Nyoman memandang es kelapa muda di hadapannya dengan mulut membisu. Minuman itu tidak lagi menawarkan kesejukan di kerongkongan, seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, hambar! Pikirannya kacau. Ada perasaan gelisah dalam benaknya, Lagi kangen? Kangen dengan siapa, Neni? Busyet, sudah terlalu sering bertemu, bahkan saking seringnya sampai membosankan, pikirnya.
Mimpi tadi malam membuatnya trenyuh. Konon kalau lagi bermimpi naik sepeda, naik bis beramai-ramai atau mengendarai kendaraan atau mimpi bertarung, apa lagi bermimpi naik pesawat terbang. Itu artinya sudah memulai babak baru dalam hidup dengan tantangan ilmu halus. Atau sebuah pertarungan yang tidak kelihatan, istilahnya orang ”nyabuk”, sejenis ikat pinggang berisi ilmu kekebalan tubuh, sehingga pada saat pertarungan berlangsung dengan musuh hanya sabuknya saja yang terbang, begitu kata orang pintar. Tapi itu dalam mimpi yang menurut pendapat orang tua Nyoman, terutama ayahnya pernah mengatakan kita akan siap menjadi ayam aduan.
”Ayam aduan?” tanya Nyoman tidak mengerti. Bagaimana kita yang sudah terlahir lebih sempurna dari hewan kok justru harus menjadi ayam kembali. Dan ayam aduan lagi. Nyoman semakin tidak mengerti dibuatnya.
Nyoman kemudian ingat akan cerita ayahnya dalam pengalaman bertarung seperti apa yang menjadi tradisi dalam keluarga leluhurnya yang telah digariskan secara turun temurun. Lalu ia diberikan ”gegemet”, semacam kesaktian oleh kakeknya menjelang usianya yang menginjak dewasa.
”Bawalah ini cucuku,” ujar kakek itu dengan suara parau berat.
”Buat apa kek, sekarang ’kan bukan jaman perang lagi?” Nyoman mengelak walau tidak berusaha untuk menolak. Jaman sekarang justru yang gentayangan adalah demontrasi,dimana-mana, di jalanan, di depan gedung DPR.Denyut nadi jalanan dipenuhi teriakan ketidak adilan yang berujung pada demontrasi, perang ekonomi sesama negara bahkan di dalam negara itu sendiri, perang ekonomi dalam bathin sesama tetangga, itu yang lebih hebat. Lha buat apa benda yang disebut ”gegemet” ? Nyoman melongo. Tidak mengerti.
“Sekarang ini jaman memerangi diri dari kebodohan dan sasarannya adalah generasi muda dalam wujud pendidikan, memerangi narkoba, racun dunia para generasi muda, sekarang ini jaman memerangi korupsi, kek,” Nyoman menjelaskan.
“Anak bodoh! Sok pintar kamu!” kakeknya mendamprat, suaranya terdengar keras. Matanya mendelik seperti mata barong, jidatnya mengkerut seperti buntelan kain kusut. Ditarik jenggotnya dengan tangannya yang kisut masih menyisakan otot-otot kekar, kejantanan yang membayang jelas ketika muda dulu.
Nyoman terkejut, baru kali ini merasakan hawa panas kemarahan orang tua yang disebutnya kakek.
Kakek memang keras, ia pernah dengar cerita ayahnya. Kalau kakek bisa terbang, menjadi api di ketinggian pohon kelapa, mampu menghentikan hujan yang demikian lebat disertai gemuruh sangat hebat, bahkan mampu mendatangkan hujan. Bisa berubah-ubah jadi apa saja bahkan bisa menghilang. Karenanya orang-orang kampung mengetahui kalau kakeknya sakti mandraguna.
Nyoman mempunyai empat orang nenek yang di usia tuanya masih mengguratkan kecantikan masa remaja dulu, itu berarti kakeknya sewaktu muda memang ganteng. Saking gantengnya empat wanita bertekuk lutut di hadapannya. Barangkali ada hubungannya dengan ilmu yang dimiliki kakek. Yang jelas Nyoman pun merasakan kalau dirinya mirip kakek, sekalipun ibunya Nyoman hanya satu sepertinya ayah tidak mengikuti jejak kakek. Tapi ntar dulu, wah, jangan-jangan nanti malah dirinya yang akan beristri banyak setelah mewarisi ilmu itu. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Nyoman tidak suka itu, lihat saja nenek-neneknya. Semua rada-rada: cerewet minta ampun!! hampir sekampung gempita oleh suara nenek-nenek bawel. Bagaimana nanti kalau Nyoman menambah isi rumahnya dengan banyak Neni-Neni lain? Ah, akan bisa seperti pasar kampung ini dibuatnya. Nyoman galau dan hanya geleng-geleng kepala.
”Justru karena tidak ada perang kamu harus lebih siaga!!
Nyoman tersentak kaku, kakeknya masih marah.
”Lho?!” celetuknya kaget.
”Hei, Nyoman goblok! Di jaman perang dulu yang kita hadapi adalah musuh-musuh, yang kita pertahankan adalah negara dan harga diri sebagai seorang manusia. Musuh itu jelas terlihat dan kita hadang dengan gagah berani. Sekarang ini justru perang dalam bentuk lain. Semuanya menjadi musuh dalam wajah yang terlihat berperingai penuh dengan persahabatan. Ini justru lebih parah daripada perang yang sesungguhnya. Karena senjatanya bersentuhan lewat angin.Tanpa kita rasakan apa-apa besok muntah darah, lalu matanya mendelik dan perutnya kejang, kemudian menjerit dan mati!”
