Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya) =============================================================================

Kamis, 25 Februari 2010

MENGGAYUTI KABUT


: Hujan cuaca

Bagi bumi yang basahan di kabut hati
mendung katakan kataku
punah berbakar kabar musim
tak sampai sampai

: langit
kerahasiaan bumi yang renta
muara kepenatan
disinilah,
wahai hawa yang dijelmakan gadis
kuterima nyalamu
memanggul manggul janji
tak usai terlontar
bincangan segala bentuk bintang bintang
peredaran cahaya waktu
dari segala waktu
padam di ujungmu
sampai lidahku kelu
lalu siapa isyaratkan kerapatan janin ini
sampai trenyuh kumenatap
tak ada kata dalam persimpangan
di hatimu yang bercabang

: Hujan cuaca penggalan peristiwa
kehendak menggayut kabutmu, menebar benih
keasingan

; apa mungkin !

TERIMAKASIH, SOBAT


Sobat, terimakasih nasi yang telah kau traktir buatku

Hari ini cukup sebungkus
buat bekalku berbicara ; membagi-bagi mimpi pada setiap orang
buat bekalku berjalan ; membagi-bagi harapan pada setiap pelanggan
buat bekalku bernapas ; membagi-bagi kehidupan sebagai seorang manusia
buat bekalku berpikir ; membagi bagi cahaya pada kegelapan bathin

Sobat, terimakasih nasi yang telah kau traktir buatku
cukup membuat aku untuk bisa berdialog dengan teman-temanku
cukup menumbuhkan kekuatan baru untuk berkampanye
untuk memberikan kekuatan pada negeri ini
dari berbagai godaan

Cukup sobat, cukup sebungkus nasi hari ini
karena terlampau berlebih akan membuat kita tertidur lelap
hingga melewati tontonan gratis para wakil rakyat beradu pendapat dalam sidang
beradu mulut sampai memaki
di negeri yang fatal oleh krisis moral
hingga lupa pada rakyatnya yang gerah
eiiiit…., tunggu sobat! Siapa yang jadi rakyat dalam tontonan ini
karena begitu rupa wakil rakyat atas nama rakyat hidup sendiri dalam dunianya
namun seperti berlomba-lomba berdalih mengatas namakan rakyat
di musim kampanye

Suntikanlah vitamin pada mereka
agar jernih berpikir, berkata-kata pun berperilaku
bahwa mewakili rakyat
bukan menanam benih kebodohan
: dalam spekulasi kebohongan public
menjadikan miskin berpikir

SAJAK ANGGUR DI TUBUHMU


Ingin kubuat susu
dari tunas bungamu
ingin kubuat angin
dari desah napasmu

Hanya ada cahaya
dalam diam
hanya ada suara
dalam hati

Ingin kubuat anggur
berbagi di tubuh

Melesak dahaga kenyal
menyatu dalam darah

Selasa, 23 Februari 2010

DARI SUDUT PANDANG SEKOTONG

Sekotong,
nasib selalu ajaib, dari sudut bebukitan terhampar memandang sawah menguning
dataran berbelah berbatas air laut, menatap gili nanggu nan indah
pinggiran pantai menjorok pada hotel berpondasi air mengayun
ada komoditas lepas
bebukitan jadi kelu dirangsak
orang-orang bagaikan bah semut menggerayang memacu macul segempal harapan
sentir,tenda membentuk paguyuban baru
butiran emas berkilau di panas cuaca terik terpaku
saksi bisu
lalu lalang yang merapal doa
atau tidak sama sekali tanpa restu melipatkan nyawa dalam keberanian
Tuntas
ada yang mati.....ada yang mati..... stttt, diam!
ada yang lebih penting dari kematian disamping harta yang menunggu
kemiskinan ini terlalu menakutkan bagi generasi siswa gratis yang dibiayai pendidikan
atas nama anak murid tak mampu
penambang emas, menambang nyawa segenap yang dipertaruhkan
siapa yang mati hari ini? Warga kelahiran disinikah? Atau kaum pendatang tak jelas? Semayam dalam kubur batu nisan diselingi doa secukupnya
atau berkubang meregang di sembarang lubang tanpa dikenal sanak famili
itu tidak terlalu penting ibarat mengubur tekad menjamah masa depan yang menunggu
”bongkahan emas disini jauh lebih mewujudkan mimpi dalam altar megah” bisik penambang sembari menghitung-hitung dalam jejalan karung yang pasti.

Sekotong nan ajaib
bukit yang menjanjikan emas kemasyhuran
hingga jantung terbelah bau napas tanah yang tidak menampakkan uapnya
terkoyak habis membentuk lorong yang kian jauh pada kedalaman jantung bumi
menciptakan pernik-pernik baru tanah-tanah kehancuran

Sekotong nan ajaib
sim salabim bukit berharta
menyadap mimpi mimpi dalam khayal gurat gurat kepastian

Senin, 22 Februari 2010

MENYEKA MALAM


Kalau jarak malam enggan berhimpitan
mungkin aku tak jadi bermimpi
mungkin aku tak jadi bersuara
mungkin juga enggan melabuhkan janji

Kepada siapa :
bayangmu simpang gelap
mungkin aku lupa kamu
mungkin aku mencuri hari
menduga datangnya mimpimu

Sabtu, 20 Februari 2010

MELINTAS SANUR II


Laut pernah berjanji
ketika gemuruh dalam dada berbalas gemuruh
matamu kian menepi
melayarkan kesunyian
kepada siapa menyanyikan kayuh tanggalan
jejakku
melintas pelan gemuruhmu sunyikan isyarat
gerhana mengaram
karam
barangkali disini, amplop biru tua pernah
terkatung katung berburu pintu
terkapar kabar memuakkan

Laut tiada pernah berjanji
hingga kini punya kesombongan memanjakan
wajah kepingan jiwa yang kian buram
masa lalu

Jumat, 19 Februari 2010

MELINTAS SANUR I


Sepanjang jalan jalan berbenah
kesepianku selalu menggigil tanpa gagasan
dua ayam baku hantam mengepak senja
di hamburan pasir menasik tulang nelayan
ringkih
sosok wajah seberang gelombang
masih mengartikan matahari untuk tumbal
timbal balik cuaca yang hilang pergi di negeri
tersepuh kapital
lugas ia, betapa lugasnya menghitung hitung
napas bau alkohol menjampi matanya dalam
hitungan dolar

Dalam tarian laut, ujung kotaku
mulai disimpan nyanyian asing
dance dan kecak salingsilang
malam bergeming purnama
langit berselimut bintang
tercecer memanah lautan mengail bayangnya
keemasan
: tiba tiba lupa tempatku berpijak