(Mengundang rekan-rekan penulis se-Indonesia)
Mengemban misi “pendidikan buat anak negeri”, majalah beroplag lokal untuk dibaca kalangan nasional: mengundang rekan-rekan pecinta sastra budaya untuk berpartisipasi dalam mengirimkan naskah-naskah anda berupa : Puisi, Cerpen, esai, catatan budaya, novelette, novel, ataupun artikel serba-serbi dunia pendidikan. Karya-karya yang anda kirim adalah wujud kepedulian pada kaum remaja Indonesia yang haus membaca;
Naskah dikirim ke:
Ekspresi Magazine: expresikansaja@yahoo.com
Made Sugianto : madesugianto@gmail.com
Gusti Putu Bawa Samar Gantang : samargantang@gmail.com
DG.Kumarsana : pade_dewo@yahoo.com
Alamat Redaksi : Jalan Raya Alas Kedaton, Br Lodalang No. 54 Kukuh Marga Tabanan Bali Indonesia. Telp (0361) 7849103. Sms: 081 338 722 483
Partisipasi anda adalah Guru teladan buat anak-anak didik kami; anak-anak kita SEMUA!!!
Minggu, 24 Oktober 2010
Sabtu, 23 Oktober 2010
TRIWIKRAMASENA
Pada saat prabu Triwikramasena mengakhiri masa kejahatan seorang samyasa
maka dia berubah menjadi hakim dalam tonggak kebenaran
maka dia berubah jadi angin menghembus sang bayu
maka dia berubah menjadi api yang membakar pundak brahma
maka dia berubah menjadi air bah yang membasahi kerling mata Wisnu
maka dia berubah jadi zat pralina yang melebur kantong pathogen Ciwa
yang menentukan segala-galanya
menjadi hakim, menjadi angin, menjadi api, menjadi air bah, menjadi zat pralina, menjadi
gumpalan cuaca bahkan menciptakan musim segala musim atas segala petir-petirnya yang
menggetarkan langit :
muara peristiwa dunia
dan hukum persoalan kejahatan di atas dunia hanyalah dagelan.
Apakah dia bangsawan kerajaan yang telah melakukan suatu tindakan melebihi kejahatan
raksasa?
Tidak!
Teka-teki tak terpecahkan. Atau fakta diputar-balikan
Ternyata suatu sikap terhadap reaksi individu manakala akan terampas hak-hak hidupnya, akan
diperlakukan tidak adil serta sangat semena-mena,
maka reaksi yang timbul adalah membunuh daripada dibunuh.
Tidak hanya dari kalangan petinggi, bahkan rakyat dapat lebih brutal akan kebiadaban permainan
keadilan yang dipolitisir, keadilan yang terlunta-lunta, keadilan yang dipelintir.
Ada satu penilaian terhadap diri sang samyasa.
Kebenaranlah yang dipegang untuk ukuran dirinya.
Baginya sisi buruk dalam kejahatan adalah yang kekal, ketika perilaku berbuat jahat itu muncul
sebagai sebuah definisi sebuah jiwa yang kekal.
Jiwa yang mengantarkan dirinya pada satu titik kekekalan yang abadi.
Jiwa yang tidak pernah mati. Jiwa yang terpecah-pecah
Tidak oleh sebilah belati ataupun pedang yang tajam.
Tidak juga oleh keris atau jenis senjata lain terlebih lagi senjata titisan dewa Wisnu dalam
gelegar awataranya.
Pedang Triwikramasena sebelum mengungkapkan kebenaran akan adanya teka-teki tak berjawab
nantinya adalah anugerah sang Siwa,
adalah Sanghyang Mahadewa yang selanjutnya mengubah pola pikir sang miskin berpikir :
sang miskin idealisme
yang ngeri memikirkan Pancasila tidak sakti-sakti
yang dianggap wibawanya bercahaya saat peringatan setahun sekali.
Sebuah anugerah tanpa kata sebagai sebuah penghargaan memberikan jawaban yang tidak sia-sia
untuk sebuah pilihan pertanyaan yang terlanjur keluar sebagai sebuah misi yang telah selesai
diemban.
Adakah suatu harapan yang tidak terpenuhi, kalau hatimu telah puas?
Triwikramasena tidak pernah tersenyum dalam pengembaraaan dharma untuk memerangi
kemunafikan sang samyasa.
Tidak juga mengartikan akan jawaban yang diberikan selepas Ciwa menyodorkan kemungkinan
baru dalam intruksi selanjutnya.
Karena bagaimanapun Triwikramasena tidak akan pernah mengungkit-ungkit kebenaran sebagai
sebuah dharma yang mutlak untuk dijalankan di hadapan sang penggugat kebenaran itu sendiri.
Dua sisi perlambang adanya sesuatu yang hidup dalam keseimbangan perputaran dunia.
Triwikramasena adalah produk sang Ciwa sebagai putranda raja Wikramasena yang selanjutnya
akan menyatu kembali dalam keabadian kebenaran.
Siapakah produk samyasa yang bernama Ksantisila itu?
Beberapa cerita telah tercecer mencari babaknya
Atau kurangnya waktu untuk merampungkan bagian dari cerita yang masih tercecer itu.
Atas apa yang menjadi saktinya Ciwa : Durgha kian merubah wajah dalam kecantikan angin
Tidak terlepas dari pikiran kotor dan rela berkorban bagi penyaluran hasrat seksual atas nama
kesetiaan.
Di negeri yang berazaskan hukum, ada yang menyatakan keterikatan hanya buat rakyat kecil.
Tidak boleh lepas dari rel. Tapi keretanya melintas di samping…ahaiii, ironis sekali!
