seorang pelanggan harus datang tengah malam untuk suatu kebutuhan mendesak.
Dengan kata lain, apotek 24 jam di saat-saat tengah malam bukan berarti hanya sekadar menunggu datangnya pembeli. Boleh dikatakan disini bahwa ini merupakan wujud sebuah pelayanan yang lebih baik. Disaat kapanpun anda membutuhkan kami, kami selalu siap melayani anda. Bahkan bilaperlu obat siap diantar sampai ke tempat tujuan, apalagi yang berada dalam kondisi opname di sebuah bangsal rumah sakit. Pokoknya aman. Siip! Asal jangan antar ke daerah pelosok yang sangat rawan konflik, ataupun rawan criminal. Tapi kalau terpaksa, ya apa boleh buat. Toh namanya membantu orang, iya nggak?? Konsekuensinya shift untuk petugas jaga malam memang selalu disiapkan dengan jaminan susu-telor-madu-jahe plus ginseng. Akan lebih mantap lagi kalau diformulasikan dengan sebutir PADIBU. Wah. Terus darimana dana itu diproleh? Dari pasien? Wow bukan! Biasanya setiap outlet yang memiliki shift 24 jam akan selalu menydeiakan kotak pengaman, entah itu dari dana-dana salesman,para detailer ataupun barangkali kalau-pun pimpinan outlet tidak pelit; sekali waktu akan mentraktir dengan beberapa nasi bungkus.
Tidak hanya itu saja. Ketika telepon berdering jam 4 pagi hanya untuk menanyakan fungsi obat yang dimiliki seseorang pelanggan, maka dengan sigap memberikan jawaban yang tepat, akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, tanpa harus membiarkan telepon itu sampai harus berdering lebih dari dua kali. Ya, kalau kelebihan dering mungkin dapat dimaklumi, bisa saja petugasnya juga tengah melayani pembeli yang datang.
“Maaf, pak mengganggu. Ada masalah dengan perut saya. Saya memiliki jenis obat-obat sisa dari dokter yang pernah dibeli di beberapa apotek. Yang mana harus saya minum?”
“Oh, nggak apa-apa kok diganggu, ini juga lagi tugas. Mohon disebutkan atau dibacakan masing-masing obat yang sedang bapak pegang,” petugas yang memegang handle telepon bertanya sembari ngantuk-ngantuk dan menjelaskan sambil menahan (untuk tidak menguap) di dampingi buku ISO terbitan terakhir yang selalu tersedia di samping box telepon.
Lalu kita memberikan penjelasan plus…….
“Setelah itu diminum, tidak akan ada masalah lagi dengan perut anda. Dan kalau masih sakit mohon hubungi dokter keluarga anda atau Rumah sakit terdekat. Dan jangan lupa lho, pak, obat-obatan tersebut harus tersimpan di kotak yang terkunci yang aman dari jangkauan anak-anak.”
Kita-pun senang sekiranya pelanggan memiliki nomor telepon apotek kita. Makanya jangan sungkan-sungkan membagikan kartu nama anda kepada setiap pelanggan. Pelayanan 24 jam bukan berarti hanya menunggu para pelanggan yang datang ke apotek dengan mengabaikan telepon yang sewaktu-waktu akan berdering setiap jam bahkan mungkin setiap menit sekalipun. Dengan harapan, kita tidak menginginkan seorang ataupun beberapa orang pelanggan harus memutar nomor lain hanya untuk bertanya indikasi obat. Jadi jangan pernah marah ataupun menggerutu ketika ada suara telepon tengah malam. Setiap dering telepon, setiap orang yang datang ke apotek adalah rejeki yang tidak boleh ditolak.
Dan memang pelanggan cilik yang pernah datang ke apotek tersebut berkata benar : apotek yang buka 24 jam bukan hanya hari minggu dan hari libur tetap buka, bahkan sebagaimana yang kita inginkan pada setiap pelanggan untuk tetap datang ke apotek sampai kiamat untuk menjadi pelanggan seumur hidup hingga keturunannya. Bagaimana????(dgk)
Kamis, 11 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan: BUTIR BUTIR PENENANG
Suatu hari petugas apotek di counter didatangi laki-laki berperawakan aneh. Ia berkata:
“Obat yang anda berikan kemarin itu keliru.”
“Keliru?”
“Ya, keliru. Saya sudah biasa minum obat dan ternyata obat yang saya terima kemarin itu salah,” katanya sambil menunjukkan obat ke tangan petugas.
Petugas apotek menerima dengan hati-hati, lalu membaca nomor serta jenis obat pada klip pembungkus obat tersebut, NEUROVIT E.
“Bapak sakit apa? Ini vitamin untuk menambah stamina yang loyo. Vitamin ini untuk menyehatkan tubuh di saat-saat letih….”
“Saya tahu!” bentaknya.
Karuan saja petugas tersebut tersentak kaget dibentak sedemikian rupa..
“Lho, lalu maksud bapak?”
“Saya telah meminta pada dokter sejenis obat penenang, karena saya sulit tidur saya minta valium atau sejenisnya. Saya sudah biasa minum obat itu. Eh, yang saya terima malah vitamin! Apakah apotek sudah seenaknya mengganti obat yang tertulis pada resep dokter?”
“Sabar dulu pak. Sabar ya? Sebentar saya lihat arsip resepnya dulu,” lalu dengan sigap petugas membuka rekaman resep pada program KISS yang baru beberapa bulan ini dioperasikan. Tidak sulit, rekaman data atas nama pasien tersebut memang benar Neurovit E dragee. Sudah benar apa yang tertulis di resep terlayani kemudian nomor yang tertulis diambil arsip resepnya untuk lebih meyakinkan pada pasien. Dengan sinar kemenangan yang terpantul di matanya petugas tersebut menyodorkan resep arsip ke hadapan pasien. Untung saja tidak terjadi kekeliruan sebagaimana yang ia duga sebelumnya.
“Ini lho pak. Sudah sesuai dengan apa yang kami berikan.”
