Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Rabu, 03 Maret 2010

ZIARAH

Betapa kecil sebuah makna mengungkap, disaat bibir kata yang mulai terucap batas perjumpaan akhir dari relung hati terdalam dan memang sangat dalam untuk menggugat takdir. Betapa tidak ketika kita diharuskan mengungkapkan perpisahan dalam standard waktu yang tak jelas. Mungkin kekasih yang lari dari dekapan membawa suatu goresan duka yang dalam yang sangat begitu mengecewakan hati dan meraung-raung di hati. Betapa tidak untuk sebuah perpisahan yang dalam, yang mengharapkan kita untuk mengenang dan dikenang. Manusia memang dalam konteks itu pada kenyataannya tidak bisa lepas dari takdir, bahwa kenyataan hidup yang dihadapi sebenarnya tak lepas dari unsur cinta kasih, kebencian, dendam, perpisahan oleh sebuah kematian yang panjang.. Kehidupan yang tidak terpisahkah oleh kematian.. Sebuah cerita kecil dari kematian itu, yang sebelumnya mengungkit-ungkit masa lalu, sebuah kenangan sebagai perjalanan sangat panjang yang sebelumnya oleh kesedihan terlalu dibesar-besarkan atau akan lari dari kekosongan itu dengan berbuat seolah-olah tidak mengenal bayangan masa lalu lewat kebodohan diri. Bertopeng dalam duka barangkali atau bisa jadi mengadakan kontak dengan kerawanan dalam kekacauan jiwa. Berlari di alam yang bertumpang tindih dari segala-galanya untuk menutup arahnya, perputaran waktu. Merelakan waktu pergi dan bersikap mati apatis dari kematian kekasih yang yang selama ini memberi gairah kehidupan.
Demikianlah adanya sebuah pratanda buruk dari manusia yang bernaung di bawah bayang-bayang ketakutan akan sebuah perjalanan misteri.
Terlepas dari itu semua, dari sang kekasih sendiri, adalah sepasang insan yang pernah dilanda asmara dalam suatu ikatan perkawinan telah melampaui target dari keseharian dalam pergulatan panjang yang tak dikenalkan keadaan-keadaan, tidak bersentuhan dengan segala macam bentuk moralitas, suatu dogma agama yang terkadang terkesan mengikat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengendapan senggama sarat sebagai sebuah proses melahirkan segala bentuk keangkuhan-keangkuhan diri yang memasung-masung untuk dapat disebut sebagai sebuah kenikmatan. Katakanlah suatu pergumulan bathin polos, apa adanya namun tidak dikacaukan unsur apapun juga. Buah dari kenyataan manis, manisnya rasa yang mengantarkan pada pemakaman terakhir. Peristirahatan total yang tak akan mengenal kehidupan lagi sebagai orang yang benar-benar mati. Mati dalam arti yang sebenarnya. Akankah insan takdir mati meraung dikutuk tradisinya? Ziarah, demikianlah terlepas dari kehidupan sang tokoh menjalani kodrat sebagai keadaan yang sebelumnya tidak tahu, berangkat dari tanda tanya yang bergolak dalam segala penyesalan lewat kewajaran kisah hidup di medan realita, dengan terpaksa akhirnya dihadirkan suatu bentuk manis titik temu sebuah yang namanya kecintaan. Tidak sebatas waktu dia menziarahi sang istri yang telah membawa bayang-bayang samar yang tidak tahu kapan sebuah peristiwa terjadi. Kapan kematian datang menjemput.
Di dalam batas lingkup kewajaran yang sebenarnya sedang terjadi, justru sebaliknya dia adalah kelahiran dari ketidakwajaran itu sendiri. Dan disaat ia bersikap wajar, bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kehidupan dalam masyarakat, terjadilah suatu perselisihan diantara anggota-anggota itu sendiri yang memberika sebuah penilaian terhadap dirinya. Jadilah kontradiksi, betapa tokoh yang berprilaku dan berjalan sesuai atas tuntutan jamannya diartikan terbalik. Itulah yang telah dilukiskan sebagai seorang yang telah lupa akan tanah kelahiran yang rindu kampung halaman, sang pejalan yang berduka yang berziarah di atas tanah pekuburan. Iwan Simatupang sang novelis telah melukiskan ziarah sebagai kesan kehadiran kembali akan kecintaan orang tercinta yang terlupakan oleh sang waktu.
Hanya waktu, sebuah perjalanan waktu yang membawa kembali ke arah perjalanan akhir., dalam jasad utuh tanpa apa-apa. Mayat yang menjadi usungan di peristirahatan total, terlepas dari roh itu sendiri dalam wujud mencari sebuah pengembaraan baru. Sebagaimana tulisan Iwan Simatupang yang melukiskan akan sebuah kepercayaan akan adanya lembaga sorga dan neraka dalam geografisnya bumi dimana manusia berada dalam perziarahan yang ikatan antara manusia hidup dan yang telah mati masih ada. Menjadi seonggok lembaga yang berupa tanah-tanah kuburan. Perziarahan yang pernah terjalin sebelumnya. Itulah adanya kuburan; mayat-mayat baru dikubur disitu. Centimeter demi centimeter dari permukaan bumi kita ini adalah bekas kuburan tua yang setiap waktu dapat dijadikan tumpukan kuburan baru. Kita adalah bakal mayat yang berpijak di atas mayat tua. Bumi ini adalah seluruhnya bumi kepunyaan mayat-mayat. Bumi kerajaan maut.
Iwan Simatupang menuliskan dalam arti terdalam, dengan kegamblangan unsur psikologis tapi butuh sedikit pengulangan arti akan maksud pengarang.(dgk)

