Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Jumat, 19 Februari 2010

SAJAK BUAT SEORANG GADIS


Dan jangan ceritakan lagi
dinginnya sunyi
lahir dari puncak kekelaman
segala tubuh yang lari
di tubuh sunyi

Senantiasa tanganku gemetar
setiap menyapa kerahasiaanmu
bukan mantram yang dilafalkan kata kata
beku
atau sekadar berlagu bisu
tanpa suara
menepis arti

kuberi kau cahaya kebisuan merambat ujung
ruh segala ruh

yang disucikan segala kesucian
sekadar menghitambarakan nyaliku
punah menakar nakar ketakutan
silih berganti

namun
kau diam
sekadar berlalu

Kamis, 18 Februari 2010

CerpEn : IBU, KAPAN PULANG ?

Mula-mula Hendra menyaksikan tingkahnya yang aneh-aneh. Entah dia pikir barangkali karena terlalu banyak terobsesi oleh trauma masa lalu atau memang dia sudah berubah? Hendra tidak tahu. Yang dia tahu hanya keinginan istrinya telah hilang sama sekali. Setiap dia menginginkan itu, selalu ada penolakan halus.
Terkadang dia berpikiran aneh dan merasa ada yang janggal belakangan ini. Apakah tidak mungkin diam-diam istrinya telah mengenal laki-laki lain secara akrab sehingga keinginan itu tidak ada sama sekali dengannya.
”Kenapa cinta ini harus dibangun lewat perasaan?.” suatu malam istrinya mengucapkan kata-kata itu. Begitu saja keluar kata-kata itu dengan sangat polos.
”Kenapa bisa begitu? Apa kamu sudah merasa bosan,dik?” Hendra bertanya. Sangsi dengan apa yang keluar dari bibir istrinya.
”Entahlah, aku tidak tahu. Barangkali kesibukan yang telah membuat pikiran-pikiran selalu tidak terfokus pada hal-hal itu lagi..”
”Kamu mulai banyak berubah ” Hendra menebak dengan menyebutkan nama seseorang yang belakangan ini selalu dia sebut-sebut dalam setiap percakapan. Hendra tahu pembicaraan ini sebetulnya tidak perlu berlanjut. Hendra tahu dia telah memberikan suatu bentuk kejujuran yang mewakili rasa ingin tahu pada benaknya yang terlalu besar dihantui oleh perasaan cemburu. Sebuah perasaan yang tidak semestinya untuk diungkapkan. Namun apa salahnya kalau rasa cemburu dipakai haknya untuk mewakili suasana hati dari keinginan-keinginan yang wajar sebagai pergolakan cinta yang masih mampu untuk dipertahankan.
”Apa ada yang salah?” seperti sudah ditebak sebuah pengakuan mulai keluar dan nama itu kian akrab dalam setiap perbincangan.
Hendra menggeleng. Dia pikir wajar-wajar saja, sebagaimana pemikiran setiap manusia yang ingin maju, ingin ada perubahan dalam hidupnya.
”Kebutuhan kita semakin meningkat. Anak-anak mulai tumbuh dewasa dan kita tidak mungkin hanya berharap dari penghasilanmu di kantor dengan kebutuhan yang semakin meningkat ini.Yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak. Aku harus mendapatkan semua itu. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah mencari uang. Kita kesampingkan dulu soal perasaan. Soal cinta.” Rina penuh semangat dengan pancaran mata yang luar biasa, diluar dari apa yang pernah dipikirkan tentang bayangan seorang wanita yang lemah lembut, wanita yang mampu membimbing anak-anak tumbuh besar dengan perasaan kasih sayang, bayangan seorang wanita yang juga memiliki kelemahan sebagaimana kaumnya, bayangan seorang wanita yang membutuhkan laki-laki, disaat mana terjadi suatu kesulitan dalam dirinya, kesulitan yang tidak mampu diselesaikan sendiri dan membutuhkan tenaga laki-laki untuk menyelesaikan semuanya itu. Sebuah kesulitan yang memiliki andil besar untuk membuat Hendra sebagai laki-laki kembali kepada fungsinya yang benar. Pancaran matanya ternyata sorot keperkasaan seorang laki-laki tulen, sorot mata yang mampu menyelesaikan segala sesuatunya sendiri sekaligus semua kesulitan-kesulitan yang dia hadapi. Sorot mata mandiri tidak butuh laki-laki. Sebuah sorot mata yang menggambarkan bahwa pekerjaan laki-lakipun mampu ia tangani. Hendra tercengang mendengar kata-kata yang dikeluarkan istrinya. Terpukau melihat kedahsyatan pancaran mata itu.
”Tapi aku dan anak-anak butuh perhatian.” Hendra membela diri.Bukan apa-apa,dia pikir segala kegiatannya selama ini sangat padat dan hari-harinya hampir tidak ada tersisa untuk berkomunikasi dan setiap pembicaraan selalu saja laki-laki itu mendominasi waktunya. Dia merasa kehilangan. Apakah kegilaannya kerja dengan waktunya yang sarat dengan laki-laki itu dalam satu aktifitas mampu mengalihkan arti sebuah kemesraan yang selama ini telah mereka bina? Hendra jadi tidak mengerti.
”Aku hanya menjalankan kewajiban untuk membantu keluarga.”
”Itu akan membuatmu lupa menjadi seorang ibu”
”Aku butuh uang lebih banyak lagi, sementara anak-anak makin tumbuh dewasa. Biaya sekolah itu tidak sedikit.” Rina mengelak, terkesan mengalihkan pertanyaan.
”Tapi aku kan masih kerja ? Aku masih punya penghasilan, walau nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan nilai-nilai proyek yang kamu garap dengan angka-angka jutaan rupiah. Nilai yang besar dan sangat bebas merengut hubungan kita.” Hendra berusaha memberikan pertimbangan.
”Syukur kalau kamu mengerti itu! Jadi untuk urusan cinta sementara waktu kita tangguhkan dulu. Aku tidak mau berdebat hanya untuk hal-hal yang sepele” Istrinya mulai sengit.
”kamu terlalu suntuk dengan aktifitas sampai lupa kalau anak-anak terlahir karena jalinan yang kita bentuk dalam ikatan cinta .” Hendra seperti tidak menyetujui apa yang keluar dari kata-kata istrinya.
