Kau lantunkan irama, jangan pulang dulu, katamu
bak ular meliuk, menarilah dalam pergumulan waktu
irama yang menantang hamparan nyanyi histeris: menarilah bersama waktu
musim menggelora dalam birahi
sorga yang terbuat di atas sofa
lewat pelaminan angin
musim menjaga sahwat
luruh…….
Selasa, 27 Desember 2011
SABILANG PETENG
Sabilang peteng ia teka ngentungang lawatan bulan liwat sebeng muanē sebet
sabilang peteng ia ngedum munyi liwat ipian
aba tur kenehang tuturnē lamun sing nawang, mani-puan kenehnē melēnan,
kadirasa mirib ulian ipian boya boya
sabilang peteng mulisahē patuh katitip
sekancan awak anē lenan
nganti engsap awaknē padidi
nitip smara tawah
sabilang peteng ia ngedum munyi liwat ipian
aba tur kenehang tuturnē lamun sing nawang, mani-puan kenehnē melēnan,
kadirasa mirib ulian ipian boya boya
sabilang peteng mulisahē patuh katitip
sekancan awak anē lenan
nganti engsap awaknē padidi
nitip smara tawah
Senin, 26 Desember 2011
MEMANDANGMU SENGGIGI
( tak cukup panjang menunggu malam)
Mengawali jalannya senja matahari menghilang ditelan lautmu
alunan jazz lantunkan asmara yang mudah digali
tak cukup panjang menunggu malam
cinta siap menjajakan diri pada sudut sofa front office sebuah hotel berbintang, tidak menyia-nyiakan penawaran dalam kamar penantian
anak anak yang belajar dewasa dari usia sejenisnya
lautmu lahirnya cinta sesaat mendayu dalam irama dan kenangan mudah dibentuk
tak cukup panjang menunggu malam
adalah laut liur yang menggemaskan kerahasiaan
Anak anak menjadi dewasa karenanya tak perlu pusing suara dentang jam sekolah
tidak ada ketakutan kotbah agama, suara-suara semestinya mengingkari semester yang lupa digali, ternyata lautku punya kebebasan untuk berenang : malam hari
entah sudah hafal pada irama mana membentuk gemulai
menjadi bayang bayang menyatu dalam kegerahan malam
kegairahan lekuk-lekuk asmara yang fatal
dalam sekali tenggak hawa alkohol menjadi jampi dalam kenakalan musim
menjadi sang pesulap yang mahir memainkan angin
menerbangkan moral setara napas tubuh yang menggoyahkan angan
jadilah pengembala angin memintal rok rok semarakkan warna kulit
jadi benang benang lepas
dance hingar dalam bingarnya musik
tak cukup panjang menunggu malam :
- jadi jahanam!
mengawali pagi jalannya matahari berbalut sinar keemasan
matamu telanjang menggapai kenangan
malam terasa pendek
Mengawali jalannya senja, berikut bayi-bayi lahir bagai pasir berantakan
tak mengenal wajah bapaknya
tak mengerti dalam pelaminan ufuk senja
hingga terlahir dalam ketakmengertian
hawa haram yang dahsyat
berbau garam
yang kian gerah menanti malam
berikutnya
Mengawali jalannya senja matahari menghilang ditelan lautmu
alunan jazz lantunkan asmara yang mudah digali
tak cukup panjang menunggu malam
cinta siap menjajakan diri pada sudut sofa front office sebuah hotel berbintang, tidak menyia-nyiakan penawaran dalam kamar penantian
anak anak yang belajar dewasa dari usia sejenisnya
lautmu lahirnya cinta sesaat mendayu dalam irama dan kenangan mudah dibentuk
tak cukup panjang menunggu malam
adalah laut liur yang menggemaskan kerahasiaan
Anak anak menjadi dewasa karenanya tak perlu pusing suara dentang jam sekolah
tidak ada ketakutan kotbah agama, suara-suara semestinya mengingkari semester yang lupa digali, ternyata lautku punya kebebasan untuk berenang : malam hari
entah sudah hafal pada irama mana membentuk gemulai
menjadi bayang bayang menyatu dalam kegerahan malam
kegairahan lekuk-lekuk asmara yang fatal
dalam sekali tenggak hawa alkohol menjadi jampi dalam kenakalan musim
menjadi sang pesulap yang mahir memainkan angin
menerbangkan moral setara napas tubuh yang menggoyahkan angan
jadilah pengembala angin memintal rok rok semarakkan warna kulit
jadi benang benang lepas
dance hingar dalam bingarnya musik
tak cukup panjang menunggu malam :
- jadi jahanam!