Karena hukum itu sendiri coretan kertas buram dan kabur dalam penglihatan.
Dapat diajak untuk bernegosiasi. Bisa dihadiahkan uang.
Hukum yang bersaudara dengan nepotisme. Hukum yang dibentuk oleh mata uang.
Dan percayalah, hukum itu bisa dibeli, karena untuk menjadi ahli hukum butuh uang banyak.
Kalau tidak ada uang hukum tidak berjalan, kalaupun berjalan semata-mata hanyalah
menjalankan jadwal yang telah dibuat di balik kemegahan kewibawaan institusi.
Karena butuh uang banyak untuk jadi ahli hokum maka setelah toga bersandar harus ada
kompensasi prima mengganti biaya kuliah. Dan itu pasti mudah dilakukan di iklim Indonesia
yang rakyatnya manut-manut.
Karenanya Triwikramasena sang prabu tidak cocok bercokol di Indonesia, karena akan bernasib
sama dengan bang Munir yang nyawanya disiasati kaum pembeli hukum.
Keadilan hanyalah lagu usang yang asing untuk tidak didendangkan dalam preparat kebenaran.
Keadilan hanyalah sandiwara atas nama kebenaran.
Yang sesungguhnya impoten!
maka dia berubah menjadi hakim dalam tonggak kebenaran
maka dia berubah jadi angin menghembus sang bayu
maka dia berubah menjadi api yang membakar pundak brahma
maka dia berubah menjadi air bah yang membasahi kerling mata Wisnu
maka dia berubah jadi zat pralina yang melebur kantong pathogen Ciwa
yang menentukan segala-galanya
menjadi hakim, menjadi angin, menjadi api, menjadi air bah, menjadi zat pralina, menjadi
gumpalan cuaca bahkan menciptakan musim segala musim atas segala petir-petirnya yang
menggetarkan langit :
muara peristiwa dunia
dan hukum persoalan kejahatan di atas dunia hanyalah dagelan.
Apakah dia bangsawan kerajaan yang telah melakukan suatu tindakan melebihi kejahatan
raksasa?
Tidak!
Teka-teki tak terpecahkan. Atau fakta diputar-balikan
Ternyata suatu sikap terhadap reaksi individu manakala akan terampas hak-hak hidupnya, akan
diperlakukan tidak adil serta sangat semena-mena,
maka reaksi yang timbul adalah membunuh daripada dibunuh.
Tidak hanya dari kalangan petinggi, bahkan rakyat dapat lebih brutal akan kebiadaban permainan
keadilan yang dipolitisir, keadilan yang terlunta-lunta, keadilan yang dipelintir.
Ada satu penilaian terhadap diri sang samyasa.
Kebenaranlah yang dipegang untuk ukuran dirinya.
Baginya sisi buruk dalam kejahatan adalah yang kekal, ketika perilaku berbuat jahat itu muncul
sebagai sebuah definisi sebuah jiwa yang kekal.
Jiwa yang mengantarkan dirinya pada satu titik kekekalan yang abadi.
Jiwa yang tidak pernah mati. Jiwa yang terpecah-pecah
Tidak oleh sebilah belati ataupun pedang yang tajam.
Tidak juga oleh keris atau jenis senjata lain terlebih lagi senjata titisan dewa Wisnu dalam
gelegar awataranya.
Pedang Triwikramasena sebelum mengungkapkan kebenaran akan adanya teka-teki tak berjawab
nantinya adalah anugerah sang Siwa,
adalah Sanghyang Mahadewa yang selanjutnya mengubah pola pikir sang miskin berpikir :
sang miskin idealisme
yang ngeri memikirkan Pancasila tidak sakti-sakti
yang dianggap wibawanya bercahaya saat peringatan setahun sekali.
Sebuah anugerah tanpa kata sebagai sebuah penghargaan memberikan jawaban yang tidak sia-sia
untuk sebuah pilihan pertanyaan yang terlanjur keluar sebagai sebuah misi yang telah selesai
diemban.
Adakah suatu harapan yang tidak terpenuhi, kalau hatimu telah puas?
Triwikramasena tidak pernah tersenyum dalam pengembaraaan dharma untuk memerangi
kemunafikan sang samyasa.
Tidak juga mengartikan akan jawaban yang diberikan selepas Ciwa menyodorkan kemungkinan
baru dalam intruksi selanjutnya.
Karena bagaimanapun Triwikramasena tidak akan pernah mengungkit-ungkit kebenaran sebagai
sebuah dharma yang mutlak untuk dijalankan di hadapan sang penggugat kebenaran itu sendiri.
Dua sisi perlambang adanya sesuatu yang hidup dalam keseimbangan perputaran dunia.
Triwikramasena adalah produk sang Ciwa sebagai putranda raja Wikramasena yang selanjutnya
akan menyatu kembali dalam keabadian kebenaran.
Siapakah produk samyasa yang bernama Ksantisila itu?
Beberapa cerita telah tercecer mencari babaknya
Atau kurangnya waktu untuk merampungkan bagian dari cerita yang masih tercecer itu.
Atas apa yang menjadi saktinya Ciwa : Durgha kian merubah wajah dalam kecantikan angin
Tidak terlepas dari pikiran kotor dan rela berkorban bagi penyaluran hasrat seksual atas nama
kesetiaan.
Di negeri yang berazaskan hukum, ada yang menyatakan keterikatan hanya buat rakyat kecil.
Tidak boleh lepas dari rel. Tapi keretanya melintas di samping…ahaiii, ironis sekali!
Karena hukum itu sendiri coretan kertas buram dan kabur dalam penglihatan.
