Di balik kaca jendela, wajahmu
merah dadu bersemu bak kisah percintaan Romeo dan Juliet yang frustasi
mengatakan, cinta kita tak sampai hanya berbatas pagar reyot
dan hanya angin yang menyampaikan kabar
tidak, kau mengelak dan menolak
cinta kita ibarat sampek ingtay yang berburu bulan dalam percintaan tak sampai
serta menjadi kupu kupu yang mengisap asmara tak karuan
itu yang kau katakan dengan senyum mengembang menjanjikan
ah, engkau keliru dik,
Mari kita ciptakan cinta kasih asmara tidak seperti dalam novel percintaan, drama asmara
ataupun roman picisan yang membuat ikut-ikutan patah hati
serta tokohnya sengsara demikian menyayat mengakhiri kisahnya dalam airmata
di balik jendela, wajahmu menatap bayang bayang bulan yang memancar menembus malam
menjanjikan keanehan : janganlah menjadi Romeo, janganlah menjadi Sampek
jadilah bulan yang cahayanya memagari hatiku ketika tidak ada hati yang mau nangkring kemari
wahai, aku suka maumu
tahukah itu:
diam diam
sepanjang malam aku memasuki jendela hatimu bersama cahaya yang
menyelusup dalam kegilaan,
menyusun mimpi mimpimu yang akan aku terka
engkau berteriak kaget
“bukan itu mauku!?”
aku tercengang
kupikir engkau sepasang Juliet dan Engtay yang diam-diam lesbi tak seronok
ah, hanya menduga
itupun dalam mimpimu tak jelas
Sabtu, 31 Desember 2011
SEBUAH KOTA YANG HILANG
di jauhnya kotamu
selalu cerita tentang dunia yang terampas
manusia merajah lidahnya
dengan belati terbuat dari mata ikan
kemudian kau mengacung acungkan ke dalam kotak
berbentuk 'belantara keadilan'
namun kotamu hilang begitu saja
di telan ikan
habis hirup lautmu
tanpa sisa
kota mati
burung burung terbang tanpa sayap
melupakan rumahnya sendiri membakar hingga tujuh turunan tak mencatat sebagai catatan
limbah limbah janin yang hilang, ribuan bahkan jutaan
melupakan sayapnya sendiri tergantung di langit
terbang di angkasa lepas tak bernama
leluhur telah lama gagu: membahasakan keturunan masing masing
melepas makna
menjelma sebagai mata ikan
laut sunyi
sunyi lautku
kota sunyi
sunyi kotaku
puing puing keadilan
sirna
(dari antologi kidung atheis penerbit pustaka ekspresi 2012
selalu cerita tentang dunia yang terampas
manusia merajah lidahnya
dengan belati terbuat dari mata ikan
kemudian kau mengacung acungkan ke dalam kotak
berbentuk 'belantara keadilan'
namun kotamu hilang begitu saja
di telan ikan
habis hirup lautmu
tanpa sisa
kota mati
burung burung terbang tanpa sayap
melupakan rumahnya sendiri membakar hingga tujuh turunan tak mencatat sebagai catatan
limbah limbah janin yang hilang, ribuan bahkan jutaan
melupakan sayapnya sendiri tergantung di langit
terbang di angkasa lepas tak bernama
leluhur telah lama gagu: membahasakan keturunan masing masing
melepas makna
menjelma sebagai mata ikan
laut sunyi
sunyi lautku
kota sunyi
sunyi kotaku
puing puing keadilan
sirna
(dari antologi kidung atheis penerbit pustaka ekspresi 2012
ASMARA DI GUNUNG PENGSONG
Alam pegunungan Pengsong menghijau usai disapu hujan. Bersih. Sebetulnya bukan pegunungan sebutannya, namun terlanjur orang-orang, para pengunjung serta beberapa teman-teman yang senang nangkring disana menyebut dengan istilah gunung. Itu bukit, sayang, kataku pada seseorang yang sebetulnya hatinya sudah terlibat denganku.
“Ndak mau! Ndak mau. Itu gunung, itu gunung Pengsong, Pokoknya itu gunung!” Bulan merengut, sepertinya istilah gunung dan bukit sangat berarti baginya. Gunung mungkin saja diartikan tonjolan bumi bagian atas, tonjolan yang rendahan menurutku lebih sreg rasanya menyebut bukit.