PURNAMA DI JENDELA HATI


Pergi bertemu purnama hari, terantuk antuk cahaya
pancaran yang senantiasa menjaga kantuk berbenah
ribuan pulau tercipta di jagatmu melalui rimbamu yang terkuak:
damai
sambil kupandangi lintasan cuaca bebukitan, di sebelah mana kau simpan?

pantulan sinar terkadang memantul-mantul keinginan
memintal benang yang melilit tubuhmu hingga hilang ikatan-demi ikatan
hilang kata tak terucap bak sebuah lenguhan halus
itukah isyarat keinginanmu?
engkau menjawab dalam anggukan serupa ajakan dalam penantian
engkau suguhkan alis matamu, aku berusaha menebak
aku suguhkan mata dalam keterpanaan, engkau berusaha diam
damai membagi jarak, berbagi bagi cahaya
kita mulai menerka nerka tentang cinta
sambil bercakap cakap tentang hari, kau katakan purnama itu tumbuh di jendela
perlahan meruang membentuk guratan bibir yang kau sembunyikan di hatiku
di bilik yang mana?
kulentikan cahaya di bolamata teduh, punyamukah?
Wow, ternyata bukan!
senantiasa pula purnama itu bernyawa
di tubuhmu
kurapatkan perjumpaan ini dalam tubuh tak berjarak lagi
inikah isyarat keinginan?
Matamu kian menyempit

Senin, 01 Maret 2010

Dari Jendela Peracikan : SEPERCIK IKLAN YANG SEHAT (my life is padibu)


