Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Rabu, 28 Desember 2011

CUKUP SATU BUTIR, MAKA TERURAI ISI OTAKNYA

Wage menatap wajah dukun itu dengan sorot matanya yang menyimpan sejuta misteri. Ada suatu dorongan kuat yang mengharuskan dia berada di tempat ini. Sungguh dalam rutinitas hari-hari yang benar-benar tergilas dalam roda kesibukan yang sarat, tidak akan pernah terbayang untuk duduk dan berada di tempat ini, berhadap-hadapan langsung dengan orang yang berwajah aneh. Sebuah bayang-bayang keangkeran yang pernah dia dengar ceritanya dari seorang teman, barangkali akan dibuktikan saat ini. Entah dari sudut mana dia harus mempercayai semua cerita yang dianggap kosong melompong ini. Sangat tidak masuk akal dan diluar pikiran sehat. Seandainya bukan karena saran seorang teman, Wage tidak akan pernah mendatangi tempat ini, pun seandainya tidak ada suatu malapetaka yang menimpa hidupnya dengan kejadian-kejadiannya yang sangat aneh mengenai prilaku istrinya belakangan ini.
Mimik mukanya gelap dengan sorot mata yang sangat tajam menikam. Wage berharap segalanya akan menjadi lebih baik dan berubah sebagaimana dulu. Seperti saat awal mula istrinya pertama kali dia kenal. Bukan seperti sekarang penuh dengan kejanggalan-kejanggalan sikap yang sangat tidak masuk akal.
”Dia kena pelet.” katanya tandas. ”Ilmu ini sudah sangat parah memasuki badannya, hanya saja pikiran ibu ini masih kuat, kadang-kadang lupa terhadap keluarga, lupa terhadap suami, lupa terhadap anak-anak”
Bah, busyet, cerita apa lagi ini.
“Ah? Yang benar saja? Kenapa bisa begitu puq?” Wage terperangah kaget setengah percaya. Papuq panggilan untuk seorang kakek. Jujur saja dia kurang begitu percaya dengan namanya ilmu seorang dukun, Wage kurang percaya di alam modern yang sudah penuh dengan muatan tehnologi canggih masih ada yang namanya black magick. Masih saja ada yang suka bermain-main dengan ilmu hitam, ilmu untuk memelet seorang wanita Dan itu justru tengah menghantam rumah tangganya.
“Istri bapak kena pelet yang menyebabkan dia menjadi sangat begitu tertariknya dengan laki-laki itu. Dan bisa lupa sama sekali dengan keluarga, lupa suami bahkan kemungkinan besar tidak ingat pulang saking kuat rasa sukanya yang muncul dengan laki-laki itu.”
Wage tercenung. Wage merasakan perubahan yang terjadi pada sikap istrinya belakangan ini. Masak sampai separah itu? Dewi memang cantik. Wajahnya mirip penyanyi rock Agnes Monica kalau lagi manggung. Bentuk tubuhnya mirip Sophia Latjuba. Wajar saja kalau tersenyum pasti mengundang decak kagum setiap orang yang melihat.Teman-teman bergaulnya sangat banyak.
”Maksud papuq gimana? Tidak pulang-pulang? Tidak ada keinginan untuk ke rumah? Terus gimana dengan aku, puq? Gimana dengan anak-anak yang ditinggal? Apa dilupakan begitu saja? Wah kalau sampai benar-benar terjadi demikian bakalan gawat kehidupan rumah tanggaku. Dan anak-anak jelas akan mendapat pukulan bathin yang maha berat kalau mengetahui sesuatu yang menimpa ibunya. Puq, yang benar saja! Apa tidak ada jalan keluar sama sekali?” Bertubi-tubi pertanyaan lepas begitu saja dari mulutnya. Seakan-akan seperti beberapa anak panah yang lepas dari busurnya. Bahkan kalau bisa ada tambahan beberapa anak panah lagi untuk melengkapi pertanyaan itu, ketika stok anak-anak panah itu habis karena salah sasaran. Karena dia-pun tahu, jawaban yang diberikan kurang memuaskan. Mungkin lebih tepat kalau dikatakan, Wage tidak mempercayai semua jawaban-jawaban yang diberikan itu. Atau baginya baru pertama kali ini dia mendengar ada namanya ilmu pelet.
”Sepertinya bapak ini tidak mempercayai kejadian ini ya? Istri bapak lagi kena ilmu pelet, sejenis ilmu pemikat untuk membuat lawan jenisnya jatuh hati kepada siapa saja ilmu itu dituju.”
Wage manggut-manggut. Benar-benar sebuah keanehan dan apa kata kakek dukun ini memang harus dibenarkan ucapannya. Kakek dukun yang biasa dipanggil dengan sebutan papuq.
