Siapa yang terbaring menatap air
yang memenuhi sungai tak habis mengalirnya
waktu
siapa yang hilang ke hulu
tak berpenghabisan mata yang menumpuk
menyisakan masa lalu tak habis
menyihir hari yang selalu lekang mengukur jalan waktu
siapa punya wajah hilang
hulunya jatuh meninggalkan masa lalu yang tak pernah usai
mengukur jalannya air sungai, jalannya waktu
menghitung waktu
mencatat sejarah
mengikuti jalannya hidup
Terbaring menatap air mengalir
sepasang bola mata kanak-kanak
mengalirkan kejenakaan
tak akan pernah bertanya masa lalu
Sabtu, 22 Oktober 2011
DENGAN SAYAP MENGEMBANG DIAM
Aku khawatir tidak dapat lewati waktu
Dalam kebimbangan engkau hanya membekali sayap
Tanpa pernah tahu bagaimana caranya menyeberangkan keinginan
Laut tak bertepi
Tanpa pernah menggunakan salah satu kalimat tak tersimak
Kata tak bersayap, hanya kau anggap khotbah kosong
Bagaimana cara terbang mencapai tujuan mencari musim yang hilang
Selalu kau sebut dosa yang tersekap dalam keinginan buruk
Pergunakanlah sayapmu ketika tengah berada di atas langit
Bukan sebagai kekahawatiran yang tak jelas
Tengah dengar sebait doa, kau hanya membaca awan suntuk
Beterbangan bersama waktu
Langit tak berjarak
Tanpa pernah ingin menghitung berapa abad yang terlewatkan
Di atas ketinggian mimpi mimpi tak berjarak
Ketika doa itu tak kau hiraukan lagi
Tak pernah dengar lagi suara suara yang menghamba pada kekhawatiran
Membelenggu musim ke musim berganti
Melumut nista berkepanjangan
Telagawaru, 09102011
Dalam kebimbangan engkau hanya membekali sayap
Tanpa pernah tahu bagaimana caranya menyeberangkan keinginan
Laut tak bertepi
Tanpa pernah menggunakan salah satu kalimat tak tersimak
Kata tak bersayap, hanya kau anggap khotbah kosong
Bagaimana cara terbang mencapai tujuan mencari musim yang hilang
Selalu kau sebut dosa yang tersekap dalam keinginan buruk
Pergunakanlah sayapmu ketika tengah berada di atas langit
Bukan sebagai kekahawatiran yang tak jelas
Tengah dengar sebait doa, kau hanya membaca awan suntuk
Beterbangan bersama waktu
Langit tak berjarak
Tanpa pernah ingin menghitung berapa abad yang terlewatkan
Di atas ketinggian mimpi mimpi tak berjarak
Ketika doa itu tak kau hiraukan lagi
Tak pernah dengar lagi suara suara yang menghamba pada kekhawatiran
Membelenggu musim ke musim berganti
Melumut nista berkepanjangan
Telagawaru, 09102011
Sabtu, 15 Oktober 2011
KERIS SIKATI MUNO
Berapa luk yang telah kau asah dalam pertarungan
apakah bagai naga sikati muno yang jelajahi luk keris bertuah
berhari-hari dalam peram mata nyalang
berhari hari mengasah
menjaga kedamaian hingga kau temukan sungai tarab
mata air keberikut yang menjernihkan hati
bermula hingga bertemu bungo setangkai
sebuah negeri muasal setangkai teratai
lalu siapakah pewaris keris sikati muno kini?
berapa luk yang tersisa, seberapa kesuburan yang terasah
membumi dalam tanah Minang
hingga kini
Sept,2011
apakah bagai naga sikati muno yang jelajahi luk keris bertuah
berhari-hari dalam peram mata nyalang
berhari hari mengasah
menjaga kedamaian hingga kau temukan sungai tarab
mata air keberikut yang menjernihkan hati
bermula hingga bertemu bungo setangkai
sebuah negeri muasal setangkai teratai
lalu siapakah pewaris keris sikati muno kini?
berapa luk yang tersisa, seberapa kesuburan yang terasah
membumi dalam tanah Minang
hingga kini
Sept,2011
CAMIN TARUIH
Demikianlah kau bunuh serupa keingkaran akan emas bertahta
pelayaran sang putra yang menghilangkan mahkota emas
hingga ke dasar laut
sebuah ceruk bagi kekuasaan
sampai dimanakah mula asal sejarah
lembah-lembah ditutupi kabut tebal
hutan rimba raya nan lebat
perlahan membuka kehidupan
Galundi Nan Baselo yang beranjak
Batang bengkawas yang mendatangkan kemujuran
memancar air segala kehidupan serupa mata air aliri rasa
hingga datangnya sang rusa emas, sang sapurba yang terkeloni indo julito
tidak serupa carmin taruih walau bercabang emas yang mudah terperdaya
namun lembah batang bengkawas senantiasa aliri kesuburanmu
Sept,2011
pelayaran sang putra yang menghilangkan mahkota emas
hingga ke dasar laut
sebuah ceruk bagi kekuasaan
sampai dimanakah mula asal sejarah
lembah-lembah ditutupi kabut tebal
hutan rimba raya nan lebat
perlahan membuka kehidupan
Galundi Nan Baselo yang beranjak
Batang bengkawas yang mendatangkan kemujuran
memancar air segala kehidupan serupa mata air aliri rasa
hingga datangnya sang rusa emas, sang sapurba yang terkeloni indo julito
tidak serupa carmin taruih walau bercabang emas yang mudah terperdaya
namun lembah batang bengkawas senantiasa aliri kesuburanmu
Sept,2011
Lomba Cipta Puisi Padang 2011 Inilah 75 Puisi yang Lolos Masuk Nominasi
Setelah melalui serangkaian penilaian dan diskusi tentang karya siapa yang laik masuk babak nominasi, akhirnya panitia IADB mengumumkan 75 puisi terbaik di tahapan kedua ini yang secara resmi disiarkan Sabtu, 8 Oktober 2011. Inilah saat-saat yang paling mendebarkan bagi peserta yang puisinya terpilih, apakah nanti akan unggul menjadi pemenang atau cukup berada di tahapan ini saja.