Dengan sebutir padibu aku buat keyakinan akan sebuah semangat hidup. Kutelan lalu kuberjalan. Rasanya aku merasa benar-benar mampu untuk berpikir kembali. Aku merasa hidup lagi.
Selanjutnya seorang pengunjung datang pada sebuah outlet Kimia Farma, sembari disambut ramah sang petugas dengan basa-basi bahasa nan akrab menanyakan soal kabar serta ada sedikit keperluan yang bisa dibantu dijawab dengan pertanyaan ringkas sang pengunjung:
”Ada Padibu? Persediaan saya hampir habis. Saya mau melakukan perjalanan jauh”
Sang petugas apotek mengangguk dan mengisyaratkan untuk menunggu, mungkin juga berusaha ramah dengan bahasa: ”Silahkan duduk sebentar, dalam dua menit kurang yang anda butuhkan sudah di tangan”
Dan selanjutnya semenit berlalu dua menit berlalu hanya mendapat sebuah jawaban yang sangat mengecewakan. Lima menit bahkan sepuluh menit barangkali tidak mampu untuk mengobati kekecewaan sang pelanggan yang fanatik ketika harus dijanjikan beberapa hari bahkan mungkin sampai seminggu lebih.
”Maaf, persediaan kami lagi kosong”
”Dimana bisa saya dapatkan? Apotek sebesar ini kok tidak menyediakan?”
Bangga juga kalau dikatakan outlet kita besar. Akan lebih bangga memperlihatkan stand kita Kimia Farma dengan pantulan cahaya billboard terang benderang menyala di malam hari dikatakan sebagai sebuah barometer terlengkap dan sungguh! Sangat megah terlihat dari jalanan saat menyusuri kota. Tentu kita akan menjawab, bahwa apa yang tidak diperoleh sang pelanggan akan kita usahakan dan tentu saja diperoleh disini. Bila perlu dengan menanyakan alamatnya akan kita antar sampai di tempat tujuan, tanpa harus repot-repot dan jenuh mengantri, tanpa harus kesal menunggu lama sambil membaca koran atau menunggu kabar tak pasti menunggu giliran dipanggil di ruang tunggu sembari melewatkan kebosanan dengan menonton TV yang terletak di ujung sudut pandang ruangan apotek.
Petugas sigap menanyakan ke sub gudang hingga central pengadaan sampai menembus jalur distribusi untuk mendapat kepastian. Yang tidak sigap mungkin bisa cuek-cuek bebek saja.
Jawabannya ringan. Lagi kosong distributor. Namun kita tidak bisa ringan memberikan jawaban kepada sang pelanggan fanatik yang sudah terobsesi mendarah daging mengkonsumsi vitamin penambah daya stamina yang mampu meluruhkan segala penyakit yang disebut menurunnya aktifitas. Yang jelas iklannya membangkitkan gairah yang sangat menyala-nyala.
Susahnya manakala memberikan alternatif pilihan sejenis kurang lebih sama atau lebih ampuh seandainya sang pelanggan mengatakan dirinya telah cocok dan sungguh dia katakan sejujurnya: “ Padibu is my life” Nah. Apakah sebuah sugesti yang parah disaat barang dibutuhkan lagi kosong tanpa mampu kita kompensasikan dengan saran lain yang mengubah keadaannya untuk produk yang sama misalnya mengubah pandangannya itu tentang Padibu. Dan selanjutnya dia acungkan jempol” “padibu is the best”
Seminggu, dua minggu bahkan sebulan mungkin kita sudah lupa dengan pelanggan tersebut. Entah juga sudah pernah mendapatkan padibu yang dimaksud di outlet lain bahkan di apotek lain selain Kimia Farma yang pernah dijelaskan sang petugas bahwa: produk Kimia Farma juga beredar di pasaran apotek lain di luar jaringan Kimia Farma itu sendiri. Yang pasti tiba-tiba saja pelanggan yang sama datang kembali menanyakan obat yang diinginkan seperti terkesan sambil lalu atau hanya sekadar bertanya meyakinkan apakah tersedia ataukah masih kosong:
”Ada padibu??”
”Semoga ada pak!” jawab petugas dengan nada sangat ramah sebagai salinan bahasa yang baru menggantikan bahasa yang tersedia sang petugas dengan kata-kata”terimakasih, semoga lekas sembuh.”
”Saya mendapat iklan sehat padibu ini dari seorang teman. Katanya bagus tapi susah memperolehnya. Bahkan di beranda facebook seorang teman selalu dia awali dengan tulisan berapi-api penuh semangat mengenai Padibu. Itu membuat saya jadi tertarik, seampuh apa sih sebenarnya obat jenis ini? Apa benar sangat ampuh sebagaimana kata teman saya lewat bahasanya di facebook? Mudahan tidak kosong ya?”
”Pasti pak. Itu vitamin yang sangat manjur, bagus dan memberikan dampak semangat, terlebih melakukan perjalanan jauh seperti bapak.”
Sang pelanggan manggut-manggut, sedikit menyeka keringat di dahi yang basah. Seperti tengah melakukan perjalanan jauh. (dgk)

