Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Minggu, 14 Februari 2010

CAMAR RESAH IV - menuju persimpangan rumahmu


Camar lintasan langit membidik bulan
lima hitungan
jejak kosong sejak memburu-buru angin
menawar kesangsian latah
begitu jauhnya gelora laut biru
suatu hari punya jarak menjanjikan mimpi mimpi
kata hari esok nuansa lingkari
bening
kekosongan jiwa retak menyangsi
gugatan waktu
getaran matahari
kita lewat persimpangan, lewat tahun depan
bercakap-cakap di langit tak berhingga
sambil menggembalakan gelora

Camar lintasan laut bermata tak membidik
tajam
matahari tak usah memburu sayap sayap
patahan senyap
kalau dalam kelenggangan hasrat
sendiri,
menatap gelombang tinggi menjulur julur
tubuhmu
dari sapuan bianglala

Camar begitu melintas
terpaku resahku
lima bilangan waktu menghadang kabar
riak sesalan diri

1 TRILYUN PRODUK KF DI BALI


Bertempat di hotel Ina Sindhu beach Sanur Bali dari tanggal 30 april sampai dengan 1 mei 2009 telah berlangsung acara workshop produk kaef . Acara yang dibuka langsung oleh direktur pemasaran drs. Agus Anwar yang menurut beliau kegiatan workshop ini merupakan target terakhir dari beberapa perjalanan dari masing-masing BM yang telah dikunjungi selama jadwal kegiatan roadshow di beberapa daerah yang nantinya diharapkan mencapai target 1 trilyun. Acara yang diikuti 3 Bisnis Manager terdiri dari BM Bali, BM Mataram NTB dan BM Kupang berlangsung sangat padat dengan diselingi beberapa kali teriakan yel-yel yang merupakan bentuk semangat baru dalam sinergi yang mempersatukan antara ujung tombak pemasaran trading, KFA dan unit produksi.
Yang menarik dari kegiatan workshop kali ini sebagaimana komentar Drs Suharno,apt direktur utama KFTD bahwa dari beberapa daerah yang dikunjungi , hanya daerah Bali-Nusra ini yang terlihat sangat antusias dan penuh semangat dari awal acara, para peserta hampir sebagian besar memberikan suatu harapan sangat optimist. Terlihat pada sesi tanya jawab beberapa peserta memberikan pertanyaan yang bersifat menukik pada sebuah celah-celah bagaimana bertemperamental sebagai penjual yang handal untuk produk sendiri, bagaimana menanggapai kendala pemasaran kompetiter yang demikian gencar nilai santunannya (contohnya: sanbe, kalbe,dexa ataupun novartis yang nyata-nyata diatas peringkat pareto produk KF) .Tidak ada tanda-tanda ataupun gejala-gejala yang mengesankan track-record bagaimana sebenarnya hubungan yang dianggap kurang sinergis selama ini terjadi di lapangan antara KFA dan KFTD yang terkesan saling menyudutkan dalam upaya pembenahan pelayanan di tingkat intern. Tidak ada sesuatu hal yang mengkhawatirkan untuk kerjasama ke depan dalam mengupayakan serta lebih memprioritaskan produk kaef pada counter-counter pelayanan, pada setiap harapan yang lebih mengoptimalkan substitusi terjadinya transaksi produk sendiri serta lebih mengutamakan pemakaian produk Kaef dalam penulisan resep, khususnya bagi karyawan Kimia Farma itu sendiri. Intinya untuk karyawan dan seluruh keluarga karyawan wajib mempergunakan produk KF.
Permasalahan klasik yang kerap muncul manakala membicarakan produk KF, terlebih ketika dikaitkan dengan penulisan resep produk pihak ke-3 akan dihadapkan pada satu dilema hingga berujung pada pertanyaan: “Kenapa kok produk KF jarang di tulis dokter atau malah tidak dikenal sama sekali?” Dan salah seorang dokter pernah komentar dengan nada guyon: “Wah, dari Kimia Farma ya? Kurang ne Fulus-nya !” Apa iya produk kaef kurang laku? Apa iya, produk kaef jarang ataupun boleh dikatakan tidak pernah dipromosikan? Akhirnya ujung-ujungnya akan saling melempar kesalahan antara KFA, KFTD dan Plant muaranya pasti menyalahkan marketing. Hal ini terkait dalam pemaparan direksi operasional KFA Dra. Juleti,apt pada sesi ke 2 setelah presentasi produk yang disampaikan drs. Agus Anwar. Dalam pesan awal direksi operasional menggambarkan bentuk karikatur yang cukup jeli membahasakan apa sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Sebuah rumours halus yang saling mencari kambing hitam dan saling main tuding-tudingan antara KFA,KFTD,Marketing dan Plant. Dan akhirnya yang menjadi pemenang adalah pihak 3. : ”Bangun dan kembangkan tuh apotek Kimia Farma banyak-banyak di seluruh Indonesia, pangsa pasar gue bakal meningkat tajam.” Kata orang sanbe akhirnya.. Jangan sampai terjadi anggapan demikian, walau itu suatu kenyataan yang kita jumpai di lapangan. Inilah merupakan tonggak sejarah awal sinergi menjadikan produk sendiri sebagai primadona KFA, papar Juleti lebih lanjut. And than.......STOP BLAMING!!!!
Harapan direksi operasional untuk semua pihak mengingat pangsa pasar produk KF di apotek KF sendiri, sangat kecil dan cenderung menurun dari tahun ke tahun, bahkan seperti terkesan kita terlena dalam sebuah tidur yang panjang oleh buaian produk pihak ke-3. Harapan untuk semua pihak antara prinsipal, distributor dan apotek bukan hanya jalan sendiri-sendiri atau lebih tepat dikatakan produk KF masih jalan-jalan di tempat. Adalah menghilangkan semua kesan yang saling menyalahkan satu dengan yang lain, efektifitas keberhasilan dalam pelaksanaan untuk mewujudkan produk KF menjadi primadona adalah menjadi tanggung jawab bersama antara KFA, KFTD dan Plant/marketing. Dengan demikian tolok ukur keberhasilan sinergy yang dimaksud dalam kebersamaan semua pihak bahwa pangsa pasar produk KF di apotek KF sendiri menjadi terbesar diantara pangsa pasar produk prinsipal lainnya. Mungkinkah itu? Tekad dalam workshop yang berlangsung di Denpasar Bali ini telah mencatat dan akan menjadi tonggak sejarah untuk diteruskan ke daerah-daerah dengan mengubah mindset bahwa produk KF merupakan tanggung jawab kita semua untuk kita pasarkan, kita perkenalkan kepada masyarakat secara terus menerus tanpa pernah berhenti.
Dan yang lebih menarik lagi dari workshop ini dengan kehadiran dirut PT Kimia Farma Bp syamsul Arifin dalam memberikan sebuah cerita menarik yang membuat terbahak-bahak seluruh peserta yang hadir. Akhirnya memang Quo Vadis Kimia Farma! Pada rel kereta sebelah mana kita berjalan? Akankah sampai ke tujuan atau macet total keretanya tidak jalan sama sekali alias jalan-jalan di tempat?(DGK)