mengawali pagi jalannya matahari berbalut sinar keemasan
matamu telanjang menggapai kenangan
malam terasa pendek
Mengawali jalannya senja, berikut bayi-bayi lahir bagai pasir berantakan
tak mengenal wajah bapaknya
tak mengerti dalam pelaminan ufuk senja
hingga terlahir dalam ketakmengertian
hawa haram yang dahsyat
berbau garam
yang kian gerah menanti malam
berikutnya
IBU GURU GINANTI
Siapapun melihat wajah bu guru Ginanti pasti akan senang, karena wajahnya cantik dan senyumnya penuh simpati. Sepertinya kalau melihat wajahnya dan sorot matanya yang demikian teduh, bu guru Ginanti tidak suka marah. Gilang paling suka melihat wajahnya yang cantik. Berbahagialah orang yang menjadi suami bu Guru Ginanti. Lelaki itu pastilah sangat beruntung dalam hidupnya dari sekian banyak laki-laki yang mendambakan untuk dapat memiliki wajah ayu dan secantik bu guru Ginanti. Pastilah banyak laki-laki yang menginginkan bu guru Ginanti. Dewi Sinta Prabawati, pacarnya Gilang sebagai seorang gadis juga sangat senang dan tertarik melihat, apa lagi laki-laki. Sesama perempuan saja mereka demikian kagum. Dan itu bukan cerita kosong. Lihat saja Anik, Reni, Ayu bahkan Ningsih dan entah teman teman yang lainpun tidak menyembunyikan kekaguman. Rasa kagum yang tidak dibuat-buat bahkan terlontar pujian dari bibir mereka. Atau di sela jam kosong selalu ngerumpi tentang Ibu guru Ginanti. Seolah dengan mengagumi bu Ginanti, aura kecantikan ingin juga disebar pada mereka semua. Dan pada akhirnya selain mereka semua meniru gerak-gerik bu guru yang satu ini, merekapun berlomba-lomba untuk tampil cantik.
“Awas kalau tertarik padanya, Dewi nggak mau lagi temenan ama kamu,” Dewi Sinta Prabawati mengingatkan pacarnya yang diam-diam selalu melirik bu guru Ginanti.
Gilang senyum senyum saja di hadapan pacarnya. Nggak mungkinlah Gilang pacaran ama gurunya. Masak murid mau macarin bu guru? Kalau pak guru macarin muridnya yang perempuan sih ada.
“Itu sih karena muridnya yang nakal,” Dewi jadi memperdebatkan masalah pacaran guru dan murid.
“Iya, tapi pak gurunya nakal juga khan? ” Gilang tak mau kalah.
“Muridnya juga kok”
“Gurunya!!!”
“Muridnya!”
“Gurunya! “
“Muridnyaaaaaaaaa…!!!” Dewi berteriak keras.
“Eh, sudah! Sudah! Kok kita jadi bertengkar sih?” Gilang akhirnya senyum senyum mengalah sambil memeluk Dewi. “ Iya muridnya dah!”
“Jelek, pringas-pringis gitu. Jelek! Aku ndak suka laki-laki prangas-pringis. Jelek, tauu!!?? jelek! Jelek!!” Kontan Dewi mencubit pacarnya.
Gilang meringis.
Kalau Bu guru Ginanti sudah berdiri di depan kelas, semua teman-teman pasti terbengong-bengong bagai disihir hingga terkadang sampai lupa kalau pelajarannya sudah selesai.
“Lho, sudah selesai bu?” Anton berkomentar dengan nada kecewa. Yang lain pada mengeluarkan suara-suara tak jelas. Ketika ditanya bu Ginanti, mereka bengong tak bisa menjawab. Tangan bu Ginanti menunjuk ke arah Agus
“Khan udah ibu terangkan tadi,” Bu Ginanti menegaskan lagi sambil mendekati Agus yang duduk di bangku belakang paling pojok. Agus berkeringat. Hanya mengeluarkan suara ah-oh-ah-oh
“Hush, bu Gin nanya tuh,” Reni yang duduk di samping mencuwil lengan Agus. Masih saja Agus seolah terjebak dalam sihir tak mampu menjawab. Matanya hanya menatap bu guru yang cantik itu dengan mulut menganga. Bau wangian parfum yang keluar dari tubuh bu Ginanti semakin membuat Agus kian gelagapan.