Dapat diajak untuk bernegosiasi. Bisa dihadiahkan uang.
Hukum yang bersaudara dengan nepotisme. Hukum yang dibentuk oleh mata uang.
Dan percayalah, hukum itu bisa dibeli, karena untuk menjadi ahli hukum butuh uang banyak.
Kalau tidak ada uang hukum tidak berjalan, kalaupun berjalan semata-mata hanyalah
menjalankan jadwal yang telah dibuat di balik kemegahan kewibawaan institusi.
Karena butuh uang banyak untuk jadi ahli hokum maka setelah toga bersandar harus ada
kompensasi prima mengganti biaya kuliah. Dan itu pasti mudah dilakukan di iklim Indonesia
yang rakyatnya manut-manut.
Karenanya Triwikramasena sang prabu tidak cocok bercokol di Indonesia, karena akan bernasib
sama dengan bang Munir yang nyawanya disiasati kaum pembeli hukum.
Keadilan hanyalah lagu usang yang asing untuk tidak didendangkan dalam preparat kebenaran.
Keadilan hanyalah sandiwara atas nama kebenaran.
Yang sesungguhnya impoten!
CERUKCUK KUNING (1)

Pajalane konden suud luh. Konden pragat
(sujatine apa ane madan pragat?)
begbeg iluh ngimbuhin baan munyi dahat aksara
nyen ngelangkarain ngelangkahin keneh dewek ane mara malajah ma-saa?
tuah ja munyin crukcuk makules buka lengis sanglir
ane ngaranayang luh jalir buka kene
nang inem isin gelase uli dija kone nyisir anginne ngetohang paundukan, paiketan buka luh jani ngedum bagia?
kalara-lara baan keneh bawak nanging ngancan tandruh nuruhin isin kenehe, mula ja sebet
ngancan peteng magpag pangipian, boya katandruh
Luh, tegarang kenehang abedik krana konyangan keciwa ngempelin tangkah
kadirasa maboros baan lilih
nyen kone ento,wih? di singsale ene lakar ngengkebang singid
nganti bintang bintang engsap ngalihin langitne
lan purnama ngancan dadi tuh nlektekin lawatan di duur enjekan tuara tatas
luh, dija sujatine tatujone ene, majalan mulih neked di pintu kaping kuda
lakar ngedil ngampakang buka ngarepin keneh?
Enu mase ia nyuguang zat ane ngaranayang enggal neked ka langit
Pengawakan berpacu baan rahina lan malajah makeber barengan jak kedise ane lenan
lumure ngancan puyung, luh
tusing ada ane pocol di mangantiang
tara masisa
di patuhang keneh
pidan ngawitin, ngentas matan luhe dini
di itungan bucun rahina ane gangsal pisan makiba
di itungan ane sasidan-sidan liwat
rikala nepukin wates di pungkur
raga masi pada kenjel
mulih, luh
enu ada ane ngantiang jumah
tumanang semarane angon mani-puan
Rabu, 06 Oktober 2010
PAKSI SEBET GALANG KALA
Sahananing dinane runtag ane ngukupang ujan kalawan api
bayune milu runtag
ngudiang kone kiape lantas ngelekas bega
nyujuh pangipian ane sukeh baan alihin
tresna, angene ene ngancan mucuang panganti nganti: tibanan
paksine ngancan joh makeber ngindang di bucun langite
mengkeb di bucun sayong ngenceabng wirama gela
tusing ulian med-wadih, uduh lawatan sane-sinah kalara-lara
rompod sesapine kenjel maangkihan ngepungin kampid abesikan tastas
kenjel ngantiang lan ngenceg di bucun kayune cerik ane kepeh
di selat sebete nu mase ngewarnain abet, mabelatan baan keciwa
malajah ngipi sambilang ngedum keneh di rong petenge ane lenan
: dija tongosne medem?
paksi buka nyancang keneh wiadin nyedsedin iwas
tiwas kenehe
lara ngalungin pengawak atine sane gulem, plaibin angin
aketelan wacana nyabran sangsara nyikutin keneh inguh paling
apan uyang paling ngepungin rasa maboros baan kendel
tusing nyangketang keneh nekedang ring awak adiri
tusing taen neked : nyen buin nampi?
kalaning kala lebuh
bayune milu runtag
ngudiang kone kiape lantas ngelekas bega
nyujuh pangipian ane sukeh baan alihin
tresna, angene ene ngancan mucuang panganti nganti: tibanan
paksine ngancan joh makeber ngindang di bucun langite
mengkeb di bucun sayong ngenceabng wirama gela
tusing ulian med-wadih, uduh lawatan sane-sinah kalara-lara
rompod sesapine kenjel maangkihan ngepungin kampid abesikan tastas
kenjel ngantiang lan ngenceg di bucun kayune cerik ane kepeh
di selat sebete nu mase ngewarnain abet, mabelatan baan keciwa
malajah ngipi sambilang ngedum keneh di rong petenge ane lenan
: dija tongosne medem?
paksi buka nyancang keneh wiadin nyedsedin iwas
tiwas kenehe
lara ngalungin pengawak atine sane gulem, plaibin angin
aketelan wacana nyabran sangsara nyikutin keneh inguh paling
apan uyang paling ngepungin rasa maboros baan kendel
tusing nyangketang keneh nekedang ring awak adiri
tusing taen neked : nyen buin nampi?