Cerpen:DG.Kumarsana LELUHUR GENTUH

Gentuh punya leluhur. Sama kedudukannya dengan leluhur istrinya. Karena leluhur mereka beragama yang sama sehingga memudahkan untuk terjadinya proses reinkarnasi phunarbawa manakala terlahir anak-anak. Namun yang dia ketahui lebih dominan leluhur Gentuh yang memainkan peran dalam kehidupan rumah tangganya. Leluhur istrinya sifatnya hanya selaku pendamping untuk mengawasi kelangsungan hidup anak-anaknya dalam artian lebih meneduhkan perasaan-perasaan. Dan tidak lebih juga untuk menjaga emosi terkendali manakala mereka mengalami temperamen berlebihan. Namun pada kenyataan kehidupan sehari-hari justru leluhur istrinya lebih dominan memainkan peran. Karena tanggung jawabnya yang besar serta berstatus sebagai ponggawa kerajaan kalau istilah kekinian lebih tepat disebut sebagai aparat keamanan. Status mereka rata-rata sebagai tentara, polisi lalu lintas, sebagai polisi pamong bahkan ada sebagai satpam. Sementara leluhur Gentuh sesungguhnya berstatus sebagai pemuka agama, tokoh adat yang lebih cenderung menyelesaikan prosesi upakara keagamaan, selaku tokoh adat yang dihormati dan untuk sementara, bahkan sampai hari ini..Dan leluhurnya juga adalah seorang seni, seniman yang pintar memahat, seniman yang pintar membuat bade pada upacara pengabenan. Demikianlah hingga seterusnya sampai ke anak cucu keterampilan itu bermanfaat terus, Dari desa ke desa selalu mereka mencari keluarganya untuk menyelesaikan upacara.
Pada suatu ketika rumah tangganya mengalami musibah. Badai semacam “black magic”. Sebuah perkara di luar logika. Mula-mula ia mengalami kesakitan pada perut. Gastritis yang memang kronis akibat lambung bertukak. Rasa nyeri yang berat disertai muntah-muntah. Muntah bercampur darah. Bagian perut terasa kejang. Kolik temperamen ini mengakibatkan Gentuh harus menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Yang mengherankan justru hasil testimoni pada laboratorium selalu berubah-ubah. Diagnose ini menyebabkan keragu-raguan yang parah pada psikisnya.
“Sebaiknya kita tidak mempercayakan pada dokter saja?” Katanya penuh idealis dalam tanda tanya yang sangat besar.
”Terus kita cari dokter yang lain?” istrinya menjawab berusaha untuk memahami keadaan.
”Bukan! Saya harus minta pendapat seorang balian ”
”Ah, aneh-aneh saja” Istrinya menyepelekan. Dan hal itu pula disampaikan pada salah seorang saudara yang baru beberapa bulan belakangan ini jumpa. Saudara dari kampung sama-sama merantau dan baru dijumpai beberapa bulan yang lalu. Saudara yang sangat baik dalam segala hal. Kebaikan yang muncul dan terkesan sangat tiba-tiba dan seperti dibuat-buat untuk kelihatan baik dihadapan Gentuh dan istrinya. Betapa tersinggungnya seorang saudara manakala hal itu diceritakan akan sebuah ide yang ia inginkan untuk mencari ”orang pintar”.
”Kan’ sudah jelas diagnosenya kok harus cari dukun? Apa tidak cukup dari bli saja?” demikian saudaranya menasihati istri Gentuh sendiri.Kata-katanya sedikit sengit, karena upaya yang dikeluarkan dengan mengobati penyakit Gentuh mempergunakan jurus yang selama ini dipelajari untuk menjadi pintar. Saudaranya menerapkan ilmu bathinnya pada Gentuh karena merasa ada kemampuan untuk melakukan itu. Mantra yang diterapkan menurutnya konon diperoleh dari pelajaran pengembaraan bathinnya dalam pengetahuan demikian hebat. Itu yang pernah diceritakan pada istri Gentuh. Walau sesungguhnya Gentuh tidak pernah percaya penuh akan kemampuan kakaknya. Buktinya ketika dia diberikan air putih hasil komat-kamit kakaknya dan setelah meminum malah sakitnya kian menjadi-jadi.
Gentuh tak yakin kalau saudaranya memiliki ilmu pengobatan.
