Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Rabu, 21 September 2011

Puisi Oleh : G Arimbawa RINDU SEMUSIM

Kerinduan selalu menjadi musim menemukan jejak-jejak tak pasti
berlarian dalam kehidupan yang fana
siapakah yang berlarian di musim duka
aku rindu semusim yang menghentikan langkahku sesaat dan begitu pijar
tanah-tanah basah oleh suara angin
suara pohon pohon
suara suara sumbang
musim berganti musim
menggantikan pohon-pohon tumbuhnya musim baru
namun siapa yang memetik daunnya?
anak anak angin berlarian menembus cuaca
menandakan pada ranting-ranting yang bergerak
membelai gadis berambut panjang
tergerai oleh keindahan
suara suara pohon
yang menandakan angin
pada musim yang berlari
di taman kerinduan

Artikel : G Arimbawa GELISAH DIRI SEORANG PENYAJAK (Coba merefleksikan sajak-sajak Kiki Sulityo)

Kesenyapam malam memberikan batas antara pergolakan bathin yang hendak meloncat ke alam penuh bukit-bukit basah, menduga kita untuk lebih sangsi mencari dan mendaki selama kegelisahan yang selalu sama datangnya akan memberikan kita sebuah harapan.
Mengapa gelisah karena kaki telanjang tak bermata? Kita hendak menggapai-gapai bukit basah lembab melicinkan kegelisahan penuh hasrat. Mengapa gelisah berhasrat bukit karena yang dituju mendatangkan misteri? Hasrat hanya lamunan kosong. Kaki punya mata dan kehendak punya rasa. Waktu hanya rentangan tirai tipis yang kabur oleh mata. Dimanakah kita kini?
Puisi itu sendiri belum pasti dapat diartikan sebagai buah praduga yang mampu memberikan kesenyapan serta suasana hati yang menyenangkan. Mental itu sendiri sesungguhnya ada pada pemaparan dari rangkaian demi rangkaian kata-kata itu sendiri. Sikap sebuah puisi yang selalu mempengaruhi perkembangan akan makna yang terangkum dalam proses sebuah penulisan karya sastra. Dapat selalu mempengaruhi akal budi, sikap serta mengubah diri untuk mengolah kehalusan budi. Dimana akal budi itu sendiri mampu tersimpan lama sebelum habis ditempa waktu.
Buah meluputkan waktu menjadi sebuah kegelisahan awal igauan, senandung kehidupan dalam kenikmatan. Waktu hanya rentangan tirai tipis yang mudah putus lalu terlupakan. Bisakah? Sekali lagi bisakah tidak karena waktu menghampiri totalitas kenikmatan. Karenanya memburu tinggal memburu, tidak tahu apa yang diburu. Padang perburuan hanyalah hamparan demi hamparan padang pasir nan tandus, hutan-hutan, kesepian, ketakutan, misteri yang berikut beramai-ramai mengganyang kita dalam perburuan yang sama. Pada akhirnya memang sama-sama semuanya datang hanyalah untuk saling memburu.
Kita diburu oleh pemburuan kita sendiri. Sedangkan buruan itu adalah diri kita sendiri. Lalu berapa kali kita membangun puncak perburuan untuk runtuh di mata bathin? Kegelisahan dirilah yang menghadirkan bayangan. Sedangkan puncak masih menjulang tinggi.
Coba kita hadirkan pergulatan bathin sang penyajak dalam judul sajak DI AMPENAN, APALAGI YANG KAU CARI yang diterbitkan ekspresi magazine no 29/tahun II/agustus 2010 ini. Kita tampilkan lariknya secara utuh:
Di Ampenan, apalagi yang kau cari?/kota tua yang hangus oleh sepi/kali kecil menjalar di tengah mimpi/dimana masa kecil mengalir tak henti/ingatkah kau tekstur-tekstur kuno/rumah es di ujung gang/ingatkah kau gudang kusam/aroma tajam dari puskesmas seberang?//
Penyajak dalam hal ini dalam ketajaman intuisinya masih menggambarkan kota lama yang lekang oleh waktu dan selalu dibentur-benturkan perubahan jaman. Kota pertama sebagai kota niaga sebelum pindah ke wilayah Cakranegara, dan begitu tajamnya penyajak melukiskan gambaran sebuah kehidupan seperti pada kata-kata: tekstur tekstur kuno serta gambaran tentang rumah es di ujung gang. Ingatan saya tentang bagaimana masa kecil di sebuah kota lama Ampenan yang masih mengental bertahan kuat dalam menghadapi perubahan, terlihat dari masih membekas took-toko, gedung bangunan tua. Seperti pada larik berikutnya:
Di Ampenan hanya gedung-gedung tua/bertahan dalam kemurungan/hanya angin yang resah/mondar- mandir dengan kaki patah/dan perempatan itu/akan kau temui kembali/riwayat sebuah perjalanan/yang terus mengambang dan menggelepar/di ingatanmu//
Sajak ini yang berkisah lewat mood gang buntu ditulis penyajaknya pada tahun 2009 ini mengalir demikian lancar dalam ingatan sebuah warna lokal kota tua yang menyimpan sejarah. Demikian yang dipaparkan Kiki Sulistyo, penyair yang lahir di Ampenan 32 tahun yang lalu sebagai sebuah pemahaman terhadap refleksi saya untuk lebih mendekatkan diri terhadap makna yang termaktub maksud kata-kata yang dilampiaskan lewat sebuah sajak, selebihnya pembaca sendiri yang memberikan makna tersendiri dalam kebebasan mengembangan maksud daripada imajinasi yang disampaikan penyajaknya sendiri. Salam bumi gora gogo-rancah