kalaning kala lebuh
C E R M I N
Kalau bukan karena wajah jelek ini, Warni tak mau lama-lama menatap cermin yang tergantung di kamar. Sangat jelek. Coba bayangkan, mukanya lobang-lobang bekas jerawat. Bahkan ada yang membekas hingga membisul saking tangannya tidak bisa diam memencet-mencet. Hidungnya pesek, belum lagi mata yang tidak mau searah lirikannya. Pokoknya mata ini tidak pernah mau sinkron untuk dipakai melirik. Apalagi ketika mama pernah menyarankannya untuk ikut serta kursus menari bersama kakak-kakaknya yang perempuan, apakah tidak nanti orang akan menertawakannya? Belum lagi kesepuluh jari tangan Warni pendek-pendek dan bengkok jelek. Pokoknya jelek. Tidak panjang lentik seperti kebanyakan penari. Ah, tidak mungkin semua itu dilakukan. Dan coba lihat dengan postur tubuh yang pendek mana gemuk lagi. Bah! Bagaimana mungkin jadi seorang penari sementara melirik saja membutuhkan konsentrasi untuk dapat sinkron antara bola mata kanan dan kiri. ”jadi pemain sinetron aja War, lagi dibutuhkan pemeran dengan wajah kayak kamu,” temannya pernah mengolok. Warni hanya tersenyum pedih. Ingin dicolok mata temannya yang mengolok. Memangnya mau apa punya wajah jelek. Kalau di kamar akan dia tumpahkan semuanya lewat tangisan. Coba lihat kalau Warni tengah tersenyum, ih, sangat jelek sekali. Apa lagi sampai harus menangis dengan wajah sedih. Warni jadi risi dengan gerak-geriknya sendiri. Dia tercenung dan mulai mengumpat-umpat, jengkel dengan keadaan yang sebenarnya. Benar-benar memuakkan. Sangat menjengkelkan. Dan sebaiknya memang dia harus mengurangi tangisannya yang tidak perlu itu. Akan semakin jelek kelihatan.
Dia pikir dengan memiliki wajah yang sangat jelek ini, sekalipun berhias dengan bedak yang harganya sangat mahal dengan mempergunakan produk luar negeri sekalipun tidak akan membantu dan belum tentu dapat merubah dirinya seanggun dan secantik putri Cinderella. Itu hanya ada dalam komik. Ataupun dengan mandi air susu dan luluran dengan harum kembang cempaka tidak akan membuat dirinya secantik dewi Subadra dalam cerita pewayangan. Sesuatu hal yang sangat mustahil. Subadra terlalu sempurna digambarkan pengarangnya. Itu membuatnya jadi sangat membenci hasil karya-karyanya tersebut. Kenapa sih tidak diceritakan tentang gadis yang jelek rupa untuk dijadikan tokoh dalam cerita? Terkesan terlalu membeda-bedakan rupa obyek penciptaannya. Pasti kalau yang rupanya jelek akan digambarkan sebagai orang yang memiliki jiwa dan pikiran jelek. Sifatnyapun biasanya buruk. Jiwa yang timpang. Labil. Warni tidak setuju dengan cerita-cerita demikian. Ia jadi benci tentang kisah Subadra. Ingin hatinya mengorek habis wajahnya yang digambarkan pengarang sebagai seorang wanita yang memiliki kecantikan yang maha sempurna. Warni benci! Kalau bisa ia ingin membunuh Subadra. Akan dipotong-potong lehernya dan akan dicungkil matanya yang dikatakan sangat indah. Mata Subadra akan ditaruh di matanya biar indah. Tubuhnya yang sintal akan ditaruh di tubuhnya. Rambutnya yang hitam terurai akan ditaruh di kepalanya. Warni pasti cantik. Pasti akan berubah jadi bidadari. Warni pasti mirip dewi Subadra. Biar tidak hanya Subadra saja yang sendirian cantik di dunia ini. Warnipun ingin cantik. Dan dialah tokoh cantik dalam dunia pewayangan itu. Dan kalau sudah demikian Warni tak membutuhkan cermin lagi untuk mematut-matutkan wajahnya yang sudah memang benar-benar cantik. Karena pemuda-pemuda yang naksir padanya akan menjadi sebuah cermin dalam bentuk pujian-pujian yang melambungkan. Dan mereka akan terpikat padanya. Mereka akan terpukau dan akan terkena panah asmara.
”Di dunia ini tidak ada yang abadi, anakku. Ada baik ada buruk. Ada cantik rupa ada buruk rupa. Kamu tidak usah menyesali apa yang sudah kamu miliki. Itu hanya akan memperburuk keadaan,” ayahnya menasihati dengan memberikan dorongan. Kerongkongannya terasa tercekat dan manakala dia bertemu dengan Rani, teman sekelasnya yang cantik atau dengan Yuni yang manis, tiba-tiba dia menjadi merasa sangat rendah diri. Begitu saja air mata ini jatuh bercucuran. Ah, kecengengan orang bodoh! Kenapa sih dilahirkan dengan memiliki wajah yang sangat jelek? Dan kalaupun dia mengenakan gaun apapun akan selalu tidak pantas terlihat. Sekalipun gaun yang dikenakan itu terbuat dari bahan yang mahal.
Coba lihat mbak Yanti kalau mengenakan pakaian. Apapun yang dikenakan akan selalu sesuai dengan badannya. Dan itu akan lebih memperlihatkan penampilannya yang cantik. Apalagi mbak Yanti memang benar-benar cantik dan anggun.
”Apapun pakaian yang dikenakan Yanti selalu saja cocok dengan penampilannya dan malah terlihat semakin cantik,” pernah suatu ketika mama mengomentari pakaian yang dikenakan kakaknya.