”Terus terang puk, saya tidak percaya namanya ilmu pelet. Itu diluar logika saya puq.”
Papuq Belo tidak menanggapi komentar Wage. Balik bertanya dengan nada penuh selidik.
”Siapa nama istri bapak?”
”Dewi..”
”Lengkapnya? Nama panjangnya siapa?”
”Dewi Sinta. Bapaknya memberi nama demikian karena bapak mertua saya suka nonton wayang dan paling fanatik dengan kisah pewayangan Ramayana.” Wage menjelaskan dengan sangat lengkap.
”Kalau saya sih tidak terlalu menyukai cerita pewayangan, dari masa muda dulu puq. Hanya saja karena ada keinginan yang sangat kuat untuk mendapatkan anak gadisnya, terpaksa sekali saya mendekati dan belajar untuk tahu apa yang menjadi kesukaan bapaknya. Dan ternyata saya harus sering-sering menemani bapaknya nonton wayang di alun-alun desa untuk menarik simpati bisa mendekati anaknya yang manis sebagai kembangnya desa pada waktu itu. Dan ternyata sayalah pemenangnya hingga dapat mempersunting sang Dewi Sinta dalam pelukan saya,” Wage menambahkan dengan penjelasan sedikit panjang tanpa diminta. Sekadar ingin menunjukan kekaguman bahwa dialah sang prabu Watugunung yang ada dalam kisah-kisah pewayangan itu. Namun betapapun sesungguhnya dia tidak mau menjadi watugunung yang sebenarnya, sebuah kualat dan dosa maha besar dengan mengawini ibunya sendiri.
Sumpah. Demi Tuhan dan semua saksi-saksi para leluhur yang ada di atas jagat raya sana, Wage sangat tidak mempercayai adanya ilmu pelet. Kalau benar ilmu itu memang benar-benar ada sangat disayangkan sekali kalau digunakan untuk cara-cara yang salah dan tidak terpuji. Itu hanya dimanfaatkan buat orang-orang yang tidak punya kepercayaan diri, orang yang keberadaan dirinya punah agar dapat pengakuan di mata teman-teman, para relasi bisnis bahkan mungkin juga kalangan elite politik. Orang yang eksistensinya telah hilang di mata penggemarnya.
Wage bukan orang seperti itu. Ternyata lalai juga dia, dalam kesibukan di dunia kerja dia telah alpa kalau sesungguhnya ilmu itu ternyata ada. Lupa dia pelajari ilmu yang satu ini padahal sebenarnya Wage sangat gemar memburu ilmu sejak dari usia muda dulu dan ketika dukun di hadapannya memberi penjelasan, dia hanya melongo dengan wajah heran setengah tidak percaya dan penuh tanda tanya besar. Kenapa masih ada ilmu begini di dunia, kenapa ada sebuah pemaksaan hak milik orang lain tak ubahnya seperti jaman pemaksaan kisah Mahabharata saja. Ya, inilah korawa yang berusaha mau memperkosa hak Pandawa. Dikeluarkan sebatang rokok. Bukan untuk para korawa, tapi buat sang dukun. Dinyalakan korek api dan asap rokok bertebaran melingkar-lingkar di udara. Di atas balai tempat mereka bercakap-cakap. Wage sengaja mengambil sebatang buat pengusir gundah. Dihisap pelan-pelan. Udara penuh asap nikotin berpolusi seakan bertebaran di udara membangkang oleh larangan-larangan: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.
Di rumah papuq Belo, dikatakan demikian karena sebagaimana kata temannya yang mengantar kesana serta cerita dari teman-temannya yang juga bermukim di kampung itu, identitasnya menunjukkan bagaimana postur tubuh papuq yang sebenarnya. Balai-balai yang ditempati sebenarnya bukan merupakan ukuran standard hidup keluarga sehat sejahtera kalau boleh dikatakan sebagai sebuah perumahan. Balai yang dikelilingi gedek dengan atap ilalang campur baur jadi satu antara ruang makan, dipan tempat tidur tanpa kasur hanya beralaskan tikar sebagai ruang tidur yang tidak tersekat dengan ruang terima tamu. Beginilah keadaan yang sebenarnya. Hidup di bawah bentangan garis kemiskinan. Suami istri yang menempati balai sangat mungil ini ternyata pandai dalam memanggil jin-jin walau tidak memelihara. Namun jangan kaget kalau mendadak terdengar suara keras; ”gedubrak!!” menyerupai daun pintu dibanting keras, itu menandakan jin dari gunung Rinjani yang menjadi sahabatnya lagi datang berkunjung. Konon yang sering datang adalah Dewi Anjani, putri dari dewi gunung Rinjani.
