Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Rabu, 03 Februari 2010

SaJAk : CAMAR KERINDUAN I

Masih barangkali kerlip bintang
merajah tanda tanda gelombang
di bola matamu kelam
punya makna
di atas dangkal lautku
bermuara hati

tentang sebuah mata membuka kata
berpasang pasang
di saat kelopak mata menebarkan makna

kupetik waktu dari hitungan bintang
kuburu bulan yang senantiasa
membentang di matamu
senantiasa pula pilah waktu memahat
kesunyian yang kau sembunyikan
di atas kesunyian langitku

Selasa, 02 Februari 2010

SaJaK : CAMAR DUKA KESEKIAN

Ceritanya yang bawa di kehujanan
betapa kantukmu yang pudarkan
kasih, kerinduan ini kian basah dalam penantian
camar kian jauh menepi dari pusaran
kabut berbaur kabur hatimu
tidak karena jenuh wahai bayang bayang duka
camar lunglai kepak sayapnya satu satu
letih menanti pada ranting yang retak
seberangkan duka warna warna
mimpi kesekian pada bilik malam yang berbeda

Camar betapalah camar luka
hati lara menyemat kalung dalam wajah yang suram
sebait kata hati dalam kebimbangan
karena rasa memburu tanya
tak sampai hatimu jatuh menerpa tubuhku
tak pernah sampai

SAJAK PERCINTAAN

Camar punah terbakar percintaan
seperti kusaksikan pohon pohon
lengketan basah
karena berembun penuh cahaya
yang beterbangan membidik matahari
buram dan kabur

Angin mendesis lirih
menjala manakala dia tengadah
di perapian yang purba
sampai lupa kutanggalkan
helai demi helai
ranjang demi ranjang
yang sendirian bermimpi

Kubakar percintaan, menjasad
punahlah mimpi kian menjarak benderang


Camar ya camar.......!?
punahlah terbakar percintaan
abu kerinduan
bermusim musim