Nyoman menjadi tidak mengerti dengan ucapan kakeknya, tapi bergidik juga dibuat.
”Terimalah dan bawa amanat keluarga ini,” suara kakek serius.
Nyoman menerima bungkusan kain putih kekuning-kuningan agak kusam dan sangat kumal saking lamanya tidak tercuci. Barangkali memang tidak boleh kena air dan sabun. Ketika bungkusan itu dibuka dadanya berdebar-debar, isinya macam-macam. Ada kepingan uang logam dirajah.
Tiba-tiba Nyoman ingat ketika dulu pernah mengantar temannya ke dukun untuk mencari “pelet”, karena temannya Ketut Lungsur tertarik pada bidadari teman sekelasnya .Lalu si dukun pelet itu memberikan kepingan uang logam persis seperti yang diberikan kakeknya ini. Alhasih, Ketut Lungsur ibarat pangeran bertemu permaisuri dalam pelukan asmara sampai melahirkan beberapa orang anak Jelas kepingan uang logam itu mampu menunjukkan khasiatnya.
Nyoman senyum-senyum ingat kisah temannya. Ia jadi geli sendiri. Dilihat sekali lagi isi bungkusan itu,ada sebilah keris kecil, ada batu-batu dan entah apa lagi isinya. Barangkali ini yang mampu membuat kakeknya terbang.
”Apakah keris ini mampu membikin saya menjadi seorang sarjana yang mampu merakit pesawat terbang,” pikir Nyoman sambil menimang-nimang benda langka itu.
”Kenapa tidak?” suara kakeknya terdengar menggelegar di telinga Nyoman, seperti tahu jalan pikiran Nyoman.
Tiba-tiba keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Jiwanya bergetar dan perasaan takut menghantui bathinnya. Apa benar yang didengar dari cerita-cerita orang kampung, bahkan cerita ayahnya, kalau kakek benar-benar sakti. Rasanya teknologi canggih jaman sekarang ini pun belum mampu mendeteksi apa yang ada dalam pikiran seseorang.
Akhirnya Nyoman bermuara pada satu kesimpulan utuh, bulat serta tidak bisa di tawar-tawar lagi, bahwa kakeknya memang ”sakti” dan itu telah ia buktikan sendiri kebenarannya.
”Justru di saat kamu telah menjadi sarjana dan lebih-lebih lagi telah memperoleh kedudukan yang bagus, nantinya kamu akan bertemu dengan sebuah peperangan yang menarik. Pertempuran yang tidak adil bahkan sering tidak seimbang. Senjata-senjata aneh merasuk ke badan, berseliweran bagai pecahan-pecahan meteor. Mau jadi sasaran senjata? Atau badanmu kena peluru nyasar tanpa kamu ketahui sumbernya dari mana?” tanya kakek sambil melirik Nyoman.
Nyoman meringis setengah bergidik.
”Itu berarti kalau saya membawa alat ini, akan menjadi sakti ya,kek?”
Kakek manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya.
Nyoman sekali lagi memandang es kelapa muda di hadapannya. Sekali lagi kegelisahannya yang timbul bukan karena Neni. Yang pasti Neni ada dalam keadaan baik-baik. Mimpinya telah menjadi kenyataan, ia ibarat ayam aduan yang tengah mengincar leher musuhnya hingga kepala musuhnya terengah-engah kesulitan napas. Hanya dengan satu tusukan ”taji” yang ia gambarkan dalam wujud sebilah keris, musuhnya mengerang kesakitan dan darah mengucur deras membasahi tanah kampung. Nyoman beringas dan seperti ayam ia berkokok lantang, ”musuhku mati!” teriaknya penuh semangat kemenangan.
Menjelang matahari terbit di ufuk timur kampung, dilihatnya seisi keluarga pada menangis histeris. Tubuh ayahnya terbujur kaku di bale gede ditangisi ibunya, adik-adiknya, kakaknya, saudara-saudara yang lain, saudara-saudara ayahnya dan entah siapa lagi. Nyoman merasa menyesal dan sangat terpukul! Apakah taji yang tergambar dalam wujud keris yang ia lepas bertubi-tubi telah menghantam tubuh ayahnya? Apakah ia salah sasaran sebagaimana yang digambarkan kakeknya seperti sebuah peluru nyasar yang menyisir setiap lawan? Malam terlalu gelap. Tidak menyembunyikan kepekatan. Kegelapan yang tak mampu membedakan mana kawan. Mana lawan.
”Ayahmu telah menjadi pecundang, bahkan berkali-kali. Tapi yang kali ini telah merengut nyawanya,” lagi-lagi suara kakeknya.
”Seharusnya kakek menurunkan ilmu dan pusaka-pusaka ini kepada ayah,” Nyoman melemparkan penyesalan kepada kakeknya.
”Ayahmu menolak menjadi ”tameng” bagi kejayaan leluhur kita, ia lebih menyukai segala bentuk pekakas berupa obeng, engkol, kunci tang, palu, pacul dan lain-lain bagi kelengkapan kerjanya,” ujar kakek.
Nyoman tercenung antara percaya dan tidak. Sulit diakui.Logika yang tidak jelas antara leluhur yang memperlakukan manusia keturunannya sebagai rangkaian tradisi bersusun simetris dalam diagram yang menyatu menjadi kebiasaan-kebiasaan dengan letupan-letupan dahsyat, maha dahsyat di alam modern yang merambah pada asas kenyataan berdasarkan observasi-observasi yang selama ini ia lakukan demi melawan arus yang terkesan sangat ortodoks. Ini sangat bertentangan dengan jiwa Nyoman. Namun mau bilang apa? Yang pasti nasib manusia sudah ditentukan jalanNya. Hanya Tuhan yang mengetahui kapan kita harus mati tanpa bisa ditawar-tawar, tanpa bisa ditangguhkan oleh sejenis “gegemet” berupa uang logam, ilmu kesaktian, sebilas keris dan lain-lain.Tuhan tidak memberikan jalan negosiasi bagi kematian kita. Dan yang Nyoman tahu, data-data pada medical record rumah sakit diagnosanya sudah jelas. Terlampau sangat jelas. Ayah menderita leukemia yang sangat ganas.