“Hei, Gus, mulutmu jangan nganga gitu, dong!” Herman menendang kakinya di bawah meja.
Agus meringis. Seolah baru tersadar dari mimpi, menatap Herman dan teman-temannya yang lain secara bergantian. Seperti orang bego ia tengadah menatap Bu Ginanti dengan suara ah-eh-oh.
“Maaf ibu tanya apa tadi nggg….”
Teman-temannya yang lain spontan ketawa ngakak. Bu Ginanti melengos berusaha menyembunyikan senyum manisnya dan melangkah ke depan kelas sambil geleng-geleng kepala. Ruangan riuh sesaat dengan tawa anak-anak.
“Bu, kenapa nggak tanya aku aja?” seketika Gilang berteriak mengacungkan tangan, namun yiaaouuwww, matanya mengernyit berusaha tidak mengaduh. Dewi di bangku sebelah mendelik lagi-lagi menancapkan kuku di paha Gilang.
Bu Ginanti menoleh, mengarahkan pandangan. Mata beradu mata, hati belum sampai menyentuh. Gilang klemes-klemes seperti bayi kurang gizi. Kalau Dewi melihat persis: bayi yang telat diteteki ibunya.
“He.. he.. he.. nggak bu. Nggak jadi!” Gilang mendadal gagap. Linglung yang tidak dibuat-buat.
“Lho…??”
Lagi-lagi semua ketawa, bukan ngetawain bu guru Ginanti, tapi tertawa melihat ulah Gilang. Semakin membuatnya pringas-pringis kecut melirik Dewi di samping. Yang dilirik tambah melotot, ih!
Ibu guru Ginanti memang selalu penuh dengan kejutan. Seminggu tidak bertemu, anak-anak sudah pada kangen. Bukan kangen dengan pelajarannya, tapi wajah bu Ginanti itu lho! Semua di kelas seperti merasa cepat bosan tanpa kehadiran bu Ginanti. Waktu terasa begitu lamban berjalan. Jarum jam demikian perlahan detaknya. Seolah tidak bergerak sama sekali. Beberapa anak-anak lebih suka duduk-duduk di luar daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas. Ada yang membolos nangkring di parkiran motor. Ada malah nongkrong di kantin sekolah. Sedemikian hebat pengaruh guru cantik itu.
“Hei..hei, bu Ginanti datang ….bu Ginanti datang….hari ini udah mulai ngajar,” salah seorang anak berteriak memberi kabar.
Dengan lenggak lenggok bu Ginanti terlihat memasuki ruangan kelas Gilang.
Dan apa yang terjadi? Gilang mau ketawa saja melihat kehadiran bu Ginanti kali ini. Penampilannya sangat berbeda. Ada yang berubah. Ya, ada yang lain pada diri bu Ginanti. Rambutnya itu lho. Rambutnya telah berubah jadi kriting. Wow, kian menambah cantik wajahnya. Kian menawan saja penampilannya. Membuat terkagum-kagum. Bu Ginanti memang cantik. Ck..ck..ck….Gilang-lah yang paling semangat mengikuti pelajaran bu Ginanti. Tanpa sadar tangannya mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Lalu tertawa sendiri melihat hasil goresannya sendiri.
“Buat apa itu?” Dewi menoleh curiga. Berusaha ingin merebut kertas yang ada di tangan Gilang. Gilang mengelak dengan cara mengibas tangan pacarnya dan berusaha melipat kertas itu, meremas-remas dan memasukkan di bawah kolong meja.
Memang besar pengaruh bu Ginanti. Ruangan kelas yang semula beberapa bangku terlihat kosong, kini malah penuh, sebagian ada yang duduk bertiga dalam satu bangku. Bahkan dari kelas lainpun ikut-ikutan mengikuti pelajaran bu Ginanti. Mereka rela duduk berhimpitan dalam waktu 2 jam hanya untuk dapat memandang wajah guru cantik itu. Kalau bisa mereka ingin tidak hanya 2 jam pelajaran, bila perlu pelajaran guru lain ganti aja dengan bu Ginanti.
“Iya ganti aja,” Gilang berseloroh. Terbawa khayalannya sendiri.