“Iya…iya gunung. Itu gunungmu, sayang,” aku mengalah. Dari hasil mengalah itu aku memperoleh sebuah kecupan mesra.
“Eiiiits, sayang, nggak boleh mesum disini,” aku pura-pura mengelak kendati sedikit monyongkan mulut, walau sasaran bibirnya sebenarnya hanya pipiku saja. Pipi yang penuh bekas-bekas bongkahan jerawat sewaktu es-em-pe. Tapi sudah sembuh lho. Hm,, rajin pake acnol. Tapi nggak apa-apalah kalau hanya mengalah untuk sebutan gunung dan bukit buat Bulan demikian berarti, aku akan menjadi senang juga. Lagipula mengalah untuk bukit dan gunungnya Bulan, eh, maksudku mengalah untuk menerima kenyataan kalau bukit itu memang berbeda di mata Bulan, kekasihku yang jelita, aku akan sangat senang sekali. Seandainya monyet yang ada disana dia katakan gorilapun aku akan setuju, karena apa-apa yang menjadi anggapannya serta merta aku menyetujui dan mengiyakan, pasti Bulan akan menghadiahkan ciuman lagi. Siapa tahu kali ini di bagian bibirku, hehehe biasanya saking girangnya Bulan pelampiasannya padaku bisa diluar dugaan. Aku akan dirangkul kuat-kuat dan ngok! Lipstick itu akan menyala-nyala berbekas di sekitar wajahku yang ganteng.
“Kok diem sih? Bener khan itu gunung?” Bulan mengagetkan khayalanku.
“Eh..eh iya Bulan, iya bener itu gunung. Kalo monyet itu apaan Bulan?” Aku berusaha memancing. Siapa tahu khayalanku tepat.
“Monyet ya monyet! “ Bulan menjawab kenes.
Wow meleset. Kukira dengan mengatakannya gorilla aku akan menyetujui dan bibir kami saling berpagutan, hehe keliru ya.
Tapi melihat monyet-monyet yang sibuk berjumpalitan di dahan pohon sepanjang bebukitan itu membangkitkan kenanganku akan Bintang, pacar pertamaku yang hilang entah kemana. Lenyap bak ditelan bumi. Bukan karena monyet itu jadi biang keladinya. Memang aku pernah salah omong saat ngajak dia duduk-duduk nongkrong sambil makan jagung bakar. Beli jagungnya di jalan Udayana sana terus bakarnya di halaman depan pengsong. Biar lebih mesra dan ada cerita jadi sambil bakar jagung aku peluk saja dia. Hanya sekadar memeluk pundaknya. Entah kenapa juga Bintang selalu suka mengajakku kemari. Apa barangkali yang menjadi alasannya. Mungkin dia hobby mendaki sehingga sangat suka melihat tanah bebukitan, namun nggak mau aku mengatakan kalau Bintang itu kelahiran dari seekor monyet sehingga shionya monyet. Tidak! Aku ndak mau berpikir seperti itu, karena sesungguhnya Bintang itu sangat cantik, kemayu, kenes dan sedikit genit. Wajahnya putih mulus tidak ada jerawat seperti wajahku dulu. Dan wow, matanya itu lho, demikian indah dan menawan. Pantas kalau ortunya kasi nama Bintang. Memang mirip Bintang. Kalau menatap matanya lama-lama dan terlalu lama, aku pasti akan nakal. Tapi jangan, ah. Tidak etis, apalagi disini banyak monyet. Tapi belum berakhir pikiranku tentang matanya yang indah, benar saja! Beberapa ekor monyet telah menyambar jagung kami yang sedang dibakar. Bintang menjerit-jerit dan lari tunggang langgang. Dan aku selain kaget ikut lari tapi memilih untuk mengejar Bintang. Bukan monyet.
Hai Bintang ketakutanmu itu keliru sayang, kenapa tidak lari dalam pelukanku saja?
“Dasar monyet, jadah!!” Aku mengumpat.
“Apaaaaaa???? Siapa yang monyet?” Tiba-tiba saja Bulan teriak di sampingku. He, aku terlalu jauh melamun. Di sampingku ini Bulan. Bukan Bintang.
Aku kaget. Kulihat Bulan melotot.
“Siapa yang kamu bilang monyet?”
Aku bengong kayak orang blo’on.
“Ayooo jujur saja, siapa monyet?” Bulan mendekat. Matanya masih melotot. Dan beberapa cubitan mampir dipaha dan lenganku.