Selanjutnya ia sudah tahu kalau itu semua hanyalah merupakan penyakit kiriman. Kejanggalan lain dalam kesembuhan dengan cara yang aneh adalah pada saat istrinya secara diam-diam mendatangi ”orang pintar” yang dimaksud tanpa setahu saudara memintakan obat berupa air putih yang dikatakan tirta dipercikan di jidat, diraupkan di wajah dan diminum masing-masing tiga kali.Tapi Gentuh lakukan tujuh kali. Keajaiban terjadi! Secara spontan ia bisa bangun dari tempat tidur dan minta supaya slang infusnya dilepas dari cairan natrium klorida yang sudah beberapa hari dikonsumsi oleh urat nadinya. Dan tengah malam ia malah minta mandi dan keramas. Suatu hal aneh yang dilakukan yang semestinya dalam aturan kesehatan tidak boleh dilaksanakan pada saat stamina masih lemah oleh pengaruh infus.
”Kenapa bisa sampai terjadi demikian? Sangat tidak masuk akal!! Apakah ini daur mimpi awal menuju kesadaran atau akan membuat semakin parah?” Gentuh terheran-heran dengan kejadian itu. Namun kalau tidak percaya kenapa rasa sakit diperut yang demikian melilit tiba-tiba hilang setelah menerima air putih itu? Terus siapa yang membuat sakit begini? Ia tidak punya rasa salah sama orang lain selama pergaulannya selama ini. Apa mungkin ada orang yang diam-diam tidak menyukainya dan mengirimkan penyakit dengan cara sembunyi-sembunyi? Lalu lewat mana masuknya penyakit itu?
”Itu ’cetik’. Biasanya dikirim lewat angin berupa makanan. Pernah menerima makanan dari seseorang? Biasanya orangnya kita kenal, sangat dekat dengan kehidupan kita.”
”Ooooo pernah-pernah. Bahkan sering entah itu dari teman-teman dekat atau dari sanak keluarga. Tapi akh..... masak sih orang-orang seperti mereka yang begitu baik mempunyai niat jelek? Ndak percaya....... sangat sulit untuk dipercaya dan kok kayaknya ndak masuk akal ya?”
Berulangkali dipandang kerut wajah tua yang dikatakan teman-teman dekatnya dan hampir semua masyarakat disana mengatakan ”orang pintar” dengan tatapan wajah sangat bodoh. Ini kebohongan yang memang mengada-ada atau memang sesuatu yang sungguh-sungguh tengah terjadi tanpa ia ketahui apa sesungguhnya di balik semua itu.
Tapi kalau sebuah kebohongan, kenapa kok perutnya tidak terasa sakit sekarang? Wah, benar-benar luar biasa keampuhan air putih itu.
”Apa yang ada dalam pikiramu tentang mereka tentu baik. Itu magnet positip yang ada dalam bathinmu sendiri. Tetapi tahukah kamu apa yang ada dalam pikiran mereka? Itu ada dalam signal yang kamu rasakan lewat feeling yang hanya dalam sepersekian detik direkam memori pikiranmu ” orang pintar ini kian banyak bicara. Dan Gentuh melongo sepertinya harus mempercayai kata-kata itu. Minimal ia mengerti dan diajak untuk mengetahui dan menjenguk kedalaman pikiran masing-masing orang bahwa semua orang belum tentu baik dan juga tidak seluruhnya juga punya tabiat buruk. Perasaanlah yang mewakili dalam sinyalemen yang janggal manakala seperti akan diberikan sebuah rambu-rambu akan terjadi sesuatu peristiwa. Artinya ia benar-benar mengerti itu semua termasuk dalam bahasan entah yang namanya teman dekat, sahabat karib ataupun saudara dekat sekalipun menurut perkiraan perasaan belum tentu seluruhnya punya niat baik.
Malam itu Gentuh bermimpi di datangi orang tuanya yang sudah meninggal, yang keberadaannya sudah dianggap suci. Ia menyebutnya leluhur. Leluhur Gentuh hadir ditengah-tengah senyumnya yang penuh teka-teki. Seakan tidak dapat menebak senyumnya. Kalaupun bicara kata-kata itu tak keluar dari mulut mereka namun seperti tengah mengatakan sesuatu. Ia tidak tahu entah apa yang dikatakan.
Gentuh yakin sekali, kalau mendiang ayahnya hadir dalam mimpinya berturut-turut dalam minggu-minggu ini. Itu artinya lagi ”terjadi sesuatu” yang menimpa hidupnya. Ia bisa menebak. Karena dua kali kejadian didatangi mendiang ayahnya pada tahun-tahun sebelumnya dia selalu tertimpa masalah yang sangat pelik. Selalu saja masalah yang terkait dengan ilmu hitam. Istrinya mendekap dada Gentuh dalam alunan napas turun naik yang teratur. Kali ini suara dengkurnya terdengar berbeda dari biasanya.