Sekarang, Dewan Juri Final yang terdiri dari sastrawan nasional dan sastrawan Sumatera Barat (berjumlah 7 orang dan nama-nama mereka akan diumumkan bersamaan pengumuman pemenang 15 Oktober 2011, red), sedang bekerja keras memberi penilaian. Sidang Dewan Juri menentukan pemenang akan dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 di Padang.
Berikut nama dan karya peserta yang lolos masuk nominasi (nama berdasarkan abjad):
1. Asril Koto (Bayangan September)
2. Alizar Tanjung (Burung Andalas)
3. Aray Rayza Alisjahbana (Mengenalmu Hanya Sebatas Nama)
4. A’yat Khalili (Padang, Cinta tak Pernah Sirna)
5. Al Hafiz (Serpihan Kenangan)
6. Azwan (Padang Sepanjang Masa)
7. Askar Marlindo (Kota Padangku)
8. Aksan Taqwin (Antara Tisu dan Sapu Tangan)
9. Asrina Novianti (Di Teluk Bayur)
10. Aisyah Istiqamah Marsyah (Pada Padang yang Bercerita)
11. Af Kurniawan (Atas Nama Rendang, Atas Nama Lelaki)
12. Budhi Setyawan (Semalam di Padang)
13. Budi Saputra (Pantai Purus Tepi Kota)
14. Burhanuddin NS (Kado untuk Kota Padang)
15. Bambang Widiatmoko (Kado Cinta Sederhana)
16. Deddy Arsya (Sunting Nias)
17. Deri Ilham (Musim Kenang di Kota Padang)
18. Debi Ayu Lestari (Padang Your Motherland)
19. Desio Isanov (Padang, Cintaku Untukmu)
20. Deni Arifin (Engkau Kota Adalah Cinta)
21. Denny P. Cakrawala (Selepas Membaca Siti Nurbaya)
22. Dodi Prananda (Menulis Kangen; Padang)
23. Dedi Supendra (Hikayat Seorang Wanita di Pucuk Bukit)
24. DG Kumarsana (Camin Taruih)
25. Dedi Oscar Adams (Siti Nurbaya Tak Lagi Nestapa)
26. Esha Tegar Putra (Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta)
27. Diyano Piliang (Peringatan, Cobaan, Hukuman)
28. Fadhli Basya (Menghormati Hari Jadi Kota Padang)
29. Frans Ekodhanto Purba (Empat Wajah Padang)
30. Firman Nofeki (Desau Nyiur Pelabuhan Muara)
31. F. Rizal Alief (Sepasang Puisi di Kota Tua)
32. Fhadilla Amelia (Tanah Harapan)
33. Hendri Nova (Padangku)
34. Heru Joni Putra (Taragak)
35. Hakimah Rahmah Sari (Padang, Petang dan Puisi)
36. Heni Kurniawati (Pengantin Padang)
37. Irfan Syariputra (Tentang Rindu di Tanah Kenangan Kita)
38. Idris Reficul (Senja di Atas Jembatan Siti Nurbaya)
39. Ida Ayu Utami (Saat Padang tak Pernah Sunyi)
40. I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini (Kado Sesloki Air)
41. Inung Imtihani (Kepada Mandeh)
42. Kurnia Hadinata (Epitaf Arau)
43. Kemas Ferri Rahman (Sejumlah Kenangan di Masa Lalu)
44. Karta Kusumah (Cerita Bergambar Padang Buat si Sayang)
45. Kartika Amellia (Kampung Halaman)
46. Latief S Nugraha (Di Serambi Masjid Raya Ganting)
47. Lili Asnita (Sekilas Petang di Padang)
48. Mahatma Muhammad (Serindu Waktu di Kotaku)
49. Miswar Ibrahim Njong (Padang di Suatu Ketika)
50. Meiriza Paramita (Taratak Pengembara)
51. Mugya Syahreza Santosa (Seperti Penyair)
52. Moh. Ghufron Cholid (Panggil Aku Siti Nurbaya)
53. Melisa Asripal (Kepada yang Terkasih, Padang)
54. Muhammad Fadhli (Padang, 7 Agustus 1669)
55. Nur Efendi (Tentang Lelaki di Nagariku)
56. Novita Efendi (Rendang Sang Jargon Padang)
57. Na Lesmana (Di Jembatan Siti Nurbaya)
58. Nidhom Fauzi (Jiwa Padang)
59. Niken Kinanti (Anak Berkalung Tembaga)
60. Pinto Anugrah (Kutinjau Laut Dipandang Padang)
61. Putu Sugih Arta (Aku tak Lupa Rumah Gadang Itu)
62. Rika Silviani (Semarak Kota Padang)
63. Robbi Saputra El Kuray (Senandung Anak Pesisir)
64. Rizki Hardiansah (Makna di Akhir Cerita)
65. Reza Anindita (Godzilla)
66. Silfia Hanani (Kota Padang Dalam Catatanku)
67. Setio Hadi (Es Hadi) (Namaku Malin)
68. Vironika Sri Wahyuningsih (Nostalgia Siti Nurbaya)
69. Wisnhu Bagas Murtolo (Lagu 60-an)
70. Wisman (Jeritan Pengemis Pasar Raya Padang)
71. Wishu Muhamad (Induak Samba)
72. Wayan Sunarta (Kutitip Rinduku)