Nyoman jengkel. Malam itu juga dia buang jauh-jauh ke tengah laut bungkusan putih agak kekuning-kuningan sedikit kumal dan kusam karena jarang di cuci. Biar air laut sekalian yang mencuci, gerutunya geram. Kalaupun besok seperti kata kakek seandainya dia hidup sukses dan memperoleh kedudukan yang bagus, segalanya akan dia serahkan pada Tuhan. Serahkan saja semuanya pada beliau Itu kata-kata yang ada dalam mimpi Nyoman berikutnya untuk dijadikan wangsit leluhur.Ah, sudahlah........Nyoman tidak mau mimpi tentang pertarungan yang dahsyat ataupun bertarung dalam kegelapan
Jumat, 23 September 2011
Kamis, 22 September 2011
NANANG
A tenga kenehné Nyoman ngoyot és kuwud di warung bucun umahné, bibihné munjung nengil. És ento tusing ngaé seger kolonganné, buka cara ibi, campah karasa! Bayuné inguh. Uyang paling kenehné, angen? Ngulangunin nyén, Néni? Badah, sai suba matemu. Bes sabilang wai tepuk masé ngaé wadih.
Ipian ibi peteng ngaé bayunné inguh. Lamun ngipi menék sepéda, menék bis ramé-ramé, negakin montor wiadin ngipi masiat, apabuin ngipi menék kapal terbang. Ento artiné suba ngawitin idup matantang baan nyalanang wisésa. Masiat di peteng buka anaké ngorahang “nyabuk”, kawisésan marupa bebadong, rikala mesiat ngarepin musuh, bebadongé dogén ané sinah luas makeber. Kéto raos anak tua pidan. Anak tua ané ngorang saja-saja ririh. Nanging ento ipian reramané Nyoman. Nanangné taén nutur, ia satmaka siap aduan.
“Siap aduan?” Nyoman sada tusing precaya ningeh satuan nanangné. Éngkén buka raga suba lekad lebian paripurna kabanding buron ngudiang buin nglekas dadi siap. Siap aduan koné buin. Nyoman ngancan sing ngerti.
Nyoman inget satuan nanangné taén masiat cara tradisi kulawarga para panglingsirné ané suba magaris turun-temurun. Lantas nganggo “gagemet”, cara kesaktian ané orahanga pekakné sukat ia menék teruna. Suba anggapa kelih bisa nampi munyi cara anak kelih.
“Ené jani aba,” pekakné ngwangsitin.
“Anggon gena né, kak? Jani tusing enu jamanné anak masiat. Apa buin nganggo kakéné!” Nyoman nyampahin yadiapin makita nampi. Nampi ulian ningalin barang tawah-tawah kéto. Jaman jani satata ané gentayangan buka démontrasi, dija-dija ké, di rurungé, di aep gedung DPR. Denyut nadi rurungé bek anaké pada majéjér ngundukang “ketidakadilan” nyerit-nyerit metoh ulian démontrasi, cerik-ceriké ané démo masé milu polos pangus ulian nasi abungkus. Ené maadan perang ékonomi puru isin gumi nganti ka tengahin guminé, perang ékonomi di sajaba keneh puru pisaga, ento ané daat kabinawa. Béh ené jani lakar anggo gena bebadongé? Nyoman momot. Tusing ngerti.
“Jaman jani anaké nglawan baan belog lan sasarané generasi muda kawujudang baan pendidikan, merangin narkoba, racun gumi teruna-teruniné. Jamané jani jaman nglawan korupsi, kak,” Nyoman nuturin pekakné cara anak cetu. Cenik tua.
“Ené sajan jelema belog! Mapi-mapi ririh, cai!” pekakné nengkik, munyiné keras madingehan. Matané nelik cara matan barong, gidatné malipet cara buntelan kain gringsut. Sambil ngedeng-ngdeng jénggotné. Liman pekaké suba sada kisut nyisaang siteng uatné dugas teruna pidan. Muani tulén tedas enu sinah dugasé pekak nyalanang teruna siteng magueng.
Nyoman tangkejut, tumbén jani ngrasaang beeng ulian pedih nak lingsir ané kaukin I Pekak.
Pekak mula saja sajan kekeh, bikasné meuat kawat mebalung besi kéwala kolongané masé buka kawat. Kenyat! ia taén ningeh satua nanangné. Lamun pekakné sujatiné bisa makeber, nambung tegeh dadi api di duur punyah nyuhé, nyidang ngrérénin ujan ané bales misi makrébékan. Manyama ajak kilap, nganti nyidang nekaang ujan. Bisa nglekas dadi apa gén, lan bisa masé ngilang. Karana ento anaké di désa nawang lamun pekakné seken-seken jelema aéng. Kabinawa. Wisésa. Takutiné ajak musuh-musuhné. Ané ngenah tur ané sing ngenah. Bisa maya-maya. Kéwala tidong mayadanawa! Péh, kedék ka tundun Nyoman. Mekita ngrikik, nanging enu masé ngelah tatakrama. Sing dadi ngedékin anak tua, apabuin ento pekak padidi. Nyén nawang seken-seken satuan nanangné ento.