Tiba-tiba saja ayahnya sudah berada disampingnya. Dia merasakan suhu tubuh ayahnya. Dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya. Dia merasakan ada komunikasi yang tidak biasanya. Gentuh melihat suasana sekitarnya demikian senyap. Dia diajak keliling melihat-lihat suasana desa yang lenggang. Dia merasa sangat gembira dan berbahagia sekali. Dan hai, itu kan gus Raka, teman semasa sekolah dulu. Begitu lama ia menghilang disaat sibuk-sibuknya mempersiapkan pertandingan basket antar sekolah. Dan dia tidak pernah hadir dalam latihan sampai menjelang pertandingan. Apa yang dilakukan disini? Gentuh menyapa namun sapaannya bagai angin, berlalu begitu saja. Dia seolah tidak melihat dan mendengar panggilannya. Gentuh merasa tangannya dipegang. Ayahnya mengajak ke suatu tempat. Daerah perkotaan penuh lalu lalang orang-orang yang sibuk. Mereka menerobos orang-orang yang lagi berseliweran. Langkahnya demikian ringan, seolah ada roh lain yang memompa jantungnya. Diantara hiruk-pikuk kendaraan, menyeberangi jalan menuju sebuah bangunan besar, seperti demikian mengenal sekali bangunan itu. Lho, ini kan’ rumah sakit tempatnya opname? Suster-suster yang pernah merawatnya dia kenal betul. Gentuh tersenyum dan melambai namun lagi-lagi tidak mendapat balasan. Gentuh menegur dan mengajak bicara, namun suaranya tidak terdengar. Suster itu tidak membalas senyumnya, tidak membalas lambaian tangannya, tidak membalas menegur, tidak meladeni bicaranya. Gentuh tercengang. Lho itu teman-temannya di kantor, mereka berjalan menuju ruangan rawat inap. Gentuh berjalan di samping mereka sambil menyenggol tangan Ali, rekan kerja satu ruangan. Ali tidak peduli. Ia menggapai ke arah bang Kusno. Lagi-lagi tak ada tanggapan. Seolah-olah tidak ada yang melihat kehadirannya. Semuanya tidak peduli.
Gentuh merasa jengkel. Emosinya kambuh. Satu persatu dia cuwil tangan teman-temannya. Tidak ada yang bereaksi.Gentuh berteriak di setiap telinga teman-temannya, bagai orang gila ia mulai memaki, mendamprat dan mengeluarkan kata-kata kotor. Tetap tidak ada reaksi. Semuanya tetap berjalan dengan menundukkan kepala. Ada yang mengeluarkan airmata, ada yang saling bicara sesama teman dengan suara pelan dan nada sedih. Ada apa ini? Gentuh geleng-geleng kepala. Ayahnya hanya senyum-senyum saja melihat tingkahnya. Ia akhirnya mengikuti langkah teman-temannya menuju sebuah ruangan bangsal rumah sakit. Betapa kagetnya ia begitu melihat tubuh siapa yang terbujur di atas tempat tidur.
”Ha? itu kan aku? Gentuh terhenyak kaget melihat dirinya terbaring. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Lagi-lagi ayahnya hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata.
”Apakah aku sudah mati?” Gentuh bertanya dan menoleh mencari sosok ayahnya. Ayahnya tidak ada di sampingnya. Tidak ada diantara kerumunan orang-orang yang mengerubungi tubuhnya.
Ia melihat istri dan anak-anaknya sedang menangisi dirinya. Ia melihat saudaranya yang dirantau, saudaranya yang dianggap baik lagi memeluk istrinya dan menatap dirinya terbujur dengan pandangan menyeringai. Sorot mata yang sangat menakutkan. Sekarang ia bisa melihat saudaranya itu tengah memasukkan sesuatu ke dalam makanan yang dibawakan untuknya. Dia melihat dirinya lahap memakan makanan itu. Ia melihat sesuatu zat yang memasuki tubuhnya hingga panas dan mendidih. Sekarang ia melihat tubuhnya sendiri mengeluarkan uap panas. Sekarang ia melihat jelas istrinya tertidur dalam pelukan saudaranya. Hingga sama-sama tertidur. Sekarang ia mampu melihat apa yang sedang dilakukan saudaranya, temannya, tetangganya dan musuh-musuhnya. Sekarang ia sudah dapat membedakan mana yang bernama teman dan mana teman yang bernama musuh. Sekarang ia dapat melihat jelas wajah saudaranya yang menyeringai mengerikan. Sekarang ia merasa tubuhnya sangat ringan sekali.