73. Yunita (Nyanyian Kota Padang)
74. Yori Kayama (Di Pantai Padang, Aku Mengingat Beberapa Kejadian)
75. Zulherma (Orang Kampung)
Sekarang, Dewan Juri Final yang terdiri dari sastrawan nasional dan sastrawan Sumatera Barat (berjumlah 7 orang dan nama-nama mereka akan diumumkan bersamaan pengumuman pemenang 15 Oktober 2011, red), sedang bekerja keras memberi penilaian. Sidang Dewan Juri menentukan pemenang akan dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 di Padang.
Berikut nama dan karya peserta yang lolos masuk nominasi (nama berdasarkan abjad):
1. Asril Koto (Bayangan September)
2. Alizar Tanjung (Burung Andalas)
3. Aray Rayza Alisjahbana (Mengenalmu Hanya Sebatas Nama)
4. A’yat Khalili (Padang, Cinta tak Pernah Sirna)
5. Al Hafiz (Serpihan Kenangan)
6. Azwan (Padang Sepanjang Masa)
7. Askar Marlindo (Kota Padangku)
8. Aksan Taqwin (Antara Tisu dan Sapu Tangan)
9. Asrina Novianti (Di Teluk Bayur)
10. Aisyah Istiqamah Marsyah (Pada Padang yang Bercerita)
11. Af Kurniawan (Atas Nama Rendang, Atas Nama Lelaki)
12. Budhi Setyawan (Semalam di Padang)
13. Budi Saputra (Pantai Purus Tepi Kota)
14. Burhanuddin NS (Kado untuk Kota Padang)
15. Bambang Widiatmoko (Kado Cinta Sederhana)
16. Deddy Arsya (Sunting Nias)
17. Deri Ilham (Musim Kenang di Kota Padang)
18. Debi Ayu Lestari (Padang Your Motherland)
19. Desio Isanov (Padang, Cintaku Untukmu)
20. Deni Arifin (Engkau Kota Adalah Cinta)
21. Denny P. Cakrawala (Selepas Membaca Siti Nurbaya)
22. Dodi Prananda (Menulis Kangen; Padang)
23. Dedi Supendra (Hikayat Seorang Wanita di Pucuk Bukit)
24. DG Kumarsana (Camin Taruih)
25. Dedi Oscar Adams (Siti Nurbaya Tak Lagi Nestapa)
26. Esha Tegar Putra (Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta)
27. Diyano Piliang (Peringatan, Cobaan, Hukuman)
28. Fadhli Basya (Menghormati Hari Jadi Kota Padang)
29. Frans Ekodhanto Purba (Empat Wajah Padang)
30. Firman Nofeki (Desau Nyiur Pelabuhan Muara)
31. F. Rizal Alief (Sepasang Puisi di Kota Tua)
32. Fhadilla Amelia (Tanah Harapan)
33. Hendri Nova (Padangku)
34. Heru Joni Putra (Taragak)
35. Hakimah Rahmah Sari (Padang, Petang dan Puisi)
36. Heni Kurniawati (Pengantin Padang)
37. Irfan Syariputra (Tentang Rindu di Tanah Kenangan Kita)
38. Idris Reficul (Senja di Atas Jembatan Siti Nurbaya)
39. Ida Ayu Utami (Saat Padang tak Pernah Sunyi)
40. I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini (Kado Sesloki Air)
41. Inung Imtihani (Kepada Mandeh)
42. Kurnia Hadinata (Epitaf Arau)
43. Kemas Ferri Rahman (Sejumlah Kenangan di Masa Lalu)
44. Karta Kusumah (Cerita Bergambar Padang Buat si Sayang)
45. Kartika Amellia (Kampung Halaman)
46. Latief S Nugraha (Di Serambi Masjid Raya Ganting)
47. Lili Asnita (Sekilas Petang di Padang)
48. Mahatma Muhammad (Serindu Waktu di Kotaku)
49. Miswar Ibrahim Njong (Padang di Suatu Ketika)
50. Meiriza Paramita (Taratak Pengembara)
51. Mugya Syahreza Santosa (Seperti Penyair)
52. Moh. Ghufron Cholid (Panggil Aku Siti Nurbaya)
53. Melisa Asripal (Kepada yang Terkasih, Padang)
54. Muhammad Fadhli (Padang, 7 Agustus 1669)
55. Nur Efendi (Tentang Lelaki di Nagariku)
56. Novita Efendi (Rendang Sang Jargon Padang)
57. Na Lesmana (Di Jembatan Siti Nurbaya)
58. Nidhom Fauzi (Jiwa Padang)
59. Niken Kinanti (Anak Berkalung Tembaga)
60. Pinto Anugrah (Kutinjau Laut Dipandang Padang)
61. Putu Sugih Arta (Aku tak Lupa Rumah Gadang Itu)
62. Rika Silviani (Semarak Kota Padang)
63. Robbi Saputra El Kuray (Senandung Anak Pesisir)
64. Rizki Hardiansah (Makna di Akhir Cerita)
65. Reza Anindita (Godzilla)
66. Silfia Hanani (Kota Padang Dalam Catatanku)
67. Setio Hadi (Es Hadi) (Namaku Malin)
68. Vironika Sri Wahyuningsih (Nostalgia Siti Nurbaya)