Warni ngiris mendengar pernyataan ibunya itu. Pujian itu bukan untuk dirinya. Bukan ukuran baginya untuk berpenampilan sepadan dengan Yanti. Tak terasa perkataan yang keluar itu membuat perbandingan pada anak-anaknya. Warni sadar dirinya memang benar-benar jelek. Tapi ibu, tidak seharusnya mengeluarkan perkataan seperti itu. Ia jadi curiga, jangan-jangan Warni bukan anak kandungnya. Coba lihat mas maman wajahnya cakep. Hidungnya mancung. Tubuhnya tinggi tegap. Mirip ayah. Mbak neni memiliki hidung yang bangir dengan mata yang indah, walau tubuhnya tidak setinggi mas Maman. Sementara mbak Yanti sudah cantik bentuk badannya juga bagus. Kenapa diantara saudara-saudaranya hanya dia yang dilahirkan memiliki tubuh paling jelek? Mana tubuhnya pendek dan gemuk. Uh, muak dia di depan cermin kalau melihat wajah dan badannya sendiri yang maha jelek.
Praaaaaang.......!!!?
Seisi rumah kaget. Warni membanting cermin di kamar tersinggung ketika mama mengatakan : ” kamu itu sebenarnya cantik tapi...........”
Warni tahu mama hanya basa-basi dengan mengatakan dirinya cantik. Dia tahu mama sesungguhnya hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya hidungnya pesek, wajahnya bolong-bolong penuh jerawat yang sangat menjijikan. Warni jengkel sekali mendengar perkataan mama seperti itu.
”Ada apa?”
Seperti biasa semua saudara-saudaranya melongok ke kamar kemudian berlalu seakan-akan sudah mendapat jawab dari semua peristiwa itu. Sudah terlalu sering terjadi. Ayah hanya batuk-batuk kecil, mungkin sekadar menghilangkan sesak di dada. Dan Warni tahu, esok mama pasti akan membelikan cermin yang sama. Dan cermin itu diterimanya dengan setengah hati, sedikit dongkol walau sesungguhnya sangat berharap. Berharap untuk kembali melihat wajahnya yang jelek. Mematut-matut serta untuk menilai pribadinya lewat bayangan cermin. Dan setelahnya dia tahu dengan perasaan jengkel cermin itu akan kembali mengalami nasib yang sama sebagaimana cermin-cermin sebelumnya. Pecah berantakan. Tidak! Kali ini tidak terjadi demikian. Ia melihat bayangan aneh menyelimuti wajahnya lewat pantulan cermin itu. Ia merasa dirinya bukan Warni yang ia kenal. Bukan Yanti kakaknya yang cantik atau Neni. Bukan mas Maman yang gagah. Ia adalah dirinya. Warni bingung. Ditatapnya cermin itu lekat-lekat. Kemudian ditatap satu demi satu fotonya yang jelek di atas meja belajar. Ditatapnya foto-foto dirinya yang tergantung di dinding kamar. Pandangannya seperti menerawang jauh. Bimbang. Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Warni tak percaya. Dipandang lekat-lekat wajahnya lewat pantulan cermin. Tidak! Ini benar-benar aneh. Ini sebuah kenyataan. Sebagaimana kenyataan-kenyataan lain melihat wajah kakaknya Yanti atau mbak Neni. Sebagaimana melihat mas Maman yang gagah dalam pesona pantulan wajah ayahnya. Warni kian terlelap dalam ketakpercayaan penuh. Dalam lelapnya ketakpercayaan itu Warni kian bersemangat kembali untuk meyakinkan bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan keluarga itu. Bahwa ia benar-benar anak kandung dari ibunya yang melahirkan. Anak kandung dari ayahnya. Saudara kandung dari Yanti, mbak Neni maupun mas Maman.
”Eh, War, kemana aja, kok ngilang?” Rani mencuwil pundaknya.
”Memangnya aku Putri Nirmala apa bisa menghilang?” Warni menyambut. Tumben temannya ramah tidak biasanya.
”Wah, bisa bercanda sekarang.” yang lain menimpali.
”Memang selama ini aku putri malu?” Warni kian membuat temannya pada cekikikan.
”Wah...wah... kian kenes aja.” Wiwin ikut-ikutan komentar.
”Memang ada apa nanya-nanya?” Sahut Warni dengan gerakan bibir terkesan ketus.
”Itu lho mas Pram nanya kamu terus. Memangnya ada janji apa?”
Bagai tersengat lebah Warni spontan diam seribu bahasa. Mulanya lincah akhirnya memang benar-benar jadi putri malu yang sebenarnya. Pram? Ada apa? Kenapa? Bukankah kehadirannya sering menjadi bahan olok-olok temannya? Tapi apakah secara diam-diam dia ada hasrat terhadap dirinya? Ah, Warni tidak percaya. Jangan-jangan ini hanya olok-olokannya Rani karena tidak ada sasaran lain untuk dijadikan bulan-bulannya selama ini. Dasar memang kalau masuk dalam kelompoknya Rani selalu sehati dengan kelompok mas Pram dalam menggoda orang.
”He...he, dikasi tahu malah ngelamun.?” Warni terkejut. Buyar lamunannya tentang pemuda itu. Warni hanya melengos lalu pergi menuju ruang kelas. Kelas di samping bersebelahan dengan Pram, kakak kelasnya. Di pojokan parkir kendaraan anak-anak nampak gulungan asap rokok mengepul. Beginilah kalau guru belum menentukan jadwal pelajaran. Barangkali juga gurunya lagi sibuk cari obyekan buat tambah-tambahan. Anak-anak lebih menentukan sikap dengan gaya dewasanya. Warni menyapu pandang diantaranya sambil berharap-harap cemas. ”Mudahan kamu tidak ikut-ikutan latah,” bisik hatinya. Dan ada rasa senang ketika seseorang yang dia bayangkan tidak ada diantara kepulan asap rokok itu. Itu memang tidak dia harapkan. Kalau dia akan menjadi kekasihku pasti aku tidak menyukai kebiasaannya yang buruk itu. Kebiasaan yang akan terbawa nanti ke anak-anak. Ih, kok sudah jauh sekali lamunannya tentang seorang anak? Warni jadi malu dan senyum-senyum sendiri.