Nyoman ngelah dadong papat ané suba lingsir nanging enu masé nyunarang sisan-sisan jegegné dugasé bajang pidan, ento artiné pekakné dugasé teruna pidan nak sajan-sajan mula bagus. Saking bagusné buka patpat nak luh nyelepeteg di aepné. Mirib ulian kawisésan ané gelahang i pekak. Tendasné Nyoman masé ngerasa ibané mesiib pekak bedik, apabuin Nyoman mamémé tuah aukud. Asanang nanangné sing nyak milunin bikas pekakné, ané demen ngelua. Nanging, nden malu, mimih, eda-eda nyanan bisa ibané ané lakar liu ngelah somah, sasubané ngwarisin kesaktian ento. Nanging joh di kenehné ané seken-seken sajan, Nyoman ngelidin bikas buka kéto. Tolih ja makejang dadongné. Makejang nyényé. Désané lakar uyut baan munyi anak lingsir nyényé. Ngéngkén lamun mani Nyoman ngebekin isin umahné baan Néni-Néni lénan? Béh, lakar bisa cara peken dadiné isin baléné. Nyoman sangsaya. Kitak-kituk. Nget jeg bagus gati pekakné teruna pidan nganti patpat ngelah kurenan. Mula ké i pekak madasar play boy, apa masé krana nyalanang bebadong maranén aji pangegér?
“Krana tusing ada perang setata cai anggo nyagaang déwék!!”
Nyoman ngancan tangkejut, enu pedih pekakné.
“Mimih?!” Nyoman ngancan ketug-ketug bayuné.
“Wé, Nyoman belog! Di jaman perang pidan ané nglawan musuh-musuh, ané jaga nyagaang gumi lan ngajiang déwék buka jelema biasa. Musuhé ento tedas ngenah lan i raga mesiat ngadokang wanén. Jani mesiatné nganggo cara lén. Makejangan dadi musuh tur ngelah daya patuh, kéwala muané polos kadirasa akur matimpal. Ené ané seken-seken daat kabanding masiat ané seken-seken masiat. Krana senjatané mapas angin. Tusing ngarasaang apa-apa dapetang buin mani ngutah getih, lantas matane nelik lan basangné kekeh, panyuudné nyerit lantas ngasén!”
Nyoman tusing ngerti ngenehang munyin pekakné, nanging ngaé jejeh ati.
“Tampi lan aba amanat kulawerga ené!” magumana pekakné ngraos.
Nyoman nampi buntilan kain mawarna putih kekuning-kuningan sada burem lan kumel saking makelo tusing taén maumbah. Mirib mula tusing dadi kena yéh lan sabun. Rikala buntilan kabukak tangkahné gedur-gedur, ngéndah isiné. Misi pipis merajah. Misi batu-batuan mawarna magenep. Apa kadén buin isiné.
Ujug-ujug Nyoman inget pidan dugas taén ngateh timpalné luas ngalih aji pangegér krana timpalné Ketut Lungsur makeneh ajak luh jegég timpal sekelasné. Lantas balian pangegér ento ngemaang buntilan misi pipis logam mirib cara ané baanga pekakné jani. Ketut Lungsur kadirasa Rejuna matemu dedari kagelut smara nganti ngelah panak. Tedas pesan pipisé ento meranén.
Nyoman kenyem-kenyem inget timpalné. Kerasa ginik padidi. Katlektekin buin cepok isin buntelan ento, ada keris bawak meluk lima, ada batu-batu lan apa kadén buin isiné. Mirib ené ané ngranang pekakné ngindang makeber peteng. Apija makeber boya madamar, nak galang koné sinah makejang isin guminé. Seken kabinawa!
“Apa kerisé ené ngidang ngaé tiang dadi sarjana ané dueg ngakit kapal terbang buka pagaén pak Habibi?” Nyoman ngenehang sambilanga ngusud perabot kuna ento.
“Ngudiang sing?” munyin pekakné dingeh ngrébék di kupingné Nyoman, cara nawang apa ada di kenehné Nyoman.
Nadak peluh matah ngetél neréstés uli awakné. Bayuné ngetor nyajang pesu gerapné. Apa seken ané taén dingeh uli satuan anaké di désa, apabuin satuan nanangné, sujatiné pekakné wisésa seken-seken kabinawa. Asané téknologi canggih cara janiné kondén nyidang ngadétéksi apa ané ada di keneh anak. Bisa mamaca keneh anak lén. Cutetné sesuban ngabuktiang raos pekakné ento, Nyoman sing nyidang buin makelid. Kabukti sujati pekakné mula saja-saja wisésa. Ento suba kabuktiang padidi.
“Sedek cai suba maadan sarjana kasub lan suba langkung maan jabatan ané melah, lakarang cai matemu modél pesiatan ané garjita. Pesiatan sing tan baatné anéh lan sai tepukin tusing adung ané madan mesiat. Senjata-senjata tawah nyelesek ka awak, kema-mai buka batu météor cerik ané belah-belah. Nyak dadi cundang cai? Wiadin awak cainé kena peluru cai kal tusing tawang uli dija kadén tekané?” pekak matakon sambilanga nyeledét Nyoman.
Nyoman ngikis sing suud-suud ngetor. Saja ada kéto? Nyoman sing nawang.
“Ento artiné lamun tiang ngaba perabot tenénan lakarang dadi teruna sakti aa kak?”
Pekak anggut-anggut sambilanga ngusud janggutné.