69. Wisnhu Bagas Murtolo (Lagu 60-an)
70. Wisman (Jeritan Pengemis Pasar Raya Padang)
71. Wishu Muhamad (Induak Samba)
72. Wayan Sunarta (Kutitip Rinduku)
73. Yunita (Nyanyian Kota Padang)
74. Yori Kayama (Di Pantai Padang, Aku Mengingat Beberapa Kejadian)
75. Zulherma (Orang Kampung)
Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Padang 2011
Inilah saat yang paling bersejarah bagi para peserta Lomba Cipta Puisi Padang 2011 yang karyanya lolos masuk nominasi dan diumumkan siapa pemenangnya.
Panitia penyelenggara dari Ikatan Alumni Don Bosco (IADB) Padang dalam suatu rapat di Padang, Kamis 14 Oktober 2011 bersama dewan juri semi final dan juri final menetapkan nama dan karya puisi terbaik yang berhak meraih hadiah yang telah disediakan panitia. Para pemenang dan karya puisinya diumumkan Jumat 15 Oktober 2011 di blog IADB www.padangdalampuisi.blogspot.com.
IADB berbahagia atas antusias peserta yang mengikuti lomba ini yang dimulai sejak awal Agustus 2011 dan berakhir 30 September 2011 lalu. Sepanjang kurun waktu dua bulan itu, panitia menerima tidak kurang dari 511 puisi karya peserta yang berasal dari Sabang hingga Papua. Bahkan beberapa peserta ada juga yang berasal dari Hongkong, Malaysia, dan negara tetangga lainnya.
Ini sangat memuaskan panitia sebab melebihi target yang diharapkan. Semula panitia mengira peserta yang mengirimkan puisi karya terbaiknya tidak lebih dari 300 judul saja. Tujuan menggairahkan kegiatan tulis menulis khususnya di kalangan siswa dan mahasiswa secara umum tercapai sudah dengan melihat antusias peserta yang cukup tinggi.
Agar lomba ini berkualitas, panitia memilih dewan juri yang berkompeten di bidangnya. Mereka adalah:
1. Prof. Eka Budianta (Akademisi, Sastrawan ~ Jakarta)
2. Prof. Harris Effendi Tahar (Sastrawan, Akademisi ~ Padang)
3. Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior ~ Padang)
4. Pipiet Senja (Novelis ~ Jakarta)
5. Sastri Bakry (Novelis ~ Padang)
6. Nita Indrawati (Penulis, Jurnalis ~ Padang)
7. Veridiana Somanto (Akademisi ~ Padang)
8. Muhammad Subhan (Jurnalis, Penulis, Novelis ~ Padangpanjang)
Nama-nama dewan juri tersebut di atas yang selama kurun waktu lomba menyimak, mendiskusikan, menilai dan memutuskan karya-karya terbaik buah pena peserta lomba cipta puisi tingkat nasional ini.
Setelah menetapkan 150 puisi terpilih (yang direncanakan akan dibukukan), lalu mengumumkan 75 puisi nominasi, maka inilah nama-nama pemenang dan karyanya yang secara resmi disiarkan hari ini:
PEMENANG UTAMA:
Juara 1
Judul Puisi: Epitaf Arau (Kurnia Hadinata, Pasaman)
Juara 2
Judul Puisi: Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta (Esha Tegar Putra, Padang)
Juara 3
Judul Puisi: Sepasang Puisi di Kota Tua (F. Rizal Alief, Madura)
TUJUH PUISI TERPUJI:
1. Padang, Petang dan Puisi (Hakimah Rahmah Sari, Padang)
2. Cerita Bergambar Padang Buat si Sayang (Karta Kusumah, Padang)
3. Di Pantai Padang, aku Mengingat Beberapa Kejadian (Yori Kayama, Padang)
4. Pantai Purus Tepi Kota (Budi Saputra, Padang)
5. Hikayat Seorang Wanita di Pucuk Bukit (Dedi Supendra, Pariaman)
6. Menulis Kangen; Padang (Dodi Prananda, Depok)
7. Kepada Mandeh (Inung Imtihani, Depok)
Para pemenang berhak mendapatkan hadiah:
PEMENANG UTAMA
Juara 1:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang tunai Rp1.000.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
Juara 2:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang tunai Rp750.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
Juara 3:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang Tunai Rp500.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
PEMENANG “TUJUH PUISI TERPUJI” BERHAK MENDAPATKAN PAKET BUKU DAN PIAGAM PERHARGAAN DARI IADB.