Puisi Oleh : G Arimbawa SUNYINYA SEPI

Sunyinya sepi senyapnya kekelaman yang datang
Pada dinding dinding berlumut basah
Legendakan misteri dan mati agni rejam napsu segalanya
Nan tumpang tindih harga sebuah dosa semurah dalam sekali tekuk
Jadi jangkau pikiran kosong menerawang menatap langit
Menjelma dalam jiwa tumpangkan segala napsu berkata kata
Malam hening angan melangkah
Gelap lurus pada kedalaman nan jelaga
Cermin bayangan kusut melangkah sekali
Dalam hutan berdinding beton berpondasi besi
Dan dinding lumutnya telah lenyap
Dimana usai kucari sunyi
Datanglah napas dinding lumut
Tapi jangan kicaukan kacau arah langkah
Sebab malam berlumut bermesra kelana
Kelana malam tembang irama padang sepi
Legendakan misteri nan kian senyap
Jelmakan jeritan bisu
Datanglah napas dinding dinding lumut
Sebab napasku sempoyong jiwa rapuh
Termakan sisa mabuk duniawi
Hari ini siulkan sunyi
Dan siulan sunyi
Gelarkan bahana malam
Bahwa kelam itu sepi

MENGENAL DARI DEKAT TAMAN NARMADA LOMBOK Oleh . G Arimbawa

Kebanyakan orang-orang sering menghubungkan hindhunya Bali dengan hindhunya yang berada di luar Bali seperti sebuah kelompok-kelompok kecil yang tidak saling berhubungan. Dengan kata lain kalau orang menghubungkan tentang Hindhu konotasinya pastilah umat beragama hindhu yang berada di Bali atau Hindhu itu pusatnya di Bali.. memang benar. Hal ini pernah diungkapkan pada saat diadakan seminar PHDI yang berlangsung di Kampus Udayana Tembau Denpasar Bali (1991). Memang kalau dilihat dari rumusan mengenai tingkat strukturalnya saja, kalau dilihat dari sudut pandang sebuah organisasi. Hal itu manakala melihat dari tatanan akar budaya yang dianggap kuat dalam wilayah agama itu sendiri, terlebih dalam pendukung yang lebih dominan. Namun sesungguhnya kalau kita melihat lebih jauh darisejarah akan nampak suatu hubungan yang kuat antara pemeluk agama Hindhu di Bali dengan pemeluk hindhu yang berada di luar Bali. Contohnya daerah Lombok di Nusa tenggara Barat. Kalau melihat beberapa bangunan yang berdiri disana dalam tata kehidupan masyarakat Hindhunya lebih dekat dengan masa kejayaan kerajaan Anak Agung gede ngurah Karangasem yang pernah berkuasa di Lombok.
Ada beberapa bangunan tempat pemujaan di Lombok yang cukup besar peranannya bagi pemeluk umat Hindhu kebanyakan disana yang masih merupakan cikal-bakal masyarakat Bali khususnya di daerah Bali timur, dimana pada masa-masa pemerintahan kerajaan Karangasem Bali yang masih membekas dan melekat kuat dalam kultur kejayaan sesuhunannya Raja Anak Agung. Di daerah Lombok bagian barat akan kita jumpai tempat-tempat persembahyangan sebagai bukti masih ada sisa-sisa kejayaan kerajaan Karangasem yang pernah memerintah disana (sekitar tahun 1870-1894), seperti : Pura Lingsar,pura Suranadi,,Pura Batubolong,Pura Taman Mayura,pura Meru bertempat di Cakranegara, pura Taman Narmada dll.
Di Pura Taman Narmada misalnya, puncak acara pada saat dilakukan penyelenggaraan upacara setahun sekali, pada sasih ke lima bulan penuh (purnama). Di Pura Taman Narmada yang konon dinamakan atau juga lebih dikenal dengan sebutan : “Istana Musim Kemarau” pada masa pemerintahan Anak Agung Gede Ngurah Karangasem, dimana pura Taman Narmada tersebut merupakan dwi fungsi, disamping sebagai tempat peristirahatan Raja-raja, juga yang utama sekali sebagai tempat pemujaan bagi keluarga raja-raja, serta para pengikutnya yang selanjutnya diikuti seluruh masyarakat di sekitarnya. Awal mulanya adalah karena pusat kerajaan yang bertempat di Taman Mayura Cakranegara dilanda musim kemarau dengan tidak ada airnya sama sekali, maka pada musim-musim paceklik tersebut keluarga raja serta para pengikutnya berpindah ke suatu tempat yang memiliki mata air dengan dengan air yang berlimpah serta mengalir terus. Maka dipilihlah oleh beliau Taman Narmada sekaligus juga sebagai tempat pewedaan serta pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dengan demikian diketahui sangat erat sekali hubungan antara Pura Taman Mayura dengan Taman Narmada.
ARSTISTIK TRI MANDALA