Catatan selepas urun rembug SPKF NTB: BEKERJA DI KF SEBAGAI BATU LONCATAN


Apa benar demikian? Tulisan ini berangkat dari beberapa kali terjadinya penyaringan test CPNS yang diikuti hampir sebagian besar para calon-calon pencari kerja yang rata-rata umumnya datangnya dari anak-anak baru lulus sekolah, anak-anak yang lama menunggu kesempatan untuk mencari status kerja yang pasti juga anak-anak kita di Kimia Farma NTB yang belum jelas status kepegawaiannya antara menunggu kepastian sebagai pegawai tetap (PT) atau berpeluang hanya sampai pada pegawai tidak tetap (PTT) seumur masa kerja total ( sampai pensiun)
Peluang untuk memperbaiki taraf hidup atau katakanlah ada peluang untuk memperjelas status atau singkatnya bekerja sebagai seorang pegawai negeri ada punya gengsi tersendiri. Gengsi berseragam bak guru oemar bakri berjiwa sysiphus. Untuk memburu status dan gaji yang lebih baik. Mengapa tidak? Kalau usia dan kecerdasan masih mampu untuk bersaing mengapa disia-siakan datangnya peluang? Bisa sebagai ajang untung-untungan, ajang coba-coba atau juga ajang semacam move halus untuk membuktikan : Ini lho lapangan kerja lain masih membutuhkan saya, tidak hanya menunggu kepastian di satu tempat.(misalnya sampai tua di KF dengan status calon pegawai belum pasti status kepegawaiannya)
Untuk tahun ini saja (test CPNS NTB) hampir ratusan orang lulus dan yang perlu dicatat 5 orang diantaranya adalah justru tenaga-tenaga Asisten Apoteker yang sudah cukup handal bekerja di Kimia Farma NTB. Tahun ini yang berhasil lulus terdiri dari 4 orang tenaga AA wilayah kerja outlet KF Mataram serta 1 orang rekan dari KF Asy-Syifa Bima. Itu berarti untuk bulan berikutnya sudah terjadi pengurangan tenaga yang kalau dihadapkan pada pilihan, mereka jelas-jelas akan memilih sebagai pegawai negeri dengan status jelas masa depannya lebih jelas ketimbang harus bekerja di Kimia Farma dengan ketentuan nasib serta status belum pasti.
Apakah akan terjadi Opini yang beredar diantara sesama karyawan bahwa bekerja di KF hanyalah sebagai “batu loncatan” untuk selanjutnya sambil menunggu kepastian lewat uji coba-coba sebuah peruntungan nasib di institusi lain. Hal ini jelas akan membuat kelabakan SDM KF sendiri karena dengan demikian akan disibukkan kembali oleh berbagai urusan pelatihan buat calon tenaga tenaga baru yang tentunya akan merusak data base kepegawaian, harus menggodok ulang tenaga baru yang perlu mencurahkan pikiran, tenaga dan waktu yang hasilnya juga belum tentu terampil sedemikian prima sebagaimana tenaga-tenaga handal yang telah mengundurkan diri. Manakala terjadi kekurangan tenaga, pengurangan karena sudah berubah status sebagai PNS, maka salah satu ide tepat mengingat mereka rata-rata tenaga kerja yang paham betul mengenai seluk beluk di Kimia Farma selama pernah mengabdi di perusahaan ini, adalah memanfaatkan sistim ”berbagi kerja” dengan memberlakukan jam kerja paruh waktu sebagai tenaga part-timer. Itu bisa terjadi kalau mereka masih berkeinginan tetap memiliki loyalitas pada ladang lama sepetak tanaman kacang yang saat berbuah tidak melupakan tanahnya yang pernah gembur. (baca: seandainya kacang tidak lupa akan kulitnya). Barangkali inilah kata-kata mutiara yang indah buat Kimia Farma. Mereka yang masih belum jelas statusnya bekerja di KF akan bertanya, benarkah bekerja di KF menjanjikan masa depan yang baik ataukah saya akan mengikuti jejak rekan-rekan yang rame rame berebutan memburu ticket ke jalur PNS?
Katakanlah dari 10 orang yang mengikuti test 5 orang yang lulus. Dari kehilangan 5 orang tenaga yang handal dan sudah demikian terampil dalam menghadapi pekerjaan otomatis nanti pada periode berikutnya (entah tahun depan atau 2 tahun kedepan, apabila standar usia masih memungkinkan dalam mengikuti persyaratan test) masih akan berlaku bagi mereka yang belum memperoleh keberuntungan untuk mencoba lagi meraih peluang yang tersisa. Mencoba lagi dan mencoba terus! Sementara waktu karena belum lulus test CPNS, biarlah bertahan dulu di Kimia Farma, kurang lebih demikian komentar dari tenaga-tenaga yang belum berhasil. Dan Kimia Farma harus berkemas lagi untuk mempersiapkan diri membuka iklan mencari tenaga kerja baru menunggu datangnya surat lamaran sebagai kompensasi tenaga yang telah keluar. Akankah kita disibukan dengan melatih tenaga yang baru, menyediakan waktu dalam test psikologi berbagai uji kejujuran dan uji ketepatan cara kerja para calon pengganti sekaligus uji mental out-bond atau tanpa repot-repot cukup menjadikan mereka sebagai tenaga part-timer ataukah ada upaya-upaya lain dari SDM KF dengan mempercepat status kepegawaian mereka?
Adalah wadah yang tepat dalam membuka akses komunikasi lewat SPKF. Segala uneg-uneg dan saran silahkan disampaikan, demikian antara lain pembuka kalimat yang pernah dikemukakan Drs. Suhud Haridjono selaku manager Bisnis Manager Mataram. Hanya saja sekarang adakah keberanian karyawan untuk mengemukakan keluh-kesah lewat jalur media ini. Seandainyapun ada keberanian apakah tidak menimbulkan implikasi ”buruk” bagi kelangsungan kerja karyawan yang bersangkutan. Karena ada beredar kabar dari pihak personalia BM Mataram Ali Akbar, SH baru-baru ini bahwa kalau setiap karyawan yang punya keinginan untuk mengikuti test CPNS harap lapor dan segera mengajukan surat pengunduran diri dari Kimia Farma. Sangat mustahil harus menerapkan aturan demikian kalau seandainya surat pengunduran diri telah ditanda tangani manager, ternyata karyawan (yang rata-rata mengikuti test masih berstatus tenaga kontrak) saat pengumuman test CPNS tidak lulus. Seandainyapun itu merupakan peraturan Kimia Farma akan menjadi PR yang sangat dilematis bagi SDM-KF. Apakah akan terjadi tenaga-tenaga SDM yang bersifat siluman nantinya? Ataukah harus ditelusuri terlebih dahulu minat kerja yang benar-benar loyalitas berprinsip pada sense of belonging selama bekerja di Kimia Farma untuk meneruskan jenjang status sebagai pegawai tetap.
Saat penulis hubungi Drs. Suhud Hardjono di ruang kerjanya, beliau membantah bentuk-bentuk pelarangan terhadap tenaga yang akan mengikuti test CPNS. ” Itu hak mereka, jangan dihalangi. Mereka ingin mencari pekerjaan yang lebih baik selain di Kimia Farma. Hanya konsekuensinya setelah lulus CPNS mereka memang sebaiknya mengundurkan diri. Tidak mungkin kita memberikan tanggung jawab pekerjaan serta hal-hal yang menyangkut rahasia perusahaan yang tidak boleh diketahui pihak luar atau pesaing.”
Sangat beralasan juga apa yang menjadi statement personalia BM Mataram, Ali Akbar SH, yang mengemuka justru akan memberikan kesulitan di pihak perusahaan terhadap tenaga-tenaga yang telah terampil pada akhirnya sebagai PNS mereka akan memilih satu pijakan baru selain di Kimia Farma. Dan pada akhirnya Kimia Farma akan harus melatih tenaga baru lagi secara berulang-ulang setiap pergantian tahun musim-musim pembukaan pendaftaran test CPNS.
Demikian salah satu pembuka rencana kerja SPKF yang pada akhir desember 2008 baru-baru ini saat mengadakan sharing bertempat di KF 189 Sriwijaya. Pengurus-pengurus baru yang berkemas membuat ajang urun rembug seputar masalah-masalah yang menyangkut kepegawaian plus dilema yang terjadi terhadap manajemen KF. Dengan harapan tidak menyimpang yang mengesankan selalu berseberangan ide dan pelaksanaan Kita tunggu kiprahnya yang penuh nuansa inovatif tentunya. Selamat bekerja.(DG.Kumarsana)