Semula, panitia hanya menyediakan paket wisata untuk juara 1 dan juara 2 saja. Namun, untuk memberikan penghargaan yang tinggi atas gerakan menulis ini, juara 3 juga mendapat kehormatan untuk mengikuti paket wisata sastra ke Malaysia.
Kepada pemenang utama yang diumumkan nama-namanya di atas, diharapkan segera mengurus pasport dan fotocopy pasport paling lambat diterima panitia akhir Oktober 2011 (tanggal 29 Oktober 2011). Fotocopy pasport discan dan dikirim via email: padangkotaku@ymail.com acc ke sastriyunizarti@yahoo.com. Bila lewat dari tanggal tersebut panitia belum menerima fotocopyan pasport, panitia tidak bertanggung jawab atas paket wisata ke Malaysia.
Panitia menyediakan tiket pesawat udara dari Padang-Malaysia (PP). Sementara pemenang yang berdomisili di luar Sumatera Barat, panitia hanya menyediakan tiket pesawat dari ibukota negara, Jakarta-Malaysia (PP). Akomodasi peserta selama kegiatan wisata sastra di Malaysia ditanggung panitia. Kebutuhan pribadi diluar yang ditetapkan panitia menjadi tanggung jawab peserta.
Perjalanan wisata sastra ke Malaysia direncanakan pada bulan November 2011 (hari dan tanggal ditentukan kemudian).
Sementara penyerahan hadiah akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2011 di aula Don Bosco Padang dalam suatu kegiatan baca puisi. Seluruh pemenang akan dihubungi panitia lewat telepon dan email.
Demikian pengumuman ini disampaikan untuk dimaklumi. Keputusan dewan juri bersifat mengikat dan tidak dilakukan surat menyurat.
Padang, 15 Oktober 2011
PANITIA PENYELENGGARA
IKATAN ALUMNI DON BOSCO (IADB) PADANG
Penanggung Jawab:
1. Dadang Gozali (Ketua Harian IADB)
2. Veridiana Somanto (Sekum IADB)
Ketua Panitia:
Sastri Yunizarti Bakry (Wakil Ketua IADB)
Sekretaris Panitia:
Nita Indrawati (Pemred Buletin Rancak IADB)
Panitia penyelenggara dari Ikatan Alumni Don Bosco (IADB) Padang dalam suatu rapat di Padang, Kamis 14 Oktober 2011 bersama dewan juri semi final dan juri final menetapkan nama dan karya puisi terbaik yang berhak meraih hadiah yang telah disediakan panitia. Para pemenang dan karya puisinya diumumkan Jumat 15 Oktober 2011 di blog IADB www.padangdalampuisi.blogspot.com.
IADB berbahagia atas antusias peserta yang mengikuti lomba ini yang dimulai sejak awal Agustus 2011 dan berakhir 30 September 2011 lalu. Sepanjang kurun waktu dua bulan itu, panitia menerima tidak kurang dari 511 puisi karya peserta yang berasal dari Sabang hingga Papua. Bahkan beberapa peserta ada juga yang berasal dari Hongkong, Malaysia, dan negara tetangga lainnya.
Ini sangat memuaskan panitia sebab melebihi target yang diharapkan. Semula panitia mengira peserta yang mengirimkan puisi karya terbaiknya tidak lebih dari 300 judul saja. Tujuan menggairahkan kegiatan tulis menulis khususnya di kalangan siswa dan mahasiswa secara umum tercapai sudah dengan melihat antusias peserta yang cukup tinggi.
Agar lomba ini berkualitas, panitia memilih dewan juri yang berkompeten di bidangnya. Mereka adalah:
1. Prof. Eka Budianta (Akademisi, Sastrawan ~ Jakarta)
2. Prof. Harris Effendi Tahar (Sastrawan, Akademisi ~ Padang)
3. Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior ~ Padang)
4. Pipiet Senja (Novelis ~ Jakarta)
5. Sastri Bakry (Novelis ~ Padang)
6. Nita Indrawati (Penulis, Jurnalis ~ Padang)
7. Veridiana Somanto (Akademisi ~ Padang)
8. Muhammad Subhan (Jurnalis, Penulis, Novelis ~ Padangpanjang)
Nama-nama dewan juri tersebut di atas yang selama kurun waktu lomba menyimak, mendiskusikan, menilai dan memutuskan karya-karya terbaik buah pena peserta lomba cipta puisi tingkat nasional ini.