Sabtu, 13 Februari 2010

DARI KETINGGIAN HATIMU HANYA KEDALAMAN DAHAGA (kado valentine bagi masa remajamu yang tak pernah hadir)


: di balik dusun terpencil ini, dik
kado valentine tidak mudah kubuat anyaman menyemat hatimu

Matamu adalah bulatnya cahaya memantulkan pintalan benang rencana.
kebersamaan yang membuat kesepakatan bahwa sesungguhnya cinta ini
sempurna untuk sesaat
sebagai penantian berkarat dalam-dalam
kian dalam dari ketinggian hatimu

Pertengahan tanjakan yang senantiasa membuat kian melarat
semakin jelas dalam bau kata-kata janji nan berkarat
beradu napas melepuh dalam waktu tak jelas
Antara lelah tak ada yang sampai, kabar siapa yang ingkar hari ini?
Tak ada kesepakatan
hutanmu hanyalah belantara tak bertuan rimbanya
dan kita membuat suatu rencana
membuat kebersamaan semakin dekat dengan tujuan :
akan kabar tak pasti

Terkadang kegilaan ini sangat menjemukan
terkadang kegilaan ini membawa penyakit
terkadang kegilaan ini membuat kita pasrah membedakan nasib
dan terkadang pula kegilaan ini mencemburui kita untuk lepas dari peradaban
norma-norma, agama bahkan menjadi sebuah proses kemiskinan hasrat untuk mengetahui kebenaran.