Lelaki muda itu melihat, lalu manggut-manggut dan lama terdiam.
“Bagaimana, pak?” Tanya petugas itu ramah meyakinkan kebenaran kerja rekan-rekannya di apotek.
“kalau begitu beri saya valium,” jawabnya sembari memerintah setelah dari tadi lama terdiam.
“Waduuh…..maaf, pak. Kalau yang ini mesti dilayani dengan resep dokter.”
“Dokter apa? Saya minta valium yang ditulis ternyata vitamin. Saya tidak mau tahu. Beri saya Valium!!” suaranya kian meninggi menandakan temperamen seseorang yang keras dan tidak mau dibantah sama sekali kata-katanya.
Waduh ini sudah semakin gawat, belum lagi pakai acara menggebrak-gebrak meja etalase. Namanya petugas wanita yang dihadapi tentu saja sang petugas terbirit-birit kea rah belakang ruangan dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada rekan kerja lelaki atau apotekernya.
Apotek sepertinya menghadapi hal-hal yang sama sebagaimana dengan kejadian-kejadian yang menimpa permasalahan menyangkut obat jenis psikotropika di apotek lainnya. Itu memang sangat tidak wajar. Anak-anak muda yang suka ‘teler’ atau kebanyakan demam nge’fly’ dengan butir-butir penenang untuk memberikan mimpi sorga dunia pada hidupnya yang berantakan. Ini rata-rata terjadi pada anak-anak muda ‘broken home’, pemabuk ataupun yang pada tahap awal pergaulan dari teman-teman sejenisnya telah dikenalkan butir-butir kenikmatan tersebut yang pada akhirnya akan semakin membuat ketagihan. Apapun alasannya, bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan obat tersebut.
Biasanya mereka datang ke apotek dengan cara-cara yang sangat mengesalkan bahkan tidak terpuji sama sekali. Dan hal ini tentu saja setiap apotek pernah mengalaminya. Bisa mereka datang dengan cara yang sangat kasar, suara-suara yang keras, menggebrak, menghardik bahkan sampai memaki ketika apotek memberikan alas an bahwa obatnya lagi kosong stok. Memang untuk hal-hal semacam ini tidak perlu dilayani dengan ramah oleh petugas satpam apotek. Apakah hal ini bisa dihadapi dengan sikap yang ramah, sementara mereka datang dalam keadaan mabuk, mata merah dan terkadang sedikit sayu dalam pandangan kosong dan omongan yang tidak terkontrol. Terkadang kita harus tetap sabar sebagai seorang petugas di counter pelayanan walau sering menerima omelan,cacian bahkan sampai-sampai melakukan tindakan menggebrak meja etalase.
“Daripada kita dilaporkan pada atasan lalu ditegur karena kurang ramah melayani, yah, terima saja perlakuan kasar itu,” ungkap mbak Yani, salah satu karyawati yang bertugas di apotek itu.
“Lho kita-kita ini ‘kan digaji hanya untuk menerima perlakuan seperti itu. Ya, didamprat, dicaci-maki, kadang diplototin pelanggan, itu sudah biasa kok,” katanya sambil bercanda setengah meringis gemas kalau ingat kejadian buruk saat melayani pelanggan model begitu.
Itu tidak seluruhnya benar,walaupun tidak juga salah sama sekali. Ada batas keramahan yang harus kita perlakukan terhadap pelanggan sepanjang hal itu wajar diterima pelanggan. Untuk kasus valium tablet di atas kita kategorikan pada service excellent bab yang mana? Bisa saja kita punya anggapan bahwa dokter menulis resep tersebut untuk menolong si pasien itu sendiri, untuk menghindari pemakaian obat-obat golongan psikotropika berlebihan, hanya karena faktor kurang/tidak bisa tidur. Lain lagi pengalaman sebuah apotek ketika seorang dokter menelpon : “ saya menulis valium tablet, katakan saja stoknya kosong. Awas, hati-hati! Dia membawa sebilah belati di balik jacketnya. Hati-hati mengajaknya bicara,” pesannya.
Akhirnya kita tahu obat-obat penenang yang diincar anak-anak muda tersebut resepnya terkesan oleh dokter ditulis tidak dengan sekehendak hati oleh karena di bawah suatu ancaman. Ketika pada hari-hari berikutnya jika kita menerima jenis resep dengan penulisan demikian, petugas apotekpun sudah bisa menentukan sikap untuk memilih jawaban yang enak untuk si pembawa resep, kendati tak jarang harus menerima dampratan maupun gebrakan tangan ala film cowboy. Itu wajar. Wajar yang menyakitkan.(dgk)
Selasa, 09 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan : RESEP BAYGON

Dengan amat sangat tergesa-gesa si orang tua itu menyodorkan resep ke counter sebuah apotek. Wajahnya berkeringat dengan nada gemetar berucap : “ Tolong segera! Anak saya mau mati. Tolong pak, tolong bu….” Suaranya terbata-bata, setengah memelas, setengah memohon. Sisanya mengguguk. Air matanya mengalir di keriput pipi tuanya.
Petugas apotek, entah laki-laki entah perempuan, bergegas menyediakan obat pada pojok kanan atas resep bertuliskan “CITO” dari sebuah Instalasi Gawat Darurat. Seratus ampul Atropin Sulfat bahkan lebih.
Agaknya petugas apotek tidak perlu banyak tanya terhadap keadaan seperti ini gawatnya. Untuk pengisian sebuah master pasien/pelanggan sebagai data pelengkap system IT kita yang sangat bonafide, sementara waktu tidak perlu bertanya: “ alamat yang bisa dihubungi pak? Nomor rumahnya berapa? Ada telponnya nggak, punya HP nggak? Berapa Nomor yang biasa dipergunakan? Atau rumahnya ikut RT berapa, Siapa RT-nya, rumahnya di jalan apa, jalannya sudah di aspal apa belum, masuk gang berapa, gangnya buntu apa tidak? Dlsb.dlsb. Itu pertanyaan tidak perlu ditanyakan sementara waktu dalam keadaan benar-benar emergency, sebagaimana pasien/pelanggan lain yang biasa kita tanyakan saat menebus obat di apotek. Peristiwa seperti ini memang berbeda.