Biasanya pada saat suasana sudah mulai memanas pasti akan terjadi omongan-omongan yang tidak terkontrol. Akhirnya sama-sama melepaskan emosi. Dan malam menjadi semakin pendek, begitu dekat jaraknya dengan pagi. Sampai sama-sama lelah dalam pertengkaran, sampai semua hal ikut terungkap. Dan semua kejadian-kejadian sebelumnya mulai dikuak. Sama-sama saling menyalahkan. Dia tahu, tidak ada pemenang dalam perdebatan. Merasa sama-sama benar pada sebuah pendirian. Akhirnya merasa sama-sama kokoh.
Dan Hendra akan terkapar pada sebuah keinginan yang tak pernah sampai, sebuah kegagalan menikmati bentuk-bentuk kemesraan. Lekuk-lekuk asmara yang fatal.
Pagi itu di kantor Hendra punya perasaan tidak enak sama sekali.Perasaannya tidak nyaman sama sekali.Pekerjaan ini bukan membuatnya suntuk, tapi malah sebaliknya. Konsentrasi buyar. Tadi siang Rina mendatangi kantornya mengantarkan uang untuk membayar ongkos tukang listrik yang dia janjikan siang ini pembayarannya. Karena dia memang tidak sedang memegang uang untuk pembayaran itu. Dilihatnya Rina berkemas pergi setelah menyerahkan uang dan dia melanjutkan kesibukan seperti biasa. Entah mengapa Hendra menghubungi istrinya dengan sms hanya sekadar untuk menanyakan sesuatu. Terjawab sekali, selanjutnya tidak pernah mendapat tanggapan. Hendra menangkap gelagat yang aneh. Walau perasaan itu berusaha dia halau dengan menepis pikiran-pikiran buruk dan bayangan-bayangan negatip tentang apa yang sedang dilakukan Rina saat ini.
Laki-laki itu mulai bingung.Ingin dibuang saja ponsel ini. Barang tidak berguna, saat dibutuhkan malah tidak memberikan fungsi apa-apa.
Perasaan galau mulai berkecamuk. Hendra mencoba menghubungi untuk bicara. Ponselnya ternyata tidak aktif. Perasaan curiga mulai muncul. Dia mulai hilir mudik menyusuri kota. Bayangnya hilang bak ditelan bumi. Tak berbekas sama sekali. Masak sih kota sekecil ini tidak dia temukan keberadaannya ? Rasa curiga datang silih berganti.
Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Hari menjelang malam. Tidak ada kabar berita darinya, entah kemana. Betapa dia merasa kehilangan dan cinta ini terlalu dalam untuk diberi makna. Tiba-tiba didengar sayup-sayup suara kendaraan, wajahnya muncul mengintip dari balik kamar. Ada yang tersembunyi dalam pertanyaan yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu. Ada kesangsian atas jawaban tak pasti, tapi Hendra tidak berani terlalu mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lagi..
”Hampir semua tempat di kota ini aku datangi bahkan sampai berulangkali aku lewati tempat-tempat yang sama, sampai aku datangi unit gawat darurat, karena perasaanku jadi tidak enak. Aku lihat setiap tubuh yang terbujur disana dengan perasaan was-was yang berlebihan dan.......” Hendra bercerita panjang lebar. Dan dia pasti tahu, suaranya hilang ditelan ke-tidak pedulian yang sarat oleh kesibukan menurut ukuran Rina saat ini. Hendra tahu itu sesuatu hal yang tidak perlu diceritakan. Tetap ada perasaan janggal, Ia merasa Rina sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa. Selama ini dia menepis kepercayaan yang namanya firasat. Terlalu melankolis. Perasaan yang demikian pekat memang kalau bicara soal hati. Ikatan yang kuat karena firasat tajam tidak mampu membohongi kendati kenyataan sebenarnya tidak terlihat dalam bukti atau menangkap kejadian-kejadian apa sesungguhnya yang sedang terjadi.
”Seandainya kamu tidak segera pulang atau bahkan tidak pulang sama sekali, bagaimana dengan anak-anak yang selalu was-was menanyakan keadaan ibunya. Lagi dimanakah sekarang berada.Apalagi sampai hari hampir mendekati malam kamu belum pulang juga”
Rina seperti tidak mengerti arti sebuah kekecewaan.
”Sempat aku bengong lama menatap usaha toko kita di depan. Kupikir seandainya kamu tidak pulang dik. Ya, seandainya memang benar-benar terjadi, siapa yang akan meneruskan usaha kita dik?”
Sekilas mata Rina bercahaya, pendaran yang hampir mengeluarkan kristal. Seperti menyimak omongan suaminya. Selanjutnya kembali redup.
Dan tiba pada waktunya untuk sebuah kegiatan panjang yang akan dilakukan Rina pada puncak prestasi untuk menerima penghargaan kerja dalam mengangkat harkat kaumnya lewat kegiatan penyetaraan gender yang selama ini selalu didengung-dengungkan dengan penuh semangat membara. Rina pamit pada suaminya untuk kegiatan di luar daerah. Untuk selanjutnya tidak pernah kembali. Tidak ada yang perlu ditunggu. Hendra hanya ingat beberapa baris kalimat yang pernah ditulis istrinya pada buku agenda kerjanya”...Tuhan, seandainya aku diberi waktu untuk pergi jauh, sangat jauh dimana orang-orang tidak ada yang mengenal diriku, jauh dari suami dan anak-anak yang aku cintai, serta siapapun tidak ada yang mampu menghakimi apa yang aku lakukan....”
Hendra tertegun. Kalimat itu telah membuktikan keampuhannya. Kalimat itu bukan sekadar kalimat biasa yang ditulis oleh istrinya sebagai sebuah rangkaian kalimat biasa pelepas lelah saat suntuknya dengan berbagai kegiatan. Sebuah kalimat yang menyembunyikan kesakitan-kesakitan. Entah kesakitannya yang mana.Betapa sepi dan tidak berartinya sebuah rumah tanpa kehadiran seorang ibu.
”Pak.......bapak.....”
Hendra menoleh, dilihat tatapan mata anaknya yang kedua polos penuh berharap. Harapan untuk memenuhi keinginan selepas main-main dengan kawan-kawan sebayanya. Hendra terpaku.
”Ibu dimana...?” pertanyaan anaknya mengundang cekat di kerongkongan. Hendra tak mampu menjawab.
”Kapan ibu pulang?” lagi-lagi suara anaknya kian mencekat lidahnya.
Keesokan hari dan seterusnya, satu bulan dua bulan berjalan dan seterusnya hingga berbulan bulan waktu berlalu, Hendra setiap pulang kerja selalu menyiapkan jawaban yang berbeda-beda buat pertanyaan anaknya yang selalu sama.

