Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Rabu, 21 September 2011

Puisi Oleh ; G Arimbawa NUUR DEWA KABEH

Bersama puisi ini kusampaikan padamu, ya Tuhan
Aku pengabdi segala kebenaran
Kuupayakan seminim mungkin berbuat buruk
Dosa dan
Apa yang menjadi laranganmu
Karena kutaklupa langgammu ketika aku hamper tertimpa bencana
Aku menjadi selamat
Sepertinya memiliki sejuta nyawa yang rangkap
berkatmu

puisi oleh G Arimbawa PENYEBERANGAN KE GILI AIR

Dari sini kulihat pantai senggigi bak semut
Palung laut yang menyimpan misteri
Apa yang engkau tunggu
Ayo kita berangkat, para wisman mancanegara semua asyiek
Telanjang dada dalam khatulistiwa yang berbeda
Dalam kubangan dan asinnya air
Diammu sepi tak berarti
Sebuah saksi bisu dari waktu ke waktu
Disini kadang air ganas
Membuat riak yang dangkal
Ini malam purnama raya terpantul
Sinar penuh keakraban
Melalui air karibmu sambil berseru bangga
Kulihat engkau diam membisu tak berarti
Tak pernah ikut rebut memburu dollar
Yang bertebaran di gili

Puisi Oleh : G Arimbawa PURA BATU BOLONG, SENGGIGI

Mengitari air riak gelombang
Menyatu dalam doa
Mantramku mengalun bersama suara kecipak burung
Terbang di atas laut menjorok
Tebing tebing di pantai senggigi
Disini umatmu hadir semua

Puisi Oleh. G Arimbawa DI PURA DALEM CILINAYA

Dengan duduk bersila
Tangan tengadahkan di atas lutut
Ibu jari disatukan dengan telunjuk
Kuminta padamu, ya dewa Ciwa
Seratus delapan kali mantram kuberucap

Puisi Oleh : G Arimbawa PURA LINGSAR

Di pura itu asap dupa bertebaran
Dan pujapuji syukur para dewa
Aku terpekur dalam halaman depan
Menanti adakah kerinduan akan langgam yang baru
Doaku semayamkan cinta yang saling memburu
Hatimu bak sembilu
Dan di pura itu para pengayom berdatangan
Menunggu turunnya air suci
Yang dapat melupakan dosa-dosa

Puisi Oleh : G Arimbawa RINDU SEMUSIM

Kerinduan selalu menjadi musim menemukan jejak-jejak tak pasti
berlarian dalam kehidupan yang fana
siapakah yang berlarian di musim duka
aku rindu semusim yang menghentikan langkahku sesaat dan begitu pijar
tanah-tanah basah oleh suara angin
suara pohon pohon
suara suara sumbang
musim berganti musim
menggantikan pohon-pohon tumbuhnya musim baru
namun siapa yang memetik daunnya?
anak anak angin berlarian menembus cuaca
menandakan pada ranting-ranting yang bergerak
membelai gadis berambut panjang
tergerai oleh keindahan
suara suara pohon
yang menandakan angin
pada musim yang berlari
di taman kerinduan

Artikel : G Arimbawa GELISAH DIRI SEORANG PENYAJAK (Coba merefleksikan sajak-sajak Kiki Sulityo)

