Sesungguhnya tempat itu selalu menyita waktuku untuk tetap berada disana. Hari-hariku sering terasa membosankan dengan kecemburuan yang selalu meledak-ledak. Betapa tidak! Laki-laki itu selalu dengan caranya yang sangat mudah bisa mengelak dari semua perbuatannya. Dari semua kebohongan-kebohongan di depan mataku. Aku terkadang tidak tahu lagi harus berbuat apa. Segala daya upaya telah aku lakukan, semuanya seolah-olah terkesan tidak memberikan hasil apa-apa. Sepertinya sia-sia yang telah aku kerjakan. Tapi aku tetap berusaha demi kelangsungan rumah tangga ini.
Selalu setiap ada kesempatan istriku pasti akan tetap tutup mulut, hal itu dilakukan setiap habis mengadakan pembicaraan-pembicaraan panjang, bahkan dia terkesan mengalihkan manakala menukik ke arah itu, terkadang dia mempunyai suatu cara untuk mengelak dan berbohong di hadapanku. Memang terlampau sulit menebak hati wanita, walau aku telah bertahun-tahun hidup dengannya. Wanita memang penuh misteri. Kurasa istriku telah mengadakan persengkongkolan dengan laki-laki itu. Terkadang kecemburuan ini demikian kuat menghantam walau berusaha aku tahan-tahan manakala mendengarkan obrolannya yang berkepanjangan dan terkadang diselingi dengan suara-suara tawa manja di telepon. Aku meringis.
Aku geleng-geleng kepala, keheranan. Karena pada akhirnya nanti aku mendengar dering telpon kembali dan isrtiku akan suntuk berkata-kata.
”Apakah kamu punya perasaan suka pada laki-laki itu? ”Suatu malam aku bertanya. Istriku diam sesaat, lalu menatap polos tanpa ada beban, tanpa ada perasaan bersalah.
”Eh, sebentar dulu,” katanya sembari tangannya diarahkan ke keningnya, seolah berpikir mengingat sesuatu, atau barangkali mengembalikan rekaman peristiwa yang telah terjadi untuk dikeluarkan. ”Kayaknya tidak! Tapi nanti dulu, perasaan suka yang bagaimana?”
”Maksudku ada rasa suka yang lain, dalam pengertian suka antara hubungan seorang laki-laki dengan wanita. Rasa suka yang lain terhadap lawan jenisnya, sebagaimana perasaan-perasaan yang dimiliki kaum remaja atau orang-orang yang tengah bercinta.” aku mengejar dengan menegaskan kalimat yang selalu dia permainkan kalimat-kalimat itu lewat bahasa konyolnya. Kekonyolan untuk mengalihkan bahan pembicaraan pokok.
”Bercinta? Perasaan cinta?”
Ia tertawa dan menatap penuh kepolosan. Memang kurasakan tatapannya benar-benar polos apa adanya. Jujur dia mengatakan. Sebuah kejujuran yang menyakitkan.
”Sudahlah, suamiku. Tak mungkin aku tertarik pada si Saidi itu,” katanya meyakinkan dengan menyebut nama laki-laki itu. ”Apalagi orangnya pendek dan wajahnya jelek lagipula......”
”Tidak boleh merendahkan dan menjelekkan orang.” aku memotong ucapannya.
”Dia memang jelek kok. Mana mukanya hitam legam kayak arang.Tidak mungkinlah aku sampai tertarik dengannya,” ada sedikit kandungan obat dalam kata-katanya itu.
Namun belum selesai pembicaraan ini, tiba-tiba telpon genggam yang dia simpan di balik bantal mengeluarkan nada panggil,kulihat muncul sebuah nama pada layar . Aku meringis.
Istriku menjawab suara itu dengan suara yang kudengar sangat mengesankan di telinga. Lagi-lagi Saidi, aku gemas dibuatnya. Sepertinya aku tidak punya waktu bicara dengan istriku sendiri, waktuku habis disita dengan pembicaraan mereka berdua. Kulihat istriku diam sesaat sambil menatapku, lalu dia beranjak keluar kamar, entah ada pembicaraan buat mereka berdua yang khusus yang tidak boleh aku dengar. Sayup-sayup kudengar istriku bicara dengan nada sangat direndahkan sekali, seolah takut terdengar. Entah karena sudah larut malam. Entah karena aku masih terjaga. Kubuang kekesalanku dengan duduk-duduk di beranda samping rumah.
Pada suatu malam istriku membuat sebuah pengakuan yang bagaikan sebuah petir menggelegar di kamar begitu mendengar ucapannya.
”Aku akan menikah dengannya. Kayaknya mungkin disini aku akan memulai hidup baru. Kamu ternyata selama ini tidak bisa membimbingku.” Aku seperti tidak percaya akan kata-katanya. Apa mungkin dia yang bicara ini? Sadarkah dengan apa yang dia ucapkan? Istrikukah ini? Ada apa dengan istriku? Aku benar-benar tidak habis pikir.
”Kamu lagi berkhayal?”
”Tidak!”
”Kamu lagi bermimpi?”
”Tidak!”
Kutatap wajahnya lekat-lekat. Tidak ada yang berubah. Kutatap bola matanya. Ada yang kosong. Ada bayangan gelap bermain-main pada ke dua bola matanya. Lalu bola mata itu mengeluarkan sinar, kilatan cahaya yang tajam dan dengan kecepatan kilat menikam jantungku.
Aku terhenyak.
Lelah aku dengan pergulatan bathin begini.Sebuah pergulatan yang panjang. Malam kian larut, suara anjing di jalanan menggonggong, mungkin ada yang lewat. Entah itu manusia atau jin, biasanya penciuman dan daya pandang anjing lebih tajam daripada manusia mentah seperti aku. Hanya terkadang muncul perasaan aneh seperti malam ini, sepertinya aku ingin merubah diriku jadi anjing yang punya kebebasan tanpa beban oleh segala persoalan-persoalan hidup. Makan apa maunya, tidur dimana suka. Tidak perlu pakai baju dan celana, toh etis terlihat, karena dia binatang. Tidak perlu memahami moralitas, karena anjing tidak memiliki agama. Yang aku tahu anjing tidak perlu sembahyang dan terikat berbagai aturan-aturan, dogmatis yang menyebalkan. Terkadang anjing seenaknya juga di sembarang tempat membuang kotoran. Seenaknya dia menggongong, entah apa yang disuarakan. Karena aku tidak pernah mengerti bahasa anjing.Sesekali ada suara gerakan langkah kaki kucing di atap rumah. Aku tahu dia pasti mengintip daging yang ada di meja makan. Entah meja makan yang mana? Terlalu banyak rumah yang ada disekitarku, dan terlalu banyak pilihan buat sang kucing, karenanya dia selalu bergerak dari atap. Mungkin juga untuk menghindari pertengkaran dengan anjing yang tengah melolong panjang di jalanan. Empat puntung rokok telah berserakan di asbak. Ini batang kelima yang siap aku bakar.Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan Masih kudengar suara istriku diselingi suara tawanya yang kecil.