Bungkus rokok terakhir yang lupa diangkat dari atas tikar itu ada jenis dji sam soe, bukan menandakan tata cara kehidupan papuk yang modern oleh peradaban-peradaban. Itu sebenarnya merupakan rokok yang dihisap dengan jenis merk yang berbeda-beda. Dapat pula menandakan tamu yang datang bukan hanya Wage dan temannya saja. Walau tidak terpampang papan pengunjung sebagaimana layaknya seperti seorang mantri suntik di kampung-kampung kebanyakan ataupun seperti ruang tunggu praktek dokter seperti di kota-kota besar. Hanya dengan melihat ada beberapa bungkusan dalam tas plastik yang masih terkesan baru diletakan secara berjejer terhitung sekitar lima hingga enam bungkus menandakan jumlah clientnya yang datang. Artinya kalau Wage menyertakan bungkusan berisi setengah kilogram gula, setengah kilogram kopi dan sebungkus rokok sampoerna akan menunjukan deretan ke tujuh sebagai pengunjung. Tidak tertutup kemungkinan sampai puluhan orang yang akan datang lagi menyusul. Ini dikatakan istrinya papuq. Wage mulai sedikit percaya, sebuah takhyul yang membeberkan kenyataan-kenyataan yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya sehingga dia menanamkan kepercayaan itu manakala papuk mengambil gelas berisi air putih dengan mulut komat kamit membaca mantra-mantra yang tidak dia ketahui dan sangat asing di pendengaran sekilas menyebut nama istrinya di atas gelas tersebut. Dan astaga! Wajah istrinya muncul di atas air gelas. Mengambang.
”Dia sedang makan,” katanya serius dengan titik mata menyudut setengah dipicingkan. Seperti sudah menjawab apa yang akan dia tanyakan berikutnya. Bola matanya bersinar dalam kepekatan magis yang tidak dibuat-buat. Sebuah kepekatan yang aneh. Wage tidak tahu jelas, dimana letak keanehannya. Hanya seperti ada satu kekuatan yang tersembunyi pada kedua bola matanya.
“Siapa?” Wage mengejar dengan pertanyaan.
”Istri bapak!” dia menandaskan tegas.
”Istri saya? Lagi makan? Dimana? Lagi makan dimana?”
Papuq Belo menggeleng, menatap sebentar.
“Dimana puq? Dengan siapa?”
Dilihat wajah papuq setengah mengeras lalu mendehem sejenak dan menatap Wage dengan tajam. Sangat tajam. Setajam belati. Wage balas menatap. Ada cahaya api muntah dari mata itu. Bola mata yang terlihat sangat bercahaya dikelilingi keriput di sekujur wajahnya yang tua. Terkadang bergidik ngeri kalau terlalu lama menatap matanya. Membayangkan menatap sepasang mata di kegelapan malam dalam kilatan petir. Mengerikan!
“Papuq hanya melihat meja makan, seorang wanita cantik sepertinya istri bapak dan ada seorang laki-laki lagi sedang mengunyah makanan sambil bicara. Bicaranya banyak. Entah apa. Papuq tidak bisa memastikan.”
”Papuq yakin yang papuq lihat itu istri saya? Apa tidak salah lihat puq? Hmm, maksudknya papuq tidak keliru baca mantra?” Wage menyangsikan.
Papuq Belo melotot. Wage mengkeret melihat tatapannya. Terkesan bengis. Jangan-jangan kalau dari melihat caranya menatap, papuq ini seorang dukun pembunuh berdarah dingin.
”Saya sudah bertahun-tahun melakukan pekerjaan ini. Saya hanya membantu saja. Kalau bapak tidak percaya silahkan pergi.” suaranya terdengar marah, setengah dongkol.
Tangan Wage ada yang menyenggol. Dia menoleh menatap wajah temannya penuh dengan pandangan geram. Barangkali kalau tidak berada di rumah dukun ini dia akan mengumpat habis-habisan. Bahkan bisa menggampar.
Wage manggut-manggut. Tidak menanggapi sebuah kemarahan yang dipendam. Namun Wage pikir-pikir sang dukun ini cepat dan mudah juga dipancing emosinya, yah, dukun juga manusia biasa yang dalam hal-hal tertentu juga memiliki kekurangan, dia pikir wajar saja beliau ini marah. Jengkel karena merasa kepiawaiannya disangsikan atau dilecehkan. Dipandangnya kegeraman yang diam-diam pula muncul dari wajah temannya dengan meringis. Kembali manggut-manggut dan ambil sikap.