“Hush, diam! Ngomong apa sih kamu? Tuh dengar bu guru,” Dewi mengingatkan.
“Ada yang bertanya?” Bu Ginanti memandang seisi ruangan. Bu Ginanti rupanya tidak begitu perhatian kalau bangku semua terisi. Nyaris tidak tahu kalau ada siswa kelas lain ikut bergabung di ruangan ini.
“Bu, kalo bisa pelajaran lain ibu aja yang ngisi, gimana?” Gilang acungkan tangan tinggi-tinggi.
“Iya bu, bener bu, ibu saja yang ngajar,” yang lain nyeletuk.
“Iya bu, kalau bisa ibu saja,” terdengar suara anak-anak.
“Iya,..iya….” yang lain ikut-ikutan bersuara, Dan ruangan kembali riuh oleh suara-suara. Bu Ginanti keplok-keplok tangan. Mirip ngajar anak-anak TK. Berarti kalau di ruang sidang senayan para wakil rakyat rapat paripurna dengan acara ngotot-ngototan bahkan sampai adu jotos segala di tonton jutaan rakyatnya, ya bermula seperti ini. Semua bermula dari sekolah, bagaimana cara bu Ginanti mengajar mereka untuk bisa santun ketika mereka nanti sudah duduk jadi anggota dewan wakil rakyat yang terhormat. Keplok-keplok tangan bu Ginanti mampu mendinginkan suasana. Semua bengong kembali seperti sediakala. Semua kena sirep. Dan melongo-longo tersihir, lalu mengangguk-ngangguk, dan segalanya bisa di atur. Demikian sempurna tanpa kurang suatu apapun. Segalanya pasti beres di tangan bu Ginanti.
Hebat!
Memang segalanya bisa beres di tangannya. Tapi untuk yang satu ini ternyata tidak. Kali ini di ruangan kepala sekolah nampak bu Ginanti nangis meraung-raung. Kecantikannya lenyap oleh isak tangis jeleknya. Guru-guru lainnya saling pandang satu sama lain. Sesekali menatap Gilang bak pesakitan duduk tertunduk lesu di ruangan guru. Kepala sekolah nampak memegang kertas bekas remasan tangan yang sedikit kucek seperti ingin menahan senyum.
“Kenapa kamu lakukan ini Lang?” pak Sahid kepala sekolah itu memandang Gilang. Gilang tertunduk lesu. Takut beradu tatap dengan bu Ginanti yang masih terdengar isaknya.
“Saya tidak bermaksud apa-apa, pak Guru. Apalagi mau bikin bu Ginanti sampai menangis.,” Gilang bersuara pelan membela diri. Tatapannya polos. Sepolos tatapan bayi tanpa mengenal dosa. Bagaimana bayi polos, ya seperti itulah tampang Gilang saat ini. Sedikitpun ia tidak merasa bersalah. Hanya saja Gilang merasa aneh. Kenapa kertas yang sudah ia remas-remas dan di buang di tong sampah bisa berada di tangan kepala sekolah. Itu saja keheranan Gilang. Siapa memberikan kertas isengnya itu? Reni, Wawan ataukah Anton sendiri? Ah, Dia jadi bingung. Atau jangan jangan? Ya, jangan jangan pacarnya sendiri yang memberikan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan kepadanya. Iya, jangan jangan………
“Iya, tapi kenapa bu guru Ginanti kamu gambar seperti ini. Coba lihat, aduhhh, kau ini!”
Pak Sahid memperlihatkan kertas yang di gambar oleh Gilang.. Nampak gambar wajah seorang wanita berambut kriting yang di atas bibir wanita itu dibuat goresan menyerupai kumis. Melihat gambar dirinya lagi dipertontonkan di hadapan guru-guru lain, bu Ginanti kembali terisak bahkan semakin keras menangis. Saking tak tahan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya bu Ginanti tidak terlihat lagi di sekolah itu.
Labuapi, September 2011
“Awas kalau tertarik padanya, Dewi nggak mau lagi temenan ama kamu,” Dewi Sinta Prabawati mengingatkan pacarnya yang diam-diam selalu melirik bu guru Ginanti.
Gilang senyum senyum saja di hadapan pacarnya. Nggak mungkinlah Gilang pacaran ama gurunya. Masak murid mau macarin bu guru? Kalau pak guru macarin muridnya yang perempuan sih ada.