Nyoman buin nletekang és kuwud di arepné. Ngancan mulisah boya ja ulian Néni. Gagélane i Néni cundekné kapineh melah. Ipiané ibi sanja buka nak nadi. Pekakasné buka maurip, kadirasa siap aduan ané sedeng ngincer baong musuhné nganti endas musuhné ento selegek-selegek. Angkihané baat. Tuah nebek acepokan sajan “tajiné” ané kagambar baan lawatan keris mangan, musuhné ngasén tur getih anyar ngetél makembengan di natah pedésan. Nyoman kerasa gemes pesan nebek musuhné, ”musuh cangé suba bangka!” nyerit ia nglekas siap ngruyuk merkak merasa prewira.
Nuju endag surya, nyisir di galang kangin pedésan, dapetang tepuk makejang nyama braya pada sigsigan ngeling. Awak nanangné kekeh nengkayak di balé gedé pangelingina tekén méméné, adi-adi makejang, beliné, lan nyama ané lénan, ada masé nyama ulian nanangé tur nyén kadén buin bakat tingalin. Makejang sebet. Nyoman ngerasa nyesel ring déwék! Apa taji ané magambar marupa kadutan ané bakat aud tur kaentungang sing suud-suud suba mragatang atman nanangné? Apa pelih sasaran buka pinutur pekakné sekadi ‘peluru nyasar’ ané nebekin sabilang musuh ané ngentas? Petengé bas dedet. Tusing mengkeb malawat denges. Dedet ané sing nyidang ningalin encen koné timpal. Encen koné musuh.
“Nanang cainé dadi cundang, ping kudang-kudang. Nanging jani lacur tepuk nganti ngaud uripné,” buin munyin pekakné padingeh.
“Pantesné pekak nedunang aji-ajian lan pusakané ento ring i bapa,” Nyoman ngentungang sesel sing kodag-kodag.
“Nanang cainé tusing nyak nampi dadi “tameng” cara kaprawiran panglingsir i raga, pragat iteh ngitungang perabot marupa obéng, engkol, kunci tang, palu, pacul tur ané lénan anggon geginané idup,” nutur i pekak.
Nyoman mamung ulian precaya kén tusing. Kéweh ngenehang logika ané sing tedas buka lintihan anaké lingsir ané nyihnayang jelema lan sentanané dadi buka lintihan kasusun simetris buka diagram ané mabesikan dadi prebikas marupa krédépan aéng, sajan sajan aéng di alam modérn ané matuladan ring kasujatian idupé, madasar obsérvasi-obsérvasi ané Nyoman itunganga sewai-wai, tiban-tibanan anggo nglawan arus ané kuna cara unduk satuan pekakne ené. Sing cocok tekéning kenehné. Ené maadan satua modél-modél. Sing mabesikan. Sing nyak adung tekén satua jaman jani. Nanging Nyoman sing nyidang ngorahang apa? Lamun tedasang pesan nasib jelema suba titah pejalané. Tuah Widhiné ané nawang buin pidan raga mati boya ja dadi tawah. Tusing dadi matanggeh ulian sekancan perabot “gegemet” marupa pipis logam, aji-ajian, lan kadutan muah ané lénan. Widhiné tusing ngitungang jalan négosiasi. Urip ulian nyilih. Tur ané Nyoman seken-seken tawang dugas luas ngechék ka rumah sakit, data-data ané munggah di medical record rumah sakité diagnosané suba tedas gati. Sajan-sajan tedas. Nanangné kena leukemia ané sada madurgama.
Nyoman jengah. Peteng-peteng rikala bulan mati lantas kutanga joh ka tengahin segara buntilan mawarna putih kakuning-kuningan lan kumel ulian sing taén maumbah. Apang yéh pasihé acepokan ngedasang, sambil ngemigmig ia. Yéning mani buka pangraos pekakné yadiapin ia nyalanang idup suba madan suksés tur ngelah jabatan melah di kantor, serahang ring Widhiné dogén, apang élah. Praktis, tusing mikir boya-boya. Nyaké siap aduan, kuluk mapalu, macan saling tregés, manusa saling gutgut, apa nyak sing, Nyoman sing ngarunguang. Cundekné serahang makejang unduké ring Hyang Pramakawi. Ento raos ané ada di pangipiané Nyoman, laut nadiang wangsit anak lingsir. Béh, kanggoang monto malu........ Nyoman tusing makatang ngipi ané tidong-tidong, ngipi mesiat di peteng.
Ipian ibi peteng ngaé bayunné inguh. Lamun ngipi menék sepéda, menék bis ramé-ramé, negakin montor wiadin ngipi masiat, apabuin ngipi menék kapal terbang. Ento artiné suba ngawitin idup matantang baan nyalanang wisésa. Masiat di peteng buka anaké ngorahang “nyabuk”, kawisésan marupa bebadong, rikala mesiat ngarepin musuh, bebadongé dogén ané sinah luas makeber. Kéto raos anak tua pidan. Anak tua ané ngorang saja-saja ririh. Nanging ento ipian reramané Nyoman. Nanangné taén nutur, ia satmaka siap aduan.
“Siap aduan?” Nyoman sada tusing precaya ningeh satuan nanangné. Éngkén buka raga suba lekad lebian paripurna kabanding buron ngudiang buin nglekas dadi siap. Siap aduan koné buin. Nyoman ngancan sing ngerti.
Nyoman inget satuan nanangné taén masiat cara tradisi kulawarga para panglingsirné ané suba magaris turun-temurun. Lantas nganggo “gagemet”, cara kesaktian ané orahanga pekakné sukat ia menék teruna. Suba anggapa kelih bisa nampi munyi cara anak kelih.
“Ené jani aba,” pekakné ngwangsitin.