Catatan: tulisan yang telah dibuat setahun yl pernah saya kirimkan ke gema Kaef , dengan tanpa ada maksud membuat tersinggung semua pihak yang berkepentingan, tulisan ini saya edarkan kembali khusus buat rekan-rekan sesama pekerja yang saya cintai sebagai bacaan hiburan di kala senggang. Khusus buat rekan-rekan generasi muda sebagai upaya untuk mengetahui untuk sebuah masa depan yang pasti kita mengarah pada pijakan yang mana?
Catatan tulisan tahun 2009 sebagai sebuah perbandingan yang akan sia-sia kalau tidak dibaca. Selamat membaca! Salam dari Bumi Gora Mataram. Bravo Kimia Farma

Senin, 01 Februari 2010

BERUNG

Bakat kenehang, krana metatu abedik cara bintilan. Bintul-bintul barak ane sing suud-suud bakat gesges dadine ngedenang lan merupa berung. Bengu sing kodag-kodag yan adekin. Besil dini-ditu. Blenget gati.
“Aruh....!! tiang ja suba kenjel ngarawat tatun tiange ene, apa ja dadine buin mani tiang sing nawang. Cutetne tiang sing ja nyak ngerunguang buin ” Luh Ayu ngemigmig sambilange nyebak. Pisaga ane nelokin pada jejeh. Makejang anake pada jejeh. Apa sing lakarang jenis tatu keto bisa ngalimbak wiadin ngranang gerubug di desa. Anake makejang pada ngrimikang.
Sabilang Luh Ayu liwat di aep pisagane ane pada mepunduh bruak-bruak ngorta, nadak makejang pada mendep sing ada pesu munyi sambilange nekep cunguh. Ngenah sajan ngewada. Saru apa ulian jejeh ngalimbak panyakitne ento, apa krana demen ugig jak timpal.
“Suud monto nyebak. Tusing pragat ulian nyebak dogen. Pareksaang awake malu ka dokter. Ngidih pengubadan lan resep apang tusing ngancan ngedenan, lamun dadi tagih ubade ane maal pang enggal seger” Ratih , timpalne puru di kantor ngorahin. Nyelag ngojok ka umahne.
”Suba. Suba!! Suba kaperiksa baan dokter. Doktere ngemaang ubad ane meranen tur maal gati. Delokin ja ditu,” Luh Ayu masaut sambilange nujuhin kaputan ubad uli klip plastik di duur mejane. Limane iteh kaskas-keskes.” Sabilang minggu tiang luas ka dokter, kewala tusing ada perubahan nyang abedik. Tiang tandruh apa sujatine sakit tiange ene? Ane sangat bakat kenehang buin yaning ubadin ngancan ngedenang tatune lan nyakitin sajan. Nyen Sujatine belog? Doktere apa panyakite. Asanang doktere mirip ane belog tusing ngidang ngebaang ubad penawar ane meranen. Mirib tusing ja ada ubad meranen jaman jani anggon ngubadin tatu cerik nganti dadi berung kakene” ia ngrumuk sambilanga misuhin doktere. Panyakitene padidi masih kena pisuh. Kadirasa blasak dogen kenehne. Receh sajan-sajan.