Cukup diketahui; apakah dia ingat bawa uang atau tidak. Kalau seandainya tidak membawa uang, apa yang dapat dijaminkan atas bon obatnya. KTP, SIM, BPKB, Akta Nikah atau bajunya sendiri. Dan kalau lagi apes, tanpa jaminan apa-apa, kita cukup berdoa 3 kata ajaib: Semoga Nanti Dibayar! Kalau tidak, ya Norok!
“Anak saya minum baygon,” suara tua itu menjelaskan tanpa diminta. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata saking bingungnya, ia lari ke IGD begitu menerima satu box penuh Atropin.
“Lho bayarnya pak?” petugas apotek terpaksa berteriak.
“Nanti saja!”
“Wah!!!!” tak urung melihat keadaan seperti ini, pelan tapi pasti kita harus berpikir hati-hati. Namanya juga orang lagi bingung. Salah satu kawan jaga kita mesti datang kesana mendekati keluarganya dengan aksi sedikit slonong-boy longok sana-longok sini diantara kerumunan pengunjung keluarga pasien yang berkumpul di area ruangan IGD. Mencari dan berusaha mengenali bapak tua yang “melarikan” sekotak atropine. Tidak sulit memang kalau mencium bau hawa baygon dari seseorang yang terbujur sedang dikerumuni dokter dan beberapa perawat dengan seragam putihnya. Bahkan juga beberapa keluarga yang bersangkutan dan pengunjung lain yang ingin tahu-pun terlihat disana mengerubungi.
Bagi kita alasan yang tepat memang untuk mencari tahu bagaimana sesungguhnya keadaan si-korban. Pada umumnya pasien kasus begini biasanya segera dapat tertolong, karena begitu sigap di bawa ke rumah sakit terdekat atau rujukan dari puskesmas. Applause buat segenap petugas IGD Rumah Sakit, segalanya dapat tertolong, apalagi rumah sakitnya buka terus, 24 jam full time, full kuman dari semua jenis penyakit yang di bawa pasien dan full music dalam nuansa vocal rintihan kesakitan. Kasihan
Dan si korban tersebut memang lagi terbujur dengan slang zonde di hidung nampak muntah-muntah. Baunya yang keluar, cailah……Baygon doang.!!
“Untung cepat ketahuan. Si Joni belakangan ini sering terlihat berlaku aneh. Sering termenung dan berlama-lama menutup diri di kamar,” ungkap salah satu keluarganya yang kebetulan turut serta mengantar ke rumah sakit.
“Barangkali nyari inspirasi susun strategi politik menjelang kampanye pilkada nanti,” kata keluarga satunya.
“Inspirasi apa kalau otaknya sudah terjungkir!”
“Ya, sekadar ingin tahu alam yang lain di bumi ini….”
“Ah, aneh-aneh saja!”
O, remaja-remaja, kisah remaja bayang buram, kemana kau bawa dirimu. Kalau sudah terjadi “musibah psikis” begini salah siapa? Bukan salah bunda mengandung, wong bundamu belum koit. Persoalan nyawa tak lebih seharga permen karet, padahal harga permen karet tak semahal Atropin. Nyawa tak ubahnya hanyalah sebuah babak permainan yang diukur dengan cairan pembunuh serangga. Kenapa malah ikut-ikutan jadi serangga pake acara menenggak cairan baygon segala? Itu gila namanya, stress, frustasi, jogang!
Asal mulanya mengecap permasalahan dengan menelan penyelesaian dengan cara mudah. Tapi bukannya selesai, malah bikin ruwet semua keluarga. Ujung-ujungnya berakhir di rumah sakit.
Dan jalan pintas. Sangat ringkas! Namun apa yang didengar dari keluhan si anak hilang iman yang sedang diuji imannya? Bukanlah keluhan sakit yang merengek-rengek untuk minta disembuhkan. Justru sebaliknya, suara hati kecilnya menjerit-jerit minta kematian. Ingin mengakhiri jalan hidupnya dengan cara ekstrem, tidak terpuji.
Wahai semudah itukah manusia tercipta, dilahirkan ke dunia ini dengan segalan runtutan ritual keagamaan, pada akhirnya harus memilih kematian sebagai sebuah jawaban tanpa restu? Aapakah tidak ada cara lain yang harus ditempuh untuk mencari solusi tanpa harus membuat repot dan was-was keluarga? Kenapa tidak minum arak saja atau teriak-teriak di simpang jalan sambil ngamen, walau vocal tak jelas. Toh, ini juga namanya sebuah pelampiasan tanpa harus ngoyot baygon?
Melihat kasus ini, biasanya sudah terlampau sering resep-resep baygon datang silih berganti bermunculan di counter apotek, setara dengan kasus-kasus lainnya yang hampir serupa. Entah sebelumnya, sedang terjadi ataupun yang bakal terjadi nanti, terkadang kita tidak mengharapkan kejadian itu. Namun munculnya selalu dalam kasus yang hampir mirip sama.
Setelah beberapa menit berselang, entah mungkin beberapa jam berlalu, petugas apotek mendekati keluarga korban secara extra hati-hati dan berbicara:
”maaf pak, obat yang bapak ambil di apotek tadi belum dibayar.”
“……………………..!?”