“Anggon gena né, kak? Jani tusing enu jamanné anak masiat. Apa buin nganggo kakéné!” Nyoman nyampahin yadiapin makita nampi. Nampi ulian ningalin barang tawah-tawah kéto. Jaman jani satata ané gentayangan buka démontrasi, dija-dija ké, di rurungé, di aep gedung DPR. Denyut nadi rurungé bek anaké pada majéjér ngundukang “ketidakadilan” nyerit-nyerit metoh ulian démontrasi, cerik-ceriké ané démo masé milu polos pangus ulian nasi abungkus. Ené maadan perang ékonomi puru isin gumi nganti ka tengahin guminé, perang ékonomi di sajaba keneh puru pisaga, ento ané daat kabinawa. Béh ené jani lakar anggo gena bebadongé? Nyoman momot. Tusing ngerti.
“Jaman jani anaké nglawan baan belog lan sasarané generasi muda kawujudang baan pendidikan, merangin narkoba, racun gumi teruna-teruniné. Jamané jani jaman nglawan korupsi, kak,” Nyoman nuturin pekakné cara anak cetu. Cenik tua.
“Ené sajan jelema belog! Mapi-mapi ririh, cai!” pekakné nengkik, munyiné keras madingehan. Matané nelik cara matan barong, gidatné malipet cara buntelan kain gringsut. Sambil ngedeng-ngdeng jénggotné. Liman pekaké suba sada kisut nyisaang siteng uatné dugas teruna pidan. Muani tulén tedas enu sinah dugasé pekak nyalanang teruna siteng magueng.
Nyoman tangkejut, tumbén jani ngrasaang beeng ulian pedih nak lingsir ané kaukin I Pekak.
Pekak mula saja sajan kekeh, bikasné meuat kawat mebalung besi kéwala kolongané masé buka kawat. Kenyat! ia taén ningeh satua nanangné. Lamun pekakné sujatiné bisa makeber, nambung tegeh dadi api di duur punyah nyuhé, nyidang ngrérénin ujan ané bales misi makrébékan. Manyama ajak kilap, nganti nyidang nekaang ujan. Bisa nglekas dadi apa gén, lan bisa masé ngilang. Karana ento anaké di désa nawang lamun pekakné seken-seken jelema aéng. Kabinawa. Wisésa. Takutiné ajak musuh-musuhné. Ané ngenah tur ané sing ngenah. Bisa maya-maya. Kéwala tidong mayadanawa! Péh, kedék ka tundun Nyoman. Mekita ngrikik, nanging enu masé ngelah tatakrama. Sing dadi ngedékin anak tua, apabuin ento pekak padidi. Nyén nawang seken-seken satuan nanangné ento.
Nyoman ngelah dadong papat ané suba lingsir nanging enu masé nyunarang sisan-sisan jegegné dugasé bajang pidan, ento artiné pekakné dugasé teruna pidan nak sajan-sajan mula bagus. Saking bagusné buka patpat nak luh nyelepeteg di aepné. Mirib ulian kawisésan ané gelahang i pekak. Tendasné Nyoman masé ngerasa ibané mesiib pekak bedik, apabuin Nyoman mamémé tuah aukud. Asanang nanangné sing nyak milunin bikas pekakné, ané demen ngelua. Nanging, nden malu, mimih, eda-eda nyanan bisa ibané ané lakar liu ngelah somah, sasubané ngwarisin kesaktian ento. Nanging joh di kenehné ané seken-seken sajan, Nyoman ngelidin bikas buka kéto. Tolih ja makejang dadongné. Makejang nyényé. Désané lakar uyut baan munyi anak lingsir nyényé. Ngéngkén lamun mani Nyoman ngebekin isin umahné baan Néni-Néni lénan? Béh, lakar bisa cara peken dadiné isin baléné. Nyoman sangsaya. Kitak-kituk. Nget jeg bagus gati pekakné teruna pidan nganti patpat ngelah kurenan. Mula ké i pekak madasar play boy, apa masé krana nyalanang bebadong maranén aji pangegér?
“Krana tusing ada perang setata cai anggo nyagaang déwék!!”
Nyoman ngancan tangkejut, enu pedih pekakné.
“Mimih?!” Nyoman ngancan ketug-ketug bayuné.
“Wé, Nyoman belog! Di jaman perang pidan ané nglawan musuh-musuh, ané jaga nyagaang gumi lan ngajiang déwék buka jelema biasa. Musuhé ento tedas ngenah lan i raga mesiat ngadokang wanén. Jani mesiatné nganggo cara lén. Makejangan dadi musuh tur ngelah daya patuh, kéwala muané polos kadirasa akur matimpal. Ené ané seken-seken daat kabanding masiat ané seken-seken masiat. Krana senjatané mapas angin. Tusing ngarasaang apa-apa dapetang buin mani ngutah getih, lantas matane nelik lan basangné kekeh, panyuudné nyerit lantas ngasén!”
Nyoman tusing ngerti ngenehang munyin pekakné, nanging ngaé jejeh ati.
“Tampi lan aba amanat kulawerga ené!” magumana pekakné ngraos.
Nyoman nampi buntilan kain mawarna putih kekuning-kuningan sada burem lan kumel saking makelo tusing taén maumbah. Mirib mula tusing dadi kena yéh lan sabun. Rikala buntilan kabukak tangkahné gedur-gedur, ngéndah isiné. Misi pipis merajah. Misi batu-batuan mawarna magenep. Apa kadén buin isiné.
Ujug-ujug Nyoman inget pidan dugas taén ngateh timpalné luas ngalih aji pangegér krana timpalné Ketut Lungsur makeneh ajak luh jegég timpal sekelasné. Lantas balian pangegér ento ngemaang buntilan misi pipis logam mirib cara ané baanga pekakné jani. Ketut Lungsur kadirasa Rejuna matemu dedari kagelut smara nganti ngelah panak. Tedas pesan pipisé ento meranén.