Setelah menetapkan 150 puisi terpilih (yang direncanakan akan dibukukan), lalu mengumumkan 75 puisi nominasi, maka inilah nama-nama pemenang dan karyanya yang secara resmi disiarkan hari ini:
PEMENANG UTAMA:
Juara 1
Judul Puisi: Epitaf Arau (Kurnia Hadinata, Pasaman)
Juara 2
Judul Puisi: Padang Kota Tercinta, di Padang Kita Bercinta (Esha Tegar Putra, Padang)
Juara 3
Judul Puisi: Sepasang Puisi di Kota Tua (F. Rizal Alief, Madura)
TUJUH PUISI TERPUJI:
1. Padang, Petang dan Puisi (Hakimah Rahmah Sari, Padang)
2. Cerita Bergambar Padang Buat si Sayang (Karta Kusumah, Padang)
3. Di Pantai Padang, aku Mengingat Beberapa Kejadian (Yori Kayama, Padang)
4. Pantai Purus Tepi Kota (Budi Saputra, Padang)
5. Hikayat Seorang Wanita di Pucuk Bukit (Dedi Supendra, Pariaman)
6. Menulis Kangen; Padang (Dodi Prananda, Depok)
7. Kepada Mandeh (Inung Imtihani, Depok)
Para pemenang berhak mendapatkan hadiah:
PEMENANG UTAMA
Juara 1:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang tunai Rp1.000.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
Juara 2:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang tunai Rp750.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
Juara 3:
Paket Wisata Sastra ke Malaysia + Uang Tunai Rp500.000,- + Piagam Penghargaan IADB + Paket Buku
PEMENANG “TUJUH PUISI TERPUJI” BERHAK MENDAPATKAN PAKET BUKU DAN PIAGAM PERHARGAAN DARI IADB.
Semula, panitia hanya menyediakan paket wisata untuk juara 1 dan juara 2 saja. Namun, untuk memberikan penghargaan yang tinggi atas gerakan menulis ini, juara 3 juga mendapat kehormatan untuk mengikuti paket wisata sastra ke Malaysia.
Kepada pemenang utama yang diumumkan nama-namanya di atas, diharapkan segera mengurus pasport dan fotocopy pasport paling lambat diterima panitia akhir Oktober 2011 (tanggal 29 Oktober 2011). Fotocopy pasport discan dan dikirim via email: padangkotaku@ymail.com acc ke sastriyunizarti@yahoo.com. Bila lewat dari tanggal tersebut panitia belum menerima fotocopyan pasport, panitia tidak bertanggung jawab atas paket wisata ke Malaysia.
Panitia menyediakan tiket pesawat udara dari Padang-Malaysia (PP). Sementara pemenang yang berdomisili di luar Sumatera Barat, panitia hanya menyediakan tiket pesawat dari ibukota negara, Jakarta-Malaysia (PP). Akomodasi peserta selama kegiatan wisata sastra di Malaysia ditanggung panitia. Kebutuhan pribadi diluar yang ditetapkan panitia menjadi tanggung jawab peserta.
Perjalanan wisata sastra ke Malaysia direncanakan pada bulan November 2011 (hari dan tanggal ditentukan kemudian).
Sementara penyerahan hadiah akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2011 di aula Don Bosco Padang dalam suatu kegiatan baca puisi. Seluruh pemenang akan dihubungi panitia lewat telepon dan email.
Demikian pengumuman ini disampaikan untuk dimaklumi. Keputusan dewan juri bersifat mengikat dan tidak dilakukan surat menyurat.
Padang, 15 Oktober 2011
PANITIA PENYELENGGARA
IKATAN ALUMNI DON BOSCO (IADB) PADANG
Penanggung Jawab:
1. Dadang Gozali (Ketua Harian IADB)
2. Veridiana Somanto (Sekum IADB)
Ketua Panitia:
Sastri Yunizarti Bakry (Wakil Ketua IADB)
Sekretaris Panitia:
Nita Indrawati (Pemred Buletin Rancak IADB)
Jumat, 14 Oktober 2011
MENATA MASA DEPAN, ANAK-KU…..
Hari ini kubuat selarik sajak buat anakku yang ulang tahun dan ibunya masak yang cukup special di hari ulang tahunnya yang ke 16. Walaupun wajah anakku terlihat 5 tahun lebih tua dari usia sebenarnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas 2, namun dia menganggap dirinya serasa berusia 17 tahun,..mimih…! anakku yang remaja beranjak dewasa. Ibunya selalu was-was dengan tingkah lakunya.
Petang selepas menutup took tempat kami menjalankan usaha, ibunya dan anakku terkecil membelikan kue dan beberapa lilin untuk mengingat bahwa masih ada perhatian seorang ibu terhadap anaknya yang lagi berhari special di usianya yang special dengan masa remajanya yang sedang dijalani dengan special serta masa kanak-kanaknya yang pernah dilalu juga dengan cara cara yang sangat special pula.