WORKHOLICS: MUARA SEBUAH TREPALIUM


Albert Low menulis begini : memang sulit membuat struktur organisasi yang memungkinkan semua karyawan, khususnya para spesialis, dapat melakukan pekerjaan dengan efisiensi dan produktivitas maksimum.Tanda tanya terbesar, menurut Low, adalah bagaimana membuat orang-orang itu cocok dalam “ kotak” nya. Well, sebuah ungkapan lama The right man on the job?
Konteks di atas menarik minat setiap manajer, pemikir perusahaan yang senantiasa berhari-hari membuat jadwal rotasi tenaga kerja untuk meningkatkan omzet perusahaan. Dan mereka membuat kantung-kantung kegiatan yang terdispersi dalam efektifitas tidaknya penempatan setiap worker pada bidangnya masing-masing. Efisien apa tidak untuk pencapaian target maksimum seandainya tenaga yang ditempatkan yang justru sebaliknya spesialisasinya malah akan melumpuhkan SDM. Seandainya pemahaman para worker yang menuai obsesi tentang sebuah kerja yang terlalu membebani, bukan sebuah perkara sepele muaranya akan membentuk kotak-kotak spesialisasi trepalium terbagi-bagi. Sebutan lain dalam bahasa latin yang dapat diterjemahkan sebagai pemasungan atau sebuah anggapan kerja itu adalah sebuah siksaan. Para tenaga kerja yang terpaksa melakukan kewajiban tidak pada skillnya masing-masing.. Pada akhirnya Seorang Albert Low-pun akan membuat sebuah dilema yang skeptis. Workaholic akan berkata, kerja bukan sebuah beban lagi dalam dilematis pengharapan sebuah kerja dalam nurani berbeda. Sebuah kerja yang ibadah.Sehingga trepalium bisa berubah konotasi sebagai perbudakan halus sebuah kerja, Trepalium mengembangkan sebuah jaring sutra tembus pandang dalam sebuah kalimat prosedur worker. Kerja yang disiplin untuk pencapaian target .Kalau kita melihat proses berlangsungnya kerja buruh pabrik, memang pas perlakuan konteks di atas. Akankah itu terjadi pada proses pelayanan jasa pada sebuah apotek? Silly question deserves silly answer. Atau Recipe, istilah bahasa farmasi latin seorang dokter menulis resep buat penebusan obat di apotek: ambil dan siapkan. Sebuah icons pencapaian target. Kewajiban sebuah pencapaian pada garis di tingkat aman perusahaan terhadap produktivitas tenaga kerjanya. Produktifitas yang mengabaikan kreatifitas untuk ukuran workaholic.
Sasaran vital dalam perusahaan pada akhirnya adalah laba. Pencapaian sebuah target yang harus dibumbui oleh efisiensi dan efektifitas.Kinerja yang baik pada totalitas setiap kompleks permasalahan sehingga tanpa disadari harus tercapai kerjasama yang baik , telah dibangun suatu komunikasi antara manajer dan bawahan dalam sebuah disiplin kerja yang baik. Dan manakala itu bermuara pada trepalium akan menjadi penghambat komunikasi dan kreatifitas karyawan. Komunikasi seorang atasan yang kurang kondusif terhadap bawahan akan memberikan signal lumpuhnya produktifitas karyawan. Gejala awal kreatifitas yang mandul yang menggiring pada laba yang tak tercapai. Menggiring pada laba yang tak menentu serta menggiring aktifitas kerja sebagai pekerja yang semau-maunya.
Pertanyaannya adalah bagaimana produktifitas tanpa mengabaikan kreatifitas pada sebuah apotek suatu unit layanan dari hulu ke hilir untuk meningkatkan laba sebuah apotek? Apakah hanya cukup dibangun oleh sebuah komunikasi yang baik saja antara manajer dan bawahan. Kalau ini dikatakan sebuah jawaban bahwa komunikasi yang baik mampu meningkatkan kinerja, tentunya akan dapat mengembangkan sebuah kemajuan dari tingkat rendah sampai tingkat atas untuk kemajuan apotek itu sendiri, akan jadinya seorang worker tangguh produktifitas yang penuh kreatif dalam meningkatkan laba apotek.
Workhaholic pada perusahaan kita seperti Kimia Farma ini adalah mensejajarkan antara produktifitas dan kreatifitas untuk pencapaian kerja. Untuk pencapaian sebuah kinerja yang unggul tentunya.