Bangunan Taman Narmada dilihat dari sisi filsafat artistiknya akan terlihat lebih berpedoman pada arsitek Tri Mandala sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana yang masing-masing dihubungkan dengan mandala terdiri dari:
Mandala I disebut juga Japa, merupakan bangunan telaga taman,
Mandala II disebut japa tengah terdiri dari tempat-tempat untuk melakukan persiapan persembahyangan yang juga dilengkapi dengan bale
Mandala III disebut japa tiga terdiri dari bangunan jero.
Pada tiap-tiap japa dihubungkan dengan jalan-jalan bertangga dimana pada setiap tangga masing-masing dijaga oleh raksasa yang sangat ganas dan kejam(jogor manik). Pada setiap peningkatan iman seseorang untuk mencapai masing-masing tangga tersebut mesti mampu mengatasi gangguan-gangguan sampai mencapai tingkat Rohani yang bersih.
Pada waktu piodalan berlangsung, mendak tirta biasanya dilakukan di sebelah barat, tengah dan timur yang bersamaan pula, pada saat itu waktunya dilakukan persembahyangan di Pura Suranadi (kurang lebih berjarak 5 km dari Narmada). Mendak tirta yang dilakukan di tiga arah juga merupakan simbol kebesaran Gunung-gunung suci yang berada di lintasan pulau Jawa, Bali dan Lombok yang saling bertalian erat, dengan catatan; di tengah ditujukan mengarah pada gunung Semeru sebagai kepala dengan ngacep Padmawangi, di barat mengarah pada gunung Agung yang merupakan simbolik badan dengan ngacep Gandawari, serta ke timur mengarah pada gunung Rinjani sebagai ekor ngacep Gandari.
Pada saat upacara meras danu (mulang pakelem) berlangsung yang bersamaan dengan upacara meras danu di segara anak di puncak gunung Rinjani sebelum tanda dimulainya pujawali yang jatuhnya pada purnama sasih ke lima akan dilaksanakan dengan runtutan melabuhkan benda-benda berwujud emas seperti: ikan emas, kepiting serta penyu yang bertulisklan huruf-huruf magis dan segala jenis binatang yang ada di marcapada ke dalam danau dengan tujuan untuk memohon kepada Sanghyang Widhi Wasa agar melimpahkan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada rakyat dimana raja yang sedang memerintah senantiasa diberikan kelanggengan.
Terjadinya perubahan pada puncak acara meras danu/pakelem itu, mengingat raja yang pada waktu itu telah lanjut usia dan tidak kuat lagi untuk naik mencapai puncak Gunung Rinjani, maka dibuatlah miniature telaga segara anak di bagian selatan kolam renang dengan catatan : Labuhannya tetap dilakukan di danau segara anak yang merupakan simbolisasi dari pelaksanaan meras danu yang selanjutnya dilakukan di Pura Taman Narmada.
KELEBUTAN PADMAWANGI/WINDU SARA
Tidak diketahui secara pasti kapan timbulnya kelebutan padmawangi yang selanjutnya dikenal orang sebagai “tirta awet muda” atau air padmawangi yang merupakan sumber mata air yang sangat disucikan oleh umat agama Hindhu disana. Sebutan air padmawangi yang disucikan itu terdiri dari panca Tirtha yang terdiri dari Gandari yang bersumber di pura Suranadi dimana saat upacara berlangsung merupakan tempat petirtaan, pelukatan, pengentas dan pebersihan pada masa Danghyang Nirartha meyatra ke Lombok. Tempat petirtan itu bertalian erat dengan padmawangi, yang dikenal dengan air awet muda, Gandari, Carmawati serta Mahendra yang merupakan satu kesatuan.
RIWAYAT AIR AWET MUDA
Sejak kapan adanya mata air itu, tidak jelas sejarahnya. Semenjak Taman Narmada dibangun, air awet muda itu sudah ada, berupa mata air yang tiba-tiba muncul dan mengalirkan air sepanjang tahun. Kawasan narmada sejak itu merupakan sumber mata air yang melimpah.
Mungkin kedengarannya luar biasa, jika Gusti mangku yang biasa berada disana bercerita bahwa air awet muda itu bersumber dari sungai yang sangat suci di India (sungai Gangga) yang dikeramatkan seluruh umat Hindhu di Dunia. Dengan mengambil kepala atau otak dari gunung Semeru, badan di gunung Agung serta ekornya yang melingkar di gunung Rinjani dikatakan airnya muncul dari dalam tanah sebagai sumber kelebutan padmawangi di Taman Narmada.
Para wisatawan yang datang berkunjung kesana, akan diantar oleh seorang mangku apabila ingin ke mata air tersebut disertai selendang yang disediakan dan upakara secukupnya, , maka mat air yang muncul itu dapat kita minum dengan gelas yang disediakan disana dapat pula untuk membasuh muka.