“Hahahaha, hei Bulan, sabar..sabar. Aku tuh melihat monyet jadi terkenang cinta monyetku hehe kayak kita, Bulan…” Aku ngoceh seadanya. Tapi justru makin membangkitkan marahnya Bulan.
“Berarti bener khan menganggap aku itu monyet?” Bulan semakin gemas mencubit. Oh, sakitnya. Cubitan Bulan lebih menyakitkan ketimbang cubitan Bintang.
“Hei, sayang, kenapa dikau sensi begini, sih? Maksudnya Cinta monyet itu cinta pertama. Cinta kita yang pertama kali. Cinta pertama kita, sayang. First love honey hehehe cintaku pertama padamu, Bulanku,” Aku menggombal.
Bulan terperangah, setengah terpana. Bibirnya tak mau mingkem. Tatapannya polos nian. Dan tangannya mulai berhenti mencubit. Matanya sudah berkurang membelalak, kayak mata barong tadi kulihat.
Bulan termakan rayuanku. Buktinya dia tersenyum senyum. Hidungnya kembang kempis ketika kukatakan ia cantik jelita, mirip Bulan. Tetapi ketika melihat Bulan senyum-senyum begitu, aku tak mau mengalihkan pandangan ke arah monyet monyet yang pernah nakal padaku sewaktu bersama Bintang dulu. Nggak! Aku tidak mau melihat monyet itu, ntar kalau Bulan hamil aku nggak mau anakku kayak mahluk itu. Hiii
HANYA EMPAT MINGGU………….
Ya……hanya empat minggu cintaku bertahan. Tak putus dirundung sial. Apa karena monyet ini? Tiba-tiba saja Bulan berkata padaku:
“Hei Arjuna, mulai detik ini kamu jangan lagi main ke rumahku.!”
Waduh!
“Sudahlah, nggak usah frustasi gitu. Masih banyak gadis lain kok di kota ini. Kamu tahu di dunia ini perbandingan pria dan wanita itu satu berbanding empat.” Surya menghibur hatiku yang gundah.
“Sompret empat banding satu, katamu!!??” Aku menunjuk hidung sobatku itu. Surya juga yang memperkenalkan aku dengan Bintang dan Bulan. Dia memang sahabat yang baik hati.
“Empat banding satu, tiganya janda semua…” Aku ngedumel mengeluarkan ucapan yang tak pantas keluar. Tapi kalaupun kata-kata itu terucap juga tak pantas untuk di dengar.
Surya memegang bahuku. Menatapku trenyuh. Sangat hati-hati memulai pembicaraan, mungkin khawatir aku tersinggung kalau lidahnya mendadak keseleo salah ucap.
“Arjuna, sahabatku, mungkin aku bisa minta kamu hentikan dulu dah kebiasaan burukmu itu,” Surya lebih pelan berkata.
“Maksudmu?”
“Yahhh, kekurangan seseorang hanya sahabat baik yang bisa memberitahu. Itulah artinya sebuah persahabatan yang tulus,” Surya melanjutkan seperti ingin kata-katanya yang keluar di anggap berfilsafat.
“Iya apaaaaa kebiasaan apaaaaaa?” Aku tak sabar lagi. Huh. Benar-benar aku seorang Arjuna yang tak sabar. Ingin kupentang busur panahku dan kupanah rembulan itu agar meleleh mengeluarkan airmata. Airmata duka dari cinta yang terpenggal. Cintaku yang selalu sia-sia.
“Kamu hilangkan kebiasaanmu kentut di depan orang terutama di depan cewek. Itu saja!”
Aku kaget.
Jadi itu penyebabnya kenapa Bintang dan Bulan secara sontak, mendadak seketika tak ada angin tak ada hujan memutuskan tali kasih yang sesungguhnya kuanggap demikian membahagiakan. Ya, Tuhan, kenapa demikian cepat berlalu apa yang seharusnya engkau berikan padaku dalam kebahagiaan yang secuil ini? Secuil bagiMu yang sesungguhnya demikian besar artinya buatku. Oh, Tuhan……….. Jadi bukan karena monyet-monyet itu.
Bukan karena monyet, seperti perkiraanku.
