(catatan : generasi)
Pada sisi yang buram dilindung selungkup senja
pada sisi wajah nyangkut di pohon tercerabut akar
tangan tangan wajah menyusup dihimpit ketiak
bukan sapa
bukan maksud apa apa
tak menangkap gerak, semenjak sisimu
hanya secercah langkah dari bingkai penghambat
yang melebar tinggi di ini alis dan mata
ditambah gerak yang tercerap namun tak terbebas
hasrat membahana menyayat pedalaman
apa katamu
aku tak ngerti
keriput ini menjadi jadi
kearifan senantiasa punya makna karena
harapan bagi yang tiada bila sepi hampa
mengibaskan seberkas lamunan
pada kenyataan menoreh impian
pada khayal membiaskan kecemasan
dan bayangan cahaya di air tangguhkan
kerinduan ruh terhadap laut yang meluapkan
beribu benturan bisa jadi beribu kegemparan
dan sekejap itu terjadilah sekujur injakan sembari
kedinaan
namun apa katamu
aku tak ngerti
keriput ini menjadi jadi
-singaraja November 1986-
Tampilkan postingan dengan label sajak sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak sajak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 14 Oktober 2011
Kamis, 13 Oktober 2011
Sajak RAYANI SRIWIDODO: KUDENGAR YANG TIDAK MEREKA DENGAR
Kudengar yang tidak mereka dengar
akar rambut, bulubulu bergetar
gumamku: agaknya demikianlah bermulanya
percakapan diam urat antara urat di wajahku
di sekujur tubuh
betul gaduh
sebentar:
sejauh mana cara keterikatan mengajak
kudengar yang tidak mereka dengar
ajakn lugu jantung yang mendadak berdebar
aku menunduk. senyum
ada yang dibisikkan. lama
: tapi selesai juga
1969
Horison, no.2, th. IX, Februari 1974
akar rambut, bulubulu bergetar
gumamku: agaknya demikianlah bermulanya
percakapan diam urat antara urat di wajahku
di sekujur tubuh
betul gaduh
sebentar:
sejauh mana cara keterikatan mengajak
kudengar yang tidak mereka dengar
ajakn lugu jantung yang mendadak berdebar
aku menunduk. senyum
ada yang dibisikkan. lama
: tapi selesai juga
1969
Horison, no.2, th. IX, Februari 1974
Rabu, 12 Oktober 2011
Sajak AHMADUN YOSI HERFANDA : SAJAK LUKA
sungai darah mengalir dalam daging
menghanyutkan diri ke luka
jadi nanah dalam tubuhku
sedang di tubuh waktu
sungai jam menghanyutkan makam-makam
ke laut hitam tanpa gelombang
di luka laut waktu
jejak matahari
tusukan duri-duri
membekas dalam diri:
luka hati!
-----------------1984---------------bpm
menghanyutkan diri ke luka
jadi nanah dalam tubuhku
sedang di tubuh waktu
sungai jam menghanyutkan makam-makam
ke laut hitam tanpa gelombang
di luka laut waktu
jejak matahari
tusukan duri-duri
membekas dalam diri:
luka hati!