Dan ketika acara tiup lilin malam itu berlangsung berkatalah sang ibu pada anaknya, semacam pesan di harinya yang special
“Nak, di harimu yang bahagia dan sangat khusus ini ibu berpesan padamu, belajarlah bersikap lebih dewasa lebih dari hari-hari sebelumnya, lebih banyak belajar karena usiamu ini usia tengah menginjak bangku sekolah, berusaha untuk bertemperamen halus dan lembut kendati engkau bukan wanita sehingga ketika orang bicara, kamu bisa menyambung pembicaraan orang manakala orang itu telah usia mengungkapkan apa maksud perkataannya, jangan langsung memotong ucapan orang sebelum orang itu selesai berbicara sehingga engkau tidak tahu; apa sesungguhnya maksud bicara orang itu, terutama sekali ketika ibumu ini bicara, dengarkan dulu! Jangan langsung menjawab, berkomentar apalagi membantah. Oh, kalau menyanggah boleh, sepanjang itu ada yang kamu rasa tidak cocok dengan isi hatimu, tapi, dengarkan dulu, tolong dengarkan manakala ibu usai bicara. Nah, kalau sudah menyanggah apalagi merasa tidak cocok menurut pandangan ibumu, coba katakan apa yang terbaik menurutmu, dan katakan pada ibu apa alasan-alasannya. Jangan hanya menyanggah tapi tanpa memberikan satu solusi dari apa yang rasanya tidak cocok dengan buah pikiranmu. Nak, di harimu yang bahagia ini, sadarilah kalau sesungguhnya engkau masih membutuhkan kehadiran orang tua, karena orang tua sepanjang yang kamu ketahui tak’ kan ada yang menjerumuskan anaknya, apalagi sampai membunuh masa depannya. Namun apa yang menjadi ganjalan ibumu selama ini ternyata menurut pendapat ibu, sekali lagi,hhmmm….., menurut pendapat ibu bahwasanya ibu merasa kamu lebih mendengar kata-kata orang lain ketimbang ibumu sendiri. Itu yang ibu tidak suka. Sadarlah nak. Orang lain kendati benar omongannya, bisa kamu anggap sesuatu yang bagus buat jalan hidupmu kelak, tapi jangan sampai kebenaran yang kamu terima itu dapat kamu anggap sebagai sebuah umpatan yang menghakimi kebebasanmu yang menurut ibu, masa-masamu sekolah sepadan dengan nasehat yang ibu keluarkan untuk mewujudkan cita-citamu dan apa yang telah kamu raih seperti sekarang ini bukan sebagai suatu kesusksesan yang menurut pendapatmu kamu anggap dirimu sudah mencapai masa-masa puncak. Tidak, anakku, bukan seperti itu yang ibu harapkan dengan menelan segala perkataan orang lain yang belum nyata-nyata kamu ketahui, ada apa dibalik kebaikan seseorang padamu. Bisa saja sebuah kepura-puraan, kebaikan yang disuguhkan untuk mengambil simpatimu. Kenapa ibu berkata begitu? Karena, inilah instink seorang ibu, yang kata orang lebih tajam dari sebilah belati, kata tetua dulu, instink seorang ibu cahayanya nyalang merebak memenuhi hati seorang anak secerah cahaya mentari yang tak pernah lelah menyinari bumi dan segala isinya dari pagi hingga sore menjelang petang. Dan ibu menyadari instink yang ibu miliki. Dan juga ibu harap engkau jangan terlalu sering keluyuran keluar malam sampai jauh malam hingga lupa belajar. Ingatlah kau itu anak sekolahan yang mesti belajar. Belajar dan belajar! Sadari itu anakku. Dan juga pesan ibumu satu lagi, jangan lupa untuk mensyukuri apa yang telah kamu peroleh. Bersyukurlah disaat saat orang lain tak mampu mengenyam pendidikan, ternyata engkau telah mampu menikmati itu, Sarana dengan mudah kamu peroleh untuk mencapai gerbang cita-citamu nan luhur itu. Semenatara coba tengok orang yang tak mampu, tak punya duit dan hidup orang tuanya serba pas-pasan. Lihatlah. Engkau masih jauh lebih beruntung, nak. Sangat beruntung. Demikian beruntung. Merasalah engkau sebagai anak yang beruntung mampu menikmati semua itu. Jadi tetap kamu bersyukur nak. Panjatkan doa pada Tuhan, ucapkan terimakasih dan minta petunjuk untuk hal-hal yang baik dalam hidupmu.Sekali lagi nak ibu katakan semua ini, diharimu yang sangat special sebagai wujud kasih sayang dan kecintaan ibu padamu dengan tanpa mengabaikan rasa kasih sayang ibumu pada saudara-saudaramu yang lain, ketahuilah nak bahwa………….”
Dan anaknya yang diketahui ternyata benar-benar telah berusia 16 tahun kedapatan tertidur pulas.
Sang ibu bengong mengetahui semua itu, entah sedari tadi tidur atau sedari tadi dia ngoceh dengan pesannya yang cukup panjang persis menyerupai sebuah cerita, atau memang dia benar-benar hanya sedang bercerita tentang sebuah pesan pada anaknya yang sedang tidur ataukah barangkali ceritanya tentang pesan yang dia sampaikan telah membuat anaknya tidur, entahlah……
“Selamat ulang tahun, nak,” dikecupnya kening anak itu. Dipeluknya erat-erat serasa masih memeluk remaja yang masih dirasakan kanak-kanak.
Petang selepas menutup took tempat kami menjalankan usaha, ibunya dan anakku terkecil membelikan kue dan beberapa lilin untuk mengingat bahwa masih ada perhatian seorang ibu terhadap anaknya yang lagi berhari special di usianya yang special dengan masa remajanya yang sedang dijalani dengan special serta masa kanak-kanaknya yang pernah dilalu juga dengan cara cara yang sangat special pula.