Rabu, 17 Februari 2010

WAYANG DALAM BENANG MERAH KONTEMPORER

Menyaksikan pertunjukan wayang memang sangat menyenangkan. Terutama sekali bagi mereka yang mempunyai kecenderungan terhadap salah satu tokoh favoritnya. Seorang anak tanggung yang diajak menonton wayang oleh kakeknya suatu ketika di malam tilem pada saat bulan mati , bersorak gembira ketika menyaksikan tokoh kebanggaannya . Bima menang tanding melawan raksasa musuhnya. Kadangkala menggejala ikut larut memerankan tokoh pujaannya. Di kehidupan realita dan di luar teks naskah yang dimainkan, jadilah ia si anak kecil dari image sang dalang dalam wujud rupa Bima yang selalu bermain seru dengan kawan-kawan sebayanya. ”Bima itu kuat, ia tak terkalahkan. Akulah Bima,” ia akan menjadi Bima diantara kawan-kawannya. Dan ia tak mau terkalahkan dari pikiran yang membelenggu diri si anak dan ia harus mengalahkan kawan-kawan sepermainan dalam adu jotos. ”Aku harus menang karena aku Bima,” pikirnya. Pada akhirnya lahir Bima si-anak tanggung dari imajinasi (fantasi dari yang ditonton) yang terbawa secara tidak sadar ke alam nyata, dalam ruang lingkup sehari-hari.
Lumrah kiranya menyaksikan pertunjukan wayang di negeri sendiri sebagai ibarat kesenangan yang telah menjamur di hati setiap penggemar wayang. Katakanlah suatu upaya pendekatan terhadap alam budaya sendiri. Semuanya itu dapat diterima sebagai rasa penyampaian kebudayaan abstrak di mata penonton sebagai bentuk komunikasi yang mudah dicerna, terutama sekali pada unsur-unsur tertentu. Karena banyak kita lihat pesan-pesan penting yang sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari. Yang dimaksud tentunya sebagai bahasa penerjemah (sanskerta) yang dibahasakan dalam bentuk keseharian yang mudah dimengerti. Selebihnya merupakan bahasa kawi sebagai bahasa yang dimiliki oleh sang pengarang/dalang itu sendiri dalam ungkapan yang diterjemahkan sebagai penyambung rasa buat penonton. Yang memegang peranan penting disini adalah seniman itu sendiri, seniman yang membawa misi, memberikan muatan/pesan-pesan penting yang menggugah, membentuk lakon-lakon yang konyol, ungkapan pesan mengandung unsur filsafat, kesusastraan yang diselingi humor-humor jenaka. Disebutkan sebuah seni dengan pertunjukan bersifat sosio-kultural yang begitu mudah tergambar dalam kehidupan masyarakat banyak
Barangkali nanti akan muncul pertanyaan, bagaimanakah sebuah pertunjukan wayang kita di mata dunia, dan bagaimana pula kalau sebuah pertunjukan wayang dimainkan oleh orang seberang? Sekiranya kalau dapat dikomentari, patutlah buat berbangga hati dan sedikit tepuk dada.
Mark Hoffman punya potensi tersendiri dalam bidang seni satu ini. Ia seolah-olah dalang itu yang bermain-main di atas grafik kesadaran, berkesenian atas adaptasinya dari kalimat-kalimat dalam bharatayuda maupun Pandawa papa terkadang bermain dalam lidah mahabharata, sebuah legenda besar tanah India. Mark Hoffman punya lidah dan cara sendiri untuk memadukan istilah yang ada dalam tokoh-tokoh itu sendiri. Arjuna baginya tak ubahnya sebagai bhagawan Ciptoning dalam proporsi kekayon gandanya. Permainan ini pernah ia tunjukan pada media elektronik nasional sekitar tahun 1986 yang pada waktu itu masih sedikit televisi swasta merambah Indonesia. Yang hidup dalam diri Mark Hoffman adalah kemampuannya mengambil peranan dan demikian fasih seperti dalang-dalang kita sendiri. Kita juga dapat melihat bagaimana Rendra dan Putu Wijaya ditinjau dari sudut dunia kita sendiri dan selanjutnya berusaha untuk melihat Dunia teatral Rendra atau Putu Wijaya dari sisi lain dari pengamatan panggung luar.