-----------------1984---------------bpm
Sajak ADHY RYADI : SANGKAN PARANING DUMADI
Setelah tanah yang kau tatah
kepulkan bunga dan api
aku ke tepi
berbaring dalam sepimu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
dari tanah kau tatah
ke tanah aku pasrah
kuteduhkan bumimu
yang melengking
dengan tangis,
atau jerit tertahan
setelah tanah yang kau tatah
kepulkan bunga dan api
kutumpahkan rasa sepiku padamu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
kepadamu aku kembali
-----januari 1985-----bpm
kepulkan bunga dan api
aku ke tepi
berbaring dalam sepimu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
dari tanah kau tatah
ke tanah aku pasrah
kuteduhkan bumimu
yang melengking
dengan tangis,
atau jerit tertahan
setelah tanah yang kau tatah
kepulkan bunga dan api
kutumpahkan rasa sepiku padamu
aku pejalan jauh,
melahap keluh
kepadamu aku kembali
-----januari 1985-----bpm
Sajak IB GDE PARWITA : DARI TEPI RAHASIA
Selalu berlabuh di hati
langit semesta sepanjang percakapan
berayun
seperti pelayaran bulan bulan
lalu roh gemuruh
dalam petualangan diri
dari tepi ke tepi
terkubur bayangannya
sepanjang percakapan
nurani jagatku
memerah terus
membakar sepiku sendiri
melingkupkan nyanyian keasingan
menikam makin ke dalam
bercucuran kata
sunyiku abadi
tihingan, april 84-----balipost
langit semesta sepanjang percakapan
berayun
seperti pelayaran bulan bulan
lalu roh gemuruh
dalam petualangan diri
dari tepi ke tepi
terkubur bayangannya
sepanjang percakapan
nurani jagatku
memerah terus
membakar sepiku sendiri
melingkupkan nyanyian keasingan
menikam makin ke dalam
bercucuran kata
sunyiku abadi
tihingan, april 84-----balipost
Sajak UMBU LANDU PARANGGI : MELODIA
Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali
bertahan
Karena sajak pun sanggup merangkup duka gelisah
kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
suara suara dunia luar sana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa
langkah kemana saja
karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati
pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti
kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari
tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran
waktu
takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi
dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian
melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam
manja bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan
dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja
harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi
dan kedua tangan
manifest, antologi puisi 9 penyair Yogya (tanpa penerbit), Yogyakarta, 1968
(tonggak-antologi puisi Indonesia modern 3, Linus suryadi AG, editor hal 243-244)
bertahan
Karena sajak pun sanggup merangkup duka gelisah
kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
suara suara dunia luar sana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa
langkah kemana saja
karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati
pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti
kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari
tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran
waktu
takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi
dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian
melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam
manja bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan
dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja
harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi
dan kedua tangan
manifest, antologi puisi 9 penyair Yogya (tanpa penerbit), Yogyakarta, 1968
(tonggak-antologi puisi Indonesia modern 3, Linus suryadi AG, editor hal 243-244)
Sajak PUTU ARYA TIRTAWIRYA TELAGA
Kubersihkan jelaga langit kasihmu
Kujumpai seuntai manic warna asing
Tersangkut di sosokmu tanpa wujud
O penyihir yang bijak
Ocehanku toh bayang sihiran semata
Kujumpai seuntai manic warna asing
Tersangkut di sosokmu tanpa wujud
O penyihir yang bijak
Ocehanku toh bayang sihiran semata