”Bukan begitu maksud saya puq. Saya percaya apa yang papuk katakan cuman belum begitu percaya eh, maksud saya hampir mempercayai walau ragu-ragu. Tapi ya saya memang datang kesini untuk minta bantuan papuq, ya jadinya saya sekarang percaya puq. Lha terus di daerah mana dia saat ini makan puq?” Wage sedikit menggeser cara duduknya dan memegang tangan keriput itu dengan sentuhan lembut untuk menunjukkan kalau aku sangat percaya dan melimpahkan semua permasalahan ini untuk dicarikan jalan keluarnya.
Laki-laki tua yang disebut papuq itu mengerutkan dahi sejenak, lalu menatap Wage kemudian mengalihkan pandangan seolah tidak peduli. Dilihat temannya yang mengajak ke rumah papuq ini mengernyitkan dahi dengan tatapan mata melotot tajam ke arah Wage.
Wage meringis garuk-garuk kepala. Konyol memang.
“Puq, tolong bantu teman saya ini. Dia benar-benar lagi kesulitan,” akhirnya temannya merendahkan diri untuk dapat mengesampingkan rasa tersinggung papuq Belo. Wage tahu, dia telah membuat satu kesalahan dengan kata-kata yang menyinggung perasaannya sehingga terkesan seperti sangat meremehkan kemampuannya tersebut.
“Iya, puq. Bantulah saya,” Wage mencoba memohon sambil memegang tangannya yang keriput. Karena permohonan temannya dan mungkin juga Wage berjodoh dengannya, ada sedikit harapan manakala ia memberikan beberapa butir ramu-ramuan terdiri dari pil tiga warna dan Wage dijelaskan cara pemakaiannya dari masing-masing. Tuhan memang selalu memberi jalan untuk sebuah kebenaran, apalagi yang dilakukan ini memang benar-benar demi suatu perbuatan atas nama kebenaran. Wage kan mencarikan obat buat istri, demi kedamaian keluarga terutama anak-anaknya sebagai generasi penerus. Wage tidak mau gara-gara kejadian ini, anak-anak sampai depresi dan berprilaku yang aneh-aneh. Dia hindarkan mereka dari semua keburukan yang tidak semestinya menimpa mereka. Kasihan anak-anaknya.
“Ingat yang warna kuning untuk diminumkan buat istrimu. Tapi diam-diam caranya memberikan jangan sampai ketahuan,” temannya mengingatkan saat perjalanan pulang. Jarak rumah dengan kampung papuq Belo menempuh waktu 2 jam perjalanan.
”Gimana ya caranya?” selama dalam perjalanan Wage berpikir keras mencari akal, bagaimana caranya memberikan ”obat” ini pada istrinya, sebab dia tahu Dewi itu orangnya sangat hati-hati dan terlalu peka. Kalau dia berikan secara langsung jelas akan menarik perhatiannya dan muncul rasa curiga. Dia paham betul akan kecurigaan seorang istri. Istrinya memang memiliki instink yang cukup tajam dalam hal begini. Kok tumben suamiku baik sampai menyiapkan air segala atau kok tumben suamiku menyarankan aku minum teh buatannya sendiri, ada apa gerangan? ” wah sepertinya sulit juga, pasti dia tidak akan mau meminumnya,” Wage mengerutkan kening. Dia sudah mulai merasa buntu. Tidak ingin terjadi sesuatu yang diluar perkiraan. Diluar rencana yang semula yang sudah disiapkan kakek dukun yang masih memiliki rasa humor diselingi emosi meledak-ledak itu.
”Ah, begitu saja kok susah. Taruhkan saja butir-butir itu di dalam teko minuman yang biasa diminum,” temannya memberi saran.
”Wah, kelihatannya sulit, ntar kalau ketahuan gimana dong? Lagipula jarang aku tahu kapan saat-saatnya dia mau minum. Terkadang bisa seharian tidak minum-minum di rumah, makan saja seringkali di luar rumah dengan teman-temannya.”
”Yaaaa...... suami apa sih kamu ini Ge? Ya kalau tidak di teko taruh dimanalah yang biasanya istrimu mengambil minuman, coba pergunakan akalmu! ” Teman Wage mengumpat kebodohannya. Memang Wage akui dirinya merasa sangat bodoh akhir-akhir ini. Wage seperti orang pilon. Apa yang dilakukan istrinya seperti Wage dibuat diam dan tidak pernah bisa marah, justru sangat bertentangan dengan sifatnya yang dikenal kawan-kawan di kantor memiliki temperamen tinggi yang sewaktu-waktu penuh dengan emosi meledak-ledak. Uff...! Wage tak habis pikir karenanya.
Wage pikir cara yang tidak terlalu menjolok adalah dengan menumpahkan butiran yang dicampur air itu ke dalam galon minum di rumah. Untuk selanjutnya tinggal mengamati perkembangan, apa akan terjadi perubahan atau tidak.