Hari hari selanjutnya sepertinya aku diharuskan mengambil suatu upaya lain.. Pertama-tama kudatangi rumah laki-laki yang bernama Saidi itu.Tanpa dipersilahkan duduk aku henyakan pantat dan tanpa basa basi aku cuci sedikit otaknya yang kotor.Kuperhatikan laki-laki itu setengah gugup, setengah jengah, selebihnya aku tidak tahu. Entah takut atau cemas oleh kedatanganku Istrinya entah dimana,tidak aku lihat bayangannya. Mungkin lagi ngambek, atau barangkali dia sendiri lagi bosan terhadap istrinya. Kadang-kadang rasa kebersamaan dapat mengakibatkan muncul perasaan jenuh yang totalitas. Kejenuhan yang bagi laki-laki itu barangkali harus mencari angin segar pada wanita lain sebagai selingan. Sesekali anaknya perempuan hilir mudik di depan. Cantik sekali anak itu. Melihat anaknya yang cantik, dapat ditebak kalau ibunya pasti cantik.
Dan benar-benar aku cuci otaknya ”Entah pelet apa yang kamu gunakan terhadap istriku!” dan seterusnya dan seterusnya .Aku tidak mau memutuskan ataupun dipotong ucapanku, konon kalau memberikan kesempatan lawan untuk bicara kita akan bisa berubah pikiran.
Laki-laki itu banyak diam dan berupaya mengalihkan perhatian dengan memanggil-manggil anaknya atau sesekali berdiri seperti ingin mengambil sesuatu di dalam atau bolak-balilk merogoh saku celananya.Kalau dia banyak diam aku dapat menyimpulkan dua hal yakni antara dia malu dan jengah ketahuan dengan apa yang dilakukan dan tidak mengelak atau membantah dengan kata-kata yang aku keluarkan mengenai “ilmu pelet” yang sedang dirancang untuk meracuni pikiran-pikiran istriku hingga dibuat tidak berdaya atau dia tengah merencanakan sesuatu.
Kutatap tajam-tajam matanya.
Dia melengos melempar muka. Seperti tengah menyimpan sesuatu. Sepintas kilatan matanya seperti menyimpan sebuah kelicikan.
Dan selanjutnya setiap malam aku menyatroni rumahnya. Mengendap-endap seperti kucing di atap rumahku yang selalu mengintip-intip setiap ada kesempatan. Tidak malam ini aku menemukan hasil, malam berikutnya aku mengendap-endap lagi. Aku telah menjadi kucing malam yang siap memangsa daging. Aku benar-benar berubah jadi kucing, mengeong, mengintip, mendengus dan siap melompat. Dan memang benar apa yang aku duga. Suatu malam jumat aku intip Saidi tengah membakar kemenyan. Bibirnya komat-kamit membaca mantra.Entah mantra halaman keberapa ia baca. Sikapnya benar-benar serius Aku jadi semakin ingat akan ucapan temanku. Katanya daerah ini memang gudangnya senggeger, semacam pelet pemikat wanita. Ini yang dilakukan Saidi di kamarnya. Aku semakin yakin dengan apa yang menimpa istriku sekarang. Kenapa ia sampai bisa lupa diri, lupa anak, lupa rumah. Yang ada dalam pikirannya hanya laki-laki bernama Saidi saja. ”Beginilah hebatnya pelet kecial kuning.” kata kenalan seorang dukun yang aku ajak ke rumahnya sambil mengamati gerak-gerik lelaki itu dari kejauhan.
Aku cepat-cepat beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Dan Dugaanku tidak meleset. Di rumah kulihat istriku tengah bercakap-cakap lewat telpon. Tidak peduli tengah malam. Tidak peduli anak-anak. Tidak peduli suami. Aku duduk di halaman samping rumah. Asbak rokok ini dengan setia menunggu remasan puntungnya. Malam merayap pelan. Seperti hari-hari kemarin, anjing di jalanan depan rumah melolong lagi. Hanya suaranya saja yang terdengar.Entah kenapa setiap saidi menelpon anjing itu selalu melolong. Aku jadi penasaran dan ingin tahu. Penasaran yang wajar dan tidak dibuat-buat. Jangan-jangan Saidi itu berubah menjadi anjing? Aku bergidik ngeri. Ya, bisa jadi anjing itu adalah penjelmaan Saidi yang malam-malam menyatroni rumahku dengan suara magisnya mengundang senggeger-senggeger itu datang mengunjungi rumahku
Aku bertambah takut dan ngeri.
Cepat-cepat kupadamkan rokok terakhir dan berkemas masuk pintu rumah. Tak peduli dengan istriku yang tengah asyik memegang telpon. Entah masih dalam pembicaraan yang panjang, atau akan berbicara sampai pagi, aku tidak peduli. Aku bahkan tidak berani mencuri dengar pembicaraan itu lagi.
Setiap malam, setiap istriku menerima telponnya, aku tidak berani lagi menunggu di halaman samping rumah. Karena setiap mendengar suara anjing itu aku jadi teringat Saidi yang berubah jadi anjing, Dan aku percaya sekarang bahwa ilmu senggeger, sejenis ilmu pelet memang benar-benar ada di dunia ini.