Selasa, 11 Oktober 2011
Sajak HARDIMAN: SEBONGKAH BATU (surat bayi ning)
Kita nyalakan lilin di ruang ini
Menyambut pesta getarnya rasa
Sementara itu, di luar:
Mereka ingin jadi sang bisa
Mengasah lidah dengan ludah
Mereka ingin jadi sang pewanti
Melapal kata setiap detik
Sejumlah taring
Berhamburan dari mulut mereka
Bertubi-tubi menusuk ruang kita
Ingin meredam nyala lilin
Tapi nyala tetap anteng
Tetesnya menjelma jadi sebongkah batu
Dan siap kita lemparkan
Kepada mereka yang mau luka
------mawar 23-4-’87-
Menyambut pesta getarnya rasa
Sementara itu, di luar:
Mereka ingin jadi sang bisa
Mengasah lidah dengan ludah
Mereka ingin jadi sang pewanti
Melapal kata setiap detik
Sejumlah taring
Berhamburan dari mulut mereka
Bertubi-tubi menusuk ruang kita
Ingin meredam nyala lilin
Tapi nyala tetap anteng
Tetesnya menjelma jadi sebongkah batu
Dan siap kita lemparkan
Kepada mereka yang mau luka
------mawar 23-4-’87-
Sajak UMBU LANDU PARANGGI: SAJAK DALAM ANGIN
Sebelum sayap senja
(daun daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin,kelu dan sendiri
Namaku memanggil manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana
Yogya, 1968
Pelopor Yogya, 26 april 1970
(daun daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin,kelu dan sendiri
Namaku memanggil manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana
Yogya, 1968
Pelopor Yogya, 26 april 1970
Sajak WARIH WISATSANA WISAKSAMA: KEBERANGKATAN
Selalu saja ada yang pergi
Melemparkan seikat kenangan pada tidurku
Jadi seuntas mimpi
Melihatku dalam kesedihan sepenuh waktu
Selalu saja ada yang pergi
Membawa suara dalam tubuhku
Menambatkan kesenyapan di luar
Mengaburkan batas kamar
Selalu saja hanya daun
Luruh tanpa mengaduh
Pergi menyusuri diri
----juni 85----
(prioritas 16 nop 1986)
Melemparkan seikat kenangan pada tidurku
Jadi seuntas mimpi
Melihatku dalam kesedihan sepenuh waktu
Selalu saja ada yang pergi
Membawa suara dalam tubuhku
Menambatkan kesenyapan di luar
Mengaburkan batas kamar
Selalu saja hanya daun
Luruh tanpa mengaduh
Pergi menyusuri diri
----juni 85----
(prioritas 16 nop 1986)
Sajak SUNARYONO BASUKI KS : SAJAK BUAT HB JASSIN 70
Sungai, basuhlah tanganku
Agar dapat kuharumkan mulut hidungku
Agar dapat kujernihkan wajahku
Agar dapat kuseka batang lenganku
Agar dapat kubenderangkan pikirku
Agar dapat kutajamkan dengarku
Dan kuluruskan langkahku
Lalu dalam sujudku
Kulihat betapa mulia alirmu
Agar dapat kuharumkan mulut hidungku
Agar dapat kujernihkan wajahku
Agar dapat kuseka batang lenganku
Agar dapat kubenderangkan pikirku
Agar dapat kutajamkan dengarku
Dan kuluruskan langkahku
Lalu dalam sujudku
Kulihat betapa mulia alirmu
Sajak SYAHRUWARDI ABBAS : MENOLAK BARA
Tapi tak beri makna
Hitammu tarikan bulatan bulan
Dan bulat hitam matamu
Tak penuhi gurat urat dadaku
Kutampik peluk lingkar katamu
Malam tak hendaki bara berahi
Bakar hening dingin beberkah
Lemparlah ke kedalaman angan
Biar tak rangkul debar batin
Dinginku
Biar lalu segala durhaka
Kutaruh sepenuh bibirku
Yang birukan langit, cairkan air
Tembusi kulit batin
-larilah kau ke bara berahi pahitmu
Sama darah
Sama bara-
Kucari arti
Di sepi
Sendiri
------Denpasar, Januari 1985--------
Hitammu tarikan bulatan bulan
Dan bulat hitam matamu
Tak penuhi gurat urat dadaku
Kutampik peluk lingkar katamu
Malam tak hendaki bara berahi
Bakar hening dingin beberkah
Lemparlah ke kedalaman angan
Biar tak rangkul debar batin
Dinginku
Biar lalu segala durhaka
Kutaruh sepenuh bibirku
Yang birukan langit, cairkan air
Tembusi kulit batin
-larilah kau ke bara berahi pahitmu
Sama darah
Sama bara-
Kucari arti
Di sepi
Sendiri
------Denpasar, Januari 1985--------
Sajak STHIRAPRANA : SAJAK
Betapa hari tiada kata
Angin yang tiba penuh rahasia
Gelap dan cahaya yang selalu datang
Siapa menang dalam waktu yang panjang
Kabut yang sepi
Cepat benar memburu kita
Tanpa jawab
1984
Angin yang tiba penuh rahasia
Gelap dan cahaya yang selalu datang
Siapa menang dalam waktu yang panjang
Kabut yang sepi
Cepat benar memburu kita
Tanpa jawab
1984
Langganan:
Postingan (Atom)
