Di awal PSB sekolah sekolah telah berubah menjadi pasar
Menjual kain, baju, celana, topi dan segala jenis asesoris
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi juga bercoleteh tentang mutu kain yang berkualitas
Para guru tidak hanya pintar mengajar, tapi sudah berkalkulasi dagang dalam proteksi jiwa
Pintar menganalisa angka-angka dalam prosentase pembelian dalam melipatkan keuntungan
Dan mahir menulis kuitansi asuransi jiwa anak anak
Dan orang tua siswapun berebutan merogoh dompet.
Segala jenis kocek atasnama pendidikan adalah mutu
Berapapun biayanya yang penting anak-anak pintar
Kalau tidak punya uang jangan sekolah
Kendati berutang jangan malu jadi pintar
Sekolah telah menjadi distributor kain yang lengkap.
Untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Jumat, 16 Juli 2010
Prosa liris: ROMANSA SAH IDI (1)
Adalah Sahatun, wanita yang tercerai berai dalam angan tak sampai bersuamikan Sahidi lelaki yang tiba-tiba terbuka melampaui angan.
Sama-sama terhempas dalam badai.
Sama-sama berkarier.
Sama-sama punya harga diri.
Dan sama-sama ingin punya masa depan yang indah.
Pernah saling mencintai, bahkan mungkin diam-diam masih ada rasa cinta kasih sayang ketika masalah memisahkan mereka.
Ketika pertengkaran melibas mereka.
Ketika badai rumah tangga mulai terasa menghantam.
Ketika berbagai sangkaan praduga menguliti masing-masing pikiran mereka.
Ketika rasa curiga membuahkan tudingan-tudingan tak membendung berbagai tuduhan-tuduhan.
Ketika sama-sama saling mulai melecehkan cinta kasih yang semula dibangun dari serat –serat burung kecial. Entah!?
Itu kata mereka, manakala terbakar emosi. Kenapa bisa terbakar emosi? Akankah serat-serat kecial telah menuai jadi minyak-minyak yang ditorehkan dalam beberapa kalimat sakti? Minyaknya dioleskan di jidat, dioleskan di sepasang alis mata, kemudian ucapkan beberapa patah kata, maka emosi sesungguhnya jadi redam.
Sama-sama terhempas dalam badai.
Sama-sama berkarier.
Sama-sama punya harga diri.
Dan sama-sama ingin punya masa depan yang indah.
Pernah saling mencintai, bahkan mungkin diam-diam masih ada rasa cinta kasih sayang ketika masalah memisahkan mereka.
Ketika pertengkaran melibas mereka.
Ketika badai rumah tangga mulai terasa menghantam.
Ketika berbagai sangkaan praduga menguliti masing-masing pikiran mereka.
Ketika rasa curiga membuahkan tudingan-tudingan tak membendung berbagai tuduhan-tuduhan.
Ketika sama-sama saling mulai melecehkan cinta kasih yang semula dibangun dari serat –serat burung kecial. Entah!?
Itu kata mereka, manakala terbakar emosi. Kenapa bisa terbakar emosi? Akankah serat-serat kecial telah menuai jadi minyak-minyak yang ditorehkan dalam beberapa kalimat sakti? Minyaknya dioleskan di jidat, dioleskan di sepasang alis mata, kemudian ucapkan beberapa patah kata, maka emosi sesungguhnya jadi redam.
Selasa, 13 Juli 2010
DOA PENGABDI KERJA 25 TAHUN LEWAT (menjelang HUT 39)
Kimia Farma menjelang HUT ke 39
Padamu kuberkata:
Telah 26 tahun (sedang berjalan) aku mengabdi padamu
Dalam berbagai rasa kejengkelan, marah, emosi,sakit hati, senang, gembira dan banyak hal kualami dalam kerja.
Semoga tahun ini penghargaan purna bakti masa kerjaku yang selama 25 tahun mengabdi dapat dikeluarkan, kendati lewat setahun
Nggak apa-apa lah
Yang penting bisa aku terima dan tidak ditunda seperti tahun kemarin
Hmmmmmm…….!!
Sungguh sungguh aku berdoa nih Tuhan.
Dengarah doaku….
Iya….dengarkanlah
Sedetik saja!
Padamu kuberkata:
Telah 26 tahun (sedang berjalan) aku mengabdi padamu
Dalam berbagai rasa kejengkelan, marah, emosi,sakit hati, senang, gembira dan banyak hal kualami dalam kerja.