”Nah....tuh udah mulai senyum-senyum sendiri. Pasti lagi jatuh cinta ya?” temannya menggoda.
Warni jadi tersipu-sipu. Lagi-lagi ketangkap basah kalau sedang melamun.
Sekarang sejak tahu ada sejumput harapan dalam hidupnya, Warni jadi suka tersenyum. Warni jadi suka melamun sendirian di kamar. Dan sejak itu pula hampir tak terdengar lagi suara barang yang di banting di rumah. Keluarganyalah sekarang yang jadi merasa aneh dengan keadaan itu. Diam-diam mereka semua mulai menyelidiki perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Warni. Ada apakah gerangan? Apa yang terjadi pada Warni sehingga dia sering melamun sendirian di kamar. Senyum-senyum sendirian. Apakah Warni telah gila sehingga seisi keluarga dibuat was-was. Apakah yang menimpa salah satu keluarga mereka. Apakah Warni sedang jatuh hati? Jatuh hati pada siapa? Pangeran manakah yang mau menentukan pilihan dan jatuh hati pada Warni. Siapakah sang pangeran itu? Mereka bertanya-tanya.
Diliputi tanda tanya besar
Dia pikir dengan memiliki wajah yang sangat jelek ini, sekalipun berhias dengan bedak yang harganya sangat mahal dengan mempergunakan produk luar negeri sekalipun tidak akan membantu dan belum tentu dapat merubah dirinya seanggun dan secantik putri Cinderella. Itu hanya ada dalam komik. Ataupun dengan mandi air susu dan luluran dengan harum kembang cempaka tidak akan membuat dirinya secantik dewi Subadra dalam cerita pewayangan. Sesuatu hal yang sangat mustahil. Subadra terlalu sempurna digambarkan pengarangnya. Itu membuatnya jadi sangat membenci hasil karya-karyanya tersebut. Kenapa sih tidak diceritakan tentang gadis yang jelek rupa untuk dijadikan tokoh dalam cerita? Terkesan terlalu membeda-bedakan rupa obyek penciptaannya. Pasti kalau yang rupanya jelek akan digambarkan sebagai orang yang memiliki jiwa dan pikiran jelek. Sifatnyapun biasanya buruk. Jiwa yang timpang. Labil. Warni tidak setuju dengan cerita-cerita demikian. Ia jadi benci tentang kisah Subadra. Ingin hatinya mengorek habis wajahnya yang digambarkan pengarang sebagai seorang wanita yang memiliki kecantikan yang maha sempurna. Warni benci! Kalau bisa ia ingin membunuh Subadra. Akan dipotong-potong lehernya dan akan dicungkil matanya yang dikatakan sangat indah. Mata Subadra akan ditaruh di matanya biar indah. Tubuhnya yang sintal akan ditaruh di tubuhnya. Rambutnya yang hitam terurai akan ditaruh di kepalanya. Warni pasti cantik. Pasti akan berubah jadi bidadari. Warni pasti mirip dewi Subadra. Biar tidak hanya Subadra saja yang sendirian cantik di dunia ini. Warnipun ingin cantik. Dan dialah tokoh cantik dalam dunia pewayangan itu. Dan kalau sudah demikian Warni tak membutuhkan cermin lagi untuk mematut-matutkan wajahnya yang sudah memang benar-benar cantik. Karena pemuda-pemuda yang naksir padanya akan menjadi sebuah cermin dalam bentuk pujian-pujian yang melambungkan. Dan mereka akan terpikat padanya. Mereka akan terpukau dan akan terkena panah asmara.
”Di dunia ini tidak ada yang abadi, anakku. Ada baik ada buruk. Ada cantik rupa ada buruk rupa. Kamu tidak usah menyesali apa yang sudah kamu miliki. Itu hanya akan memperburuk keadaan,” ayahnya menasihati dengan memberikan dorongan. Kerongkongannya terasa tercekat dan manakala dia bertemu dengan Rani, teman sekelasnya yang cantik atau dengan Yuni yang manis, tiba-tiba dia menjadi merasa sangat rendah diri. Begitu saja air mata ini jatuh bercucuran. Ah, kecengengan orang bodoh! Kenapa sih dilahirkan dengan memiliki wajah yang sangat jelek? Dan kalaupun dia mengenakan gaun apapun akan selalu tidak pantas terlihat. Sekalipun gaun yang dikenakan itu terbuat dari bahan yang mahal.
Coba lihat mbak Yanti kalau mengenakan pakaian. Apapun yang dikenakan akan selalu sesuai dengan badannya. Dan itu akan lebih memperlihatkan penampilannya yang cantik. Apalagi mbak Yanti memang benar-benar cantik dan anggun.
”Apapun pakaian yang dikenakan Yanti selalu saja cocok dengan penampilannya dan malah terlihat semakin cantik,” pernah suatu ketika mama mengomentari pakaian yang dikenakan kakaknya.