Setelah diam-diam menumpahkan butiran itu ke dalam galon minuman, Wage sedikit bernapas lega. Setiap sore pulang kantor dia diam-diam sambil lalu menatap batas air galon. Hmm, ada berkurang. Berarti sebagian sudah ada terminum, pikirnya senang. Dilihat belakangan ini Dewi sesekali waktu memegang dan memijit-mijit kepalanya sambil mengeluhkan pening. Wage menganggap butir penolak pelet itu sudah mulai bekerja. Hari demi hari selalu dia mengawasi dengan diam-diam. Seminggu dua minggu dia sudah berharap istrinya akan sembuh total seperti sediakala. Pada minggu ke tiga dia melihat batas air galon minuman tersebut tersisa seperempat. Wage berusaha mencari tahu keadaan dan keberadaan istrinya, karena dilihatnya kamar tidur demikian rapi seperti tidak terjamah sama sekali. Hingga sore itu bayangan istrinya tidak terlihat sama sekali. Wage berpikir mungkin lagi sibuk dengan kegiatan bersama teman-teman organisasinya, demikian ia berpikir.
Wage berusaha menghubungi ponselnya. Tidak ada jawaban. Ponselnya aktif namun tidak diangkat. Seperti biasa. Seperti sebuah kecurigaan sudah menghalangi kecemburuannya akan sesuatu. Curiga dan cemburu selalu saja bersamaan datangnya. Wage selalu mengalami hal-hal seperti itu belakangan ini. Namun hari hampir mendekat malam istrinya belum juga pulang. Ada sedikit rasa was-was menghantui perasaannya. Dilihat dua orang anaknya di ruang belakang demikian suntuk memperhatikan layar TV. Tidak terusik oleh ketidakhadiran seorang ibu, atau itu sudah menjadi hal yang biasa bahwa, kesibukan orangtuanya adalah mutlak dan bukan merupakan suatu kebutuhan lagi untuk berbaur dalam ruangan itu.
”Ibumu kemana?” Wage akhirnya memecah kesuntukan mereka. Kedua anak-anaknya hanya menoleh sekilas lalu menggeleng. Seperti tidak ada yang merasa hilang dalam kesuntukan mereka.
”Ibumu kemana Anggi?” Wage sedikit tandas sambil memegang bahu si bungsu. Mengharapkan ada ungkapan keluar dari bibir kecil itu.
”Ndak tahu!”
Dengan penasaran Wage memasuki kamar tidur. Matanya tertuju ke arah almari pakaian. Almari yang sedari pulang kantor belum tersentuh. Pintu almari pakaian terkuak tangannya yang gemetar. Matanya terbelalak. Semua pakaian dan perhiasan yang tersimpan di dalamnya tidak ada tersisa. Wage menelan ludah. Dilihat ada sepucuk surat tergeletak di atasnya. Wage tak mampu menjamah. Tidak berniat membuka. Enggan untuk membaca. Badannya lunglai. Wage menjadi ingat akan kata-kata istrinya beberapa bulan sebelum ia pergi ke rumah papuq Belo. Istrinya pernah mengatakan ingin memulai hidup baru dengan seseorang yang belakangan ini sering menghubunginya. Istrinya pernah mengatakan akan diajak pergi umroh ke tanah suci. Belakangan baru tahu kalau lelaki itu adalah seorang guru di wilayah jembatan kembar. Kurang lebih 20 km jaraknya dari rumahnya. Belakangan baru tahu kalau lelaki itu sering mengencani istrinya dan selalu mengajak makan siang sama-sama hingga melupakan dirinya. Belakangan baru dia tahu kalau lelaki itu sudah beristri dan istrinya yang bernama Atun itu sering mendatanginya, menceritakan tabiat jelek suaminya. Dan Atun mengatakan suaminya telah menceraikan dirinya. Wage tidak mampu berkata-kata. Tatapannya bengong tertuju ke arah sudut kamar.
Dan malam itu juga, sebuah senapan api sudah berada dalam genggaman tangannya yang kaku dan kasar. Rahangnya mengeras. Matanya mulai menyala. Jidatnya mengkilat tersapu cahaya neon yang menerpa kegairahan mudanya yang mulai bangkit menyala-nyala. Keningnya tidak lagi mengeluarkan kerut yang dalam, sebagaimana kerut merut kulit yang menapak usia matang puluhan tahun, ya puluhan tahun saat usianya yang belia penuh kegatalan jiwa yang selalu kasar dalam memutuskan sesuatu.
”Cukup sebutir, peluru panas ini akan mencairkan masalah. Tidak ada Tuhan yang perlu diperhitungkan. Tidak perlu ada logika. Cukup satu butir, maka terurai isi otaknya yang sudah tidak bisa diajak untuk berdamai selama ini..................”