Ket gb: Sumber foto dokumentasi Pemda NTB
Taman Narmada tahun 1870

MAKNAI LEKUK HATIMU

begitulah malam
menekuk dalam diammu
dalam sejuta aroma
maknai lekuk hatimu, seirama hati berlagu bisu
apakah perlu kau isyaratkan pula
atau kelu yang terlontar tandatanda
menguak dari sudut matamu
sepasang misteri yang tersembunyi
di lekukan hati paling dalam
begitulah malam
mengabur diammu.......

Perpustakaan, Siapa Peduli?

Oleh: Dwi Rohmadi Mustofa
SIAPA peduli perpustakaan? Pertanyaan ini tak berlebihan jika kita menelisik lebih jauh terhadap aktivitas di perpustakaan dan apa yang ada dalam perpustakaan. Secara esensial, jika kita ingin memotret pendidikan dan segala dinamikanya, salah satunya dapat dilakukan dengan meninjau kondisi perpustakaan. Artinya, perpustakaan adalah medium yang strategis bagi pemajuan pendidikan.
Tepat kiranya jika ada suatu dinas di daerah yang menggabungkan pendidikan dengan perpustakaan. Maksudnya, agar perpustakaan mendapat porsi perhatian yang lebih. Dengan melihat kondisi dan aktivitas dalam perpustakaan suatu institusi pendidikan, kita akan mendapat gambaran bagaimana proses pendidikan berlangsung, seberapa signifikan bagi perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Setidaknya kita dapat membuat kesimpulan sementara tentang peserta didik, menyangkut aktivitas positif, tingkat kreativitas, dan wawasan mereka.
Dewasa ini, kemajuan dan perkembangan yang terjadi di dalam perpustakaan agaknya kalah dengan dinamika yang terjadi di luar perpustakaan. Artinya, peserta didik memiliki beragam kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan baru melalui penggunaan media teknologi komunikasi dan informasi.
Peduli perpustakaan yang juga berarti peduli terhadap pendidikan harus ditumbuhkan di semua kalangan. Peduli perpustakaan bukan hanya tanggung jawab pustakawan atau pimpinan instutusi pendidikan. Peserta didik dan orang tua serta masyarakat juga memikul tanggung jawab untuk memajukan pendidikan melalui perpustakaan.
Kalangan penerbit dan toko buku selain berkepentingan, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mewujudkan perpustakaan yang representatif. Kaum profesional, pengusaha, kalangan media dan sebagainya, perlu memberikan atensi bagi kemajuan perpustakaan. Orang tua siswa juga perlu memberikan pemahaman tentang makna pentingnya perpustakaan. Hal ini dapat dilakukan dengan menanamkan sikap cinta buku. Membiasakan anak-anak membaca di rumah. Meluangkan waktu mengunjungi toko buku, atau pamaeran buku. Menyediakan alokasi anggaran rumah tangga untuk hal-hal yang berkaitan dengan buku.
Jika anak-anak di rumah telah dibiasakan dengan buku, niscaya mereka akan gemar belajar di perpustakaan. Perpustakaan di sekolah atau di kampus menjadi tempat favorit untuk belajar. Mereka akan mudah mengeksplorasi pengetahuan, mengekspresikan kemampuan, dan sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai sarana rekreasi ilmiah yang sangat positif.
Jika kita menyelami permasalahan yang dihadapi pada beberapa sekolah terkait minimnya perpustakaan, umumnya adalah masalah ketersediaan ruangan yang dikhususkan untuk perpustakaan, kurangnya koleksi buku-buku, dan pengetahuan serta personil pengelolaannya. Hal ini tentu mengundang keprihatinan tersendiri.
Idealnya, semua pihak memiliki atensi, partisipasi, dan dukungan bagi perpustakaan yang baik. Sebenarnya, sudah ada amanah dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa tiap institusi pendidikan memiliki tanggung jawab menyediakan sarana perpustakaan yang memadai. Tapi implementasi UU 43/2007 ini belum maksimal. Belum ada aturan pelaksanaan yang dapat dijadikan dasar baku bagi pembangunan perpustakaan yang baik, yang memiliki sanksi yang mengikat. Sampai saat ini rancangan peraturan pemerintah masih dalam tahap pembahasan.