Pendakian adalah kisah kecil dari sebagian besar kisah hidup kita
makanya saranmu kita perlu mengulas rangkaian kisah baru
menyambung kisah sebelumnya yang pernah ada.
Artinya barangkali kita mencari kebenaran itu di atas langit
barangkali kita mencari puncak tujuan mendaki
pada mata kaki dimana awal mula kaki melangkah
tak ubahnya mencatat-catat kehidupan kita sebelumnya.
Tuhan ternyata ada dalam berbagai bentuk.
Tidak hanya sekadar angin atau menciptakan gejala semesta alam.
Tuhan adalah bagaimana manusia mengenal moral
peradaban dan hukum semesta alam.
Dengan demikian kejenuhan serupa untuk langkah kerinduan yang baru
medan awal buat menempuh kehangatan baru.
Kedamaian ini semakin menggila. Menggoda kita untuk lebih taqwa.
Tuntasnya pada segala hiruk-pikuk kota besi
kota penuh jalan-jalan robot yang gentayangan senantiasa menguap
tak mengenal nasibnya
menabur benih yang tidak habis-habis
dalam persekongkolan napsu
dan segala bentuk kemaksiatan yang mudah terwujud dalam setiap keinginan
yang tak jelas
namun wahai pendakian
di sejuknya pegunungan lindap bayangmu
mengusik segala kalbu
bahwa terlalu banyak perbedaan percintaan di kota dan di desa
pegunungan yang masih polos dan terbuka oleh suara-suara kekonyolan sederhana
tanpa dibuat-buat.

Bahwa terlalu banyak godaan-godaan di kota ketimbang desa
yang belum tergelincir oleh lirikan lampu-lampu ajaib hotel
kamar-kamar megah dan gerak tarian telanjang yang menutup alasan
beragama itu bisa ditanggalkan sementara
secara jujur kau ucapkan:
di balik dusun terpencil ini, dik
kado valentine tidak mudah kubuat anyaman menyemat hatimu

Bahwa terlalu sintingnya kita menghadapi kebutuhan di kota ketimbang di desa.

Bahwa di desa terlalu banyak lirikan liar
terlalu banyak artis-artis ibukota yang menarik hati

Bahwa terlalu banyak kaum selebriti yang dikebiri dalam gemerlap.
bau-bau alkohol meruang
asap-asap opium melebar dalam getar shabu-sahbu yang dianggap indah,
jadi semacam santapan di meja makan mengganti knalpot berkerak
dan nakal menggoda segala keinginan
terlalu banyak seniman sakit hati dan belajar meyakini kesenimannya,
terlalu banyak penjual kemewahan menjajakan harga diri
dan terlalu banyak menawarkan kelinglungan.
Bahwa terlalu gilanya kita menghadapi peradaban-peradaban berbau elektrik
dan tergiring bak mesin mafia yang mencuci otak kita
bahwa modernisasi jauh lebih hebat dibandingkan hidup di desa berbau arang dengan membakar singkong.

Matamu telah menjadi mesin berpeluru
jejalan segala peristiwa pada tanjakan bukit terakhir
yang mengharuskan kita membuka mata hati
Betapa kecilnya kita
dan betapa Tuhan kita dengar suara-suara yang memanggil-mangil
mengingatkan kecurangan-kecurangan yang pernah kita lakukan
saat belajar melupakan hari sucinya
yang dilingkari upacara

Kita sering lupa dan berbuat konyol menjadi penunggang kuda kemewahan
sementara kocek kita hanya sejengkal ukuran hidup tak lebih setahun.

Lalu kita banyak berhutang di setiap kedai makanan,
pada setiap warung-warung kopi
pada setiap supermarket dengan gaya sengit
menghamburkan segala keinginan bahwa
stok beras di rumah hanya cukup untuk sehari
serta menyembunyikan kekurangan diri dengan duduk di rumah makan
hanya sekadar menikmati sebotol aqua ringan.

Ah, betapa kita menjaga gengsi
agar terkesan hidup mewah
berkuda emas yang berharap kantong kita ajaib bersulap
menjadi bank-bank yang berjalan.
Hidup hanyalah keindahan mimpi sesaat yang kita beli dalam kekayaan berkhayal.

Ternyata dibalik kekosongan ini ada makna tersimpan
di rimba penuh pergolakan jiwa yang mengganjal setiap keinginan
agar cinta ini mudah dirawat dengan baik disaat-saat padang ini gersang
disaat lumbung kita tidak terisi atau
disaat dompet kita kosong melompong
ataupun disaat datangnya tagihan bon-bon kopi pada sebuah warung.