Semoga tahun ini penghargaan purna bakti masa kerjaku yang selama 25 tahun mengabdi dapat dikeluarkan, kendati lewat setahun
Nggak apa-apa lah
Yang penting bisa aku terima dan tidak ditunda seperti tahun kemarin
Hmmmmmm…….!!
Sungguh sungguh aku berdoa nih Tuhan.
Dengarah doaku….
Iya….dengarkanlah
Sedetik saja!
Jumat, 02 Juli 2010
KECIAL KUNING (7) (malam pertama)
Dan keganjilan ini menjadikan malam yang ngial
telah menyihir wajahmu dalam berbagai rupa
engkau berubah laksana arjuna mengeram sejuta keinginan
di hadapan dewi yang penuh pesona
bulan melampiaskan sinarnya bak jelita bercahaya
Melupakan harapan kosong
yang sesungguhnya melompong setelah menakar-nakar asmara bernyawa
di tubuh nan linglung
Dara, engkau tumpahkan airmata penyesalan
manakala arjunamu mencuri putik mahkota pelaminan
satu satu
menghisap tanpa ada sisa
telah menyihir wajahmu dalam berbagai rupa
engkau berubah laksana arjuna mengeram sejuta keinginan
di hadapan dewi yang penuh pesona
bulan melampiaskan sinarnya bak jelita bercahaya
Melupakan harapan kosong
yang sesungguhnya melompong setelah menakar-nakar asmara bernyawa
di tubuh nan linglung
Dara, engkau tumpahkan airmata penyesalan
manakala arjunamu mencuri putik mahkota pelaminan
satu satu
menghisap tanpa ada sisa
Selasa, 15 Juni 2010
KOMEDI BIROKRAT
Tuah maboya nyilihang pamikat piteket sang birokrate mani wekas
Ulian angka pasti tusing kalikalian tawah
Krana yeh ‘ngerarisang’ ngadu lengkara ning utawi embahan toya pamikat
Raga tusing prebawa mabaris negakin lembu lan onta
Natah suci ajeg dadi enjekan langit
Wiadin nyilih dharma wacana
Momotbongol serak anacaraka
Tuah maboya, piteket sang panjabate, tusing nembahang sembako yadiapin idupe daat keweh-keweh aluh nembangin I tiwas
tusing pragat ngundukang pangubadan gratis, yadiapin tumor dadi pawiwahaan ngeseng
sawatara ”surat miskin” masiluman pemekasne nyancang atma:
kasulap antuk sang pengalap bayu rauhin ambu
dadi komoditi maboya sekadi komedi Robinhood
silihang malu karirihan
apang tatakrama tusing macule
di tengah aji mumpung lantangan galah
wiadin mara malajah precaya tekening suara ring birokrat
di marga ganjih lantangan singgahan planet raya
nyilem ring kawah
Mimih!!, ulihang malu palet lengkara kal kapaca keadilan
kajabat limane tekek krana: harmonisasi sekular-universal
egaliter dayuh ubir-ubir, ulihang baan pradnyan
Silihang malu palet, ngungkab pabligbagan
ngedum lan ngeles makejangan panganggone
lan jani ngedum abesikan warnan keneh boya mebati pamerintahe
gerit tuh gaing ius lekad-ilang likad ring natah ibu pretiwi
tusing ulian kolok ngigelang layah angka-angka tiwas
nadiang natah tuh lantang sekadi kelebutan pajalan idupe
tusing ulian sesonggan iwasin titah
tan pasibeh
: ulihang baan semaya
Ulian angka pasti tusing kalikalian tawah
Krana yeh ‘ngerarisang’ ngadu lengkara ning utawi embahan toya pamikat
Raga tusing prebawa mabaris negakin lembu lan onta
Natah suci ajeg dadi enjekan langit
Wiadin nyilih dharma wacana
Momotbongol serak anacaraka
Tuah maboya, piteket sang panjabate, tusing nembahang sembako yadiapin idupe daat keweh-keweh aluh nembangin I tiwas
tusing pragat ngundukang pangubadan gratis, yadiapin tumor dadi pawiwahaan ngeseng
sawatara ”surat miskin” masiluman pemekasne nyancang atma:
kasulap antuk sang pengalap bayu rauhin ambu
dadi komoditi maboya sekadi komedi Robinhood
silihang malu karirihan
apang tatakrama tusing macule
di tengah aji mumpung lantangan galah
wiadin mara malajah precaya tekening suara ring birokrat
di marga ganjih lantangan singgahan planet raya
nyilem ring kawah
Mimih!!, ulihang malu palet lengkara kal kapaca keadilan
kajabat limane tekek krana: harmonisasi sekular-universal
egaliter dayuh ubir-ubir, ulihang baan pradnyan