Nyoman kenyem-kenyem inget timpalné. Kerasa ginik padidi. Katlektekin buin cepok isin buntelan ento, ada keris bawak meluk lima, ada batu-batu lan apa kadén buin isiné. Mirib ené ané ngranang pekakné ngindang makeber peteng. Apija makeber boya madamar, nak galang koné sinah makejang isin guminé. Seken kabinawa!
“Apa kerisé ené ngidang ngaé tiang dadi sarjana ané dueg ngakit kapal terbang buka pagaén pak Habibi?” Nyoman ngenehang sambilanga ngusud perabot kuna ento.
“Ngudiang sing?” munyin pekakné dingeh ngrébék di kupingné Nyoman, cara nawang apa ada di kenehné Nyoman.
Nadak peluh matah ngetél neréstés uli awakné. Bayuné ngetor nyajang pesu gerapné. Apa seken ané taén dingeh uli satuan anaké di désa, apabuin satuan nanangné, sujatiné pekakné wisésa seken-seken kabinawa. Asané téknologi canggih cara janiné kondén nyidang ngadétéksi apa ané ada di keneh anak. Bisa mamaca keneh anak lén. Cutetné sesuban ngabuktiang raos pekakné ento, Nyoman sing nyidang buin makelid. Kabukti sujati pekakné mula saja-saja wisésa. Ento suba kabuktiang padidi.
“Sedek cai suba maadan sarjana kasub lan suba langkung maan jabatan ané melah, lakarang cai matemu modél pesiatan ané garjita. Pesiatan sing tan baatné anéh lan sai tepukin tusing adung ané madan mesiat. Senjata-senjata tawah nyelesek ka awak, kema-mai buka batu météor cerik ané belah-belah. Nyak dadi cundang cai? Wiadin awak cainé kena peluru cai kal tusing tawang uli dija kadén tekané?” pekak matakon sambilanga nyeledét Nyoman.
Nyoman ngikis sing suud-suud ngetor. Saja ada kéto? Nyoman sing nawang.
“Ento artiné lamun tiang ngaba perabot tenénan lakarang dadi teruna sakti aa kak?”
Pekak anggut-anggut sambilanga ngusud janggutné.
Nyoman buin nletekang és kuwud di arepné. Ngancan mulisah boya ja ulian Néni. Gagélane i Néni cundekné kapineh melah. Ipiané ibi sanja buka nak nadi. Pekakasné buka maurip, kadirasa siap aduan ané sedeng ngincer baong musuhné nganti endas musuhné ento selegek-selegek. Angkihané baat. Tuah nebek acepokan sajan “tajiné” ané kagambar baan lawatan keris mangan, musuhné ngasén tur getih anyar ngetél makembengan di natah pedésan. Nyoman kerasa gemes pesan nebek musuhné, ”musuh cangé suba bangka!” nyerit ia nglekas siap ngruyuk merkak merasa prewira.
Nuju endag surya, nyisir di galang kangin pedésan, dapetang tepuk makejang nyama braya pada sigsigan ngeling. Awak nanangné kekeh nengkayak di balé gedé pangelingina tekén méméné, adi-adi makejang, beliné, lan nyama ané lénan, ada masé nyama ulian nanangé tur nyén kadén buin bakat tingalin. Makejang sebet. Nyoman ngerasa nyesel ring déwék! Apa taji ané magambar marupa kadutan ané bakat aud tur kaentungang sing suud-suud suba mragatang atman nanangné? Apa pelih sasaran buka pinutur pekakné sekadi ‘peluru nyasar’ ané nebekin sabilang musuh ané ngentas? Petengé bas dedet. Tusing mengkeb malawat denges. Dedet ané sing nyidang ningalin encen koné timpal. Encen koné musuh.
“Nanang cainé dadi cundang, ping kudang-kudang. Nanging jani lacur tepuk nganti ngaud uripné,” buin munyin pekakné padingeh.
“Pantesné pekak nedunang aji-ajian lan pusakané ento ring i bapa,” Nyoman ngentungang sesel sing kodag-kodag.
“Nanang cainé tusing nyak nampi dadi “tameng” cara kaprawiran panglingsir i raga, pragat iteh ngitungang perabot marupa obéng, engkol, kunci tang, palu, pacul tur ané lénan anggon geginané idup,” nutur i pekak.
Nyoman mamung ulian precaya kén tusing. Kéweh ngenehang logika ané sing tedas buka lintihan anaké lingsir ané nyihnayang jelema lan sentanané dadi buka lintihan kasusun simetris buka diagram ané mabesikan dadi prebikas marupa krédépan aéng, sajan sajan aéng di alam modérn ané matuladan ring kasujatian idupé, madasar obsérvasi-obsérvasi ané Nyoman itunganga sewai-wai, tiban-tibanan anggo nglawan arus ané kuna cara unduk satuan pekakne ené. Sing cocok tekéning kenehné. Ené maadan satua modél-modél. Sing mabesikan. Sing nyak adung tekén satua jaman jani. Nanging Nyoman sing nyidang ngorahang apa? Lamun tedasang pesan nasib jelema suba titah pejalané. Tuah Widhiné ané nawang buin pidan raga mati boya ja dadi tawah. Tusing dadi matanggeh ulian sekancan perabot “gegemet” marupa pipis logam, aji-ajian, lan kadutan muah ané lénan. Widhiné tusing ngitungang jalan négosiasi. Urip ulian nyilih. Tur ané Nyoman seken-seken tawang dugas luas ngechék ka rumah sakit, data-data ané munggah di medical record rumah sakité diagnosané suba tedas gati. Sajan-sajan tedas. Nanangné kena leukemia ané sada madurgama.