Bagaimana kalau di negeri Yunani sendiri misalnya menyaksikan seninya Oidipus Sang Raja atau Antigone karya Sophokles dimainkan orang seberang, dan itu ternyata muncul di negeri kita sendiri sebagai sebuah pertukaran budaya. Rendra telah bermain untuk Indonesia dengan meminjam Shophokles. Begitulah missi Mark Hoffman bermain sendiri dengan meminjam Mahabharata, Baharatayudha dan Pandawa papa. Ia semampunya berusaha melidahkan seninya dengan pertunjukkan wayang. Unsur tokoh-tokoh telah jauh lari dari ide pewayangan. Dapat saja diterima dan kita sebut sebagai suatu bentuk pengukuhan sebuah wayang yang bersifat kontemporer.
Diingatkan kita akan sebuah kisah Arjuna Mencari Cinta berseri yang ditulis pengarang kita, Yudhistira ANM Massardi. Kontemporer yang khas terlihat pada tokoh-tokoh yang berlawanan dihidupkan dalam suatu kesamaan yang tepat. Pengarang menyuguhkan suatu kehidupan yang dibuai jaringan teknologi dan jaringan magis dari suatu kawasan daerah yang berbeda. Misalnya diambil sebuah negeri Jepang dengan menambal sebuah ortodok nilai-nilai yang dianut sistim pewayangan dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Dalam kenyataan zaman modern, wujud Arjuna itu tidak ada. Yang hidup adalah buah pikiran yang terbawa dari wahyu pertama yang mengalir kepada para pengawi. Dengan isi-isi yang telah diterjemahkan oleh pengawi wayang itu sendiri menjadi hidup dalam pertunjukkan dengan menekankan segi moral, petuah-petuah tentang hidup.
Yudhistira ANM Massardi telah mengambil suatu model khas yang tidak tiba-tiba kita lihat. Arjuna dihidupkan dalam segi budaya yang hidup di negeri Jepang (dalam: Arjuna Wiwahaha). Melihat tokoh-tokoh seperti; jenderal Tojo Heideki dengan menjalin pada sebuah kepercayaan tentang Dewi Matahari: amaterasu-Omikami, Ratu Kobe, Musashi dan sedikit kehidupan media seperti koran Yumiuri Shimbun yang sangat terkenal itu.
Sebagaimana yang ditulis Massardi atau kisah yang ditayangkan Mark Hoffman itu sendiri, semuanya menjadi serba sama. Atau seperti kita melihat jalinan dalam satu cerita Anak Bajang Menggiring Angin atau kisah Semar dalam novel yang ditulis Putu Wijaya, merupakan pesan-pesan berarti yang tersembunyi di balik semua itu dengan sedikit kejelian mata melihat.
Pengarang atau pelaku dalang yang berangkat dari intelektual yang sama dengan pemahaman bhagawadgita mengintepretasikan (pada sisi untuk memudahkan pembaca / penonton menyerap dalam mencari waktu yang senggang menikmati moodnya) akan lebih melangkah pada sebuah wujud pemahaman seni kontemporer. Dalam dua budaya yang mengandung nilai seni yang berbeda akan dibuatkan sebuah wujud penciptaan kata sepadan dengan style pengembangan problemasi yang intens dalam keseharian. Eksistensi budaya itu pada akhirnya mencari nalar sendiri terhadap berbagai ragam yang bermuara pada budaya mutualistik dengan narasi kontemporer sebuah seni. Dapat dikatakan satu penggalian budaya kontemporer neoklasis untuk menghadirkan eksistensi sang tokoh. Dengan demikian narasi yang dibangun dalam kekuatan naskah tanpa perlu pengembangan tokoh baru lagi.
Benarlah pewayangan menjadi sesuatu yang kuat dengan meminjam salah satu atau beberapa tokoh yang berkaitan dalam sebuah cerita yang akan dibangun dalam wadah seni kontemporer. Dengan meminjam tokoh seperti Bima, Arjuna, Srikandi ataupun Sekuni, sebuah cerita akan menjadi jelas bertutur dan bertegur sapa dengan pembaca. Pengarang tinggal mengembangkan mood dan perjalanan pesan yang ingin disampaikan, tanpa perlu harus menjelaskan karakter dan bahasa jasmani sang tokoh.. Dengan demikian kalau dikatakan tokoh dalam cerita pewayangan yang dibangun dalam bentuk seni kontemporer lebih tepat kalau dikatakan sebagai sebuah pengakraban pragmatis sebagai sebuah hidangan tanpa cacat cela yang gampang dicerna dalam pemikiran pembaca/penonton sekarang. (DG.Kumarsana)