Dan ketika acara tiup lilin malam itu berlangsung berkatalah sang ibu pada anaknya, semacam pesan di harinya yang special
“Nak, di harimu yang bahagia dan sangat khusus ini ibu berpesan padamu, belajarlah bersikap lebih dewasa lebih dari hari-hari sebelumnya, lebih banyak belajar karena usiamu ini usia tengah menginjak bangku sekolah, berusaha untuk bertemperamen halus dan lembut kendati engkau bukan wanita sehingga ketika orang bicara, kamu bisa menyambung pembicaraan orang manakala orang itu telah usia mengungkapkan apa maksud perkataannya, jangan langsung memotong ucapan orang sebelum orang itu selesai berbicara sehingga engkau tidak tahu; apa sesungguhnya maksud bicara orang itu, terutama sekali ketika ibumu ini bicara, dengarkan dulu! Jangan langsung menjawab, berkomentar apalagi membantah. Oh, kalau menyanggah boleh, sepanjang itu ada yang kamu rasa tidak cocok dengan isi hatimu, tapi, dengarkan dulu, tolong dengarkan manakala ibu usai bicara. Nah, kalau sudah menyanggah apalagi merasa tidak cocok menurut pandangan ibumu, coba katakan apa yang terbaik menurutmu, dan katakan pada ibu apa alasan-alasannya. Jangan hanya menyanggah tapi tanpa memberikan satu solusi dari apa yang rasanya tidak cocok dengan buah pikiranmu. Nak, di harimu yang bahagia ini, sadarilah kalau sesungguhnya engkau masih membutuhkan kehadiran orang tua, karena orang tua sepanjang yang kamu ketahui tak’ kan ada yang menjerumuskan anaknya, apalagi sampai membunuh masa depannya. Namun apa yang menjadi ganjalan ibumu selama ini ternyata menurut pendapat ibu, sekali lagi,hhmmm….., menurut pendapat ibu bahwasanya ibu merasa kamu lebih mendengar kata-kata orang lain ketimbang ibumu sendiri. Itu yang ibu tidak suka. Sadarlah nak. Orang lain kendati benar omongannya, bisa kamu anggap sesuatu yang bagus buat jalan hidupmu kelak, tapi jangan sampai kebenaran yang kamu terima itu dapat kamu anggap sebagai sebuah umpatan yang menghakimi kebebasanmu yang menurut ibu, masa-masamu sekolah sepadan dengan nasehat yang ibu keluarkan untuk mewujudkan cita-citamu dan apa yang telah kamu raih seperti sekarang ini bukan sebagai suatu kesusksesan yang menurut pendapatmu kamu anggap dirimu sudah mencapai masa-masa puncak. Tidak, anakku, bukan seperti itu yang ibu harapkan dengan menelan segala perkataan orang lain yang belum nyata-nyata kamu ketahui, ada apa dibalik kebaikan seseorang padamu. Bisa saja sebuah kepura-puraan, kebaikan yang disuguhkan untuk mengambil simpatimu. Kenapa ibu berkata begitu? Karena, inilah instink seorang ibu, yang kata orang lebih tajam dari sebilah belati, kata tetua dulu, instink seorang ibu cahayanya nyalang merebak memenuhi hati seorang anak secerah cahaya mentari yang tak pernah lelah menyinari bumi dan segala isinya dari pagi hingga sore menjelang petang. Dan ibu menyadari instink yang ibu miliki. Dan juga ibu harap engkau jangan terlalu sering keluyuran keluar malam sampai jauh malam hingga lupa belajar. Ingatlah kau itu anak sekolahan yang mesti belajar. Belajar dan belajar! Sadari itu anakku. Dan juga pesan ibumu satu lagi, jangan lupa untuk mensyukuri apa yang telah kamu peroleh. Bersyukurlah disaat saat orang lain tak mampu mengenyam pendidikan, ternyata engkau telah mampu menikmati itu, Sarana dengan mudah kamu peroleh untuk mencapai gerbang cita-citamu nan luhur itu. Semenatara coba tengok orang yang tak mampu, tak punya duit dan hidup orang tuanya serba pas-pasan. Lihatlah. Engkau masih jauh lebih beruntung, nak. Sangat beruntung. Demikian beruntung. Merasalah engkau sebagai anak yang beruntung mampu menikmati semua itu. Jadi tetap kamu bersyukur nak. Panjatkan doa pada Tuhan, ucapkan terimakasih dan minta petunjuk untuk hal-hal yang baik dalam hidupmu.Sekali lagi nak ibu katakan semua ini, diharimu yang sangat special sebagai wujud kasih sayang dan kecintaan ibu padamu dengan tanpa mengabaikan rasa kasih sayang ibumu pada saudara-saudaramu yang lain, ketahuilah nak bahwa………….”
Dan anaknya yang diketahui ternyata benar-benar telah berusia 16 tahun kedapatan tertidur pulas.
Sang ibu bengong mengetahui semua itu, entah sedari tadi tidur atau sedari tadi dia ngoceh dengan pesannya yang cukup panjang persis menyerupai sebuah cerita, atau memang dia benar-benar hanya sedang bercerita tentang sebuah pesan pada anaknya yang sedang tidur ataukah barangkali ceritanya tentang pesan yang dia sampaikan telah membuat anaknya tidur, entahlah……
“Selamat ulang tahun, nak,” dikecupnya kening anak itu. Dipeluknya erat-erat serasa masih memeluk remaja yang masih dirasakan kanak-kanak.
Langganan:
Postingan (Atom)