”O, ento madan korengan, Luh ” kadek Doglong mapi-mapi nedasang, kenehne suba ririh pisan krana ulian nlektekin panyakit jenis keto bisa tawang kenken kone kaidupan Luh Ayu dugase cerik yan demen maplalian di endute, wiadin maplalian di tukade ane bek misi luu muah tain jaran, konden buin tain ubuh-ubuhan ada ane ngenceh lan meju ditu, sing tawang masih di tukade ada bangken cicing kampih. Kadek Doglong nyatuang timpalne dugase cerik ane demen maplalian nyanyad patuh ja cara panyakitene Luh Ayu jani. Mula perlu seken-seken runguang! Sing dadi campahang sajan gejala-gejalane ane mara ngenah.Tusing ja maarti apa-apa, Bes ngenah campah, api ja berud abedik, sakewala sanget ngranaang lek lan ngulgul tur likad nyemak gae sewai-wai di kantor. Kengken sing likad, sabilang ia ngomong ajaka relasi bisnisne kanti misi ngengkebang lima ane korengan. Makejang timpal-timpal lan relasi bisnisne di kantor mretenin. Ada ane teleb gati mretenin,kadirasa likad Luh ayu Kenken anake ngelah olas asih nepukin limane buka keto. Ngelek hati api ke nganggo baju ane melah lan maal-maal, lakar sing ja nyidang ngengkebin korengane.
” Ento madan berung .” bli Putu milu masih ngimbuhin nedasang.
”Nah, api ja koreng jawata berung apa kone bedane? Lakar kanti tua naanang sakit buka keto?” kadek Doglong nungkasin. Krana ento lakar ngusak bayun relasi-relasi bisnisne di kantor. Lamun ada anak muani ajak Ni Luh Ayu, kenken carane? Bli Putu nlektekin matane i kadek. Seken-seken!. Ngujang ia sangat ngerunguang sakitne Ni Luh Ayu? Ah, miribang I Kadek Doglong ada keneh ajake Ni Luh Ayu. Nganti kaketo carane mretenin. Tresna pisan abetne.
Anak muani ajake dadua ento pada mendep. Luh Ayu ngentas sambilanga nekepin map di limane ane ngenah berung. Ebo pengit ngebekin ruangan perkantorane.
“Suud ngomongang timpal,” bli Putu ngorahin Kadek Doglong. Ngenah sajan munyine misi ngelonin Ni Luh Ayu.Kenken sing padalem lamun nepukin Luh Ayu cara anak ruyud majalan sambilange tekol. Ngenah likad di paninggalane.
Sabilang peteng Ni Luh Ayu malik-malikang palet surat kabar ane suba makelo sing kabaca. Tuah iseng dogen nyen nawang ada pabligbagan abedik atawi resep manjur pang sing ja nganti tuyuh kemu-mai ka dokter kulit. Sujatine pabrik ubade ento mirib ia ”fiktif” indikasi-ne, keto kenehne ane majalan ”ekstrem”. Makejang ubade ane kawedar di pasaran, makejang ubade ane kaadep di apotek lan makejang jenis ramu-ramuan jamu ane kaadep di toko-toko ubad ia ngorang raos bogbog. Tusing ada meranen. Mogbog mengkeb-metapel di durin karirihan iklan dogen! Iklan ubad-ubadan pada pagedenang kamuat di surat kabar wiadin majalah-majalah sujatine ento ngedengang muan-muan anake luh jegeg-jegeg dogen, bentuk-bentuk batis ane luwung, sakewala sing ja nyak ngedengang kenken kone proses berlangsungne ngubadin panyakite uli mara kena kanti nyidang seger. Ah, uluk-uluk ento. Apang nyak anake meli barangne! Bes ngenah bogbogne! Bobab sajan! Ento madan ”penipuan publik”, ragragan “komoditi” ajak nak ngelah kebrebehan. “Komoditas konsumen” anake ane sayan gelem muah ja kapercaya, yadiastun ajine maal, ngemigmig sambilange gedeg Luh Ayu padidiane. Med sajan naenang berungne, memeka sing suud-suud ,mekelo-kelo ningalin ibane ngeranaang kenehne sebet. Nah, ne ia di palet kesehatan ada kone pabligbagan ubad penemuan baru panyakit diabetes, kenken carane ngae seger ane melah, aluh lan mudah nganggo buncis. Dadi anggon lakar jukut. Dadi masih ngae olah-olahan kacampur baan wortel abedik anggon nyegerang sakit