“Itu sih karena muridnya yang nakal,” Dewi jadi memperdebatkan masalah pacaran guru dan murid.
“Iya, tapi pak gurunya nakal juga khan? ” Gilang tak mau kalah.
“Muridnya juga kok”
“Gurunya!!!”
“Muridnya!”
“Gurunya! “
“Muridnyaaaaaaaaa…!!!” Dewi berteriak keras.
“Eh, sudah! Sudah! Kok kita jadi bertengkar sih?” Gilang akhirnya senyum senyum mengalah sambil memeluk Dewi. “ Iya muridnya dah!”
“Jelek, pringas-pringis gitu. Jelek! Aku ndak suka laki-laki prangas-pringis. Jelek, tauu!!?? jelek! Jelek!!” Kontan Dewi mencubit pacarnya.
Gilang meringis.
Kalau Bu guru Ginanti sudah berdiri di depan kelas, semua teman-teman pasti terbengong-bengong bagai disihir hingga terkadang sampai lupa kalau pelajarannya sudah selesai.
“Lho, sudah selesai bu?” Anton berkomentar dengan nada kecewa. Yang lain pada mengeluarkan suara-suara tak jelas. Ketika ditanya bu Ginanti, mereka bengong tak bisa menjawab. Tangan bu Ginanti menunjuk ke arah Agus
“Khan udah ibu terangkan tadi,” Bu Ginanti menegaskan lagi sambil mendekati Agus yang duduk di bangku belakang paling pojok. Agus berkeringat. Hanya mengeluarkan suara ah-oh-ah-oh
“Hush, bu Gin nanya tuh,” Reni yang duduk di samping mencuwil lengan Agus. Masih saja Agus seolah terjebak dalam sihir tak mampu menjawab. Matanya hanya menatap bu guru yang cantik itu dengan mulut menganga. Bau wangian parfum yang keluar dari tubuh bu Ginanti semakin membuat Agus kian gelagapan.
“Hei, Gus, mulutmu jangan nganga gitu, dong!” Herman menendang kakinya di bawah meja.
Agus meringis. Seolah baru tersadar dari mimpi, menatap Herman dan teman-temannya yang lain secara bergantian. Seperti orang bego ia tengadah menatap Bu Ginanti dengan suara ah-eh-oh.
“Maaf ibu tanya apa tadi nggg….”
Teman-temannya yang lain spontan ketawa ngakak. Bu Ginanti melengos berusaha menyembunyikan senyum manisnya dan melangkah ke depan kelas sambil geleng-geleng kepala. Ruangan riuh sesaat dengan tawa anak-anak.
“Bu, kenapa nggak tanya aku aja?” seketika Gilang berteriak mengacungkan tangan, namun yiaaouuwww, matanya mengernyit berusaha tidak mengaduh. Dewi di bangku sebelah mendelik lagi-lagi menancapkan kuku di paha Gilang.
Bu Ginanti menoleh, mengarahkan pandangan. Mata beradu mata, hati belum sampai menyentuh. Gilang klemes-klemes seperti bayi kurang gizi. Kalau Dewi melihat persis: bayi yang telat diteteki ibunya.
“He.. he.. he.. nggak bu. Nggak jadi!” Gilang mendadal gagap. Linglung yang tidak dibuat-buat.
“Lho…??”
Lagi-lagi semua ketawa, bukan ngetawain bu guru Ginanti, tapi tertawa melihat ulah Gilang. Semakin membuatnya pringas-pringis kecut melirik Dewi di samping. Yang dilirik tambah melotot, ih!
Ibu guru Ginanti memang selalu penuh dengan kejutan. Seminggu tidak bertemu, anak-anak sudah pada kangen. Bukan kangen dengan pelajarannya, tapi wajah bu Ginanti itu lho! Semua di kelas seperti merasa cepat bosan tanpa kehadiran bu Ginanti. Waktu terasa begitu lamban berjalan. Jarum jam demikian perlahan detaknya. Seolah tidak bergerak sama sekali. Beberapa anak-anak lebih suka duduk-duduk di luar daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas. Ada yang membolos nangkring di parkiran motor. Ada malah nongkrong di kantin sekolah. Sedemikian hebat pengaruh guru cantik itu.
“Hei..hei, bu Ginanti datang ….bu Ginanti datang….hari ini udah mulai ngajar,” salah seorang anak berteriak memberi kabar.