Jumat, 05 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan : KREATIFITAS MENULIS DI BAWAH BAYANG BAYANG JAKARTA

“Aku tidak akan pernah berada di kota ini ketika segala pikiran kubuka pada sebuah kalimat, manakala aku telah membuka halaman demi halaman buah pikiranku. Dan tuntas kutuliskan pikiran pada sebuah rangkaian kalimat yang panjang dari waktu ke waktu selama kreatifitas itu masih mengaliri urat nadiku”
Ketika sebuah tulisan telah muncul pada halaman sebuah media massa tidak pernah kita membayangkan bagaimana ekspresi penulis saat merampungkan aktifitasnya di balik layer. Yang hadir di tengah-tengah sidang pembaca hanya hasil sebuah proses, sementara penulis itu sendiri kembali bergelut dalam proses demi proses kepenulisan pada tahap berikutnya. Proses menulispun sebagaimana yang sudah dikemas sebagai sebuah bacaan yang (entah) enak untuk dibaca yang pasti pembacanya sendiri tidak begitu memahami sejauh mana kreatifitas penulisnya di belakang layar. Bergulir dengan kalimat, mengoreksi sendiri sebelum sampai di meja redaksi, memberikan gaya bahasa yang enak dibaca. Memberikan informasi yang benar-benar harus aktual. Tentu saja, kita-kita ini selaku reporter Gema Kaef telah turut andil memberikan nuansa buat perkembangan isi halaman demi halaman majalah Gema Kaef. Dengan demikian seorang penulis tidak pernah atau jarang menjadi halaman sebuah biografi ringkas dari karya tulisnya sendiri atau bahkan turut menjadi bagian dari pemberitaan tersebut. Sangat jarang terjadi. Misalnya seorang penulis memotret karyanya sendiri sebagai sebuah suguhan mata berita untuk diketahui sang pembaca. Sang reporter menjadi nara sumber itu sendiri, jelas akan menjadi berita yang sangat menggelikan dan mengundang gelak tawa pembaca. Demikian halnya seorang fotografer, tidak mungkin kesana-kemari menjadikan dirinya obyek untuk pemuatan sebuah pemberitaan. (baca: motret diri sendiri untuk ditampilkan). Reporter maupun fotografer mencari obyek sebagai narasumber di luar dirinya sendiri dan bukan memperlakukan dirinya sebagai obyek pemberitaan. ( ini hanya sebuah intermezzo)
Sebagai seorang reporter dan juga dapat dikatakan kontributor daerah majalah Gema Kaef, saya akhirnya bisa terbang juga ke Jakarta melongok dapur redaksi. Karena sebuah kalimat yang dihasilkan sebagai sebuah peliputan, atau mengolah bahasa untuk saya tulis dengan tidak mengenal bosan sampai dengan diterbitkan tulisan tersebut di majalah Gema Kaef, saya akhirnya bisa sampai di Jakarta. Kejutan? Pasti. Sebut saja angka honor yang diterima dari hasil tulisan, tidak mungkin sanggup membiayai perjalanan Mataram-Jakarta PP. Karena honor yang biasanya saya terima akan habis dengan mentraktir teman-teman sejawat di kantor untuk sama-sama makan nasi goreng di warung. Lantas? Nah, itu dia jawabnya ada pada Corporate Secretary ticketnya memuluskan rencana untuk memberangkatkan saya dalam rangka bersilaturahmi dalam ajang menambah wawasan dan juga ada satu rewards menarik.
Temu karya Reporter Gema Kaef, demikian dibuat mata acara dengan mengundang beberapa rekan-rekan reporter aktif penulis gema kaef selama empat hari untuk menambah pengetahuan jusnalistik mulai dari konsep sebuah media, perencanaan media sampai fotografi jurnalistik. Yang sangat menarik ada kesempatan langsung mengadakan peliputan jalannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Kimia Farma. Tbk. Menjenguk dapur media Indonesia dan Redaksi Metro TV. Pembelajaran dalam bentuk sharing yang sangat menyenangkan.
Saya jadi teringat perjalanan seorang teman seprofesi ketika pernah berkutat dengan masa lalu pada sebuah media Bali Post dan sempat sama-sama berkiprah dalam satu sanggar sastra; sanggar Minum Kopi. Namanya Warih Wisatsana yang dikenal sebagai seniman, budayawan dan pernah juga sebagai wartawan. Sebagai sastrawan ia pernah mengunjungi Prancis. Buah pikirannya banyak dipengaruhi oleh tokoh seperti Ramdhan KH, Jean Couteau dan Henri Chambert-Loir. Dalam menulis teman saya yang satu ini karyanya juga sering diilhami oleh Yoseph Brodsky, pemenang nobel 1987, termuda setelah Albert Camus. Teman saya ini sering berkhayal jalan-jalan ke Eropa. Negeri yang sering datang dalam mimpinya.
Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan ketika ia terpilih untuk mengikuti Festival Winternach di Den Haag Belanda. Tentu saja tanpa berbekal uang saku dari honor tulisannya selama ini.Karena akomodasi ditanggung oleh panitya. Dalam kadar tertentu pengalaman teman saya sepertinya ditularkan pada saya. Karena dengan ilmu menulis kita bisa sampai disana. Dengan tulisan inilah kita bisa terbang ke suatu tempat. Warih, dengan sajak engkau terbang sampai ke daratan Eropa. Dan DG.Kum dengan tulisan kau cukup hanya sampai Jakarta. Itu pun patut dihargai, tanpa berbekal untuk ticket serta dengan sedikit perbekalan untuk berjaga-jaga jangan sampai kelaparan sampailah aku di kota tujuan. Dan terimakasih tak terkira buat rekan2 corporate mengurus semuanya hingga semuanya berjalan lancar. Dan sebagaimana komentar pemred Ibu Ami pada waktu itu sebelum digantikan pak Joko, Ruangan awal perencanaan jadwal pertemuan kami penuhi di tempat yang biasanya dilakukan rapat-rapat oleh para komisaris dan para direksi. Sangat mengesankan. Terimakasih tak terhingga buat mas Budi dan mas Bathin yang selama berlangsungnya acara hingga berakhir sangat membantu kami mengurus penjemputan, penginapan dan sampai mengantar kami jalan-jalan ke Bogor. Terimakasih yang tak terhingga pada Direksi yang memberikan kesempatan pada kami untuk lebih memperdalam dan meningkatkan mutu kami di bidang jurnalistik. Juga kami tak berharap lebih kalau sekiranya untuk kelanjutan masih tetap menunggu undangan berikutnya. Corporate Secretary jangan segan-segan untuk mengundang kita kembali selaku reporter daerah yang aktif.