mata. Ni Luh Ayu ngenggalang nelpun timpalne, ia menyet memekne I Neni enu nyakit diabetes. Suba ngantos stadium telu lan aminggu ane maluan “urgent” parintahe dokter bedah maang tindakan, abesik kacing batisne amputasi krana suba membusuk. Masisa tulang kabungkus baan kulit abedik. Biasane penyakit keto lamen ja suud operasi, lakaran makelo tuhne, asanan keweh uas. Tiban-tibanan bonyok ngancan menekang nuju matan batisne nganti ka paane. Jejeh lamun ngenehang dugas ninggalin I Neni sebet nyatuang kakewehan memekne. Ni Luh Ayu masih maan milu ngenemin dugase operasi memekne I Neni di arep kamare bedah minor rumah sakit umum. Keto luung abetne Luh Ayu enu masih inget kakewehan timpalne yadiastun ia patuh ngelah keweh. Ento madan ngedum keweh bareng-bareng. Milu masih bincuh nulungin timpal.
”Ada masih ane lebian parah sakitne katimbang tiang,” Ni Luh Ayu molmol sambilange ngolesin berungne baan salep lantas ngusap-usapin baan kapas cotton bud. Adan salepe nyzoral cream, doktere ngorahang ubad meranen, ubad “high class”. Apa kaden madan keto, Ane penting uas berunge.
Inget dugase belabar gede di desa, yehe menek tegeh kanti neked bangkiang ukuran anak kelih. Pada nyapnyap makejang. Yehe menek ka umahan. Makejang pada sepanan ngisidang lan bincuh ngajang isin perabot umah. Nyap-nyap tekening sekayane sowang-sowang. Tusing suba ngenehang apa dogen ane kampih di yehe ento. Luu , bangken kuluk nganti kompor lan makejang isin paone pada kampih. Gede pesan yehe apa buin warnane coklat macampur selem, apa kaden lakar sinah dadi sumber panyakit kulit, jalir, demam berdarah ulian legune lakar pada kemu-mai lan liu lakaran anake pada ngencit, ngutah mising. Pisaga makejang sambrag pada rarud. Blingsatan malaib kemu-mai paling. Konyangan paling. Sajan-sajan enteng kenehe.
Suba liwat abulan sagetang Ratih teka ka umahne Ni Luh Ayu nekedang gatra anyar sambilange ngelkel kedek.
”Apa ada gek?” Ni Luh Ayu ngaukin Ratih baan ”gek” ulian ja muane jegek sakadi artis sinetron kesayangan Luh Ayu ane sawai pabalih di televisine.
”Jani pisagane makejang luh-muani, teruna-bajang, cenik-kelih telah pada kaskas-keskes. Ada ane berung gede nganti bongkeng, ada masih ane bonyok.”
“Dadi keto?”
“Tinggalin ja I Galuh Bonjor jani nganti ka song jitne berung,” kaukine Galuh Bonjor ulian bungutne cara bungut bemo kewala demen ugig, nyadcad timpal.
“Dadi nawang ?”
“Tolih ja pesu makejang pada kaskas-keskes.!!”
”Apa ulian tiang?”
Ratih sing masaut, laut magedi ngalahin Luh Ayu bengong padidian.
Jani Pisagane di Desa makejang pada kena berung. Telah kas-kas kes-kes. Sabilang ngaliwat tepukin ada ane ngeskes lima,ngeskes batis,ngeskes jit sambilange memisuh. Misuhin belabar ane suba liwat. Ulian yeh bandange ene makejang dadi kakene. Panyuud blabar dadi mesuang gering agung. Padadine gerubug desane.
Jani ja suba pada suud anake makejang ngrimikang Luh Ayu. Sakewala jani makejang pada ngrimikang dewekne padidi. Ngenehang sakitne padidi. Jani ja suba pada suud makejang anake pada nekep cunguh sabilang nepukin Luh Ayu ngentas. Sakewala jani makejang pada nekep cunguh lan bungutne padidi. Ngenehang berungne padidi.
Ane sing suud-suud ngelkel kedek tuah ja I Ketut Aget, krana dugase blabar gede ento ia mula luung tongos umahne di duuran pisagane ane lenan. Tusing celepin yeh gede. Ngelkel sing suud mekadi nepukin timpalne liu pada kaskas-keskes sambilange nyelek jit. Mimih dewa ratu!! Pedalem pisan pisagan tiange. Tusing kaunduk baan nulungin krana sing pedas baan ubad-ubadan.