Dengan lenggak lenggok bu Ginanti terlihat memasuki ruangan kelas Gilang.
Dan apa yang terjadi? Gilang mau ketawa saja melihat kehadiran bu Ginanti kali ini. Penampilannya sangat berbeda. Ada yang berubah. Ya, ada yang lain pada diri bu Ginanti. Rambutnya itu lho. Rambutnya telah berubah jadi kriting. Wow, kian menambah cantik wajahnya. Kian menawan saja penampilannya. Membuat terkagum-kagum. Bu Ginanti memang cantik. Ck..ck..ck….Gilang-lah yang paling semangat mengikuti pelajaran bu Ginanti. Tanpa sadar tangannya mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Lalu tertawa sendiri melihat hasil goresannya sendiri.
“Buat apa itu?” Dewi menoleh curiga. Berusaha ingin merebut kertas yang ada di tangan Gilang. Gilang mengelak dengan cara mengibas tangan pacarnya dan berusaha melipat kertas itu, meremas-remas dan memasukkan di bawah kolong meja.
Memang besar pengaruh bu Ginanti. Ruangan kelas yang semula beberapa bangku terlihat kosong, kini malah penuh, sebagian ada yang duduk bertiga dalam satu bangku. Bahkan dari kelas lainpun ikut-ikutan mengikuti pelajaran bu Ginanti. Mereka rela duduk berhimpitan dalam waktu 2 jam hanya untuk dapat memandang wajah guru cantik itu. Kalau bisa mereka ingin tidak hanya 2 jam pelajaran, bila perlu pelajaran guru lain ganti aja dengan bu Ginanti.
“Iya ganti aja,” Gilang berseloroh. Terbawa khayalannya sendiri.
“Hush, diam! Ngomong apa sih kamu? Tuh dengar bu guru,” Dewi mengingatkan.
“Ada yang bertanya?” Bu Ginanti memandang seisi ruangan. Bu Ginanti rupanya tidak begitu perhatian kalau bangku semua terisi. Nyaris tidak tahu kalau ada siswa kelas lain ikut bergabung di ruangan ini.
“Bu, kalo bisa pelajaran lain ibu aja yang ngisi, gimana?” Gilang acungkan tangan tinggi-tinggi.
“Iya bu, bener bu, ibu saja yang ngajar,” yang lain nyeletuk.
“Iya bu, kalau bisa ibu saja,” terdengar suara anak-anak.
“Iya,..iya….” yang lain ikut-ikutan bersuara, Dan ruangan kembali riuh oleh suara-suara. Bu Ginanti keplok-keplok tangan. Mirip ngajar anak-anak TK. Berarti kalau di ruang sidang senayan para wakil rakyat rapat paripurna dengan acara ngotot-ngototan bahkan sampai adu jotos segala di tonton jutaan rakyatnya, ya bermula seperti ini. Semua bermula dari sekolah, bagaimana cara bu Ginanti mengajar mereka untuk bisa santun ketika mereka nanti sudah duduk jadi anggota dewan wakil rakyat yang terhormat. Keplok-keplok tangan bu Ginanti mampu mendinginkan suasana. Semua bengong kembali seperti sediakala. Semua kena sirep. Dan melongo-longo tersihir, lalu mengangguk-ngangguk, dan segalanya bisa di atur. Demikian sempurna tanpa kurang suatu apapun. Segalanya pasti beres di tangan bu Ginanti.
Hebat!
Memang segalanya bisa beres di tangannya. Tapi untuk yang satu ini ternyata tidak. Kali ini di ruangan kepala sekolah nampak bu Ginanti nangis meraung-raung. Kecantikannya lenyap oleh isak tangis jeleknya. Guru-guru lainnya saling pandang satu sama lain. Sesekali menatap Gilang bak pesakitan duduk tertunduk lesu di ruangan guru. Kepala sekolah nampak memegang kertas bekas remasan tangan yang sedikit kucek seperti ingin menahan senyum.
“Kenapa kamu lakukan ini Lang?” pak Sahid kepala sekolah itu memandang Gilang. Gilang tertunduk lesu. Takut beradu tatap dengan bu Ginanti yang masih terdengar isaknya.