Selasa, 09 Februari 2010
CAMAR RESAH I
Hari ini resahmu kuak pintu langit
menoreh sunyi tiap luka
singsingan fajarsuarakan galau
panjang memendam tangis
hari ini,
matahari
kugugat waktu
(senantiasa pendengaran yang tak putusputus)
berusaha dengarkan suaramu
kemana arah rindu menuntun
tinggalkan sepatah kenangan
Ini hari penghabisan resah bertandang
camar liang langit langit hati
hentikan kepak
biasa kupandang resah
terpaku memandang bulan
kalau kalau ia berada disana
SAJEN 2
Senin, 08 Februari 2010
CerPeN : SATU KESADARAN
Entah berapa kali ia lakukan itu, naik-turun di tangga berbeton. Lama mendekam di ruangan atas dengan pandangan jelas menghadap ke arah jalan. Jalanan sedikit basah akibat guyuran hujan semalam. Sisa-sisa genangan air memantulkan bayangan matahari pagi, seperti sebuah cermin hidup yang menari-nari. Sedang enak-enaknya Sean menikmati pemandangan itu, tiba-tiba saja roda sepeda motor telah memilah bayangan itu.
”Brengsek!” umpat Sean sambil memandang pantat sepeda motor yang kian menjauh. Genangan air akhirnya membentuk gelombang-gelombang kecil. Tidak lama memang menunggu genangan air itu tenang kembali, telinganya menangkap hentakan suara sepatu berirama tetap. Hapal betul ia.
“Hai,” spontan Sean menyapa begitu satu wajah muncul.
Gadis itu menoleh, barangkali pula sebelum datangnya sapaan itu. Matanya berbinar-binar tatkala bertemu tatap dengan pemuda itu. Hanyalah sebuah keakraban saja yang akan membuat gadis itu mendekatkan jaraknya untuk berdialog lebih lanjut dan Sean harus turun karenanya.
”Lebat hujan semalam, Rosy. Sangat lebat,” Sean membuka peluang untuk memulai sesuatu yang semestinya sudah merupakan jalan bagi mereka untuk saling bertegur sapa.
”Dan sekarang cuacanya telah berganti.”
”Engkau menyukai?”
Rosy mengangguk.
”Aku menyukai kebiasaan begini, Ros. Maksudku sebuah sarapan pagi sebelum kamu memulai sesuatu dengan serius, karena kamu kuliah. Kamu memiliki kampus buat berkutat, punya harapan dan terlebih lagi kamu memiliki.......”
”Bukan begitu, Sean,” potong Rosy cepat. “Kamu mesti tahu bahwa, hanya keseriusan dan kemauan yang tekun membuat segalanya berhasil seperti yang kita harapkan. Harapan itu sesungguhnya telah membentang di hadapan kita, di mata kita. Kupikir semua orang ingin berhasil dalam hidupnya, bukankah begitu Sean?”
Sean seketika menunduk. Suaranya lekat di tenggorokan, sampai Rosy berlalu meninggalkannya. Ia tetap tak mampu bersuara. Perlahan dilangkahkan kakinya menuju halaman depan. Memasuki kamarnya yang semrawut, badannya menghempas keras, menimbulkan suara kaku pada ranjang yang selama ini senantiasa memberinya berbagai impian. Entah impian macam apa, sulit Sean mengingat kembali. Dan memang Sean tidak mau mengingat itu. Untuk apa mengingat segala mimpi-mimpi yang tidak berarti.
Kuliah? Sean tertegun. Bukan tiba-tiba pikiran demikian selalu saja secara tepat menghantuinya. Kapan mesti kuliah sedangkan tamat SMA saja tidak. Matanya menatap langit-langit kamar. Kosong. Pandangannya menerawang jauh. Mengapa dulu tidak ia selesaikan saja pelajaran di sekolah, dimana disaat sebagian besar anak-anak gemar memburu sesuatu buat perjalanan hidup yang sesungguhnya masih panjang dan bukan dengan cara apatis hanya sekadar meniru gaya hidup milik sebagian besar kawan-kawannya di kota, dia jalankan sedemikian santainya. Mirip gaya anak-anak muda dalam film kesukaannya atau bahkan ia berpikir sedang berada dalam kancah permainan semacam itu, berburu hiburan. Kebut-kebutan atau menenggak alkohol telah menjadi busana hidupnya. Kepuasan dengan menarik perhatian orang. Barangkali dengan sikap apatis yang konyol dengan kumpul-kumpul dan nangkring di simpang jalanan telah membuatnya cukup meringis dengan kegagalannya di bangku sekolah dulu.
Sean mendesah pelan.
Tapi waktu berlalu dengan pasti. Tidak ada yang mampu menahan lajunya waktu, tidak ada yang mampu untuk merobahnya. Detik demi detik, dari menit ke menit telah menjadi bagian dari hari-harinya yang penuh dengan keisengan dan kesantaian saja. Waktu tidak mungkin terhambat oleh sikap tololnya. Sean pernah menjadi cap, menjadi merk untuk ukuran yang dinamakan sesama teman sepermainannya sebagai bajingan, sebutan yang khas menyenangkan, membanggakan disaat dia mabuk kemenangan. Kemenangan akan identitas dirinya sebagai sesuatu yang buruk.
Ada yang sakit, karenanya. Dan sekarang dia merasakan itu. Hatinya seperti teriris ketika kesadarannya datang sesaat setelah ayah kandungnya meninggal.
”Apa yang akan kamu lakukan setelah begini, Sean.” Ibunya bertanya polos, seakan-akan tidak mengerti sama sekali artinya marah. Sean menjadi mengerti akan sikap ibunya. Nasihat ringkas membuatnya berjalan. Sean memberinya tempat, tempat terlampau istimewa karena ia ingat hanya itu ibunya, satu-satunya kebanggaan yang masih ia miliki. Karenanya pula Sean sempat bekerja pada sebuah perusahaan angkutan barang ,sebagai kernet sebuah truk yang mengangkut kayu. Sean berusaha membaca dirinya sendiri. Namun itu hanya bertahan setahun, setelahnya ia keluar setelah sempat baku hantam dengan anak direkturnya sendiri. Kembali Sean terkatung-katung oleh yang dinamakan nasib : pengangguran.
Mungkin ini jugalah yang disebut kesadaran. Kesadaran yang tumbuh karena ia diperkenalkan dengan sesosok gadis manis bernama Rosy atau Sean juga berpikir bahwa keadaan gadis itu membuat dirinya memiliki keadaan yang juga harus dirobah. Sean sendiri yang harus melakukannya.