SUATU KETIKA , AYU

Suatu ketika, Ayu. Barangkali nanti akan aku tunjukan kamu seorang gadis impian, sosok seindah matamu yang akan memberikan keinginan-keinginan, kesan-kesan ataupun sikap untuk bersaing, menyaingi keberadaanmu atau bahkan dalam kehadirannya nanti mungkin dia akan bisa melebihi dirimu, ya, suatu ketika........” Bolang bicara pelan. Matanya memandang lurus dan jauh. Ayu, gadis yang duduk di sebelahnya berusaha bersikap tenang namun mendesah pelan sambil tetap memakan bakso kesukaannya. Mengunyah pelan-pelan lalu memandang Bolang trenyuh.
”Akan kupamerkan di depan matamu dan akan kuperlihatkan betapa aku masih punya harga di depan gadis-gadis lain, selain dirimu.”
Ayu mulai memandang dengan tatapan sengit. Tidak biasanya Bolang begini, pikirnya. Ingin ia berteriak, namin dia tahu semua itu tidak akan mendapat tanggapan serius dari laki-laki yang selama ini dikaguminya. Ia melihat bola mata pemuda di hadapannya begitu kosong dan pandangannya tidak lagi memberikan keteduhan yang berarti baginya. Sesungguhnya cara memandang dari pemuda itu saat ini sedikit menyakitkan perasaannya.
”Lalu akan kuperkenalkan kepada ayah dan ibumu, kepada adik-adikmu, kepada semua keluargamu, kepada siapa saja yang ada di rumahmu, bahkan juga kepada tetangga-tetanggamu....” masih tetap Bolang dengan bicaranya yang santai seolah-olah menganggap gadis di depannya hanya sepasang telinga yang tidak berarti, telinga yang mendengarkan suatu kebiasaan yang wajar dari omongan-omongannya, atau seperti santapan sebuah dendang irama lagu buat pendengar yang bersiap-siap untuk tidur memasuki alam mimpi atau barangkali tak ubahnya seperti kebiasaan-kebiasaan rutin yang menyuguhkan hidangan makan bersama dalam suatu keluarga yang ikhlas menyantap semua suguhan dengan tanpa takut-takut dan malu untuk sebuah kesan perut yang lapar.
Ayu menahan sebutir bakso yang sudah berada di sendoknya untuk siap dimasukkan ke dalam mulutnya, memandang pemuda itu lebih tajam seakan-akan tidak mempercayai semua kata-kata yang keluar dari mulut Bolang.
”kamu lagi berkelakar, Lang. Kamu lagi berkelakar ya? Kamu hanya main-main khan?” Ayu dalam kebiasaannya, dalam keakrabannya memanggil begitu saja nama pemuda itu, berusaha menutupi perasaannya yang kacau. “Itu kan hanya sebagian kecil dari cerita konyolmu yang tak pernah benar, karena sesungguhnya aku telah mengenal dirimu, kamu hanya mencari bahan pembicaraan lain karena aku tahu kamu suka bicara yang aneh-aneh.”
“Keliru besar, nona manis. Sangat keliru malah !” spontan Bolang menangkis ucapan itu sambil memegang gelas yang berisi kopi yang baginya terasa manis. Dia berhenti sejenak untuk meneguk dengan sepenuh perasaan. ”Kalau aku kekurangan bahan pembicaraan akan lebih baik untuk diam menahan bicara. Aku selalu menyukai kebiasaan-kebiasaan yang tak baik dan sayang sekali kamu menyukai orang seperti aku, dengan kata lain itu berarti kamu telah menyukai semua kebiasaanku. Semua ceritaku. Hanya patut disayangkan, semua ceritaku itu akhirnya akan menjadi tidak baik buatmu yang akhirnya juga akan berpengaruh besar terhadap nilai-nilai pelajaranmu di sekolah.”
”Tidak!”
”ah, kamu!!. Kemarin kulihat nilai pelajaran bahasa Indonesiamu merosot jauh. Apa buktinya itu,tidak ? Lagi-lagi tidak? Kenyataannya kalau kamu masih harus memerlukan latihan yang lebih serius lagi untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Tahu maksudku? Mendengarkan omongan-omongan yang baik dari seseorang, termasuk aku, akan memberikan nilai yang baik buat pelajaranmu di sekolah.”
”Tapi selama ini kan sudah. Sudah!!” Ayu menjadi sengit.
”Sudah memang, tapi kamu lebih senang mendengar cerita-cerita sosok pribadi yang bergelimangan jubah elite di sekitarmu, menurut nilai kehebatanmu sendiri. Padahal semuanya itu hanya pribadi yang nol besar. Apa itu? Sementara kamu tutup telinga buat omongan-omonganku, dengan mencari-cari alasan. Selalu saja kamu punya alasan tepat sampai akhirnya kamu kamu beralasan mematikan pembicaraanku dengan tadak mau tahu sejauh mana pengertianmu, pengertian yang kupupuk selama ini, pengertian orang yang bernama Bolang, sejauh mana?! Sejauh kebohongan-kebohongan yang tak mampu dan jelas terlihat di mataku? Dan kamu akan tetap memperlakukan aku sedemikian rendah?”
”Kamu ini bicara apa? Yang rendah siapa? Siapaaaa…..!!?” Ayu berteriak. Kedua tangannya yang putih menggoncang-goncangkan bahu Bolang. Bolang tetap diam. Pelayan rumah makan yang sedari tadi duduk pada jarak belasan meja yang kosong pengunjung masih mampu mendengar triakan Ayu, terbukti dari pandangan matanya yang mengandung keheranan, namun lebih baik baginya untuk mengerjakan tugasnya yang belum rampung. Masih ada beberapa orang yang dating. Kelenggangan meja makan yang tersedia disana belum mengisi kegaduhan yang diam-diam dilakukan Bolang maupun Ayu.
Bolang tetap Bolang, yang selalu acuh tak acuh, yang selalu memberikan peluang buat merah muka Ayu karena marah akan kata-katanya yang bagi gadis itu terasa demikian tajam dan sangat menusuk perasaan.
Bolang menyalakan rokok yang kesekian dan menyimpan batang korek api yang sudah tidak terpakai lagi diantara lepitan puntung-puntung rokok lain dalam dalam asbak sarat dengan abu rokoknya sendiri.Menyedot dan menghembuskan, membentuk lingkaran-lingkaran asap putih, bermain-main di atas kepala gadis itu.
“Kamu sedang mengigau, lang,” Ayu bicara pelan. Matanya mulai kabur. “ Apa yang sedang kamu bicarakan? Apa?”