“Saya tidak bermaksud apa-apa, pak Guru. Apalagi mau bikin bu Ginanti sampai menangis.,” Gilang bersuara pelan membela diri. Tatapannya polos. Sepolos tatapan bayi tanpa mengenal dosa. Bagaimana bayi polos, ya seperti itulah tampang Gilang saat ini. Sedikitpun ia tidak merasa bersalah. Hanya saja Gilang merasa aneh. Kenapa kertas yang sudah ia remas-remas dan di buang di tong sampah bisa berada di tangan kepala sekolah. Itu saja keheranan Gilang. Siapa memberikan kertas isengnya itu? Reni, Wawan ataukah Anton sendiri? Ah, Dia jadi bingung. Atau jangan jangan? Ya, jangan jangan pacarnya sendiri yang memberikan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan kepadanya. Iya, jangan jangan………
“Iya, tapi kenapa bu guru Ginanti kamu gambar seperti ini. Coba lihat, aduhhh, kau ini!”
Pak Sahid memperlihatkan kertas yang di gambar oleh Gilang.. Nampak gambar wajah seorang wanita berambut kriting yang di atas bibir wanita itu dibuat goresan menyerupai kumis. Melihat gambar dirinya lagi dipertontonkan di hadapan guru-guru lain, bu Ginanti kembali terisak bahkan semakin keras menangis. Saking tak tahan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya bu Ginanti tidak terlihat lagi di sekolah itu.
Labuapi, September 2011
SORGAMU CERITA YANG TAK SAMPAI
: dimana sorga itu,?
Sepanjang jalan engkau datang membagi bagikan cinta dengan cerita yang selalu sama
sepanjang jalan engkau datang menjanjikan kebahagiaan, seolah orang-orang yang kau datangi
tidak bahagia yang terkungkung dalam kedahagaan cinta kasih, sebahagia hidupmu
angin lalu di tubuh yang kering, tapi engkau tak pernah kekeringan cinta
hampir tak pernah, itu katamu. Tapi aku sering tidak percaya.
Setiap malam ada saja yang datang mengantarkan janji
karaoke, diskotik, pesta miras, sabhu-sabhu, sedikit suntikan ataupun menari bugil
aku suka itu,
hanya mimpi sekejap!
dan kau katakan sebuah kepuasan bukan berakhir dalam mata uang dan birahi
hanyalah sekadar menimpali rasa jenuh dalam kegilaan yang terikat
oleh agama dan segala tetek bengek larangan bermulut bau : akan dogma yang kabur
ah, engkau mabuk, kawan!
pernahkah kita jumpa menunda perjanjian yang pernah kita buat sebelumnya
engkau mengangguk dan berkata “ belum saatnya bertobat!”
ceritamu membuat aku geli dan berhasrat ingin membawakan sebuah sorga yang terbuat dari
sofa dan mesin perekam sahwat yang disusun dalam kantung-kantung pengkhianatan kebenaran
engkau tertawa:
“jangan kau bohongi hati kecilmu, bila nyali masih membengkak dalam angan”
aku mengangguk menatap senja yang siap bergumul dengan lampu peradaban menjelang malam
mengubah kebohongan menjadi sorga sesaat
dimana sorga itu?
Sepanjang jalan engkau datang membagi bagikan cinta dengan cerita yang selalu sama
sepanjang jalan engkau datang menjanjikan kebahagiaan, seolah orang-orang yang kau datangi
tidak bahagia yang terkungkung dalam kedahagaan cinta kasih, sebahagia hidupmu
angin lalu di tubuh yang kering, tapi engkau tak pernah kekeringan cinta
hampir tak pernah, itu katamu. Tapi aku sering tidak percaya.
Setiap malam ada saja yang datang mengantarkan janji
karaoke, diskotik, pesta miras, sabhu-sabhu, sedikit suntikan ataupun menari bugil
aku suka itu,
hanya mimpi sekejap!
dan kau katakan sebuah kepuasan bukan berakhir dalam mata uang dan birahi
hanyalah sekadar menimpali rasa jenuh dalam kegilaan yang terikat
oleh agama dan segala tetek bengek larangan bermulut bau : akan dogma yang kabur
ah, engkau mabuk, kawan!
pernahkah kita jumpa menunda perjanjian yang pernah kita buat sebelumnya
engkau mengangguk dan berkata “ belum saatnya bertobat!”
ceritamu membuat aku geli dan berhasrat ingin membawakan sebuah sorga yang terbuat dari
sofa dan mesin perekam sahwat yang disusun dalam kantung-kantung pengkhianatan kebenaran
engkau tertawa:
“jangan kau bohongi hati kecilmu, bila nyali masih membengkak dalam angan”
aku mengangguk menatap senja yang siap bergumul dengan lampu peradaban menjelang malam
mengubah kebohongan menjadi sorga sesaat
dimana sorga itu?