Cerpen : ' W A H '

SETIAP dia pulang dari daerah rantau selalu aku disuguhkan cerita-cerita yang hebat tentang dirinya, tentang sesuatu yang dilakukan dan sulit di lakukan oleh beberapa orang di kampung, khususnya diriku untuk ukuran dirinya. Aku tahu dia memang hebat. Sembari mengisap rokok kali ini dia datang ke kamarku yang pengap penuh puntung-puntung rokok di asbak dan beberapa cangkir kosong bekas kopi dari beberapa kawan kampung yang biasa dolan ke kamar. Mulutnya tanpa diminta langsung nyeroscos.
“Rasanya aku telah membuat sejarah baru dalam hidupku. Sesuatu hal kecil yang ternyata mendatangkan hikmah bagi seluruh masyarakat di perkampungan sana. Aku dengar itu.”
“Semuanya?”
“Ya, semuanya. Bahkan apa kelemahan-kelemahan dari mereka yang terucap aku bisa memberikan penilaian.Ini pula yang akan aku kembangkan disini, di kampung kita. Yah, agar mengurangi tingkat pengangguran yang makin tinggi. Ingin aku berkiprah disini, di kampung kita, agar tidak kalah dengan kampung tetangga. Aku mau kampung kita ini maju, tidak ada pengangguran lagi”
Aku mendehem halus.
”Kamu tidak percaya itu?” tanyanya tersinggung.
Aku menghentikan jari-jari tangan yang sedari tadi menari-nari di atas keyoard. Kuhirup segelas kopi. Memang terasa kopi. Rasanya ingin juga mendengarkan pengalamannya setelah selama ini telingaku terkunci oleh ceritanya yang menarik. Kuambil sebatang rokok, menyalakan pelan. Pelan sekali di bawah tatapan matanya. Aku melihat tatapannya persis seperti tatapan setahun yang lalu saat di kampung ada penjagaan hari raya Nyepi. Karena nyala rokok ini membuat diriku bertemperamen puncak.
Dia tidak tahu itu. Justru kedatangannya mendatangkan cemohan yang sangat tidak bertanggung jawab mengenai diriku.
“he..he…. ternyata kamu menyamakan dirimu sendiri seperti boneka-boneka kemarin yang diarak menuju pembakaran,” dia memulai.
”Agaknya kamu lebih tahu itu,” jawabku tak acuh sambil tetap memandang papan catur yang terhampar di depan. Dalam ketenangan aku merangsak. Bahkan mengambil ancang-ancang buat menjatuhkan posisi lawan.
Dia datang mendekat. Kutahu maksudnya.
”Tahu memang. Dia yang serakah kamu usir dari keserakahan lewat segala macam tetabuhan dan api, tapi kamu seenaknya menggunakan alasan tersebut untuk menikmati kesukaanmu. Kau padamkan api buat pribadimu...”
Aku panas. Kemana arah kata-katanya sudah dapat aku raba. Aku memandang. Dia balas memandang. Aku nyengir setengah masam, dia balas nyengir. Aku kernyitkan alis, diapun melakukan hal yang sama. Lama-lama aku jadi jengkel Kumatikan rokok sambil mematahkan satu persatu rokok dalam bungkus yang belum terisap. Satu persatu di bawah tatapan matanya yang nanar.Kupikir dia akan kaget atau salut dan akan melongo dengan wajah berlagak pilon. Kupikir dia akan segan atau takut dengan wajah pucat pasi dan mata terbelalak ngeri.
Aku beranjak dari pos penjagaan. Beranjak dari sebuah pukulan telak yang menjatuhkan diriku. Permainan kuhentikan. Sebab aku merasa kalah. Kekalahan semakin jelas setelah kudengar dari cerita-cerita teman sekampung bahwa dia tetap bertahan semalam suntuk dari nyala rokok, nyala api di tubuhnya, dari segala keinginan-keinginan untuk makan dan minum.
Di rumah aku ceritakan pada pacarku, bagaimana emosinya aku dalam kekalahan itu.
”Rasanya aku mengenal dia, memang dia demikian adanya,” aku melongo mendengar komentar pacarku. Lho kok malah jadi sebaliknya? Bukannya aku dibela dan ikut-ikutan membenci dia atau memberi dukungan moril bahwa kekalahanku harus dialihkan dengan hal-hal lain yang tidak mematahkan semangat. Eh, ini malah sebaliknya.Naskah puisi yang tengah aku persiapkan aku buang jauh-jauh. Naskah-naskah yang lain aku remas dan aku buang ke tong sampah. Aku jadi minder. Aku jadi rendah hati dan sebentar lagi aku akan jadi orang sakit hati. Karena orang yang aku cintai dalam hidup ini sudah tidak mempercayai aku lagi. Ah, jangan-jangan dia akan menjadi benci kalau aku ini seorang seniman. Jangan-jangan aku malah jadi penghuni rumah sakit gila, seperti Erik temanku yang over dosis atau seperti Amang teman seperjuangan dalam satu inspirasi yang bolak-balik dikejar-kejar petugas karena sering mengganggu keamanan etika dan ketertiban umum dengan telanjang bulat membaca sajak di jalan raya.. Ah, aku tidak mau seperti itu. Janganlah sampai separah itu.
”Jangan terlalu melankolis-lah, honey. Ini kenyataan hidup” pacarku membelai wajahku, seolah-olah menyadarkan aku .