Warni ngiris mendengar pernyataan ibunya itu. Pujian itu bukan untuk dirinya. Bukan ukuran baginya untuk berpenampilan sepadan dengan Yanti. Tak terasa perkataan yang keluar itu membuat perbandingan pada anak-anaknya. Warni sadar dirinya memang benar-benar jelek. Tapi ibu, tidak seharusnya mengeluarkan perkataan seperti itu. Ia jadi curiga, jangan-jangan Warni bukan anak kandungnya. Coba lihat mas maman wajahnya cakep. Hidungnya mancung. Tubuhnya tinggi tegap. Mirip ayah. Mbak neni memiliki hidung yang bangir dengan mata yang indah, walau tubuhnya tidak setinggi mas Maman. Sementara mbak Yanti sudah cantik bentuk badannya juga bagus. Kenapa diantara saudara-saudaranya hanya dia yang dilahirkan memiliki tubuh paling jelek? Mana tubuhnya pendek dan gemuk. Uh, muak dia di depan cermin kalau melihat wajah dan badannya sendiri yang maha jelek.
Praaaaaang.......!!!?
Seisi rumah kaget. Warni membanting cermin di kamar tersinggung ketika mama mengatakan : ” kamu itu sebenarnya cantik tapi...........”
Warni tahu mama hanya basa-basi dengan mengatakan dirinya cantik. Dia tahu mama sesungguhnya hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya hidungnya pesek, wajahnya bolong-bolong penuh jerawat yang sangat menjijikan. Warni jengkel sekali mendengar perkataan mama seperti itu.
”Ada apa?”
Seperti biasa semua saudara-saudaranya melongok ke kamar kemudian berlalu seakan-akan sudah mendapat jawab dari semua peristiwa itu. Sudah terlalu sering terjadi. Ayah hanya batuk-batuk kecil, mungkin sekadar menghilangkan sesak di dada. Dan Warni tahu, esok mama pasti akan membelikan cermin yang sama. Dan cermin itu diterimanya dengan setengah hati, sedikit dongkol walau sesungguhnya sangat berharap. Berharap untuk kembali melihat wajahnya yang jelek. Mematut-matut serta untuk menilai pribadinya lewat bayangan cermin. Dan setelahnya dia tahu dengan perasaan jengkel cermin itu akan kembali mengalami nasib yang sama sebagaimana cermin-cermin sebelumnya. Pecah berantakan. Tidak! Kali ini tidak terjadi demikian. Ia melihat bayangan aneh menyelimuti wajahnya lewat pantulan cermin itu. Ia merasa dirinya bukan Warni yang ia kenal. Bukan Yanti kakaknya yang cantik atau Neni. Bukan mas Maman yang gagah. Ia adalah dirinya. Warni bingung. Ditatapnya cermin itu lekat-lekat. Kemudian ditatap satu demi satu fotonya yang jelek di atas meja belajar. Ditatapnya foto-foto dirinya yang tergantung di dinding kamar. Pandangannya seperti menerawang jauh. Bimbang. Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Warni tak percaya. Dipandang lekat-lekat wajahnya lewat pantulan cermin. Tidak! Ini benar-benar aneh. Ini sebuah kenyataan. Sebagaimana kenyataan-kenyataan lain melihat wajah kakaknya Yanti atau mbak Neni. Sebagaimana melihat mas Maman yang gagah dalam pesona pantulan wajah ayahnya. Warni kian terlelap dalam ketakpercayaan penuh. Dalam lelapnya ketakpercayaan itu Warni kian bersemangat kembali untuk meyakinkan bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan keluarga itu. Bahwa ia benar-benar anak kandung dari ibunya yang melahirkan. Anak kandung dari ayahnya. Saudara kandung dari Yanti, mbak Neni maupun mas Maman.
”Eh, War, kemana aja, kok ngilang?” Rani mencuwil pundaknya.
”Memangnya aku Putri Nirmala apa bisa menghilang?” Warni menyambut. Tumben temannya ramah tidak biasanya.
”Wah, bisa bercanda sekarang.” yang lain menimpali.
”Memang selama ini aku putri malu?” Warni kian membuat temannya pada cekikikan.
”Wah...wah... kian kenes aja.” Wiwin ikut-ikutan komentar.
”Memang ada apa nanya-nanya?” Sahut Warni dengan gerakan bibir terkesan ketus.
”Itu lho mas Pram nanya kamu terus. Memangnya ada janji apa?”
Bagai tersengat lebah Warni spontan diam seribu bahasa. Mulanya lincah akhirnya memang benar-benar jadi putri malu yang sebenarnya. Pram? Ada apa? Kenapa? Bukankah kehadirannya sering menjadi bahan olok-olok temannya? Tapi apakah secara diam-diam dia ada hasrat terhadap dirinya? Ah, Warni tidak percaya. Jangan-jangan ini hanya olok-olokannya Rani karena tidak ada sasaran lain untuk dijadikan bulan-bulannya selama ini. Dasar memang kalau masuk dalam kelompoknya Rani selalu sehati dengan kelompok mas Pram dalam menggoda orang.
”He...he, dikasi tahu malah ngelamun.?” Warni terkejut. Buyar lamunannya tentang pemuda itu. Warni hanya melengos lalu pergi menuju ruang kelas. Kelas di samping bersebelahan dengan Pram, kakak kelasnya. Di pojokan parkir kendaraan anak-anak nampak gulungan asap rokok mengepul. Beginilah kalau guru belum menentukan jadwal pelajaran. Barangkali juga gurunya lagi sibuk cari obyekan buat tambah-tambahan. Anak-anak lebih menentukan sikap dengan gaya dewasanya. Warni menyapu pandang diantaranya sambil berharap-harap cemas. ”Mudahan kamu tidak ikut-ikutan latah,” bisik hatinya. Dan ada rasa senang ketika seseorang yang dia bayangkan tidak ada diantara kepulan asap rokok itu. Itu memang tidak dia harapkan. Kalau dia akan menjadi kekasihku pasti aku tidak menyukai kebiasaannya yang buruk itu. Kebiasaan yang akan terbawa nanti ke anak-anak. Ih, kok sudah jauh sekali lamunannya tentang seorang anak? Warni jadi malu dan senyum-senyum sendiri.