Sengkongo, Mei 2011
(dari kumcer dadong inges penerbit pustaka ekspresi 2012)
“Ndak mau! Ndak mau. Itu gunung, itu gunung Pengsong, Pokoknya itu gunung!” Bulan merengut, sepertinya istilah gunung dan bukit sangat berarti baginya. Gunung mungkin saja diartikan tonjolan bumi bagian atas, tonjolan yang rendahan menurutku lebih sreg rasanya menyebut bukit.
“Iya…iya gunung. Itu gunungmu, sayang,” aku mengalah. Dari hasil mengalah itu aku memperoleh sebuah kecupan mesra.
“Eiiiits, sayang, nggak boleh mesum disini,” aku pura-pura mengelak kendati sedikit monyongkan mulut, walau sasaran bibirnya sebenarnya hanya pipiku saja. Pipi yang penuh bekas-bekas bongkahan jerawat sewaktu es-em-pe. Tapi sudah sembuh lho. Hm,, rajin pake acnol. Tapi nggak apa-apalah kalau hanya mengalah untuk sebutan gunung dan bukit buat Bulan demikian berarti, aku akan menjadi senang juga. Lagipula mengalah untuk bukit dan gunungnya Bulan, eh, maksudku mengalah untuk menerima kenyataan kalau bukit itu memang berbeda di mata Bulan, kekasihku yang jelita, aku akan sangat senang sekali. Seandainya monyet yang ada disana dia katakan gorilapun aku akan setuju, karena apa-apa yang menjadi anggapannya serta merta aku menyetujui dan mengiyakan, pasti Bulan akan menghadiahkan ciuman lagi. Siapa tahu kali ini di bagian bibirku, hehehe biasanya saking girangnya Bulan pelampiasannya padaku bisa diluar dugaan. Aku akan dirangkul kuat-kuat dan ngok! Lipstick itu akan menyala-nyala berbekas di sekitar wajahku yang ganteng.
“Kok diem sih? Bener khan itu gunung?” Bulan mengagetkan khayalanku.
“Eh..eh iya Bulan, iya bener itu gunung. Kalo monyet itu apaan Bulan?” Aku berusaha memancing. Siapa tahu khayalanku tepat.
“Monyet ya monyet! “ Bulan menjawab kenes.
Wow meleset. Kukira dengan mengatakannya gorilla aku akan menyetujui dan bibir kami saling berpagutan, hehe keliru ya.
Tapi melihat monyet-monyet yang sibuk berjumpalitan di dahan pohon sepanjang bebukitan itu membangkitkan kenanganku akan Bintang, pacar pertamaku yang hilang entah kemana. Lenyap bak ditelan bumi. Bukan karena monyet itu jadi biang keladinya. Memang aku pernah salah omong saat ngajak dia duduk-duduk nongkrong sambil makan jagung bakar. Beli jagungnya di jalan Udayana sana terus bakarnya di halaman depan pengsong. Biar lebih mesra dan ada cerita jadi sambil bakar jagung aku peluk saja dia. Hanya sekadar memeluk pundaknya. Entah kenapa juga Bintang selalu suka mengajakku kemari. Apa barangkali yang menjadi alasannya. Mungkin dia hobby mendaki sehingga sangat suka melihat tanah bebukitan, namun nggak mau aku mengatakan kalau Bintang itu kelahiran dari seekor monyet sehingga shionya monyet. Tidak! Aku ndak mau berpikir seperti itu, karena sesungguhnya Bintang itu sangat cantik, kemayu, kenes dan sedikit genit. Wajahnya putih mulus tidak ada jerawat seperti wajahku dulu. Dan wow, matanya itu lho, demikian indah dan menawan. Pantas kalau ortunya kasi nama Bintang. Memang mirip Bintang. Kalau menatap matanya lama-lama dan terlalu lama, aku pasti akan nakal. Tapi jangan, ah. Tidak etis, apalagi disini banyak monyet. Tapi belum berakhir pikiranku tentang matanya yang indah, benar saja! Beberapa ekor monyet telah menyambar jagung kami yang sedang dibakar. Bintang menjerit-jerit dan lari tunggang langgang. Dan aku selain kaget ikut lari tapi memilih untuk mengejar Bintang. Bukan monyet.
Hai Bintang ketakutanmu itu keliru sayang, kenapa tidak lari dalam pelukanku saja?
“Dasar monyet, jadah!!” Aku mengumpat.
“Apaaaaaa???? Siapa yang monyet?” Tiba-tiba saja Bulan teriak di sampingku. He, aku terlalu jauh melamun. Di sampingku ini Bulan. Bukan Bintang.