Sempat juga bertemu dan foto bareng ama big bos komisaris KFA bp. Zurbandi dan komisaris KFTD bp. Handy Rusman.
Senin, 01 Maret 2010
Dari Jendela Peracikan : SEPERCIK IKLAN YANG SEHAT (my life is padibu)

Dengan sebutir padibu aku buat keyakinan akan sebuah semangat hidup. Kutelan lalu kuberjalan. Rasanya aku merasa benar-benar mampu untuk berpikir kembali. Aku merasa hidup lagi.
Selanjutnya seorang pengunjung datang pada sebuah outlet Kimia Farma, sembari disambut ramah sang petugas dengan basa-basi bahasa nan akrab menanyakan soal kabar serta ada sedikit keperluan yang bisa dibantu dijawab dengan pertanyaan ringkas sang pengunjung:
”Ada Padibu? Persediaan saya hampir habis. Saya mau melakukan perjalanan jauh”
Sang petugas apotek mengangguk dan mengisyaratkan untuk menunggu, mungkin juga berusaha ramah dengan bahasa: ”Silahkan duduk sebentar, dalam dua menit kurang yang anda butuhkan sudah di tangan”
Dan selanjutnya semenit berlalu dua menit berlalu hanya mendapat sebuah jawaban yang sangat mengecewakan. Lima menit bahkan sepuluh menit barangkali tidak mampu untuk mengobati kekecewaan sang pelanggan yang fanatik ketika harus dijanjikan beberapa hari bahkan mungkin sampai seminggu lebih.
”Maaf, persediaan kami lagi kosong”
”Dimana bisa saya dapatkan? Apotek sebesar ini kok tidak menyediakan?”
Bangga juga kalau dikatakan outlet kita besar. Akan lebih bangga memperlihatkan stand kita Kimia Farma dengan pantulan cahaya billboard terang benderang menyala di malam hari dikatakan sebagai sebuah barometer terlengkap dan sungguh! Sangat megah terlihat dari jalanan saat menyusuri kota. Tentu kita akan menjawab, bahwa apa yang tidak diperoleh sang pelanggan akan kita usahakan dan tentu saja diperoleh disini. Bila perlu dengan menanyakan alamatnya akan kita antar sampai di tempat tujuan, tanpa harus repot-repot dan jenuh mengantri, tanpa harus kesal menunggu lama sambil membaca koran atau menunggu kabar tak pasti menunggu giliran dipanggil di ruang tunggu sembari melewatkan kebosanan dengan menonton TV yang terletak di ujung sudut pandang ruangan apotek.
Petugas sigap menanyakan ke sub gudang hingga central pengadaan sampai menembus jalur distribusi untuk mendapat kepastian. Yang tidak sigap mungkin bisa cuek-cuek bebek saja.
Jawabannya ringan. Lagi kosong distributor. Namun kita tidak bisa ringan memberikan jawaban kepada sang pelanggan fanatik yang sudah terobsesi mendarah daging mengkonsumsi vitamin penambah daya stamina yang mampu meluruhkan segala penyakit yang disebut menurunnya aktifitas. Yang jelas iklannya membangkitkan gairah yang sangat menyala-nyala.
Susahnya manakala memberikan alternatif pilihan sejenis kurang lebih sama atau lebih ampuh seandainya sang pelanggan mengatakan dirinya telah cocok dan sungguh dia katakan sejujurnya: “ Padibu is my life” Nah. Apakah sebuah sugesti yang parah disaat barang dibutuhkan lagi kosong tanpa mampu kita kompensasikan dengan saran lain yang mengubah keadaannya untuk produk yang sama misalnya mengubah pandangannya itu tentang Padibu. Dan selanjutnya dia acungkan jempol” “padibu is the best”
Seminggu, dua minggu bahkan sebulan mungkin kita sudah lupa dengan pelanggan tersebut. Entah juga sudah pernah mendapatkan padibu yang dimaksud di outlet lain bahkan di apotek lain selain Kimia Farma yang pernah dijelaskan sang petugas bahwa: produk Kimia Farma juga beredar di pasaran apotek lain di luar jaringan Kimia Farma itu sendiri. Yang pasti tiba-tiba saja pelanggan yang sama datang kembali menanyakan obat yang diinginkan seperti terkesan sambil lalu atau hanya sekadar bertanya meyakinkan apakah tersedia ataukah masih kosong:
”Ada padibu??”
”Semoga ada pak!” jawab petugas dengan nada sangat ramah sebagai salinan bahasa yang baru menggantikan bahasa yang tersedia sang petugas dengan kata-kata”terimakasih, semoga lekas sembuh.”
”Saya mendapat iklan sehat padibu ini dari seorang teman. Katanya bagus tapi susah memperolehnya. Bahkan di beranda facebook seorang teman selalu dia awali dengan tulisan berapi-api penuh semangat mengenai Padibu. Itu membuat saya jadi tertarik, seampuh apa sih sebenarnya obat jenis ini? Apa benar sangat ampuh sebagaimana kata teman saya lewat bahasanya di facebook? Mudahan tidak kosong ya?”
”Pasti pak. Itu vitamin yang sangat manjur, bagus dan memberikan dampak semangat, terlebih melakukan perjalanan jauh seperti bapak.”