”Nah....tuh udah mulai senyum-senyum sendiri. Pasti lagi jatuh cinta ya?” temannya menggoda.
Warni jadi tersipu-sipu. Lagi-lagi ketangkap basah kalau sedang melamun.
Sekarang sejak tahu ada sejumput harapan dalam hidupnya, Warni jadi suka tersenyum. Warni jadi suka melamun sendirian di kamar. Dan sejak itu pula hampir tak terdengar lagi suara barang yang di banting di rumah. Keluarganyalah sekarang yang jadi merasa aneh dengan keadaan itu. Diam-diam mereka semua mulai menyelidiki perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Warni. Ada apakah gerangan? Apa yang terjadi pada Warni sehingga dia sering melamun sendirian di kamar. Senyum-senyum sendirian. Apakah Warni telah gila sehingga seisi keluarga dibuat was-was. Apakah yang menimpa salah satu keluarga mereka. Apakah Warni sedang jatuh hati? Jatuh hati pada siapa? Pangeran manakah yang mau menentukan pilihan dan jatuh hati pada Warni. Siapakah sang pangeran itu? Mereka bertanya-tanya.
Diliputi tanda tanya besar
Senin, 04 Oktober 2010
NEGERI SENGGEGER (3)
Siapa yang menangis dalam pelukan malam
menyadari putik tak jadi mengembang
terhisap kecial jalang
begitu teganya kau menjaring madu dalam kegelapan malam tanpa menyisakan sedikitpun dahaga masa depan
dan malam tetap menjadi gelap dalam cahaya jahanam yang kau hujamkan di kilaunya asmara yang melesak memaksa diam-diam dalam berbagai rongga kenikmatan
“Aku khilaf, dik……”
engkau hanya bengong menjalin kembali mahkota yang retak
dalam asmara terpaksa
begitu ajaibnya mantra ini
-dan engkau terpekik
menyadari putik tak jadi mengembang
terhisap kecial jalang
begitu teganya kau menjaring madu dalam kegelapan malam tanpa menyisakan sedikitpun dahaga masa depan
dan malam tetap menjadi gelap dalam cahaya jahanam yang kau hujamkan di kilaunya asmara yang melesak memaksa diam-diam dalam berbagai rongga kenikmatan
“Aku khilaf, dik……”
engkau hanya bengong menjalin kembali mahkota yang retak
dalam asmara terpaksa
begitu ajaibnya mantra ini
-dan engkau terpekik
Jumat, 01 Oktober 2010
Prosa liris: ROMANSA SAHIDI (11)
Dan seperti biasa di warung remaja ia berlaku. Warung lahan yang mudah buat merencakan niat busuknya. Dan rencana Sahidi mengalir lancer dalam kebusukan-kebusukan bak makanan yang masuk dalam liang lambungnya yang tak menyembunyikan kebusukan, namun mampu membius orang sekitarnya untuk lupa sesaat.
Tentu dia akan berlama-lama ke belakang sebelum menemani teman kencannya. Entah apa yang dilakukan di belakang. Sesaat lama keluar dengan binar yang tanpa sadar setelah sang wanita mencicipi hidangan itupun menjadi turut berbinar-binar melupakan latar belakang. Lalu tertawa bersama dan bersenda gurau dengan bahasa vokal mendekati vulgar. Lalu bercengkrama. Lalu saling cengkeram. Dan pada akhirnya sama-sama tidak menyandang status. Dan pada akhirnya membentuk garis lurus. Tidak membentuk norma lagi. Pada akhirnya sama-sama belajar mengigau. Tapi kalau seandainya dia tidak tunduk maka Sahidi menambah kegaiban spare-part lebih spesifik lagi, bila perlu dibuat hingga terlena lupa untuk membedakan mana daratan dan mana lautan. Mana hunian rumah serta lupa jalannya pulang. Inilah jurus kedua yang diterapkan pada setiap wanita yang tak mampu menolak asmara yang ditawarkan. Tak mampu ditawar tawar Tak mampu!!! Kembali pada masa-masa sebelum keemasan yang cerah.
Tentu dia akan berlama-lama ke belakang sebelum menemani teman kencannya. Entah apa yang dilakukan di belakang. Sesaat lama keluar dengan binar yang tanpa sadar setelah sang wanita mencicipi hidangan itupun menjadi turut berbinar-binar melupakan latar belakang. Lalu tertawa bersama dan bersenda gurau dengan bahasa vokal mendekati vulgar. Lalu bercengkrama. Lalu saling cengkeram. Dan pada akhirnya sama-sama tidak menyandang status. Dan pada akhirnya membentuk garis lurus. Tidak membentuk norma lagi. Pada akhirnya sama-sama belajar mengigau. Tapi kalau seandainya dia tidak tunduk maka Sahidi menambah kegaiban spare-part lebih spesifik lagi, bila perlu dibuat hingga terlena lupa untuk membedakan mana daratan dan mana lautan. Mana hunian rumah serta lupa jalannya pulang. Inilah jurus kedua yang diterapkan pada setiap wanita yang tak mampu menolak asmara yang ditawarkan. Tak mampu ditawar tawar Tak mampu!!! Kembali pada masa-masa sebelum keemasan yang cerah.
Langganan:
Postingan (Atom)