Aku kaget. Kulihat Bulan melotot.
“Siapa yang kamu bilang monyet?”
Aku bengong kayak orang blo’on.
“Ayooo jujur saja, siapa monyet?” Bulan mendekat. Matanya masih melotot. Dan beberapa cubitan mampir dipaha dan lenganku.
“Hahahaha, hei Bulan, sabar..sabar. Aku tuh melihat monyet jadi terkenang cinta monyetku hehe kayak kita, Bulan…” Aku ngoceh seadanya. Tapi justru makin membangkitkan marahnya Bulan.
“Berarti bener khan menganggap aku itu monyet?” Bulan semakin gemas mencubit. Oh, sakitnya. Cubitan Bulan lebih menyakitkan ketimbang cubitan Bintang.
“Hei, sayang, kenapa dikau sensi begini, sih? Maksudnya Cinta monyet itu cinta pertama. Cinta kita yang pertama kali. Cinta pertama kita, sayang. First love honey hehehe cintaku pertama padamu, Bulanku,” Aku menggombal.
Bulan terperangah, setengah terpana. Bibirnya tak mau mingkem. Tatapannya polos nian. Dan tangannya mulai berhenti mencubit. Matanya sudah berkurang membelalak, kayak mata barong tadi kulihat.
Bulan termakan rayuanku. Buktinya dia tersenyum senyum. Hidungnya kembang kempis ketika kukatakan ia cantik jelita, mirip Bulan. Tetapi ketika melihat Bulan senyum-senyum begitu, aku tak mau mengalihkan pandangan ke arah monyet monyet yang pernah nakal padaku sewaktu bersama Bintang dulu. Nggak! Aku tidak mau melihat monyet itu, ntar kalau Bulan hamil aku nggak mau anakku kayak mahluk itu. Hiii
HANYA EMPAT MINGGU………….
Ya……hanya empat minggu cintaku bertahan. Tak putus dirundung sial. Apa karena monyet ini? Tiba-tiba saja Bulan berkata padaku:
“Hei Arjuna, mulai detik ini kamu jangan lagi main ke rumahku.!”
Waduh!
“Sudahlah, nggak usah frustasi gitu. Masih banyak gadis lain kok di kota ini. Kamu tahu di dunia ini perbandingan pria dan wanita itu satu berbanding empat.” Surya menghibur hatiku yang gundah.
“Sompret empat banding satu, katamu!!??” Aku menunjuk hidung sobatku itu. Surya juga yang memperkenalkan aku dengan Bintang dan Bulan. Dia memang sahabat yang baik hati.
“Empat banding satu, tiganya janda semua…” Aku ngedumel mengeluarkan ucapan yang tak pantas keluar. Tapi kalaupun kata-kata itu terucap juga tak pantas untuk di dengar.
Surya memegang bahuku. Menatapku trenyuh. Sangat hati-hati memulai pembicaraan, mungkin khawatir aku tersinggung kalau lidahnya mendadak keseleo salah ucap.
“Arjuna, sahabatku, mungkin aku bisa minta kamu hentikan dulu dah kebiasaan burukmu itu,” Surya lebih pelan berkata.
“Maksudmu?”
“Yahhh, kekurangan seseorang hanya sahabat baik yang bisa memberitahu. Itulah artinya sebuah persahabatan yang tulus,” Surya melanjutkan seperti ingin kata-katanya yang keluar di anggap berfilsafat.
“Iya apaaaaa kebiasaan apaaaaaa?” Aku tak sabar lagi. Huh. Benar-benar aku seorang Arjuna yang tak sabar. Ingin kupentang busur panahku dan kupanah rembulan itu agar meleleh mengeluarkan airmata. Airmata duka dari cinta yang terpenggal. Cintaku yang selalu sia-sia.
“Kamu hilangkan kebiasaanmu kentut di depan orang terutama di depan cewek. Itu saja!”
Aku kaget.
Jadi itu penyebabnya kenapa Bintang dan Bulan secara sontak, mendadak seketika tak ada angin tak ada hujan memutuskan tali kasih yang sesungguhnya kuanggap demikian membahagiakan. Ya, Tuhan, kenapa demikian cepat berlalu apa yang seharusnya engkau berikan padaku dalam kebahagiaan yang secuil ini? Secuil bagiMu yang sesungguhnya demikian besar artinya buatku. Oh, Tuhan……….. Jadi bukan karena monyet-monyet itu.