Jakem, oktober 2011
Ket:
Papuq = kakek/nenek
Belo = panjang
(dari kumcer dadong inges, penerbit pustaka ekspresi)

DADONG INGES

Seluruh keluarga besar nampak pada kumpul di bale tengah. Ada yang duduk-duduk menghadap ke timur berjejer sambil cerita ngalor ngidul tertawa-tawa riang. Ada yang asyik mendengar dan seolah-olah mengerti dengan apa yang dikatakan wayan Rerod. Ada juga yang bisik-bisik membicarakan cucu menantu dadong Inges yang akan datang dari benua kangguru Australia. Semua anak-anak, kakak, adik dan saudara dari sepupu pertama, saudara dari sepupu kedua dan seterusnya hingga sepupu yang keberapa dan juga para tetangga pada datang berkumpul di rumah wayah. Anak-anak kecil terdiri dari para cicit-cicit dari pekak Dayuh nampak teriak-teriak di bale tengah. Suasananya persis seperti berada di pasar. Pokoknya ramai membicarakan sesuatu yang tak jelas alurnya.
”Di sebelah mana Nusa Penida tempatnya itu, yan?” pekak Dayuh bertanya.
”Jauh pekak. Jauh sekali. Katanya melewati Nusa Penida tapi kalau dilihat dari pojok timur wilayah Bali, mungkin juga di selatan, arah barat daya kalau terlihat dari peta. Saya juga tidak pernah bepergian kesana, ” Wayan Rerod menjawab.
Barangkali pekak bingung mendengar penjelasan Wayan, tapi toh ia tetap bertanya juga. Karena sama-sama bingung.
”Katanya?”
”Iya....”
”Siapa disana?”
”Waduh! Ini baru namanya pertanyaan seorang pekak. Itu dadong aja tanya. Sama-sama pikunnya. Baru kemarin malam dikasi tahu kalau cucunya akan pulang. Betul-betul nih pekak!” Wayan ngakak ketawa sambil guyon memukul-mukul perut pekaknya. Perutnya besar oleh tuak yang over dosis hampir tiap petang dia minum. pekak ini lagi mabuk apa iya? Masih suka mabuk? Tidak berhenti mabuk dari tadi malam. Tadi malam minum kok baru sekarang mabuknya.
Dadong Inges hanya cengar-cengir saja mendengar percakapan mereka. Percakapan konyol antara seorang kakek dan cucunya. Apa karena ia tuli, ataukah gembira. Orang-orang memanggil dengan sebutan dadong Inges itu karena sang kakek sewaktu masih jaman paceklik di desa, susah mencari pekerjaan, semua pakaian sudah habis di lego karena tidak memegang uang sama sekali, terlebih lagi untuk masak menanak nasi, hanya berbekal otak bolong dan pikiran bingung kemudian merantau di daerah suku sasak. Ada pekerjaan bagus disana sambil berjualan garam. Disanalah ketemu gadis cantik yang kalau bahasa sasaknya orang-orang menyebut dengan kata ’inges’. Inges itu artinya cantik. Kemudian mereka menikah. ”pintar memang pekak. Hebat sekali dia” Jikalau melihat gurat-gurat yang tersisa di wajah dadong Inges tak bisa ditutup-tutupi dan terbukti kalau sewaktu gadisnya, sewaktu masih remaja benar-benar cantik jelita. Pemuda mana tidak akan pernah berhenti menatapnya.
Ini barulah namanya sesuai hingga punya cucu bernama wayan Gadang yang semestinya ganteng. Tapi Wayan Gadang hitam pekat, itu karena kalau diceritakan bagaimana sewaktu dadong Inges ngidam, sempat mengejek seorang tourist dari negara Uganda afrika yang jalan-jalan ke bumi sasak. Akhirnya pada saat kelahiran wayan Gadang jadi berwujud hitam pekat kayak cat. Hitamnya bukan karena berjemur di pantai mencari garam. Bukan!. Pekak sudah pernah melarang waktu itu, jangan suka mengejek, terkejut atau melakukan hal yang aneh-aneh jika lagi hamil muda. Begitulah ceritanya pertemuan pekak dan dadong Inges. Hingga sekarang di desa tetap memanggil sebutannya saja dadong Inges, tanpa pernah mau tahu atau ingin mengetahui, apa arti kata ’inges’ itu sesungguhnya. Atau ingin mengetahui lebih jauh siapa sebenarnya nama panjang dadong inges.
Kemudian wayan Gadangpun tidak mau kalah dengan perjalanan cinta pekaknya. Sejauh-jauhnya bumi ini dia telusuri, melanglang buana mencari jodoh, kemudian mempunyai anak di benua Australia. Anaknya kembar, tapi bukan kangguru. Jangan keliru!. Gini-gini laku juga wajahnya di benua kangguru itu. Masih dipercaya sama orang. Model manusia seperti wayan Gadang masih disukai oleh orang-orang di daerah rantau. Memang juga bermodalkan cuek bebek dengan tingkahnya yang lucu mengundang gelak tawa orang, itu yang disukai setiap bertemu dengannya. Gerak-geriknya yang penuh humor itu membuat tenang dan begitu santainya membuang diri di daerah orang. Entah bagaimana caranya hidup di rantau, di daerah yang tak dikenal, jauh dari sanak famili, eh tahu-tahu ada berita sudah tinggal disana dan berita selanjutnya keluarganya di Bali mendengar dia sudah menikah bahkan sudah punya anak.
“Bagaimana rupa anaknya kalau kita lihat sebentar lagi?” Wayan Getul tidak habis-habisnya berpikir.
“Sungguh bagus sekali perjalanan hidup bli wayan Gadang mencari istri. Itu namanya memperbaiki keturunan,” Kadek Laad menimpali menjawab sambil keluar jahilnya narik-narik telinga pekaknya. Memang suka bercanda. Dasar manusia kualat.
“Kenapa begitu?”