Bolang menghirup kopi di atas meja. Tak begitu hirau, demikian tenangnya, sampai gadis itu tidak tahu bahwa dadanya bergetar melihat melihat mata bening yang berair membentuk pecahan-pecahan kaca. Dia agak lama diam, namun tidak terlalu lama bagi Ayu untuk menunggu jawaban itu.
”Sederhana sekali.”
”Sederhana bagimana?”
”Tentang Fajar.”
Ayu tersentak.
Bolang mengangguk lalu tersenyum.
”Ah, lagi-lagi kamu menyinggung hal itu. Bosan aku. Apa tidak ada cerita lain selain Fajar?Apa harus aku jelaskan lagi kalau dia itu saudaraku, seorang kakak yang mesti menjaga adiknya. Memperhatikan, melindungi. Dia itu saudaraku, Lang.”
”Aku tahu itu. Tidak usah kamu jelaskan lagi, aku sudah tahu. Dia memang saudaramu, dia kakakmu, seorang kakak yang baru kemarin kamu temukan dalam lingkaran hidupmu dan akan kamu katakan itu lagi tentang kakak yang sering datang ke rumahmu membawakan segala macam bingkisan yang berarti buatmu, seorang kakak yang sering menemani jalan-jalan, mengajak nonton bersama sampai harus mengikis habis hari-hariku disini, sampai harus aku katakan bahwa demikian sempit dan mulai tersisihnya aku dalam lingkaran hidupmu. Katakanlah bahwa tidak selalu pergi mesti ditemani pacar dan aku tidak perlu semua itu lagi.”
”Salahkah itu? Salahkah kalau seorang adik harus bepergian dengan kakaknya sendiri?”
”Tidak! Aku malah kagum akan nilai keakraban yang tercipta antara seorang kakak dan adik , namun sayang sekali kalau kamu lupakan, bahwa kamu masih punya satu mahluk lagi yang bernama Bolang.”
”Kamu salah, Lang. Justru aku selalu tetap memberikan kesempatan buat kehadiranmu yang terlalu pribadi sekali sifatnya bagiku yang tidak harus diketahui Fajar sekalipun.”
”Kamu berusaha berbohong lagi di hadapanku. Fajar sudah menjadi lain di hatimu. Fajar bukan lagi seorang kakak, sebaliknya malah secara sedikit demi sedikit Fajar telah menjadi pribadi yang sama kedudukannya denganku, yang bahkan pula akan mampu menggeser keadaanku dan itu mesti kamu akui. Jangan bohong!”
Ayu diam. Tak mampu bersuara lagi.
Bolang kembali menyedot rokoknya kuat-kuat. Matanya memperhatikan gadis di depannya. Ayu hanya menunduk, tidak menyentuh bakso kesukaannya yang terhidang di atas meja. Siaran dunia dalam berita yang ditayangkan TV di ruangan itu tidak menarik perhatian mereka. Lama tidak ada suara. Pemuda itu kian asyik dengan permainan asap rokoknya, sementara gadis itu tetap menunduk. Jari tangannya mempermainkan lap meja makan. Akhirnya Bolang memecahkan kebisuan itu, memulai dengan suatu dialog manis sekaligus penutup.
”Aku sudah mengerti semuanya itu. Yu, jangan kamu tutup-tutupi lagi. Aku bukan orang yang baru kemarin kamu temukan dalam hidupmu.Dua tahun kurasa sudah cukup untuk memahami perasaanmu dan sekaligus apa yang bergolak dalam sikapmu, terlebih akhir-akhir ini. Cukup sudah bagiku.Kurasa segalanya cukup jelas.”
Ayu tetap mempermainkan lap meja makan itu, menghubungkan antara ujung satu dengan ujung yang lainnya. Lalu-lalang orang-orang di jalan tak begitu menarik perhatian mereka lagi. Malam itu dirasakan Ayu begitu dingin, tak ada lagi lengan yang memegang mesra bahunya. Perjalanan ini dirasakan begitu panjang dan jauh, ia merasa berjalan sendiri ,tanpa ditemani Bolang. Laki-laki di sampingnya lebih tenang dan senang berjalan dengan melipat lengannya, memeluk bahunya sendiri, tak ada lengan kekar yang mesti digayuti Ayu, lengan itu terasa asing baginya. Bola matanya kian membentuk bongkahan-bongkahan kristal basah. Jalan yang dilihat mulai kabur, airmatanya meleleh jatuh di atas pipinya.
”Dingin, ya?”
Ayu seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu. Bolang tenang-tenang saja pergi meninggalkan rumah gadis itu, melupakan semua kata-kata yang pernah diucapkan, melupakan semua sikap yang pernah diberikan buat gadis itu.Ia pernah merasakan sakit, suatu perasaan yang membuatnya nelangsa. Setahun yang lalu begitu mengetahui apa yang terjadi belakangan ini tentang cerita Ayu. Semula iapun tidak begitu percaya akan apa yang pernah ia dengar ataupun yang pernah diceritakan teman-temannya. Namun ia mesti percaya. Ia melihat langsung, setelah malam minggu terakhir tidak ada yang menunggu kehadirannya, setelah melihat catatan-catatan kecil yang pernah diberikan pada gadis itu kedapatan ada tulisan lain, tentang sebuah janji pertemuan, sebuah kalimat yang melemparkan dia sekaligus membuang jauh dari keadaan yang sebenarnya, kalimat yang bukan hasil tangannya sendiri. Sekarang Bolang mulai merasa tenang sendiri, senyum sendiri dan puas sendiri, yang kepuasannya itupun akhirnya harus ditebus dengan berita yang sangat mengejutkan. Ia merasa terkecoh. Gadis yang ia kenal begitu lugu dan kekanak-kanakan telah bersama seseorang. Seseorang yang tak eprnah terlibat dalam pembicaraan mereka selama tahun-tahun terakhir ini.
“Kupikir aku tak mesti memperkenalkan semuanya itu kepada ayah dan ibumu, kepada adik-adikmu, kepada semua keluargamu, kepada siapa saja yang ada di rumahmu, bahkan juga kepada tetangga-tetanggamu, sebagaimana ucapanmu dulu, Bolangku. Kupikir semuanya memang harus terjadi, kupikir suatu ketika………..” Bolang tak berhasil menyelesaikan membaca surat terakhir yang dia terima dari gadis itu. Dadanya terasa sesak. Asap nikotin yang selama bertahun-tahun simpang siur di rongga pernapasannya kini membiak dan mulai menunjukkan kemarahannya.Ada rasa sakit menyelinap dalam hatinya setelah ia mengetahui gadis itu ditemani seseorang. Bukan Fajar. Seseorang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahkan lebih jelek dari apa yang pernah ia bayangkan.
Bolang benar-benar merasa terkecoh oleh ucapannya sendiri.