Bukan karena monyet, seperti perkiraanku.
Sengkongo, Mei 2011
(dari kumcer dadong inges penerbit pustaka ekspresi 2012)
HANYA SEDIKIT SAJA
Hanya sedikit, anggaran proyek ini kusulap
Jadi kantong penghuni rekeningku
Demi anak anak yang butuh sanggu dan jalan jalan menebar sukma
Demi istri yang butuh perhiasan untuk lebih anggun tampil
Demi para dedemit yang minta jatah kompens batu akik perambah pengasih asih
Agar sedikit mampu bertahan menjaga jabatan
Dan kalau bisa seedikit lagi, anggaran proyek ini kusulap
Buat bekal kampanye untuk melanggengkan kepercayaan politik
Pada rakyat
Serta menina bobokan hatinya
Yang berlimpah kemiskinan
Jadi kantong penghuni rekeningku
Demi anak anak yang butuh sanggu dan jalan jalan menebar sukma
Demi istri yang butuh perhiasan untuk lebih anggun tampil
Demi para dedemit yang minta jatah kompens batu akik perambah pengasih asih
Agar sedikit mampu bertahan menjaga jabatan
Dan kalau bisa seedikit lagi, anggaran proyek ini kusulap
Buat bekal kampanye untuk melanggengkan kepercayaan politik
Pada rakyat
Serta menina bobokan hatinya
Yang berlimpah kemiskinan
DASAR……!!!! ANAK BINATANG…!!!!
Temanku punya kebiasaan aneh. Setiap sore melihat anak anak yang tengah asyik bermain bola di gang sebelah rumahnya, selalu keluar umpatan maha dahsyat”…dasar anak binatang! “
Hari harinya dipenuhi emosi meledak-ledak. Anak anak, termasuk pula anakku yang mendengar makian demikian tentu saja marah, tidak terima. Dan anak anak sebagian dari mereka tentu saja menceritakan kedahsyatan umpatan dari orang yang dikatakan orang tua kepada orang tuanya pula. Lebih bijak mereka ternyata dari temanku yang suka latah mengeluarkan makian ajaib itu. Suatu ketika, beberapa diantara orang tua mereka iseng nongkrong di ujung gang sembari memperhatikan anak-anak mereka bermain bola. Barangkali sekadar ngobrol ngobrol sore untuk lebih akrab sesame tetangga, barangkali juga ingin membuktikan kebenaran kata-kata anak-anak mereka akan umpatan yang pernah mampir di telinga tentang kata-kata Dasar….anak binatang!!!
Dan seperti biasa, mendengar keramaian anak anak, temanku keluar dari rumahnya. Namun hanya kepalanya saja melongok keluar sebatas pagar rumah, badannya menciut kembali ke dalam begitu melihat para bapak bapak sedang santai ngobrol di ujung gang. Temanku urung untuk mendamprat, bahkan mungkin sebuah atau beberapa makian yang akan keluar dari mulutnya yang mungil tanpa kumis, ditelan kembali.
Temanku ini memang sangat lucu. Sebuah kelucuan yang ganjil dengan kurang begitu bisa menunjukkan simpati pada anak anak yang tengah riang gembira menikmati masanya.
Barangkali temanku ini kurang nyaman hidupnya melihat anak anak gembira, sementara dia tidak bisa membaurkan anaknya sendiri dalam kegembiraan bersama sama mereka. Tentu saja! Baginya barangkali harga sebuah kegembiraan merupakan belati maut yang menikam tubuhnya, menikam otaknya, menikan kepalanya untuk tidak bisa menikmati hari-hari. Karena sebuah kegembiraan sama artinya dengan pisau maut yang dapat mengganggu aktifitasnya. Apa sih aktifitas temanku ini, pada hari hari dimana seharusnya bisa berbaur dalam kegembiraan anak-anak, kendati tidak harus menyediakan sarana untuk bersama sama menikmati dengan anak anak yang sedang butuh-butuhnya kegembiraan.
Wah, akan sadis terdengar kalau temanku ini menganggap kegembiraan atau bergembira sesaat adalah ancaman bagi hidupnya. Dengan demikian manakala melihat anak anak bermain bola dengan bergembira maka itu sama artinya dengan mengamcam hidupnya. Itu berarti, ancaman demikian harus dibalas dengan ancaman yang sama, memaki. Ya, dia akan memaki dengan kata-kata “Hush! Anak nakal, anak binatang…dasar anak binatang!”