DOA BERDOSA
Adakah yang lebih berarti dari doa
manakala kata kau panjatkan sebagai sebuah makna
pelampiasan benak diri meruang atas segala kesal
dalam pamrih tak jelas
penantian nan panjang, apakah akhir sebuah dosa
setiap kau sebut sorga, senantiasa tobat diri untuk mencapainya
menobatkan keikhlasan,pasrah diri sebagai perdamaian diri dalam kenyamanan
membatasi segala ruang gerak
yang tidak tercapai capai
kendati jiwa menghendaki
Adakah yang lebih berarti dari doa
manakala segala sesuatu yang tercapai hanyalah limpahan sementara
yang berakhir pada sebutan
kutahu dalam doamu masih bersarang angka angka, klimaks ratapan, belenggu resah
menghantui kecemasan
kau sebut: hanya menjalankan kata terucap sebagaimana dilidahkan sang pendahulu
yang lebih memilih makna ketimbang berpihak pada kejanggalan akhlak
Apakah makna doamu ketika ada bisikan halus untuk berdosa
sembarang lidah terucap diluar pemikiran selintas dalam perbuatan sekilas
yang dibenarkan doamu?
manakala kata kau panjatkan sebagai sebuah makna
pelampiasan benak diri meruang atas segala kesal
dalam pamrih tak jelas
penantian nan panjang, apakah akhir sebuah dosa
setiap kau sebut sorga, senantiasa tobat diri untuk mencapainya
menobatkan keikhlasan,pasrah diri sebagai perdamaian diri dalam kenyamanan
membatasi segala ruang gerak
yang tidak tercapai capai
kendati jiwa menghendaki
Adakah yang lebih berarti dari doa
manakala segala sesuatu yang tercapai hanyalah limpahan sementara
yang berakhir pada sebutan
kutahu dalam doamu masih bersarang angka angka, klimaks ratapan, belenggu resah
menghantui kecemasan
kau sebut: hanya menjalankan kata terucap sebagaimana dilidahkan sang pendahulu
yang lebih memilih makna ketimbang berpihak pada kejanggalan akhlak
Apakah makna doamu ketika ada bisikan halus untuk berdosa
sembarang lidah terucap diluar pemikiran selintas dalam perbuatan sekilas
yang dibenarkan doamu?
BELAJAR MEMAHAMI DOA
Kegarangan inilah yang senantiasa
membayangi kita untuk bertahan
sebagai peradaban zaman
yang melepuh kejatidirian
di atas langit pekat
bulan termamah kalarahu karenanya
hidup atas jejalan dosa berlebih di belantara karma
hutan hutan belantara kata-kata dalam menghakimi, diammu
pahamilah isyarat Tuhan, ketika bencana ini dianggap sebagai umpatan
tapi jangan keliru kenapa doa-doa belum sampai padaNya
senantiasa kita menanam bayang bayang itu dalam kecemasan yang dalam
sesadar akan waktu dari penyesalan, hausnya matahati menganggap akhirat
sebagai pelepasan dahaga duniawi
kegarangan ini membuat kita belajar
bertahan untuk menjaga ketakutan
sebagai musim
menjaga musim
yang alpa huruhara
membayangi kita untuk bertahan
sebagai peradaban zaman
yang melepuh kejatidirian
di atas langit pekat
bulan termamah kalarahu karenanya
hidup atas jejalan dosa berlebih di belantara karma
hutan hutan belantara kata-kata dalam menghakimi, diammu
pahamilah isyarat Tuhan, ketika bencana ini dianggap sebagai umpatan
tapi jangan keliru kenapa doa-doa belum sampai padaNya
senantiasa kita menanam bayang bayang itu dalam kecemasan yang dalam
sesadar akan waktu dari penyesalan, hausnya matahati menganggap akhirat
sebagai pelepasan dahaga duniawi
kegarangan ini membuat kita belajar
bertahan untuk menjaga ketakutan
sebagai musim
menjaga musim
yang alpa huruhara
Langganan:
Postingan (Atom)