”Hidup ini absurd, Ning,:” aku menasehati pacarku. ”Hidup ini kata-kata, Sebuah kalimat yang terjalin indah dan tiap suku kata demi suku kata kita dapat jadikan angin. Kita hidupkan indera kita dengan perasaan yang dalam. Bisa kamu bayangkan berapa banyak orang menjadi bengis karena melupakan kata-kata yang indah. Berapa banyak manusia jadi sadis karena memperkosa kosa-kata yang beradab itu. Dan berapa banyak pembunuhan karena tidak tahu cara bertutur kata. Janganlah semua menjadi dia! Aku tidak setuju itu.” Aku berkata demikian seolah-olah aku ingin membaca hidup, membuka absurditas hidup. Atau aku seolah-oalh ingin membaca pikirannya. Aku lebih setuju dengan feeling sendiri bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya saat kedatngan kawanku dari rantau itu, itu berarti aku lebih yakin bahwa cinta sejati tidak ada di dunia ini. Cinta sejati itu hanya ada dalam cerita pewayangan. Cerita sejati hanya ada dalam komik, dalam novel.
”Iya, tapi hidup ini harus kita jalani. Hidup ini tetap berjalan dan kita harus tetap makan. Bukan hanya pengertian aja yang kita tanamkan. Bukan hanya kata-kata saja yang kita makan dan bukan hanya omong kosong aja tentang puisi yang kita makan. Kita tidak bisa menjalani hidup cukup hanya dengan budi pekerti saja. Hidup dengan cerita-cerita saja. Kita tidak hidup dengan naskah saja. Hidup itu butuh uang..Aku perjelas lagi: : aku butuh gincu. Aku ingin tampil cantik, memukau dan penuh percaya diri”
”Tapi bagaimana dengan komitmen. Kita harus menjalani....”
”Bukan! Itu pemimpi,” pacarku Ning memotong ucapanku. Aku tercenung dan tidak melanjutkan lagi.Aku jadi memakan komitmen itu sendiri dengan pil pahit. Pil penawar penyakit TBC, atau pil jenis lain semacam penawar malaria yang dikunyah mentah-mentah. Aku jadi teringat teman-temanku. Semuanya sudah jadi orang. Sudah mapan bahkan sudah punya masa depan yang pasti.Ada yang sudah mengembangkan perusahaan, ada yang ke luar negeri , pulang-pulang sukses jadi tenaga TKW dan buka warung makan, buka warung telpon, buka warung pulsa Sudah mampu memenuhi kehidupannya.Apakah sorang penyair tidak punya masa depan? Apakah seorang seniman seperti aku tidak punya masa depan? Aku disini masih bertahan dengan rangkaian kalimat. Dengan kata-kata yang hanpir setiap malam aku susun menjadi sepetak sawah, menjadi bulan, menjadi bintang-bintang di langit, menjadi daun yang bergoyang. Aku jual kata-kata itu ke pasar, aku tawarkan produknya, aku kemas jadi makanan, jadi minuman jadi lembaran ticket, lalu aku berdiri di atas mimbar dan membacanya keras-keras. Lalu aku dibayar....ya aku dibayar. Ya aku menghasilkan. Aku bisa beli buku, bisa jalan-jalan. Bukan, aku menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Aku berubah jadi mesin kata-kata. Tapi aku bukan pemimpi. Karena mimpi yang benar adalah bagaimana mewujudkan khayalan itu sehingga menjadi barang dagangan, dan yang pasti impianku selalu ditunggu.Impianku selalu terwujud Apa yang akan kamu tulis? Demikian orang-orang yang mengenalku akan berucap.Dan aku pasti dibayar. Itu berarti aku bukan sampah. Bukan sesuatu yang yang harus dibenci.
Ataukah pacarku benci aku seniman? Aku seorang penyair yang membaca kata-kata dengan keras? Membaca sajak-sajak? Membaca roh yang setiap malam mengukir kata-kata di atas meja?
”Ning, kamu tidak usah khawatir dengan kehidupanmu kelak. Penyair yang miskin seperti aku cukup banyak, kalau kamu masih mencintai kehidupan ataupun seperti kehidupan kawan lamaku itu yang pulang dari tanah rantau dengan ceitanya yang hebat dan segala keberhasilannya di daerah lain, maka saranku: belajarlah merantau dan susuri masa depanmu. Mungkin di daerah lain kehidupanmu akan berubah. Minimal tidak harus bergaul dengan seorang pemimpi seperti aku.. Kalau seandainya masa depanmu suram karena nantinya harus hidup denganku, barangkali bisa kamu pertimbangkan. Karena secara logika tidak mungkinlah orang seperti aku bisa kaya, hidup mewah dengan harta berlimpah hanya dari hasil merangkai kata-kata saja” Aku akhirnya memutuskan berbicara sambil berharap dia akan pergi dari kehidupanku. Toh, kehidupan seorang teman dari rantau dengan ceritanya yang hebat berbekal dengan berbagai proses sengit yang datang-datang membawa cerita sukses di kampung. Tanpa harus menghakimi kehidupanku karena aku dari dulu tetap mencintai duniaku yang sederhana. Bukan apa-apa, karena aku memang malas merantau.
”Kamu mau jadi TKW Ning?”
”Ndak!”
”Kamu mau jadi dokter?”
”Ndak!”
”Kamu mau jadi pengacara?”
”Ndak!”
”Kamu mau jadi bintang sinetron? Jadi peramal? Jadi Pramugari? Jadi....”
”Ndak! Ndak, Ndaaaaaaaak!!!”
”lantas kamu mau jadi apa kalau mau pergi merantau?”
Dia hanya melengos pergi. Aku tidak mendapat jawaban yang pasti.
Setelah itu , setelah beberapa hari percakapan yang cukup sengit ,di kampung ini aku tidak melihat temanku yang pulang dari tanah rantau. Setelah itu aku tidak melihat pacarku ”Ning” lagi.Aku tidak melihat bayangan mereka. Pelan-pelan aku ingin melupakan mereka.
Beberapa bulan kemudian aku membaca sebuah harian berita kota, seseorang yang mengaku ibu muda, tepatnya seorang gadis berinitial ”N” kedapatan membuang jabang bayinya dalam got. Selang beberapa hari dari berita di Koran Ning muncul di kampung dengan bergincu tebal dan bekaca mata hitam lagi dikerumuni para gadis di kampung tengah asyik menceritakan pengalamannya di rantau.