Akibatnya, perpustakaan berjalan secara natural, apa adanya, dan menggantungkan pada komitmen pimpinan institusi pendidikan dan integritas suatu institusi pendidikan terhadap peserta didiknya.
Dalam hemat penulis, masih banyak pihak yang memandang perpustakaan hanya memainkan peran instrumental atau bahkan hanya sebagai pelengkap persyaratan formal. Peran perpustakaan secara substantif sering dilupakan. Padahal, perpustakaan adalah medium peneguhan peradaban umat manusia. Perpustakaan dapat menjadi wahana menyemai generasi muda yang cerdas, inovatif, bermoral, menghargai keberagaman, dan memiliki kemampuan-kemampuan yang penting bagi kehidupannya sendiri maupun bagi masyarakatnya. Melalui buku dan perpustakaan siswa dapat belajar banyak hal.
Dengan memanfaatkan perpustakaan, guru lebih mudah memberikan materi pembelajaran. Buku-buku atau perpustakaan merupakan sarana belajar utama bagi siswa, mahasiswa, atau bagi setiap orang.
Pasal 2 UU No. 43/2007 menyebutkan bahwa perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Selanjutnya Pasal 3 dinyatakan perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.
Memang ada sebagian perpustakaan telah dikelola dengan visi yang jauh ke depan dan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan perpustakaan yang baik. Sepanjang pengetahuan penulis, dampak langsung dan hasil dari UU tersebut belum begitu dapat dirasakan.
Perpustakaan Ideal
Melalui pendidikan suatu bangsa memelihara dan mewariskan peradabannya. Medium pendidikan itu salah satunya adalah perpustakaan. Dengan kata lain, nilai-nilai luhur budaya, keyakinan, pengetahuan, dan khazanah bangsa diwariskan melalui perpustakaan. Faktanya, data, informasi, dan ilmu pengetahuan, disimpan, diolah, dikembangkan, dimanfaatkan, disebarluaskan, melalui perpustakaan. Dalam suatu institusi pendidikan, perpustakaan merupakan media belajar.
Untuk meningkatkan peran perpustakaan bagi kelangsungan suatu peradaban, dibutuhkan partisipasi aktif banyak pihak. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan para pengguna perpustakaan itu sendiri memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyelenggarakan perpustakaan yang memadai. Perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang mampu memberikan pelayanan melebihi harapan (persepsi) para penggunanya. Ini tentu sesuai dengan jenis dan layanan yang diberikan oleh masing-masing perpustakaan.
Bagi suatu sekolah, perpustakaan tentu saja menjadi media belajar yang sangat penting. Perpustakaan merupakan pusat sumber belajar yang memiliki banyak makna. Buku dan koleksi yang ada di perpustakaan menjadi bahan belajar. Petugas perpustakaan dan setiap orang yang ditemui di perpustakaan merupakan sumber belajar berupa orang. Setting perpustakaan merupakan sumber belajar yang berupa lingkungan.
Pengakuan akan peran perpustakaan dalam menunjang suatu kegiatan belajar, sering diungkapkan dalam slogan “Perpustakaan adalah jantungnya pendidikan”. Jadi, idealnya perpustakaan mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah, pemerintah daerah, maupun institusi induk penyelenggara perpustakaan itu sendiri. Perhatian itu harus dalam bentuk komitmen yang diwujudkan dalam perencanaan dan implementasi pengembangan bagi pemanfaatan perpustakaan yang optimal.
Dwi Rohmadi Mustofa, Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 28 Mei 2011