PUDAR PERCAKAPAN MENJELANG PETANG


Jangan lagi kita bawa
cerita usang tentang jagat
atas angin atas samudera
ketika tambalan demi tambalan
segala cerita bersama
terbangnya hilang batas
segala kata
kubangan rumah rumah


Percakapan yang tak pernah usai
mengenal rentang waktu
berbagi kemelut bagi kekeruhan
yang tak selalu terhenti
memanjakan kejauhan ini
Padamu

Mengenang almarhum WS RENDRA sang budaya kasur tua....... maksudnya?

Itu ungkapan mas putu wijaya: kebudayaan jawa adalah kebudayaan kasur tua. Itu hanya sebuah diskusi yang memamerkan ketersinggungan banyak kalangan.
Kebudayaan yang tinggi bukanlah kebudayaan kurang ajar.
Pemikiran sang burung merak bukan karena ulahnya baru nangkring kembali sepulang dari amerika.
Bahkan mungkin itu hanya satu bentuk ekspresi mini kata untuk mencemooh sang balada orang-orang tercinta.
Kasur tua baginya hanya ingin mengembalikan khasanah budaya usang, membuang tradisi temporer yang dogmatis menjadi tokoh pembaharu, merubah zaman yang buktinya sepeninggalan sang burung merak masih senang untuk dikenang, senang mengenang teater mini kata dalam almamater bengkel teater., adakah sang penerus kata....????
Bintang mahaputra atas pemakaman mas Rendra seperingkat mbh surip yang tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan bagi tokoh ”art heroik” karena tidak mau dan tidak butuh untuk dihormati.
”Sekelumit mencari bapa”
Namaku Suto
Ketika aku lahir
Hujan turun dengan lebatnya
Di ujung senjakala
Sebagai bayi tubuhku terlalu besar
Aku lahir dengan kaki lebih dulu
Ibuku berteriak:”Aaaak”- lalu mati




Sumber kata”: goro-goro mas putu wijaya majalah tokoh 9 hingga 15 agustus 2009.

B A T U A J I - anggara kasih dukut -

Kudengar gemuruhmu suara suara malam
Sesaknya wewangian asap penghabisan bakaran dupaku
mimpi ini selalu Engkau hadirkan
pada setiap datangnya kesadaran di hadapan istanaMu
“disini saja bermalam-malam sepanjang sinambung bahana kidung” katamu
hingga menunggu datangnya pagi
berapa usia leluhurku kini?
Bertambah satu hitungan dalam sekali dua kali tancapan dupa
(berbaur asap dupa yang ngelayang ke atas langit langit merajan)
masih kita menyongsong dalam tari-tarian rejang
dalam kesetiaan yang hangat
- para leluhurku kian menawan
menebar pesona

Mengukur ngukur jarak nasib yang
tengah dipertarungkan bagi petarung malam
malam retak dalam ketimpangan gemerlapnya kegelapan hati yang kering
tak bercahaya pendaran penantian
di ujung altar
mengalir, melingkar lingkar di pusaranmu
ditelan ujung kesangsian

Ataukah hanya karena lidah kita berucap
sembarang waktu
sembarang keinginan yang senantiasa
menopang menagih nagih
mencumbui hasrat rapuh
tiba di batas sadarmu
di batas segala rasa
di batas batasi segala tarian
dimana gamelan
dan gong usai melukiskan hasratnya
memainkan panah panah kata
dari nyanyi kegelapan

atau senantiasa kegelapan ini tak berujung
memburu mimpi mimpi
entah pada bait yang mana kita memulai kesenjangan yang janggal
Dewa-Dewa menari tanpa suara-suara gamelan
yang seolah hingar menusuk telinga
mengacung acungkan tombak bersaput poleng menelan denyar
mendengar para kawi yang hadir suarakan kidung