Apakah dengan demikian anak anak akan diajarkan juga untuk balas memaki?
Wah!
Sampai suatu ketika, aku mendengar kabar anak anak dilaporkan ke polsek setempat dengan kasus pelemparan rumah. Dengan berbekal bukti tak jelas, saksi entah siapa, beberapa orang tua yang merasa anaknya menjadi tertuduh dalam kasus ini mendatangi polsek setempat beramai ramai. Belum ada kejelasan, apa makna di balik melaporkan tindak kenakalan anak anak yang pemicunya dari ungkapan “Dasar anak binatang!” justru keluar dari mulut si pelapor itu, yang juga sebagai temanku sendiri, yang juga ternyata dia merupakan salah seorang anggota yang bertugas di polsek itu. Katanya, berkas laporan itu sudah di teruskan ke masing masing ketua RT. Wah, semakin parah aja nih! Namun ketika salah seorang menanyakan berkas surat laporan itu ke polsek setempat, tidak ada penjelasan pasti mengenai surat itu. Apalagi kapolseknya sendiri belum mengetahui serta belum menandatangni surat tersebut. Jangan jangan ini hanya semacam laporan fiktif untuk memberi semacam shock terapi, pada anak anak yang melimbas pada orang tua anak-anak yang merasa juga tidak terima mendengar anak anak mereka disudutkan dengan kata-kata: …..DASAR ANAK BINATANG…!!!!!
Apakah dengan tindakan melaporkan anak-anak ke kantor polisi juga merupakan salah satu dari sebagian besar keanehan yang dimiliki temanku ini?
Hari harinya dipenuhi emosi meledak-ledak. Anak anak, termasuk pula anakku yang mendengar makian demikian tentu saja marah, tidak terima. Dan anak anak sebagian dari mereka tentu saja menceritakan kedahsyatan umpatan dari orang yang dikatakan orang tua kepada orang tuanya pula. Lebih bijak mereka ternyata dari temanku yang suka latah mengeluarkan makian ajaib itu. Suatu ketika, beberapa diantara orang tua mereka iseng nongkrong di ujung gang sembari memperhatikan anak-anak mereka bermain bola. Barangkali sekadar ngobrol ngobrol sore untuk lebih akrab sesame tetangga, barangkali juga ingin membuktikan kebenaran kata-kata anak-anak mereka akan umpatan yang pernah mampir di telinga tentang kata-kata Dasar….anak binatang!!!
Dan seperti biasa, mendengar keramaian anak anak, temanku keluar dari rumahnya. Namun hanya kepalanya saja melongok keluar sebatas pagar rumah, badannya menciut kembali ke dalam begitu melihat para bapak bapak sedang santai ngobrol di ujung gang. Temanku urung untuk mendamprat, bahkan mungkin sebuah atau beberapa makian yang akan keluar dari mulutnya yang mungil tanpa kumis, ditelan kembali.
Temanku ini memang sangat lucu. Sebuah kelucuan yang ganjil dengan kurang begitu bisa menunjukkan simpati pada anak anak yang tengah riang gembira menikmati masanya.
Barangkali temanku ini kurang nyaman hidupnya melihat anak anak gembira, sementara dia tidak bisa membaurkan anaknya sendiri dalam kegembiraan bersama sama mereka. Tentu saja! Baginya barangkali harga sebuah kegembiraan merupakan belati maut yang menikam tubuhnya, menikam otaknya, menikan kepalanya untuk tidak bisa menikmati hari-hari. Karena sebuah kegembiraan sama artinya dengan pisau maut yang dapat mengganggu aktifitasnya. Apa sih aktifitas temanku ini, pada hari hari dimana seharusnya bisa berbaur dalam kegembiraan anak-anak, kendati tidak harus menyediakan sarana untuk bersama sama menikmati dengan anak anak yang sedang butuh-butuhnya kegembiraan.
Wah, akan sadis terdengar kalau temanku ini menganggap kegembiraan atau bergembira sesaat adalah ancaman bagi hidupnya. Dengan demikian manakala melihat anak anak bermain bola dengan bergembira maka itu sama artinya dengan mengamcam hidupnya. Itu berarti, ancaman demikian harus dibalas dengan ancaman yang sama, memaki. Ya, dia akan memaki dengan kata-kata “Hush! Anak nakal, anak binatang…dasar anak binatang!”