Tiba-tiba ia ingat pertemuannya pertama kali dengan gadis itu.
Lagi-lagi Sean mendesah. Rokok ketiga telah lenyap dalam asbak
Sean ingat jelas, malam itu ia baru pulang dari nonton film, sekadar untuk menghilangkan kejenuhan yang menyumpal di hatinya. Ketika di ujung jalan yang agak gelap menyerupai belokan gang, ia mendengar jeritan seorang gadis. Jeritan yang membutuhkan pertolongan, agaknya pula mampu membangkitkan darah kelaki-lakian. Sean tidak menyukai keadaan begitu, namun ia terlampau mudah dan menyukai perkara walaupun terkadang tidak menyangkut kepentingannya. Ia memburu suara itu. Lapat-lapat suara itu seperti menghilang namun secara samar ia melihat bayangan dua tubuh saling ribut. Sean mempercepat langkahnya. Astaga! Matanya menatap sosok laki-laki yang berusaha memaksakan kehendaknya terhadap gadis itu. Menggagahi seorang gadis suatu hal yang tidak menarik sama sekali baginya, terlebih gadis itu tidak menghendaki sama sekali. Sean jelas melihat kejanggalan dari laki-laki itu. Sean mendekat, langsung saja menarik bahu laki-laki itu. Tinjunya yang kuat bersarang di pelipis diikuti hentakan kuat menyodok lambung membuatnya tersungkur mencium tanah. Sean belum puas, kakinya kembali menendang sehingga laki-laki itu benar-benar rebah tanpa daya.
”Apa urusanmu!” laki-laki itu berusaha bersuara kendati kesakitan dengan dengan mulut meringis.
”Aku menyukai ini,” suara Sean berang. ”Dan kamu bajingan, aku menyukai. Dengan cara begini di depanku adalah menjadi urusanku!”
Laki-laki itu menatap Sean. Hanya menatap. Ada sinar gusar di matanya.
”Ayo bangun, bajingan terkutuk! Hadapi aku. Aku tidak biasa menghadapi lawan yang belum siap,” Sean mendekat. Matanya beringas sembari menuding. Cara memandang laki-laki di depannya sudah merupakan tantangan baginya. Tangannya terkepal.
Gadis di sebelahnya yang sedari tadi diam meredakan perasaan, berusaha melerai.
”Sudahlah. Kamu pergilah, Son. Lupakan semuanya.” Gadis itu mengguguk kecil. Tangannya mengusir halus laki-laki itu.
Tanpa suara dan tanpa menatap lagi, laki-laki itu ngeluyur pergi. Sean menatap penuh kebencian.
”Hei...! Kalau kau memang jantan cari aku disini atau dimana saja kamu ketemu aku, manusia busuk!!” masih sempat terdengar teriakan Sean memecah kesunyian malam.
”Sudahlah.” hanya itu yang terdengar dari mulut gadis itu.
Sean menoleh. Gadis itu sedang menahan isak. Kejadian itu membuatnya kalut. Ekor matanya masih menatap ke arah menghilangnya laki-laki itu.
”Kekasihmu itu sangat bodoh,” Sean bersuara pelan.
Gadis itu menggeleng lemah.
”Seperti itu?”
Gadis itu menunduk, mengusap airmatanya.
Sean membantu mengambil tas dan beberapa buku-buku yang berserakan di tanah lalu menyodorkan pelan. Gadis itu menerima dengan pandangan berterimakasih. Sean menatap wajah itu, terkesima sesaat lalu membuang pandangannya jauh-jauh.
“Aku tidak pernah berpikir sesuatu yang terjadi padamu masih membuatmu memiliki rasa kasihan. Padahal kamu yang akan menanggung akibatnya,” Sean berusaha memancing suara gadis itu.
“Ah, nggak!” Suara gadis itu mulai tenang. “Aku berpikir tentang laki-laki kaummu itu, “ tandasnya menyimpan kemarahan.
Sean memberi kesempatan.
”Dan begitulah bentuk kebaikan yang aku terima dari seorang kawan akrab. Persis seperti yang kamu lihat barusan, ” Gadis itu menutup ceritanya setelah panjang lebar berbicara dan setelah suasana menjadi tenang di tempat yang berbeda.
”Kamu kuliah dimana?” tanya gadis itu seketika.
Pertanyaan yang datangnya tiba-tiba membuat Sean tak mampu untuk menjawab. Hanya kepalanya menggeleng.
“Kerja?”
Lagi Sean menggeleng.
“lalu?”
“Aku tidak tahu!” hanya itu jawab Sean waktu itu, setahun persis dari kejadian itu setelah Sean melupakannya. Melupakan sama sekali sampai ia harus terpancing untuk keluar oleh perbincangan kawan-kawannya. Seorang gadis manis menjadi topik, menjadi bahan untuk lawan jenisnya seperti kebiasaan saling mendahului memancing perhatian. Semula Sean tidak begitu perhatian kalau bukan nama Rosy disebut-sebut, gadis yang pernah ditolongnya waktu itu.
”Siapa yang kamu maksud?” Sean mendekati kawan-kawannya yang pada kumpul di ujung gang.
”Anak kost baru. Manis! Siapa lagi kalau bukan si cantik yang saban hari mengapit buku. Senyumnya; wah.......!”
”Lagipula orangnya nggak begitu sombong, setiap kali disapa selalu membalas dengan senyuman,” yang lain pada ikut nyeletuk.
”Kita sebut saja si gadis yang murah senyum.”
”Setuju! Dan kalau aku sih nggak bakalan bisa tidur ngebayangin dia.”
Sean tersenyum mendengar dialog dan ulah kawan-kawannya.
“Dan belum ada pengikutnya, eh, pengawalnya.”
“Pendampingnya, gitu!”
“Iya…iya!!”
“Ah?”
“Ya!” yang lain meyakinkan.
“Masak sih?”
“Alah, buktinya tiap hari kuliah nggak ada yang temenin.”
“Usul…..usul..!!” suara-suara semakin ramai.
“Gimana?”
“Sebut saja aku. Aku siap jadi pendampingnya,” sahut yang lain konyol disambung ketawanya yang keras.