EKSISTENSI KARNA

Sebuah cerita barangkali akan bisa menjadi berbeda kalau Karna ternyata bukan dari golongan yang berkasta, golongan ningrat, priyayi atau golongan ksatria. Dan untuk dapat memperoleh ilmu yang diturunkan sang mahaguru Drona, suhu dari para pandawa lima itu dengan cara tak wajar dia akan mengaku-ngaku sebagai seorang anak dari golongan brahmana. Memang setelah menguasai ilmu, perbedaan itu akan menjadi sirna dengan sendirinya. Siapakah yang menciptakan perbedaan ini? Apakah perbedaan ini terjadi dengan bergantinya kekuasaan, silih berganti perputaran waktu antara siang dan malam ataukah ada aturan-aturan tertentu dalam negara yang memang harus memilah-milah mana yang berhak untuk belajar mana yang tidak berhak. Adakah sebuah perbedaan datangnya dari langit? Tidak! Sekarang ini yang membedakan proses belajar dan sang pengajar adalah status sosial. Perbedaan pelajar antara si miskin dan si kaya yang mencolok jauh. Sebuah ilmu yang dicapai memang tidak mengenal kaya dan miskin, namun setelah proses belajar usai ilmu akan menjadi sebuah gelar sang penyandang sebagai perlambang pengukuhan eksistensinya di masyarakat.
Karna dalam kekinian adalah sosok yang miskin namun tinggi idealisme. Bukan kesalahan sebuah kelahiran dari anak seorang sais, karena bagaimanapun anak seorang mahaguru sekalipun belum tentu bisa berkompromi dengan idealisme yang setinggi langit, karena pada kenyataannya anak seorang sopir angkot, anak seorang sais cidomo dan anak seorang tukang ojek yang jauh lebih rendah status sosialnya ketimbang anak seorang dokter, anak seorang dosen ataupun anak pejabat sekalipun masih bisa tampil dalam pentas bisnis sebuah usaha (istilahnya rekanan bisnis dan modal usaha lebih dipermudah) ataupun pada sebuah pentas drama politik. Namun tidak tertutup sebuah pameo yang beredar di masyarakat dengan kata-kata yang menyesakan dada si miskin bahwa: jadilah anak pejabat, karena berburu ilmu tidak sepenting memburu kepemilikan saham perusahaan. Ada yang diuntungkan, soal nasib tangan dan hukum karma sebuah bisnis. Bisnis yang dibangun dari ketenaran jabatan sebagai sebuah keturunan anak seorang pejabat negara yang memanipulasi data membangun sebuah kerajaan bisnis. Lambat laun memang itu yang terjadi dan pada kenyataan itulah sebuah aji mumpung. Mumpung berkuasa. Dan Karna kekinian pada akhirnya bukan berakhir di medan kurusetra, namun sebuah keberuntungan garis tangan yang mengantarkan perang pada medan bursa pasar saham, sebagai pemilik modal, market leader sebuah perusahaan besar, dengan kekuasaan mengatur orang-orang dan menjadwal kapan mesti PHK dan kapan harga-harga barang dinaikkan. Serta merta yang membuat mahaguru Drona tersungut-sungut bahwa ilmu bukan hanya buat orang-orang tertentu yang lebih mengasihi keberadaan ksatria pandawa lima. Bahwa ilmu bagi si kaya dan si miskin memiliki perlakuan yang sama. Bagi si kaya tinggal melanjutkan jenjang ketenaran, bagi si miskin untuk memanfaatkan fasilitas program negara, pemanfaatan beasiswa dana pendidikan, selebihnya dibutuhkan kreatifitas dalam bentuk personal approach kepada sang penguasa atau yang lebih paham soal guliran-guliran yang menyangkut anggaran pendidikan yang kadangkala bisa menjadi siluman.
Dan begitu beruntungnya Karna yang oleh Duryudana telah memberikan pilahan dunia kebesaran dalam tampuk kekuasaan, sebuah petak negeri Angga yang oleh kelihaian Duryudana dalam memilih orang tanpa harus berhadapan dengan Arjuna, walau Drona telah mengikis habis angan-angannya akan sebuah keberhasilan. Bhargawa yang nelangsa. Pada kelahiran berikutnya nanti Karna akan memandang tanah kurusetra sebagai sebuah monumen bersejarah, ketahanan dan ketabahan pergulatan sebuah keberanian. Keberanian mengungkap sejarah yang sesungguhnya kalau kelahiran sang Karna sesungguhnya adalah sebuah penganiayaan moral dari seorang putri berdarah bangsawan tinggi. (DG.Kumarsana)