Sang pelanggan manggut-manggut, sedikit menyeka keringat di dahi yang basah. Seperti tengah melakukan perjalanan jauh. (dgk)
Minggu, 28 Februari 2010
Dari Jendela Peracikan: TRAFFIC LIGHT, KAEF SELONG DAN NEGOSIASI

Sesungguhnya arus lalu lintas di jalan raya tidak ada hubungan sama sekali dengan arus lalu lintas peredaran obat di sebuah apotek. Dengan kata lain traffic light tugasnya untuk mengatur para pengendara dan semua sopir dengan nyala saktinya. Kalau lampu merah menyala itu mampu membuat semua pengendara berhenti, sekalipun bupati apalgi gubernur melewati ruas jalan itu. Itulah yang disebut kewibawaan lampu merah pada traffic light simpang jalan.. Hanya satu hal yang tidak bisa diatur oleh keblat-keblit lampu traffic light, yakni cidomo. Tahu, kenapa? Cidomo itu kalau di Lombok singkatan dari cikar, dokar plus mobil kalau sudah di simpang jalan ndak kenal bahasa isyarat lampu, entah merah, kuning,hijau. Kadang nyala merah diterobos saja langsung, maklum yang namanya kuda memang tidak diajarkan untuk mengetahui nyala lampu. Tidak tahu juga sesungguhnya yang kurang ngerti kudanya ataukah saisnya. Kalaupun terpaksa harus nabrak, biasanya sang kusir dengan enak sekali bicara: “ eh, salahkan saja kuda saya pak. Dia kan binatang. Kagak ngerti. Bapak sih yang bukan binatang lebih ngerti, kalau sudah namanya kuda lewat ya, minggirlah! ” Nah, kalau sudah ngomong begitu mau bilang apa? Lawan tuh kuda berantem.
Tapi yang perlu dicatat disini adalah Kimia Farma yang memiliki ketrampilan rutinitas mengatur lalu lintasnya obat antar jaringannya sesama outlet, saat itu justru pernah menjadi pemikir dimana harus membangun sebuah traffic light yang mengatur para pengendara di simpang jalan agar tidak simpang siur serta lebih dapat diatur untuk mengurangi terjadi bahaya kecelakaan. Atas dasar itu partisipasi Kimia Farma memang sangat diharapkan karenanya terwujud sudah keinginan kota itu dengan telah berdiri gagah sebuah traffic light di perempatan kota selong menuju arah kota Pancor yang konon katanya jalur itu bakal dilewati bapak wapres, bapak gubernur, bapak bupati, bapak-bapak pengendara yang lain, bahkan juga bapak kusir cidomo yang perlu diperhitungkan aktifitasnya memanfaatkan sarana tersebut, kendati kadang-kadang ada juga yang nakal sering melanggar.
Ketika perwakilan dari Kimia Farma diantaranya : Drs. Yosef Sumarsono dan Drs. Made Pasek Narendra mengunjungi Lombok timur dalam rangka pendirian apotek Kimia Farma di kota Selong, bupati Lombok Timur segera menyambut upaya kerjasama yang baik itu. Maka ada tempat berteduh buat kimia Farma yang saat itu dipergunakan ruangan depan bangunan perumahan dokter RSU Selong. Artinya Kimia Farma bisa beroperasi di lingkungan rumah sakit itu dalam memepermudah pelayanan kefarmasian di bidang obat-obatan atas restu negosiasi bisnis berupa sumbangan traffic light dari pihak Kimia Farma yang juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lombok timur.
Traffic light ini juga dapat dianggap sebagai penghubung mulusnya serta terbuka peluang untuk kerjasama lebih lanjut, walau tidak semulus jalur tol jagorawi. Paling tidak disatu sisi traffic light mampu menciptakan dukungan moral untuk beroperasinya sebuah apotek baru di kota itu dan juga dapat dianggap sebagai barometer untuk harga obat yang beredar di wilayah Lombok timur yang dirasakan masih mahal, serta melengkapi apotek swasta lainnya yang sudah beroperasi lebih dahulu. Ini juga sifatnya kerjasama pada sebuah apotek. Makin banyak apotek di Lombok Timur akan lebih memudahkan pelayanan terhadap masyarakat serta lebih kecil kemungkinan harus nebus obat jauh-jauh ke mataram (40 km dari kota Selong), seandainya terjadi kekurangan/kesulitan memperoleh obat. Jadi betapa indahnya sebuah persaingan bisnis kalau sudah saling mengisi dengan di latar belakangi pemikiran yang sehat, bukan?
Kini semua berjalan mulus. Apotek telah beroperasi beberapa minggu sebelum pimpinan dan sarana ,prasarana alakadarnya dilengkapi sebagai persyaratan kelengkapan pendirian sebuah apotek baru oleh pihak dinas kesehatan beserta rekan-rekan di Balai POM. Akhirnya semua berjalan mulus dan lancar.
Traffic light ‘made in’ Kimia Farma pun nampak kokoh berdiri gagah di lintasan perempatan kota Selong menuju Pancor bertuliskan motto : “TUMBUH DAN BERKEMBANG BERSAMA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT” mulai menunaikan tugasnya mendisiplinkan semua pengendara motor tanpa kecuali yang dampaknya kian menambah keindahan kota ibadah serta mendorong tumbuhnya kesadaran berlalu lintas yang santun di kota ini.
Seorang pengendara sepeda motor membaca motto itu bak sebuah iklan, barangkali. Sopir angkot oleh nyala ‘merah’ dibuat berhenti sejenak dan para polisi tidak perlu teriak-teriak mengatur lalu lintas yang amburadul. Ketika lampu hijau traffic light menyala: “janganlah…..jangan injak pedal gas kuat-kuat, ingat anak istri menunggu di rumah seraya terdengar bisikan halus bupati Lombok Timur: “ jalanlah di daerah ini Kimia Farma, lakukan pelayanan yang terbaik buat masyarakat…….”
Lampu hijau yang pernah dinyalakan bupati, tak ubahnya lampu hijau sebuah traffic light yang disulut pertama kali oleh pihak Kimia Farma. Tinggal kita yang berkewajiban di depan apotek Pelengkap RSU Selong : “ apa yang anda butuhkan, kami siap melayani 24 jam. Kamilah yang terlengkap dengan harga terjangkau.”