Akhirnya semua pada ketawa. Sean ikut-ikutan tertawa.
”Eh, Sean gimana kamu ini? Jangan mau ketinggalan!” seperti ingat akan kehadiran Sean yang sedari tadi diam, semuanya menoleh ke arahnya.
Sean akhirnya bersuara tanpa ekspresi jelas.
”Rumahnya dimana?” Sean memulai.
”Nah, gitu dong. Tuh! Tembok bercat kuning yang diterangi cahaya neon,” salah seorang kawannya menunjuk rumah yang kelihatan dari ujung gang. ”baru seminggu dia indekost di sini.”
”O, ya?” Sean beranjak meninggalkan rekan-rekannya.
Memang gadis yang dimaksud, gadis manis bernama Rosy yang pernah ditolong setahun yang lalu, ketika dengan terkejut gadis itu melihat kedatangannya.
”Halo Ros,” sapa Sean santai.
”Hei, Sean, kamu laki-laki yang dulu itu kan?”
”Ehm!” masih ingat juga pikir Sean langsung duduk tanpa dipersilahkan. Seperti mengerti jalan pikiran Sean, gadis itu langsung masuk pada pembicaraan yang sebenarnya, barangkali itu pula yang dia cari, langusng memasuki inti pertanyaan, inti permasalahan yang selama ini belum terjawab di benak gadis itu. Kelembutannya yang banyak bicara, selebihnya agar engkau tahu pula keadaan sesungguhnya tentang aku, pikir Sean.
Sean mengangguk begitu menatap gadis itu. Seakan-akan mengerti apa yang dia maksud.
”Lantas bagaimana yang dulu itu?”
”Maksudmu?” masih juga Sean dalam kepura-puraan.
”Kedatanganmu inilah sepertinya aku harus berbicara, Sean.”
Sean menangkap keakraban pada ucapan gadis itu, suatu pernyataan yang tidak seketika sebagaimana cerita sebelumnya tentang ”tidak tahu” yang secara enak dijawabnya setahun yang lalu atau barangkali telah tersusun di benaknya. Tapi toh juga akhirnya keakraban ini menumbuhkan jadwal baru dalam diri Sean. Minggu pertama bagi Sean memberikan pengakuan yang sebenarnya, minggu berikutnya merupakan suatu persiapan, sebagaimana rencana-rencananya sendiri, minggu ketiga entah apa.
”Pertama aku harus meninggalkan tempat ini,” kata Sean suatu sore di lapangan berumput menemani gadis itu jalan-jalan. ” Kedua, aku mesti sekolah, yang jelas kupilih Yogya tempat memulai langkah baru selanjutnya masa depan dan entah apa lagi namanya.......”
Rosy menatap Sean dengan seribu rasa. Ada setitik binar terbias dari matanya yang indah. Sean menangkap itu kalau bukan tangannya berisyarat untuk merengkuhnya, barangkali gadis itu tak akan tersipu malu. Brengsek juga Sean, wajah Rosy dibuat demikian dekatnya. Buru-buru juga Sean ingat dan melepaskan semuanya.
“Begitulah seharusnya, Sean. Dan kamu harus segera berangkat,” Rosy bersuara pelan, memecahkan kebisuan sesaat atas kerakusan lelaki itu menerobos relung hatinya. Suaranya demikian gugup atau dia tutupi sedikit akibat kelancangan Sean yang sempat mencuri pipi dan keningnya. Ada rona merah menjalar di pipinya.
“Ros, aku saying kamu. Kamu satu-satunya wanita yang menghidupkan semangatku, meniup peluang dan sekaligus memberi celah pada masa depanku. Aku harus merintisnya dari sekarang. Aku harus merintis dan menata ulang jalan hidupku dan hanya keseriusan serta kemauan yang tekun membuat segalanya berhasil seperti yang kita harapkan. Harapan itu sesungguhnya telah membentang di hadapan kita, di mata kita. Kupikir semua orang ingin berhasil dalam hidupnya. Akupun ingin berhasil dalam hidupku, bukankah begitu Rosy?”
Rosy tertawa renyah. Senang mendengar kata-katanya dulu diucapkan dengan persis sama. Tanpa ada yang kurang. Sama sekali tidak ada yang dikurangi.
”begitulah seharusnya Sean,” Rosy bersuara pelan. Kian pelan untuk menutupi kegalauan hatinya.
Selepas senja mengantarkan Rosy, Sean bergegas. Di ujung gang kebiasaan kawan-kawannya kumpul ia hindari. Dari jauh nampak mereka berteriak sembari mengacungkan jempol. Sportifitas? Entah. Sean masih mampu menangkap gelagat itu. Hanya senyumnya membalas ungkapan kawan-kawannya sambil melambaikan tangan persahabatan.
Selamat tinggal kotaku, selamat tinggal ibuku tersayang, selamat tinggal sahabat, selamat tinggal semua kenangan disini dan selamat tinggal satu-satunya sahabat wanita yang pernah aku miliki, akan kukenang engkau di ujung sana, desisnya mantap sambil mengemasi barang-barang yang dibawanya.
Selepas malam, Rosy mengantar sampai batas terminal lalu berbalik untuk menyembunyikan isak cengengnya.
“Pergilah Sean, bersama kesadaranmu. Kamu tidak gagal, tidak akan pernah gagal selama masih kamu anggap peluang itu sebuah ikatan persaudaraan yang harus direncanakan,” bisik hatinya berulang-ulang melepas kepergian laki-laki itu. Kini berlabuh sebuah penantian baru di hatinya.
”Brengsek!” umpat Sean sambil memandang pantat sepeda motor yang kian menjauh. Genangan air akhirnya membentuk gelombang-gelombang kecil. Tidak lama memang menunggu genangan air itu tenang kembali, telinganya menangkap hentakan suara sepatu berirama tetap. Hapal betul ia.
“Hai,” spontan Sean menyapa begitu satu wajah muncul.
Gadis itu menoleh, barangkali pula sebelum datangnya sapaan itu. Matanya berbinar-binar tatkala bertemu tatap dengan pemuda itu. Hanyalah sebuah keakraban saja yang akan membuat gadis itu mendekatkan jaraknya untuk berdialog lebih lanjut dan Sean harus turun karenanya.