Dan ternyata di ketinggian puncak ini
semoga kita tidak harus menjajakan cinta pada setiap penjaja angin
yang ingin mengatakan cinta ini tak lebih lembaran-lembaran uang
yang mudah dibelanjakan pada setiap ruang hati yang butuh kehangatan.
Di ketinggian puncak ini semoga kita tidak harus menjajakan hati murni
pada setiap pemburu hati yang ingin mengatakan cinta ini tak lebih sepenggal hati
terbuat dari emas berlian yang mudah disimpan di gerbang kebanggaan
untuk dipamerkan kepada para tetangga-tetangga kita
tamu-tamu yang dolanan ke rumah
atau relasi-relasi yang bersilaturahmi di rumah hati
ataupun kita umpankan pada rekan-rekan pecundang yang termakan janji palsu
dengan lirikan manis agar runtuhnya hati berbagi-bagi
pada setiap balik hatimu yang masih punya rasa

Wow......ternyata di balik dusun terpencil ini, dik
kado valentine memang tidak mudah kubuat anyaman menyemat hatimu

CAMAR RESAH III


Lalu ada rindu bergulir di mata
Bermula iseng
Berkemas
Membenahi cuaca
Di tubuh sunyi

Jumat, 12 Februari 2010

SURAT KEPADA BISMA


Sebelum luka luka terbalut
ksatria para kuru
wahai , Bisma jejaka sekala niskala
adakah dongeng menjelang tidur malam
sebelum pil penakar dosis meracuni jantungmu
yang runtuh berbantal panah

Atau dapat tegaskan sekali lagi
tengadah natap hujan bunga
dewa dewa kasih percintaan
remaja bayang buram

Namun sumpah lidah jejaka kurun waktu
ribuan mill di usia yang mampu
membagi bagi jarak nyawa terkendali
atas tiupan angin bara dendam
: Srikandi berlari di padang duka

Wahai, cinta, kata hati Bisma
mengobarkorbankan benah diri
menatap janji tak ubah cadas mati
hati beton sekukuh baja
meratap zaman menggilir gilir
gigir jejalan asmara sengak

;jerit Bisma merobek robek langit
runtuhan kayon kayon
nutupi cerita
hadir juga

Kamis, 11 Februari 2010

CAMAR RESAH II


Bila kaki kaki musim menjenguk
kudapati ia sedang iseng menggurat kata
dengan pena bibir
airmata
merah
dan cakrawala lukisan lembut
iringan jalan nuju persimpangan mimpi
menuntun cerita dari sarang sajakku
menghuni kediaman
atau selalu sesadar napas panasi aliran dahaga
sampai mata, pusaran panas
daratan kembara menepi riak habisrasa
terbenam
semau-maunya!

Musim kepada camar resah
tak segampang cemburu mencuri-curi
sarang cintamu

Begitu lama terbang bayangmu
deras menimpa runtuhan hujan
seperti lukisan wajah air
memantul mantul

MEMANDANGMU SENGGIGI ( tak cukup panjang menunggu malam)


Mengawali jalannya senja matahari menghilang ditelan lautmu
alunan jazz lantunkan asmara yang mudah digali
tak cukup panjang menunggu malam
cinta siap menjajakan diri pada sudut sofa front office sebuah hotel berbintang, tidak menyia-nyiakan penawaran dalam kamar penantian
anak anak yang belajar dewasa dari usia sejenisnya
lautmu lahirnya cinta sesaat mendayu dalam irama dan kenangan mudah dibentuk
tak cukup panjang menunggu malam
adalah laut liur yang menggemaskan kerahasiaan
Anak anak menjadi dewasa karenanya tak perlu pusing suara dentang jam sekolah
tidak ada ketakutan kotbah agama, suara-suara semestinya mengingkari semester yang lupa digali, ternyata lautku punya kebebasan untuk berenang di malam hari
entah sudah hafal pada irama mana memulai
menjadi bayang bayang menyatu dalam kegerahan malam
kegairahan lekuk-lekuk asmara yang fatal
dalam sekali tenggak hawa alkohol menjadi jampi dalam kenakalan musim
menjadi sang pesulap yang mahir memainkan angin
menerbangkan moral setara napas tubuh yang menggoyahkan angan
jadilah pengembala angin memintal rok rok semarakkan warna kulit
jadi benang benang lepas
dance hingar dalam bingarnya musik
tak cukup panjang menunggu malam :
- jadi jahanam!
mengawali pagi jalannya matahari berbalut sinar keemasan
matamu telanjang menggapai kenangan
malam terasa pendek

Mengawali jalannya senja, berikut bayi-bayi lahir bagai pasir berantakan
tak mengenal wajah bapaknya
tak mengerti dalam pelaminan ufuk senja
hingga terlahir dalam ketakmengertian
hawa haram yang dahsyat
berbau garam
yang kian gerah menanti malam
berikutnya