Nyoman jengah. Peteng-peteng rikala bulan mati lantas kutanga joh ka tengahin segara buntilan mawarna putih kakuning-kuningan lan kumel ulian sing taén maumbah. Apang yéh pasihé acepokan ngedasang, sambil ngemigmig ia. Yéning mani buka pangraos pekakné yadiapin ia nyalanang idup suba madan suksés tur ngelah jabatan melah di kantor, serahang ring Widhiné dogén, apang élah. Praktis, tusing mikir boya-boya. Nyaké siap aduan, kuluk mapalu, macan saling tregés, manusa saling gutgut, apa nyak sing, Nyoman sing ngarunguang. Cundekné serahang makejang unduké ring Hyang Pramakawi. Ento raos ané ada di pangipiané Nyoman, laut nadiang wangsit anak lingsir. Béh, kanggoang monto malu........ Nyoman tusing makatang ngipi ané tidong-tidong, ngipi mesiat di peteng.
Rabu, 21 September 2011
Puisi Karya : G Arimbawa DI LERENG GUNUNG SASAK
Di hadapan pura lereng gunung sasak rimbun pepohonan rindang dalam doa
Aku bersila
Perbedaan ini tidak pernah datang menyapa
Antara asap dupa klenengan sang mangku ataupun tasbih kotbah pak ustadz
Walaupun berbeda ragam dalam warna semuanya tersentuh dan akan sampai padaMu jua
Jangan lagi ada sengketa karena ras, saling cemburu dalam perbedaan jalan
Semua akan sampai pada tujuan yang sama
Dalam mencari hakikat kedamaian
Kita semua adalah saudara dalam satu rahim yang sama
Terlahir dari ibu pertiwi tanah bangsa
Wahai kawan, jangan ada perbedaan
Aku bersila
Perbedaan ini tidak pernah datang menyapa
Antara asap dupa klenengan sang mangku ataupun tasbih kotbah pak ustadz
Walaupun berbeda ragam dalam warna semuanya tersentuh dan akan sampai padaMu jua
Jangan lagi ada sengketa karena ras, saling cemburu dalam perbedaan jalan
Semua akan sampai pada tujuan yang sama
Dalam mencari hakikat kedamaian
Kita semua adalah saudara dalam satu rahim yang sama
Terlahir dari ibu pertiwi tanah bangsa
Wahai kawan, jangan ada perbedaan
Puisi Oleh. G Arimbawa DI PUSUK SEBELUM TURUN KE BANGSAL
Menuju perjalanan berlika-liku
Pusuk yang sepi menuju ke bawah hutan-hutan senyap
Engkau bertapa tenang, seperti tengah menunggu turunnya bebadong
Kokoh dan tegar oleh segala hempasan godaan
Sejuta riwayat dan misteri
Telah kau dapatkan
Buat bekal bebotoh
Mengadu nasib
Pusuk yang sepi menuju ke bawah hutan-hutan senyap
Engkau bertapa tenang, seperti tengah menunggu turunnya bebadong
Kokoh dan tegar oleh segala hempasan godaan
Sejuta riwayat dan misteri
Telah kau dapatkan
Buat bekal bebotoh
Mengadu nasib
Puisi Oleh . G Arimbawa GADIS IMPIAN ( SATU KUKUH KEYAKINANKU)
Cerita teman bawa bobot setiaannya
Bara lukis kata di malam impian asmara
Gadis gurat ku diraih hati
Simbah kekalutan atas segala
Segalanya hilang
Tahta gadis semayam di lubuk hati
Dalam semayamnya di jiwa
Yang kalut merindu
Bara lukis kata di malam impian asmara
Gadis gurat ku diraih hati
Simbah kekalutan atas segala
Segalanya hilang
Tahta gadis semayam di lubuk hati
Dalam semayamnya di jiwa
Yang kalut merindu
Puisi Oleh. G Arimbawa KEBISUANMU
Aku iri karena kamu
Rambutmu panjang sukar usir mimpi mimpi
Yang bertumpang di malamku
Pernahkah aku berkata bahwa
Bulan menyimbah bulat wajahmu
Atau barangkali telah dihadirkan adanya
Kau hadir disaat aku berusaha lari
Tapi tidak karena aku
Kebisuanmu memakan jantungku
Habis kikis disegala lamunan
Kamu sudah cahaya hati
Berbalik tanpa dialog adalah
Keagungan yang tak disanggah
Dewi bulan tak pernah kau hadirkan mencumbu mimpiku
Mungkin karena engkau tak pernah bermimpi tentang aku
Sisi lain atau karena sebuah kebisuan
Aku takut karena di hati masih tersisa keinginan
Pernahkah?
Rambutmu panjang sukar usir mimpi mimpi
Yang bertumpang di malamku
Pernahkah aku berkata bahwa
Bulan menyimbah bulat wajahmu
Atau barangkali telah dihadirkan adanya
Kau hadir disaat aku berusaha lari
Tapi tidak karena aku
Kebisuanmu memakan jantungku
Habis kikis disegala lamunan
Kamu sudah cahaya hati
Berbalik tanpa dialog adalah
Keagungan yang tak disanggah
Dewi bulan tak pernah kau hadirkan mencumbu mimpiku
Mungkin karena engkau tak pernah bermimpi tentang aku
Sisi lain atau karena sebuah kebisuan
Aku takut karena di hati masih tersisa keinginan
Pernahkah?
Langganan:
Postingan (Atom)