”Coba aja lihat wajah bli wayan Gadang seperti langit mendung .”
“Waduh!”
Cara untuk memperbaiki keturunan itu yang paling bagus itu bagaimana? Ataukah dengan “mempermak” wajah agar terlihat lebih menarik? Wajah disolder bak operasi plastik? Ketika kita harus melirik diam-diam serta bertanya: bagaimana perjalanan reinkarnasi dari seberang lautan? Seumpama para leluhurnya bertanya bahasa apa kira-kira yang akan kita pergunakan untuk bisa komunikasi itu nyambung?
Waduh! Terlalu jauh kita berpikir. Wah, kamu nantinya akan berbicara cas-cis-cus saja. Saya tidak mengerti.
Sekarang ini orang-orang sudah modern di dalam kehidupan. Tidak hanya bicaranya saja serba modern, dari rambut hingga kaki juga modern. Ada yang rambutnya disemir seperti leak. Badan bagus-bagus di tatto. Anak laki-laki memakai anting-anting separoh dan juga lidahnya ditusuk segala dengan berbagai asesoris. Memang jamannnya sekarang ini jaman zig-zag aneh-aneh semuanya bersikap serba aneh.
Begitu juga halnya dengan kedatangan istrinya Wayan Gadang setibanya di rumah wayah, semua keluarganya terkejut. Mereka pikir kok ada leak mabuk datang ke rumah. Waduh. Kedua anaknya yang kembar hanya terlihat senyum-senyum saja. Bola matanya berwarna biru, melirik kesana-kemari seperti kebingungan. Ternyata memang bukan jenis kangguru yang datang, sebagaimana dugaan mereka sebelumnya yang was-was menanti.
”Begini ternyata rupa istrimu, Yan? Ayo coba pekak perhatikan anak-anakmu itu , bagaimana caranya berbicara dengan mereka Yan?” Pekak Dayuh kemudian bertanya menyembunyikan keraguan karena baru kali ini melihat cucunya pulang membawa istri dan anak-anaknya yang aneh. Sekarang sulit memulai pembicaraan. Bahasa apa kira-kira yang cocok dan mudah dipergunakan agar komunikasi dua arah bisa nyambung dan saling mengerti maksud masing-masing. Jelas bahasa isyarat, dengan gerakan tangan dan angguk-angguk sebagai tanda mengerti. Menggeleng lalu putar kepala.
Wayan Gadang mengangguk kemudian mendekati istrinya, berbicara ala barat, entah apa yang dibicarakan, pekak tidak mengerti sama sekali dan mereka semua melihat istri Wayan Gadang tersenyum manis lalu menyalami saudara-saudaranya satu persatu.
Sesudah itu istri bli wayan Gadang berbicara, semua bengong. Melongo, tak ubahnya seperti sapi sakit perut karena gas asam lambung berlebih.
”Eh, sapi ngomong apa kamu!?” Pekak dalam umpatan bercandanya yang khas. Pertanyaan ke timur jawabnya ke barat. Menuju ke barat dikira memanggil. Ia bernyanyi-nyanyi sambil menjerit dikira mengunyah santet. Waduh, rumah wayah ini sekarang penuh dengan santet. Bak kena ajian sirep.
”Hi, how are you? What is your name? My name is ketut Sanglir,” Ketut sok bertanya karena di sekolah dulu pernah dapat pelajaran bahasa Inggris. Begitu caranya Ketut Sanglir bertanya kemudian ia kaget mendengar jawaban istrinya bli Wayan.
”Nama saya Marry, bli sehat-sehat semua, bagaimana kabar keluarga semuanya?” Marry, isri bli wayan Gadang menjawab. Jawabannnya benar-benar menggunakan bahasa Bali yang sangat halus. Lebih halus bagi pendengaran ketut Sanglir yang belum pernah ia dengar. Itu hanya bahasa kaumnya orang puri. Orang yang dianggap berdarah biru. Entah dimana istri bli wayan Gadang belajar atau tepatnya kapan ia belajar, malah pengucapannya lebih pintar dari dirinya. Ketut Sanglir heran.
Yang lain tak kalah heran.
Semuanya bengong. Tidak menyangka istri wayan Gadang pintar berbahasa Bali. Seketika mata pekak Dayuh melotot dan ketawa ngakak. Suara ketawanya demikian keras dan terdengar nyaring, seakan membelah seisi rumah wayah. Waduh, sungguh luar biasa senangnya hati si pekak, mempunyai seorang cucu beristrikan orang yang dia anggap aneh dan malah pintar berbahasa Bali. Saking senangnya pekak memeluk erat-erat tubuh Marry.
Marry tercekik sulit napas. Pekak saking senang terlalu kuat memeluknya.
”Pintar sekali kamu cari istri yan, Istrimu juga pintar, bisa mengikuti pembicaraan pekak,”
Ketika mendengar Marry pintar berbahasa Bali apalagi bahasanya demikian halus, semuanya serempak mulai berani mendekat dan ngajak ngobrol. Dadong Inges yang paling sibuk bertanya. Dari hari pertama cucunya datang dadong Inges hampir tidak pernah mau berjauhan dengan Marry.
Setiap pagi Dadong Inges sibuk ngobrol berdua hingga matahari terbenam. Kecuali mungkin kalau tidur saja dia istirahat ngobrol. Itu tandanya dia lagi capek. Karena keesokan harinya dadong Inges akan melanjutkan kembali pembicaraannya dengan Marry, hingga benar-benar merasa puas.
”Gimana, dong?”
”Besok dadong mau ikut ke Australia bersama dengan Marry....”
”Terus pekak disini gimana dunk?”
”Tinggalkan saja......”
”Waduh, kalau besok seandainya dadong kamu pulang. pekak pasti tidak akan mengenal lagi wajahnya. Karena wajahnya akan mirip kangguru.” pekak menjawab marah sambil menatap galak wayan Gadang.
Dadong Inges hanya terlihat cengar-cengir saja.