Sekarang kita tidak bertanya pada polantas setempat, apa sih hubungannya traffic light itu dengan apotek. Cukup kita dilihat sisi manfaatnya yang berguna bagi orang banyak tanpa membanding-bandingkan serta mendefinisikan kaitannya; antara jalur lalu lintas kendaraan serta lalu lintas perdagangan obat. Yang penting dari sumber resmi dan tidak palsu. Iya nggak? Anggap saja ini sebagai sebuah babak baru di suatu kota kecil bernama Selong ( 40 km dari pusat kota niaga Mataram), jauh dari keramaian kota dengan penduduknya yang demikian taat terhadap agamanya. Kota yang kehidupannya sudah terbenam pada pukul 19.00 wita, di saat hiruk pikuknya kota-kota besar lainnya. Dan perlu dicatat bahwa apotek Kimia Farma Pelengkap RSU Selong memiliki nilai histories dengan keberadaan traffic light disana. Ketika traffic light hadir, apotek pelengkap RSU Selong pun turut hadir beroperasi dengan sukses. Peristiwa ini sudah lama terjadi, sekitar bulan mei 1995.
Lima belas tahun kemudian, barangkali sebagaimana yang penulis ungkapkan disini, kalau kita mengalunkan sebuah lagu memori, setiap mengingat atau sekarang kita sebut ‘mengenang’ apotek Pelengkap RSU Selong, akan terkesan dengan melihat traffic light di perempatan jalan sepanjang lintasan Pancor menuju Selong. Kendati Outlet kita ini sudah hanya tinggal sebuah cerita saja, namun kelanjutannya masih kita lihat di luar lingkungan Rumah sakit Selong. Semangat terus dan jangan putus asa.
Kamis, 25 Februari 2010
Dari Jendela Peracikan: MAAF, LAGI KOSONG………
Ucapan di atas suatu hal yang lumrah terjadi dimana-mana, pada saat harus memberikan suatu jawaban kepada seorang pembeli, pada saat mana diharuskan juga membaca airmuka kekecewaan seorang costumer manakala dia tidak memperoleh apa yang menjadi keinginannya.. Siapakah costumer kita dan bagaimana bentuk ungkapan kekecewaan seorang costumer disaat dia harus kembali dengan tangan hampa? Mungkin kita mencatat keadaan ini dalam sebuah notulen dan berusaha bertanggung jawab dengan menulis: “besok kita pesan dan di-stok lebih banyak lagi, karena terlalu banyak terjadi penolakan”.
Sejauh ini setiap penolakan terkadang tidak terlalu memberikan suatu dampak buruk manakala kita telah memberikan pelayanan terbaik kita dalam satu sesi excellent costumer service berupa suatu solusi yang bisa diterima pelanggan. Keampuhan pelayanan Kimia Farma pada saat ini adalah dengan pelayanan jasa plus dalam solusi “ Baik, nanti kita antarkan ke rumah, atau nanti kami hubungi kembali sesudah barang datang atau bagaimana kalau saya hubungi dokter untuk mengganti dengan jenis yang sama? Dan seterusnya……” Dan ini merupakan salah satu bentuk pelayanan yang diakui pelanggan kendati yang diharapkan tidak terpenuhi dan lambat dalam pemenuhan dengan memberi kompensasi dalam bentuk sang costumer kita tidak perlu sampai harus menunggu terlalu lama atau menghabiskan waktu dengan keliling sementara Kimia Farma masih mampu memecahkan masalah anda. Mengagumkan bukan!
Bagaimana seandainya kalau sang costumer datang ke Kimia Farma hanya untuk membeli barang-barang bebas, obat batuk-pilek ringan yang merupakan jenis konsumsi yang fanatik sekali dalam keluarga mereka?
“ Bang keluarga kami selama ini sudah terlanjur cocok promag dan kami tahu Kimia Farma ini terlengkap..” katanya membanggakan ,walau sesungguhnya stok yang dimaksud dalam kondisi limit, bahkan celakanya sampai kosong.Ternyata memang tidak ada solusi yang baik untuk menawarkan magasida sekalipun promag menjadi gencar oleh iklan yang tak kalah lihainya mengumpan outlet kita sebagai sasaran empuk penyedia barang dagangan pihak III (sekalipun kita letakan di belakang display magasida menonjol sedikit). Tapi memang tidak ada salahnya kita terapkan sistim solusi coba-coba dengan menawarkan magasida. Memang jadi pilihan kedua, tapi kok kebanyakan konsumen cenderung memilih promag? Apa karena bintang iklannya lebih populer designer pilihan kalbe ketimbang kimia farma, atau armada promag lebih tinggi disertai mobilitas yang padat dibandingkan magasida?
Pada kenyataannya konsumen itu datang buat promag. Produk pihak ketiga menggelayut dan lama-lama jadi bumerang pada produk inti kita. Akhirnya team pemasaran kita akan berteriak ” Mari kita pajang etalase khusus produk Kimia Farma tiga berbanding satu terhadap produk pihak III. Pajang lebih banyak lagi bila perlu 10 banding satu.” Capek kita berteriak, angka penjualan pihak III terlalu cepat menonjol.
Lain promag, lain magasida. Ini ada sebuah kejadian lucu pada sebuah outlet besar di Kimia Farma Mataram. Outlet dengan penyumbang omzet cukup tinggi diantara outlet-outlet lainnya. Suatu ketika di hari minggu yang cerah cuacanya, seorang costumer datang ingin membeli minyak kayu putih. ”Maaf lagi kosong bu..” jawab petugas apotek. Dan ibu itu berlalu, entah kecewa, entah tidak. Seperti tulisan di atas kembali : Bagaimana membaca roman kekecewaan costumer manakala demikian besar keinginannya memasuki outlet Kimia Farma ternyata berbalik dengan tangan hampa tidak mendapatkan apa yang menjadi keinginannya? Kita barangkali memahami bahasa airmuka kekecewaan dengan sebuah solusi yang mengagumkan. Sekali lagi, sejauh ini memang penolakan tidak memberi dampak buruk sepanjang ada solusi ampuh di belakang itu. Dan ternyata fatal! Ibu yang datang ingin membeli minyak kayu putih di outlet besar di bilangan jalan pejanggik yang ramai dengan denah front liner sebuah megamall yang megah, ternyata istri seorang pimpinan Kimia Farma sendiri. Celakanya, karyawan itu sendiri tidak kenal istri pimpinan. Justru yang lebih mengaggetkan lagi persediaan minyak kayu putih setelah pelan-pelan dicari ternyata bersembunyi di sudut rak belakang rak HV. Ini cerita seorang teman yang kebagian teguran begitu mengetahui kejadian ini.