Kesenyapam malam memberikan batas antara pergolakan bathin yang hendak meloncat ke alam penuh bukit-bukit basah, menduga kita untuk lebih sangsi mencari dan mendaki selama kegelisahan yang selalu sama datangnya akan memberikan kita sebuah harapan.
Mengapa gelisah karena kaki telanjang tak bermata? Kita hendak menggapai-gapai bukit basah lembab melicinkan kegelisahan penuh hasrat. Mengapa gelisah berhasrat bukit karena yang dituju mendatangkan misteri? Hasrat hanya lamunan kosong. Kaki punya mata dan kehendak punya rasa. Waktu hanya rentangan tirai tipis yang kabur oleh mata. Dimanakah kita kini?
Puisi itu sendiri belum pasti dapat diartikan sebagai buah praduga yang mampu memberikan kesenyapan serta suasana hati yang menyenangkan. Mental itu sendiri sesungguhnya ada pada pemaparan dari rangkaian demi rangkaian kata-kata itu sendiri. Sikap sebuah puisi yang selalu mempengaruhi perkembangan akan makna yang terangkum dalam proses sebuah penulisan karya sastra. Dapat selalu mempengaruhi akal budi, sikap serta mengubah diri untuk mengolah kehalusan budi. Dimana akal budi itu sendiri mampu tersimpan lama sebelum habis ditempa waktu.
Buah meluputkan waktu menjadi sebuah kegelisahan awal igauan, senandung kehidupan dalam kenikmatan. Waktu hanya rentangan tirai tipis yang mudah putus lalu terlupakan. Bisakah? Sekali lagi bisakah tidak karena waktu menghampiri totalitas kenikmatan. Karenanya memburu tinggal memburu, tidak tahu apa yang diburu. Padang perburuan hanyalah hamparan demi hamparan padang pasir nan tandus, hutan-hutan, kesepian, ketakutan, misteri yang berikut beramai-ramai mengganyang kita dalam perburuan yang sama. Pada akhirnya memang sama-sama semuanya datang hanyalah untuk saling memburu.
Kita diburu oleh pemburuan kita sendiri. Sedangkan buruan itu adalah diri kita sendiri. Lalu berapa kali kita membangun puncak perburuan untuk runtuh di mata bathin? Kegelisahan dirilah yang menghadirkan bayangan. Sedangkan puncak masih menjulang tinggi.
Coba kita hadirkan pergulatan bathin sang penyajak dalam judul sajak DI AMPENAN, APALAGI YANG KAU CARI yang diterbitkan ekspresi magazine no 29/tahun II/agustus 2010 ini. Kita tampilkan lariknya secara utuh:
Di Ampenan, apalagi yang kau cari?/kota tua yang hangus oleh sepi/kali kecil menjalar di tengah mimpi/dimana masa kecil mengalir tak henti/ingatkah kau tekstur-tekstur kuno/rumah es di ujung gang/ingatkah kau gudang kusam/aroma tajam dari puskesmas seberang?//
Penyajak dalam hal ini dalam ketajaman intuisinya masih menggambarkan kota lama yang lekang oleh waktu dan selalu dibentur-benturkan perubahan jaman. Kota pertama sebagai kota niaga sebelum pindah ke wilayah Cakranegara, dan begitu tajamnya penyajak melukiskan gambaran sebuah kehidupan seperti pada kata-kata: tekstur tekstur kuno serta gambaran tentang rumah es di ujung gang. Ingatan saya tentang bagaimana masa kecil di sebuah kota lama Ampenan yang masih mengental bertahan kuat dalam menghadapi perubahan, terlihat dari masih membekas took-toko, gedung bangunan tua. Seperti pada larik berikutnya:
Di Ampenan hanya gedung-gedung tua/bertahan dalam kemurungan/hanya angin yang resah/mondar- mandir dengan kaki patah/dan perempatan itu/akan kau temui kembali/riwayat sebuah perjalanan/yang terus mengambang dan menggelepar/di ingatanmu//
Sajak ini yang berkisah lewat mood gang buntu ditulis penyajaknya pada tahun 2009 ini mengalir demikian lancar dalam ingatan sebuah warna lokal kota tua yang menyimpan sejarah. Demikian yang dipaparkan Kiki Sulistyo, penyair yang lahir di Ampenan 32 tahun yang lalu sebagai sebuah pemahaman terhadap refleksi saya untuk lebih mendekatkan diri terhadap makna yang termaktub maksud kata-kata yang dilampiaskan lewat sebuah sajak, selebihnya pembaca sendiri yang memberikan makna tersendiri dalam kebebasan mengembangan maksud daripada imajinasi yang disampaikan penyajaknya sendiri. Salam bumi gora gogo-rancah