Apakah dengan demikian anak anak akan diajarkan juga untuk balas memaki?
Wah!
Sampai suatu ketika, aku mendengar kabar anak anak dilaporkan ke polsek setempat dengan kasus pelemparan rumah. Dengan berbekal bukti tak jelas, saksi entah siapa, beberapa orang tua yang merasa anaknya menjadi tertuduh dalam kasus ini mendatangi polsek setempat beramai ramai. Belum ada kejelasan, apa makna di balik melaporkan tindak kenakalan anak anak yang pemicunya dari ungkapan “Dasar anak binatang!” justru keluar dari mulut si pelapor itu, yang juga sebagai temanku sendiri, yang juga ternyata dia merupakan salah seorang anggota yang bertugas di polsek itu. Katanya, berkas laporan itu sudah di teruskan ke masing masing ketua RT. Wah, semakin parah aja nih! Namun ketika salah seorang menanyakan berkas surat laporan itu ke polsek setempat, tidak ada penjelasan pasti mengenai surat itu. Apalagi kapolseknya sendiri belum mengetahui serta belum menandatangni surat tersebut. Jangan jangan ini hanya semacam laporan fiktif untuk memberi semacam shock terapi, pada anak anak yang melimbas pada orang tua anak-anak yang merasa juga tidak terima mendengar anak anak mereka disudutkan dengan kata-kata: …..DASAR ANAK BINATANG…!!!!!
Apakah dengan tindakan melaporkan anak-anak ke kantor polisi juga merupakan salah satu dari sebagian besar keanehan yang dimiliki temanku ini?
MALU AKU BERMOBIL MEWAH, PLAT MERAH
Terkadang malu hati berseliweran sana sini
bermobil mewah, plat merah
bergincu cantik terlihat menarik bak akik mulia
kalau tahu hidupku hanya manipulasi angka angka
dalam anggaran yang mampu kusulap
jadi kekayaan sendiri
Terkadang malu aku menggilas jalanan
berjas tebal mengalungkan dasi sepanjang lutut
berkoar koar tentang demokrasi, keadilan, kemiskinan
sementara kantongku depresi melafal aksara agama
bahwa menjadi maling uang negara itu bukan sesuatu yang terkutuk
namun apa mau dikata, istriku butuh rumah mewah, kolam renang, estafet mutiara dan
apa pula mau dikata, simpananku butuh rekening utuh, jalan jalan, souvenir dan
lafal agama ada dalam ungkapan skenario naisbitt meramal
negeri sia sia
bermobil mewah, plat merah
bergincu cantik terlihat menarik bak akik mulia
kalau tahu hidupku hanya manipulasi angka angka
dalam anggaran yang mampu kusulap
jadi kekayaan sendiri
Terkadang malu aku menggilas jalanan
berjas tebal mengalungkan dasi sepanjang lutut
berkoar koar tentang demokrasi, keadilan, kemiskinan
sementara kantongku depresi melafal aksara agama
bahwa menjadi maling uang negara itu bukan sesuatu yang terkutuk
namun apa mau dikata, istriku butuh rumah mewah, kolam renang, estafet mutiara dan
apa pula mau dikata, simpananku butuh rekening utuh, jalan jalan, souvenir dan
lafal agama ada dalam ungkapan skenario naisbitt meramal
negeri sia sia
Kamis, 29 Desember 2011
NEGERI TANPA WAJAH
negeri tanpa wajah
tak bertelinga
rakyat hilang lidah
penguasa bertahta
diatas kebenarannya sendiri
tiba duka negeri tanpa rakyat
pembunuhan di sana sini
hilang akal
lebih banyak mengakali
negeri tanpa wajah
membangun kuburan di atas rakyat
menggali tahta di atas keculasan
kebohongan
negeri tanpa wajah
kubangan nista
lereng pengsong des11
tak bertelinga
rakyat hilang lidah
penguasa bertahta
diatas kebenarannya sendiri
tiba duka negeri tanpa rakyat
pembunuhan di sana sini
hilang akal
lebih banyak mengakali
negeri tanpa wajah
membangun kuburan di atas rakyat
menggali tahta di atas keculasan
kebohongan
negeri tanpa wajah
kubangan nista
lereng pengsong des11
Langganan:
Postingan (Atom)