Memang pada akhirnya penolakan memberi dampak buruk begitu mengetahui status costumer kita sebenarnya. Pada seorang costumer kebanyakan yang entah berapa banyak datang membeli minyak kayu putih, manakala stok kedapatan kosong akan beranjak pergi ke tempat lain dengan kata-kata: ”Ah, di warung klontong saja ada kok, kenapa mesti di Kimia Farma.” Kita tidak tahu berapa banyak costumer yang memiliki solusi demikian kalau seandainya tidak mengetahui ternyata ada costumer intern Kimia Farma itu sendiri justru mengalami hal yang serupa. Memprihatinkan memang(dgk)
Sejauh ini setiap penolakan terkadang tidak terlalu memberikan suatu dampak buruk manakala kita telah memberikan pelayanan terbaik kita dalam satu sesi excellent costumer service berupa suatu solusi yang bisa diterima pelanggan. Keampuhan pelayanan Kimia Farma pada saat ini adalah dengan pelayanan jasa plus dalam solusi “ Baik, nanti kita antarkan ke rumah, atau nanti kami hubungi kembali sesudah barang datang atau bagaimana kalau saya hubungi dokter untuk mengganti dengan jenis yang sama? Dan seterusnya……” Dan ini merupakan salah satu bentuk pelayanan yang diakui pelanggan kendati yang diharapkan tidak terpenuhi dan lambat dalam pemenuhan dengan memberi kompensasi dalam bentuk sang costumer kita tidak perlu sampai harus menunggu terlalu lama atau menghabiskan waktu dengan keliling sementara Kimia Farma masih mampu memecahkan masalah anda. Mengagumkan bukan!
Bagaimana seandainya kalau sang costumer datang ke Kimia Farma hanya untuk membeli barang-barang bebas, obat batuk-pilek ringan yang merupakan jenis konsumsi yang fanatik sekali dalam keluarga mereka?
“ Bang keluarga kami selama ini sudah terlanjur cocok promag dan kami tahu Kimia Farma ini terlengkap..” katanya membanggakan ,walau sesungguhnya stok yang dimaksud dalam kondisi limit, bahkan celakanya sampai kosong.Ternyata memang tidak ada solusi yang baik untuk menawarkan magasida sekalipun promag menjadi gencar oleh iklan yang tak kalah lihainya mengumpan outlet kita sebagai sasaran empuk penyedia barang dagangan pihak III (sekalipun kita letakan di belakang display magasida menonjol sedikit). Tapi memang tidak ada salahnya kita terapkan sistim solusi coba-coba dengan menawarkan magasida. Memang jadi pilihan kedua, tapi kok kebanyakan konsumen cenderung memilih promag? Apa karena bintang iklannya lebih populer designer pilihan kalbe ketimbang kimia farma, atau armada promag lebih tinggi disertai mobilitas yang padat dibandingkan magasida?
Pada kenyataannya konsumen itu datang buat promag. Produk pihak ketiga menggelayut dan lama-lama jadi bumerang pada produk inti kita. Akhirnya team pemasaran kita akan berteriak ” Mari kita pajang etalase khusus produk Kimia Farma tiga berbanding satu terhadap produk pihak III. Pajang lebih banyak lagi bila perlu 10 banding satu.” Capek kita berteriak, angka penjualan pihak III terlalu cepat menonjol.
Lain promag, lain magasida. Ini ada sebuah kejadian lucu pada sebuah outlet besar di Kimia Farma Mataram. Outlet dengan penyumbang omzet cukup tinggi diantara outlet-outlet lainnya. Suatu ketika di hari minggu yang cerah cuacanya, seorang costumer datang ingin membeli minyak kayu putih. ”Maaf lagi kosong bu..” jawab petugas apotek. Dan ibu itu berlalu, entah kecewa, entah tidak. Seperti tulisan di atas kembali : Bagaimana membaca roman kekecewaan costumer manakala demikian besar keinginannya memasuki outlet Kimia Farma ternyata berbalik dengan tangan hampa tidak mendapatkan apa yang menjadi keinginannya? Kita barangkali memahami bahasa airmuka kekecewaan dengan sebuah solusi yang mengagumkan. Sekali lagi, sejauh ini memang penolakan tidak memberi dampak buruk sepanjang ada solusi ampuh di belakang itu. Dan ternyata fatal! Ibu yang datang ingin membeli minyak kayu putih di outlet besar di bilangan jalan pejanggik yang ramai dengan denah front liner sebuah megamall yang megah, ternyata istri seorang pimpinan Kimia Farma sendiri. Celakanya, karyawan itu sendiri tidak kenal istri pimpinan. Justru yang lebih mengaggetkan lagi persediaan minyak kayu putih setelah pelan-pelan dicari ternyata bersembunyi di sudut rak belakang rak HV. Ini cerita seorang teman yang kebagian teguran begitu mengetahui kejadian ini.
Memang pada akhirnya penolakan memberi dampak buruk begitu mengetahui status costumer kita sebenarnya. Pada seorang costumer kebanyakan yang entah berapa banyak datang membeli minyak kayu putih, manakala stok kedapatan kosong akan beranjak pergi ke tempat lain dengan kata-kata: ”Ah, di warung klontong saja ada kok, kenapa mesti di Kimia Farma.” Kita tidak tahu berapa banyak costumer yang memiliki solusi demikian kalau seandainya tidak mengetahui ternyata ada costumer intern Kimia Farma itu sendiri justru mengalami hal yang serupa. Memprihatinkan memang(dgk)
Langganan:
Postingan (Atom)