LOMBA MENULIS NOVEL REPUBLIKA (2011)

Republika menyelenggarakan Lomba Novel Republika 2011. Lomba ini terbuka untuk umum dan paling lambat naskah dikirim tanggal 15 Oktober 2011.
Syaratnya adalah:
-Mengisi formulir pendaftaran ( Download di sini : http://www.republika.co.id/iklan/novel/novel.html )-WNI dan melampirkan fotokopi kartu identitas (KTP/KTM/Kartu Pelajar/Paspor);
-Karya asli, bukan saduran,bukan terjemahan,bukan jiplakan(menyertakan surat bermeterai Rp6000 yang menyatakan karya yang dikirim adalah karya asli
-Karya belum pernah dipublikasikan atau disertakan dalam lomba sejenis
-Tema novel bebas,menghadirkan materi yang menggugah
-Novel bernapaskan Islam rahmatan lil alamin
-Tidak bermuatan pornografi

-Naskah diketik dengan format MSWord 2000, dengan jumlah halaman minimal 150 halaman, dan diketik dengan spasi 1,5 dan diprint-out di kertas berukuran A4,menggunakan font Times New Roman, ukuran 12 dan diberi nomor halaman;
Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya
Naskah dijilid sebanyak tiga buah dan dimasukkan dalam amplop tertutup yang ditujukan kepada


Panitia Lomba Penulisan Novel Republika 2011

Jl.Warung Buncit Raya No 37. Jakarta Selatan, 12510


Sepuluh peserta finalis akan diminta mengirimkan naskah dalam bentuk softcopy kepada panitia;
Tiga naskah terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Republika;
Tujuh naskah finalis lainnya akan dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika


HADIAH

Karya terbaik pertama akan memperoleh uang saku sebesar Rp.25 juta+piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku);
Terbaik kedua berhak atas hadiah uang saku sebesar Rp.20 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku);
Terbaik ketiga memperoleh uang saku Rp.15 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku);


Karya diterima paling lambat 15 Oktober 2011 (Cap Pos)