Selasa, 16 Februari 2010

KUHARAP ANAK ( LAGI )


Anakku pertama lahir, hidung tertekan :
Pesek!
Anakku kedua lahir, perut mengembang :
Gembul!
Anakku ketiga lahir, mata tenggelam :
Sipit!

Begitulah menanam padi bak benih yang terlahir pada rahim yang sama
Berharap kesempurnaan dari istri tak berbeda sejauh janin yang kujanjikan
Aku bermimpi Pandawa hanya menunggu penutupan dari bait kisah sang rupawan.
Jangan Yudisthira! Mata dadunya selalu sial hingga terlunta-lunta di rimba pengasingan
Jangan Bima ! nanti malah ibunya di sangkol
Jangan Arjuna! Bah, bisa-bisa aku’kan jatuh cinta pada menantuku.

Bagaimana kalau kembaran sang Nakula-Sahadewa?
Kebat-kebit aku menunggu di depan ruang persalinan dengan menggambar wajahnya
Rupawan pada sang pembungkus ari-ari
Yang siap-siap terkubur di halaman depan pintu rumah
(di sebelah kirikah? Atau kanan?)
Jangan di tengah-tengah : itu tempatnya Korawa

Sudah pecahkah ketuban ibunya?
Wow… harap-harap cemas antara kecemasan kolaborasi: Pesek dan gembul dan sipit!!
Dan…………..

Senin, 15 Februari 2010

CAMAR RESAH V


Dan apabila waktu mengusir penat
sangsi gemetar kian menyisih

Langit, sebelum dirajah purnama
camar tiba duka
menangis runtuhan airmata
sebatas kelepak musim
berbulan bulan hitungan hingga lelah
kenyal diri
melabuhkan mimpi
mengajari nuju istirah
penghabisan

Langit, setengah berbingkai
tak berkeping warna
entah camar berbekal asmara
hinggap di ranting tua
menyudut angin dalam dada resah
menanti jawab