”Lebat hujan semalam, Rosy. Sangat lebat,” Sean membuka peluang untuk memulai sesuatu yang semestinya sudah merupakan jalan bagi mereka untuk saling bertegur sapa.
”Dan sekarang cuacanya telah berganti.”
”Engkau menyukai?”
Rosy mengangguk.
”Aku menyukai kebiasaan begini, Ros. Maksudku sebuah sarapan pagi sebelum kamu memulai sesuatu dengan serius, karena kamu kuliah. Kamu memiliki kampus buat berkutat, punya harapan dan terlebih lagi kamu memiliki.......”
”Bukan begitu, Sean,” potong Rosy cepat. “Kamu mesti tahu bahwa, hanya keseriusan dan kemauan yang tekun membuat segalanya berhasil seperti yang kita harapkan. Harapan itu sesungguhnya telah membentang di hadapan kita, di mata kita. Kupikir semua orang ingin berhasil dalam hidupnya, bukankah begitu Sean?”
Sean seketika menunduk. Suaranya lekat di tenggorokan, sampai Rosy berlalu meninggalkannya. Ia tetap tak mampu bersuara. Perlahan dilangkahkan kakinya menuju halaman depan. Memasuki kamarnya yang semrawut, badannya menghempas keras, menimbulkan suara kaku pada ranjang yang selama ini senantiasa memberinya berbagai impian. Entah impian macam apa, sulit Sean mengingat kembali. Dan memang Sean tidak mau mengingat itu. Untuk apa mengingat segala mimpi-mimpi yang tidak berarti.
Kuliah? Sean tertegun. Bukan tiba-tiba pikiran demikian selalu saja secara tepat menghantuinya. Kapan mesti kuliah sedangkan tamat SMA saja tidak. Matanya menatap langit-langit kamar. Kosong. Pandangannya menerawang jauh. Mengapa dulu tidak ia selesaikan saja pelajaran di sekolah, dimana disaat sebagian besar anak-anak gemar memburu sesuatu buat perjalanan hidup yang sesungguhnya masih panjang dan bukan dengan cara apatis hanya sekadar meniru gaya hidup milik sebagian besar kawan-kawannya di kota, dia jalankan sedemikian santainya. Mirip gaya anak-anak muda dalam film kesukaannya atau bahkan ia berpikir sedang berada dalam kancah permainan semacam itu, berburu hiburan. Kebut-kebutan atau menenggak alkohol telah menjadi busana hidupnya. Kepuasan dengan menarik perhatian orang. Barangkali dengan sikap apatis yang konyol dengan kumpul-kumpul dan nangkring di simpang jalanan telah membuatnya cukup meringis dengan kegagalannya di bangku sekolah dulu.
Sean mendesah pelan.
Tapi waktu berlalu dengan pasti. Tidak ada yang mampu menahan lajunya waktu, tidak ada yang mampu untuk merobahnya. Detik demi detik, dari menit ke menit telah menjadi bagian dari hari-harinya yang penuh dengan keisengan dan kesantaian saja. Waktu tidak mungkin terhambat oleh sikap tololnya. Sean pernah menjadi cap, menjadi merk untuk ukuran yang dinamakan sesama teman sepermainannya sebagai bajingan, sebutan yang khas menyenangkan, membanggakan disaat dia mabuk kemenangan. Kemenangan akan identitas dirinya sebagai sesuatu yang buruk.
Ada yang sakit, karenanya. Dan sekarang dia merasakan itu. Hatinya seperti teriris ketika kesadarannya datang sesaat setelah ayah kandungnya meninggal.
”Apa yang akan kamu lakukan setelah begini, Sean.” Ibunya bertanya polos, seakan-akan tidak mengerti sama sekali artinya marah. Sean menjadi mengerti akan sikap ibunya. Nasihat ringkas membuatnya berjalan. Sean memberinya tempat, tempat terlampau istimewa karena ia ingat hanya itu ibunya, satu-satunya kebanggaan yang masih ia miliki. Karenanya pula Sean sempat bekerja pada sebuah perusahaan angkutan barang ,sebagai kernet sebuah truk yang mengangkut kayu. Sean berusaha membaca dirinya sendiri. Namun itu hanya bertahan setahun, setelahnya ia keluar setelah sempat baku hantam dengan anak direkturnya sendiri. Kembali Sean terkatung-katung oleh yang dinamakan nasib : pengangguran.
Mungkin ini jugalah yang disebut kesadaran. Kesadaran yang tumbuh karena ia diperkenalkan dengan sesosok gadis manis bernama Rosy atau Sean juga berpikir bahwa keadaan gadis itu membuat dirinya memiliki keadaan yang juga harus dirobah. Sean sendiri yang harus melakukannya.
Tiba-tiba ia ingat pertemuannya pertama kali dengan gadis itu.
Lagi-lagi Sean mendesah. Rokok ketiga telah lenyap dalam asbak
Sean ingat jelas, malam itu ia baru pulang dari nonton film, sekadar untuk menghilangkan kejenuhan yang menyumpal di hatinya. Ketika di ujung jalan yang agak gelap menyerupai belokan gang, ia mendengar jeritan seorang gadis. Jeritan yang membutuhkan pertolongan, agaknya pula mampu membangkitkan darah kelaki-lakian. Sean tidak menyukai keadaan begitu, namun ia terlampau mudah dan menyukai perkara walaupun terkadang tidak menyangkut kepentingannya. Ia memburu suara itu. Lapat-lapat suara itu seperti menghilang namun secara samar ia melihat bayangan dua tubuh saling ribut. Sean mempercepat langkahnya. Astaga! Matanya menatap sosok laki-laki yang berusaha memaksakan kehendaknya terhadap gadis itu. Menggagahi seorang gadis suatu hal yang tidak menarik sama sekali baginya, terlebih gadis itu tidak menghendaki sama sekali. Sean jelas melihat kejanggalan dari laki-laki itu. Sean mendekat, langsung saja menarik bahu laki-laki itu. Tinjunya yang kuat bersarang di pelipis diikuti hentakan kuat menyodok lambung membuatnya tersungkur mencium tanah. Sean belum puas, kakinya kembali menendang sehingga laki-laki itu benar-benar rebah tanpa daya.
”Apa urusanmu!” laki-laki itu berusaha bersuara kendati kesakitan dengan dengan mulut meringis.