Bajur, Nopember 2010
Ket:
Dadong = nenek (bhs daerah Bali)
Inges = Cantik (bhs daerah Sasak Lombok)
Bli = panggilan kakak laki-laki (bhs daerah Bali)
Pekak = kakek (bhs Bali)
(dari kumcer dadong inges, penerbit pustaka ekspresi)

Selasa, 27 Desember 2011

BOCORAN PAD BOCOR

Mari kita bocorkan sedikit
mumpung rakyat bodoh
sembari pura pura bodoh
angka angka fantastis
mampu memuliakan hidup
sesaat

Mari kita bocorkan sedikit
mumpung rakyat lagi tidur

NEGERI INI, NEGERI TAMBAL SULAM

Dan negeri ini
negeri tambal sulam……tak perlu mangkir
aku rindu engkau, wahai penguasa
menambal moral yang sesungguhnya bolong
semakin iseng aku, menambal dalam kebohongan demi kebohongan
selebihnya kian membikin gemuk rakyatmu
dalam kemiskinan

NEGERI PARA PERI

setiap malam
kau tidurkan aku dalam dongeng
negeri pualam
yang dipahat para peri
nenek sihir yang terbang seberangkan bulan
terlilit sepasang lidah

setiap malam
kau lelapkan aku dalam sebuah mimpi
para kurcaci yang membangun negeri
dengan liurnya yang tajam
anak anak peri menangis
kubangan negeri
patah

“ SORGA DI SOFA”

Kau lantunkan irama, jangan pulang dulu, katamu
bak ular meliuk, menarilah dalam pergumulan waktu
irama yang menantang hamparan nyanyi histeris: menarilah bersama waktu
musim menggelora dalam birahi
sorga yang terbuat di atas sofa
lewat pelaminan angin
musim menjaga sahwat
luruh…….

SABILANG PETENG

Sabilang peteng ia teka ngentungang lawatan bulan liwat sebeng muanē sebet
sabilang peteng ia ngedum munyi liwat ipian
aba tur kenehang tuturnē lamun sing nawang, mani-puan kenehnē melēnan,
kadirasa mirib ulian ipian boya boya

sabilang peteng mulisahē patuh katitip
sekancan awak anē lenan
nganti engsap awaknē padidi
nitip smara tawah