Silihang malu palet, ngungkab pabligbagan
ngedum lan ngeles makejangan panganggone
lan jani ngedum abesikan warnan keneh boya mebati pamerintahe
gerit tuh gaing ius lekad-ilang likad ring natah ibu pretiwi
tusing ulian kolok ngigelang layah angka-angka tiwas
nadiang natah tuh lantang sekadi kelebutan pajalan idupe
tusing ulian sesonggan iwasin titah
tan pasibeh
: ulihang baan semaya
Selasa, 13 April 2010
KECIAL KUNING (4)
Bila airmu mengandung gula-gula pemikat sukma, maka akan jatuh luntur
doaku
Karena airmu zat penawar pendakian surgawi
“Jaran guyang…jarang guyang,” kau serukan kudakudaku
aku jadi bumi
menghuni
karena tak punya rasa
anganku pergi entah kemana
Bila airmu mengandung benih menggarami laut tubuhku berpeluh, maka aku jatuh runtuh
melupakan dosa
karena airmu jadikan aku kuda liar
yang lupa tanah berpijak
dan belajarlah kita pada negeri barbar tiada tuntunan nurani,memainkan irama jazz, blues, rock and roll dan berdansa pada setiap kerling kerlip lampu diskotik café café temaram menawarkan luka-luka baru
Karena airmu sarang karma membuatku bertekuk lutut
yang lupa membakar dupa-dupa menyesakkan bisikan lafalku oleh aroma minyak kecial menikmati malam jadi seekor kuda meringkih berpelana sutera berlari kencang
Bila airmu mengandung bayi bayi mengkristal tangisan panjang bertahun tahun hitungan hari, maka airmata bukan makna kesedihan lagi
Karena airmu airmata bercinta yang datang pergi sesuka hati
doaku
Karena airmu zat penawar pendakian surgawi
“Jaran guyang…jarang guyang,” kau serukan kudakudaku
aku jadi bumi
menghuni
karena tak punya rasa
anganku pergi entah kemana
Bila airmu mengandung benih menggarami laut tubuhku berpeluh, maka aku jatuh runtuh
melupakan dosa
karena airmu jadikan aku kuda liar
yang lupa tanah berpijak
dan belajarlah kita pada negeri barbar tiada tuntunan nurani,memainkan irama jazz, blues, rock and roll dan berdansa pada setiap kerling kerlip lampu diskotik café café temaram menawarkan luka-luka baru
Karena airmu sarang karma membuatku bertekuk lutut
yang lupa membakar dupa-dupa menyesakkan bisikan lafalku oleh aroma minyak kecial menikmati malam jadi seekor kuda meringkih berpelana sutera berlari kencang
Bila airmu mengandung bayi bayi mengkristal tangisan panjang bertahun tahun hitungan hari, maka airmata bukan makna kesedihan lagi
Karena airmu airmata bercinta yang datang pergi sesuka hati
Sabtu, 03 April 2010
KECIAL KUNING (3)
Beginilah hidup punya penantian, jarak yang panjang
terbelenggu kesia-siaan
Beginilah sepasang burung mengaca ayat
mendahului leluhur yang mengabdi di atas langit langit kemegahan
Beginilah kita belajar
mengintip setiap burung burung yang menyembunyikan sarangnya berbagi anak-anak kelak
diam-diam kita telah menguraikan warnawarna selimut di atas tempat tidur
yang selalu merindukan hadirnya pergumulan
kita telah dewasa karena keinginan selalu hadir di setiap basah keringatmu
kedewasaan ini terus datang berlanjut
perjanjian ini keburu menyimpan igau
tubuh yang kian menyempit
dalam ruang terhimpit
Beginilah dahaga yang tak pernah kering karena airmu
terbelenggu kesia-siaan
Beginilah sepasang burung mengaca ayat
mendahului leluhur yang mengabdi di atas langit langit kemegahan
Beginilah kita belajar
mengintip setiap burung burung yang menyembunyikan sarangnya berbagi anak-anak kelak
diam-diam kita telah menguraikan warnawarna selimut di atas tempat tidur
yang selalu merindukan hadirnya pergumulan
kita telah dewasa karena keinginan selalu hadir di setiap basah keringatmu
kedewasaan ini terus datang berlanjut
perjanjian ini keburu menyimpan igau
tubuh yang kian menyempit
dalam ruang terhimpit
Beginilah dahaga yang tak pernah kering karena airmu
Langganan:
Postingan (Atom)