”Aku menyukai ini,” suara Sean berang. ”Dan kamu bajingan, aku menyukai. Dengan cara begini di depanku adalah menjadi urusanku!”
Laki-laki itu menatap Sean. Hanya menatap. Ada sinar gusar di matanya.
”Ayo bangun, bajingan terkutuk! Hadapi aku. Aku tidak biasa menghadapi lawan yang belum siap,” Sean mendekat. Matanya beringas sembari menuding. Cara memandang laki-laki di depannya sudah merupakan tantangan baginya. Tangannya terkepal.
Gadis di sebelahnya yang sedari tadi diam meredakan perasaan, berusaha melerai.
”Sudahlah. Kamu pergilah, Son. Lupakan semuanya.” Gadis itu mengguguk kecil. Tangannya mengusir halus laki-laki itu.
Tanpa suara dan tanpa menatap lagi, laki-laki itu ngeluyur pergi. Sean menatap penuh kebencian.
”Hei...! Kalau kau memang jantan cari aku disini atau dimana saja kamu ketemu aku, manusia busuk!!” masih sempat terdengar teriakan Sean memecah kesunyian malam.
”Sudahlah.” hanya itu yang terdengar dari mulut gadis itu.
Sean menoleh. Gadis itu sedang menahan isak. Kejadian itu membuatnya kalut. Ekor matanya masih menatap ke arah menghilangnya laki-laki itu.
”Kekasihmu itu sangat bodoh,” Sean bersuara pelan.
Gadis itu menggeleng lemah.
”Seperti itu?”
Gadis itu menunduk, mengusap airmatanya.
Sean membantu mengambil tas dan beberapa buku-buku yang berserakan di tanah lalu menyodorkan pelan. Gadis itu menerima dengan pandangan berterimakasih. Sean menatap wajah itu, terkesima sesaat lalu membuang pandangannya jauh-jauh.
“Aku tidak pernah berpikir sesuatu yang terjadi padamu masih membuatmu memiliki rasa kasihan. Padahal kamu yang akan menanggung akibatnya,” Sean berusaha memancing suara gadis itu.
“Ah, nggak!” Suara gadis itu mulai tenang. “Aku berpikir tentang laki-laki kaummu itu, “ tandasnya menyimpan kemarahan.
Sean memberi kesempatan.
”Dan begitulah bentuk kebaikan yang aku terima dari seorang kawan akrab. Persis seperti yang kamu lihat barusan, ” Gadis itu menutup ceritanya setelah panjang lebar berbicara dan setelah suasana menjadi tenang di tempat yang berbeda.
”Kamu kuliah dimana?” tanya gadis itu seketika.
Pertanyaan yang datangnya tiba-tiba membuat Sean tak mampu untuk menjawab. Hanya kepalanya menggeleng.
“Kerja?”
Lagi Sean menggeleng.
“lalu?”
“Aku tidak tahu!” hanya itu jawab Sean waktu itu, setahun persis dari kejadian itu setelah Sean melupakannya. Melupakan sama sekali sampai ia harus terpancing untuk keluar oleh perbincangan kawan-kawannya. Seorang gadis manis menjadi topik, menjadi bahan untuk lawan jenisnya seperti kebiasaan saling mendahului memancing perhatian. Semula Sean tidak begitu perhatian kalau bukan nama Rosy disebut-sebut, gadis yang pernah ditolongnya waktu itu.
”Siapa yang kamu maksud?” Sean mendekati kawan-kawannya yang pada kumpul di ujung gang.
”Anak kost baru. Manis! Siapa lagi kalau bukan si cantik yang saban hari mengapit buku. Senyumnya; wah.......!”
”Lagipula orangnya nggak begitu sombong, setiap kali disapa selalu membalas dengan senyuman,” yang lain pada ikut nyeletuk.
”Kita sebut saja si gadis yang murah senyum.”
”Setuju! Dan kalau aku sih nggak bakalan bisa tidur ngebayangin dia.”
Sean tersenyum mendengar dialog dan ulah kawan-kawannya.
“Dan belum ada pengikutnya, eh, pengawalnya.”
“Pendampingnya, gitu!”
“Iya…iya!!”
“Ah?”
“Ya!” yang lain meyakinkan.
“Masak sih?”
“Alah, buktinya tiap hari kuliah nggak ada yang temenin.”
“Usul…..usul..!!” suara-suara semakin ramai.
“Gimana?”
“Sebut saja aku. Aku siap jadi pendampingnya,” sahut yang lain konyol disambung ketawanya yang keras.
Akhirnya semua pada ketawa. Sean ikut-ikutan tertawa.
”Eh, Sean gimana kamu ini? Jangan mau ketinggalan!” seperti ingat akan kehadiran Sean yang sedari tadi diam, semuanya menoleh ke arahnya.
Sean akhirnya bersuara tanpa ekspresi jelas.
”Rumahnya dimana?” Sean memulai.
”Nah, gitu dong. Tuh! Tembok bercat kuning yang diterangi cahaya neon,” salah seorang kawannya menunjuk rumah yang kelihatan dari ujung gang. ”baru seminggu dia indekost di sini.”
”O, ya?” Sean beranjak meninggalkan rekan-rekannya.
Memang gadis yang dimaksud, gadis manis bernama Rosy yang pernah ditolong setahun yang lalu, ketika dengan terkejut gadis itu melihat kedatangannya.
”Halo Ros,” sapa Sean santai.
”Hei, Sean, kamu laki-laki yang dulu itu kan?”
”Ehm!” masih ingat juga pikir Sean langsung duduk tanpa dipersilahkan. Seperti mengerti jalan pikiran Sean, gadis itu langsung masuk pada pembicaraan yang sebenarnya, barangkali itu pula yang dia cari, langusng memasuki inti pertanyaan, inti permasalahan yang selama ini belum terjawab di benak gadis itu. Kelembutannya yang banyak bicara, selebihnya agar engkau tahu pula keadaan sesungguhnya tentang aku, pikir Sean.
Sean mengangguk begitu menatap gadis itu. Seakan-akan mengerti apa yang dia maksud.
”Lantas bagaimana yang dulu itu?”
”Maksudmu?” masih juga Sean dalam kepura-puraan.
”Kedatanganmu inilah sepertinya aku harus berbicara, Sean.”
Sean menangkap keakraban pada ucapan gadis itu, suatu pernyataan yang tidak seketika sebagaimana cerita sebelumnya tentang ”tidak tahu” yang secara enak dijawabnya setahun yang lalu atau barangkali telah tersusun di benaknya. Tapi toh juga akhirnya keakraban ini menumbuhkan jadwal baru dalam diri Sean. Minggu pertama bagi Sean memberikan pengakuan yang sebenarnya, minggu berikutnya merupakan suatu persiapan, sebagaimana rencana-rencananya sendiri, minggu ketiga entah apa.
”Pertama aku harus meninggalkan tempat ini,” kata Sean suatu sore di lapangan berumput menemani gadis itu jalan-jalan. ” Kedua, aku mesti sekolah, yang jelas kupilih Yogya tempat memulai langkah baru selanjutnya masa depan dan entah apa lagi namanya.......”
Rosy menatap Sean dengan seribu rasa. Ada setitik binar terbias dari matanya yang indah. Sean menangkap itu kalau bukan tangannya berisyarat untuk merengkuhnya, barangkali gadis itu tak akan tersipu malu. Brengsek juga Sean, wajah Rosy dibuat demikian dekatnya. Buru-buru juga Sean ingat dan melepaskan semuanya.
“Begitulah seharusnya, Sean. Dan kamu harus segera berangkat,” Rosy bersuara pelan, memecahkan kebisuan sesaat atas kerakusan lelaki itu menerobos relung hatinya. Suaranya demikian gugup atau dia tutupi sedikit akibat kelancangan Sean yang sempat mencuri pipi dan keningnya. Ada rona merah menjalar di pipinya.
“Ros, aku saying kamu. Kamu satu-satunya wanita yang menghidupkan semangatku, meniup peluang dan sekaligus memberi celah pada masa depanku. Aku harus merintisnya dari sekarang. Aku harus merintis dan menata ulang jalan hidupku dan hanya keseriusan serta kemauan yang tekun membuat segalanya berhasil seperti yang kita harapkan. Harapan itu sesungguhnya telah membentang di hadapan kita, di mata kita. Kupikir semua orang ingin berhasil dalam hidupnya. Akupun ingin berhasil dalam hidupku, bukankah begitu Rosy?”
Rosy tertawa renyah. Senang mendengar kata-katanya dulu diucapkan dengan persis sama. Tanpa ada yang kurang. Sama sekali tidak ada yang dikurangi.
”begitulah seharusnya Sean,” Rosy bersuara pelan. Kian pelan untuk menutupi kegalauan hatinya.
Selepas senja mengantarkan Rosy, Sean bergegas. Di ujung gang kebiasaan kawan-kawannya kumpul ia hindari. Dari jauh nampak mereka berteriak sembari mengacungkan jempol. Sportifitas? Entah. Sean masih mampu menangkap gelagat itu. Hanya senyumnya membalas ungkapan kawan-kawannya sambil melambaikan tangan persahabatan.
Selamat tinggal kotaku, selamat tinggal ibuku tersayang, selamat tinggal sahabat, selamat tinggal semua kenangan disini dan selamat tinggal satu-satunya sahabat wanita yang pernah aku miliki, akan kukenang engkau di ujung sana, desisnya mantap sambil mengemasi barang-barang yang dibawanya.
Selepas malam, Rosy mengantar sampai batas terminal lalu berbalik untuk menyembunyikan isak cengengnya.
“Pergilah Sean, bersama kesadaranmu. Kamu tidak gagal, tidak akan pernah gagal selama masih kamu anggap peluang itu sebuah ikatan persaudaraan yang harus direncanakan,” bisik hatinya berulang-ulang melepas kepergian laki-laki itu. Kini berlabuh sebuah penantian baru di hatinya.
Minggu, 07 Februari 2010
KUTUJU KAU
Menginjakkan kaki pada beratus pasir
seratus keinginan
menghampar kata hati ditelan lautan
kubangan cahaya
pada sebuah matahari menebar gurat
bayang nelayan berpasangan
mengail bayang bayang sinar keperakkan
di atas alam raya
lepas melambungkan kesadaran angin
Disinilah hujan sepatah
patah
mencari airnya melumat warna langit
mencari ujung pelangi, serta menariknya
jadi songket panjang
dan gelombang melintas
Disini sepi senantiasa memburu
berburu matahari ditelan bundar bulat
bulatan mata dunia
Lalu siapa tengah bermain bola api
melahap pada panas matahari berjubah putih
bersaput poleng merampas duniaku satu satu
Hanoman yang berteriak kesakitan menyerapahi dunia
atau dewa dewa keadilan ?
SAJEN 1
damai bagi dedaunan berbunga tatahan
warna warni kidung sakral di puncak
segala upacara yang pernah perih hati
punya : diberi nadi
merangkak jiwa berkeping gelapku
diamdiam
kucuri bayangmu
menawarkan sejuta istirah
dan Pura bangunan atap cadas atap waktu
berbakti padaMu isyaratkan sandisandi
Tuhan :
Selalu tak sampai aku mengukur
Batas kecahayaanMu
Di kejauhan karmaku
Jumat, 05 Februari 2010
KALAU AKU PENYAIR
Kau begitu benci kalau aku
penyair tak membuka lapar
sepi di atas meja makan berdebu
tanpa asap dapur berdarah tulang sarapan hari
apa makna sajak bagi penyairku
roh segala roh yang disulap jadi mainan angin
tanpa kata bertunjang lapar dahaga tanpa sirik
berganti-ganti
punah!
tanpa suarasuara kehilangan nyawa
dihuni rumah segala tandatanya kau beri maknamakan
roh sajakku
kalau terbuka jalan arah menuju persimpangan jalan
di gigir doa pinggiran mantram sampai menembus halamanMu
beri suara untuk sampai padaku
kau begitu benci kalau aku
penyair ketika hanya melukiskan
panah sebuah mainan Robinhood
atau ketika kucing malumalu malam
merangsak meja makan sehabisbisa mengobati
bara tukak lambungku yang tak punah atas cuka panah
atau sama sama pedulimu, siapa penyair
kataku suatu hari
Langganan:
Postingan (Atom)
